"Oi, Moyashi! Apa benar semalam Lenalee kecelakaan?" tanya Kanda segera setelah kami bertemu di sekolah.

"Mm-hm…" aku bahkan sedang tidak berminat untuk sekedar mengoreksi caranya memanggilku yang menyebalkan. Sejak kemarin aku sudah kehilangan semangat pada apapun. Rasa takut, cemas, dan bersalah terus menghantuiku sepanjang malam, membuatku tak bisa memejamkan mata barang semenit semalaman.

Oh ya, bagi yang heran tumben-tumbenan Kanda 'mengkhawatirkan' keadaan orang lain seperti Lenalee, mudah saja untuk dijelaskan. Ia dan Lenalee adalah tetangga sejak kecil, jauh sebelum aku tinggal bersama keluarga Lee. Kanda tinggal sendirian tak jauh dari rumah kami. Seperti halnya aku dan Lenalee, mereka berdua sudah seperti kakak-adik.

"Yah, aku juga turut simpati, sih. Mungkin sebaiknya kita menjenguk Lenalee nanti," kata Lavi.

"Yah…" aku mengiyakan saja. Entah kenapa aku merasa ada yang berbeda dengan Lavi. Tak biasanya si rambut merah bawel ini begitu tenang. Biasanya kan dia yang paling ribut, dan di saat seperti ini biasanya dia bakal heboh setengah mati. Entahlah, mungkin pikiranku saja yang terlalu terserap pada kejadian semalam…

Kanda menyikutku tanda sudah ada guru yang datang. Kami buru-buru kembali ke bangku masing-masing. Aku duduk dengan enggan. Cloud-sensei masuk kelas bersama dengan seorang pria.

"Mohon maaf sebelumnya, hari ini ada pengumuman yang sangat mengejutkan. Guru piano kita—Kevin Yeegar—semalam meninggal karena kecelakaan. Turut berduka cita…" ujar Cloud-sensei.

Aku tertegun. Seisi kelas langsung ribut.

Kenapa bisa bertepatan saat kejadian semalam…? Aku jadi merinding…

"Karena itu, guru piano kita mulai hari ini diganti oleh Mikk-sensei. Dia ini guru baru di sekolah kita, jadi baik-baiklah dengannya, ya!"

Seisi kelas langsung terdiam melihat guru baru mereka ini. Pasalnya, pria yang mengaku guru baru mereka ini sangat tampan bagaikan aristokrat, wajah eksotik dan rambut ikalnya yang menawan, gerak-geriknya anggun dan menawan, dan yang paling penting—masih muda. Semua murid, mulai dari yang normal—cewek maupun cowok—sampai yang rada 'menyimpang', terpana olehnya.

"Selamat pagi, anak-anak. Mulai hari ini, aku akan menjadi guru di kelas piano kalian. Aku orangnya santai, jadi gak usah sungkan. Mohon bantuannya."

Entah kenapa, aku merasa pandangan guru baru itu terpaku padaku. Tatapannya itu, dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. Dan saat aku menatap matanya, entah mengapa aku merasa sosok tampan itu rasanya tidak begitu asing…

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-


Kanda tidak bisa pulang bareng aku dan Lavi karena harus melatih anggota-anggota baru klub kendo siang ini. Aku berjalan gontai menuju loker sekolah untuk menaruh buku-bukuku, diikuti Lavi yang mau menyimpan gitar kesayangannya. Suasana hening membuntuti setiap langkah kami.

"Err… Lavi, nanti kita jadi kan menjenguk Lenalee di rumah sakit?" tanyaku sambil mengunci kembali lokerku.

"…"

"Lavi…?"

"…"

"Lavi, kau kenapa? Rasanya seharian ini kau aneh…"

"…Allen…"

"Y-ya?" aku menoleh takut-takut. Terus terang, aku tidak berani menatap wajahnya. Dan benar saja, saat kulihat mata Lavi, aku langsung tahu kalau itu bukan mata Lavi yang kukenal. Kehangatan yang biasa dipancarkannya mendadak hilang entah ke mana. Suaranya juga dingin menakutkan.

"Allen, aku ingin bilang sesuatu padamu…" sebuah pisau belati dikeluarkannya dari balik punggungnya. Aku mundur selangkah, merasa aku tahu apa yang akan dilakukannya dengan benda itu.

"Aku membencimu, Allen Walker."

