+= If I Were a Boy =+
Naruto © Masashi Kishimoto
If I Were a Boy © Arale L. Ryuuzaki
Pair: SasukexFemNaruto
Genre: Hurt/Comfort/Romance
Rated: T
Warning: TYPO, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…
.
Part 7:
Me in Your
.
.
"Ughh! Sampai juga!" Naruto langsung merenggangkan tubuhnya seturun dari taksi. Sasuke hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
"Terimakasih," ucapnya pendek pada supir taksi yang sudah menurunkan barang-barang mereka dan menyerahkan ongkos taksi yang tertera pada argo.
Sasuke memandang plang papan praktek yang berdiri dibalik pagar setinggi 150cm yang mengelilingi rumah bercat putih bersih dengan halaman yang lumayan luas itu.
dr. Chiyo
"Siapa?" tanyanya pada Naruto.
"Boku no Obaa-chan," bangga Naruto.
"Hn," Sasuke mengangguk singkat.
"Ayo," Naruto mengajak Sasuke masuk.
"Sini kopermu," Sasuke mengambil alih koper yang tadinya ditarik Naruto.
Tok-tok-tok!
"Obaa-chan… Obaa-chan… Sumimasen—" teriak Naruto didepan pintu putih yang berdiri kokoh dihadapan mereka.
"Ano—" tiba-tiba sebuah suara menghentikan usaha Naruto memanggil Obaa-chan-nya. "Chiyo-sensei sedang tidak dirumah."
Naruto dan Sasuke membalikkan badan menghadap sesosok gadis dengan rambut pirang pucat panjang yang diikat tinggi dengan poni yang menutupi sebelah matanya. Di tangannya terdapat sebuket bunga dengan bermacam-macan jenis dan warna.
"Ino-chan!" histeris Naruto tiba-tiba dan berlari menuju sosok yang berdiri di depan pagar.
"Naru-chan?" kaget gadis itu .
"Hisashiburi… Kau tambah cantik saja," kedua gadis cantik itu saling berpelukan.
"Kau bisa saja," wajah Ino bersemu merah.
"Ah, kenalkan. Ini temanku di Konoha," Naruto memperkenalkan sosok raven rupawan di sebelahnya pada gadis yang merupakan teman dari kecilnya itu.
"Hn. Uchiha Sasuke," Sasuke mengulurkan tangan.
Tiba-tiba mata Ino membelalak dan cepat-cepat membungkuk dalam, "Hajimemashite Uchiha-sama. Saya Yamanaka Ino, adik dari Yamanaka Deidara, sekretaris Uchiha Itachi-sama."
"Hn, jadi kau adik Deidara-san. Hajimemashite," Sasuke tersenyum simpul.
"Terimakasih untuk bantuan anda sekeluarga yang berkenan mempekerjakan kakak saya di perusahaan anda," ucap Ino tulus.
"Iie, aku yang seharusnya berterimakasih pada Deidara-san. Kalau bukan karena bantuan dia, aku tak mungkin bisa berada di sini sekarang," ucap Sasuke.
Sasuke dan Ino akhirnya bercakap-cakap seakan mengacuhkan keberadaannya yang tepat berdiri disamping Sasuke. Entah mengapa hatinya bergemuruh melihat dua sahabatnya akrab. Dilangkahkannya kakinya kembali memasuki pekarangan sempit rumah obaachannya. Tapi langkahnya terhenti ketika sebuah tangan pucat mencekal sebelah lengannya. Tangan itu bergerak perlahan tapi pasti, menautkan jemarinya dengan jemari Naruto.
"Aduh, maafkan saya Sasuke-sama. Anda pasti lelah setelah perjalanan panjang, tapi saya malah mengajak anda ngobrol panjang," ujar Ino.
"Tidak apa-apa," jawab Sasuke. Tumben-tumbenan pemuda ini betah ngobrol dengan orang lain dan bersikap ramah.
