Disclaimer: -pergi ke paranormal untuk nyantet Odachi- kemenyan tujuh rupa yang diambil dari tujuh sumur yang berada di tujuh benua di dunia… tapi gak mempan juga… -stress sendiri dan coba bikin fanfic geje-
Summary: Gara-gara Nami… mereka diusir dari bioskop. Mugiwaraners pun kecewa, tapi si ceria Luffy membangkitkan kembali semangat teman-temannya, dan mengajak mereka ke pantai!! Gimana kegilaan mereka selanjutnya ya? Virus kocak dan romance/friendship masih menempel di fanfic ini…
A/N: Bagi yang tidak suka Sanji x Margaret saya sarankan jangan membaca fanfic ini… O, ya, disini juga a lil OOC.
__CHAPTER THREE__
Weekend the second: BEACH, Sanji's Girlfriend?
Franky terus mengomel sepanjang jalan ia menyetir mobil. "Cih, uangku melayang, dan kita belom sempet menonton apa-apa…" gumamnya yang ke 8.565 kali.
"Tauk tuh! Gara-gara sapa sih?" ledek Ussop melirik Nami.
"KOK NYALAHIN GUE??!" sewot Nami melipat kedua tangannya di depan dada.
"Nami, udah jelas elo yang tadi bikin keributan…" sela Luffy. "Wajah gue yang ganteng jadi korban laknat elo…"
"Ngaca lo!! Kata sapa lo ganteng!!" komen Sanji menarik pipi Luffy. "Gantengan gue!"
"Hoekkk…" ledek Zoro.
"Kenapa lo?! Pake 'hoek'-'hoek'an segala?!! HAH?!"
"Zoro hamil kali…" komen Chopper ketawa-ketiwi.
"APA LO BILANG??!!!" marah Zoro ngacungin pedang kendo ke arah leher Chopper. Chopper semaput.
"Ussop! Kasih napas buatan!!" panik Nami.
"Idih… najis…" sahut Ussop ogah-ogahan.
"Oya, oya, biar aku aja!!" lompat Brook ke atas Chopper. "Napas buatan, RESCUE ONE!"
"EEMMMAAAAAAAAAKKKKKKKKK~!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" tereak Chopper berusaha nyingkir.
Brook ngerem dadakan, pas persis 2 cm lagi. "YOHOHOHOOOO!!! Aku sakti juga!! Belum aku kasih napas buatan dikau telah bangun!"
"BERISIK! ITU KARENA MULUT ELO TUH BAU TAU GAK!!" sewot Chopper nutup idung karena mulut Brook persis di depan lobang idung.
"Woy… jangan mesum di mobil gue…" komen Franky sambil nyetir.
Luffy yang ada di sampingnya menengok ke belakang, "Minna, jangan pada depresi gitu dong… gue tau Nami emang bersalah," Nami masang muka angker, Luffy tetep cuek, "…tapi kita kan gak bisa langsung bad mood hanya gara-gara dia kan??" tunjuknya pada Nami. Nami sempat hendak menggigit jari telunjuk Luffy, namun gagal.
Semua merenungi kata-kata Luffy. Kecuali Zoro yang asyik melanjutkan molornya.
"Bener juga… kita gak bisa bad mood gitu aja… this is our weekend's vacation!" setuju Robin.
"Yah, minna, maafin aku yah… udah ngehancurin weekend kita…" sesal Nami.
"Wah!! Rekor!! Biasanya lo dua hari kemudian baru dateng en minta maaf! Sekarang kok cuman dua jam setelah kejadian ya?" kagum Ussop manggut-manggut.
"BERISIK!" sangar Nami.
"Udah lah guys, Nami juga udah minta maaf kan?" bela Luffy. "Hey, Franky, gimana kalo kita langsung ke pantai aja? Mumpung masih pagi juga nih!"
Franky melirik jam tangannya, "Iya sih, baru jam 11… Gimana, minna? Mau ke pantai aja?"
"OOOWWWWKEEEEEHHH!!!!!" respon mereka dengan semangat.
EVENT TWO: GrandLine's Great Largest Beach In The World…
"YAAHHHHHHHHHOOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!!!!!!" teriak Luffy dari arah tengah laut sambil berselancar sekalian tebar pesona di depan cewek-cewek yang ENGGAK ngelirik dia sama sekali.
"Luffy, hati-hati kecebur!" seru Nami memperingatkan dari arah kedai. Robin yang ada di sampingnya tertawa kecil melihat Luffy yang bergaya ke sana kemari.