Ienai kizuguchi wa kurenai no bara no you ni

Nikushimi yadoru kokoro ni hana hiraku

Dalam hitungan detik, Lavi menerjangku. Aku berusaha menghindari tikaman belatinya dan mencekal tangannya. Kami bergulingan di lantai, adu kekuatan antara hidup dan mati tidak terelakkan. Belati Lavi semakin menempel di keningku, dan dengan sedikit tekanan Lavi menggoreskan belatinya di sepanjang wajah kiriku. Aku tak mau kalah, dengan panik aku berusaha membalikkan arah mata belati yang berkilat dingin. Tanpa sengaja aku mendorongnya sekuat tenaga hingga belati itu menghujam mata kanan Lavi.

Erangan Lavi pun menggema di seluruh sudut ruangan.

(Serbare il segreto) Tsubasa ubawareta

(è peccato?) Katahane no tori wa

Saigo no toki ni dare no namae wo yobu no?

Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, aku mendorong tubuh Lavi. Ia mundur terhuyung-huyung, memegangi matanya yang tidak akan bisa melihat cahaya lagi. Lelehan merah ranum mengalir di sepanjang sisi wajahnya, menetes hingga beberapa tetes berceceran di lantai. Aku menatapnya dengan mual sekaligus merasa bersalah. Ia berusaha mencabut belati itu dari matanya, dan… aku tak sanggup lagi melihatnya—bola matanya yang putih tersangkut di ujung belati itu.

"ASTAGA!"

Seseorang berlari dan menghampiriku yang tengah memegangi wajahku yang juga bersimbah darah. Dan aku mengenali orang itu, dia si guru baru—Tyki Mikk. "Aku melihat kalian seperti berkelahi dari ujung koridor, lalu saat kuhampiri ternyata sudah seperti ini. Kau tidak apa-apa, Walker?"

Aku mengangguk pelan. Kebetulan Mikk-sensei membawa kotak P3K, dan ia menawarkan untuk merawat luka kami berdua, namun Lavi berlari menghindar, meninggalkan kami berdua.

"Terima kasih, Mikk-sensei…" ujarku setelah ia mengobati lukaku.

"Sama-sama. Ah ya, panggil saja aku Tyki," katanya sambil tersenyum. "…benar kau sudah tidak apa-apa…?"

"Y-ya. Aku hanya sedikit…shock," ujarku lirih. Bendungan bening mulai mengaburkan mataku. "Aku hanya tak menyangka… Padahal selama ini, kupikir kami berteman…"

"Bukannya aku bermaksud jahat, Allen. Tapi menurutku sekarang ini bukanlah saat yang tepat untuk mempercayai orang. Kau sudah tahu kejadian-kejadian aneh yang belakangan ini terjadi? Banyak hal-hal yang tak diinginkan terjadi justru dari orang yang paling kau percayai. Kau harus hati-hati."

"Terima kasih atas nasihatnya, Tyki."

Saat itu, aku tak menyadari sepasang mata hitam dari tadi mengawasi kami sejak tadi…

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-


Esok harinya, Lavi tidak masuk sekolah. Wajar saja, mengingat apa yang terjadi pada (mata)nya dan berbagai gosip yang cepat tersebar di sekitar kami. Pelajaran yang diberikan oleh Tiedoll-sensei pun tak satupun yang hinggap di kepalaku. Akhirnya aku izin dari kelas dengan alasan tidak enak badan. Setengah berlari aku menuju ke UKS.

"Sudah kuduga aku memang tidak bisa membiarkanmu."

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan…"

"Aku tahu! Mengapa kau bersikap begitu, alasanmu menyerang Allen, hubungannya dengan rentetan kejadian aneh belakangan ini… Aku tahu semuanya!"

Aku yang tadinya hendak menerobos masuk ke ruangan yang setengah terbuka itu membatalkan niatku dan bersembunyi di balik pintu.

"Memang apa yang akan kau perbuat?" itu suara Lavi (tunggu, bukannya harusnya dia tidak masuk sekolah?). Ia berdiri bersandar pada dinding, berhadapan dengan seorang pemuda berambut hitam panjang dengan pedang di tangan.

"Aku akan menghalangimu. Kalau perlu, aku yang akan membunuhmu dulu. Aku sendiri. Di sini. Sekarang juga. Demi semuanya, dan juga dirimu sendiri.

KANDA?

