Disclaimer: Not mine.
Summary: CHAPTER FIVE: "Untuk pertama kalinya Chopper salah mendiagnosa pasiennya, Nami, ternyata gak mati… Tapi shock dadakan yang membuat jantungnya sempat berhenti berdetak selama 2 menit. Luffy dan yang lain hendak mengejar si brengsek yang melukai nakama mereka, tapi… Nami menghentikan mereka…" aroma HUMOR dan KONYOL bin BIADAB masih melekat!
Chapter Five
Back 2 School's Time!
Luffy berjalan mengendap-endap sementara sang guru menjelaskan rumus-rumus 'super-ribet-nan-sulit-diingat' yang diselingi ocehan tak jelas yang menyebabkan murid-murid dehidrasi akan hiburan (disingkat: BORING). Luffy melangkahkan kakinya satu-dua langkah dengan pelan-pelan, iyak… guru tak melihatnya… tiga-empat langkah dilanjutkan, guru masih tak melihat… lima-enam langkah terus berlanjut, guru masih juga tak menyadarinya… maka, setelah yakin guru takkan pernah menyadari gelagatnya, ia pun mengambil langkah yang keseribu alias ngacir.
Luffy berlari menuju kantin sekolah di lantai satu. Seperti yang sudah ia duga, ia mendapati Zoro dan Sanji juga tengah duduk santai sambil makan beberapa gorengan.
"Bolos lagi ya, Luffy?" tanya Zoro dengan anteng sambil duduk nyantai mengangkat kaki ke atas meja kantin. Sanji komen, 'Lo bakat jadi bos mafia!' sambil tepuk tangan kagum.
Luffy monyongin bibir tanda gak terima sama pertanyaan yang dilontarkan Zoro, "Gue gak bolos!" kerutnya mengelak, "Cuman keluar kelas tanpa ijin!"
"SAMA AJA, TAPLAK!!" sewot Zoro dengan wajah angker. Zoro sepertinya terkontaminasi oleh acara Opera Sabun Van Jawa. Luffy pun respon dengan mencibir, 'lagian elu, juga bolos kan…'.
Sanji meyalakan rokok, menghisapnya kemudian menyembulkan asap nikotin itu kembali, "Fuuuhh… gak rame banget gak ada Nami-san… Udah dua hari dia gak masuk."
Luffy mengkerutkan alisnya lagi, "Yaa… dan gak ada yang bisa kita lakuin sekarang…"
"Ngomong-ngomong, lo kenapa sih gak mau ngasih tau kita, soal alasan si Nami gak ngijinin kita ngejar tuh orang?"
Luffy terdiam. Ia menyusun memori singkat, saat dirinya mengantarkan Nami pulang ke rumahnya.
[FLASHBACK]
Nami tersenyum setelah Luffy membantunya untuk naik ke atas kasur (don't take the negative one!).
"Haduh, nak Luffy… terima kasih ya…" Bellemere tersenyum lemah. Ia sangat dan sangat mengkhawatirkan Nami yang beberapa menit lalu tiba-tiba datang dipapah Luffy dan diantarkan mobil Franky.
Luffy tersenyum lebar dan mengatakan dengan nada lucu seperti biasanya, "Daijoubu!"
"Ma, aku mau bicara sebentar dengan Luffy, boleh?" tanya Nami dengan agak sungkan.
"Ya, ya," Ibu angkatnya itu pun kemudian mengangguk setuju sambil tertawa jahil. "Kalau begitu, ibu lebih baik membuatkan beberapa jus jeruk segar dari kebun untuk Mugiwara yang sedang menunggu di bawah…" lanjutnya cepat kemudian segera keluar dan menutup pintu dengan perlahan.
Luffy membuka pembicaraan, "Ada apa, Nami? Gak biasanya tuh elo pengen ngomong berdua sama gue?" tanyanya sambil duduk di samping Nami yang sedang terkulai lemah di atas kasur. "Biasanya elo ngehajar gue kalo gue deket-deket sama elo…" cibir Luffy.
"Luffy, lo bisa gak sih serius sebentar aja?" sewot Nami memandang sebal pada Luffy. "Gue pengen lo denger perkataan gue dengan baik-baik kali ini!"
