Disclaimer: Kalo saia yang punya, saia 'ending'in One Piece dengan cepat!! *disembelih para OP fans*

Summary: "Trafalgar Law, seorang siswa kelas XII IPA 8 yang sangat terkenal karena memiliki genk terbesar di sekolahnya, tiba-tiba saja menantang Luffy untuk bertarung. Pemirsa, apakah maksud dan tujuannya? –inserut mode: ON-"

A/N: Saia KESAL SAMA CHAP INI!! Saia menyesal kenapa kekuatan buah iblis tidak berlaku disini!! GRRRHHH~!!!


__CHAPTER SEVEN__

Kehilangan Satu Harapan

"Aku tantang Genk Mugiwara untuk bertarung," tunjuknya pada kepala Luffy dengan sombong.

Hawa panas mulai menjamah tubuh sekarang. Angin berdesir dingin yang membawa baju mereka melambai pun jadi terasa hangat dan tak mengenakkan di kulit. Kata-kata ketus Law, membuat semua yang ada di situ berdiam diri. Bukan takut, tapi takjub.

Trafalgar Law tersenyum pahit. Ia keluarkan karisma wajahnya dengan kecut. "Aku ingin lihat siapa yang lebih kuat diantara kita," ujarnya dengan lukas, "…dan aku ingin lihat siapa yang BERHAK mendapatkan Hancock."

"Hancock? Lo siapanya Hancock??" tanya Robin berkeringat dingin.

"Hemh," cengirnya, "Gue calon suaminya Hancock," lanjutnya dengan pede dan tentu saja ge-er yang berindikasi stadium lebay.

"Calon suaminyaaaa???!!!" delik Mugiwaraners dengan muka 'pede-apa-lebay-lo-?'.

"Ano…" Luffy angkat bicara sambil menggarukkan kepala belakangnya. "Gue gak lagi mikirin masalah siapa yang berhak ngedapetin Hancock, ya. Gue pikir… Kalo lo mau, dia boleh jadi milik elo kok!!" sumringah Luffy dengan mengacungkan kedua jempolnya. "Gue ikhlas lahir en batin!!!"

Cnut.

"Apa lo bilang…?" tanya Law dengan suara sedikit menahan geram. Mungkin Law lagi sariawan, atau semacamnya.

"Lo budeg ya? Okeh…" Luffy berlari ke dalam rumah, kemudian kembali lagi sambil membawa TOA jumbo yang konon ceritanya limited edition (karena hanya dapat ditemukan di lapangan senam lansia). Luffy tarik nafas, "gue bilang: GUE KASIHIN HANCOCK DENGAN IKHLAS LAHIR DAN BATIN KE ELO!! GUE GAK ADA NIAT BUAT JADIAN SAMA HANCOCK!!!"

Cnut. Cnut.

"Gitu ya…" sahut Law pelan. Dengan langkah perlahan tapi pasti, Law melangkah maju dengan antengnya. Selangkah, dua langkah… hingga akhirnya berlari dan…

BUAGGGHHH!!!

"LUFFY!!!" pekik Mugiwaraners seiring menatap Luffy yang kini sedang melayang beberapa meter di atas tanah, kemudian terjatuh.

Law dengan strike, meninju Luffy tepat di pipi kirinya, hingga Luffy terpental sekitar lima meter ke belakang dan kembali menghantam tembok rumahnya yang bercat abu-abu itu. Tak ayal, pipi Luffy memar, kepala dan hidung serta bibirnya mengeluarkan cairan merah.

Luffy menyeka dahinya yang telah berlumur darah itu. "Wow… darah itu warnanya merah ya?" komennya dengan innocent sambil sesekali dengan 'ndeso mencium darahnya sendiri dan menjilatinya untuk sekedar menyicipi.

"KEBEGOAN ELO TUH BEDA TIPIS SAMA TOLOL!!" bentak Mugiwaraners yang sangat amat kecewa dengan otak (non-)cerdas Luffy pada situasi genting.

