+= If I Were a Boy =+
Naruto © Masashi Kishimoto
If I Were a Boy © Arale L. Ryuuzaki
Pair: SasukexFemNaruto
Genre: Hurt/Comfort/Romance
Rated: Kok ga ada rated T+ sih?
Warning: TYPO, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…
.
0o0o0o0o0o0o0
.
Aku segera membayar wig itu yang ternyata harganya lumayan mahal dan segera ngeloyor keluar toko sambil berlari ke arah stasiun kereta tanpa menyadari sepasang mata onyx memandangku sampai sosokku menghilang dibalik peron.
.
Part 3:
Airport
.
Hari keberangkatan
"Yosh… Aku sudah siap."
Kucek kembali barang-barang yang akan ku bawa selama perjalanan seminggu ini dalam sebuah koper berukuran sedang yang masih menganga di tengah ruangan. Baju, oke. Pakaian dalam, oke. Er, bra-ku sepertinya kurang. Yah, maklum saja, selama dua tahun ini, aku hanya memakai sport bra atau vest tebal untuk menyamarkan bentuk tubuhku. Sudahlah, aku beli disana saja. Hm… perlengkapan mandi, oke. Setelah kurasa semuanya lengkap, aku segera melangkahkan kakiku keluar dari apartemen mungilku dan menaiki taksi yang sudah menantiku di depan apartemen.
Taksi yang kutumpangi berlari mulus diatas jalanan beraspal yang memanas akibat matahari yang bersinar. Aku memosisikan diri duduk senyaman mungkin di bangku penumpang sambil mendengarkan Ipod orange kesayanganku yang sedang memutarkan sebuah lagu yang dinyanyikan dengan merdunya oleh sang penyanyi pemilik tubuh mungil yang selalu membuatku iri.
kitto kimi wa itsu no hi ka
kono sora o toberu hazu dakara
nando tsumazuita toshite mo
For You
taisetsu na koto wa hitotsu
yume miru koto
kokoro dake wa tozasanaide ite (*)
Aku bersenandung pelan mengikuti lirik lagu yang mengalun. Sesaat, aku merasa kalau supir taksi yang kutumpangi tersenyum padaku lewat kaca spion tengah saat mendengarku bernyanyi.
"Ya?" kataku sambil membuka sebelah headphone, saat kulihat sang supir seolah ingin menyampaikan sesuatu.
"Suaramu terlalu tinggi dan tipis untuk suara seorang pemuda. Wajahmu juga terlalu manis untuk ukuran seorang mahasiswa," ucapnya blak-blakan.
Aku segera melemparkan death glare terbaikku padanya.
"Ah, maaf. Aku hanya menyampaikan pendapatku saja. Bukan dengan maksud apa-apa," katanya sambil tersenyum.
"Tidak apa. Bukan anda saja yang berkata seperti itu kok," kataku acuh dan kembali memasang headphone yang tadi ku buka.
Ipodku kini memutar sebuah hits terbaru dari Nico Touches the Walls yang berirama sedikit cepat. Aku kembali terhanyut ke dalam lagunya dan tanpa sadar menyanyi dengan volume yang lumayan keras.
kanashimi nante hakidashite mae dake mitereba iindakke
sore ja totemo matomo de irare nai
subete wo boku ga teki ni mawashitemo hikari o kasuka ni kanjiterunda
soko made yuke sou nara
iki o shitakute koko wa kurushikute
yami o miageru dake no boku ja ukabu houhou mo nai DIVER
iki o shite mite
tada no shiawase ni kizuitara mou nidoto oborenai yo (**)
Sebetulnya, aku bukan tipe orang yang pemilih soal lagu dan musik kesukaan. Aku mendengar apa yang ingin ku dengar, aku bernyanyi apa yang ingin kunyanyikan.
"Fyuu~ Hebat juga. Suaramu bisa stabil dengan kondisi jalan seperti ini," pujinya sambil tertawa.
"Hn. Sudah biasa," kataku sambil mengambil sebotol air mineral di tas ranselku.
"Kau vokalis band?" tanyanya penasaran.
"Tidak,"
"Kalau begitu, seorang penyanyi?"
"Bukan,"
"Lalu?" alisnya berkerut.
"Aku hanya seorang mahasiswa biasa," ucapku sambil tersenyum.
"Aku tetap takkan percaya begitu saja," ucapnya tegas dengan menyunggingkan senyum.
