A/N: Maaf kalau kelamaan UPDATE. Apa boleh buat, saya yang udah tahun ke tiga ini selalu diperintah nyari judul skripsi sama Dosen tercinta hingga puyeng sendiri. Di chapter 6 ini Arale menceritakan kisah masa lalu Naruto dari sisi seorang Namikaze Kyuubi, sang kakak tercinta. Gak ada romantis-romantisan di chapter ini. Maaf m(_ _)m Tapi, semoga chapter ini bisa membuka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak para readers sekalian. Selamat membaca~

.

+= If I Were a Boy =+

Naruto © Masashi Kishimoto

If I Were a Boy © Arale L. Ryuuzaki

Pair: SasukexFemNaruto

Genre: Hurt/Comfort/Romance

Rated: T

Warning: TYPO, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…

.

Part 6:

Kyuubi Side

.

.

~Kyuubi Flashback~

15 years ago

"Niichan… Kyuubi-niichan," panggil sesosok bocah berambut pirang dengan mata safir yang berkilauan di terpa cahaya mentari pada seorang remaja yang sedang duduk melamun di tepi lapangan bola.

"Hm?" gumamya pendek pengganti jawaban dari panggilan sosok manis dihadapannya itu.

"Niichan, lihat Naru donk," rengek sosok itu sambil menarik-narik celana panjang yang dikenakan remaja itu.

Sang pemuda pemilik rambut orange kemerahan itu melirik malas pada adik semata wayangnya. Safir mereka bertemu. Si bungsu menatap sang kakak dengan penuh tanya.

"Apa Naru?" suara seraknya yang berat membuat sosok keras itu sedikit ditakuti orang sekitarnya, tapi tidak untuk bocah di hadapannya yang kini merentangkan kedua tangan mungilnya.

Sang kakak yang mengerti tabiat adik yang berusia 10 tahun dibawahnya itu langsung menggendongnya dengan sayang dan memangkunya diatas paha kekarnya.

"Nah, sekarang apa?" ujarnya melembut sambil mencubit kedua pipi lembut sang adik yang kini memamerkan cengiran khasnya yang sanggup membuat sang kakak yang pada dasarnya seorang sister-complex menahan hasratnya untuk memeluk sang adik yang imut demi mempertahankan image menyeramkan yang dimilikinya.

"Niichan tidak ikut main?" tanyanya sambil menunjuk ke tengah lapangan dimana para siswa sekolah sepak bola milik ayah mereka berlatih.

Kyuubi hanya menggelengkan kepalanya perlahan dan tersenyum.

"Kenapa? Kata Baa-chan, Niichan jago main bola,"

Kyuubi mengusap pelan hamparan pirang lembut rambut Naruto. "Aniki tidak bisa bermain lagi," ucapnya miris.

"Kenapa?" tanyanya dengan wajah polos.

"Karena kaki Aniki sudah tidak memungkinkan lagi untuk bermain bola,"

Naruto memiringkan kepalanya dengan wajah yang penuh tanda tanya.

"Kenapa? Bukannya aniki bisa berjalan seperti Naru, niichan pasti juga bisa berlari, kan?"

"Kau tak akan mengerti, Naru," Kyuubi mengacak-acak rambut Naruto.

"Niichan suka sepakbola?" Naruto kembali bertanya.

Kyuubi menatap para pemain yang sedang berlari memenuhi lapangan dihadapannya, "Lebih dari apapun," ucapnya pendek dengan tatapan rindu yang kentara di kedua bola matanya.

Naruto mungil tiba-tiba turun dari pangkuan anikinya dan berlari mengambil sebuah bola sepak yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka duduk.

"Aku bersumpah," tiba-tiba Naruto mengangkat tinggi-tinggi bola yang digenggam kedua tangan mungilnya dan memasang tampang serius yang sangat menggemaskan dimata Kyuubi. "Aku akan menggantikan aniki untuk menjadi pemain sepak bola yang hebat, dan aku pasti akan jadi anggota Tim Nasional untuk membela Jepang di Piala Dunia!" teriaknya lantang.

Kyuubi tertawa keras sambil mengacak-acak rambut pirang rambut pendek berantakan adik perempuannya itu.

"Itu tidak mungkin Naruto."

"Kenapa?" protesnya.

"Karena yang bisa membela Jepang di Piala Dunia hanya lelaki," Kyuubi kini melipat kedua tangannya di depan dada.