"Kita lihat apa kau serius…"

Tanpa membuang waktu, Kanda mencabut Mugen-nya dan menghunuskannya ke arah Lavi. Dari pengalamanku selama berteman dengannya setahun ini, aku tahu dia benar-benar serius. Tidak! Aku tak bisa membiarkan ini…

"JANGAN!"

Tepat pada saat mata pedangnya terayun, aku memeluk Kanda dari belakang dan menahan mugen. "Baka-Moyashi! Apa-apaan ini? Lepaskan!"

"Kau yang apa-apaan, Kanda!"

"Minggir, Moyashi!"

"Kanda, sadarlah! Aku tahu kau bukan pembunuh!"

"Dan AKU bisa kalau AKU mau!" sesaat, mata hitamnya berkilat menakutkan. Aku bergidik.

"Sudah, hentikan! Jangan sakiti Lavi!"

"Kau lebih membela si brengsek ini daripada AKU?"

"AKU TIDAK TAHU! AKU BENAR-BENAR TIDAK MENGERTI!" jeritku putus asa.

"Moyashi…" suara Kanda sedikit melembut, namun aku tidak peduli.

"ADA APA DENGAN KALIAN SEMUA? Ada apa dengan Lavi…dan juga, kau…"

Aku tak mampu membendung panas yang berkumpul di kedua pelupuk mataku. Tak ingin mereka melihat wajah dari sisi lemahku, aku berlari keluar. Aku bisa merasakan tatapan dingin Lavi dari sebelah matanya yang masih utuh.

Aku benar-benar merasa sudah tidak punya pegangan apapun lagi. Tak ada yang bisa kupercayai dan tak ada yang memahami perasaanku. Aku lantas mengurung diri di gudang di halaman belakang sekolah, dan menangis sepuasnya di sana.

Nigenaide

Ayamachi mo, shinjitsu mo, uso mo

Subete yurusu mahou e to kaeyou

Ososugita kotae sae itoshikute, kanashikute

Tsuyoku tsuyoku dakishimereba, hora

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-


"…Allen? Kau tidak apa-apa?"

Aku membuka mataku. Oh bagus, aku kelelahan menangis dan ketiduran di gudang yang gelap ini. Tyki berjongkok di depanku membelakangi pintu yang terbuka separuh, dan dari warna langit yang berwarna merah gelap aku tahu aku ketiduran begitu lama.

Mabayui hikari afure, rakuen no tobira wa akareru

Katakuna na unmei ni kiseki ga furi sosogi

Karamiau sekai wa kuzureochite yuku

"…kau menangis begitu lama," ujarnya sambil meraba jejak air mata yang mengering di pipiku. Aku menepis tangan dingin itu. Ia hanya tersenyum maklum.

"Kedua sahabatmu itu tidak bisa dipercaya. Seperti yang kau tahu, Lavi mencoba untuk membunuhmu. Lalu Kanda… dia…"

Aku terdiam.

"Seorang sahabat tidak akan dengan sengaja menyakiti sahabatnya. Aku tahu kau pasti sedang goyah. Cross—Shishou-mu yang keras hati pun—akan kasihan melihatmu yang sekarang. Seekor burung kecil tidak akan mampu terbang hanya dengan bergantung pada sebelah sayapnya. Benar kan, Allen Walker?"

Aku merenungkan kata-katanya, mencoba mencerna kalimat demi kalimat. Dan aku merasakan ada sesuatu yang ganjil…

"…Tyki…"

"Ya, Allen?"

"Apa burung kecil yang kau maksud itu adalah aku?"

Diam.

"Kau juga mengenal Shishou? Setahuku kau baru datang ke kota ini kemarin. Atau jangan-jangan malah dari dulu kau mengenal Shishou? Dari ucapanmu barusan, sepertinya kau mengenalnya tidak dalam satu-dua hari… "

"…Aku tak tahu apa yang kau bicarakan—"

"Kalau dipikir-pikir lagi, kehadiranmu itu semuanya terlalu kebetulan. Kau muncul di sekolah tepat sehari setelah aku menerima partitur itu dan Yeegar-sensei tewas. Kedatanganmu saat perkelahianku dengan Lavi juga terlalu tepat. Untuk apa seorang guru piano membawa kotak P3K di hari pertama dia mengajar—seperti dokter yang bersiap di dekat ring tinju, tahu kalau akan ada yang terluka—seolah semua itu sudah direncanakan sejak awal?