"Naru-chan, duplikat kunci rumah Chiyo-sensei ada dirumahku. Aku ambil sebentar ya," Ino berlari memasuki rumahnya yang terletak di sebelah rumah Obaa-chan Naruto. Naruto hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Tumben kau bersikap ramah pada orang lain?" tanyanya tiba-tiba pada pemuda disampingnya yang masih memasang wajah ramah.
"Hn? Kau cemburu?" godanya dengan tatapan jahil.
"…" Naruto terdiam sesaat. "Aku tak punya hak untuk cemburu pada gadis manapun yang mendekatimu, kan?" jawabnya datar.
"Hn," Sasuke hanya mendengus mendengarkan jawaban Naruto.
"Lalu?" Naruto menatap tangannya yang masih bertautan dengan tangan Sasuke. "Sampai kapan kau mau menggenggam tanganku?"
"Kalau kau tak mau, lepaskan saja," celetuknya sambil menatap sapphire didepannya.
Wajah Naruto bersemu merah. Gadis pirang itu langsung menghentakkan lengannya yang tadi digenggam Sasuke dan segera berlari menuju rumah Ino.
"Huwa!" Ino kaget saat menemukan Naruto yang sudah berdiri didepan pintu rumahnya ketika dia membuka pintu. "Kau mengagetkanku saja, Naru-chan," ucapnya.
Sedangkan sosok itu hanya menampilkan cengiran khasnya dengan tiga guratan disetiap sisi yang semakin jelas.
"Ini kuncinya," Ino menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan kalajenking merah.
"Ah, arigatou Ino-chan," Naruto berbalik dan siap melangkah pergi ketika,
"Naru-chan," panggilan Ino menghentikan langkah kaki Naruto.
"Ya?"
Ino melangkah perlahan mendekati Naruto dan menarik perlahan wig pirang panjangnya hingga terlepas.
"Kenapa?" tanya Ino dengan wajah miris.
"Kau tahu?" Naruto membelalak.
Ino mengangguk, "Chiyo-sensei, dan Shuu-niichan juga sudah tahu," Ino menatap Naruto yang penampilannya kembali seperti semula. Gadis cantik berambut kuning cerah dengan potongan tak terlalu pendek, dengan mata sejernih lautan tenang.
Naruto tertawa miris, matanya mulai keruh terkontaminasi air garam yang keluar dari kelenjar air matanya, "Ternyata tak ada gunanya aku membeli wig panjang. Toh obaachan ternyata sudah mengetahuinya, kau, bahkan Shuu-niichan juga sudah tahu." Permata bening mulai menetes satu persatu dari bola mata itu.
"Kenapa?" tanya Ino lagi.
Naruto hanya menunduk dan diam seribu bahasa.
"Kenapa kau menyembunyikan jati dirimu?"
"Darimana kau tahu?" Naruto menatap Ino.
"Kyuubi-niisan," jawabnya pendek tanpa maksud menyembunyikan apapun dari teman bermainnya sewaktu kecil itu.
"Dasar aniki bermulut ember," tawanya hambar sambil mendongak ke langit untuk menghentikan aliran airmatanya.
"…" Ino hanya terdiam melihat Naruto yang dari dulu dikenalnya tegar dan kuat kini berlinangan air mata. Pasti sudah banyak kesulitan yang dialaminya selama dua tahun terakhir.
"Padahal dia juga menyuruhku potong rambut," bisiknya yang terdengar jelas oleh Ino.
Perlahan, tangan Ino menggapai puncak kepala pirang Naruto. "Naru-chan—"
"Naruto," suara Ino terpotong oleh suara lain.
Kedua gadis itu berbalik, dan mendapati sosok raven nan rupawan sudah berdiri di ambang pagar kediaman Yamanaka sambil menarik troli koper Naruto.
"Sa-Sasuke," buru-buru Naruto menghapus airmatanya.
"Kau kenapa?" tanyanya sambil memegang pundak Naruto.
