Disclaimer: Kalo punya gue, ga akan gue bikin Portgaz D. Ace isdet…!

SUMMARY: "Nami tiba-tiba mengurungkan niat untuk memberi tahu Luffy perasaannya. Rupanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Smenetara itu, cowok kelas XI, Trafalgar Law and the gank, menantang Mugiwara untuk bertarung... "


_CHAPTER FIVE_

School Time: The Next Problem Which is Need to Solve

"Sapa lagi kalo bukan…" taut Nami dengan suara kecil. Luffy yang ada di seberang jalur telepon selulernya tak dapat meraih suara Nami yang super duper kecil itu.

"Oy… Nami…! Kerasin suara lo dikit lah!!!" protes Luffy sambil dengan giat menempelkan telepon genggam ke telinganya.

"Uhm… I think I'll tell you later! Ja na!!"

Tuut… tuut…

"Eng? Nami? Oy!! NAMI??!!" teriak Luffy pada hapenya sendiri. Ia juga sempat mengguncang-guncangkan, dan tak luput pula sang hape malang dibanting beberapa kali ke atas bantal. Sang hape pun mengalami gangguan mental, sodara-sodara!

"SIAAAALLL!!!!!!!" kesalnya kemudian meninju tangan ke tembok, "Uhh… sakit…!" keluhnya megangin tangannya yang bengkak karena penyakit 'ninju-tembok-gak-pake-otak'.


Keesokan harinya, di sekolah…

"Eh, itu mereka! Nyok ikut kumpul ke sana, Chopper!" ajak Ussop seiring ia melihat anggota gengnya sedang berkumpul di kursi taman sekolah tepat di bawah pohon. Tampak para Mugiwaraners yang sedang nongkrong bareng sambil tertawa riang.

"Syukurlah~~!! Nami-swaaaannn…! Lo udah masuk sekolah!" alay Sanji sambil nari-nari GaPe. "Hamba sungguh senang melihat anda kembali ke sekolah!!!" lanjutnya berlagak sebagai seorang budak nyembah-nyembah Nami dan masang beberapa kemenyan plus dupa di sekitar Nami. Nami tersenyum, tapi kemudian kepala Sanji jadi punya konde empat tumpuk.

"Uwaahhh…! Cewek matre udah sehat nih—UGHH!!!" sapa Ussop yang kemudian perutnya disikut Robin. Ussop mandangin Robin dengan tampang kesel, tapi Robin hanya respon, 'Mending disikut sekarang ama gue, daripada elo ntar disihir jadi kodok sama Nami!'. Ussop pun manggut-manggut nurut.

"Duh… laper…" keluh Luffy megangin perut.

"Emang lo tadi pagi ga sarapan?" tanya Zorro sambil bernguap ria.

"Sarapan sih… tapi cuman empat piring…" lirihnya masang muka merana dan tidak berdaya.

"Hah…? 'CUMAN'?" heran Chopper.

"Empat piring masang muka merana begitu…" komen Robin sambil swt.

"Laper~~!!!!!!!" lebay Luffy nangis guling-guling di atas tanah sambil ngempeng.

"Kacangin ah…" batin Mugiwaraners.

Tak lama kemudian, matanya mendelik melihat sesuatu, "Ah! Ada yang jualan cireng!!" tanpa dikomando, ia pun melesat berlari menuju sang tukang cireng. Mugiwaraners yang lain pun akhirnya memutuskan untuk mengikutinya, sekalian jajan makanan kecil yang lain.

"Wah, dek… cirengnya belom digoreng, mang baru dateng!" sahut sang mang Cireng berambut hejo, bernama Smoker.

"Yah… mang…!" protes Luffy menangis ala ratapan anak tiri. Sang mang pun sweatdrop plus muncul perasaan ingin muntah.

"Eh, Mang Smoker!!" sapa Robin kepada Mang Smoker dengan ramah.

"Lo kenal?" tanya Zoro sambil sendakep dengan mata tiga watt seperti biasanya.

"Yap, Mang Smoker ini sebelumnya pedagang keliling di komplek gue. Gue sering beli, kok!" jelas Robin, "Ngomong-ngomong, mang kok jadi jualan di sini?"

