Arale tegaskan, bagi readers FFN yang 'GAK' doyan sama YAOI, YURI, HENTAI, atau yang agak aneh yang tersedia di FFN ini. Tolong jangan menghujat kami para author dan readers yang menyukainya. Arale gak mau situasi damai dan nyaman di FFN jadi gak nyaman karena Spam dari sampah masyarakat yang picik akan daya imajinasi yang seenaknya menghujat karya orang lain. Padahal dirinya sendiri belum tentu bisa menghasilkan karya yang lebih baik daripada kami-kami disini.
Satu lagi. Saya, sebagai salah satu Fujoshi "TIDAK PERNAH" menghujat karya Straight dari Author lain yang ada di FFN. Asal tahu saja, walau saya seorang Fujoshi, Saya masih NORMAL!
Dan buat 'Nad'. Semangat Girlz. Dia Cuma IRI sama kamu. Dia Cuma IRI karena kamu jauh lebih disukai. Dia Cuma IRI karena daya imajinasimu yang melimpah ruah. Dia Cuma IRI!
.
.
~SELAMAT MEMBACA~
.
.
.
+= If I Were a Boy =+
Naruto © Masashi Kishimoto
If I Were a Boy © Arale L. Ryuuzaki
Pair: SasukexFemNaruto
Genre: Hurt/Comfort/Romance
Rated: Kok ga ada rated T+ sih?
Warning: TYPO, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…
.
0o0o0o0o0o0o0
.
"Mau?" seseorang menawariku permen jeruk di depan hidungku. Suaranya sangat familiar ditelingaku. Saat kutolehkan kepalaku, matakupun terbelalak.
.
Part 4:
Memoirs of Me.
.
~Normal POV~
"Sa-sasuke!" Naruto kaget melihat pemuda yang kini berdiri dihadapannya sambil tetap memasang wajah stoic andalannya. Tiba-tiba dia sadar akan sesuatu dan segera menutup mulutnya yang keceplosan menyebut nama pemuda itu.
"Hn?" Sasuke menatap datar Naruto sambil mengangkat alis berusaha menahan rasa gelinya.
Naruto berusaha keras mengontrol dirinya. "Ah, maaf Uchiha-san. Kita memang tidak saling kenal, tapi siapa sih mahasiswa Konoha University yang tidak mengenal pemenang Mr. Konoha tahun 2008," Naruto tersenyum manis yang menyebabkan Sasuke berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak menyerang gadis sekaligus sahabatnya itu.
"Sial, dia manis sekali sih!" batin sasuke saat Naruto mengambil permen yang ditawarkan padanya.
"H-hn," gagap Sasuke yang terkena serangan pheromone Naruto.
Naruto terkekeh kecil saat melihat Sasuke, sahabat karibnya yang biasanya bisa menyembunyikan perasaannya dibalik topeng stoic-nya kini terlihat sedikit tersipu.
Sasuke segera meletakkan ranselnya di laci atas kabin.
"Uchiha-san berlibur ke pulau selatan juga?" Naruto bertanya saat Sasuke duduk disebelah Naruto.
"Hn, lebih tepatnya sih mencari seseorang," jawab Sasuke sambil melepaskan topi kupluk dari kepala ravennya. "Tapi, sepertinya aku tak perlu mencari sampai ke pulau selatan, karena aku sudah menemukannya," lanjut Sasuke dan melirik Naruto sambil menopangkan dagunya diatas kedua tangannya yang bertautan.
"Siapa?" tanya Naruto penasaran. "Sasuke mencari siapa sih?"
"Kau," kata Sasuke pendek sambil tersenyum pada Naruto yang kini ber-blushing ria.
"U-uchiha-san yang terkenal dingin terhadap wanita ternyata bisa bergombal ria juga," Naruto mengupas kulit pembungkus permen yang diberikan Sasuke tadi sambil menghilangkan rasa gugupnya.
"Hn? Rasanya ku tak pernah bersikap dingin padamu—" Sasuke mendekatkan wajahnya pada telinga Naruto. "Na-mi-ka-ze-kun," bisiknya.
