Halow...ha...
*kusanagi nari hula-hula dengan gajenya*
Apa kabar mina? Kusanagi balik lagi dengan fic gaje kusa. (Untung Tite Kubo ga bisa bahasa Indonesia. Kalau ga kusanagi bisa digamparin sama om Tite)
Kusanagi berharap semoga chapter ini ga ngecewain readers.
Yah... Selamat baca...
Disclaimer: Om Tite Kubo BLEACH buat kusanagi dung *Digampar sama Tite Kubo pake sendal butut*
LOST
Chapter: 8
Kurosaki Ichigo, taichou baru divisi 5 sedang mengerjakan paper worknya, ketika Rukia datang mengunjunginya dengan wajah suram, Ichigo yang curiga bertanya padanya. "Ada apa Rukia? Kenapa wajahmu sura seperti itu?"
Rukia sebenarnya enggan memberi tahu Ichigo tentang berita yang baru saja ia dengar, dia tahu Ichigo pasti sangat khawatir mendengar berita itu. "Uhm...sebenarnya aku baru saja mendapat berita dari Isshin-san..." kata rukia.
"Dari Oyajii? Apakah dia berhasil menemukan Toushiro?" Tanya Ichigo sambil menghentikan pekerjaannya untuk mendengar Rukia dengan seksama.
"Uhm...sebenarnya...bukan itu..." kata Rukia ragu-ragu. "Isshin-san bilang katanya...er...Karin-chan diserang oleh arrancar."
Ichigo bangkit dari tempat duduknya dan menggerbak mejanya. "Apa Karin diserang arrancar?" teriak Ichigo panik. "Lalu sekarang bagaimana keadaan Karin?"
"Karin-chan baik-baik saja, Ichigo." jawab Rukia.
Ichigo menghela nafas lega lalu kembali duduk. "Syukurlah kalau begitu."
"Isshin-san langsung pergi ketempat Karin berada, begitu ia merasakan reiatsu muncul." Jelas Rukia. "Arrancar itu sempat menyerang Karin, tapi Toushiro berusaha melindungi Karin kata Isshin-san."
"Toushiro?" Ichigo mengangkat alis matanya.
"Anak kucingnya Karin-chan."
~H~
Toushiro merasa seluruh badannya sakit ketika kesadarannya kembali. Samar-samar dia mendengar suara Karin. 'Karin, syukurlah dia baik-baik saja.'
Kata Toushiro dalam hati.
"Oya-jii...apa Toushiro baik-baik saja?" tanya Karin kepada ayahnya.
Lalu perlahan Toushiro membuka matanya. Dia melihat Karin duduk didekatnya dengan wajah khawatir. Lenganya banyak luka lebam. Tapi sisanya dia baik-baik saja. "Miau..." (Karin...) Panggil Toushiro lemah.
"Toushiro, kau sudah sadar?" tanya Karin sambil mengangkat Toushiro dengan berusaha tidak menyakitin kaki kiri depan Toushiro yang diperban karena patah.
"Dia tidak apa-apa Karin. Lukanya sudah aku sembuhkan menggunakan kidou. Tapi kaki depan kirinya masih belum benar-benar sembuh karena tulangnya patah." Jelas Isshin.
"Syukurlah kalau begitu." kata Yuzu yang duduk disebelah Karin. "Tapi apa kau sendiri baik-baik saja Karin?" tanya Yuzu pada kembarannya.
"Aku baik-baik saja, Yuzu. Ini semua berkat Toushiro yang melindungiku." Kata Karin meyakinkan Yuzu. Sejak ayahnya membawanya pulang tadi malam, Kembarannya terus menerus mengkhawatirkan keadaannya.
"Karin, lebih baik kita biarkan Toushiro istirahat. Aku akan menggunakan kidou untuk menghilangkan rasa sakit dibadannya." kata Isshin kepada putrinya. Lalu Karin meletakkan Toushiro ditempat tidurnya kembali.