"Eh, neng Robin… Langganan setia mang, euy! Iya neng, mang teh baru jualan di sini hari ini…" sahut Mang Smoker sambil menyalakan rokok cigarette-nya sebanyak empat batang. Zoro dan Sanji ngebatin dengan kagum, 'hebat pula si mang ini… jualan cireng tapi rokoknya empat batang cigaret…!'.

"O… bulet… pantesan blom pernah liat…" komen Nami bertolak pinggang. "Ngomong-ngomong, datengnya kok pagi gini sih, mang?" tanyanya sambil melirik pada jam tangannya yang menunjukkan pukul 6.35.

"Kalo dateng siang mah, neng, saya dimarahin sama istri saya, atuh!" sahut Mang Smoker ogah-ogahan dengan logat asli sundanya.

"Mang… jangan lama-lama…! Gue pesen lima, mang!" sergah Luffy yang udah gak sabaran banget.

"Lima cireng?"

"Yah, mana cukup dong mang! Maksud gue lima porsi!!"

"Lo pagi-pagi udah jajan sebanyak itu? Entar perut lo sakit, baru tau rasa!" nasihat Nami melipat kedua tangannya.

"Kan ada dokter Chopper!!" kelitnya sambil mengangkat Chopper, menggendongnya di bahu dan membawanya lari-larian keliling pekarangan sekolah sambil teriak geje, 'HIDUP DOKTER CHOPPER!!!'. Kalo aja ga dikempalang kaki Sanji, mereka pasti udah digiring Guru BP ato Guru PKS.

"Nih, dek, cirengnya…" ujar Mang Smoker gak lama kemudian sambil upacara serah-terima antara cireng dan duit dengan Luffy. Luffy menyambut bahagia cireng-cireng itu dan melahapnya dengan bengis hingga tak tersisa sedikit pun, sekalipun untuk organisme kecil yang ada di dalam sampah.

Mugiwaraners tepok jidat, "Manusia lapar abad 21…" komen mereka dengan kompak.

"Lo kayak udah ngidep penyakit Busung Lapar selama empat taon aja deh…" komen Ussop es-we-te.

"Jaahhh!!" pekik Luffy bertolak pinggang di atas batu cagak sekolah. "Kalian cuman ngiri aja kan sama napsu makan gue?? GYAHAHAHAHA~!!!"

"NGAPAINDH KITA NGIRI, BEGO!!" sewot Mugiwaraners kecuali Robin, yang malah ketawa-ketiwi jaim seperti biasanya.

"Eh, tapi ngeliat Luffy, gue juga jadi pengen deh…" lirih Chopper yang agak napsu ngeliat Luffy dari tadi menjilat bekas cireng di bibir dan jarinya. "Mang, gue beli satu deh…" lanjutnya sambil menyodorkan uang seribu rupiah.

"Sip…" sahut Mang Smoker dan kemudian membungkuskan satu cireng dengan kertas koran yang sudah dipotong-potong.

"Cirengnya si Mang Smoker enak lho…" wanti-wanti Robin pada Chopper sambil mengangkat jempol. "Dijamin ketagihan!"

"Honto??!" tanya Chopper. Chopper pun mencoba menggigit cireng walaupun dengan agak ragu-ragu, kemudian mengunyah dan… glek! Menelannya. "OISHII~!!!" teriak Chopper loncat-loncat sambil noodle-dance.

"Ya 'kan?" senyum Robin.

"Eh? Yang bener? Chopper??" tanya Sanji dengan sumringah. Tak tanggung-tanggung, Sanji yang penasaran langsung menggeplak duit seribuannya di atas gerobak Mang Smoker dengan bangga, "Satu, mang," pintanya dengan cool.

"Katanya kaya, tapi belinya cuman seribu…" cibir Ussop monyongin bibir yang langsung disambut hangat anggukan setuju dari Zoro.

"Kan ini cuman nyoba! Ngapain beli banyak-banyak?" kelitnya menahan kesal. "Mang, gak usah dibungkus koran," palingnya pada Si mang dan langsung mencomot cireng dari saringan gorengan yang terbuat dari kawat.

"Dasar! Anak-anak jaman sekarang teh gak punya sopan santun!" protes Mang Smoker menggigit cigaretnya. Mugiwaraners langsung respon ngetawain Sanji.