"Kalau begitu aku akan jadi anak laki-laki!" teriaknya sambil berkacak pinggang sambil tetap memegang bola di tangan kanannya.

"Hah!" Kyuubi memandang Naruto dengan tatapan meremehkan. "Memangnya kau bisa?"

"Kita lihat saja! Aku pasti akan jadi lelaki yang lebih tampan daripada Niichan, dan aku akan jadi anggota Tim Nasional!" ujarnya tegas.

"Hooo, kau percaya diri sekali?" Kyuubi mendorong kepala kuning Naruto dengan jari telunjuknya.

"Laki-laki tidak akan menarik kata-katanya!" Naruto melemparkan bola yang digenggamnya ke tangan Kyuubi.

"Dan kau bukan laki-laki," Kyuubi balas melempar bola yang tadi dilemparkan Naruto, tapi berhasil ditangkap adiknya itu.

DUAK!

"Aku pasti akan jadi laki-laki!" teriaknya sambil menendang bola itu tepat ke wajah Kyuubi dan berlari ke arah lapangan bola dan meninggalkan Kyuubi yang masih sibuk menggosok-gosok hidungnya yang memerah akibat hantaman bola yang tiba-tiba ditendang Naruto danpa sempat dia elakkan.

"Kau pasti akan jadi pemain sepakbola yang lebih andal daripada pemain nasional," Kyuubi tertawa bahagia sambil melihat dari kejauhan sosok adiknya yang kini sedang merengek pada ayah mereka agar diikutkan dalam latihan.

.

OOOoooOOOoooOOO

.

10 years ago

"Aniki," panggil sesosok bocah tampan yang berjalan mendekati sosok pemuda berusia 20 tahun yang sedang merokok di atas motor sportnya yang di cat kemerahan seperti rambutnya yang berantakan.

"Ha!" deliknya pada adik perempuannya yang baru saja pulang dari sekolah. Pakaiannya kotor oleh lumpur, bahkan bagian lutut celana panjangnya robek.

Sang bocah yang dihardik hanya memsang tampang berang pada kakak semata wayangnya itu dan dengan cepat meraih punting rokok yang tersemat di bibir anikinya.

"Apa-apaan kau!" hardiknya sambil merampas lagi puntung rokok yang direbut.

"Sejak kapan Aniki merokok?" tanyanya kasar.

"Bukan urusanmu, Na-ru-chan," ucapnya dengan penekanan di bagian nama sang bocah 10 tahun itu.

"Berapa kali aku katakan padamu, panggil aku Naruto!"

Kyuubi mengacak-acak rambut kuning berantakan adiknya dan memandang sepasang safir milik adiknya yang kini jauh lebih jernih dibanding safirnya yang kini terlihat sedikit kemerahan.

"Bagiku kau masih terlihat seperti perempuan, Naru-chan," ejeknya.

"Ugh! Aku ini anak laki-laki, tahu!" teriaknya tepat di telinga anikinya yang kini sibuk menggosok-gosokkan tangannya ke lubang telinga kirinya yang mendenging.

"Argh!" erangnya. "Mana ada anak laki-laki yang suaranya se-melengking itu, Baka Chibi!"

"Huh!" Naruto memajukan bibir bawahnya dan berbalik melangkah menjauhi anikinya.

Kyuubi yang tahu tabiat sang adik yang suka ngambek langsung menyalakan mesin motornya dan menyusul adiknya.

"Hei, Naik!" perintahnya pada Naruto sambil menyodorkan helm berwarna orange mencolok dengan pola rubah ekor Sembilan, Kyuubi, seperti namanya.

Naruto hanya melengos sambil mempererat pegangannya pada ransel yang tersampir di pundak kurusnya.

"Ayolah, Naru-chan. Aku kan hanya bercanda," Kyuubi mulai terlihat memohon.

"Siapa itu Naru-chan? Aku tak mengenalnya,"

"Iya-iya, cepat naik atau aku tinggal!" Kyuubi mulai jengah.

"Pergi saja. Kau kira aku tak bisa pulang sendiri?" rutuk Naruto sambil mempercepat langkahnya.

Tiba-tiba dari kejauhan.

"Hei-hei! Berandal disana! Apa yang kau lakukan!" teriak seorang pemuda berseragam sekolah yang mempercepat langkahnya menuju arah Kyuubi yang terlihat seperti seorang berandalan yang sedang memalak anak SD.

