Entah karena ia memang mengantuk atau kelelahan—Mamori terbangun dengan mood yang kurang mendukungnya untuk pergi ke prom sore ini. Dia melirik gaunnya yang tergantung di gagang lemari.
"Hari ini prom, ya…" katanya sambil menguap. Lalu ia melirik ke jam dinding yang terpampang tepat di atas kusen pintu. Seketika ia membelakak. "APA? Su- sudah jam 12 siang?"
Dengan cepat Mamori menyambar handuknya dan berlari ke kamar mandi. Setelah selesai menggosok gigi, dia memakai baju seragam Deimon untuk yang terakhir kalinya, memasukkan gaun beserta perlengkapannya ke tas, dan berhambur keluar rumah tanpa mengucapkan salam, yang membuat ibunya keheranan.
SMU Deimon.
"Mamori-neesan!" sapa Sena sambil berlari ke arah Mamori, yang diikuti oleh Monta.
"Hei, Sena, Monta!" Mamori berusaha agar dia terlihat ceria seperti biasanya.
"Mamori-san, hari ini murid kelas 3 akan mengadakan prom, kan?" ujar Monta. Mamori mengangguk.
"Yep, yang berarti, ini hari terakhirku di Deimon…" Mamori terlihat sedikit lesu, namun dengan segera berubah menjadi ceria. "Ah, tapi, aku janji kok, kalau sudah di Universitas nanti pun, aku pasti akan sering datang dan mengamati kalian berlatih!" ucap Mamori sambil mengacungkan tanda perdamaian yang bisa diartikan juga sebagai tanda janji. Sena dan Monta mengangguk penuh semangat. Kemudian, Sena melihat jam yang ada di tangannya.
"Ah, sudah jam 1, Mamori-neesan! Bukannya acara dimulai jam setengah 2 di Hall?"
"Ah, benar juga! Aku harus segera kesana! Sayonara, Sena, Monta!" Mamori melambaikan tangan kepada kedua bocah cebol itu dan segera berlari menuju Hall.
Hall SMU Deimon.
Semua orang sudah terlihat rapih, kecuali Mamori. Mamori baru akan memakai gaunnya saat suara seorang MC menggema.
"Ya, semua, dengan ini kita buka acara terakhir kita di SMU Deimon!" yang diiringi oleh riuh sorak sorai dan tepuk tangan para murid kelas 3. Mamori jadi makin buru-buru.
"Mamori, sudah selesai, belum?" kata salah satu teman Mamori yang menjaga ruang ganti tempat Mamori sedang memakai gaunnya itu, sebut saja namanya Aya.
"Sebentar lagi, Aya! Aku sedang merapihkan rambutku!" sahut Mamori dari balik tirai. Beberapa menit kemudian, seorang putri cantik yang mengenakan gaun putih, high heels putih dan rambut yang di cepol (?) di atas keluar dari dalam ruang ganti.
"Ma-Mamori? Kau cantik banget, lho, Mamori!" kagum Aya. Mamori tersenyum. "Sungguh? Terima kasih, ya, Aya!"
Lalu mereka pun keluar dari ruang ganti dan… semua mata menuju ke Mamori, baik cowok maupun cewek. Mereka bergumam hal-hal seperti "Cantiknya…" atau "Pasti Anezaki jadi Queen Prom, deh!" dan "Kayak putri, ya…". Mamori hanya bisa tersenyum. Namun dia belum menemukan orang yang ia cari-cari; Hiruma. Dia melihat sekeliling, dan…
Terlihat cowok mengenakan tuxedo dengan rambut pirang spike yang rapi.
"Hiruma..?" gumamnya, sangat pelan, sehingga orang-orang tak akan mendengarnya. Kemudian Hiruma pun memisahkan diri dari kerumunan, bercelingak-celinguk mencari seseorang. Mamori yang tidak ingin kehilangan jejak, mengikuti Hiruma. Tapi saat dia berlari, dia menabrak seorang cewek yang sama cantik dengannya.
"Ma-maaf—Ka-Karin…?"
"Ma-Mamori?"
Mamori sedikit tersentak. Hal itu membuat jantungnya menyesak.
"Karin, kenapa kau disini? Bukankah.. kau bukan murid Deimon?"
"Ya memang, a-aku kesini karena diundang oleh Hiruma,"
DHEG. Jantung Mamori berhenti. Hiruma? Lalu ia memperhatikan Karin sebentar dan terlintas di benaknya tentang ciri-ciri cewek yang disukai Hiruma. Baik, ramah, cantik… Karin.
Pasti Karin.
"Maaf, aku permisi!" Mamori berlari sekencang-kencangnya ke luar Hall sambil berderai air mata.
Mamori'sPOV
Ternyata benar, bukan aku. Itu Karin. Bukan aku!
Kalau bukan Karin, siapa lagi? Dia cantik, lalu baik… selain itu dia diajak oleh Hiruma!
Kurasa sudah saatnya untukku untuk mengucapkan perpisahan kepada cintaku…
Normal
Mamori lelah berlari. Akhirnya dia berhenti di depan sebuah bangku di depan taman. Dia duduk disitu, lalu menutupi wajahnya. Mendadak, ada suara, yang sangat dikenalnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, manager bodoh?"