"Berisik, kalian…" keluh Sanji. Ia memperhatikan cireng itu. Dari atas, bawah, samping, kemudian menggigitnya dengan efek dramatis. Mengunyah dan menelannya pelan-pelan. Glek… "ENAAAK~" komennya sambil menangis bahagia.

"Jangan nangis! Tampang lo jelek!!" tanggap Zoro dengan laknat. Ia pun mendapat merchandise berupa tendangan maut.

"Woy, mang! Gimana bikinnya nih?! Kok bisa enak sih??" tanya Sanji dengan penasaran (dan sambil nempelin sepatu di wajah Zoro). Namun sang Mang tersenyum dan menjawab bahwa resepnya adalah rahasia. Sanji tertunduk lemas.

Teng… nong… teng… nong…

"Jiahh~ padahal gue pengen nyoba juga tuh cireng…!!" kesal Nami saat mendengar suara bel sekolah. Ia pun mengurungkan niat untuk mengambil duit dalam kantongnya.

"Udah, kalo gitu, kita masuk dulu!" tarik Robin pada Sanji.

"Uhh… aku menderita penyakit 'masuk-kelas-langsung-ulangan-dan-langsung-mati'…" komennya ngesot dramatis di tanah. Mugiwaraners pun mengacanginya dengan notabene 'anggep aja gak kenal' kecuali Chopper dan Zoro yang langsung menyeretnya menaiki tangga luar menuju kelas di lantai dua.

"Yuk, Luffy… kita ke kelas!" ajak Nami menarik kerah baju Luffy, "Sekarang pelajaran Matematika-nya Shackey-sensei!"

Luffy terbelalak mendengar kata 'matematika', "Oh… Nami…!" panggilnya dengan manja.

"Apa…?" sahut Nami acuh-tak-acuh karena merasa tau dengan apa yang dipikirkan Luffy.

"Gue tiba-tiba ngerasa demam, sakit perut, migran dan komplikasi cacar air… kayaknya gue harus masuk UKS …" jelasnya dengan tampang sakit dusta sambil hendak melarikan diri ke UKS.

Namun, Nami yang berotak licik, pasti tak kalah akal.

"Oh, iya… yang jaga UKS kan sekarang Ivankov-sensei?"

Kalimatnya itu benar-benar sangat telak membuat Luffy freeze ditempat dan berkeringat banyak. Ia ingat bagaimana ketika ia pura-pura sakit dan masuk UKS, kemudian ketahuan Ivankov-sensei. Luffy saat itu hampir saja disuntik obat hormon tinggi yang dapat membuatnya jadi bancay, dan harus mangkal di Taman Lawang untuk selama sisa hidupnya. Sungguh kenangan yang buruk, dan akan menjadi kenyataan jika saja Luffy saat itu tidak melarikan diri lewat jendela UKS yang ukurannya 30 x 25 cm itu.

"Uhm… gak jadi deh… sakit perut dan migran gue udah sembuh kok…" baliknya ke arah Nami.

"Eh, demam dan cacar airnya gimana?" tanya Nami dengan ramah palsu.

"Ah, itu juga udah ilang dengan sendirinya kok!" serunya berlalu sambil berjalan dengan tampang riang mendahului Nami. Nami pun tertawa kecil menggelengkan kepalanya.


"Nah, begitulah… Pada dasarnya, Implikasi adalah pernyataan 'Jika… dan maka…' dimana rumus yang dapat kita hapal 'jika p… maka q…'. Dari sana kita dapat mengetahui, ingkaran atau negasinya adalah 'jika p maka tidak q', begitu pula sebaliknya…" jelas Shackey-sensei panjang lebar menjelaskan Bab Logika Matematika.

Sementara sang guru menjelaskan, Luffy asyik ngorok.

FWINGG! PLETAAAAKK!!!

"GYAAAAA!! Jarum suntik menancap di kepalaku~!!" teriak Luffy heboh seiring Shackey-sensei melemparinya dengan spidol whiteboard (bukan whitebeard). Anak-anak kelas menertawainya.

"Tuan Luffy… apa kau memperhatikan bukumu?" tegur Shackey-sensei dan menatap Luffy lekat dari atas kacamatanya yang ia turunkan sedikit ke bawah.