Aku hanya bisa tersenyum simpul dan menyodorkan beberapa lembar uang padanya karena taksi yang kunaiki sudah sampai di depan pintu keberangkatan Bandara Internasional Konoha.
"Terima kasih—" aku melirik sekilas tag name anggota yang tergantung di kaca spion tengah mobil. "—Nara-san."
"Hei, tidak adil kalau hanya kau yang mengetahui namaku. Sedangkan aku tak mengetahui namamu," ejeknya protes.
"Untuk apa?"
"Berteman—" tawarnya.
"Namikaze Naruto," kataku pendek dan melangkah keluar taksi.
"Semoga perjalananmu menyenangkan, Naruto," ucapnya sambil melambai dari balik pintu taksi yang perlahan mulai berjalan menjauhi tempatku berdiri.
.
0o0o0o0o0o0o0
.
Aku segera menatap jam tangan orange cerah yang melingkar di pergelangan lengan kananku dan mendapati jarum jam telah menunujukkan pukul 10.00. Oke, aku tepat waku untuk check in menilik waktu keberangkatan pesawatku yang tertera di tiket kurang lebih satu jam lagi. Segera ku tarik koperku menuju toilet di luar bandara yang ada tak jauh dari pintu masuk stasiun keberangkatan untuk mengganti pakaianku.
Awalnya aku ragu saat berniat memasuki toilet. Melihat bahwa kondisiku sekarang dengan style seorang laki-laki. Jadi, yang ku lakukan hanya mematung tiga meter dari pintu masuk selama sekitar 5 menit. Akhirnya aku membulatkan tekad dan melangkahkan kakiku.
"Maaf tuan, toilet prianya di sebelah sana," tiba-tiba seorang petugas kebersihan wanita menghentikan langkahku.
Ini yang ku takutkan! Pada akhirnya, aku memang harus menjalankan rencana yang sudah ku skenariokan tadi.
"Enak saja pria! Begin-begini aku masih perempuan tulen, tahu!" berangku sambil mengeluarkan suara suara altoku yang aslinya jauh lebih tipis dan tinggi daripada nada bicaraku yang kukeluarkan di kampus.
"Kalau tidak percaya—" aku meraih sebelah tangan sang petugas dan mengarahkannya ke selangkanganku. "Ini! Aku tidak punya penis tahu!" kataku sambil mati-matian menahan malu. Akh, aku nekat sekali!
"Ah, maafkan saya, nona. Maafkan saya!" akhirnya pelayan itu percaya dan meminta maaf berkali-kali padaku.
Aku segera berlari memasuki toilet sambil mengacuhkan beberapa orang yang menatapku heran. Sial, semoga diantara mereka tidak ada yang mengenalku.
SRAK
Aku mengeluarkan bungkusan mencurigakan yang ada di dalam tas ransel dan menjejerkannya di depan kaca westafel. Sebuah wig orange panjang sepunggung yang sudah ku kuncir dua, dengan pita hitam yang kontras dengan warna wig. Sebuah mini dress berwarna pastel dengan panjang 10cm diatas lutut dihiasi rimpel dan kerutran manis berwarna orange lembut dibagian dada dengan kerah lebar yang bisa memperlihatkan dengan jelas leher jenjangku dan kulit karamelku yang eksotis. Kaos kaki hitam panjang setinggi paha dipadukan dengan sepatu ber-hak lima centi berwarna orange. Tak lupa choker hitam untuk menghiasi leherku.
"Hm, lumayan," ujarku pelan saat semua perlengkapan itu kupakai.
Kuambil bedak compact di dalam tas ranselku dan memoleskan bedak tipis di permukaan wajah tanku yang jarang tersentuh make-up. Lipgloss tipis pun ku oleskan untuk sedikit mencerahkan wajahku.
"Ternyata aku lumayan manis juga kalau berdandan," celetukku sambil mematut diri di depan cemin. "Tapi, tetap saja make-up itu merepotkan," tambahku dan segera memasukkan bedak compact ke dalam sebuah tas tangan orange yang label harganya saja belum kulepas dan menjejalkan tansel kosong ke dalam ruang kosong yang sudah ku sediakan di sudut koper.
Pukul 10.30
Sial, aku terlambat Check in. Segera kularikan kakiku keluar toilet.