"Hah!" berang Kyuubi sambil melemparkan death glare terbaiknya pada siswa SMA yang tak terlihat gentar itu.

"Apa yang kau lakukan pada bocah itu" berangnya sambil menunjuk-nunjuk Naruto.

"Apa-apaan polisi bodoh itu?" Kyuubi menatap jengah dan menarik lengan Naruto. "Sudahlah, cepat naik. Aku tak mau cari masalah disini,"

"Hei-hei! Apa kau ingin kubawa ke pos polisi dengan tuduhan penculikan anak!" sang pemuda bermata amber yang kini menarik lepas tangan Naruto dari genggaman lengan Kyuubi dan melindungi bocah itu dibalik tubuh tegapnya.

"Ano, Nii-san—," Naruto mencoba menjelaskan.

"Tenang saja dik, kau pergilah dari sini. Biar berandalan ini aku urus," katanya tegas.

"Hei, apa-apaan kau, bocah bodoh! Kemarikan adikku," bentak Kyuubi.

"Heh! Kau kira aku akan percaya kalau anak ini adikmu! Kalau dia memang adikmu, dia tak mungkin menghindarimu seperti tadi!" bentaknya.

"Ano, nii-san. Dia memang kakakku kok," kata Naruto mulai tak enak hati pada anikinya yang kini dikira penculik anak.

"Heh! Kau dengar apa kata anak ini!" bentak pemuda itu pada Kyuubi.

"…" Kyuubi kini hanya diam sambil melipat tangannya di depan dada.

"—Eh?" pemuda menoleh pada bocah yang ditolongnya.

Naruto mengangguk.

"Eeeh?" teriaknya kaget.

.

**Mohon Tunggu Sebentar**

.

"Gomennasai, Kyuubi-san," pemuda itu membungkuk dalam.

DUK!

Kepalanya sukses menghantam meja di depannya. Pemuda itu menggosok-gosok jidatnya yang terbentur meja dengan tangannya sambil memperbaiki rambut bronze-nya yang sedikit berantakan. Kini mereka bertiga sudah berada di sebuah Café Modern ditengah pusat pertokoan Suna.

"Tidak apa-apa kok Shuu-san. Dia kan memang berandalan," jawab Naruto yang dengan santai menyeruput jus jeruk yang kini tinggal setengah gelas itu.

Kyuubi melemparkan death glare pada Naruto yang dibalas dengan santai oleh Naruto.

"Apa?" hardiknya.

"Che! Pokoknya aku tak mau terima. Kau harus ganti rugi. Nama baikku tercoreng gara-gara sikapmu tadi," hardik Kyuubi yang duduk serampangan di hadapan pemuda berseragam gakuran dihadapannya itu.

"Bukannya nama baik Aniki memang sudah buruk sejak lima tahun yang lalu," Naruto mulai memakan spaghetti yang baru saja diantarkan waitress ke meja mereka.

"Diam kau, Baka Imotou," hardik Kyuubi yang mendorong kepala Naruto.

"Imotou?" pemuda itu memiringkan kepalanya dengan polos. Mata ambernya mengerjap-ngerjap penuh tanya.

Naruto menggembungkan pipinya, "Urusai Baka Aniki!" berangnya tepat di telinga Kyuubi.

"Naruto-kun, kau perempuan?" tanyanya.

"Ya," jawab Kyuubi pendek sambil meminum kembali Cappuccino-nya.

"Bukan! Aku laki-laki, Baka Aniki!" teriaknya lagi sambil menjambak rambut orange kemerahan Kyuubi.

"Heh! Oh, ya? Kau bahkan tak punya barang yang seharusnya dimiliki seorang lelaki," ejek Kyuubi pada Naruto yang kini mulai berasap dengan wajah merah padam.

"Lihat saja, saat SMA nanti barangku pasti tumbuh! Dan akan lebih besar daripada milikmu!" berang Naruto sambil menunjuk wajah Kyuubi dengan kesal.

Tanpa mereka sadari hampir seluruh penghuni café memandang meja mereka yang berisik dan terdengar kata-kate yang sedikit vulgar.

Tiba-tiba Pemuda yang duduk di hadapan kakak-beradik itu tertawa keras.

"Apa yang kau tertawakan, Shuu-san?" tanya Naruto dengan sedikit emosi.