Nami yang papat, bersama-sama Chopper dan Zoro segera menghampiri Luffy dengan khawatir. "Oy, Luffy! Lo gak apa-apa?" tanya Nami pada Luffy, Luffy hanya mengangguk sambil sesekali meringis.

"Heh! Elo, manusia jambang bertopi aneh!!" tunjuk Zoro pada Law ngotot, "apa maksud lo ninju Luffy kayak gitu tiba-tiba, HAH?!!"

Law menyeringai lagi. Sementara itu Mugiwaraners yang lain ngebatin, 'Ini orang cacat mental deh… dari tadi senyum geje terus…'

"Gue…" tatapnya dengan muka horor, "benci liat muka lo yang kalah ganteng dari gue itu, 'membuang' Hancock sang gadis tersempurna di muka bumi ini begitu saja…"

Telinga Sanji dan telinga Luffy secara spontan bergerak refleks kejut mendengar kata-kata 'kalah ganteng'. Mereka pun dengan kompak berteriak: "SIAPA YANG LO BILANG KALAH GANTENG, HAH??!!!" tunjuk mereka pada Law dengan wajah bejad.

"Oy… oy… yang dibilang kalah ganteng itu kan Luffy? Kok Sanji ikut-ikutan sewot sih??" bisik Ussop pada Zoro dan Nami dengan suara sangat kecil. Zoro dan Nami pun hanya mengangkat bahu sambil geleng-geleng tarik nafas panjang. "Berarti dia ngerasa dong, kalo kalah ganteng!" lanjutnya dengan suara sangat kecil. Nami dan Zoro pun mengangguk-angguk setuju dengan es-we-te.

"Hoy! Gue denger itu, hidung panjang!!" depresi Sanji yang berjarak 20 meter darinya. 'Gak mungkin…' batin Ussop masang tampang males.

"Yosh…" bangkit Luffy dari duduknya kemudian memegang pundak kanannya dengan tangan kirinya, dan mulai mematahkan lehernya ke kiri dan ke kanan hingga menciptakan suara yang cukup keras. "Come on Mugiwara, ada yang minta ngerasa'in tinju kita…"

Dengan nada serius itu, Mugiwara tanpa dikomando lagi, segera berdiri dengan gagah dan mensejajarkan sekaligus mempersiapkan diri. Luffy menekan-nekan jarinya hingga menimbulkan bunyi keras lagi, Nami mengeluarkan tongkat biru panjang (entah darimana asalnya, saya juga tak mengerti), Franky memasang kacamata hitamnya, Sanji mengetuk-ngetukkan salah satu sepatunya dan segera menyuruh Margarett untuk sembunyi di dalam rumah, Robin mempersiapkan buku super tebal di kedua tangannya, Brook dan Zoro mempersiapkan pedangnya.

"Chopper, lo diem di situ aja. Soalnya…" Sanji nyengir, "Habis ini lo bakal sibuk banget…" lanjutnya dengan cool sambil meregangkan dasi SMA yang melingkar di lehernya itu. Chopper mengangguk kemudian merubah wujud menjadi wujud besar.

"YOSH!! Berjuanglah, guys! Gue bantu Chopper!!" seru Ussop ngacungin jempol sambil gemeteran sembunyi di belakang Chopper.

"LO IKUT JUGA, BEGO!!" respon Nami, Sanji dan Zoro dengan kompak.

Law dengam muka tak senang, kemudian menjentikkan jarinya. Otomatis, orang-orang yang tadi ada di belakang tubuhnya maju ke depan dan menunjukkan diri mereka di hadapan para Mugiwara. Tampak, total anggota mereka yang saat ini sedang ada di TKP sebanyak 7 orang.

Mari kita tilik anggotanya satu per satu dari kiri hingga ke kanan.