"Ck, koper!" rutukku kesal saat sadar, kalau koperku tertinggal di dalam toilet.
Setelah mengambil koper sialan yang untungnya belum diselamatkan oleh tangan tak bertanggung jawab, aku mempercepat langkah sebisa mungkin menuju loket check in.
BUK!
"Aduh!" ringisku saat tanpa kusadari aku menabrak seseorang.
"Maaf nona, aku tak melihat jalan."
Suara itu mengulurkan tangan membantuku berdiri.
"Tidak apa-apa. Aku juga salah karena terburu-buru," ucapku sambil meraih tangan pucatnya.
"Naruto?" suara itu memanggil namaku.
"Eh?" kutolehkan kepalaku ke wajah pemuda yang menabrakku. "Sai…"
.
0o0o0o0o0o0o0
.
Oh, tuhan. Kumohon, semoga ini fatamorgana semata. Semoga ini hanya halusinasi. Semoga ini hanya mimpi. Sebenarnya aku masih berada di apartemen mungilku, masih dibawah selimut orangeku, masih bergelung dalam dinginnya pagi, masih—
"Kau, Naruto, kan?" suara itu kembali memperdengarkan namaku.
Aku segera menarik kasar tanganku yang masih digenggam Sai dan berlari secepat mungkin memasuki pintu kaca stasiun keberangkatan yang dijaga oleh petugas pemeriksa tiket penerbangan.
"Ini," kataku terburu saat menyerahkan tiket pesawatku pada petugas.
"Ya, silakan nona."
Aku segera meletakkan koperku diatas mesin x-ray scanningdan aku segera melangkah melewati Steel Detector. Dibelakang, aku bisa melihat Sai sedang dihalangi petugas karena mencoba menerobos masuk tanpa tiket.
Fyuh… Syukurlah, aku terselamatkan oleh peraturan ketat bandara yang dulu sempat kuumpat karena terlalu merepotkan.
Kenapa aku harus bertemu dia? Disini, dikota ini. Saat aku sudah melupakan keberadaannya yang tiga tahun lalu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Kenapa dadaku kembali berdetak cepat saat namaku diucapkan oleh bibirnya yang pernah menyakitiku? Kenapa? Apa aku masih merinukannya? Apa aku masih ingin terpantul di kedua bola mata kelamnya? Dan, kenapa aku malah melarikan diri darinya?
.
0o0o0o0o0o0o0
.
~Flashback On~
"Naru-chan senpai. Ada kabar buruk," kulihat Konohamaru berlari dengan terburu-buru menghampiriku yang sedang menikmati santap siangku di kantin sekolah yang kini sudah dipenuhi murid-murid dari hampir seluruh kelas.
"Hn?" aku hanya menoleh tanpa selera sambil tetap mengunyah ramen pesananku.
"Sai-senpai akan pindah sekolah!" teriaknya histeris.
Seketika kantin yang awalnya hanya dipenuhi dengan bunyi denting sendok-garpu yang beradu dengan mangkok dan piring berubah menjadi kebisingan yang keluar serempak dari mulut para pengunjung kantin, khususnya wanita.
Sedangkan aku, hanya bisa berhenti mengunyah dan menatap Konohamaru dengan tatapan luar biasa kaget.
"Kau yakin?"
"Iya. Yakin. Pasti. Sekarang dia sedang di ruang kepala sekolah untuk berpamitan karena ku dengar dia akan pindah ke luar negeri hari ini juga."
Tanpa banyak kata, aku segera berlari menuju ruang kepala sekolah.
"Sai!" panggilku sesampainya disana dan langsung dihujani tatapan penuh tanya dari para guru dan petugas yang berada disana.
"Ada apa Namikaze-san?" wakil kepala sekolah menyapaku.
"Sai?" ulangku.
"Oh, Sai-san baru saja pergi. Dia berangkat siang ini juga dengan satu-satunya penerbangan hari ini."
Aku segera keluar ruangan dan berlari lagi menju gerbang sekolah. Disana aku menemukan Sai sedang melangkah memasuki Toyota Alphard Biru tua yang terparkir tepat di depan gerbang sekolah.
"Sai!" teriakku.
Sai menoleh. "Oh, kau Naruto. Cepat juga informasimu. Padahal aku sudah mati-matian merahasiakan keberangkatanku hari ini," katanya sambil tersenyum.