NGIIIIINGGGG…!
Kata-kata Sasuke tertutup suara bising bunyi mesin pesawat yang lepas landas. Tapi, Naruto masih dapat mendengarnya dengan jelas karena Sasuke berbisik tepat di telinganya.
Naruto kaget sambil memegang telinganya dan mengambil jarak dari Sasuke dengan muka memerah.
"A-apa maksudmu, Uchiha-san?" elaknya dengan wajah panik yang tak dapat disembunyikan dengan baik.
Sasuke tertawa.
"Kau lihat wajahmu sekarang, Naruto. Pucat sekali. Hahahaha," Sasuke tertawa keras sehingga beberapa penumpang yang duduk disekitar mereka melirik heran padanya.
"U-uchiha-san?" tanya Naruto takut-takut.
"Sudahlah, Naruto. Sampai kapan kau mau berbohong padaku? Aku kan sudah pernah bilang padamu kalau kau takkan pernah bisa berbohong didepanku," Sasuke menatap tajam Naruto. Ekspresinya 180 derajat berubah. Padahal sesaat tadi dia masih terbahak-bahak.
Naruto hanya diam, sambil menatap miris Sasuke dan memalingkan wajah ke jendela disebelahnya yang kini telah menampilkan gumpalan-gumpalan kapas di tengah birunya langit siang.
"Hh…" Sasuke menghela nafas panjang. "Baiklah kalau kau tak mau bercerita padaku, aku takkan memaksa. Aku hanya tak menyangka kau bahkan tak bercerita padaku bahwa kau seorang wanita," suara Sasuke menyiratkan kekecewaan mendalam.
Kini mereka berdua hanya diam tanpa kata. Naruto yang sibuk dengan pikirannya, dan Sasuke yang kini hanya diam sambil membaca majalah yang kini terbentang didepannya sambil mendengarkan lagu-lagu yang mengalun dari Ipod biru tua di saku kemejanya.
"Haruskah kuceritakan semuanya pada Sasuke?" batin Naruto sambil melirik Sasuke yang duduk di sampingnya. Jujur, selama ini dia berat menyembunyikan segalanya dari Sasuke. Tentang jati dirinya, tentang keluarganya, dan tentang masa lalunya.
Akhirnya Naruto memutuskan untuk menceritakannya.
Perlahan, Naruto menarik sebelah earphone Ipodnya sehingga Sasuke kini menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan menoleh pada Naruto.
"Eng… Sasuke,"
"Hn?" Sasuke menatap mata sapphire favoritnya yang kini terbentang jelas didepannya.
"Aku minta maaf. Selama ini aku merahasiakan segalanya darimu," Naruto tertunduk menyesal.
"Sudahlah, kau punya hak untuk bercerita ataupun tidak," Sasuke mengusap lembut kepala Naruto seperti yang biasa dia lakukan di kampus.
Naruto tersenyum miris dan terdiam untuk beberapa saat. Sasuke tak mau mendesak Naruto agar segera bercerita walau sebenarnya dia mati penasaran, yang bisa dilakukannya hanya menanti Naruto siap bercerita padanya, karena sepertinya alasan Naruto sedikit rumit.
Naruto sendiri bingung harus mulai bercerita dari mana. Dia hanya menunduk sambil berfikir keras. Gadis pirang itu sedikit kaget saat tiba-tiba Sasuke memasangkan sebelah earphone Ipodnya di telinga Naruto.
Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
.
I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again (*)
Naruto terkikik kecil saat mendengarkan lagu yang di putar.
"Sejak kapan kau suka lagu cinta yang lembut begini, Sasuke?" Naruto balas menatap Sasuke yang sejak tadi hanya memandangnya dalam diam sambil tersenyum lembut.
"Hn? Entahlah?" jawabnya sekenanya.
"Dasar, Teme aneh," Naruto terkikik geli.
"Kau yang membuatku aneh seperti ini," ucap Sasuke sambil mengangkat sebelah alisnya.