Luffy cepet-cepet mengangguk berkali-kali supaya tangan Nami tak melayang lagi ke kepalanya.
"Luffy, gini… em…" tanya Nami ragu-ragu. Sejenak, ia lirihkan matanya ke arah lain, "Lo gak bakal ngejar siapapun orang yang udah ngelukain gue kan?"
"Hah?" cengo Luffy. Otomatis, Nami ngebatin 'Pentium otak lo ditaro dimana sih?!'.
Nami mendesah nyerah, "Gini, Luffy. Gue gak mau elo ngehajar siapap—"
Luffy tiba-tiba berdiri tegak memandang Nami, "Apa maksudmu?!" logat bicaranya mendadak serius. Nami terbelalak melihat wajah Luffy yang sedemikian seram (serius dan kelam).
"De… dengar… Luffy… Gue gak maksud unt—"
"Kenapa aku gak boleh ngejar orang yang udah ngelukain kamu dan bikin kamu mati mendadak selama 2 menit? Kenapa, HAH?!!" bentak Luffy yang nampak sekali tak dapat mengendalikan emosi.
'Kok… dia bicaranya jadi 'aku-kamu' sih?' pikir Nami menanggapi respon Luffy atas permohonannya. "Luffy! Tenang dulu!" ujar Nami setengah memekik. Tanpa sadar, tubuhnya kini pun sudah dalam posisi terduduk di pinggir kasur. "Luffy…" desisnya menatap guratan nadi yang muncul di tangan Luffy.
Luffy jongkok, itu jadi membuat matanya sejajar dengan posisi mata Nami sekarang, ia mendesah mengalah, "Apa alasan lo?"
'Hem, jadi kalo gak tenang, cara ngomongnya jadi gitu ya…' batin Nami lagi. "Elo… gak marah kan?"
Luffy menggeleng, "Yah, sebenernya gue marah banget lo ngomong gitu. Jujur aja, gue kesel sama orang yang udah nyakitin Nami-gue!"
'Nami-gue???' pikir Nami dengan wajah sedikit memerah. Jadi terlintas, pikiran yang tidak-tidak di kepala Nami.
"Oy… Nami…" panggil Luffy sedikit merengek, menyadarkan Nami dari lamunan gak penting bin ngeres.
"Eh, iya," Nami tersadar dari lamunannya, "Em… begini Luffy… soalnya yang ngelukain gue itu…"
[END OF FLASHBACK]
"Oy! Luffy!!" panggil Sanji dengan kesal. Dikit lagi api rokoknya menempel di jidad Luffy kalo aja Luffy tadi gak merespon panggilan Sanji yang keempat kali. "Kenapa lo?! Jadi bengong begono??"
"Ah, ya… lo nanya apa tadi?" tanya Luffy balik sambil menggaruk kepala belakangnya yang gak gatal itu.
"GRRRH!!" Kesal Sanji yang merasa dirinya dikacangi tingkat berat oleh Luffy. Luffy hanya memasang wajah polos nan innocent seperti biasanya.
"Si alis aneh nanya lo! Katanya kenapa lo gak mau ngasih tau kita soal alasan si Nami gak ngijinin kita ngehejar tuh orang!" jelas Zoro sambil menatapnya serius. Luffy mengedipkan matanya beberapa kali.
"Yah, gue… juga udah janji sama Nami!!" sahutnya asal sambil ngiler berlari dengan kecepatan cahaya menuju warung kantin. Mba-mba penjaga warung sweatdrop ngeliat anak hiperaktif itu ngambilin makanan dengan penuh nafsu.
"Woy! Enak lu ngejajah makanan kantin!!" seru Pak Ko'im sang pemilik warung bersewot ria. Pak Ko'im lantas menyiapkan penggebuk kasur buat siap-siap ngehantem kepala Luffy yang (menurutnya) gak beres itu. Luffy hanya nyengir sambil ngacir, 'YANG BAYAR ZORO, PAAAKKK!!!'. Alhasil, Zoro yang dipelototin sang penjaga warung jago karate sabuk hitam itu.