Kaulah orangnya. Kaulah yang mengirimiku partitur itu…"

"…dan kurasa aku tahu, aku tahu sekarang. Kaulah yang mengirim partitur yang sama dengan yang diterima Shishou."

Tyki tersenyum, namun raut wajahnya sudah tidak seramah tadi.

"…Apa buktinya, bocah?"

Aku terdiam sejenak. "Tak pernah sekalipun aku menyebut-nyebut soal 'Cross' padamu, bahkan tidak pada Lavi dan Kanda. Aku pindah setahun yang lalu, dan pada orang-orang aku hanya bilang kalau aku adalah yatim piatu yang ditinggal mati ayah angkatnya. Yang tahu nama asli waliku sebelumnya hanyalah aku, Komui, Lenalee, dan mungkin beberapa orang yang punya dendam padanya.

Dan aku yakin, hanya aku sendiri dan orang yang mengirimiku partitur itu yang tahu tentang One-Winged Bird—nickname yang ditujukan pengirim partitur itu padaku. Apa aku benar, Tyki Mikk?"

Senyum—bukan, seringai—nya semakin melebar menakutkan. Ia mengeluarkan belati yang disembunyikannya di balik saku celananya.

"Ternyata memang benar keputusanku untuk memindahkanmu ke gudang tua di tengah hutan ini selagi kau tertidur. Sekarang kau sudah tahu siapa aku, jadi aku tak bisa membiarkanmu hidup."

"Tapi… kenapa?" seruku.

"Kau murid Cross Marian!" bentaknya. "Cross sialan itu sudah menghancurkan hidupku! Dulu kami sahabat, sama-sama pemusik yang memiliki mimpi. Tapi kenapa yang terpilih dalam audisi itu bukan AKU? Padahal perusahaan industri musik itu milik ayahku, KELUARGAKU! Bahkan setelah sukses pun, si brengsek itu jadi ikut-ikutan mengganggu hubunganku dengan Maria! Akhirnya aku tidak tahan lagi, kubunuh semua orang yang menghalangiku, termasuk Earl—ayahku—dan Cross. Sebelum mati mereka kukirimi partitur lagu 'Crimson Rose', lagu yang kutulis atas rasa benci dan kutukanku…

Tapi aku masih belum puas. Ternyata, tampaknya Cross sudah tahu tujuanku dan berhasil kabur lebih dulu. Aku frustasi, lalu akhirnya aku tahu keberadaanmu. Sebagai muridnya kau pasti tahu dimana dia. Tapi sialnya ternyata masih ada satu saksi—Kevin Yeegar. Aku terpaksa membunuhnya dan membuatnya terlihat seperti kecelakaan, dan kebetulan temanmu yang berambut merah itu memergokiku. Tadinya mau sekalian kubunuh, tapi kupikir dia masih berguna. Jadi kuhipnotis dia agar mendekatimu dan melukaimu. Sepertinya bocah Jepang itu juga mengetahuinya, tapi itu bukan masalah. Bukankah sakit rasanya dikhianati sahabat sendiri, bocah?"

"Gila! Kau sudah gila!" raungku kesal. "Sampai memperalat Lavi, merusak persahabatan kami… Kau betul-betul iblis!"

"Aku tidak peduli," Tyki memainkan belati itu di tangannya. "Katakan dimana Cross!"

"A-aku tidak tahu! Aku sama tidak tahunya denganmu!" jerit Allen putus asa. "Bahkan kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahu orang sepertimu!"

"Tidak masalah, aku akan tetap membunuhmu kalau begitu," ujar Tyki tenang. "Dengan demikian, Cross akan datang sendiri padaku. Yang manapun tidak masalah."

Tyki menghunuskan belatinya dan bersiap menyerangku, hingga terdengar suara tembakan.

Iwanaide, towa no jubaku no kotoba wo

Kikanaide, hontou no negai wo

Belati itu terlempar dari genggaman Tyki. Namun pria eksotik itu tidak langsung memungutnya kembali, karena terlalu syok dengan apa yang dilihatnya di belakangku. Begitu juga denganku.

"Sampai akhir pun kau tetap menyusahkan, "suara berat itu terdengar familiar. "Kau sama sekali tidak berubah sejak pertama kali kupungut, murid bodoh."

"SHI-SHISHOU!" pekikku senang, tak mampu menutupi rasa senangku.

"Akhirnnya kau muncul juga, Cross," Tyki memungut kembali belatinya. "Aku jadi tidak perlu repot-repot mencarimu lagi untuk balas dendam."