Naruto menggembungkan pipinya. "Kenapa aku?"
Sasuke tak menjawab, hanya diam dan memandang Naruto.
Naruto terdiam dan mengalihkan pandangannya dari mata kelam jernih milik Sasuke, memandang langit-langit kabin dan mulai bercerita.
"Neh, Sasuke. Aku pernah bercerita padamu tentang ayahku yang seorang pelatih tim kesebelasan Suna dan pemilik Sekolah Sepak Bola di Suna."
Sasuke diam dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir ranum itu.
" Dan kau tahu, kan kalau aku memiliki seorang aniki 10 tahun diatasku?"
"Hn,"
"Namikaze Kyuubi. Pemilik kaki yang diinginkan setiap pesepak bola professional. Pemilik tubuh yang selalu di-iri-kan murid-murid Ayahku. Pemilik stamina bagai seekor monster yang takkan bisa dihentikan siapapun. Pemuda berbakat di tengah lapangan hijau. Harapan semua orang, tak terkecuali ayahku."
Naruto kembali memandang Sasuke.
"Tapi, semuanya hancur karena satu kejadian," Naruto mengambil jeda sesaat.
"Kelahiranku!" ucapnya tegas dengan suara yang sedikit bergetar.
Sasuke tetap memandang Naruto lurus dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Duapuluh tahun lalu, di hari kelahiranku. Aniki membawa kaa-san yang sedang kontraksi hebat sesaat sebelum kelahiran ke rumah sakit. Kaa-san kesakitan menahan kontraksi yang terjadi 5 menit sekali itu. Tapi, taksi yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan."
Suara Naruto bergetar hebat airmatanya muai berlinang dimata biru langinya. Susah payah dia mengontrol suaranya senormal mungkin, tapi yang keluar hanya suara tercekat dengan irama tak stabil. Sasuke menggenggam tangan tan gadis disampingnya, berusaha menginputkan kekuatan melalui kulit mereka yang bersentuhan.
"Nyawa aniki dan kaa-san selamat. Tapi, tidak dengan kaki kiri aniki dan saudara kembarku."
Mata Sasuke membulat.
"Kaki aniki patah. Sembuhpun, dia tak diizinkan lagi bermain sepakbola. Tou-san stress mendengarnya saat beliau sampai di rumah sakit sepulangnya bertanding dari Iwa. Begitu pula aniki yang begitu mencintai sepak bola. Sedangkan salah satu jabang bayi kembar di rahim Kaa-san meninggal demi menyelamatkan kembarannya, Aku," Naruto tersenyum pahit.
"Kami seharusnya terlahir kembar lelaki-perempuan, Naruto dan Naruko. Nama sudah dipersiapkan, perlengkapan bayi sudah disiapkan sepasang. Tapi, kakak lelakiku meninggal dalam kandungan. Kaa-san belum mengetahui bahwa salah satu bayinya tewas akibat kecelakaan, dan tou-san yang begitu kecewa saat mengetahui aniki tak dapat lagi bermain sepakbola."
Naruto menenggak setengah botol air mineral sebelum melanjutkan ceritanya.
"Akhirnya tou-san memutuskan, membuatku tewas dimatanya. Yang tewas itu Namikaze Naruko, bukan Namikaze Naruto. Kaa-san yang mendengar berita yang dibawa ayahku langsung histeris. Mengetahui putri yang didambakannya selama 18 tahun perkawinan tewas akibat kecelakaan. Putri yang dikandungnya dengan melanggar larangan dokter untuk kembali hamil di usianya dengan kondisi rahim yang lemah meninggal dalam kandungan. Keputusan Tou-san lah yang menyebabkan Kaa-san menjadi stress," air mata Naruto menetes perlahan.
"Tou-san menumpahkan segala ambisinya yang tak bisa diwujudkan aniki padaku. Akulah pengganti anki. Aku dibesarkan di lingkungan laki-laki, dikelilingi para murid Tou-san, dikelilingi bola yang menggelinding dibawah langit biru yang membentang lapangan rumput yang luas, akupun jatuh cinta pada sepakbola," Naruto menarik nafas panjang sambil menyunggingkan senyum.