Aku ingin bicara. Banyak yang ingin ku sampaikan. Tapi, bibirku kelu dan yang keluar hanya, "Sai…"
"Hei Naruto, ndaikan saja kau lelaki. Kita mungkin bisa bersahabat," ucapnya dengan ekspresi datar yang tak terbaca olehku. Apa arti kata-katanya.
"Sayonara, Naruto-kun." Sai akhirnya menaiki mobil yang segera berjalan dengan meninggalkan kepulan asap tipis dibelakangnya dan lubang besar yang menganga dan berdarah di dadaku.
~Flashback Off~
.
0o0o0o0o0o0o0
.
"Para penumpang pesawat MM 801 tujuan South Island dengan kode penerbangan 880102 dapat segera memasuki kabin pesawat."
Panggilan dari pengeras suara membuyarkan lamunanku. Akhirnya, setelah pesawat mengalami pending selama 1 jam, aku bisa segera berangkat. Kuraih tas tangan yang tergeletak di kursi sebelahku dan melangkah menaiki pesawat.
.
0o0o0o0o0o0o0
.
Kuhempaskan badanku ke kursi penumpang dan segera memasang belt penumpang. Di depan, para pramugari sedang memeragakakan pemasangan belt dan pengumuman tentang keamanan dan pintu darurat. Aku menyambar majalah yang ada di laci dihadapanku dan membalik-baik halamannya.
"Ukh," kurasakan telingaku mendenging dan kepalaku pusing. Aku memang lemah dengan kondisi ruangan tertutup seperti di pesawat dan mobil yang tertutup rapat tanpa fentilasi. Permen, aku butuh permen. Tangan kananku sibuk mengaduk-aduk tas tanganku dan mencari persediaan permen yang seharusnya kuletakkan di dalamtapi tak kutemukan juga.
"Mau?" seseorang menawariku permen jeruk di depan hidungku. Suaranya sangat familiar ditelingaku. Saat kutolehkan kepalaku, matakupun terbelalak.
.
TBC
.
.
.
.
.
OMAKE
.
~Sasuke POV~
"Tadaima," ucapku sambil membuka pintu masuk Uchica mansion sambil melap keringat yang bersusuran dari pelipis pucatku.
"Okaeri, Otoutou-chan," jawab kakakku. Aku melangkah menuju kamarku yang terletak di lantai dua.
"Ah, Otoutou. Kau bisa menjemput Sai ke bandara, kan?" ujar Itachi-nii yang mematut diri di depan cermin besar sambil merapikan dasinya.
"Lho? Bukannya aniki yang akan menjemputnya?" protesku.
"Gomen Sasuke. Aku lupa kalau pagi ini ada rapat penting dengan client dari Iwa," ujarnya ringan tanpa dosa. Membuatku ingin mencekik anikiku satu-satunya ini.
"Cih! Apa boleh buat," kutinggalkan anikiku yang masih mematut diri di depan cermin sambil mengikat rambut hitam panjangnya.
Handuk putih yang sedari tadi masih bertengger di leher pucatku ku lemparkan ke sudut tamar disusul baju kaos yang basah oleh keringat. Segera kusambar air mineral yang tersedia di dalam kulkas mini kamarku dan menenggak habis isinya.
Naruto.
Lagi-lagi aku teringat pemuda ribut itu. Sejak kejadian itu, dia selalu menghindariku. Dikampus pun pemuda itu selalu menghilang tiba-tiba saatku mencoba mendekatinya.
"Maaf Sasuke, aku dipanggil Asuma-sensei," elaknya dengan berbagai alasan setiap aku berhasil menangkapnya.
Sekilas kulirik handphoneku yang tergeletak tak berdaya diatas meja samping kasurku. Lagi-lagi tak ada pesan ataupun telepon darinya.
"Cih!" aku mengumpat sambil menyambar selembar handuk bersih dari lemari dan melangkah ke kamar mandi untuk menghilangkan lengket di badanku.
.
0o0o0o0o0o0o0
.
"Karin, aku berangkat dulu," ucapku pada maid mansion berambut merah maroon dan berkacamata bingkai hitam.
"Hati-hati dijalan, Sasuke-sama," jawabnya sambil menyerahkan kunci mobil dan topi kupluk berwarna bitu tua.
"Hn,"
.