"Ehe, tidak apa-apa. Aku hanya kelilipan."
"Kubilang jangan bohong padaku!" kata Sasuke tegas sambil menatap mata biru Naruto yang mengeruh.
Sasuke memandang wig yang kini digenggam Ino.
"Kau sudah tahu?" Sasuke memandang Ino dengan tatapan yang susah ditebak.
Ino mengangguk perlahan dan memandang Naruto dengan tatapan miris.
Sasuke melangkah mendekati Naruto dan mulai mengacak-acak rambut pirang berantakan milik gadis orange itu.
"Sudahlah, aku lebih suka kau apa adanya," ujar Sasuke lembut.
Naruto hanya menunduk dalam diam.
"Chiyo-sensei mengerti alasanmu memilih hidup seperti ini selama dua tahun belakangan ini, Naru-chan," Ino angkat suara.
Naruto menghapus air matanya, berbalik menghadap Ino dan tersenyum. "Arigatou, Ino-chan," ucapnya tulus.
"Un," Ino mengangguk. Keduanya kemudian berpelukan erat.
Naruto segera melepaskan pelukannya dan berkata, "Ah, baiklah. Sebaiknya aku meletakkan barang-barangku ke rumah Chiyo-baachan dulu. Nanti kita ngobrol lagi ya," ujarnya sambil melangkah keluar dari pekarangan rumah keluarga Yamanaka.
"Ah, sebelumnya, Naruto," Ino menarik lengan Naruto dan berbisik di telinganya.
"Sepertinya, Chiyo-sensei tidak akan pulang mala mini. Jadi, mala mini kau dan kekasihmu yang tampan itu bisa berduaan sampai nanti malam," bisiknya dengan nada jahil.
Paras Naruto sontak memerah, "Kau apa-apaan sih, Ino," Naruto langsung memukul kepala Ino.
TAK!
Dan gadis itu hanya nyengir sambil memeletkan lidahnya.
"Ada apa lagi, Naruto?" tanya Sasuke yang heran melihat wajah Naruto yang mendadak bersemu.
"Ti-tidak ada apa-apa! Sudahlah, ayo pergi dari sini!" Naruto melangkah cepat menginggalkan Ino dan Sasuke di belakangnya.
Sasuke hanya heran memandang Naruto yang moodnya berubah-ubah sepanjang hari ini. "Apa gara-gara jet-lag?" batinnya.
"Sasuke-sama, tolong jaga Naruto untukku. Dia itu tak setegar penampilan luarnya," mohon Ino sambil memandang Sasuke penuh harap.
"Hn. Percayakan padaku. Aku takkan meninggalkannya sendiri," ucap Sasuke mantap sambil melangkahkan kaki menyusul Naruto yang sudah memasuki rumah Obaasan-nya.
Ino membungkuk dalam penuh terima kasih.
.
OOOoooOOOoooOOO
.
Naruto yang sejak satu jam yang lalu terkapar kecapean tak menyadari sesosok raven datang menghampiri tubuhnya yang hanya dilapisi selembar kaos oblong dan celana pendek diatas lutut. Tatapan mata onyxnya mulai menjelajah dari ujung kaki jenjang Naruto, perlahan naik ke arah paha mulus Naruto yang biasanya tertutupi oleh celana jeans panjang selama di lingkungan kampus. Pinggang rampingnya yang sedikit tersingkap dapat menggoda iman setiap remaja sehat untuk memeluk, meraba dan menyentuhnya. Dada dan pundaknya yang naik-turun beraturan menyatakan dengan tegas bahwa gadis berparas manis itu sedang terlelap dengan nyenyaknya. Maklum saja, perjalanan selama 5 jam diatas pesawat membuat siapapun letih.
Perlahan mata pemuda rupawan itu berpindah memandang leher jenjang sosok yang sedang terlelap dengan damai itu. Jantungnya yang berdentum kencang serta jalan pikirannya yang mulai merambat ke arah yang tidak-tidak serasa berusaha mengambil alih kesadarannya.