"Aku tahu itu. Kalau kau tidak mencintai sepak bola, kau tak mungkin mendapatkan posisi ace striker di kesebelasan universitas," Sasuke kembali mengusap-usap kepala Naruto dengan gemas.
"Saat itu aku, hanya bocah 5 tahun yang tak mengetahui perbedaan antara lelaki dan perempuan. Aku diberi porsi latihan setara dengan murid-murid tou-san yang berusia 10 tahun, dan aku tak kalah dari mereka," Naruto tersenyum bangga.
"Saat aku kelas 5 SD, akhirnya aku menyadari bahwa aku dan para teman lelakiku berbeda. Aku berbeda, aku tak sama dengan mereka. Aku perempuan. Tapi, mereka tetap menerimaku dan mengizinkanku bermain dengan mereka,"
"Saat SMP, aku memutukan memanjangkan rambutku. Hanya untuk meyakinkan diriku bahwa aku ini seorang anak perempuan. Yang paling bahagia tentu obaa-chan. Setiap liburan panjang, aku selalu berkunjung ke rumahnya. Obaa-chan selalu suka bermain dengan rambut panjangku. Rambutku disisir, diikat, terkadang djalin," Naruto mulai memainkan ujung rambut wignya.
"Di SMA, aku jatuh cinta. Pada seorang pemuda, berambut kontras dengan kulit pucatnya, bermata onyx, dan dia sangat ramah dan murah senyum," Naruto tersenyum miris.
Dibalik wajah stoicnya, Sasuke bisa menebak siapa pemuda itu. Pemuda yang hari ini harus dijemputnya di bandara, pemuda dengan perawakan yang mirip dengannya, pemuda yang tadi dihindari oleh Naruto. "Uchiha Sai," Sasuke berujar pendek.
"Ya," Naruto memejamkan kedua matanya. "Tapi, dia menolakku dengan alasan, tak pernah menganggapku sebagai perempuan."
"Dan karena itu kau memilih menutupi jati dirimu?" Sasuke menatap tajam Naruto matanya menyiratkan kekecewan.
"Salah satu penyebabnya, bisa dibilang begitu. Alasan lainnya, yah, karena Tou-san dan Aniki yang berulang kali mengingatkanku bahwa aku seorang lelaki," Naruto melemparkan cengiran khasnya pada Sasuke. "Lagipula aku tak pantas memakai pakaian seperti ini," sambungnya sambil menunjuk mini dress yang dipakainya.
TAK!
Sasuke memukul dahi Naruto dengan dua jarinya. "Baka, Dobe!"
"Sakit, Teme!" erang Naruto.
"Kau menyimpulkan penampilanmu dari perkataan pemuda sepertinya? Kau memang benar-benar bodoh."
Naruto hanya bisa menunduk dan tersenyum. Dia tahu sasuke pasti mencaci kebodohannya dan membencinya.
"Kenapa kau terlalu bodoh untuk mempercayai pemuda pendusta seperti Sai!" katanya ketus. "Padahal kau begitu cantik dan mempesona!"
Naruto kaget. Kepalanya terangkat cepat dan langsung memandang Sasuke di sebelahnya yang terlihat kaget dengan kata-kata yang meluncur keluar dari mulutnya sendiri sambil membekap mulutnya dengan sebelah tangan. Rona kemerahan Nampak samar di kedua pipi pucatnya.
"Lupakan kata-kataku tadi," ucapnya cepat sambil memasang wajah datar dan membuang muka dari Naruto yang kini memandangnya dengan mata berair.
Naruto perlahan menyandarkan kepalanya ke pundak tegap Sasuke. "Arigatou, Sasuke. Kau memang sahabat terbaikku,"
"Hn. Baka, dobe," ucapnya perlahan sambil merangkul pundak Naruto yang mulai terisak dan membenamkan wajahnya di balik dada bidang Sasuke.