Mamori menoleh ke arah sang sumber suara di belakangnya yang membuatnya kaget setengah mati. Matanya membelakak. "Hi-Hi-Hiruma..?"
Hiruma maju ke depan, berdiri di depan Mamori, lalu mengangkat kepalanya. "A-Aduh! Hiruma, saki—"
Hiruma melemparkan sebuah kotak ke muka Mamori—kotak yang sangat dikenal Mamori. Kotak kalung tersebut.
"E-eh?"
"Buka," perintah Hiruma.
"A-aku sudah tahu isinya, kok… ini kan kotak yang isinya kalung, kan..?"
"Baguslah kalau sudah tahu, tapi tetap saja, cepat buka,"
Mamori sedikit mengangguk dan membuka kotak itu. Isinya, yaitu kalung hati yang mereka beli bersama. "Lalu, apa?" tanya Mamori.
"Untukmu,"
"Hah?"
"Dasar manager bodoh! Masa kata segitu singkat saja tidak dengar, sih! Untukmu!" terlihat sirat sirat pink di pipi Hiruma. Mamori terbengong selama beberapa detik, memproses kata-kata Hiruma kemudian menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Mamori mengangkat kalung itu.
"Kenapa… ini untukku?" suara Mamori bergetar.
"Bukannya kau yang menyarankanku untuk membeli perhiasan?"
Otak Mamori berputar. Dia bilang begitu… berarti…
"Dasar, kalau mau menguntit setidaknya lakukan dengan benar, dong! PinkuMori sial!
Mamori terkejut. "Kau tahu itu aku—sejak kapan?"
"Sejak awal kau chat denganku, kekeke." Hiruma menyeringai garing.
"Bagaimana bisa..?" Mamori terheran heran. Hiruma terkekeh lagi.
"Kekeke, saat aku bilang aku bernomor punggung 1. Kau langsung bilang aku ini kapten. Lalu username-mu itu, sangat jelas menunjukkan dirimu, manager sialan," jelas Hiruma. Mamori menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. Dasar bodoh, aku iniii! Pikirnya.
"La-lalu, kenapa kau mengundang Karin…?"
"Karin? Koizumi Karin? Aku juga mengundang Taka Honjo, Takeru Yamato dan yang lain-lain kok. Kami akan merayakan prom sambil membicarakan Amefuto. Kekeke."
"A- apa? Kalau begitu, kenapa kau tidak langsung bilang…?"
"Bilang apa?"
"Bilang, kau suka padaku, kenapa tidak saat chat?"
"He? Aku suka pada manager sialan?" canda Hiruma yang membuat Mamori kaget lagi. Namun beberapa detik kemudian Hiruma kembali tertawa. "HAHAHAHAHA! Dasar, ternyata aku memang lebih pintar daripada kau, manager sial!" Mamori menggembungkan kedua pipinya tanda mengambek. Hiruma yang sudah selesai tertawa mengelus kepalanya.
"Ya… bercanda." Ujar Hiruma pada akhirnya. "Mana mungkin aku menyatakan langsung, dasar Mamori sial,"
Tanpa babibu Hiruma meluncurkan mulutnya ke mulut mungil Mamori. Mamori yang kaget pada awalnya, juga menciumnya balik pada akhirnya. Saat mulut mereka berpisah, Hiruma membelai pipi merah Mamori dan mencium dahinya. "Dan aku memaksamu untuk jadi malaikat, mendampingiku, sang setan."
Muka Mamori memerah, dan air kembali meluncur dari matanya. Tapi kali ini bukan untuk menangisi Hiruma yang akan bersama cewek lain, namun tangis bahagia. Mamori mengaitkan kedua tangannya, melingkari leher Hiruma.
"Ya… aku mau… sangat mau!" katanya sambil terisak.
Hiruma hanya bisa tersenyum seraya mengusap rambut cewek yang sekarang menjadi pacarnya itu.
… hanya perasaan saya saja atau memang akhirannya garing? Ya, oke, yang penting akhirnya fic ini saya nyatakan SELESAI *cries in joys* TT/w/TT dan ada beberapa Special Thanks:
Specially for Hiruma Yoichi dan Anezaki Mamori! I can't write this fict without you two! *iyelah*
Para anggota Devil Bats! Yosh! XD
Ah, kepada Inagaki Riichiro & Murata Yuusuke! Kalo mereka berdua nggak bikin ES21, pasti gabakal ada juga nih fic! *taboked*
Wireless rumah saya! Yang selalu menemani saya saat apdeet fic!
Dan yang paling, paling, paling, terimakasih: READERS DAN REVIEWERS! Ya ampun, saya terharu sekali! Makasih banyak buat para reviewers! Komen-komennya membangkitkan semangat saya! Lalu para readers.. waktu saya liat status pembaca fic saya… banyak! Makasih banget! Saya hampir nangis! ;;;w;;; *maap, yang satu ini emang rada lebay*
Hontou ni arigatou, minna-chama! Sayonara! Semoga saya bisa tetep aktif disini! XDXD
FIN