Isshin meletakkan telapak tangannya diatas tubuh Toushiro. Lalu telapak tangannya mulai mengeluarkan cahaya. Beberapa menit kemudian cahaya ditangan Isshin meredup sampai akhirnya hilang.
"Nah...dengan begini dia akan baik-baik saja. Luka dikakinya akan sembuh dalam beberapa hari lagi." kata Isshin kepada kedua putrinya.
Karin dan Yuzu menghela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu..." kata Karin sambil mengelus-elus kepala Toushiro.
Toushiro mengeong. Entah kenapa dia merasa sangat senang saat Karin mengelus-elus kepalanya. Biasanya dia merasa tidak nyaman ketika orang lain menyentuhnya. Tetapi dia merasa sangat nyaman dengan karin. Toushiro merasa badannya masih lemah. Tapi setidaknya badannya sudah tidak sakit lagi.
"Nah...ayo kita biarkan Shirou istirahat, Karin." ajak Yuzu sambil meninggalkan kamar karin. Lalu Karin berdiri dan berjalan mendekati kembarannya. "Toushiro...beristirahat dulu ya! ...nanti aku akan bawakan susu untukmu." kata Karin sambil menutup pintu kamarnya.
Toushiro meletakkan kepalanya kembali diatas kasur karin. Dia merasa sangat nyaman saat kain seprai berwarna hijau muda menyentuh pipinya. Samar-samar dia mencium aroma Karin yang khas diatas kasur itu.
Tiba-tiba Toushiro teringat perkataan arrancar yang menyerang Karin kemarin. 'Serahkan kucing itu padaku, bocah' mengingat hal itu dada Toushiro merasa sesak. Dia mengerti kalau arrancar yang menyerang Karin kemarin sebenarnya mengincar dirinya. Dia merasa sangat bersalah karena membuat Karin terluka karena dirinya.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' tanya Toushiro dalam hati. Dia tidak mengerti dalam keadaan apa sebenarnya dia ini. Dan mengapa hal seperti ini bisa terjadi kepadanya. Setelah mengetahui penyebab arrancar menyerang Karin dia merasa bingung apa yang harus dia lakukan. Dia tidak mau melihat Karin terluka lebih dari ini.
Toushiro menatap langit. Awan putih bergerak perlahan.
Toushiro berdiri dari posisinya sebelumnya. Dia telah membulatkan tekadnya. 'Aku harus pergi dari sini,' kata Toushiro dalam hati. 'Kalau aku tetap disini cepat atau lambat arrancar atau malah espada akan datang menyerang lagi. Dan bukan hanya Karin yang akan terluka, Yuzu pun bisa ikut terluka. Bila hal itu terjadi aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.'
Walau sebenarnya dalam hati Toushiro merasa berat meninggalkan tempat ini, dia melompat keatas jendela Karin. Toushiro merasakan sakit dikaki kiri depannya. Tapi dia menghiraukannya dan berlari meninggalkan rumah yang sudah seperti rumahnya sendiri.
~H~
Sementara itu di huece mundo...
Aula Las Noces...
Para espada berkumpul mengeliling sebuah meja, menunggu sang raja Las Noces...
Sesaat kemudian masuklah seseorang dengan atasan dan hakama putih. Orang itu memiliki rambut coklat dan bekas luka menyamping diwajahnya.
Melihat orang itu datang para espada berdiri dari tempat duduknya dan menyambut orang itu. "Aizen-sama..."
Aizen mengangkat tangannya memberi tanda agar para espada kembali duduk. Lalu dia duduk dikursi tengah diantara dua baris tempat duduk espada.
"Bagaimana perkembangan rencana kita?" tanya Aizen.
"Sesuai rencana Aizen-sama," jawab seorang espada yang memiliki rambut pirang. Topengnya hanya menutupi bagian rahang kanan sampai belakang kepalanya. "Hanya saja, arrancar yang bertugas mengambil kucing itu terlalu lemah dan berhasil dikalahkan."