"Sialan lo, Luffy," komennya sambil kepaksa ngeluarin duit, sebelum Pak Ko'im ngeluarin jurus 'Bajing Kejepit'.
"Oke, lanjut ke topik pembicaraan," sergah Sanji yang sweatdrop ngeliatin Luffy makan. "Jadi kita harus gini aja tanpa ada tindakan apa-apa, gitu?"
"Bwaahh, shiihalnya fwihh feghitu… (Yaahh, sialnya sih begitu…)" respon Luffy.
Zoro berjalan ke arah mereka dengan wajah melas setelah dompetnya ludes untuk membiayai semua makanan Luffy. Tak lama, barulah ia duduk santai lagi di samping Luffy. "Gue sih ikut perintah ketua aja. Tapi kalo boleh jujur, Luffy," ia melirik serius pada Luffy, "gue gak suka hal macam gini… smells not good."
Luffy menelan makanannya, "Gue juga gak suka, tapi demi Nami… yah, lo tau kan?"
"Of course we know," sahut Sanji dan Zoro berbarengan sambil nyengir.
"Anyway, kita butuh rapat lagi pulang sekolah ini di markas…" sahut seseorang yang tiba-tiba muncul ikutan nimbrung dengan topik pembicaraan mereka.
"Robin?" panggil Zoro meyakinkan, "tumben lo bolos?!"
"Liat jam donk, baka! Ini tuh udah jam istirahat!!" sahut Ussop dan Chopper yang berdiri tak jauh dari belakang punggung Robin. Robin tersenyum menyapa kawan-kawan se-Geng nya itu.
"Jam istirahat?" gumam Sanji melirik jamnya, "hee… bener juga…"
"Luffy! Jadi lo bolos pelajaran cuman 10 menit sebelum jam istirahat?!!" sewot Zoro. Luffy mengangguk innocent mengangkat jempol sambil melahap makanannya.
"Bisa-bisanya lo jadi manusia super tanggung!" komen Sanji nampiling sang ketua.
"Ngebolos, tanggung… tinggi, tanggung… wajah, tanggung… jangan-jangan otak lo juga tanggung??" ledek Ussop menambahkan.
"Maksud lo??!?!" ambek Luffy. "Eh, gue gak masalah ya lo bilang otak gue tanggung! Tapi gue sewot neh lo bilang wajah gue tanggung!"
"Gue baru ini tau ada orang lebih sewot dibilang wajahnya yang tanggung dibanding kalo otaknya yang dibilang tanggung…" swt Chopper.
"Heh! Wajah elo tuh lebih tanggung daripada gue!!" nimbrung Sanji yang ngerasa kecakepan.
"Nih lagi anak 'atu…" gerutu Zoro, "Enaknya diracun aja deh orang kayak gini…" Zoro pun tepar sukses setelah disambut meriah tendangan dari Sanji.
Robin en Chopper sweatdrop ngeliat kawan-kawannya yang kini sudah menciptakan keributan dan ditonton anak-anak yang lain. "Chopper, kita jajan aja yuk, pura-pura ga kenal aja deh ama mereka…" ajak Robin. Mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan orang-orang kurang waras mendekati gangguan mental stadium akut itu.
Sekitar 4 menit kemudian, masih di kantin sekolah…
"Luffy, lo liat cewek yang disebelah sono gak?" tanya Ussop bisik-bisik misterius menunjuk pada seorang gadis yang sangat amat cantik bin bohay (author nosebleed), dan rambut hitamnya yang panjang terurai.
Luffy menoleh ke arah yang Ussop tunjuk, "Liat," acuh Luffy memalingkan kepalanya kembali. "Mank 'napa?"
"Gue liat-liat… dia ngeliatin elo terus dari tadi…"
"Ya, gue tau. Tiap istirahat si Hancock emang ngeliatin gue terus!" sahut Luffy sambil ngeliatin mangkok baso Robin dengan tampang 'ni-die-inceran-gue'. Robin hanya bisa sweatdrop dan berusaha untuk tidak menghilangkan nafsu makannya.
"Alesannya?" tanya Ussop melanjutkan rasa penasarannya.