"Cium dia, Sasuke. Kecup bibirnya. Tinggalkan jejak kepemilikanmu di lehernya yang menggoda itu. Kau lihat pinggang rampingnya itu? Tak inginkah kau merabanya. Apa kau tak ingin merasakan kaki jenjangnya beradu dengan tubuhmu? Tak inginkah kau mendengarkan suara menggodanya saat dirimu berada dalam dirinya?"
Perlahan pemuda rupawan itu melangkah mendekati sosok yang kini terbaring itu. Tubuhnya sedikit-demi sedikit mulai condong kedepan, menuju wajah gadis yang terlelap itu.
"Naruto," bisiknya perlahan.
"Hngh," erangan tertahan keluar dari bibir ranum gadis itu.
Perlahan lengan pucatnya bergerak perlahan menyentuh hamparan lembut mahkota berwarna kuning itu. Menyisipkan jemarinya diantara helaian yang kini bergoyang perlahan searah hembusan angin yang bertiup dari pintu geser yang terbuka lebar di rumah besar bergaya kuno itu.
"Naruto, sebaiknya kau pindah tidur ke kamar. Nanti kau masuk angin," ucapnya lembut.
"Hengh, sebentar lagi, 'Suke. Aku masih mengan—," suaranya yang berbisik perlahan menghilang. Gadis itu kembali terlelap dan masuk kembali ke alam mimpi.
Perlahan Sasuke menyisipkan lengannya ke belakang leher dan lipatan lutut Naruto dan membopongnya menuju sebuah kamar yang tak jauh dari sana.
"Dasar ceroboh! Tak ada pertahanan sedikitpun," rutuk Sasuke setelah membaringkan Naruto diatas futon yang terhampar di tengah kamar.
Naruto perlahan menggeliat di atas futon dan mengigau perlahan. "Baka aniki, aku pasti jadi anggota tim Nasional," erangnya.
Sasuke hanya tersenyum mendengar igauan yang diucapkan tak jelas oleh Naruto.
"'Suke," igau Naruto lagi.
"Hn," jawab Sasuke sambil membelai rambut Naruto.
"Suki—,"
"Eh?" mata Sasuke terbelalak mendengar sepotong kata yang keluar dari bibir Naruto.
"—yaki," lanjut sosok itu.
Sasuke menghela nafas panjang sambil memijat perlahan pelipisnya. Debaran jantungnya yang sesaat tadi bergemuruh, darahnya yang tadi tiba-tiba berdesir kini perlahan kembali ke ritme normalnya.
"Kau ini," rutuknya pada sosok yang kini kembali menggeliat diatas futon empuk itu.
Sasuke kembali memandang sosok yang terlelap dengan nyenyaknya itu. Entah kenapa dia rindu wajahnya diukir didalam sepasang safir yang kini tertutup itu. Dia rindu suara yang selalu memanggilnya 'Teme' itu. Dia rindu senyuman rubah yang memperlihatkan tiga pasang guratan di kedua pipi gadis berkulit tan itu. Padahal gadis itu ada di hadapannya, tapi entah mengapa sesaat terasa begitu jauh.
Dia bukanlah siapa-siapa bagi Naruto. Dirinya hanya seorang teman yang dua tahun belakangan ini kebetulan dekat dengan sosok rupawan yang bercahaya di tengah lapangan itu. Dirinya tak lebih dari seorang teman yang selalu berusaha menjadi yang didepan dihati gadis itu. Tapi, dirinya tak tahu apapun soal gadis itu, keluarganya, lingkungannya dibesarkan, bahkan hidupnya sebelum mereka bertemu.
Pemuda raven itu sadar. Sadar bahwa dia tak punya hak apapun terhadap gadis di depannya. Tak punya peran apapun dalam hidup seorang Namikaze Naruto. Hanya karena ketidak-mau-tahuannyalah ia masih punya muka berada disebelah sosok mempesona itu. Hanya karena keegoisannyalah dia nekat mengejar sosok itu hingga ke pulau selatan ini.