"Hoy! Nami!! Liat gue!!!" seru Luffy melambai-lambaikan tangannya sembari bergaya dengan bersalto beberapa kali di atas papan selancarnya. Nami membalas sapaan Luffy,
"JANGAN BANYAK GAYA LO!! AWAS KALO KECEBUR! GUE GAK MAU NOLONGIN!!!"
Robin tertawa makin kencang. Tak lama, Sanji menghampiri dengan membawa beberapa minuman.
"ROBIINNN-CHWWAAAANNNN~! NAMI-SWAAAANN!!!" lebaynya kemudian.
"Ara… ara… Arigato…" senyum Robin. Sanji makin terpesona nan ngiler karenanya.
"Thanks," sambut Nami sambil mengambil minumannya. "Eng? Kok kayaknya gue gak liat Brook sama Franky?"
"Franky katanya sih gak mau liat laut, you know why 'kan? Jadi dia katanya lebih milih jalan-jalan ke tempat lain, nanti dia jemput kita lagi kok pas malem," sahut Sanji sambil mengambil duduk di sampingnya. "Kalo Brook dia ikut numpang sama Franky, trus katanya mau turun di tempat 'tenang'…" lanjutnya dengan menanda'kutip'kan kata tenang.
"'tenang'?" tanya Robin menirukan gaya Sanji menandakutipkan kata tenang.
"Yah… si tua bangka itu waktu cerita ke gue menandakutipkan kata tenang seperti yang gue lakuin barusan…"
"Pasti ke tempat mesum…" su'udzon Nami.
"Entahlah, menurut gue belum tentu juga…" khusnudzon Robin.
"Yah, apapun itu, kita terpaksa bersenang-senang tanpa mereka…" cool Sanji menghirup rokoknya.
Selang beberapa menit, seorang cowok berperawakan macho dengan tampang ngantuk dan gak mutu datang menghampiri mereka. Rambut ijonya yang diterpa sinar matahari tampak basah.
"Dari mana lo? Basah kuyup gitu?" sapa Sanji.
"Berisik! Gue ke sini bukan mau liat tampang elo, tau gak!"
"Kok lu sewot sih?!"
"DIEM!! Robin, ayo!" Zoro dengan tiba-tiba menarik tangan Robin menjauh dari Nami dan Sanji tanpa mempedulikan Robin yang berulang kali mengeluh kesakitan karena tenaga babon Zoro yang menggenggam pergelangan tangan Robin terlalu kuat.
"Hoy! Marimo! Lembut dikit sama cewek!"
"Iya, Zoro! Kasian Robin!" timpal Nami. Tapi terlambat, dua orang itu sudah menjauh dan menghilang dari sudut perspektif pandangan mereka.
Nami dan Sanji mendengus lelah.
"Ano ahou…" komen Sanji.
"Dasar Zoro… dia memang sering Mr. Ius…" komen Nami setelah memangku kepalanya di tangan kanannya.
"KYAAAAA~~!! Kamu kan Sanji dari klan bangsawan itu kan~??" teriak dua orang cewek.
Sanji cengir tebar pesona, "Ya, nona, ada yang bisa saya bantu?" responnya dengan lagak sok cool. Melihat itu, Nami menahan sekuat tenaga rasa mual.
"KYAAAAAA!!! Gantengnya~!!" teriak dua cewek itu berbarengan dengan pipi super merah dan wajah diimut-imutin. Nami pun udah gak kuat nahan mual.
"Ya.. ya.. kalian mau mengobrol denganku? Mari… Mari…" bual Sanji kemudian pergi bersama kedua gadis itu meninggalkan Nami yang pengen muntah sesegera mungkin.
"Cih, sialan, gue ditinggal sendiri…" gumam Nami. Ia pun hanya melanjutkan menyeruput minumannya, kemudian memperhatikan Luffy yang sedang bermain sama Ussop dan Chopper lari-larian trus guling-guling geje di pasir. Nami sweatdrop.
Meanwhile, Robin and Zoro's place…
"Duuuh… Zoro…! Apa-apaan sih lo!! Sakit tau gak!!" keluh Robin memegangi pergelangan tangannya yang memerah. "Lo belom potong kuku ya? Tangan gue sampe sakit gini…"
"Maaf," sesal Zoro. Ia menatap Robin dengan lembut.
Robin menaikan alis kanannya tanda bingung. "Lo kenapa sih? Aneh banget deh…" responnya sambil bertolak pinggang dan mencoba menganalisis Zoro yang sedang asyik menatapnya.
"Em, gue… cuman mau…" Zoro angkat bicara. "Gue… mau…"
Robin memandangnya dengan serius menunggu lanjutan Zoro.