"Ga tau juga sih, tapi ada gosip-gosip gak enak yang bilang kalo dia tuh naksir sama gue!"
"Kok bisa?" nimbrung Sanji yang punya telinga paling tajam soal pembicaraan 'wanita'. "Emank lo cakep??" sindirnya kemudian.
"Sialan lo…" komen Luffy, "Mana gue tau dia suka gue dari apanya…"
"Aneh ya," tambah Sanji, "padahal lo tuh, bau… tukang makan… berotak pentium rendah… berandal… jelek… yang paling mengerikan dari elo nih ye… lo juga merupakan BENDA idup yang bisa bernapas!!"
"Wah… itu sih spesies langka namanya…" nimbrung Zoro sambil berngoap ria. Sanji dengan bahagia komen, 'Gue ga nyangka bakal ngomong gini, tapi… lo JE-NI-US!' sambil ngacungin dua jempol ke arah Zoro.
"Bagus, lo pada! Pinter banget!! Belajar ngehina darimana??!" sewot Luffy yang hampir dikit lagi ambil golok buat ngebacok temen-temen gengnya sendiri.
"Eh, tapi kalo bener ya, lo hebat banget dong? Hancock tuh cewek paling diincer sama semua cowok disini! Tapi semua 'pernyataan cinta' cowok-cowok entu dia tolak mentah-mentah. Emang sih… kata-katanya dia lagi nunggu satu orang lagi buat nembak dia!" jelas Chopper sambil menjilat permen besar yang baru dibelikan Robin.
"Orang itu… elo Luffy," tambah Robin dengan aura mencekam. Luffy menelan ludahnya, sementara yang lain terbengong-bengong mendengar pernyataan mengerikan dari Robin. O ya, kecuali Zoro yang sekarang udah tepar, ketiduran di atas meja.
"Ah~ Robin… elo suka becanda gitu deh…" responnya sambil berusaha tersenyum lebar.
Robin menggelengkan kepalanya, "Ini gue denger waktu dia ngobrol sama temen-temen gengnya."
"Eh? Si Hancock ini punya geng juga?" tanya Ussop.
"Kebangetan lo ga tau~!!" komen Chopper masang muka depresi, "semua orang juga tau! Dia tuh ketua geng 'Beauty-Empress'!!"
"HEEE??!!!" melotot Ussop, "Jadi… 'Beauty-Empress' tuh ketuanya dia?!!!" tunjuknya berulang kali pada Hancock yang kini sedang tertawa riang dengan teman-temannya.
"Hah… gue sih gak peduli…" acuh Luffy sambil berusaha nyolong baso yang sedang menancap di garpu Robin. Seperti biasa, Luffy kemudan dapat hajaran dari Sanji (Robin orangnya ga bisa marah, jadi yang marah malah Sanji).
"Woy! Guys, bad news! Orangnya kesini!!" bisik Ussop berkeringat dingin. Setelah dikode oleh Robin, mereka pun hanya berpura-pura tak menyadari hal itu.
"Hey, Luffy-kun~" panggil Hancock dengan gaya menggodanya sambil merangkul Luffy dengan sok akrab. Hancock memang cewek cantik dengan pakaiannya yang agak seksi meskipun ketika mengenakan pakaian seragam sekolah. Ia nampak mengenakan seragam atasan yang dadanya terbuka sebanyak tiga kancing (author dan Sanji mengalami dehidrasi darah), dan rok yang super ketat dan pendek (author dan Sanji kejang-kejang stadium akut).
Luffy menengok, "…apa?" lugunya sambil memakan baso yang (akhirnya) diikhlaskan Robin padanya.
"Malem ini ada acara gak~?" tanya Hancock sambil mengelus pipi Luffy dan berkedip nakal padanya.
"Ga ada kok~!" sahut Sanji dengan tampang mesum. 'YANG DITANYA BUKAN ELOO~!!' sewot Ussop dan Chopper dengan kompak.
"Em… ga ada tuh…" sahut Luffy dengan lugu. "Ada apa, Hancock-san?" tanyanya.