"Huahahahaa… Maaf Naruto-kun. Rasanya pemikiranmu ada yang salah. Tidak mungkin barang itu tumbuh secara tiba-tiba saat kau masuk SMA nanti,"

"Kenapa tidak mungkin?" protesnya.

"Karena barang-itu hanya ada pada tubuh lelaki dan tidak akan pernah tumbuh pada perempuan," katanya masih sambil terkikik.

"Ta-tapi, kata aniki—," kata-kata Naruto terputus saat melihat anikinya yang kini terlihat sibuk menahan tawanya. "Kau!" Naruto siap meledak.

"Buahahahaha!" tawa Kyuubi membahana ke seluruh pelosok café.

"Kau menipuku, Kuso Aniki!" Naruto mulai meninju lengan Kyuubi dengan emosi.

"Aku tak mengira kau masih mempercayainya sampai hari ini, Naru-chan," Kyuubi meraih kepala Naruto. "Kau memang adikku yang paling manis, Naru-chan," Kyuubi menarik Naruto dalam pelukannya dan menggosok-gosokkan pipinya di puncak kepala kuning Naruto yang kini pipinya kembali memerah.

"Kau polos sekali, Naru-chan," tawa Shuu sambil menopang dagunya dengan sebelah lengannya.

"Urusai!" berang Naruto pada pemuda yang kini ikut-ikutan memanggil Naruto dengan sebutan Naru-chan.

Kesua pemuda tampan itu pun tertawa bersamaan saat melihat Naruto yang kini sudah menggembungkan pipiya dengan menggemaskan.

.

OOOoooOOOoooOOO

.

"Baiklah, aku permisi dulu. Sekali lagi aku minta maaf atas yang tadi, Kyuubi-san," Shuu, membungkuk dalam.

"Hn," Kyuubi hanya tersenyum.

"Sampai jumpa, Naru-chan," katanya sambil mengacak-acak rambut pendek Naruto.

"Iya," cengiran khasnya terkembang membuat guratan halus di kedua pipinya semakin terlihat jelas.

Tiba-tiba Shuu memeluk erat Naruto.

"Hoi brengsek apa-apaan kau? Lepaskan adikku!" hardik Kyuubi sambil menarik Naruto dari pelukan Kyuubi.

"Aah~ Kyuubi-san, adikmu manis sekali…" Shuu menggapai-gapai Naruto yang kini dihalangi tubuh kokoh Kyuubi.

"Argh! Pergi kau brengsek! Sebelum aku mengirimmu ke rumah sakit!" hardik Kyuubi sambil mendorong tubuh Shuu.

Shuu akhirnya tertawa terbahak-bahak dan melangkah meninggalkan Kyuubi yang siap mengamuk. "Sampai jumpa," teriaknya jadi kejauhan.

Naruto melambaikan tangannya, "Sampai jumpa, Shuu-san," teriaknya.

.

OOOoooOOOoooOOO

.

"Ehehe," sore itu senyum naruto terkembang lebih lama dari biasanya.

"Kenapa kau, Chibi?" tanya Kyuubi yang heran melihat adik semata wayangnya.

"Ternyata Shuu-san itu punya rumah lho di Pulau Selatan. Orang tuanya bekerja di Pulau Selatan. Apalagi rumahnya ternyata ada di belakang rumah Baa-chan," cengirnya.

"Darimana kau tahu?" tanya Kyuubi heran.

Naruto menunjukkan Posel yang ada di tangannya. Terlihat SMS dari sebuah nomor yang tak dikenal. Kyuubi dengan cepat meraba kantong jaket kulit yang dikenakannya. Ternyata ponsel di saku jaketnya lenyap, artinya ponsel ditangan Naruto itu memang miliknya.

"Hoi, sejak kapan ponselku ada di tanganmu, Chibi!" bentaknya sambil merampas ponsel type flip itu dari lengan mungil Naruto.

Naruto hanya mengangkat bahu, "Siapa suruh kau lengah pada tanganku," ucapnya cuek.

Kyuubi terlihat mengutak-atik ponselnya dengan geram. "Brengsek! Tak ku izinkan kau menghubinginya lagi!"

"Kenapa?" tanya Naruto polos.

"Kenapa, katamu? Jelas-jelas dia mengincarmu, Baka chibi!" berangnya sambil mendorong kepala Naruto.

Naruto hanya memeletkan lidahnya.

"Serahkan padaku!" perintah Kyuubi tiba-tiba.

"Apa?"