"Gue…" Zoro nerpes, eh, nervous. Ia menelan ludahnya. "…mau…"
"Mau apa, Zoro?" sabar Robin menunggu jawaban.
"Euh…" sahutnya, "Gue lupa…"
GUBRAK!!
"Udah gue tungguin dengan seksama, lo malah lupa!" sewot Robin berusaha berdiri.
Zoro memukul tangannya dengan kepalan tangan satunya lagi, "Oh, ya! Gue mau ngajak lo ke batu karang sebelah sana!" tunjuknya ke arah belakang kemudian.
"Batu karang?"
"Iya, waktu gue jalan-jalan (baca: nyasar) tadi, gue nemu batu-batu karang yang bagus. Lo bilang lo suka batu-batu unik kan?"
"Em, iya sih… ya boleh juga… Let's go!" ajak Robin. Zoro mengangguk dan memimpin jalan. Robin sebenernya kurang percaya sama Zoro (yang masih ga bias bedain mana utara mana selatan) untuk memimpin jalan, tapi apa boleh buat.
Sanji's Place…
Suara cewek-cewek ketawa-ketiwi membahana di cafe. Tampak Sanji ikut tertawa sambil merangkul mereka.
"Silahkan, ini es krim yang anda sekalian pesan…" seorang pelayan berambut pirang pendek dengan matanya yang indah tersenyum lembut.
"Oh, thanks…" respon Sanji. Ia memandang pelayan itu. "Wow… manisnya…"gumamnya dengan suara sangat rendah. Pipinya memerah.
"Sanji-sama? Anda tak apa-apa?" panggil salah seorang cewek yang sedang dirangkulnya. Sanji tetap tak menggubrisnya meskipun cewek itu melambai-lambaikan tangan di depan wajah Sanji yang masih terpana melihat pelayan itu pergi.
"Sanji-sama?" teriak yang satunya lagi. Tak lama… "SANJI-SAMAAAAAA!!!!!!!!!" mereka berdua pun dengan kompaknya menabok Sanji, karena mengira Sanji kenapa-napa. Yah, mungkin jantungan dadakan atau semacamnya.
"Eh, permisi ya… aku mau ke toilet dulu, permisi nona-nona…" ujar Sanji tiba-tiba dan melengos meninggalkan kedua cewek itu cengo gak bermutu.
"Hey! Nona!" panggil Sanji mencoba memanggil cewek manis tadi. Namun, malang, cewek itu sudah pergi entah kemana. Mungkin ke dapur? Sanji pun mencarinya ke sana. Tapi cewek yang ia cari gak ketemu. "Aneh… perasaan gue tadi liat dia ke sini…" gumamnya sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Tuan? Apa yang tuan lakukan disini?" seorang koki menyapanya dengan wajah heran.
"Eh, maaf, aku sedang mencari seseorang. Kira-kira tingginya segini," ia mensejajarkan tangannya tepat di samping pelipisnya, "dan dia memliki rambut pirang pendek seperti aku…"
"Anu tuan, apa ada spesifikasi ciri-ciri lagi? Soalnya yang rambutnya pirang dan tingginya segitu ada dua…" ia menunjuk pada seorang cewek badan besar, bertato, dan tampang yakuza di belakangnya yang sedang memotong beberapa bahan makanan dengan telatennya. "…yang itu bukan? Namanya MOGI…"
Si koki bertato itu pun menengok dan menyeringai ngeri (maksudnya senyum, tapi menurut Sanji itu seringai). Sanji berteriak histeris 'NNNOOOOOOOOO~!'.
"Eh, bukan ya tuan?" tanya koki itu. "Em, kalo begitu mungkin yang anda maksud adalah Margarett…"
"Margarett? What a beautiful name! Maaf, kalo boleh tau dimana dia sekarang?" tanya Sanji sambil menganalisa ruang dapur.
"Ah, dia pasti sekarang di tempat kasir." Setelah diberi tahu, Sanji pamit pergi. Tapi kepergiannya pun tak lepas dari 'kiss bye' koki yakuza cewek bernama Mogi itu, dan berulang kali mengatakan 'BYE GANTENG~!'. Sanji pun sempat mengidap depresi berat.
Sanji berlari menuju kasir. Tapi tetap, yang dicarinya tak ada. Yang ada hanya seorang cowok berperawak tinggi besar.
"Permisi…" sopan Sanji.
"Ya? Anda mau pesan apa?" tanya orang itu sambil menyiapkan daftar harga.
"Eh, anu, saya bukan mau pesan. Maaf, saya ingin bertanya apakah Margarett-san ada?"