"Ah~ jangan panggil Hancock-san donk… panggil aja Hancock-chan…" Hancock mulai berusaha cari-cari kesempatan pada tubuh Luffy dengan lebih mendekatkan tubuhnya pada tubuh Luffy. "Malem ini… mau gak jalan-jalan sama gue? Hem~"
"Ah? Jalan-jalan kemana?" semangat Luffy.
"Kemana aja ke tempat yang lo suka. Ke tempat asyik…" sahutnya menekankan kata 'asyik'.
"Ya, asyik tuh ada macemnya," cibir Ussop yang mulai keliatan gak suka sama perempuan ular itu.
Untuk sesaat Hanccok memandang kesal pada Ussop, "Ke tempat asyik yang hanya gue dan Luffy yang tau," sinisnya sambil merangkul Luffy dengan mesra. "Ya kan, Luffy~" tatapnya kembali pada Luffy yang masih tampak lebih mempedulikan makanannya ketimbang cewek cantik disebelahnya itu.
"Robin, emangnya kalo belom nikah, udah boleh ya rangkul-rangkulan?" sindir Chopper dengan wajah tanpa dosa palsu.
"Eh, iya ya? Kalo gak salah gak boleh tuh…" lanjut Robin. Meski sudah di sindir dengan suara yang cukup keras, Hancock masih saja tampak tak mempedulikan sindiran-sindiran itu. Malah, ia menambah kemesraannya dengan Luffy.
"Aduuhh… kamu ngapain sih deket-deket? Panas tauk!" ujar Luffy dengan lugu. Tau kan? Luffy selalu berbicara apa adanya.
Robin, Chopper dan Ussop tertawa geli mendengar respon Luffy. Namun Hancock tetap tak mau mengalah. "Kalo panas buka aja bajunya~"
Zoro yang mendengar kata 'buka baju' langsung melek, "Sapa yang mo buka baju?" tanyanya sambil ngucek-ngucek mata. Ia pun melihat Hancock sedang merangkul Luffy dengan mesra. Memandang itu, ia hanya tertawa lepas, "HUAHAHAHAHAHAHAHAHA!!" tawanya mengundang perhatian nakama-nakamanya yang ngebatin, 'bisa-bisanya dia ketawa lepas di saat serius gini…'.
"Luffy! Lo gak ngerasa panas dengan posisi gitu?" tanya Zoro kemudian satu pikiran dengan Luffy.
"Gue emang panas Zoro, tapi Hancock-san malah makin ngedeket…" curhat Luffy dengan innocent. Hanccok menahan geram hatinya.
"Oy, perempuan gatel! Asal lo tau ya, Luffy dah punya cewek tauk!" ujar Ussop yang sama sekali gak mengerti sama akibat dari ucapannya itu. Semua mata jadi tertuju pada Ussop.
"Oh, ya??" tanya semua orang yang ada di situ, tak terkecuali Luffy sendiri. "…sapa…??"
"Euhh… itu… i-itu…" gugup Ussop.
"Benarkah itu Luffy-kun?" tanya Hancock manja pada Luffy. Sementara Hancock tak melihat Ussop, Ussop memberi kode pada Luffy dengan mengedipkan matanya berulang kali.
"Ussop, mata lo sakit ya?" bego Luffy. Ussop memukul jidatnya sendiri. Perhatian Hanccock kembali menuju Ussop.
"Benarkah itu, Ussop-kun?" tanya Hancock dengan wajah ramah palsu. Tapi Ussop bisa memberitahu pada kita, bahwa mata Hancock memandang penuh kebencian yang bisa membuat Ussop berteriak, 'HIIIYY~!! ATUUTTT!!!!'.
Ussop menelan ludah, "ya…"
Robin yang cerdas dapat membaca situasi, segera menyahut untuk membantu Ussop yang batinnya mungkin saja sekarang sudah mati karena ditancap banyak pedang kebencian dari Hancock. "Ya! Luffy udah punya cewek kok!!"
"Oh ya?" ulang Ussop yang ikut-ikutan terkejut. "eh, maksudku… YA!! Luffy udah punya cewek sekarang!!" sombongnya karena bahagia dibantu Robin.