"Sudahlah, kau jangan coba-coba membohongiku! Cepat serahkan kertas berisi nomor ponsel bocah tadi!" Kyuubi mulai memeriksa kantong celana Naruto dan menemukan secarik kertas bertuliskan nomor ponsel.

Sabaku no Shuukaku 0809-87-xxx-ooo

"Ah… Jangan diambil donk, Aniki," rengek Naruto yang dibalas Kyuubi dengan tatapan tajam dan menjauhkan kertas itu dari jangkauan Naruto.

Naruto menggembungkan pipinya dan berjalan menuju kamarnya sambil tertawa licik.

"Ehehe, jangan anggap aku bodoh, Nii-chan. Aku pasti bisa mendapatkan nomor itu lagi," ucapnya dalam hati.

"Aku bisa bertanya pada Obaa-chan, atau pada—,"

BUK!

"Aduh!" erang Naruto saat menubruk tubuh seseorang. "Tou-san—,"

PLAK!

Tamparan keras melayang ke pipi kanan Naruto yang kini sukses memerah.

"Darimana saja kau! Latihan sore sudah dimulai sejak satu jam yang lalu!" amuk sang Ayah.

"Maafkan aku," jawab Naruto dan tertunduk menyesal sambil menahan airmatanya.

"Tadi aku mengajaknya makan," jawab Kyuubi sambil menatap safir sang ayah dengan tatapan dingin.

Minato hanya diam dan menatap Kyuubi dengan pandangan yang tak bisa ditebak oleh otak pemuda dua puluh tahun itu.

Matanya kembali beralih kepada anak bungsu di hadapannya, "Kenapa kau masih diam disini? Cepat ganti bajumu! Aku tunggu di lapangan lima menit lagi!" perintahnya.

"Baik, Tou-san," jawabnya masih memegang pipinya yang terasa nyeri.

"Hapus air matamu itu! Anak lelaki tak ada yang menangis! Memalukan!" Minato melangkah meninggalkan kedua kakak beradik itu menuju lapangan sepakbola yang terletak tak jauh rumah mereka.

"Maaf, Tou-san," Naruto cepat menghapus air matanya.

"Pipimu tak apa-apa?" Kyuubi meraba pipi Naruto yang tadi di tampar.

"Maaf Aniki. Aku harus cepat ke lapangan," ucap Naruto dingin sambil menampik tangan Kyuubi dan bergegas menuju kamarnya di lantai atas.

Kyuubi hanya bisa menatap punggung mungil yang kini pergi meninggalkannya itu.

.

OOOoooOOOoooOOO

.

5 years ago

"Kau yakin?"

Remaja dihadapannya hanya tersenyum sambil membetulkan posisi wig-nya yang sedikit aneh.

"Tak ada pilihan lain, kan? Lagipula memang ini yang kutunggu-tunggu. Akhirnya aku bisa berguna untuk Tou-san," cengiran khasnya mengisyaratkan 'jangan cemas, Aniki' pada pemuda rupawan dihadapannya.

"Terserahmulah," sang Aniki berjalan menjauh dan meraih kunci motor yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Aniki mau pergi?"

"Hn,"

"Tak ingin melihat penampilan perdanaku di Liga Junior?"

"Dan melihat saat-saat wigmu terlepas dan memperlihatkan rambut panjangmu?" ejeknya.

Naruto merajuk sambil menggembungkan pipinya, "Aniki mendoakanku ketahuan di partai perdanaku ya?"

Kyuubi menatap adiknya miris. Sepuluh tahun berlalu sejak sang adik berjanji untuk menggantikannya di lapangan hijau. Sepuluh tahun telah berlalu sejak adik perempuannya memutuskan menjadi seorang lelaki di lapangan hijau. Sepuluh tahun telah berlalu sejak sang ayah mulai memforsir adik perempuannya dengan latihan berat yang tak sesuai dengan anak seusianya apalagi untuk seorang gadis remaja.

"Aniki?" tanya sosok yang kini telah menjelma menjadi seorang pemuda tampan dengan rambut kuning berantakan dan mata secerah langit siang itu.

"Hn?" jawab Kyuubi berlagak acuh, padahal dia yang paling cemas dengan adik perempuannya itu.

Naruto melangkah mendekati Kyuubi.

"Aniki—," perlahan Naruto melingkarkan lengannya ke tubuh kekar Kyuubi yang jauh lebih tinggi darinya. Pundaknya bergetar hebat tanda beratnya beban yang ia derita selama ini.