Sasuke mengelus perlahan kepala Naruto.
"Wig-mu bau silikon," Sasuke mengeluh saat mencium puncak kepala Naruto.
BUG!
Naruto langsung meninju pelan perut Sasuke.
"Aduh! Kau kasar sekali sih, Dobe," erangnya sambil mengelus perutnya yang kena bogem mentah Naruto.
Naruto hanya memeletkan lidahnya dan tetap memosisikan diri senyaman mungkin dalam dekapan Sasuke.
Mereka terdiam beberapa saat sebelum Sasuke kembali membuka percakapan.
"Hei, Dobe. Kau masih ingat pertemuan pertama kita?" tanya Sasuke.
"Hum, yah begitulah. Tak mungkin aku melupakan kejadian menyebalkan itu," kekeh Naruto sambil memperbaiki duduknya dan melepaskan pelukannya dari Sasuke.
.
~Flashback ON~
Seorang pemuda berambut kuning terang melangkah memasuki gerbang kampus Konoha University sambil meraba pelan rambut landaknya yang dilapisi gel WAX. Sekilas memperhatikan penampilannya melalui pantulan bayangan dari mobil Ferrari biru yang ada di depannya.
"Hm, yosha! Aku siap!" ucapnya sambil mengapalkan kedua tangannya.
Tiba-tiba pintu mobil tempatnya berkaca itu terbuka. Turunlah sosok seorang pemuda tampan dengan kulit pucat dan mata onyx yang begitu mempesona, sangat bertolak belakang dengan mata birunya. Bagai langit siang dan malam.
"Sai," pemuda berambut kuning itu berujar pelan, tak percaya siapa yang ada di depannya.
"Minggir, Dobe!" ucapnya ketus. Suaranya lebih berat dari suara Sai yang dikenalnya. Dia sadar, itu bukan orang yang dikiranya.
"Ugh! Namaku Namikaze Naruto! Bukan Dobe, Teme!" teriaknya sebal.
Pemuda berambut raven itu menutup sebelah telinganya yang kini mendenging. "Kau ribut seperti anak perempuan saja, Dobe!" katanya dingin sambil melangkah meninggalkan Naruto yang misuh-misuh dibelakangnya.
.
0o0o0o0o0o0o0o0
.
"Dan, pemenang King of Konoha tahun ini adalah, Uchiha Sasuke!" teriakan histeris para wanita langsung memenuhi aula kampus tempat acara pentutupan ospek jurusan Informatika tempat Naruto berkuliah.
"Che! Uchiha lagi!" suara keluhan itu keluar dari mulut pemuda malas yang duduk di sebelah Naruto.
"Gah! Sudahlah Shikamaru, bukan kau saja yang sebal," Naruto meninju pelan pundak rekannya.
"Setiap Uchiha yang menjadi anak tahun satu, pasti mereka yang memenangkan gelar King," pemuda berambut merah di sebelah Shikamaru berujar. "Nee-chan yang bilang," tambahnya cepat.
"Tapi, tujuh tahun lalu, sepupumu yang menang, kan Gaara?" tanya Naruto pada pemuda berambut merah yang memiliki tato `ai` di dahinya itu.
"Hn," jawabnya pendek.
"Dan 10 tahun lalu, Uchiha Itachi yang memenangkannya. Kakak si pantat ayam itu," Shikamaru berkata sambil memejamkan kedua matanya dan menyilangkan lengannya di balik kepalanya.
Naruto tertawa keras sampai tersedak. "Ghahahaha! Uhuk! Pantat ayam? Nama itu memang pas untuknya."
Tanpa disadarinya, kini semua mata mengarah padanya termasuk Sasuke yang melangkah kembali ke tempat duduknya yang tak jauh dari tempat duduk Naruto Cs.
"Dobe ribut," ucapnya dengan tatapan dingin.
"TEME!" emosi Naruto tersulut juga.
Mereka pun beradu mulut dan berkelahi di tengah aula. Tak ada yang berani menghentikannya sampai ketua Himpunan Mahasiswa memisahkan mereka. Dan mereka dipanggil menghadap dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa.