"Kau benar-benar sudah berubah, Tyki Mikk," ujar Shishou—yang entah kenapa terdengar sedikit kecewa… dan juga sedih. "Itu sebabnya sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan adikku Maria pada orang sepertimu."

Tyki bersiap menyerang kembali, kali ini ke arah Shishou. Kulirik Shishou, ia tampak tenang. Dipejamkannya kedua matanya, dan dengan sedikit rasa menyesal, ia menarik pelatuk pistol berukiran "Judgement" kesayangannya.

DOOOR!

Aku tahu sejak dulu kalau Shishou itu jago menembak, dan akurasinya senantiasa mengagumkan. Peluru timah itu memang menghantam dada Tyki, namun tidak mengenai jantungnya. Tidak akan membunuhnya, namun cukup untuk melumpuhkannya. Kurasa itu bukti bahwa Shishou masih sedikit mengampuni Tyki—atas dasar persahabatan.

Tyki terhuyung-huyung mundur beberapa langkah, keluar dari gudang. Tubuhnya gemetar. Dengan segala sisa kekuatannya, ia mengeluarkan korek api gas dari sakunya, dan menyalakannya.

"Heh, ini pembalasan terakhir…" ujarnya lirih, lalu dilemparnya korek itu ke arah pintu. Dalam sekejap api membesar dan gudang pun diselimuti api. Sepertinya Tyki sudah menyirami sekeliling luar gudang dengan bensin, untuk berjaga-jaga kalau hal yang tidak diinginkannya terjadi.

Bukannya kabur, aku justru terpaku pada kobaran di hadapanku. Traumaku pada warna ini masih belum sembuh sejak saat itu. Warna yang membara, warna bunga neraka yang membumihanguskan segalanya…

Merah…

Merah…

"Dasar bodoh…" Aku merasakan tangan besar Shishou menarik kerah belakang bajuku dan menyeretku begitu saja keluar dari tempat itu—kasar seperti biasanya. Di saat biasa aku pasti akan ngomel-ngomel atas kelakuannya-yang-kurang-ajar-dan-super-nggak-tahu-diri itu, namun kali ini tidak kulakukan. Rasa sebalku kalah dengan rasa senang ini, senang karena ternyata Shishou baik-baik saja…

Shishou membawaku (baca: menyeretku) keluar gudang yang terbakar itu dengan kasar—seperti biasa. Caranya menarikku yang kasar, sikapnya yang arogan, caranya memanggilku dengan sebutan "murid bodoh", aroma khas tubuhnya—rokok dan alkohol—yang selalu melekat di pakaiannya, dan…rambut merah itu… Dia benar-benar Shishou.

"Oi, murid bodoh! Kau tidak apa-apa?"

"Shishou…"

"Ya?" Ia membungkuk, mendekatkan kepalanya.

DUAAAKKK! Yep, uppercut tangan kiri kudaratkan dengan sempurna di dagunya.

"WADAW! SAKIT, BEGO!"

"SHISHOU YANG BEGO!" aku balas membentak—well, tak ada salahnya membalas perlakuannya di saat seperti ini. "Kemana saja kau? Waktu itu aku pulang kaget tiba-tiba rumah terbakar, saat aku terobos ternyata Shishou tidak ada! Setahun penuh main pergi begitu saja tanpa pesan, sekarang gara-gara kau aku jadi terlibat masalahmu yang jelas-jelas merepotkan begini! Belum lagi selama kau tidak ada aku jadi dikejar-kejar para penagih hutang dan pacar-pacarmu yang entah-aku-kenal-saja-enggak, mentang-mentang aku muridmu! Aku diuber-uberlah, diinterogasilah, teman-temanku sampai ikut terlibatlah… Eh sekarang begitu ketemu kau seenaknya muncul menyeret-nyeretku, minta maaf juga enggak… WALI TIDAK BERTANGGUNG JAWAB! Aku kan… jadi…haaah…haaah…"

Shishou cengo, shock juga melihat aku bicara secepat itu dalam satu tarikan nafas.

"…kau marah padaku?" lanjut Cross pelan.

"Itu juga… tapi…" aku masih mengatur nafasku yang nyaris habis. "…kau pergi tanpa bilang apa-apa padaku… tak pernah bicara apapun padaku… sementara kau tahu semua yang ada padaku… Kau curang… Kau egois… Kau… menyebalkan…"

"…Aku tahu…" ujar Shishou, masih memberiku kesempatan mengeluarkan segala unek-unek yang terus membebaniku selama setahun ini.