"Oh, dia baru saja pulang. Kerja paruh waktunya telah habis." Jawab laki-laki itu datar.
"EH?? Pulang???" sontak Sanji. "Tapi…" ia menunjukkan sebuah kalung berbentuk kerang di tangannya.
"Well, kalau anda punya urusan penting dengannya, saya akan berikan nomor hapenya…" sahutnya kemudian menuliskan sesuatu di kertas kecil dengan pulpen usangnya. "Ini, silahkan…"
"Eh? Te-terima kasih…" Sanji pun pamit. Setelah sampai di luar, "Cih, hape gue ketinggalan di mobil Franky…" kesalnya. Dengan anteng, Sanji pun menyerobot hape seseorang yang sedang menggunakannya.
"HEY!! Mas! Itu punya gue!!" sewotnya sambil berusaha merebutnya kembali.
"PINJAM!!" respon Sanji menahan jidat orang itu. Ia pun memijit nomor yang tertera di kertas tersebut dengan super cepat. "Halo?"
"Ya?" terdengar suara lembut dari seberang sana. Mata Sanji berubah menjadi bentuk hati.
"Nona~ Maaf mengganggu~ Tapi kalung kerang anda terjatuh…" jelas Sanji dengan suara sok cool.
"Eh? Apa? Pantas saya cari-cari tidak ada! Baiklah, untung saya belum pergi dari pantai… Saya sedang bersama teman-teman saya, maukah anda mengantarkannya kemari? Mohon maaf sekali, saya tak bisa meninggalkan teman-teman saya disini!"
"Iya, tak apa nona! Dengan senang hati~" Setelah diberitahu posisi gadis itu, Sanji menutup hapenya dan melemparkannya ke muka orang yang punya. DOAAGGHH!
"Tunggu aku, Margarett-swaaaannn~!!" ia pun berlari sambil menari norak.
Meanwhile, Nami's place…
Nami masih memperhatikan Luffy, Ussop, dan Chopper yang sekarang sedang menikmati hot dog. Nami cemberut bete. "Yang lain pada bersenang-senang… kok gue enggak… malah ngedog disini sendiri… huh…" keluhnya.
"HOYYY!! NAMII!! KEMARIII~!! MAU HOT LOG GAAAAKKK~????" teriak Luffy yang kemudian kepalanya di keplak Ussop.
"HOT DOG, BEGO!!"
Nami tak mempedulikannya. Ia hanya berpaling ke arah lain. "Huh…"
"Eh? Dia masih marah sama gue ya?" gumam Luffy sambil menggigit hot dog ke-68 nya.
"KRAUS~ KRAUSS~! Nwampwaknya bhegitu…" Sahut Chopper melahap Hot Dog dengan super cepat.
"Tapi, dari tadi dia ngeliatin gue terus lho…"
"GLEK!! Ohok… ohok…!!" batuk Chopper dan Ussop karena tersedak.
Ussop segera mengambil sebotol air putih yang sudah tersedia kemudian menumpahkannya ke dalam mulutnya. "Ha… lega…" gumamnya setelah menegak air putih, "dia naksir elo kali!"
Chopper pun merebut botol air itu dengan ganas dan menegaknya. "Iya kali, Luffy!"
"Naksir itu apa? Makanan jenis baru ya?" innocent Luffy.
"Naksir itu artinya suka, Luffy!!" Sewot Ussop nampang ekspresi 'lo-bego-bego-amat-jadi-orang'.
"Hho…" gumam Luffy. "EEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHH???!!!!!!!"
Chopper dan Ussop masang tampang males, "Yah… responnya telat…"
"Tapi… bagus kan…?"
"Apanya?" tanya Chopper.
"Aku juga suka Nami…"
"WWHHAAAAATTS???!!!!!!!!!" kaget mereka.
"Aku suka Nami, aku juga suka Robin,"
"EHH??!!"
"Aku suka Zoro, aku suka Sanji, aku suka kalian,"
"APA??!!" kaget Ussop dan Chopper masang tampang jijik.
"Yah, pokoknya semua Mugiwaraners!! Aku suka kalian!!!" ceria Luffy.
"Oh… kirain beneran suka…" lirih Ussop dan Chopper sambil membuang keringat bebarengan.
"Syukur deh… aku pikir Luffy beneran gak normal…" lirih Chopper.
"Gini ya, Luffy… maksud kita bukan suka kayak gitu… lo tau 'kan? Cinta! Cinta!!" jelas Ussop sambil membentuk tangannya menjadi bentuk hati.
"Cinta?" bingung Luffy.