Orang pertama yang berada paling ujung kiri itu seorang gadis pendek berambut pink diikat dua, dan memiliki stylish dandanan yang masya allah gothic banget. Orang-orang memanggil namanya Perona.

Orang kedua yang berdiri setelah Perona tampangnya lebih serampangan ketimbang Pemimpin mereka, Law. Warna rambutnya yang merah dan kacamata google besar yang melingkar di dahinya itu memiliki kesan aneh tersendiri bagi kita yang melihatnya. Orang-orang mengetahuinya sebagai Eustass Kid si maniak magnet.

Nah, kalo orang ketiga yang berdiri di samping Kid, seseorang berkacamata dan berambut coklat agak jabrik. Ia dikenal dengan nama Kohza. Sesungguhnya, ia pria yang cerdas dan acap kali mendapat peringkat baik di kelasnya. Namun apa boleh buntet, ia salah pergaulan.

Orang keempat, yakni satu lagi cewek cantik selain Perona yang berambut pink panjang. Banyak orang yang mengatakan bahwa ia penggemar berat Jeng Kellin. Kenapa? Ia menggunakan pemerah bibir dengan stylish yang sama dengan Jeng Kellin. Tubuhnya lumayan semampai dan memiliki body aduhay meski sebenernya tukang makan. Mungkin rival terbaik Luffy dalam hal kompetisi 'Makan-Ini-Itu-Oke'.

Yang kelima, adalah lelaki berbadan tegap tinggi besar berambut blondy layaknya Sanji. Satu hal yang menjadi ciri khasnya ialah, SELALU MERASA KEGANTENGAN dengan komplikasi kegatelan sedikit. Ya, namanya adalah Duval si juragan ikan asin.

Yang ke-enam, adalah seorang tengil, bau, bergigi kuning, hidung merah besar, dan memiliki rambut biru panjang diikat satu. Mungkin kakak kembarnya Vivi? Ah, itu hanya khayalan kalian saja yang menganggapnya begitu. Orang-orang biasa memanggil siswa asal SMA East Blue ini dengan nama Buggy si badut konyol nan garing.

Yang terakhir, gadis cantik nan manis berkacamata dan berambut hitam kebiruan dan tampak sangat kikuk ini tampak serius memegang katana dengan kedua tangannya. Ia merupakan gadis cerdas pindahan baru dari SMA Log City. Ada yang tau? Bahwa sebenarnya gadis ini adalah anak dari kenalan Robin, yakni Mang cireng kebanggaan kita, Mang Smoker.

"Ada yang bernama Franky?" tanya Buggy tiba-tiba sambil nyengir bejat nan sesat ala kuda (atau kuda yang ala Buggy?). Franky tanpa bicara, segera maju satu langkah sambil mengangkat kacamata hitamnya sedikit. "Jadi elo?" senyum Buggy sambil mengeluarkan sebuah CD, "Apa lo kenal… sama CD ini…?"

"APA?! KENAPA BISA ADA DI TANGAN ELO~??!!" teriak Franky, yang sangat tidak diduga-duga ternyata ucapannya itu terlontar bebarengan dengan Nami dan Luffy. Franky menatap mereka berdua dengan tatapan heran.

"Bu… bukannya… yang nyuri tu CD dari kita adalah… Hancock dan… Vivi…?" desis Nami dengan tidak yakin dan dengan suara kecil namun dapat didengar oleh seluruh Mugiwaraners. Margarett sekalipun yang sedang bersembunyi di balik tembok rumah dapat mendengarnya dengan jelas. Semuanya pun tercengang tak mempercayai telinganya sendiri.

"Vivi?!!!" bentak Luffy pada Nami seiring memori flashback saat Nami memberitahukan siapa yang melukainya saat itu tersusun kembali. Ia ingat dengan sangat jelas, Nami tak mengatakan atau bahkan menyebutkan nama 'Vivi'. Wajahnya tampak sekali sangat marah. "Lo cuman bilang kalo Hancock dan geng-nya aja yang ngambil CD dan ngelukain elo!!" protesnya.