Uchiha Sai, sepupu jauhku, adik dari kak Uchiha Shisui, teman sepermainan aniki. Tiga tahun lalu dia memulai studi di luar negeri yang mengharuskannya pindah dari Suna saat kelas tiga SMA.
Bicara tentang Suna, aku jadi teringat Dobe bodohku itu, dia juga berasal dari Suna dan yang ku dengar dia juga bersekolah di salah satu sekolah unggulan di Suna. Apa Sai mengenal Naruto? Jujur saja, walau aku sudah besahabat lebih kurang dua tahun dengannya, tapi aku tak tahu apa-apa soal kesehariannya, keluarganya, masa lalunya, maupun tempat tinggalnya sekarang. Dia selalu menolak setiap kutawari untuk mengantarkanya pulang dan akupun tak pernah memaksanya. Soal keluarganya, aku hanya mengetahui kalau dia memiliki seorang kakak lelaki bernama Kyuubi yang merupakan ketua geng bermotor yang cukup terkenal, Jinchuuriki. Aku tahu genk itu, karena Itachi-nii mantan anggotanya. Artinya, aniki pasti mengenal orang bernama Kyuubi yang notabene-nya kakak Naruto. Selebihnya, aku tak tahu apa-apa soal Naruto. Dia terlalu tertutup soal masa lalunya dan akupun bukan tipe orang yang terlalu peduli dengan masa lalu orang lain. Yang kuingainkan hanya dia, Naruto, tersenyum dan tertawa bersamaku. Berada di sampingku, bersamaku. Mungkin ini terdengar aneh, keegoisan seorang Uchiha yang ada didiriku mengatakan dengan lantang bahwa 'Aku ingin dia menjadi milikku' dan 'Aku ingin memonopolinya untuk diriku sendiri'.
Terserah orang mau berkata apa tentang jalan pikiranku ini. Aku tak peduli, yang kuinginkan hanya dia, Namikaze Naruto, berada disisiku.
Setelah kuparkikan ferarri biru milikku di parkiran bandara, mataku langsung menjelajah mencari sosok pucat dengan bola mata dan rambut kelam persis diriku. Tapi, yang kutemukan bukannya Sai melainkan.
"Naruto?"
Aku tak mungkin salah lihat. Rambut orange terang itu, kulit kecoklatan itu, tiga guratan di setiap pipi itu, itu miliknya. Tanpa sadar aku melangkah cepat mendekatinya saat aku sadar dia memasuki toilet berlabel WANITA.
"Apa-apaan ini?" mataku terbelalak tak percaya pada pemandangan yang ada didepan mataku saat melihat Naruto dengan santainya memasuki toilet wanita setelah (sepertinya) berdebat kecil dengan petugas kebersihan di depan toilet.
Aku tak mungkin menyusulnya masuk toilet itu. Apa kata orang kalau aku, seorang Uchiha, masuk toilet wanita di bandara. Ugh, memikirkannya saja aku tak sanggup. Akhirnya, aku memutuskan menunggu Naruto lima meter di depan pintu toilet.
15 menit berlalu, akhirnya sosok Naruto muncul. Bukan, itu bukan Naruto. Entah siapa gadis manis berambut panjang mengenakan mini dress hitam yang memperlihatkan kulit tan-nya yang eksotis itu. Dia terlihat terburu-buru sekali sampai-sampai terlupa membawa kopernya yang baru saja diambilnya lagi di dalam bilik toilet. Koper itu. Ya, koper itu koper yang sama dengan koper yang Naruto tenteng ke dalam toilet. Saat ku perhatikan sekali lagi, akhirnya aku yakin itu Naruto. Mata safir bagai langit tak berawan itu, guratan itu, postur tubuh itu, semua milik Naruto.
Mukaku panas. Ya, aku terpesona. Pada sosoknya yang berubah menjadi luar biasa cantik hanya dalam waktu 15 menit. Aku luar biasa bahagia. Sekali lihat saja aku langsung tahu. Dia seorang wanita. Aku yakin itu.
Tanpa kusadari, aku termenung sambil tersenyum-senyum sendiri di depan toilet wanita. Akibatnya, aku kehilangan jejak Naruto, dan dipandangi heran oleh orang-orang yang lalu-lalang.
Aku segera mengedarkan pandanganku kembali mencari sosoknya ketika ku temukan dia terjatuh karena ditabrak oleh, Sai!
Ya, itu Sai. Aku segera melangkah cepat menghampiri mereka dari kejauhan.