"Euh… i-iya… kok, bu!" sahutnya asbun.

"Kalo begitu kerjakan soal yang ada di papan tulis! Cepat!" seru sang guru menghardik.

Luffy pun mau tak mau, suka tak suka, mengambil spidol yang tadi telah hampir membuat kepalanya berlubang sebesar dua inchi. Ia kemudian maju ke papan tulis, dan mencoba mengerjakan soal di papan tulis…

Alhasil, di koridor pun… diketahui… ada seorang siswa sedang menahan empat ember berisi air dan berdiri dengan satu kaki. Satu ember di atas kepala, dua ember di kedua tangannya, dan satu ember menggantung pada kaki kiri yang sedang diangkatnya.

"Jangan berhenti sampai pelajaran selanjutnya, Tuan Luffy!" pekik Shackey-sensei di pintu kelas. Ia pun kemudian kembali masuk dan mengajar.

"Ughh… sial…" keluh Luffy menahan beban empat ember dengan posisi tak mengenakan pula.

Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki menyusuri koridor. Rupanya seseorang itu adalah seorang gadis berambut biru diikat satu, berparas manis serta elegan, namun kuat. Gadis itu berjalan semakin dekat, dan tampak terbelalak melihat Luffy yang sedang berdiri dengan pose aneh di depan koridor.

"Ahh…! Kak Vivi!" sapa Luffy dengan wajah memerah karena malu ada seorang gadis yang melihatnya dalam posisi seperti itu.

"Luffy? Kau dihukum lagi?" tanya gadis yang akrab dipanggil Vivi itu. Sontak mendengar pertanyaan itu, Luffy berkeringat dingin dan wajahnya semakin memerah.

"Eng… ah… enggak kok, kak! Cuman lagi fitnes; latihan angkat ember…"

Vivi tertawa kecil dengan manisnya, "…aku rasa gurumu gak punya rasa toleransi ya?" ledeknya. Pipi Luffy makin memerah tajam dan ia pun mulai menggerutu tak jelas.

"Oh, ya, kakak darimana? Bukannya kelas kakak ada di gedung seberang?" tanyanya dengan nada ingin tau palsu (karena tujuan utamanya sebenarnya hanya ingin merubah subjek).

"Ah, ya… kakak disuruh guru untuk mengambilkan penggaris panjang dan beberapa gelas ukur di Lab Kimia," jelasnya sambil tersenyum manis. Tak ayal, itu membuat Luffy sedikit tersipu. Benar-benar gadis yang cantik, pintar, dan selalu patuh dengan apa yang di perintahkan guru. Tak seperti Luffy, ganteng memang, tapi… ulangan selalu dapat nilai do re mi, dan tak pernah patuh dengan perkataan guru.

Luffy menundukkan kepalanya jika memikirkan hal itu. "Ah kak!" kaget Luffy ketika melihat Vivi hendak melangkahkan kaki untuk pergi.

"Ya, Luffy?" tanyanya dari jarak sekitar dua langkah darinya.

"Ano… ada yang mau aku tanyain… itu… apa kakak ada masalah dengan… Han—maksudku—Kak Hancock?" tanyanya, bagian akhir dari kalimat ia kecilkan suaranya agar tak terkesan sompral.

Vivi mendelik. Wajahnya jadi agak pucat sejenak dan tampak berkeringat dingin. "Ha? Kak Hancock, ya?" tanyanya agak ragu, "…tidak kok…"

"Tolonglah, kak! Jujur padaku!!" ujarnya setengah memaksa. "Kalo Kak Hancock berbuat sesuatu yang jahat, bilanglah padaku! Aku janji akan datang menolong kakak!!"

Sekali lagi, Vivi mendelik. Ia takjub melihat wajah serius Luffy yang mengisyaratkan kamauan keras. Pipinya menghangat melihat sosok Luffy yang seperti itu. Tapi tanpa disadarinya, kakinya malah berlari melangkah menjauhi Luffy hingga hilang dari sudut pandang Luffy. Luffy menatap heran gadis itu menjauh.

"Kok malah pergi?" tanyanya bimbang. Sementara itu, Shackey-sensei tiba-tiba nongolin kepala dari pintu kelas.