"Memalukan! Benar-benar memalukan. Baru seminggu kalian berada di kampus ini, tapi berani-beraninya kalian berbuat onar di acara panutupan Ospek Mahasiswa Baru. Keterlaluan!" dosen berambut silver bernama Hatake Kakashi menggeleng-gelengkan kepalanya di depan sepasang mahasiswa baru yang wajah dan pakaiannya sudah kusut tak beraturan dengan lebam di beberapa sisi dan darah di sudut bibir.
Mereka berdua hanya menunduk dan menyimpan kekesalan di hati masing-masing.
"Jangan mentang-mentang kalian mahasiswa khusus di kampus ini, kalian bisa seenaknya! Aku bisa saja melaporkan tingkah kalian pada Dekan Fakultas, Tsunade-sama, agar kalian di tendang dari kampus ini," ancamnya.
"Maafkan kami," ucap Naruto dan Sasuke berbarengan.
"Sudahlah, obati luka-luka kalian di klinik Fakultas. Ini peringatan pertamaku. Kalian tahu akibatnya jika berbuat masalah sekali lagi," Kakashi melangkah pergi meninggalkan kedua pemuda yang masih menunduk itu. Tapi, langkahnya tehenti.
"Ah, aku lupa sesuatu. Namikaze-kun, seusai kuliah kau temui pembimbing Konoha FC di lapangan universitas. Asuma-san pasti bahagia bisa menerima pemain berbakat di liga junior sepertimu," ucapnya sambil tersenyum dan meninggalkan mereka.
"Arigatou, Kakashi-sensei," Naruto membungkuk dalam sambil tersenyum bahagia.
Sasuke yang dari tadi berdiri dsebelahnya terkesima melihat senyum menawan yang tersungging di wajah pemuda yang dianggapnya ribut itu. Sedangkan Naruto yang merasa diperhatikan segera menatap Sasuke tajam.
"Apa lihat-lihat, Teme!" katanya tajam sambil melotot kearah Sasuke dan melangkah pergi.
Tiba-tiba Naruto terjatuh dan mengerang menahan sakit di kakinya. Sasuke melihat lebam sepintas lalu terpeta di pergelangan kaki kanan Naruto.
Sasuke mengahampiri Naruto cepat dan menyibakkan celana panjang yang dipakainya.
"Kau terkilir. Harus segera diobati," ucapnya cepat sambil menarik lengan Naruto dan menggendongnya dipunggung.
"He-hei, Teme! Apa-apaan kau," berontak Naruto dengan wajah merah.
"Sudahlah jangan teriak-teriak seperti perempuan begitu. Kalau aku tak menggendongmu, bagaimana kau bisa sampai ke klinik fakultas," jawabnya dingin.
"Che! Terserahmulah!" ucap Naruto pasrah dan membiarkan Sasuke menggendongnya.
Naruto melingkarkan lengannya perlahan di leher Sasuke. "Arigatou, Teme. Ternyata kau baik juga," ucapnya sambil menampilkan cengiran khasnya.
"Hn," hanya itu yang keluar dari bibir Sasuke yang kini tersenyum.
~Flashback OFF~
.
TBC
.
m(_ _)m
.
Khua… Akhirnya selesai juga…
Arale beneran gak bisa berhenti ngetik deh…
Beberapa alur yang akan Arale pakai di chapter ini akhirnya di rombak ulang. Jadinya sedikit lama kelarnya. Maka dari itu, Arale mohon maaf sebesar-besarnya kalau pada akhirnya-pun chapter ini kurang menggigit Readers sekalian.
Beberapa konflik terjadi minggu-minggu ini hingga Arale gak bisa konsen penuh ke-apapun yang akan Arale lakukan. Termasuk kuliah yang keteteran. *dijitak papa*.