Chopper memegang bahu Ussop. "Sudahlah, Ussop… gak usah dipaksakan… Nanti juga dia ngerti sendiri! Kalo lo tetep keras kepala pengen ngejelasin hal yang kayak begitu ke Luffy, gue jamin 100 persen lo bakal stress sendiri!"
"Ah, iya juga…" setuju Ussop membayangkan dirinya yang depresi berat karena kecapean menghadapi si bego Luffy.
"Eh, eh! Nami kemari tuh!" tunjuk Chopper.
"Luffy…" lirih Nami seiring dirinya duduk di samping Luffy.
"Eh? Nami? Ada apa?" tanya Luffy.
"Gue bete banget… semua ninggalin gue sendirian. Apa, karena gue ngehancurin liburan weekend kita ya?" curhat Nami dengan wajah sedih. Sementara itu, Ussop dan Chopper yang udah liat SiKon (situasi dan kondisi), buru-buru cabut meninggalkan mereka berdua dengan diam-diam.
"Enggak, Nami! Tenang aja kok! Lo gak ngehancurin weekend kita! Buktinya, gue, Ussop, dan Chopper…" ia menunjuk yang sudah tidak ada, "EH?! KEMANA MEREKA???"
Tapi Nami nampak tak mempedulikannya. Nami hanya terus menatap Luffy, menatapnya dengan sedih. "Gue… minta maaf…"
"Shi shi shi…!!" Luffy tertawa mendengar pernyataan Nami, "Lo gak perlu minta maaf, bakayaro!"
Nami tersenyum. "Kenapa ya? Cuman elo yang bisa bikin gue bahagia?" lirihnya.
"Gampang jawabannya! Karena gue sahabat elo!!" sahut Luffy dengan riang kemudian memberikan Nami senyuman khasnya.
Nami menggeleng. "Kayaknya bukan itu jawabannya, ketua…"
"Lho? Apa dong?"
Nami dengan tiba-tiba, memeluknya erat. "Lo… satu-satunya sahabat yang gue sayang, Luffy…" bisiknya di samping telinga Luffy.
"Nami…?" Luffy tampak bingung. Tapi, Luffy memang anak yang hanya mengikuti instingnya saja. Ia pun memeluk balik Nami dengan erat. "Nami, lo juga sahabat yang gue sayang kok…" jawabnya pelan. Nami tersenyum menanggapinya.
Ussop and Chopper's Place…
"Cih, bo'ong banget tuh anak bilang gak ngerti sama hal yang begituan!!" komen Ussop menanggapi pemandangan yang ada di depannya.
"Yah, gue tarik kata-kata gue soal Luffy yang polos, innocent, dan ga ngerti apa-apa…" lanjut Chopper memandangi Luffy dan Nami yang sedang mengobrol berdua. "Mereka, barusan pelukan kan?"
"Tau ah! Gue pura-pura gak liat…" sahut Ussop meninggalkan tempat persembunyiannya. "Yuk, Chopper, kita ke tempat kedai eskrim aja!"
"Okey…"
"Nanti gue ceritain yah waktu gue SMP ngehadapin preman-preman yang jumlahnya 500 orang!" sombong Ussop yang udah jelas banget cuman bualan.
"HONTO???!" bahagia Chopper kemudian segera mengikutinya dari belakang dengan semangat. Sangking semangatnya, Chopper sempat tersandung pasir beberapa kali.
Back to Zoro and Robin's Place…
"Wow… batu-batu karang ini emang bagus-bagus! Zoro, lo pinter banget!" Robin mengumpulkan beberapa batu-batu karang. Ia pun menatap Zoro yang diam saja tak menanggapi pernyataan Robin. Tampak Zoro sedang berdiri dengan gagah tak jauh darinya di atas sebuah batu karang besar menghadap laut. Angin membawa rambut dan baju kemejanya melambai-lambai. "Zoro…?" Robin mulai merasa pipinya menghangat.
"Eh, ya Robin?" sahut Zoro yang baru sadar kalau dirinya dari tadi memang sedang diajak ngobrol oleh Robin. Zoro menghampirinya dan ikut jongkok tepat di depan Robin.
Zoro menyadari kalau Robin hanya terdiam menatapnya. Pipinya tampak merah dan ia berkeringat. "Robin, lo gak apa-apa? Lo sakit ya?" tanyanya khawatir. Ia pun mengecek dahi Robin dengan tangannya. "Wuiiihh… badan lo panas! Kita balik lagi aja yuk? Angin di sini kayaknya terlalu gede. Entar lo sakit lagi!" ajaknya.