"Bicara dengan siapa kamu? Hem?" tanyanya dengan wajah angker.

"Gak sama sapa-sapa kok, bu!" Luffy menggeleng innocent.


Istirahat pertama…

Luffy pun curhat pertemuannya dengan Vivi pada teman-temannya, berharap teman-temannya punya usul yang baik terhadap masalah yang telah disebabkan oleh mereka sendiri tapi berdampak hebat pada Luffy.

"Lho? Elo nanya begono sama Vivi… Berarti sebenernya elo ngerti masalahnya dong??" sewot Chopper menusuk-nusuk pipi Luffy dengan jari telunjuk. Luffy pun menengokkan kepalanya ke arah Chopper, jadilah sang jari telunjuk nyungsep ke dalam lobang hidung Luffy. "Ah?! Ga bisa dicabut!!"

"Ngaahhh… hepasin nyari eyo yhangh mbau ntuh nhari idungh guweee!!! (Gaahh… lepasin jari elo yang bau itu dari idung gue!!!)" panik Luffy.

"Heh! Harusnya idung lo yang menjauh dari jari gue!!" sewot Chopper dengan tampang jejadian.

"Sini biar gue bantu," tawar Zoro sambil mengeluarkan pedang asli dari sarungnya (sound efek: CLING!!).

"GYAAHHH!! LO MAU APAAA~!?" jerit Chopper dengan pucat sepucat-pucatnya memandang Zoro yang sekarang mendekat sambil ngasah pedang.

"Gampang kan? Biar gue potong jari elo…" sahut Zoro datar.

"NNNOOOOOOOO~!!!!"

"Hwuo?! Inhe manguus Zowo!! (ho?! Ide Bagus Zoro!!)" dukung Luffy sambil ngacungin jempol.

"LO LAGI MALAH NGEDUKUNG!!!" seru Chopper menendang dagu Luffy dengan bejad. Sementara itu, Zoro semakin mendekat. Aura mencekam ala pilem horor makin terasa. Mugiwaraners yang lain dengan giat dan perasaan berdecak kagum malah nonton acara langka ini.

"HEH! BUKANNYA PADA BANTUIN!!!" sewot Nami yang baru sadar kalo anak-anak Mugiwara seneng kalo jari Chopper jumlahnya berkurang. Ussop dan Sanji pun akhirnya membantu Chopper dengan cara yang lebih aman dari pada cara Zoro (yang berbau kanibalisme, tidak beradab, dan IRRASIONAL).

"Nah, tolong lanjutkan percakapan ini, Tuan Luffy…" ujar Sanji sok formal.

"Nah… tadi nyampe mana? Oya, jadi gue tuh baru ngerti masalahnya setelah semalem gue renungin sambil ngeliatin langit-langit kamar gue selama empat jam!" keluh Luffy sambil ngorek-ngorek hidungnya yang kian membesar itu. "Alhasil, gue baru bisa tidur setelah jam tiga subuh!!"

Zoro tarik napas kemudian menopang dagunya di atas meja kantin, "Itu sih derita elo…"

"Ternyata otak lo tu lambat berpikirnya, ya!" komen Sanji sambil menepuk kepala Luffy beberapa kali.

"Jadi gimana, guys? Gue yakin kayaknya ada sesuatu yang terjadi antara Vivi dan si Hancock ini…!" tanya Luffy sok telenovela.

"Tumben lo mikirin cewek? Biasanya yang ada di otak lo tuh makanan sama PS?" komen Ussop. Luffy spontan menatapnya dengan tatapan: 'apa-perlu-elo-digorok-sama-gue-?'.

"Gue ada usul, guys, gimana kalo kita rundingin sama anggota Mugiwara yang laen juga?" Usul Robin. "Mungkin aja, Franky, Brook en Margarett punya usul?"

"Yo'i!" respon Mugiwaraners yang lain.

"Nah, kalo gitu… Sanji, lo telpon Margarett sepulang sekolah, suruh dia ke markas…" lanjut Robin.

"WOKEEEHHH!!!" sahut Sanji semangat.

