The Language Of Heart

Naruto punya Kishimoto sensei

The Language Of Heart punya Aya^.^

SasuSaku.. xxxSaku


BAB III

Lembaran Kehidupan


"Sasuke kun, kenapa semuanya meninggalkanku?"

"Ssstt.."

"Apa kau juga akan meninggalkanku?"

"Pejamkan matamu. Apa kau bisa melihatnya?"

"Tentu saja, aku bisa melihat bahasa hatimu."

"Bahasa hatiku tidak akan pernah berubah, akan selalu menemanimu, walau semua orang meninggalkanmu, aku akan tetap bersamamu."

"Terima kasih, Sasuke kun."


BAB III


Ino dan Hinata muncul dari balik pintu toilet yang dibuka secara paksa. Mereka langsung menghampiri Karin dan teman-temannya yang masih memegangi Sakura. Sakura terkejut sekaligus bersyukur melihat kehadiran mereka.

"Kau! Apa yang kau lakukan pada Sakura, hah?" maki Ino pada Karin. Sakura membebaskan kedua tangannya dari kedua siswi suruhan Karin.

"Cih, rupanya teman-temannya sudah datang. Ayo kita pergi! Aku tidak mau berurusan dengan teman-teman si 'pelacur'," ucap Karin sambil melayangkan pandangan jijiknya pada Sakura. Ingin rasanya ia menampar Karin sekali lagi. Tapi Sakura sadar, itu tidak akan berarti apa-apa.

Karin dan kedua temannya pergi dari toilet menyisakan sunyi diantara Sakura, Ino, dan Hinata. Ino dan Hinata bingung harus berkata apa? Apalagi melihat rambut Sakura yang kini tinggal sebahu. Mereka bisa menebak pasti Karin sudah memberitahu gossip yang beredar tentang Sakura. Sakura tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan atau tepatnya tanyakan pada kedua sahabatnya. Baginya takdir tidak adil, teganya takdir mengizinkan gossip itu berhembus tepat disaat dia kehilangan keluarganya.

"Sakura.., kau tidak apa-apa kan?" tanya Hinata khawatir. Hanya Hinata dan Ino yang percaya bahwa Sakura tidak mungkin serendah itu dengan menjual dirinya pada Sasuke.

"Aku tidak apa-apa," ucap Sakura lalu beranjak pergi meninggalkan Hinata dan Ino.

"Sakura, kau mau kemana?" tanya Ino yang menghentikan langkah Sakura.

"Aku hanya sedang ingin sendiri. Oh ya, terima kasih… Kalian adalah sahabat terbaikku," ucap Sakura lalu pergi meninggalkan Ino dan Hinata.

.

.

Sakura melangkahkan kakinya sepanjang koridor. Tak hentinya tatapan hina para siswi dan tatapan nafsu para siswa mengiringi langkahnya. Sasuke… Hanya satu nama itu yang terlintas dalam benak Sakura. Hanya karena nama itu, Sakura merasa hidupnya masih berarti. Sakura langsung menuju atap sekolah, tempat dimana Sasuke berjanji akan menemuinya.

Dilangkahkan kakinya menaiki tangga ke atap sekolah. Angin segar menyambut dan menggelitik wajahnya sesampainya di atap. Sakura berdiri di tepi kawat penyangga, memejamkan matanya, berharap apa yang dialaminya hanya mimpi. Mulai dari kecelakaan kedua orang tuanya, harta keluarganya yang disita, sampai dengan gossip yang menimpanya di sekolah. Satu hal yang masih Sakura syukuri, yaitu Sasuke. Sakura merasa tenang, asal tak kehilangan Sasuke, Sakura percaya semuanya akan baik-baik saja.

Tanpa Sakura sadari, ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Perlahan sang empunya melangkahkan kakinya menuju Sakura. Dipeluknya Sakura dari belakang. Sakura yang terkejut langsung membuka matanya, secara reflex bibirnya mengucapkan nama Sasuke.

"Sasuke kun..."

"Sakura..." jawab suara itu sambil melepaskan satu tangannya dari pinggang Sakura dan dengan lembut memainkan rambut Sakura dari belakang.

Dan Sakura begitu terkejut saat mendapati bukan suara Sasuke lah yang menjawab panggilannya. Melainkan suara seorang pria yang Sakura kenal sebagai suara…

Sai…

Dengan sekali hentakan, Sakura melepaskan tangan Sai yang masih melingkar di pinggangnya. Segera Sakura membalikkan tubuhnya menghadap Sai.

"Sai! Mau apa kau?" teriak Sakura pada Sai. Sakura terkejut saat mengetahu memang Sai yang tadi memeluknya dari belakang.

"Sakura, kau jangan terlalu berlagak suci. Aku tahu apa saja yang sudah kau berikan pada Sasuke," ucap Sai tenang sambil menyunggingkan senyumnya.

Plakk…

Sakura menampar pipi Sai. Sai hanya mengelus pelan pipinya sebelum meneruskan berkata,

"Apa yang kau mau Sakura? Uangkah? Aku bisa memberimu ribuan kali lebih banyak dari yang Sasuke berikan," ucap Sai sambil terus menatap Sakura dengan penuh nafsu sebelum meneruskan dengan membisikan kata di telinga Sakura, "...jika kau mau menemaniku tidur satu malam."

Sakura berusaha menampar Sai sekali lagi. Tapi kali ini tangan Sai lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.

"Jangan jual mahal, Sakura. Kau tidak percaya aku bisa membayarmu dengan mahal? Ini!" ucap Sai lalu mengeluarkan puluhan lembar uang yang ia sebar di hadapan Sakura. Sakura benar-benar merasa direndahkan. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benakknya bahwa Sai akan bersikap seperti ini. Sai yang begitu baik, Sai yang ramah, Sai, sahabatnya yang selalu ada di sampingnya, Sai yang selalu membantunya saat pelajaran, Sai, Sai, Sai, nama itu berputar-putar di kepalanya. Sai yang selama ini ia kenal bukanlah Sai yang kini ada di hadapannya.