"Itu bukan masalah besar. Kita bisa mengutus salah satu espada untuk membawa kucing itu." jawab Aizen sambil tersenyum licik. "Lalu bagaimana dengan mata-mata kita di Soul Society?" tanya Aizen.
"Dia sudah menemukan benda itu, beberapa hari lagi dia akan membawanya ke Las Noces." jawab espada yang tadi.
"Bagus! semuanya berjalan sesuai rencana. Dengan ini Soul Society akan berakhir." kata Aizen.
Lalu terdengarlah suara tawa yang licik menggema di Hueco Mundo.
~H~
Karin membawa semangkuk susu dengannya saat dia membuka pintu kamarnya. Dia melihat kearah kasur tempat dimana Toushiro seharusnya beristirahat. Tetapi tempat itu kosong. Karin lalu menaruh mangkuk yang dibawanya diatas meja belajarnya. Lalu dia mulai mencari Toushiro disekitar kamarnya.
Karin mencari Toushiro dibawah kasur sambil memanggil namanya. "Toushiro...?" begitu juga dibawah meja, disela lemari, dan didalam lemari.
Karin sudah mencari Toushiro keseluruh penjuru kamarnya. Tapi dia tak berhasil menemukannya. "Toushiro...ayo keluarlah! Ini sama sekali tidak lucu." kata Karin frustasi.
Karin menunggu beberapa menit agar Toushiro keluar. Tapi Toushiro tak kunjung keluar. "Toushiro...?" panggil Karin mulai panik.
"Ada apa Karin?" tanya Yuzu yang tiba-tiba muncul dipintu karin.
"Yu...Yuzu...apa kau melihat Toushiro?" tanya Karin panik.
"Tidak. Bukannya Toushiro seharusnya ada dikamarmu?" tanya Yuzu.
"Toushiro tidak ada." kata Karin menyadari anak kucingnya kabur.
"Yuzu...aku akan mencari Toushiro." kata karin sambil berlari meninggalkan kamarnya.
~H~
Sementara itu Toushiro sedang berjalan melintasi tembok pagar sebuah rumah. 'Sekarang apa yang harus kulakukan?' tanya Toushiro dalam hati. 'Urahara shouten' tiba-tiba saja tempat itu terbesit dalam kepalanya. 'Tidak seperti Ichigo, Urahara jauh lebih pintar. Mungkin aku bisa memberitahu Urahara tentang keberadaanku.' kata Toushiro dalam hati.
Toushiro memutuskan pergi ketempat Urahara, tetapi ketika melihat kesekelilingnya dia menyadari kalau dia tidak tahu dimana dia berada. Jalanan terlihat begitu berbeda saat dia dalam bentuk anak kucing.
Lalu tiba-tiba muncul seekor kucing hitam dengan mata berwarna seperti emas. Toushiro merasa kalau dia pernah melihat kucing itu disuatu tempat. 'Owh iya, aku pernah melihatnya ditempat Urahara.' kata Toushiro hati. 'Dia adalah Yoruichi-san'
~H~
Yoruichi sedang berjalan menyusuri tembok pagar sebuah rumah saat dia melihat seekor anak kucing berwarna putih seperti salju. Dilehernya dia mengenakan pita berwarna emerland dengan bell berwarna kuning ditengahnya. Kaki kiri depannya dibalut perban. Anak kucing itu tampak sedang kebingungan. Lalu mata emerland kucing itu menatap yoruichi. Matanya begitu besar dan lucu.
Yoruichi tidak begitu memperdulikan anak kucing itu. Dia melompat kebawah dan melanjutkan perjalanannya.
Yuroichi merasakan ada yang mengikutinya. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan melihat anak kucing yang tadi mengikutinya.
