Summary: Air mata turun dari mata biru Mamori saat dia menyadari perasaannya kepada orang yang harus dibantu percintaannya… Hiruma.


Shibuya.

Siang itu sangat panas—matahari lebih terik dari biasanya. Mamori dan Suzuna berjalan di tengah-tengah keramaian Shibuya. Mereka akan membeli gaun Mamori untuk pesta prom kelulusan Deimon besok.

"Ne, Mamo-nee, lihat! Itu lucu banget, kan?" kata cewek ber-inlineskate sambil menunjuk salah satu gaun di etalase toko. Tapi Mamori tidak merespon. Hal ini membuat Suzuna Nampak sedikit khawatir.

"Mamo-neechan!" seru Suzuna kepada sang manager DDB.

"Uh, ke-kenapa, Suzuna?" akhirnya Mamori merespon. Suzuna menggembungkan pipinya.

"Mamo-nee kenapa, sih? Belakangan ini Mamo-nee murung terus…" tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di otak Suzuna. "Jangan-jangan Mamo-nee dengan You-nii putus, ya?"

"H-haah? Suzuna, jangan mengada-ngada, deh…" Mamori tiba-tiba teringat chatnya dengan Hiruma. Dia kembali murung.

Mamori meremas handphone-nya. Sudah beberapa hari ini dia tidak online di situs Ai wo Mitsukeru. Dia terlalu takut untuk chat dengan Hiruma lagi. Suzuna khawatir akan sikap nee-chan-nya itu. Suzuna pun menepuk pundak Mamori.

"Mamo-nee, kau bisa, kok, cerita tentang apa yang terjadi… kali ini aku tidak akan mengumbarnya, deh, aku janji!" kata Suzuna ceria sambil membentuk huruf 'V' di udara. Mamori diam sebentar, lalu menggelengkan kepalanya dengan lemah.

"Unn, nggak, aku benar-benar nggak apa-apa. Terima kasih ya, Suzuna, sudah mengkhawatirkanku."

Justru kata-kata itu membuat Suzuna semakin khawatir.


Akhirnya Mamori pulang ke rumah dengan membawa paperbag besar yang berisi gaun berwarna putih backless dengan renda sederhana, sandal highheels putih yang bertali, dan sepasang sarung tangan putih se-sikut. Dia mencoba memakainya, dan menurutnya lumayan, tetapi jika orang lain melihatnya pasti akan berteriak "CANTIKNYA!" atau "KYAAA!" atau malah, pingsan.

"Untuk apa aku tampil seheboh ini? Hiruma saja sudah punya orang yang disukainya…"

Lalu dia teringat tatapan Hiruma saat di toko aksesori. Kemudian berubah menjadi Hiruma yang tersenyum saat hari terakhir latihan mereka. Semua momen-momen indah bersama Hiruma terlintas di pikirannya…

"Hiruma… sebenarnya siapa cewek yang kau sukai itu…?"

Mamori memeluk bantalnya erat-erat.


Mamori's POV

Kenapa aku baru menyadari perasaan itu, saat besok kita harus berpisah? Terlebih, besok adalah hari dimana cewek yang kau suka menerima kalung itu… aku berpikir betapa beruntungnya cewek itu.

Hiruma… tolong beritahu aku… agar aku bisa rela melepasmu…


Normal POV

CHAT

Users: DevilBatBoss, PinkuMori

DevilBatBoss: Hei
DevilBatBoss: Kemana saja kau?

PinkuMori: Banyak urusan yang harus diselesaikan.
PinkuMori: Hei, prom Deimon itu besok, kan? Berarti kau akan menyatakan perasaanmu besok?

DevilBatBoss: Ya
DevilBatBoss: Doakan, ya

Mamori bimbang untuk mengetik kata 'ya'. Dia tidak bisa mendukung Hiruma. Tapi dia sudah sejauh ini. Dia tidak bisa kembali. Dengan sangat berat hati, Mamori melanjutkan chat-nya.

PinkuMori: Ya, pasti ^^

Tiba-tiba datang handphone-nya bergetar. Mamori meng-exit browsernya terlebih dahulu, lalu membaca tulisan di layar.

1 new e-mail
Yoichi Hiruma

"Hiruma..?" dengan jari bergetar dia membuka e-mail itu. E-mail singkat itu bersubjek 'Manager Sial!' yang membuat Mamori lesu. Tanpa basa-basi dia membaca isinya. Isinya berbunyi:

Hei manager sial, cepat ke depan rumahmu. Aku di balik tiang listrik di depan rumah sialmu. Waktumu 1 menit sejak e-mail ini diterima. Kalau telat satu detik saja, aku akan melempar granat ke dalam rumahmu."

Karena Mamori tidak ingin rumahnya hancur, dengan cepat ia menuruni satu persatu anak tangga. Saat membuka pintu rumahnya, dia melihat cowok dengan kaos hitam dan jaket merah Devil Bat.

"Hiruma!" sapa Mamori sambil berlari kecil ke arahnya. "Kenapa kau disini?"

"Nih," tanpa basa basi dia memberikan kotak, bungkus kado, dan, kalung hati yang mereka beli beberapa hari lalu. "Karena kau cewek, pasti kau bisa kan membungkus kado? Bungkuskan. Cepat. 10 menit."

Mamori melongo sebentar, lalu dia sadar kalau dia hanya diberikan waktu 10 menit oleh Hiruma. Dengan cekatan Mamori membungkus kalung tersebut. Dia memperhatikan kalung itu selama beberapa detik, kemudian memasukkan ke kotak.

Dia ingin menangis lalu memeluk Hiruma dan melarangnya menyatakan perasaan kepada orang itu—tapi tidak bisa. Dia hanya bisa menangis dalam hati.

"Nih, sudah tuh," katanya sambil menyerahkan kotak kado berisi kalung.

"Kerja bagus," tanggap Hiruma terhadap kotak itu. "Sampai bertemu besok, manager sialan," lalu Hiruma pun segera menghilang dari bayangan.

Meninggalkan Mamori yang bercucuran air mata.


Ugyaaa~ beberapa jam lalu saya lemah-letih-lesu dan nggak bisa mikir… tapi setelah dapet review yang berisi pujian-pujian… saya jadi semangat! Arigatou, minna-chama~~ TTwTT *tangis bahagia* /lebay/ see you at next chapter~~