"Kenapa? Kenapa kau seperti ini?" teriak Sakura penuh emosi. "Kenapa Sai? Jawab aku? Kemana Sai yang selama ini aku kenal?"

"Kemana? Dan aku tanya dimana hatimu Sakura saat aku membutuhkanmu? Dimana? Selama ini kau tahu, aku mencintaimu, menyayangimu Sakura. Aku selalu berusaha untuk selalu ada di sampingmu, membantumu, menemanimu. Tapi apa yang ku dapat? Pernahkan sedikit pun kau mengalihkan pandanganmu dari Sasuke dan melihatku? Tidak..." Sai tersenyum miris sebelum melanjutkan perkataannya, "Bagimu hanya Sasuke segalanya."

Sakura sedikit sadar akan apa yang dikatakan Sai, sahabatnya yang mencintainya. Sakura sadar akan perasaan Sai padanya. Berulang kali Ino dan Hinata mengatakan hal ini padanya, hanya ia yang berpura-pura tidak sadar dan menolak menerima kenyataan bahwa Sai menyukainya. Tapi, apa dengan ini Sai membalasnya?

"Kali ini aku akan buktikan padamu Sakura, aku lebih baik dari Sasuke," ucap Sai lalu bergerak maju mendekati Sakura.

"Mau apa, kau?" Sakura mundur sampai tubuhnya bersandar pada kawat pembatas.

Sai terus mendekatinya, dan Sakura membencinya saat bibir Sai mengecup paksa bibirnya. Ciuman ini terasa menyakitkan. Bukan ciuman seperti ini yang diharapkan Sakura. Sai terus mencium paksa Sakura, lidahnya berusaha menerobos pertahanan bibir Sakura. Sakura menangis... Hatinya sakit merasakan perlakuan dari orang yang selama ini ia anggap sebagai sahabatnya. 'Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Sai?'

Sasuke yang tiba di atap terkejut melihat pemandangan di depannya. Seorang siswa berambut hitam, Sai. Sasuke lebih terkejut lagi saat melihat apa yang dilakukan Sai. Dengan emosi Sasuke menarik Sai yang masih belum sadar akan kehadiran Sasuke dan melayangkan tinjunya pada Sai.

Buggh..!

Sai terjatuh saat pukulan Sasuke tepat mengenai pelipisnya. Sai bangkit dan berusaha membalas pukulan Sasuke. Sasuke berhasil menghindarinya, dengan cepat membalas pukulan itu dengan tendangan. Tapi sayang, kali ini Sai berhasil menghindar dan melayangkankan pukulan ke bibir Sasuke. Darah segar mengalir dari ujung bibir Sasuke.

"Cih, aku tidak ingin berurusan denganmu, Sasuke!" Sai berusaha kembali memukul Sasuke. Tapi Sasuke berhasil menhindar dan membalas meninju pipi Sai.

"Brengsek kau!"

"Liat saja, Sasuke. Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Sai lalu meninggalkan Sasuke dan Sakura.

"Aku yang akan membuat perhitungan denganmu, brengsek!"

Perlahan Sasuke mendekati Sakura. Sakura jatuh terduduk, tangannya menutupi wajahnya, isakan tangis terdengar di dela-sela jari itu. Sasuke menyentuh lembut bahu Sakura sebelum menariknya dalam dekapannya. Tangannya ia perintahkan untuk membelai rambut Sakura, mencoba memberikan ketenangan pada sang pemilik. Sesaat tangan itu merasakan perubahan signifikan pada rambut Sakura. Dengan lembut Sasuke berbisik di telinga Sakura, "Tenanglah. Semua akan baik-baik saja Sakura."

"Kenapa? Kenapa harus Sai?" Sakura berkata lirih. Kenapa di antara sekian pria yang memandang rendah dirinya saat ini, kenapa harus Sai? Sai? Sai sahabatnya…

Sasuke terdiam, tak tahu apa yang harus ia ucapkan untuk menenangkan Sakura. Kadang ia berpikir, mengapa takdir terlalu kejam pada Sakura, Sakura-nya. Tak ada yang dapat dilakukannya selain terus mendekap Sakura, melindunginya dari segala hal yang mungkin akan mengganggu Sakura-nya. Sasuke tak ingin melihat Sakuranya layu lagi.

"Sasuke-kun?" Sakura melepaskan dekapan Sasuke dan menatap lembut wajah Sasuke.

"Hn?" Sasuke balik memandang wajah Sakura. Terilhat gurat-gurat kesedihan di wajah cantiknya.

"Kenapa ini semua terjadi padaku?"

Takdir…

Mungkinkah itu jawaban atas pertanyaan yang mendera hati Sakura.

TBC


Catatan Kecil:

Maaf, karena saya sudah menelantarkan fic ini setelah sekian lamanya…*pundung*

Mungkin Anda sekalian sudah lupa cerita sebelumnya. Hehee… Sekali lagi, maaf…*bungkuk-bungkuk*

Ada yang sadar? Fic ini berubah Rate? Hehehe…XDD

Tenang aja, ga aka nada lemon ko..:p

Hanya saja menurut saya, bahasa dalam fic ini terlalu berlebihan jika ditaruh di Rate T…

Terimakasih untuk semua yang telah membaca dan memberikan kesan pesan di chapter sebelumnya, maaf saya tidak bisa balas satu persatu…

Terimakasih sudah membaca sampai di sini..

Ripiu donk?#plakk…XDD

Aya^^14082010