Summary: "Met malam… Mamori". Kata teraneh yang pernah didengar Mamori. Sebenarnya, tidak akan aneh jika yang mengucapkan kalimat itu bukan Hiruma!
Mamori berhambur masuk ke rumahnya dengan wajah merona yang sepertinya membuat Ibunya terganggu.
"Aku pulang, bu," kata Mamori sambil melepas sepatunya.
"Selamat datang, Mamori, kau kenapa? Mukamu merah, kau demam?" tanya ibunya.
"Eh? … Yang benar, bu? Aku—aku tidak demam kok bu.."
"Lho, kok kau malah tanya balik. Kau yakin baik-baik saja?" Ibunya menghampirinya dan memegang dahi Mamori dengan punggung tangannya. "Iya… suhumu normal. Baiklah, cepat ke atas dan mandi."
"Baik, bu!" Mamori berlari menaiki anak tangga. Langkahnya terhenti oleh perkataan ibunya yang membuatnya merasa dibodohi oleh Hiruma.
"Mamori, katanya kau ke Shibuya untuk beli gaun? Sekarang, mana gaunnya?"
Mamori terdiam sebentar. "Astaga, ibu! Aku sangat lupa! Aduh, lalu aku harus bagaimana?" panik Mamori. "Aku… sepertinya aku akan beli gaun itu besok saja deh, bu."
'Met malam, Mamori,'
Anezaki Mamori tersentak dan segera bangun dari tempat tidurnya. Ia segera mengatur nafasnya. "… Mimpi itu lagi…"
Ya. Semenjak Hiruma memanggilnya dengan nama kecilnya itu, Mamori selalu memimpikan hal tersebut malam malam setelahnya. Suaranya saat memanggil namanya terngiang terus menerus di otak Mamori. Dengan segera Mamori menampar dirinya.
"Mamori, untuk apa sih kau memikirkan hal itu terus? Tak ada yang spesial dari kata Mamori, kan?" Mamori berbicara kepada dirinya. Ia bangun dan mengambil seragam SMU Deimon-nya. Tiba-tiba matanya terpaku kepada kalender di ujung ruangan. Dia melihat tanggal yang dilingkari dengan spidol merah. Tanggal 25. Hari ini. Dia membaca tulisan di bawah lingkaran itu. "… Latihan terakhir sebelum kelulusan.."
"YA-HA~~ lari lebih cepat lagi, bocah-bocah sial!" Hiruma menembakkan AK-47 seraya menyeringai setan. Sena, Monta, Kurita, dan yang lainnya berusaha menambah kecepatan, yang tidak mengubah apa-apa. Mamori memperhatikan anggota-anggota Devil Bat yang malang berlari dengan kecepatan yang tak jelas dari bangku pelatih. Kadang cepat, kadang memelan, kadang berhenti. Kurita sampai jatuh beberapa kali, membuat gempa kecil. Tapi ada dua orang yang masih bersemangat, yaitu Taki (yang memakai gerakan berputar tak jelasnya) dan Sena.
Lalu pandangan Mamori beralih ke setan berambut spike pirang, Hiruma. Tiba-tiba dia teringat kata-katanya kemarin. Dengan cepat Mamori menepuk wajahnya dengan kedua tangannya.
Akhirnya salah satu peluru bazooka milik Hiruma meletus—tanda latihan selesai. Semua anggota kegirangan dan berhamburan masuk ke ruang klub. Mamori membagikan handuk dan sport drink untuk para pemain. Saat selesai membagikan handuk, Mamori menyadari bahwa masih tersisa satu handuk dan sport drink. Ia melihat sekeliling ruangan, melihat siapa yang tidak ada. Dia pun menyadari kalau Hiruma tidak ada di dalam ruangan klub.
"Eh, Sena, apa kau lihat Hiruma?" tanya Mamori kepada Sena yang sedang merapikan isi tasnya.
"Eh?" jawab Sena sambil melihat ke sekliling ruangan. "Bukannya tadi dia masuk bersama kita?" lanjutnya sambil menggaruk kepala kebingungan.