"…," Kyuubi hanya diam dan membiarkan adiknya memeluknya untuk menenangkan hatinya yang gundah.

Kyuubi perlahan membelai puncak kepala adik kesayangannya itu.

"NARUTO! CEPAT TURUN!" teriakan sang ayah terdengar dari depan rumah.

"YA!" jawab Naruto yang telah melepaskan pelukannya dari tubuh sang kakak.

Naruto tersenyum lebar di hadapan kakak lelakinya itu, "Aku berangkat," ucapnya sambil meraih tas perlengkapan yang tergeletak diatas kasur orange-nya dan melangkah keluar kamar.

"Naruto—," panggil Kyuubi yang membuat Naruto menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Ganbatte ne. Ore no toutou!" ucapnya sambil memperlihatkan senyum yang jarang diperlihatkannya sejak lima tahun belakangan ini.

"Ganbarimasu!" Naruto tersenyum dan melangkah cepat menuruni tangga.

.

OOOoooOOOoooOOO

.

Tak lama setelah bus kesebelasan Suna berangkat, sesosok pemuda raven dengan mata yang sama kelamnya melangkah memasuki kediaman Namikaze.

"Kau sudah datang, Uchiha?" ucap Kyuubi yang melangkah menuruni tangga.

"Berapa kali kuminta padamu untuk tak memanggilku seperti itu, Kyuu?" sosok raven berambut panjang itu kini menyandarkan punggungnya pada pintu masuk.

"Dan berapa kali kuperintahkan padamu untuk tidak sok akrab denganku, Uchiha?" Kyuubi melangkah mengambil segelas air dingin dari kulkas dan menghilangkan dahaganya.

Pemuda raven berambut panjang itu hanya tertawa ringan dan melihat jam yang terlingkar di lengannya. "Kita bisa berangkat sekarang?" tanyanya.

Kyuubi menatap sahabatnya itu. "Kau saja yang mewakiliku dalam pertemuan itu," katanya acuh.

Sang Uchiha mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan sedikit penekanan.

"Aku sedang malas,"

"Tapi, Kyuu—,"

"Aku mempercayakannya padamu, Uchiha," ucapnya sambil melewati sang sahabat yang kini terlihat marah.

"Lalu? Sekarang kau akan kemana?"

Kyuubi mengangkat alisnya, "Nonton bola," jawabnya enteng sambil memakai jaket kulit yang tadi hanya ditentengnya.

"Apa? Kau membatalkan mendatangi pertemuan penting ini hanya untuk menonton bola?" bentak pemuda itu marah.

"Bukan 'hanya', tapi 'karena'. Aku ingin menonton debut perdana adik perempuanku di Liga Junior,"

"Apa?" sang pemuda raven membelalakkan mata.

"Ah, bukan adik perempuan. Tapi, adik lelakiku," Kyuubi melangkah meninggalkan sang pemuda raven.

"Hei Kyuubi," panggil pemuda itu masih dengan sedikit emosi.

"Kupercayakan padamu, Itachi," ucapnya dan menjalankan motor sportnya dan meninggalkan Uchiha Itachi yang kini hanya bisa menggerutu dam menendang kerikil di depannya.

.

OOOoooOOOoooOOO

.

2 years ago

Tawa membahana di apartemen kecil itu.

"Apa-apaan kepalamu itu?" ejek sosok rambut kemerahan dengan kemeja yang tak dikancing dan celana Hawaii bermotif rubah itu tertawa pada sosok dihadapannya.

Sosok itu terlihat kembali merajuk dan menggembungkan kedua pipinya kesal. "Terserah pendapatmu, Baka Aniki!" ucapnya sambil menghempaskan diri di sebelah Kyuubi yang asyik mengunyah popcorn.

"Lalu? Apa tujuanmu datang ke apartemenku ini?"

Naruto memperbaiki posisi duduknya dan memposisikan dirinya duduk berhadapan dengan Kyuubi.

"Jangan kau bilang bahwa kau lupa kalau dua bulan lalu aku baru saja lulus SMA!" tegas Naruto.

"Ya, aku lupa," jawab Kyuubi enteng sambil tetap mengunyah popcorn di panguannya.

"Ah… Kau keterlaluan sekali, Aniki," rengek Naruto.