Sasuke tertawa hambar, "Aku yang egois ini masih berani berada di samping sosok indah sepertimu benar-benar tak tahu malu."
Helaian pirang yang lembut itu kembali diraih jemari pucat Sasuke. Disingkirkannya helaian yang menutupi paras cantik gadis tomboy itu. Perlahan diusapnya pipi lembut itu dengan jemari pucatnya sambil menatap lembut sosok gadis yang disukainya sejak lebih dari setahun lalu itu. Digesekkannya permukaan ibu jarinya ke permukaan lembut bibir gadis itu. Wajahnya perlahan condong kedepan dan berhenti tepat di depan bibir yang kini sedikit terbuka itu.
"Naruto, bolehkah aku yang egois ini mencintaimu?" bisiknya perlahan dengan segenap perasaan yang meletup-letup bagai kembang api yang terbakar di malam musim panas.
Didaratkannya bibirnya ke permukaan lembut yang sedikit kering itu. Perlahan pemuda raven itu melumat bibir bawah sang gadis yang terlelap bak putri tidur yang menunggu sang pangeran berkuda putih membangunkannya. Bibir itu dilumatnya perlahan dan sepenuh hati. Dijilatnya permukaan bibir yang mulai tampak sedikit merona itu saking kuatnya sang pemuda menghisapnya. Siapa sangka sang gadis yang tertidur itu mulai mengerang perlahan dan membalas ciuman sang pangeran. Akhirnya, lidah Sasuke dengan sigap menerobos bibir Naruto yang sedikit terbuka dan menginfasi apa yang ada dalam rongga lembab itu. Lidah mereka saling bergulat lembut, tak ada yang berusaha mendominasi dan didominasi. Semua mengalir mengikuti degupan jantung mereka yang mulai seirama.
Merasa kalau gadis yang diciumnya mulai kehabisan nafas, diakhirinya ciuman penuh cinta itu dan beralih megecup pipi, kelopak mata, rahang, hingga leher sang gadis yang masih tertidur dengan sedikit terengah-engah kehabisan nafas. Sasuke membenamkan kepalanya diantara perpotongan leher dan pundak Naruto, menghirup dalam aroma citrus yang menguar dari tubuh sang gadis. Aroma memabukkan yang sangat disukainya.
Sasuke tertawa perlahan, dan mengangkat kepalanya dari leher Naruto, "Kalau lebih dari ini, aku tak akan bisa bertahan untuk tidak menyerangmu, Dobe. Pertahananmu benar-benar tak ada," bisiknya perlahan.
.
OOOoooOOOoooOOO
.
Semburat kemerahan terpeta jelas di permukaan wajah gadis berkulit tan itu ketika saat terjaga dari mati surinya menemukan sosok raven yang terbaring di sampingnya dengan begitu lelap. Matanya berkedip beberapa kali untuk meyakinkan bahwa pemandangan di hadapannya itu nyata adanya. Sosok rupawan yang terlelap disebelahnya dengan posisi menyamping dan wajah mereka hanya terpaut sedikit jarak.
Gadis manis itu menatap lekat sosok rupawan itu. Baru disadarinya betapa tampannya sahabatnya itu. Rambut lembut yang berwarna legam, kulit putih bersih bak porselen, hidung bangir, mata kelam yang kini terlihat tertutup selopak mata dengan bulu mata yang panjang. Bibir merah yang membuat setiap wanita ingin mencium dan mendapat ciuman dari sang pangeran tampan.
"Hngh, Naruto," igauan Sasuke membuat jantung Naruto tiba-tiba berdentum kencang.