Robin menggeleng. "Enggak kok. Gue gak kenapa-napa…" ia pun meletakkan beberapa batu karang yang ada di tangannya di atas pasir, kemudian duduk pula di samping batu-batu karang indah itu. Begitu juga dengan Zoro. "O ya, semalam makasih ya!"
"Semalam?" bingung Zoro. "Oh… itu… gak papa… well, sebenernya gue emang gak melakukan apa-apa kok, gue cuman bisa ngekhawatirin elo aja…" senyumnya.
Robin membalas senyum Zoro. "Bego, rasa khawatir elo juga udah berarti banget buat gue…"
"Lo tau? Gue sebenarnya berharap banget lo bisa ngelupain masa lalu elo…"
"Gue yang punya masa lalu, kenapa elo yang repot sih?"
"Itu… well, soalnya…" Zoro tak berani menghadapi tatapan mata Robin. "…Lo sahabat yang paling gue sayang…"
Robin hanya menanggapinya dengan tertawa kecil.
"Kok ketawa sih?!"
"Enggak… hahaha…" sahut Robin cepat, "Lo juga kok, Zoro… Lo sahabat yang paling gue sayang!"
Zoro tersenyum lega.
"Thanks banget selama ini lo dah mau ngelindungin gue terus… Padahal…" tatap Robin dengan sedih kemudian.
"Padahal apa?"
"Padahal… gue gak punya apa-apa yang bisa gue kasihin ke elo. Gue rasa, semua yang gue kasih ke elo, gak ada arti apa-apa dibanding perlindungan elo selama delapan tahun ini untuk gue…" Robin menatap pasir-pasir coklat keemasan yang ada di hadapannya.
"Itu gak bener kok… Gue udah cukup seneng ngeliat elo tersenyum senang…" tampik Zoro menghibur Robin.
"Thanks…"
Malam harinya, pesta api unggun…
"Robin-san, Apa Franky-san masih belum datang?" tanya Brook sembari melepas topi tingginya dan berjalan mendekat ke arah api unggun.
"Belum," sahut Robin menggeleng. Ia pun melanjutkan pemanggangan marshmelow.
"Brook-jii-chan! Dari mana aja? Kenapa jam segini baru datang?" tanya Luffy sambil melahap sedap marshmelow yang baru saja ia panggang.
"Yohohohoo!! Syukurlah kalian merindukanku!"
"GE-ER!!!" teriak Luffy, Nami, Chopper dan Ussop bebarengan. Brook pun hanya melanjutkan tertawanya saja.
"Oya, oya, tak usah sungkan…"
"SAPA YANG SUNGKAN?!" teriak mereka lagi.
"Ngomong-ngomong, ada yang lihat Sanji-kun?" tanya Robin memandang sekeliling, tapi yang dilihatnya hanya sepi dan suara ombak.
"Si baka itu pasti sedang kencan dengan cewek…" tebak Zoro sambil menguap ria. "Hhoaaa~ sampai kapan kita mau menunggu dia di sini? Gue udah ngantuk neh! Kita tinggalin aja si omesh itu!" mendengar kata 'udah ngantuk', Luffy, Ussop dan Chopper pun bisik-bisik, 'Bukannya dia emang selalu ngantuk ya?'. De trio pun kena hajar sendal Zoro.
"Iya… ngapain kita nungguin dia? Mending molor di rumah Luffy!" timpal Nami mengucek matanya karena mengantuk.
"Jangan! Kasian Sanji dong! Ayolah, minna! Kita tunggu aja, sebentar lagi juga dia dateng!" hibur Luffy dengan wajah bengep. "Lagian apa salahnya sih kita nungguin dia?"
Nami menghajar Luffy, "Iya! Tapi sampai kapan, baka?! Sampai besok pagi??!!"
"Awhhh… dihajar mulu…" gumam Luffy menangisi takdir, "Gak masalah kan? Besok kita libur!"
"Iya, sih…" gumam Nami. Tapi kemudian dia menggeleng kuat, "Enggak! Masalahnya kita mau tidur dimana?"
"Di sini juga gapapa kok!" seru Luffy sambil ngesot riang di pasir.
"OGAAHHH!!!" teriak Mugiwaraners.
Tak lama, yang dibicarakan pun datang. Ia datang dengan wajah tak berdosa bersama seorang gadis di sampingnya. "Hey, minna…" sapanya yang kemudian disambut meriah wajah angker teman-temannya yang komen, 'DARIMANA AJA LO?!!'.
"Euhhh… Sorry deh, udah bikin kalian nunggu lama banget," anteng Sanji yang kemudian dicekek Nami, 'ENAK AJA LO NGOMONG SORRY!'.