"Eng, Nami? Kenapa lo diem terus sih dari tadi? Sejak kita ngomongin Vivi, elo jadi pendiem gitu?" tanya Luffy memperhatikan Nami. Kali-kali aja, Nami mau traktir dia makan gitu (Lho?).

"Eng… enggak ada apa-apa kok…!" sahut Nami tertawa riang setelah sebelumnya sempat terlihat melamun dan asyik dengan pikirannya sendiri.

"Lo gak sakit lagi, kan?" tanya Luffy meyakinkan. Nami mengangguk sambil tersenyum, Luffy pun bernapas lega.

"Jiahh~ pacaran jangan disini donk, ah! Panas nih, ya gak?" ledek Zoro sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya, belagak kepanasan. Mugiwaraners yang lain mengangguk sambil menyeringai, sementara Nami dan Luffy tersipu di tempat.


"YOSHAAAA!! Gue absen yo satu-satu…!" seru Luffy sambil membawa papan dada beserta absen. Mugiwaraners yang kini telah berkumpul di ruang tengah markas alias rumah Luffy ini, spontan mempersiapkan telinga. Ada yang nyiapin dengan ngorek-ngorek telingan dengan cotton bud, ada yang sibuk ngeplakkin (baca: GAMPAR) temennya yang ketiduran, ada juga yang (sok) sibuk ngerapihin baju. "Okeh, Brook jii-chan?"

"Yohohoho!! Hadir, my lord!" acung Brook dengan penggesek biolanya, kemudian mulai bermain biola lagi.

"Oke, Franky?" lanjut Luffy.

Franky yang tampak sedang asyik membaca blueprint rancangan sebuah mesin pun segera mengangkat kacamata bacanya dan mengacungkan jempol sambil nyengir. "Masih idup…!"

"Sip," sahutnya sambil men-checklist daftar, "Margarett??"

"Yak! Hadir!" Acung Margarett.

"Oke…" lanjut Luffy menilik daftar, "Nami?" tanyanya dengan lembut yang kemudian diiringi 'ehem-ehem' dari anak-anak.

"Hadir Luffy…" sahut Nami tersenyum.

"Adeuy… prikitiew!" ledek Zoro dengan riang gembira sambil niruin gaya 'Entis' di acara Opera Sabun Van Jawa.

"Jah… jawabnya jangan gitu dong, Nami!" protes Ussop.

"Trus harusnya gimana?" tanya Nami bingung.

"Harusnya jawabnya: 'Apa sayang…'" sahut Ussop dengan gaya di genit-genitin dan spontan langsung ditanggepin sorakan-sorakan 'ehem-ehem' lagi dari anak-anak. Zoro dan Ussop pun dengan kompaknya tos ala Opera Sabun Van Jawa (maklum, ceritanya acara ini lagi mewabah di kalangan remaja gitu).

"Iya nih, Nami… jawabnya gitu donk!" timpal Luffy sendiri, anak-anak makin semangat nyorakin. Nami pun dengan sukses tersipu di tempat.

"Luffy, AH!" keluhnya dengan pipi mengembung.

"Hehe… Enggak, kalem aja, becanda kok… Oke, lanjut…" Luffy mulai menilik daftar absennya kembali. "Nico Robin?"

Robin pun mengacungkan tangan sambil membaca buku, tanpa menjawab. Guratan nadi muncul di dahi Luffy, ia pun bertolak pinggang dan mulai marah-marah ga jelas ala guru stress yang senang menjajah muridnya. "Robin! Dijawab donk! Masa' ngacung doang!?"

"Iya… iya… hadir…" sahutnya ogah-ogahan sambil terus membaca buku.

"Okeh, selanjutnya… Roronoa Zoro?"

"Yosh, ada, ketua!" sahutnya sambil duduk santai di sofa dan mengacungkan tangannya setengah-setengah. "Okeh, gue udah dipanggil, boleh gue tidur lagi?" tanyanya, Luffy pun manggut-manggut sambil melanjutkan kegiatan mengabsen, dan Zoro melanjutkan kegiatan molor.

"Terus… Chopper?"

"Hadir, Luffy~" acung Chopper sambil loncat-loncat beberapa kali.

"Bagus, tangan lo udah ga apa-apa?" tanya Luffy sambil nyengir kuda.