Nami pun tertunduk lesu. Pandangan matanya tertutupi oleh helai-helai rambut, sehingga hanya tampak bibirnya yang mengkerut menahan tangis. "Ma… maaf… Luffy…" Kini percuma ia menahan tangis, air mata yang menggulung di pelupuk matanya akhirnya jatuh juga membasahi pipinya. Ia pun mengangkat wajahnya, "Gue… terpaksa…"

Luffy mencengkram bahu Nami, "Kenapa Nami? Kenapa lo gak bilang sama gue dengan jujur…?" depresinya dimana kemudian cengkraman tangannya berpindah ke rambut hitamnya sendiri. "Gaaahhh~!! Pantesan!!"

Nami menahan lembut lengan Luffy, "Luffy, gue sebenernya…"

"AWAS!!!" pekik Luffy dan Sanji yang mendelik melihat Kohza melayangkan pukulan kayu ke arah kepala belakang Nami.

"INI UNTUK VIVI!!!" teriak Kohza dengan antusias ingin menghantam kayu setebal 4 inchi. Ussop yang melihat itu, sempat menembakkan peluru pachinko dengan ketapel ke arah kepala Kohza. Tepat sasaran memang, namun pukulan kayu milik Kohza rupanya juga tepat sasaran, meski tak begitu keras.

DAAAGGGH!!!

Luffy mendelik menyaksikan Nami yang jatuh terkulai menghantam tanah. "Na… mi…" desisnya tak berdaya menyaksikan Nami yang jatuh menghantam tanah di depan mata Luffy, untuk yang kedua kalinya. "Kau…" Luffy mencengkram kuat kepalannya.

BAAAGGHHH!!!

Luffy dengan rasa dendam kesumat, menginjak dan menendang Kohza yang sudah terkapar di atas tanah akibat lemparan Ussop tadi, beberapa kali. Dengan aura mencekam dan wajah seram, Luffy terus menghardik Kohza dengan kata-kata kasar. Sementara itu, Chopper segera menolong dan membawa Nami ke dalam rumah, kemudian Margarett pun turut membantunya.

"Beraninya lo menghantam kepala seorang gadis!!" respon Sanji yang sebenarnya ingin ikutan Luffy untuk menghajarnya. Namun Zoro merentangkan tangan kanannya untuk menghalangi langkah Sanji. "Minggir, Marimo," seriusnya.

"Lo gak perlu ikut campur. Gue ngerti perasaan lo, ya… gak hanya gue, kita semua ngerti perasaan lo…" sahut Zoro sambil mengeluarkan pedang aslinya. "Tapi, ga ada satupun dari kita, yang ngerti perasaan Luffy untuk Nami…"

Sanji merenungi semua kata-kata Zoro. Ia sebenarnya setuju dengan perkataan Zoro. Ia pun hanya menghela napas panjang dan memunggungi pemandangan dimana Luffy menumpahkan kekesalannya pada si tak berdaya Kohza. "Aku iri padanya…" bisik Sanji pada Zoro. Zoro hanya meringis tipis.

"KOHZAAA!!" pekik Duval yang kemudian berlari dan mengarahkan sebuah pistol Shot Gun ke arah Luffy.

'Pistol…?!!' batin Luffy dengan mata mendelik dan kemudian refleks berusaha melindungi tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangan di atas kepalanya. Syukurlah gerakan Duval sempat di tahan Sanji. Dengan gerakan super cepat, kaki Sanji menahan leher Duval dari belakang kemudian menjatuhkannya ke atas tanah sehingga terdengar dentuman yang cukup keras.

"Astaga… seorang anak SMA tak boleh membawa pistol ke sekolah…" geleng-geleng Sanji dengan ramah palsu, "…kau tahu, kami mungkin saja melaporkan tindakanmu itu, tuan…" tatapnya dengan tatapan horor yang dibuat-buat.

