Hai Mina... kusanagi masih hidup... XD
Kemarin-kemarin kusa abis jalan-jalan ke Hueco Mundo. Pas mau pulang ternyata kusa lupa jalan pulang. Untungnya kusa ga di makan sama hollow. kalau ga, kusa ga akan update lagi fic ini...
Disclaimer: BLEACH punya Tite Kubo...! *treak pake towa*
LOST
"Tak akan ku biarka kau mengacaukan rencanaku," tiba-tiba suara Aizen bergema di dalam inner world Toushirou.
Di dunia nyata, Ichigo melihat Aizen berdiri di belakang Dark Ryu yang sedang berdiri terpaku dan menutup kedua mata merah darah Dark Ryu dengan telapak tangannya. Sementara itu, Isshin yang tadinya bertarung dengan Aizen terkapar di lantai berlumuran darah. Lalu Aizen mengeluarkan reiatsunya hingga membuat hyougoku bereaksi, "Tak akan ku biarkan kau menghancurkan rencanaku, Hitsugaya Toushirou!"
Toushiro merasakan ada kekuatan yang sangat hitam mengalir ketubuhnya. Perlahan, Toushiro melihat Dark Ryu menghilang dan inner worldnya runtuh. Sekali lagi, Toushiro merasa tenggelam ke dalam kegelapan abadi yang sangat pekat. Tak ada sedikitpun cahaya atau pun suara. Yang ada hanyalah kesediahan dan kesepian yang mendalam. Ia merasa kalau kali ini ia tidak akan pernah bisa keluar dari kegelapan itu.
Chapter: 17
Ikkaku mengusap darah yang mengalir ke matanya. Dihadapanya berdiri octava espada, Wird Vorfrath sambil menatap tajam Ikkaku. Sang espada berambut biru langit itu sekarang berada dalam bentuk ressurecion yang membuat Ikkaku kewalahan menghadapinya. Sang espada berhasil mendesak Ikkaku hingga menggunakan bankainya.
"Cih...aku tak menyangka harus menggunkan bankai hanya untuk menghadapi lawan sepertimu," kata Ikkaku sambil memutar-mutar zanpakutonya di udara. Perlahan, lambang naga di zanpakutonya mulai penuh. Ketika lambang naga itu berwarna merah penuh, Ikkaku melesat ke arah sang octava espada yang menyerangnya dengan angin tajam yang berbentuk seperti bulan sabit.
Ikkaku menepis angin itu dan terus melesat ke arah Wird. Tetapi sang espada tak membiarkan musuhnya menyentuhnya dan bersonido menjauh Ikkaku. Ikkaku yang tak mau kalahpun melempar salah satu tombaknya(?) ke arah Wird ketika ia muncul. Lalu dengan mudah Wird menahan serangan Ikkaku menggunakan zanpakutonya.
Ditempat lain...
Hisagi Shuhei keadaannya tak berbeda jauh dengan Ikkaku. Taichou baru divisi 9 ini kewalahan menghadapi sexta espada, Rath Revtler. Dengan nafas terengah-engah, Hisagi melempar salah satu sabitnya kearah Rath. Tetapi, ketika serangan yang Hisagi lancarkan hanya berjarak beberapa meter lagi dari sang espada pendiam itu, sabit hitamnya terhenti di udara. Lalu, dengan kesal Hisagi menarik kembali sabit hitamnya.
"Apa kau sudah selesai, shinigami?" tanya Rath. Setelah berjam-jam mereka bertarung itu adalah pertama kalinya Rath membuka mulutnya.
Hisagi mengencangkan peganganya pada zanpakutonya. Berjam-jam Hisagi menyerang sang espada dengan berbagai cara dan seluruh penjuru. Tetapi, tak satu pun serangnnya yang mengenai Rath. Ia mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan serangannya selalu terhenti. Tetapi, tak satu pun petunjuk ia dapatkan.
Hisagi menggeretakkan giginya, ia berhunpo mendekati sang espada dan menyabetkan salah satu sabitnya ke arah sang espada. Hisagi sangat tahu kalau zanpakutonya adalah tipe pertarungan jarak jauh. Tapi demi mengetahui apa yang menahan serangannya, ia menggunakan teknik pertarungan jarak dekat.