"Sekarang gak apa-apa sih, tadi cuman basah-basah ga enak gitu…" ujar Chopper sambil nunjukkin jarinya yang kini sudah tampak ngecling nan wangi karena udah dicuci sabun mandi, sabun moonlight yakni sabun untuk cuci piring, dan deterjen dimana masing-masing sabun digunakan untuk mencuci sang jari sebanyak tujuh kali.

Luffy cekikkan denger jawaban dari Chopper. "Ya udah, selanjutnya…"

"Tunggu, Luffy!" acung Sanji, "Kok nama gue gak disebut? Urutannya sebelum Chopper itu nama gue duluan kan?!" protesnya.

"Kepala kuning elo tuh udah cukup bukti bagi gue kalo elo hadir, tenang aja… udah gue checklist kok!!" sahut Luffy dengan tenang tanpa memandang Sanji. Sanji pun manggut-manggut mengerti. "Sip, berarti semua hadir!!"

"Nah," serius Robin sambil menutup bukunya, "Mari kita bicarakan ini dengan serius…"

Otomatis, Mugiwaraners memerhatikannya dengan serius. Semuanya ingin sekali membicarakan hal ini dengan serius.

Keadaan sejenak hening, namun…

BRAAAKK~!! BUMM!!!

"SU-SU-SUARA APA ITUUUHHH~?!!" pekik Ussop sambil melompat ke Zoro minta digendong. Zoro Otomatis nangkep, tapi beberapa detik kemudian Ussop dijatuhkan begitu saja olehnya.

Mendengar suara sesuatu yang dihancurkan itu, semua Mugiwara pun otomatis keluar ruangan dan mengikuti suara itu berasal—yakni Ruang Depan. Setelah secara berjamaah mereka berlarian berhamburan keluar dari ruang tengah, tampak asap dan debbu mengepul lebat dan samar-samar menutupi pintu rumah Luffy yang jebol, dan kusennya kini sudah berombak tak karuan. Bahkan dinding semennya pun retak meski tak runtuh. Buih kayu yang menjadi pintu Luffy pun berserakan mengotori ruang depan Luffy.

Luffy mendelik dan segera keluar dari rumah, "KURANG AJARR!! SIAPA YANG MASUK TANPA BUNYIIN BEL, HAH??!! BEL GUE JADI GAK BERGUNA TAUK!!!"

"That's not the point!!" protes Mugiwara menanggapi respon (kebodohan) Luffy dengan tampang males.

"Hah, apa kabar… Mugiwara…" sahut seseorang. Tampak ada beberapa orang berdiri di gerbang Luffy. Salah seseorang di antara mereka mengangkat tangannya dan menyapa dengan sombongnya. "Kau tetap bodoh seperti biasanya…"

Luffy menyipitkan matanya, meyakinkan siluet orang tersebut bukanlah sosok yang ia harapkan. "LAW!? Trafalgar Law??!!!"

Law berjalan beberapa langkah maju dan berdiri menantang sambil menunjukkan jari telunjuknya tepat ke arah kepala Luffy. Beberapa saat yang hening, ia memasukkan tangan satunya ke kantong celana sekolahnya.

"Aku tantang Genk Mugiwara untuk bertarung,"


___TSUZUKU___

Bertambah satu masalah untuk Luffy…

Next Chapter: "Kepergian Satu Harapan"


A/N: GYAHAHAHAA~~!! Saia bersemengat! Heh, next chapter jangan ditilik dari judul chapternya yah!! Walopun judulnya melankolis (dan mungkin memang ada beberapa adegan menyedihkan) tapi Anak-anak Mugiwara akan saia buat tetap gokil dan tidak bermoral!!!! *ditabok reviewer karena mengajari anak kecil yang gak-gak*

Bahas Review: (Author (yang bau dekil dan belum mandi ini) dengan tololnya masih menganggap ajang bahas reviewnya sebagai ajang'POJOK SBS').

ruki4062jo: Haduduhhh… maaf tak saia lanjutkan percakapan mereka… maaf kalo semuanya yang membaca tadi kecewa, karena saia masih ada line story untuk dinikmati… khehehehehe…