Naruto terlihat panik dan mengibaskan kasar tangan Sai yang menggenggam pergelangannya dan segera berlari ke melewati pintu keberangkatan.
"Naruto, tunggu!" kudengar Sai memanggil Naruto yang mencoba menerobos masuk pintu keberangkatan yang segera dihalangi petugas.
"Sai!" panggilku.
"Sasuke, kau yang menjemputku?" tanyanya.
"Ya,"
"Tunggu sebentar, aku harus bicara dengan seseorang," katanya mengacuhkanku sambil sibuk mencari sosok Naruto di balik pintu kaca.
"Kau kenal anak itu?" tanyaku. "Namikaze Naruto."
Sai segera membalikkan badannya.
"Kau kenal dia, Sasuke?" Sai terkejut. "Dimana dia tinggal sekarang? Dia kuliah dimana? Apa kau tahu nomor ponsel-ya?" tanya Sai panik sambil mengguncang-guncang pundakku.
Baru sekali ini aku melihat kepanikan diwajah Sai. Tidak seperti dirinya yang biasanya tersenyum palsu dan tenang.
"Ya, dia satu kampus denganku. Dia mahasiswa Universitas Konoha, sama sepertiku," kataku datar.
"Benarkah?" Sai terlihat senang seperti mendapatkan pencerahan. "Tunggu! Mahasiswa? Maksudmu mahasiswi, kan?"
"Tidak, dia berkuliah dengan sosok lelaki,"
Wajah Sai seperti habis tersambar petir mendengarnya.
"Ini salahku."
Aku tak menggubris kata-kata Sai.
"Kau tahu tadi dia mau kemana?" tanya Sai lagi.
Aku berfikir keras menerka-nerka kemana dia pergi.
"Pulau Selatan," celetukku.
"Maksudmu, dia pergi mengunjungi neneknya?" Sai menatapku.
"Ya," kataku pasti sambil mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan segera menghubungi ponsel aniki.
"Itachi-nii, ini aku," kataku saat ponselku tersambung.
"Apa-apaan kau, Sasuke" suara diseberang terdengar marah.
"Sudahlah, aku tak mau berdebat,"
"Kau tahu sendiri kan, aku sedang rapat!"
"Aku minta maaf mengganggu rapatmu,"
"Lalu, apa maumu?"
"Aku minta tolong. Pesankan tiket pesawat atas namaku,"
"Kau ingin berlibur?"
"Ya,"
"Tujuan?"
"Tujuan South Island,"
"Penerbangan?"
"Penerbangan," aku melirik papan pengumuman penerbangan. "Penerbangan pukul 11. Kode penerbangan 880102."
"Penerbangan besok?"
"Bukan. Penerbangan hari ini,"
"Apa kau gila Sasuke! Jam 11 kan tinggal setengah jam lagi,"
"Aku tak mau tahu, pokoknya aku mau tiket itu, hari ini juga!" kataku bersikeras.
"Hh~ Baiklah aku suruh sekretarisku, Deidara, memesankan untukmu. Kau tunggu saja di depan loket pengambilan tiket."
"Baiklah. Terimakasih, Aniki."
"Hn," sambungan terputus.
"Kenapa kau tidak memesankan tiket untukku juga?" Sai berang sambil mengekoriku yang melangkah cepat menuju loket pemesanan tiket.
"Satu tiket saja belum tentu ku dapatkan, apa lagi dua," aku beralasan.
"Sasuke, kau—"
Ponselku bordering, nomor kantor Aniki.
"Ya?"
"Aku sudah nendapatkannya Sasuke-sama. Tapi—"
"Hn?"
"Aku hanya berhasil mendapatkan kelas Ekonomi,"
"Tidak apa-apa. Terimakasih Deidara-san,"
"Kembali. Senang bisa membantu, Sasuke-sama."
"Hn,"
Aku segera melemparkan kunci mobilku pada Sai.
"Aku pergi dulu. Itu, kunci mobilku yang diparkir di parkiran timur. Kau bawa saja pulang,"
Aku segera mengambil tiket dan melangkah meninggalkan Sai yang masih terbengong-bengong.
.
Untungnya saja keberangkatan pesawat tertunda satu jam karena ada sedikit permasalahan pada mesin pesawat yang akan aku dan Naruto tumpangi, sehingga Karin masih sempat mengantarkan beberapa pakaianku saat aku menghubungi rumah.