"Ya kan, guys?" tanya Robin pada Zoro dan Chopper (coz, Sanji masih sedang berkhayal geje soal Hancock bersama author). Yang dikode pun mengangguk membenarkan.
"Iya gitu?" bingung Luffy menggaruk kepalanya.
Hancock memandang serius pada nakama-nakama Luffy, "Kalian serius?"
"Kenapa lo bisa mikir kalo kita gak serius?" tanya Zoro meyakinkan.
"Aneh… gue gak tau kalo gue punya cewek…" mikir Luffy dengan tololnya, dan keliatan banget gak ngerti situasi. Mugiwara nahan nafas mendengar pernyataan bodoh Luffy yang bisa mencelakakan mereka.
Robin pun tertawa terpaksa,"A… ha… haha… Luffy, lo jangan suka pura-pura lupa deh…" tangannya berkibas-kiba beberapa kali.
"I… iya Luffy! Lo sih, baru jadian dua hari yang lalu, masa' udah lupa lagi!!" bantu Chopper. Sedangkan yang lain berusaha memikirkan bagaimana mengajak otak pentium rendah Luffy kerja sama tanpa ketahuan oleh Hancock.
"Oh, ya Luffy-kun?" tanya Hancock ingin membuktikan. Mugiwara tahan nafas lagi, mencoba tidak mengkhayal Luffy bodoh yang menjawab 'tidak'.
Luffy membuka mulutnya, Mugiwara tutup telinga, "Oh! Bener, kok!" serunya tiba-tiba. Mugiwara jaw dropped gak percaya.
"Wah… siapa nama gadis beruntung itu?" Hancock mulai mengeluarkan aura angkernya sekarang. Ussop dan Chopper menggigil ketakutan.
Zoro menebak-nebak, 'dan… pasti nama gadis itu yang akan diucapkan Luffy. Oh tidak!!'. "Namanya Vivi…" sergah Zoro tiba-tiba. Luffy menutup rapat mulutnya kembali. Pandangan semua Mugiwara kembali tertuju pada Zoro. "Vivi anak kelas XI IPA 2…" lanjutnya asal.
"Oh…" senyum Hancock, "Kalo gitu, gue ga punya alesan donk buat ngajak Luffy…" ia pun beranjak pergi dari meja mereka dan kembali ke meja gengnya sendiri dengan tampang muram. Sementara itu, Sanji (dan author) merengek menangisi kepergian Hancock.
Luffy menatap aneh pada Zoro, "Kenapa Vivi??"
"Lo pasti mau bilang 'Nami' kan?" anteng Zoro. Luffy memandangnya dengan tatapan 'kok lo tau?!', Zoro hanya mendesah. "Pikiran lo gampang banget sih ketebak??!" sewotnya kemudian.
"Tapi, Zoro…" sergah Robin, "Kalo lo ngelempar ke Vivi, akibatnya malah jadi ke Vivi…"
"DUUUHHH!!! Kalian nih ngomongin apaan sih??!! Gue gak ngerti!!!" pusing Luffy mengacak-acak rambutnya sendiri dengan stress. Teman-teman di sekelilingnya ngelihatin sambil bisik-bisik, 'Luffy mengganas…! Mari kita telpon RSJ Cisarua'.
TEEETT… TEEETTT…!!!
"Udah bel noh!" teriak Ussop. Ia dan Chopper pun segera meninggalkan meja kantin dan berlari keluar, diikuti Zoro dan Sanji kemudian.
"Luffy, mending lo gak usah ngerti aja deh!!" seru Robin ikut menyusul yang lain meninggalkan Luffy.
"Guys…" lirih Luffy menatap teman-temannya menjauh. "Gue… beneran bingung…" tunduknya dengan wajah muram berjalan lemah menuju kelasnya sendiri. "Gue… emang bingung dan gak ngerti dengan apa yang bisa gue lakuin…"
Luffy menatap langit-langit rumahnya dengan pandangan hampa dan sedikit buram karena melamun. Matanya yang hampa dapat membuat kita juga turut menjauh memandang jalan pikirannya yang bercabang itu.