Lagi-lagi serangan Hisagi terhenti. Ia merasa seperti ada tembok yang tak terlihat di hadapannya yang menahan serangannya. Lalu sebuah tekanan yang sangat besar membuat Hisagi terlempar kebelakang, 'Sial...apa yang sebenarnya ia lakukan,' tanya Hisagi dalam hati.
~H~
Ichigo dan Karin berdiri terpaku melihat Aizen menutup kedua mata merah Dark Ryu dengan telapak tangannya. Perlahan, Aizen melepaskan tangannya sambil tersenyum licik. Ichigo menelan ludahnya. Ia mempersiapkan dirinya dengan kejutan yang akan terjadi selanjutnya dan bersiap-siap menahan serangan Dark Ryu kalau-kalau ia menyerangnya lagi secara tiba-tiba. Tetapi tidak ada yang terjadi. Dark Ryu tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Dia masih Dark Ryu yang sama dengan sebelumnya. Hanya saja, mata merah yang tadinya begitu penuh nafsu membunuh, terlihat begitu kosong dan hampa. Seperti cangkang yang kosong.
"Aizen..." desis Ichigo marah, "apa yang sudah kau lakukan kepada Toushiro?" tanya Ichigo sambil menatap tajam Aizen dengan dingin.
"Aku hanya membuat rencanaku berjalan lebih cepat," jawab Aizen. Senyum liciknya masih belum menghilang dari bibirnya. Aizen lalu menjentikkan jarinya. Seketika, Dark Ryu bershunpo menyerang Ichigo.
Ichigo yang sudah bersiap-siap, dengan sigap menahan serangan Dark Ryu, "Oi, Toushiro... sadarlah Toushiro!" kata Ichigo ketika kedua zanpakuto mereka beradu, "Sial Aizen... apa yang sudah ia lakukan kepadamu," umpat Ichigo sambil menatap Aizen dengan tatapan marah sesaat. Karena setelah itu ia terlempar kebelakang oleh kekuatan Dark Ryu jauh lebih kuat dari padanya.
Ichigo mencoba bangkit, punggungnya terasa sakit karena ia menabrak tembok. Belum sempat ia berdiri, Dark Ryu sudah muncul lagi di hadapannya. Dengan panik Ichigo menundukkan kepalanya menhindari Hyourinmaru yang melesat ke arah kepalanya.
Memanfaatkan kesempatan yang ada, Ichigo menangkap tangan Dark Ryu yang memegang Hyourinmaru dan memelintirnya kebelakang punggungnya, "Toushiro...sadarlah!" teriak Ichigo mencoba menyadarkan Toushiro.
Dark Ryu berhasil melepaskan tangannya dari Ichigo dan berbalik membanting Ichigo. Hal itu cukup mengejutkan Ichigo karena dengan tubuh Toushiro yang mungil, Dark Ryu berhasil membanting tubuh Ichigo yang hampir dua kali lebih tinggi darinya.
"Percuma saja kau mencoba menyadarkannya, Kurosaki Ichigo!" kata Aizen senyum liciknya berubah menjadi sadis, "karena sekarang ini tubuh Toushiro ku kendalikan 100%. Dia bukan lagi Hitsugaya Toushiro atau pun Dark Ryu. Dia hanyalah boneka yang bergerak sesuai perintahku."
Ichigo menggeretakkan giginya marah, kemarahannya sudah benar-benar memuncak. Ia ingin sekali membunuh dan mencincang Aizen. Tetapi selama ada Dark Ryu, ia tidak bisa mendekati Aizen sedikit pun.
~H~
Zaraki Kenpachi... taichou divisi 11, sang maniak petarungan... kelihatannya kali ini harus mengakui sesuatu yang tak pernah ia akui, kalah...