"Kau pikir… saat kau menemukan seseorang—dan satu-satunya—yang selalu ada bersamamu, tiba-tiba menghilang tanpa jejak, tanpa petunjuk atau salam apapun juga… menurutmu siapa yang tidak akan kebingungan, hah…? Siapa yang tidak akan khawatir, hah…? Dan siapa yang… tidak akan… kesepian…"

Kali ini aku mati-matian menahan diri agar air mataku tidak jatuh, tidak di depan Shishou. Aku tidak mau setelah sekian lama, ia akan menganggapku sebagai anak cengeng dan lemah.

Tangannya yang besar terangkat. Sesaat kupikir ia akan memukulku (lagi, seperti yang sudah-sudah) jadi aku sudah refleks memejamkan mata dan bersiap untuk pukulan.

Namun tidak ada pukulan. Tangan besar nan hangat itu hanya menepuk kepalaku dengan lembut, lalu mendekatkan kepalaku ke dadanya.

"…maaf…"bisiknya lirih.

Weits? Apa aku tidak salah dengar? Shishou—SHISHOU yang ITU—minta maaf?

"Kupikir dengan meninggalkanmu, aku jadi tidak perlu melibatkanmu dengan masalahku yang bisa membahayakanmu. Aku ingin menghindarkanmu dari hal-hal mengerikan yang tadi nyaris saja menimpamu. Ini kesalahanku… Kau berhak marah padaku…"

Sepertinya aku harus mencatat kejadian ini di buku sejarahku, karena ini benar-benar pertama kalinya sejak aku bertemu dengan Shishou, ia bersikap seperti ini. Well, bukannya aku tak suka, sih… Aku justru…senang… Tanpa sadar butiran bening mulai kembali menggenangi pelupuk mataku.

Nakanaide

Torawareta gensou wo kowashi

Ichidokiri no shuuen wo ageyou

Hatasenai yakusoku wa mune no oku kogetsuite

Akaku akaku hazeteku yo, nee

"Shishou…"

"Ya?"

"…Shishou sakit?"

DUAAAKK! Kali ini Shishou yang mendaratkan hantaman kepalanya ke keningku.

"BOCAH BODOH KURANG AJAR! Sudah susah payah aku ngomong panjang lebar, malah dikira sakit! Rugi aku mencemaskanmu!"

"He? Jadi Shishou bisa 'cemas' juga padaku?"

"BAWEL!" Ia membentakku, tapi meski ia membalikkan badannya, aku masih bisa melihat kalau ada segaris rona merah. Dasar sok jaim!

Aku benar-benar menikmati momen-momen seperti ini.

"Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana dengan Tyki?" tanyaku akhirnya. "Dia berhasil kabur, kan? Memangnya tidak apa-apa…"

"Soal itu, tidak usah khawatir," jawab Shishou enteng. "Sesaat sebelum aku membuntuti Tyki kemari, aku bertemu temanmu, si bocah Jepang berambut panjang itu. Dia terlihat kuat, bawa-bawa pedang pula. Sepertinya dia juga tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi aku memperkenalkan diri padanya dan memintanya bekerja sama. Saat ini dia pasti sudah meringkus Tyki di tepi hutan sana dan menyerahkannya ke polisi."

"Tapi, apa tidak apa-apa? Maksudku…" Aku agak ragu mengatakannya. "Dia sahabatmu, kan…?"

"Justru itulah,"ujar Shishou lirih. Matanya menerawang pada langit sore yang ternodai oleh pekatnya warna asap. "Dia MEMANG masih sahabatku, karena itulah aku mengampuni nyawanya."

"Kupikir juga ini yang terbaik."

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-


"Hei, bagaimana keadaan matamu?"

Aku, Lavi, dan Kanda tengah berkumpul di halaman depan rumah sakit, setelah menjenguk Lenalee. Kakinya sudah membaik, bahkan beberapa hari lagi ia akan bisa berlari lagi. Kami memilih berkumpul di sini agar percakapan kami tidak terdengar oleh Komui dan Lenalee.

Tentu saja kami tidak menceritakan apapun tentang Tyki dan insiden kemarin. Kami tidak ingin membuat hati mereka terbebani lebih dari ini. Pada mereka aku mengatakan bahwa luka di wajahku itu karena tergores saat jatuh dari tangga, dan mata Lavi terluka parah saat jatuh dari motor.