"Sanji-san, gadis manis yang ada di sampingmu itu siapa?" tanya Brook menunjuk sopan pada seseorang yang sedang berdiri di samping Sanji tersenyum ramah.
"Lho? Margarett? Ngapain lo disini??" tanya Luffy bingung yang secara gak langsung mengundang pandangan aneh dari anggota Mugiwaraners.
"Lo kenal? Luffy?" tanya Sanji kaget.
"Ah! Luffy-kun! Lama tak jumpa!!" sapa Margarett sopan.
"Jelas kenal dong! Dia kan temen SMP gue!" jawab Luffy anteng melanjutkan kegiatan melahap marshmelow panggang.
"Oh? Begitu ya?" heran Sanji memandang Margarett. Margarett hanya tersenyum. "Well, bagi yang belom kenal, gue perkenalin deh… Namanya Margarett, dia kerja paruh waktu di café sekitar sini," Sanji tersenyum, kemudian menggandeng tangan Margarett, "Dan sekarang, dia cewek gue!"
"NAN NIIIIIIIIIIII?????????!!!!!!!!!!" jerit dramatis plus lebay para Mugiwaraners.
"Kenapa sih?! Gak usah heran gitu deh!!" respon Sanji.
Zoro sendakep dengan lagak meledek, "Gue gak nyangka, orang sebego elo ada yang mau…"
"WHAT?! Cih! Ngaku aja lo iri! Ya 'kan?!" sewot Sanji sambil siap-siap menghajar Zoro.
Zoro hanya meng-kacang-mahalin Sanji dengan tampang lesu, "Minna, Sanji udah dateng, Let's go home!" ajaknya sambil mengorek telinga. Ia tak menghiraukan sama sekali Sanji yang teriak-teriak sewot di telinganya.
"Ayo… gue ngantuk…" ajak Nami mengucek matanya lagi.
"Kebetulan, guys," sela Robin sambil menatap hapenya, "Franky baru aja sms kalo dia udah sampe dan sekarang lagi nunggu di tempat parkiran."
"YOSH! Ayo kita pulang minna!" semangat Luffy yang merupakan komando untuk anak-anak bangkit dari duduknya dan bersiap pulang.
"Wait! Gue kan baru nyampe! Masa' kalian udah mau pulang lagi???" halang Sanji.
"Eh, alis aneh! Kita tuh selama elo 'in-de-hoy', nungguin di sini dengan tampang lesu selama 3 jam! Tau gak!! Mana sempet diusir sama penjaga pantai lagi!" komen Zoro sambil melewati Sanji begitu saja, disusul pula dengan yang lain.
"Ayo, Sanji! Pulang!" teriak Nami melambai-lambaikan tangan.
"Ah, iya… ayo Margarett!" ajak Sanji menggandeng tangan Margarett. Tapi gadis pirang itu menahannya.
"Maaf, Sanji. Gue pulang sendiri aja…"
"Eh? Kenapa?" bingung Sanji. "Udahlah! Gak usah sungkan gitu deh, ikut kita aja yuk! Franky pasti mau nganterin elo kok! Yang laen juga pasti gak keberatan…"
Margarett menggeleng lembut, "enggak… makasih…" Ia pun segera berlari sambil tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya pada Sanji. Sanji cuman terpana bin ngiler melihat senyum manis gadis yang telah menghilang dari pandangannya itu.
Sesampainya di rumah…
Pukul 11.00 pm.
Nami terbangun kemudian mengucek matanya. Ia memandangi sekeliling, dimana tampak para Mugiwaraners masih tertidur nyenyak. Dengan rasa kurang kerjaan, ia pun menghitung jumlah teman-temannya.
"1…2…" gumamnya. "Lho? Kok cuman delapan?" lirihnya sambil menengok ke arah lain, "Eh, kemana si Luffy?"
Nami meraba-raba tembok untuk menyalakan lampu. Kemudian menghitung ulang anggota Mugiwara. "Eh… bener kok cuman delapan… Iya! Luffy ga ada!" gumamnya dengan suara sangat rendah agar tak membangunkan teman-temannya. Ia pun berjalan pelan ke arah pintu dapur untuk ngecek Luffy. Tapi yang dicarinya tetap gak ada. "Kemana tuh anak?"
Dengan mengikuti intuisinya, ia melangkah ragu melewati tangga menuju kamar Luffy berada. Ia membuka pintu kamar Luffy, "Kok gak dikunci?" pikirnya heran. Tampak di dalam, Luffy sedang membuka sebuah buku.