Duval menelan ludah. Tapi kemudian tersenyum.

"SANJI!! BELAKAAANG!!!" teriak Luffy sambil menunjuk belakang Sanji. Yang dilihat Luffy ialah sosok Bonney yang menyerangnya dengan pemukul baseball.

"HEEAA—AP…?! Wanita…??!" Sanji yang hendak menghantam balik serangan Bonney dengan kakinya, tertahan setelah mengetahui lawan yang akan memukulnya adalah seorang wanita. "UGGGHHH!!!"

Sanji pun telak dihajar oleh Bonney. Robin yang melihat itu, cepat-cepat berlari ke arah Bonney dan menghajarnya dengan jurus karatenya. Ia hendak menghajar kepala Bonney dengan kakinya, namun ditangkis Bonney dengan kedua lengannya. Otomatis, pemukul baseball tersebut jatuh menggelundung di atas tanah.

"Wah, ternyata… ada ahli karate selain gue ya…?" senyum Robin menanggapi tangkisan Bonney. Bonney hanya mengkerut menatap Robin.

Sementara kedua wanita ahli karate kita sedang bertarung (dimana Robin bertarung menggunakan rok seragam sekolah), Sanji menikmati pertarungan kedua wanita yang sama-sama menggunakan seragam sekolah ini dari atas tanah atau lebih tepatnya dari BAWAH. Hidungnya mengeluarkan cairan merah.

"Ahh~ Robin-chwaaann~~" panggil Sanji sambil mendengas-dengus tampang sesat.

Sementara itu, Luffy yang polos menghampiri Sanji dan mengkhawatirkan keadaannya karena melihat hidung Sanji yang mengocorkan darah sedemikian banyak. "Sanji! Lo gak papa??!" tanyanya sambil memeriksa kepala Sanji.

"Gue gak papa~" sahut Sanji manja karena sedang dalam keadaan stadium 'siap-mati-demi-cinta'.

Zoro tarik napas, "biarkan dia, ketua… Fokusin aja sama yang ada di depan kita. Sekarang ini, anggota mereka udah berkurang dua," liriknya pada Kohza dan Duval (yang tepar ketakutan karena merasakan aura mencekam Sanji). "Jadi, jangan hiraukan si Sanji itu…"

"Itu benar!!" sorak Brook. Zoro awalnya bangga karena merasa didukung Brook. Tapi kemudian patah hati tingkat berat melihat Brook yang menghampiri Sanji kemudian bertanya, 'Apa warna celana dalam yang mereka kenakan?'. Kalo aja hilang kesabaran, Zoro pasti udah menebas Brook dan membagikan tulangnya pada anjing-anjing terlantar di dunia.

"Cih, konyol…" Law hendak mengeluarkan pedangnya dan mencoba membantu Bonney memperlancar serangan terhadap Robin. Namun kemudian, Zoro dengan senang hati menangkis serangannya. Karena serangan kedua orang ini terlalu kuat, jadilah tanah di sekitar mereka retak dan ada hembusan angin aneh yang berputar di sekitar mereka.

Tak beberapa lama ketegangan karena suasana pertarungan ini, datanglah seorang berambut hitam dengan wajahnya yang disembunyikan dibalik topi koboi coklat. Ia mententeng tas ransel hitam di bahu kanannya dan berjalan dengan anteng nan tenangnya di tengah-tengah jalan setapak taman rumah Luffy.

"Wah… wah… Luffy, lo ngancurin rumah kita lagi…" keluh orang itu tiba-tiba. Luffy menengokkan kepalanya kearah orang tersebut dengan selaw mosien, "…kalo ketauan kakek, kepala lo jadi dendeng!" seru Ace dengan wajah horor. Luffy merinding ketakutan. Bukan karena wajah kakaknya yang menakutkan, tapi karena kata-katanya yang menakutkan.