Tubuh Sasuke perlahan beringsut mendekat pada tubuhnya yang masih terbaring diatas futon. Lengan pucat Sasuke melingkar ke pinggang rampingnya, wajah tampannya menyusup masuk diantara perbatasan leher dan pundaknya dan mulai menggigit kecil area sensitive disana dan apa yang dilakukan Naruto? Dia hanya mampu mengerang tertahan dan menggeliat sambil berpegangan pada rambut belakang pemuda raven itu.
"Hen-tikan, Sasuke," erangnya tertahan.
"Naruto… Naruto… Naruto," igauan itu semakin menjadi dan Naruto semakin kewalahan menghalau tangan Sasuke yang mulai menggerayangi tubuhnya dan menciumi lehernya dengan liar.
"Gyaaaa!" teriak Naruto keras ketika terjaga dari mimpinya. Nafasnya memburu, wajahnya panas, matanya menjelajah pemandangan disekelilingnya dan tertumbuk pada sosok raven yang terlelap di sebelahnya.
"Hngh, apa kau tak bisa tenang sedikit, Dobe? Aku masih mengantuk," rutuk sosok raven itu mulai membuka matanya.
Naruto yang terkaget langsung mendudukkan diri dengan cepat.
"A-aku siapkan makan malam dulu," ucapnya terbata dan segera melangkah meninggalkan Sasuke yang masih terbaring di tepi futon.
Sasuke memandang Naruto dengan sedikit rona merah di pipinya.
"Untung kau segera terbangun, kalau tidak aku tak tahu apa yang terjadi padaku dan dirimu," bisiknya lirih sambil membenamkan wajahnya di dalam bantal yang sesaat tadi masih dipakai Naruto.
.
OOOoooOOOoooOOO
.
Harum masakan perlahan menghampiri hidung bungsu Uchiha yang sedang kelaparan setelah mandi. Ketika kakinya mencari sumber wangi yang membuat perutnya berteriak kelaparan itu, dirinya menemukan sosok gadis berambut pirang pendek yang berdiri membelakanginya. Tubuh semampainya dibalut apron putih dengan sedikit noda di beberapa tempat. Bibirnya menyenandungkan sebuah lagu yang tak terlalu diketahui Sasuke. Mungkin itu salah satu soundtrack anime. Entahlah, dia juga tak terlalu yakin karena dia bukan tipe seseorang yang menyukai anime, tokusatsu, maupun game.
kimi wa ima nami danagashita nakijakuru kodomo no you ni
tatoe asu ga mienaku natte mo mamoru yo
natsu no sora miagete niranda
tsuyogatte bakari de namida wa misenai
hontou wa kowai kuse ni
taisetsu namo no wo ushinawanu you ni
hisshi de hashirinukete kita
itsudatte nagai yoru wo futari de norikoeta
kono mama issho ni irukara tsuyogattenai de iinda yo
kimi wa ima nami danagashita nakijakuro kodomo no you ni
tatoe asu ga mienaku natte mo susumu yo
natsu no sora miagete sakenda
natsu no sora miagete niranda
Entah karena perutnya yang terlalu lapar atau penglihatannya yang mulai memburuk. Di matanya, sosok Naruto yang sedang menggunakan apron itu terlihat seperti seorang istri yang sedang memasak untuk sang suami.
"Ah, Suamiku. Sebentar lagi makanan siap," ujar Naruto sambil menoleh pada sosoknya sedang berdiri di ambang pintu ruang makan.
"…," Sasuke hanya terdiam dan tak mengatakan apapun.
"Suamiku? Kau kenapa?" Naruto berjalan menghampirinya.
"Suamiku? Sua—," pandangan Sasuke mulai memburam.
"—suke? Sasuke? Kau kenapa?" Naruto bertanya pada sosok rupawan yang pandangannya kosong selama beberapa saat tadi.
"Ti-tidak ada apa-apa," ucapnya sedikit terbata sambil melangkah menuju meja makan yang sudah terhidang beberapa menu.
"Ayo, kita makan," ucap Naruto sambil membawa nampan berisi Chicken Katsu, dua mangkuk Udon Kuah Daging dan semangkuk Agedashi Tofu.