"Kau sendiri, bagaimana dengan lukamu, Allen?" tanya Lavi balik.

"Luka ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding matamu, Lavi." Aku menatap Lavi dengan sedih. "Kau sudah tidak bisa melihat dengan mata kananmu…"

"Ini hukuman untukku, karena sudah mencoba membunuhmu," ujar Lavi miris. "Harusnya aku tidak begitu lemah sampai bisa diperalat oleh Tyki. Ini salahku."

"Che! KAU memang salah, Baka-Usagi!" celetuk Kanda. "Lagian, kehilangan satu mata bukanlah masalah, kan? Toh kau masih bisa melihat dengan mata satunya…"

"KANDA!" Aku mengarahkan death-glare pada cowok berambut panjang itu.

"Tidak apa, Yuu-chan ada benarnya kok, Allen."

Kali ini death-glare + mugen yang mengarah ke Lavi.

Tiba-tiba Lavi membungkukkan badannya padaku dan menunduk dalam-dalam.

"Maafkan aku, Allen."

"E-eh? EEHH! Lavi apa-apaan sih? Angkat wajahmu, dong!" kataku panik.

"Tapi…"

"Sudahlah, aku juga minta maaf telah menghilangkan sebelah matamu. Dari awal juga sebenarnya tidak ada yang salah di sini. Semua ini gara-gara Tyki," ujarku lembut.

"HUAAAAA~~ Allen-chan emang baik! Allen-chan imut banget, deh! Beda ama Yuu-chan!" pekiknya sambil memelukku erat.

"HEH! SIAPA YANG NGEBOLEHIN ELO MANGGIL-MANGGIL GUE BEGITU?" kalian tahu siapa yang barusan ngomong, kan?

"Yuu-chan cemburu, ya? Sini aku peluk juga!

"OGAH! GUE MASIH NORMAL, TAU!"

Sore yang cerah bagiku dan kedua sahabatku.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-


Aku masih berdiri terpaku di depan perapian rumah, menggenggam partitur lagu yang waktu itu dikirim Tyki, 'Crimson Rose Score'.

Rasanya sepi juga berada di rumah seorang diri. Komui masih menjaga Lenalee di rumah sakit sampai ia benar-benar pulih. Sementara Shishou… dia juga belum mau pulang bersamaku. Shishou bilang kalau ia masih punya beberapa hal yang ingin dan harus diselesaikannya, tapi ia janji akan kembali secepatnya. Kita akan segera bertemu lagi dalam waktu dekat, demikian janjinya.

Aku membakar partitur lagu itu. Bukan karena partitur itu mengandung kutukan, tapi karena aku ingin menghilangkan 'kebencian' yang melekat pada lagu dalam partitur itu. Dari awal kutukan itu tidak ada. Yang ada hanyalah perasaan benci dan kecewa yang nyata, yang memancing kutukan itu menjadi nyata. Sebuah lagu seharusnya dibawakan dengan penuh perasaan, namun yang jelas bukan dengan perasaan benci dan kutukan.

Aku kembali ke kamarku dan memainkan lagu itu, tanpa partitur. Semoga dengan demikian lagu itu tidak akan lagi membawa kutukan. Lagu seindah ini tidak seharusnya membawa kutukan, tapi kebahagiaan bagi siapapun yang mendengarkan.

Dan suara dentingan piano mengalun indah di seantero kamar…

Impossibile arrivare al vero segreto

se non ci si accorge di tutto l'amore

.

.

.

-F.I.N-


Setelah saia baca ulang, saia jadi kaget bin sweatdrop sendiri. Ternyata fic ini emang cukup panjang (bisa juga author males kayak gini ngetik sebanyak ini)

=="

Perasaan ada yang OOC di beberapa tempat, terutama Cross...

Terus terang, butuh waktu cukup lama untuk merangkai unsur 'Mystery' dalam story ini (abis, baru kali ini nulis dengan genre beginian... kalo baca mah sering banget).

Gimana menurut kalian?

Aneh?

Gajhe?

Ga nyambung?

Silakan tuangkan segala saran, kritik, comment, bahkan FLAME-asal membangun-di kolom Review. Akan saia terima dengan senang hati

n_n

Please banget ya, cz sebagai author baru saia bener-bener butuh bantuan kalian semua... Saia ingin tahu dimana letak kekurangan saia...

And last, thank you for reading this fic