'…come on let's go everybody we share the good times… come on—'
"Halo?" sahut Luffy seiring dering hape black-silver merek 'motor-si-ola' nya berbunyi.
"Luffy… ini gue…" respon suara gadis dari seberang. Luffy memiringkan kepalanya.
"Nami?" ia pun melirik jam, "Ini udah jam 1 malem lho…" ujarnya mengingatkan, namun hanya disambut tawa kecil dari seberang.
"Ya… gue tau, baka," sahut gadis itu, "Gue cuman gak bisa tidur!"
"Jaga kesehatan donk Nami! Lo kan baru aja sembuh! Besok lo mau masuk skul kan?" protes Luffy sambil bangkit duduk di pinggir kasurnya kemudian menggaruk kepala belakangnya.
"Iya sih, tapi masalahnya… gue gak bisa tidur karena lagi mikirin sesuatu…"
"Sesuatu? Lo punya masalah apa? Curhat aja ke gue! Gue jamin rahasia kok!!" teriak Luffy mengkerutkan alisnya tanda serius. Dia hampir-hampir lupa kalo teriakannya bisa saja membuat Ace di kamar sebelah skot jantung tengah malam sampe jatuh terpelanting dari kasur.
"Um… Sebenernya bukan sesuatu sih… lebih tepatnya seseorang…"
"Seseorang?" cemberut Luffy berpikir keras, "Siapa itu?"
"Seseorang yang selalu ngelindungin gue… ngekhawatirin gue… dan nyayangin gue sepenuh hati…"
Luffy mulai gusar mendengarnya.
"…Gue… sayang sama orang itu…"
Luffy menelan air ludah. "Lo… jatuh cinta…?" tanyanya penuh ketidakyakinan.
"Ya! Luffy!! Pertama kalinya seumur hidup gue, gue ngerasa kayak gini…!" sahut gadis itu dengan suara bahagia. Luffy rasa gadis itu mungkin saat ini sedang menari-nari bahagia.
"Siapa sih, orang beruntung yang lo maksud itu??" tanyanya menahan geram. "Curhat aja ke gue…" lanjutnya dengan nada menyerah.
"Sapa lagi kalo bukan…"
__TSUZUKU__
KISHISHISHISHISHISHISHISHI!!!!!!!!!!!!!!!!! Bahagianya… akhirnya saia menemukan ending yang tepat untuk chapter ini!!
Maaf kalo kurang memuaskan dan kurang gokil dalam chap ini… Oh, ya… next scene akan betul-betul lengkap keadaan sekolah yang gokil dan lucu! Soalnya Nami udah masuk sekolah. Silahkan bila ada yang mempunyai cerita gokil di sekolah yang cocok buat keadaan Luffy di fanfic ini, silahkan dengan senang hati menyumbang ide ceritanya ya!!
POJOK SBS (POndok moJOK Sareng Bi Satiyem)
ShimaCROW: Gyahahahahaha!!! Agak ngeganjel ya? Begitulah anak-anak jaman sekarang… sekali ketemu langsung jadian… *geleng2* Kalo saia sih enggak… *masang muka malaikat palsu*…
YohNa –Nyu-: Saia juga tau mba'e… yah, anggap saja salah ketik. Kadang-kadang otak saia gak bisa kerjasama yang baik dengan tangan saia… *mukulin tangan sendiri*
Azure R. Aori: Begitulah… Luffy itu memang *bisik2* agak kurang… *di gear third*
Monkey D. Cyntia: Banyak yang penasaran yah… haha… tenang aja… itu pilem por'on kok… *ditabok*
(no name): Okeh… makasih atas reviewnya. Soal cerita yang lain, saia usahakan saja.
Rukia4062jo: Saia sendiri yang ngetik juga gak ngerti kok… -,-"
MelZzZ: oke! Thanks for review… ini juga apdet… kok…
Maaf kalo bahas review kali ini gak begitu panjang, karena saia mengapdet cerita ini dalam keadaan terburu-buru… (keburu-buru tapi sempet2nya nulis tulisan gape kayak gini… XD)
The last but not least dan sangat bengis, saia memaksa untuk… REVIEW!!