Yoruichi berusaha tidak mempedulikan anak kucing itu dan melanjutkan perjalanannya. Tetapi anak kucing itu terus mengikutinya. Merasa kesal yoruichi berbalik dan mendesis kepada anak kucing itu agar takut dan tidak mengikutinya.
Tetapi bukannya takut anak kucing itu hanya menatap Yoruichi dengan mata emerland yang besar. Yoruichi tambah kesal, setelah memastikan tidak ada orang disekelilingnya lalu dia berkata. "Hei...bocah jangan mengikutiku terus."
"Miau...?" Anak kucing itu cuma mengeong mendengar perkataan Yoruichi dengan nada seolah-olah bertanya 'kenapa?'
Yoruichi merasa frustasi karena anak kucing itu tidak mau pergi. Lalu dia melompat keatas tembok pagar yang lumayan tinggi. 'Dengan kaki seperti itu dia tidak mungkin bisa mengikutiku.' kata Yoruichi dalam hati.
Benar saja, anak kucing itu tidak bisa memanjat tembok itu. Dia mulai mengeong memanggil-manggil Yoruichi. "Miau...miau...miau..."
Yoruichi nyengir. 'Akhirnya aku bisa sendirian.' kata Yoruichi dalam hati.
"Miau...miau...miau..." anak kucing itu masih terus memanggil Yoruichi.
Ketika Yoruichi hendak pergi dia mendengar gonggongan anjing. Lalu ia membalikkan badan dan melihat anak kucing itu sedang diganggu oleh anjing liar yang besar.
Anak kucing itu mendesis mencoba mengusir anjing liar yang jauh lebih besar darinya. Tetapi ketika anjing itu menggong-gong lagi. Anak kucing itu menyadari dia tidak mungkin menang melawan anjing liar. Lalu dia mundur sampai ia terpojok.
Merasa kasihan Yoruichi melompat diantara anak kucing dan anjing liar itu. Lalu dia menggendong anak kucing itu dengan mengigit lehernya bagian atasnya dan membawanya melompat keatas pagar yang tidak bisa dijangkau oleh anjing liar.
Setelah itu Yoruichi meletakkan anak kucing diatas pagar dan berkata. "Aku sudah menolongmu. Sekarang jangan ikuti aku lagi." lalu Yoruichi berlari meninggalkan anak kucing itu.
Langit tampak mendung dan petir mulai menyambar-nyambar saat Yoruichi meninggalkan anak kucing tadi. 'Kelihatannya akan turun hujan.' kata Yoruichi dalam hati. Lalu dia berhenti memikirkan keadaan anak kucing tadi. 'Dia pasti akan kehujanan.'
Akhir Yoruichi kembali ketempat dimana dia meninggalkan anak kucing tadi. 'Nanti aku akan menyuruh Jinta dan Ururu menemukan majikan anak kucing itu.' pikir Yoruichi.
Yoruichi menemukan anak kucing itu masih duduk ditempatnya meninggalkannya tadi sambil menatap langit yang kelabu. Lalu Yoruichi mendekati anak kucing itu dan menggendongnya. Anak kucing menatap Yoruichi dengan tatapan bingung. Tetapi ia tak menghiraukan tatapan anak kucing itu dan berlari ke tempat Urahara.
~H~
Saat sampai di Urahara shouten Yoruichi disambut oleh Urahara dan kipasnya. "Ah... Yoruichi kau sudah pulang."
Menyadari Yoruichi tak sendiri, Urahara menatap Yoruichi yang menggendong Toushiro beberapa detik sampai ketika Tessai datang. Lalu Urahara menangis padanya sambil berkata. "Hwa...Yoruichi selingkuh dan sudah punya anak."
Toushiro dan Tessai sweat drop mendengar perkataan Urahara. Sementara itu Yoruichi yang sangat kesal meletakkan Toushiro dibawah dan melompat keatas pundak Urahara dan mencakar wajahnya. "Sialan kau...Kisuke. Siapa yang selingkuh, hah?" teriak Yoruichi kesal.