"Memangnya ini bisa dimakan?" tanya Sasuke dengan nada sedikit meremehkan.
"Kau cicipi dulu baru protes," jawab Naruto dengan senyum di bibirnya. Sepertinya dia cukup percaya diri dengan hasil masakannya.
"Hn," Sasuke meletakkan handuk kecil yang tadi tersampir di pundaknya di sandaran kursi makan yang kosong. Tangannya menggapai semangkuk nasi yang telah disodorkan Naruto ke hadapannya.
"Arigatou," ucapnya singkat sambil memandang hidangan yang ada di atas meja. Matanya tertumbuk pada satu hidangan yang janggal.
"Ramen?" tanyanya sambil memandang Naruto yang sedang menyendokkan nasi ke mangkuknya.
"Iya. Memangnya kenapa?" jawab gadis pirang itu santai.
"Ramen sebagai lauk makan malam?" tanya bungsu Uchiha itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Siapa bilang itu lauk? Itu makanan penutup untukku," protes Naruto.
Sasuke tahu kalau Naruto seoorang penggila Ramen. Tapi, ramen sebagai makanan penutup di malam hari cukup untuk membuat seorang gadis menjadi gumpalan daging yang berlemak.
"Kau yakin, Naruto? Apa kau tak takut gemuk?" tanya Sasuke meyakinkan sahabatnya itu.
"Tenang saja. Aku bukan tipe orang yang mudah membengkak. Lagi pula aku juga tak perlu takut gemuk karena setiap hari aku selalu berolahraga dengan teratur," jawabnya enteng sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Tahu Sasuke masih memandangnya dengan heran, Naruto meletakkan sumpit dan mangkuknya.
"Ini memang makanan wajibku setiap malam, Sasuke. Apa aku terlihat gemuk selama ini sehingga kau merasa terganggu dengan ramen-ku?" ucapnya sambil memberi penekanan pada kata Ramen.
Sasuke menghela nafas panjang, "Maafan aku. Aku Cuma sedikit terkejut dengan pola makanmu. Ku kira kau tipe gadis yang menjaga pola makan dimalam hari. Soalnya kulihat tubuhmu kurus walau porsi ramenmu di siang hari membuat semua teman-teman kita kaget."
Naruto memamerkan cengiran rubahnya, "Selama otak dan otot kita bekerja, tak perlu takut makanan yang sebanyak ini bertumpuk dibawah kulit dan menjadi lemak tak jenuh, kan?"
Sasuke tertawa dan mengiyakan kalimat Naruto barusan. Sasuke meraih sumpit yang tertata diatas meja makan dan mengambil Agedashi Tofu yang terhidang dan menyuapkan ke mulutnya.
"Hmm, enak!" celetuknya cepat ketika rasa sedap menyentuh lidahnya.
"Apa ku bilang. Cicipi dulu, baru kau boleh protes," cengiran rubah kembali menghiasi wajah Naruto.
Sasuke mencoba semangkuk Udon kuah daging yang terhidang. Lezat. Begitu pikirnya.
"Bagaimana rasa Chicken katsu-nya? Karena kutahu kau penyuka sayuran, jadi kuperbanyak acar lobaknya," ucap Naruto.
Sasuke tersenyum bahagia saat tahu Naruto mengetahui kesukaannya. "Luar biasa," ucapnya pendek saat mencoba memakan Chicken Katsu beserta acar yang disajikan Naruto.
"Ah, tadi aku membuat jus tomat, tapi sedang kudinginkan di kulkas. Nanti kau bisa mengambilnya,"
"Terimakasih, Naruto," ucap Sasuke tulus.
"Seharusnya aku yang berterima kasih. Soalnya aku hanya bisa menyajikan ini untuk makan malam. Tapi kau tak memprotes apapun. Yah, mungkin makanan di rumahmu jauh lebih mewah. Tapi, makanan ini cukup layak untuk dimakan, kan?" ucap Naruto dengan sedikit semburat kemerahan dipipinya.