Azure R. Aori: Hyaa~! Bagi author sih gak papa… wakakak… sedikit spoiler, Nami adalah kunci dari semua masalah ini. Sedangkan Luffy, s'perti biasa dia adalah tokoh utama yang menjadi korban kebodohan line story author. Horo horo horo~!! *ngikik bejad ala Perona*

ShimaCROW: Aww… your penname kinda remind me of someone very special's name… Okay, nevermind. Hm? Oh masalah stylish penulisan ya. Yah, mungkin bagi anda yang tak begitu menyukai stylish ini saia sudah mulai kurangi kok di chap ini. Tapi, sekedar pemberitahuan aja, sebenernya ada pembeda antara tanda kutip double ("…") dengan ('…') dalam kamus stylish penulisan dalam fanfic saia. Ah, pembedanya mungkin di next chapter akan saia jelaskan sebelum dimulainya fic. Supaya readers gak bingung.. :D. Margarett…? Ah… setelah baca chap ini, kamu ngerti kan Margarett itu ada pihak mana? XD

Monkey D. Cyntia: GYAAAAHHH~!! Dia memulai demo penolakan Hancock!! Panggil SatPol PP!! Panggiiiill…!!! Ehem, Jawaban siapa yang disukai Nami, mungkin terjawab di next chapter. Anyways, thanks for reading and reviewing my stupid Fanfic… *bend down*

Ferisa-chan: Iya… nii-san udah baca fanfic kamu lho… nii-san udah review… Tapi… GAAAAHH~!! Gara-gara kamu nii-san juga jadi suka Fairy Tail!! Gyaahhh~!! Ini mengerikan!! *lari ke RSJ Cisarua*

Kuchiki Rukia-taichou: Gakakakakakakkk~!! Hancock emang ganjen… Tadinya aku di chap ini mau buat siluet dikit, ceritanya Hancock 'sneaking' ke WC cowok, dan nge-push Luffy ke sudut WC. Terus mencium Luffy secara tiba-tiba dan dengan kesan memaksa. Tapi aku terlalu tidak ikhlas MY HANCOCK mencium si brengseeekk ituuuhhh~!! *dikejar Luffy's FG plus petugas RSJ*

edogawa Luffy: Yaph, dah ketemu kok… tapi kayaknya masih agak panjang… coz mau aku isi filler-filler dulu~ Biar rame~~ *nyanyi-nyanyi gape* Masih penasaran?? Ditunggu chap berikutnya, okeh!! Thanks selama ini tetap mereview… *bend down*

Gabriella Van Nicola Vampire: Oh, yang strip poker ya? Iya sih, tadinya mau aku bikin cerita terpisahnya sendiri. Dengan rating yang kalo bisa lebih tinggi dari M! (emang ada?!). Tapi, yah, aku tak mau merusak moral bangsa!! *ngelanjutin baca fanfic english rating M*

ITEGUMODHEVARY: Yaph… aku bisa terka siapa ini.. huehehehe… Thanks for reviewnya…!

MelZzZ: YESS!! YOU GOT IT RIGHT DUDE!!! *ditimpuk sendal tetangga karena teriak geje tengah malem* Vivi emang udah punya Kohza yo… check out the next chapter deh…! Yaph, sekali lagi ente benar! Itu adalah lagu Share The World by Tohoshinki. Aku suka lagunya tapi tidak dengan penyanyinya~!! *dikeroyok FG Tohoshinki*

Izunachi: Gak papa telat... :D dalam kamusku tidak ada kata-kata terlambat... Okeh, salam kenal juga Izu-chan... (boleh saia manggil itu? saia tipe hentai, setiap ketemu cewek pengennya manggil dengan embel-embel '-chan') Makasih udah baca terus ya... *senyum kecap manis*


A/N:Yah, thanks buat reviewnya untuk chapter ini ya!! Saia bahagia kalo dapet kritik, saran dan kesan dari teman-teman sekalian… *bend down* Pesan saia, tetaplah berkarya membangun komunitas One Piece ya…! Juga jangan lupa gabung sama One Piece Fans Club di FB ya… *digorok karena sembarangan promosi*

Tidak bosen-bosennya saia minta anda sekalian review…!! Oh ya salam terakhir untuk chapter ini dari saia yakni…

SERANGAN HOLLOW NEGATIVE!!! Horo horo horo~~


Please Review!!

V