"GyaAa... Maaf...aku cuma bercanda." kata Urahara kesakitan. Darah mulai mengalir dari bekas cakaran Yoruichi.
"Jadi...Yoruichi anak siapa ini?" tanya Urahara lagi. Sementara Tessai berusaha menghentikan darah Urahara.
"Kau minta dicakar lagi ya, Kisuke? Kau mau bilang kalau dia anak sepupuku atau kakakku kan? Aku sudah tau akal-akalan mu Kisuke." kata Yoruichi sambil menunjukkan cakarnya. "Walau bentukku sekarang kucing, tetapi aku shinigami, baka!"
Urahara merinding melihat cakar Yoruichi langsung bersembunyi dibelakang Tessai dan menggumamkan sesuatu tentang kekerasan dalam rumah tangga.
"Tessai...Jinta dan Ururu kemana?" tanya Yoruichi. Lalu tak lama hujan turun.
"Tadi Karin-dono datang dan meminta mereka membantunya mencari sesuatu." jawab Tessai. Lalu Yoruichi menuju ruang tengah dan tiduran diatas bantal yang biasa dia gunakan untuk tidur. Toushiro mengikutinya lalu duduk didekat meja. Tak lama kemudian Tessai datang membawa semangkuk susu hangat dan meletakkan dekat Yoruichi.
Perut Toushiro berbunyi. Dia merasa sangat lapar karena belum makan apapun sejak kemarin malam.
Yoruichi melihat Toushiro memandangi mangkuk susunya dengan mata emerlandnya yang besar. Lalu dia mendengar perut Toushiro berbunyi.
Yoruichi mendorong mangkuk susunya kearah Toushiro, lalu berkata. "Ini untukmu, bocah."
Toushiro mendekati mangkuk susu itu, setelah mengamatinya sesaat dia mulai menjilat susu itu. Merasa susu itu enak, Toushiro menggerakkan ekornya kekiri dan kekanan. Dia meminum susu itu dengan senang.
Yoruichi yang melihat hal itu tanpa sadar tersenyum. Dia merasa mata emerland Toushiro yang senang kelihatan sangat lucu.
Urahara lalu tiba-tiba muncul diruangan itu dengan beberapa plester diwajahnya. "Yoruichi, kalau kau menyukai anak itu kita bisa mengadopsinya jadi anak kita." kata Urahara sambil nyengir.
Tanpa berkata apa-apa Yoruichi melompat dan mengigit Urahara.
~H~
Sementara itu diperpustakaan pusat Seiretei. Seseorang menarik sebuah buku tebal yang sudah berdebu dari sebuah lemari. Lalu dengan senyum licik dia berkata. "Khu hu hu...siapa yang menduga kalau benda sepenting ini mereka sembunyikan ditempat seperti ini." dari balik buku itu nampak sebuah lambang dengan sebuah permata berwarna merah ditengahnya. Ketika orang itu hendak menyentuh permata itu tiba-tiba Ukitake-taicho muncul.
"Hentikan!!!" teriak Ukitake. "Apa yang kau lakukan? Tidak banyak orang yang mengetahui letak cincin raja disimpan. Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Ukitake dengan nada marah. "Apa yang sebenarnya kau rencanakan...?"
Ho ho ho... Chapter 8 akhinya kelar.
Owh iya, kusanagi ngucapin makasih buat reader yang sudah ngasih review ke kusanagi.
Dengan review seperti itu kusa merasa mendapat respon dari reader.
Sebenarnya review itu yang jadi motivasi kusanagi untuk terus melanjutkan dan memperbaiki fic ini loh!
Kalau mau fic ini berlanjut. Rajin-rajinlah review. Hag hag hag...XD
Akhir kata...
Mina...mari semua kita teriakkan...
Bankai! Daiguren Hyourinmaru!
*Kusanagi ditimpukin pake kenceng n panci sama Kenpachi gara-gara gaje...XD*
-kusanagi-