"Aku malah merasa masakanmu jauh lebih enak dari masakan koki di rumahku,"
"Benarkah?" ucap Naruto dengan rona bahagia di wajahnya.
"Hn. Kau sudah pantas menjadi seorang istri,"
Muka Naruto mendadak memerah. "Ma-mana ada yang mau meminangku. Aku kan jelek," ucapnya sambil menunduk malu.
"Kalau tak ada yang mau meminangmu, biar aku—," kata-kata Sasuke terpotong oleh bel yang berbunyi.
Ting-Tong.
"Ah, sepertinya Obaa-chan sudah pulang," Naruto segera beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu masuk.
Ting-Tong.
"Ya, sebentar,"
Naruto kaget dan membelalakkan mata ketika membuka pintu masuk dan menemukan sosok itu di depan pintu.
.
.
To Be Continued
.
.
Yosha! Selesai… Maap kalau banyak TYPO yang tak tersortir. Lalu untukbalasan Review yang datang, saya akan menyerahkan kehormatan ini pada Sasuke. Yak, silakan Sasuke. *ngasih mike*
.
Hn, langsung saja.
Dari Ren-Mi3 NoVantA yang menanyakan perihal Neneknya si Dobe (melirik Naruto). Masih lama,mungkin 13 chapter lagi (ditampar Author). Next!
Dari kanata D. renkinjutsushi. Asal kau tahu, kalau dia bukan calon ayah mertuaku, sudah lama kubunuh dia! (sharingan active) Next!
Kimmy no Michiku masih penasaran? Tetaplah mengikuti perkembangan yang ada! Next!
Lalu, dari Yuna Claire Vessalius Kusanagi. Wajah Shuukaku? Satu hal yang pasti! Aku jauh lebih tampan daripada pemuda bodoh itu!
Selanjutnya! CCloveRuki. Tak perlu terlalu mengharapkan Kyuubi, karena aku akan melindungi Naruto dengan nyawaku! Next!
only-K! Kamu mau kuserang dengan Chidori? (death glare) Jangan sentuh Naruto! MENJAUH!
Haru no Yuuchan999 yang mminta anikiku dan aniki-nya Dobe menjadi pasangan? (glare) Dalam mimpi! Ini Fict Straight! (Ditendang Auhor, "Apa kau tak bisa bicara lebih sopan dan ramah, U-CI-HA!" *glare*)
Micon. Kau takkan rugi nyasar di fict ini. NEXT!
Kim D. Meiko, hipotesismu salah! (ditendang Author 'lagi')
Lalu, ukkychan. Mau membantuku membunuhnya? (smirk)
Chiraeru el Zuwet, Author memang Ratu ceroboh. (Author nyengir di sudut)
Lalu, icha22madhen. Apa yang kau tertawakan? Next!
Aoi no Kaze, ini udah di Update. Next!
Delta Alpha Fujoshi, jangan marah padaku setelah baca Chapter ini.
ichiko yuuki, Selama bersamaku, Dobe takkan menderita.
Next! Shanera Sabanami, sudah di Update!
ByuuBee, penggemar Kyuubi (Kyuubi nyengir di sudut ruangan sambil membungkuk berterima kasih). Next!
naomi arai, Kyuubi memang membingungkan. Tak ada yang tahu apa rencana-nya yang sebenarnya.
Yukira, sudah di Update!
Last, dari Kazuki Namikaze. Semalam kamu mimpi makan dengan Gai-sensei. (tutup buku dan melangkah pergi)
.
.
Sasuke: Tugasku Selesai!
Author: *swt*
Naruto: Kenapa kau tak bisa sedikit lebih ramah, Teme!
Sasuke: Hn *melangkah pergi*
Naruto: OTL
Saya tunggu review-nya untuk Chapter ini
m(_ _)m