"Terimakasih, Karin."
"Selamat berlibur Sasuke-sama," ucapnya hormat.
"Sai sudah dirumah?"
"Sudah, Sasuke-sama. Sai-sama langsung mengurung diri di kamar tamu sesampainya beliau di mansion."
"Hn," aku hanya mengangguk paham.
"Para penumpang pesawat MM 801 tujuan South Island dengan kode penerbangan 880102 dapat segera memasuki kabin pesawat." Terdengar panggilan melalui pengeras suara
"Baiklah, aku berangkat dulu. Sampaikan salamku pada Aniki, dan permintaan maafku pada Sai," aku melangkah meninggalkan Karin yang sekarang sudah membungkuk dalam melepas kepergianku.
Aku melangkah santai sambil menenteng tas ranselku yang memang kurencanakan disimpan di kabin pesawat saja.
"Kursi B8," kataku sambil mencari kursiku dan tersenyum saat melihat siapa yang akan menjadi tetanggaku duduk selama perjalanan ini.
"Keberuntungan berpihak padaku," ucapku pelan sambil terus memandang sosok yang sedang mengaduk-aduk tas tangannya.
Penyakit anak itu masih saja belum hilang. Sekarang dia pasti mencari permen jeruk kesukaannya gara-gara telinganya yang berdenging. Aku merogoh saku kananku dan menemukan sebungkus permen rasa jeruk.
"Mau," aku mengacungkan bungkusan itu ke depan hidung Naruto yang kini terlihat nyaris tewas karena kaget.
"Sasuke!"
.
~OMAKE end~
.
.
.
Huah~ akhirnya setelah perjuangan berat melawan tugas2 yang menggunung (tapi tetap tak saya kerjakan) akhirnya realese juga Chapter 3 ini *lap keringat*.
Thanks buat REVIEW para pembaca….
Dan map kalo banyak TYPO.
Ok, Arale bakalan jawab beberapa pertanyaan dari para readers…
Maaf kalau ga bisa arale bales emua, mengingat waktu dan tempat yang terbatas (halah… alasan)
.
.
- Yanz Namiyukimi chan, Tsuki no akaiichi, icha22maden, Hinata-Naruto-Lovers, Yuu-chan no haru999, Mayu Rockbell, Uzumaki Winda, Winter Ney, Demikoo, Ukkychan, Kaze or Wind : Sory apdetnya kelamaan, tugas kampus juga numpuk… makasi buat reviewnya~
- Akira Tsukiyomi: Eh? Shukaku? Kayanya enggak deh… ini kan AU…
- Meiko Namikaze: Fufufu… soal ke-Tidak Waras-an-nya Kushina-san bakalan Arale bahas secara tuntas di chapter-chapter berikutnya secara perlahan-lahan *ditabok*. Mafkan saya Minato-sama… menjadikan dirimu ayah yang kejam *mewek*
- Kanata D. Renkinjutsushi: Bunda akan berjuang anakku… Yah, Minato-san kejam sangat ya… *digantung MinatoFC*
- Namikaze Shiruna Furuta: Sabar jeng… cup…cup…cup… jangan marah-marah… iya, Arale juga sebel ama Sai…
- Micon: Hontou? Wah, saya jadi tersanjung kalau tiba-tiba ada reader yang biasanya gak demen baca crossgender jadi suka karena baca fict saya *disapu gegara ke GR-an*
- Namikaze Nara: Nah, pertanyaan 1 & 2 kamu udah kejawab di chapter ini, kan? Soal administrasi kampus… Tunggu penjelasannya di Chapter 4 *digetok sambel*
- Straycat: jiah, si oom Lukman ini… panjang buanget… tapi gapapa… hum~ baca aja terus lanjutannya… Er, 13 episod? Boleh lah… tak hitung-hitung dulu yak.
- Mechakucha no Aoi Neko: Apa imotou? Silakan mutilasi Sai… saya relaa…
- Uchiha cuChan clyne: Eh? Panjangin? Tar yang lain protes… ehehehhe…
.
.
.
Soal lagu yang dinyanyiin Naruto:
(*) Azu – For You (ED 12 Naruto Shippuuden)
(**) Nico Touches the Walls – Diver (OP 8 Naruto Shippuuden)
.
(RnR Please)
.
m(_ _)m