"O-oh… kalau kau, Monta? Apa kau melihat Hiruma?" Mamori beralih ke Monta yang dengan segera mengangkat bahu tanda tidak tahu.
Mamori menghela napas lalu berjalan keluar untuk mencari Hiruma. "Dimana sih, Hiruma?" tanyanya kepada diri sendiri seraya melihat-lihat ke sekeliling lapangan. Dia mencari sampai ke pojok sekolah, namun hasilnya nihil. Tapi tiba-tiba muncul suara 'kresek' dari semak-semak di belakang Mamori.
Mamori mengendap untuk melihat benda di balik semak itu. Dia mendapati pemain bernomor punggung 1 Devil Bat sedang bermain laptop. "Hiruma?"
Sang setan meliirk ke arah Mamori lalu dengan segera menutup laptopnya. "Untuk apa kau kesini, hei manager sialan?"
Mamori sedikit terkejut. Hiruma masih memanggilku dengan panggilan itu, ternyata, ucapnya dalam hati.
"Habis, kau menghilang secara tiba-tiba. Nih, handuk dan soft drink-mu," Mamori melemparkan handuk dan botol berwarna merah. Dengan segera Hiruma meminum soft drink-nya dan mengelap keringatnya dengan handuk. "Ne, apa yang kau lakukan disini, Hiruma?"
"Kau tidak lihat aku sedang merancang strategi di laptop?"
"Bukan itu. Biasanya kau bermain laptop di ruang klub, kan? Lagipula, ini kan hari terakhir kita berlatih di Deimon, seharusnya kau minta maaf atau berterima kasih kepada para anggota,"
Hiruma mengunyah permen karet yang rasanya hambar itu. "Tidak perlu. Ini bukan hari terakhirku. Aku akan tetap di Devil Bat. Walau tidak bermain, aku bisa tetap mengajar mereka." Hiruma menatap lurus ke langit sore. Baru kali ini dia berkata sesuatu mengenai Amefuto tanpa menyeringai. Mamori mengangguk tanda setuju. Dia juga berpikir untuk tetap menjadi anggota Devil Bat.
"Aku juga, masih ingin menjadi manager AmeFuto," ucap Mamori. "Rasanya waktu terlalu cepat berjalan, yah," Mamori ikut-ikutan memandangi matahari terbenam. Hiruma tersenyum. Sekali lagi, tersenyum. Bukan menyeringai. Membuat dada Mamori mati rasa saking cepatnya jantungnya berdebar.
CHATBOX
PinkuMori, DevilBatBoss
DevilBatBoss: Maaf, tadi away
DevilBatBoss: Ada apa?
PinkuMori: Kau sudah beli kado untuk cewek yang kau sukai itu?
DevilBatBoss: Sudah
DevilBatBoss: Ditemani oleh managerku
PinkuMori: Apa?
DevilBatBoss: Kenapa?
PinkuMori: Tidak
PinkuMori: Ah, aku harus off. Malam
PinkuMori left the chat.
Mamori's POV
"… Managerku?" bisikku pada diriku sendiri.
Jadi, bukan aku orang yang dimaksud Hiruma selama ini?
Tunggu.
Kenapa aku berharap seperti ini? Aku kan, tidak menyukai Hiruma. Ayolah, untuk apa aku berpikir seperti itu? Bukannya seharusnya aku mendukung Hiruma? Oke, Mamori, berpikirlah jernih…
Tidak bisa.
Saat aku berusaha menghilangkan Hiruma dari pikiranku, aku malah semakin membayangkannya. Ya, jujur, aku sedikit berharap kalau yang disukainya adalah aku. Ya, aku. Miris sekali. Tanpa terasa air mataku menetes dari pelupuk mataku.
Aku menyukai seorang setan. Aku suka Hiruma. Lalu aku harus bagaimana?
Aku.. terlibat cinta yang sebenarnya tidak mungkin terbalas…
UFUFUFU. DAMN MY BRAIN. IT DIDN'T WORK LAST NIGHT. Baru kepikiran sekarang. Ugh *headslams* =="a
So, so, so, gimana? :3 target saya tamat di chapter 10, kalo bisa lebih kurang lagi. E-he. (gananya)
Review, ne~? owo