Kyuubi hanya tertawa dan menawari popcorn itu ke depan hidung Naruto yang langsung diraup Naruto dengan bersemangat.

"Lalu kenapa dengan kelulusanmu?" tanyanya lagi.

"Aku akan kuliah di Konoha,"

"Hmm, lalu?"

"Aku sudah lulus ujian masuknya, dan minggu lalu ayah sudah menghadap Dekan Fakultasku,"

"Untuk apa Oyaji menghadap Dekanmu?" Kini Kyuubi memasang tampang ingin tahu.

"Untuk memperbaiki data diriku,"

"Hah?" Kyuubi masih tak mengerti.

"Dia mengganti data diriku menjadi seorang lelaki,"

"APA!" Kyuubi berteriak keras.

"Ugh! Biasa saja donk, aniki! Tak perlu berteriak-teriak seperti itu!" Naruto menggosok-gosok telinganya yang kini berdenging akibat teriakan Kyuubi.

"Dan kau membiarkannya!" tanya Kyuubi penuh emosi.

Naruto memandang heran Kyuubi, "Memangnya kenapa? Aku tak punya alasan menolak, kan? Lagi pula kebetulah sekali Konoha punya kesebelasan yang tangguh."

"…," Kyuubi hanya terdiam dan memandang tak percaya pada adik semata wayangnya itu.

"Kau tahu, Aniki. Aku langsung ditawari bergabung di kesebelasan Konoha University lho. Hua, aku tak menyangka ternyata mereka tertarik pada permainanku di Liga Junior," mata Naruto terlihat berbinar-binar. "Ayah pasti bangga padaku!" lajutnya.

Kyuubi menatap miris adiknya yang kini semakin seperti seorang lelaki itu. "Dia hanya memanfaatkanmu, Baka Imotou," protesnya dalam hati.

"Jadi?" Naruto bertanya pada Kyuubi.

"Apa?" jawabnya acuh.

"Bagaimana?"

"Apanya?" Kyuubi acuh.

"Rambutku, penampilanku? Apa sudah terlihat seperti anak laki-laki?" tanyanya dengan cengiran menghiasi wajahnya.

"Kalau kau jadi lelaki, Kekasihmu itu bakalan jadi homo donk. Siapa namanya? Sai, ya? Eh—," Kyuubi mencoba mengingat-ingat.

"—ngan," Naruto menunduk.

"Ha?"

"Jangan sebut-sebut nama lelaki itu di depanku!" amuk Naruto. "Dan kutegaskan, dia bukan kekasihku, dia hanya masa lalu!"

Kyuubi hanya mengangkat alis dan melanjutkan makannya.

"Jadi?" Naruto kembali bertanya.

"Apa lagi?" Kyuubi menjawab acuh.

"Bagaimana penampilanku? Sudah cukup tampan? Atau terlalu tampan?" Naruto berdiri dan berkacak pinggang di depan Kyuubi sambil berpose narsis.

Kyuubi sweatdrop seketika melihat mood adiknya yang menghawatirkan itu. Cepat marah, dan cepat melupakan sesuatu. Dengan cepat dia menarik lengan Naruto dan membuatnya tertidur di pangkuan Kyuubi.

"Seperti apapun caramu berpakaian, dimataku kau tetap terlihat seperti anak perempuan ribut yang berputar-putar, Baka Chibi," ejek Kyuubi yang dibalas cemberut oleh Naruto.

BRUK!

Dua pasang mata safir yang sedikit berbeda warna itu langsung tertumbuk pada sosok yang menciptakan bunyi itu.

"Anko," ucap Kyuubi kaget melihat sosok wanita berambut hitam di depan pintu apartemennya.

Naruto yang menyadari kondisi aneh itu langsung membetulkan posisi duduknya.

"Ah, ini tidak seperti yang kau kira, Nee-san," ucapnya panik.

Kyuubi hanya memukul kepalanya karena lupa mengunci pintu depan dan membuat kekasihnya melihat adegan kedekatannya dengan adik perempuannya. Bukan, kali ini adiknya telah berubah menjadi sosok laki-laki dan kekasihnya yang seorang…

"KYAAA! Yaoi Incest," teriaknya histeris sambil berlari mendekati Namikaze bersaudara itu dan mulai mengambil gambar dari berbagai sisi.

Naruto sweatdrop seketika dan teringat kalau kakaknya pernah mengeluh soal hobi kekasihnya yang seorang FUJOSHI.