Tugas game yang gak selesai-selesai, jadwal magang yang dipercepat, apa lagi ujian semester yang sedang berlangsung. *tapi, kenapa Arale malah focus bikin fanfict daripada belajar*
Terimakasih banyak buat para Readers bersedia membaca dan me-rivew dan juga buat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Arale senang sekali membaca komentar-komentar yang masuk. Mulai dari yang mengancam sampai yang mati penasaran. *dijitak readers*
.
.
Balasan komentar
.
Vessalius-sama, Kuna anti Alay, Seiichiro Raika queen MM2, Uzumaki Winda, Aoi Sora, Aoi no Kaze, Misyel, Namikaze Nara, Demikooo, Mika Uzumaki, Uzumaki Shion, Riri chan, Icha22madhen, Ryuu The Blitzz: Arigatou review-nya. Keep reading ok! *wink*. Soal Said an konflik yang ada, lihat aja perkembangan mengejutkan di Chapter lima entar. *smirk*
Akira Tsukiyomi: Oh, oh… iya… Maap, Arale baru ngeh *swt* kita liat aja entar, ada gak yah… Sabaku no Shuukaku. *smirk*
Naru3: iya, ternyata make wig itu ribet banget, Arale aja sampe belingsatan pas nyobain wig-nya temen yang mau cosplay jadi Mio (K-on).
Anata Kiyoshi: Nyahahaha~ apa lagi saya kalau bilang 'Gak punya P**' neh muka baalan saya copot trus saya injek-injek. Tabahlah Naruto… *dirasengan Naruto*
Yanz Namiyukimi-chan: Keegoisan seorang Uchiha tuh emang bener-bener deh… :P
Annakaz: satu lagi yang terpancing buat nge-rivew *ngakak*. Aduh, masalah typo itu angkat tangan deh! Bun malah malu nunjukin neh fict ke temen kampus atau anak akamaru (termasuk Roku-chan). Ngertiin aja sifat manusia yang banyak salah khilaf deh… XDD
Kuro no shiroi: Walah, saya jadi malu. Padahal author-nya sendiri ga pernah dandan kecuali pas cosplay (dan cosplaynya selalu jadi tokoh freak yang nganeh atau jadi cowo cakep) *disetrum pake stan-gun*
Namikaze Shiruna Kuruta: Hua… Sabar jeng… jangan buru-buru, entar hasilnya gak maksimal. Sai itu termasuk tokoh penting disini, jadi bakalan keluar lagi. Soalnya kan belum diceritain alasan Sai nolak Naru (ups).
Kanata D Renkinjutsushi: Fufufu sabar nak… Soal papa Mina en mama Kushi udah dijelasin disini kan? Ada pertanyaan lagi?
Ashura Dai MaOu: Hua… kecepetan yak? Kalau dilambatin, entar tekutnya terlalu lambat, en para reader gemesen ngerajam Arale di sawah lagi… eh, lemon yak? Emang masuk pertimbangan sih, soalnya Arale juga butuh lemon. Tapi, permasalahannya Arale gak pernah selesai bikin lemonan. Soalnya pingsan duluan sih, kehabisan darah gegara nosebleed XP
Fujoshi nyasar: Gahahahah sabar fujo, Sai itu kita cariin pasangan baru dulu baru rela ngelepasin Naru.
Uchiha Cuchan Clyne: Ufufufu. Yaoi? Mungkin. Soalnya Sasuke gak peduli naru mau cewe atau cowo, kan? Bisa jadi dia AC/DC. Hayo~
Yuu chan no Haru: Walah, ada yang berantem dibelakang layar ternyata… Jangan bunuh Sai dulu yah, Yuu. Soalnya masih ada beberapa schene yang harus dia peranin dan masih ada kontrak dalam jangka waktu 3 bulan ini.
.
.
.
.
.
.
.
Untuk Chapter ini, Arale ucapkan terimakasih, dan SELAMAT TAHUN BARU!
m(_ _)m
RnR
Please!
Lagu di Ipod Sasuke: Jason Mraz feat Colbie Calliat – Lucky (dan sepertinya Naruto gak ngeh maksud Sasuke muterin tuh lagu en ngasih denger ke dia)