"Luffy? Ngapain lo?"
"ASTAJIMM!!!" kaget Luffy yang refleks langsung loncat nempel ke tembok langit-langit persis cicak yang lagi cari kudapan malem. "Nami! Kaget tau gak!! Lo seneng ya kalo gue mati jantungan?!"
Nami sweatdrop. "Em… Lo ngapain disini? Luffy?" tanya Nami.
Luffy turun dari tempatnya semula. "Eh, ini… gue cuman penasaran sama Margarett…" lirih Luffy sambil memungut kembali buku yang sempat ia lempar tadi.
"Margarett?" tanya Nami. Luffy pun menyuruhnya masuk dan menutup pintu dengan rapat. "Ada apa sih?"
"Gini, tadi tuh gue lupa-lupa inget, sama yang namanya Margarett… Karena penasaran, gue gak bisa tidur dan akhirnya kesini untuk ngebongkar lagi buku kenangan SMP angkatan gue dulu…" Luffy menunjukkan sebuah halaman buku, Nami yang melihatnya terbelalak.
"HA?!! U-u-u-udah… meninggal??!" respon Nami depresi.
"Iya… itu masalahnya… gue baru inget kalo Margarett tu udah meninggal waktu gue kelas 2 SMP. Gue juga baru inget kalo dia tuh meninggal karena kanker!" jelas Luffy dengan tampang nakut-nakutin.
"Luffy… berarti yang tadi sama Sanji sapa??" lirih Nami dengan tampang pucat.
"Setan kali!"
"GYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~!!!"
#==;_TSUZUKU_; ==#
Benarkah Margarett seorang hantu? Mari kita saksikan the next episode…!
A/N: Yah… begitulah… Oh, ya… Bahas review deh!
SBS ABAL-ABAL… dimulai!
Azure R. Aori: Wahaha… IPA itu rame lho!! Kecuali Kimia… I hate Kimia… I LOVE FISIKA YEAH!!! –ehem- kok jadi curhat yah? –bingung sendiri- Nami bukan gak jadi nyium Luffy… tapi, dia emang mau ngehajar Luffy yang ngorok bin ngiler ria di pundaknya. Kalo dikau jadi Nami pasti gitu kan? Oh, soal 2012, Luffy dan kawan-kawan akhirnya gak jadi nonton… soalnya banyak yang lebih setuju pilem yang ditunjuk Nami.
edogawa Luffy: Nah… ini dia reivew dari my NAKAMA… (boleh 'kan saya menganggap anda begitu? :D) Oh, mereka maen strip poker emang sampe ketiduran. Pemain yang berhasil bertahan gak tidur sampe tengah malem itu Franky, Zoro, en Sanji (Luffy? Dia anak pertama yang tepar duluan). Wahahaha… makasih deh… dikasih rating bintang lima!! (lho? Hotel dong?)
ARGENTUM SILVER-CHAN: Gyahahaha..! emang ada kok permainan strip poker itu! Aku juga baru tahu setelah baca fanfic rating M –ups!- Gak! Aku gak ngomong apa-apa kok! Lupakan! Lupakaaaann!!
YohNa –nyu-: Iya… khusus chapter ini aja kok aku kasih spesial fan service Luffy x Nami dan Zoro x Robin. Tapi inget ya, minna! Mereka belum pacaran lho! Masih sahabatan! Inget! Sahabatan! Jadi belum ada pairing pasti untuk fanfic ini!
Monkey D. Cyntia: Hehe… bagi yang menunggu rekaman Franky sabar yah… kukuku… akan muncul di next episode… kukuku… -dicurigai Nami dan Luffy-
(I)(B)lis(N)ar(U)to: Wakakak… saya gak nganggep situ anak kecil kok… saya tahu, ente lebih tua dari saya… saya hanya mencoba mendoakan… apa itu salah? Yahahaha… Makasih yah udah review my story! –bend down-
MelZzZ: Panas ya?? Hem… kalo di sini dingin banget lho! Kalo pagi iler aku aja sampe berubah jadi es!! Wuiihhh… Luffy pake celana Dora?? Ide bagus tuh! Wahaha… bisa-bisa-bisa…! Video rekamannya Franky bakal aku munculin insya allah di next chappie… tenang aja kok… kalian pasti terkesima… Pairing ZoRo emang banyak yang minta ya? Well, di samping itu gue juga suka sih. Kedo, kitto haya janaitte…
A/N: Makasih minna, udah review… keep reading and I'm sorry for the late update!!
YOU SHOULDN'T LEAVE THIS PAGE WITHOUT CLICK THIS BUTTON BELOW!!