"Naru-chan kau tampan sekali. Manis… Tipe UKE idaman," katanya sambil memeluk Naruto dengan histeris.

"A-arigatou, Anko-neesan," ucap Naruto terbata.

~Kyuubi Flashback -END-~

.

OOOoooOOOoooOOO

.

Trrr…Trrr…Trrr…

Ponsel Flip berwarna orange kemerahan itu bergetar diatas meja kaca sebuah ruang apartemen di tengah kota Konoha. Sosok berambut kemerahan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan kondisi setengah basah itu segera menyambar dan menjawab panggilan yang ditujukan padanya itu.

"Moshi-moshi,"

"Moshi-moshi, Kyuubi. Bagaimana?" suara perempuan di seberang bertanya.

"Ya, dia memang kesana," jawab Kyuubi sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.

"Apa dia masih seperti itu?"

"Ya, bagitulah."

"Kapan kau berangkat?"

"Aku akan berangkat dengan penerbangan besok pagi."

"Baiklah, aku akan menyusulmu dua hari lagi,"

"Ta-tapi, bagaimana dengan—,"

"Aku baik-baik saja, Kyuubi. Tak usah cemaskan kondisiku."

"Baiklah kalau begitu, sesampainya disana tolong segera hubungi aku."

"Tenang saja. Baiklah, kau juga jaga kesehatan selama perjalanan,"

"Tenang saja, aku bukan anak kecil lagi."

Wanita diseberang tertawa renyah, "Oyasumi, Kyuu-chan."

"Oyasumi, Okaa-san," Kyuubi menutup ponselnya dan menatap langit malam di luar jendela partemennya.

"Maaf, ini batas kesabaranku selama ini, Oyaji," Kyuubi menggenggam erat ponselnya dan menarap penuh amarah ke hamparan langit malam sambil membayangkan sosok ayah egois yang membuat adiknya seperti ini.

.

OOOoooOOOoooOOO

TBC

OOOoooOOOoooOOO

.

.

.

A/N: Fuah~ akhirnya sempat juga Update di tengah malam setelah kepala puyeng akibat UTS dan leher yang cenat-cenut akibat salah tidur. Maaf kalau Arale selalu kelamaan update karena kuliah yang semakin sibuk dan otak yang mampet dan kata-kata yang tak keluar di jalur yang benar. Maaf juga dengan alur yang terkesan du ulur-ulur. Ini gara-gara Arale mikir kalau entah kenapa jalan ceritanya terlalu merembes jauh dari Judul dan Tema yang Arale angkat. Makanya mari kita kembali ke jalur yang benar… :P

.

.

Saatnya balasan Fict!

ShaRa Namikaze, Princess Assasin, naru3, ichiko yuuki, Aoi no Kaze, bryella, KyouyaxCloud, Tsuki no Akaiichi, Pochi Yuna Maafkan ke-ngaret-an update-annya m(_ _)m Selamat membaca~

Kanata D. Renkinjutsushi FemJiraiya OTL lalu nasip Tsunade gimanaan?

Anata Kiyoshi Sepupunya Gaara kayanya udah bisa ketebak di chapter ini deh XD

Yuna Claire Vessalius Kusanagi Wa wa wa wa ada Mahdid nyasar (hahaha) Konfliknya blom keliatan yah XD maapkan saya

Temariris Wakakakak, topi kupluk di daerahmu itu sebutan untuk Peci? *ikut membayangkan Sasuke make peci* XD kalau aku bilang 'kaya' topi rajut yang terbuat dari kain kebayang gak?

only-K Berani kamu sama saya! *nyiapin bazooka-nya Juki* XD Saba raja Kay, Sai ada lagi kok. Tapi, entar… soal Naru yang Tsun-Dere… XD Emang dia tsundere sih XD

Akane Inoue Na-nani? Lemon? Saiklah akan saya pertimbangkan *catet*

Fujo suka nyasar Hontou ni, gomennasai~ yang ini udah rada panjangan-kan :3

Ren-Mi3 NoVantA ketemu neneknya 2 chapter lagi yah XD *ditabok*

Chiraeru el Zuwet hohoho review 3 chapter sekaligus wkwkwk arigatou… map kelamaan update m(_ _)m

Yuuchan no Haru999 Lagi-lagi permintaan naik Rated, tar aku usahain sejalan ceritanya yak XD

.

.

.

Tolong RnR-nya dibawah sini…

m(_ _)m