Andai para shinigami yang lain tidak sibuk dengan pertarungan mereka masing-masing, dan melihat kearah Kenpachi, maka pemandangan yang mereka dapatkan adalah sang taichou divisi tempur gotei 13 berdiri dersimbah darah. Puluhan pedang hitam menancap pada tubuhnya yang kekar bagai beruang. Kali ini, Kenpachi harus mengakui bahwa ia tak berdaya menghadapi primera espada, espada terkuat di antara para 10 espada. Walaupun ia benci mengakuinya, sang espada jauh lebih kuat dari padanya. Perlahan, tubuh raksasa yang di kenal sebagai maniak petarungan itu, ambuk ketahan hingga membuat debu-debu berterbangan. Dan ketika bedu-bedu itu menghilang, tampak sang primera espada, Ascherit Harvknight, berdiri di samping Kenpachi sambil menatap mangsanya yang telah ambruk dengan mata merah anggurnya yang tenang. Matanya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi walau pun ia sudah berhasil menumbangkan musuhnya.
Ascherit lalu membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhi Kenpachi. Ia menutup matanya dan merasakan reiatsu di sekelilingnya yang dikeluarkan para espada dan shinigami yang bertarung. Sekarang ini, Ascherit berada dalam bentuk ressurecion. Walau begitu, penampilannya tak jauh berbeda dari sebelumnya. Yang berbeda darinya sekarang hanyalah sepasang sayap hitam lebar yang terbentuk dari ribuan besi hitam tipis seperti pedang, juga topeng hollow yang menutupi sebagian wajahnya lebih terbuka dan menampakkan wajah muda yang terlihat tenang tanpa ekspresi.
Perlahan, Ascherit kembali membuka mata merahnya. Ia merasakan, reiatsu Grandize Del Bosco menghilang. Shinigami yang menghadapinya, nampaknya berhasil mengalahkan sang septima espada. Lalu Ascherit bersonido ke tempat itu dan muncul di hadapan Renji dan Rukia yang terbelalak. Tanpa berkata apa-apa, Ascherit menendang Renji yang masih menggunakan bankainya hingga terlempar jauh. Lalu dengan panik Rukia bershunpo mendekati Renji.
Ascherit melebarkan sayap hitamnya dan bersiap menyerang Renji dan Rukia. Tetapi ketika ia hendak mengeluarkan serangannya, sepasang tangan langsing memeluk lehernya dari belakang. Lalu Ascherit terpaku mendengar suara yang ia rindukan bergema di telinganya, "Jangan...Ascherit!"
~H~
Karin berdiri terpaku di tempatnya. Bola matanya yang hitam tidak isa lepas dari pertarungan Ichigo dan Toushiro. Ia merasa sangat sedih melihat Ichigo bertarung melawan Toushiro. Ia ingin berteriak agar Toushiro berhenti. Tetapi ia tahu hal itu percuma. Ia tidak ingin melihat Toushiro terluka, tetapi ia juga tidak mau melihat kakaknya mati di tangan Toushiro. Air mata Karin mulai membendung, tetapi ia menahannya sekuat tenaganya agar tidak menangis. Ia merasa sangat kesal, kesal karena Ia tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu Ichigo, dan kesal karena tidak bisa menolong Toushiro. Karin merasa sangat tidak berguna.
Karin menggosok-gosokan telapak tangannya ke lengannya. Ia merasakan suhu dalam ruangan itu perlahan turun. Uap putih mulai muncul disetiap nafas ia hembuskan. Tubuh Karin akhirnya tidak bisa menahan hawa dingin yang semakin lama semakin menusuk tulang. Tubuhnya gemetar kedinginan. Tiba-tiba Karin merasakan hembusan nafas hangat di belakang lehernya, "Apa kau merasa kedinginan, nona?"
Nya...chappy yang pendek... *ditimpukin sendal butut*
Buat fansnya Dark Ryu, gomen... chappy ini kusa ngilangin chara Dark Ryu...
Kalau Dark Ryu tidak dibinasakan, fic ini mau sampai kapan pun ga akan pernah selesai.
Tapi tenang aja, kusa berencana mengunakan Dark Ryu lagi di fic kusa yang lain.
Yosh... apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Siapakah yang sebenarnya yang memeluk Dark Ryu? Siapakah yang sebenarnya yang muncul di hadapan Karin? Dan bagaimana nasib Toushiro?
Temukan jawabannya di chappy mendatang...XD
Mind to review?
-kusanagi-