"MENYERAMKAAAN~!" teriak Luffy membayangkan kepalanya yang direbus di kuali besar oleh sang kakek. Luffy pun bulak-balik lari kayak anjing kecil nyari induknya (iya, lari gak karuan muter-muter lapangan sebelah dengan empat kaki).

"Lebay…" swt Ace.

"Kak Law! Di… di… dia kan…!!" ternyata tanpa diketahui Ace, Geng Trafalgar menatapnya dengan tampang blo'on. Mulut mereka jaw dropped yang memungkinkan lalat bisa bermain bebas ria di situ.

Law berkeringat banyak. "KAAUUUU!!" monyongnya sambil nunjuk-nunjuk Ace.

"Hee… adik kelas rupanya…" senyum Ace. Dengan senyum ramah seperti itu, bukannya rileks, malah makin membuat Law tegang. "…kenapa? Ingin minta …ini…?" tanyanya sambil mengepalkan tangannya ke arah Law.

"HIIIYYY~!! ENGGAK!! MA-MAAF!! Kami gak tau kalo ini rumah Ace-sama!!" tunduk mereka sambil berjejer rapih dan menundukkan kepala mereka tanda nyembah.

"Ace-sama?" desis Robin.

Guratan nadi muncul di jidad Ace, "Kalian merusak rumahku. Kurasa…" kreeetek.. kretekk! Ace pun menekan jari-jemarinya dan berjalan pelan ke arah Trafalgar Gank.

"Hiii!! KOWAIII (SERAAAM)!!!" takut mereka sambil berpelukan.

"Hah?! Kawaii (Lucu) darimana??" tanya Brook sang manusia tengkorak yang gak pernah bersihin telinga. Zoro senantiasa menggeplak kepalanya. Mungkin itu dapat membantu pada pendengaran telinganya.

"Be-begini Ace-sama!! Soal rumah, biar kami yang perbaiki, bagaimana??" tawar mereka dengan cengir dipaksain.

"He… hebat… kakak lo itu! Trafalgar Law yang dikenal dengan 'Dokter Bedah Kematian', nyembah gitu aja di hadapan Ace??!" kagum Franky sambil tepuk tangan. Luffy mandangin kakaknya dengan terpukau.

Ace mengusap dagunya sambil menyeringai, "Ide bagus! Kerjakan sekarang sebelum terlanjur sore!!"

"Euh, BAIK!!!" pekik mereka dan segera memperbaiki apa yang telah mereka rusak. Ada yang benerin pintu yang udah jebol, yang cewek benerin taman, ada juga bantuin mijet Ace di ruang tengah.


BEBERAPA MENIT KEMUDIAN…

"Bagaimana, Ace-sama? Pijatan saya tidak buruk 'kan??" tanya Law sambil berkeringat dingin. Ace mengangguk-angguk kecil menikmati servis pijat gratis ini.

Sementara itu, Mugiwaraners mandangin Law dengan tampang ga mutu. Mereka sangat bingung dan aneh. Ada apa gerangan dengan si jambang-bertopi idiot ini? Beberapa detik yang lalu, rasa-rasanya, ada orang yang mirip dengan Law mengatakan dengan gagah dan cool 'Aku tantang Mugiwara untuk bertarung.' Tapi sekarang? Beralih profesi jadi tukang pijet!!

Luffy menelan ludah, "Ne, nii-chan! Nii-chan ketemu orang-orang ini dimana?!" tanyanya sambil menunjuk Law. Law ingin sekali memotong jari telunjuk Luffy dengan pedangnya. Apa boleh buntet, ia masih takut sama Ace.

Ace tersenyum cool, itu cukup membuat pipi beberapa wanita yang melihatnya memerah (seperti Robin, Nami yang sudah sadarkan diri, Margarett yang sedang duduk di samping Sanji, dan Tashigi yang baru saja membuatkan teh untuk Ace). Luffy, Zoro dan Sanji mandangin para cewek dengan tampang kecut.

"Begini ceritanya…" maka mulailah sang Ace mendongeng.


[FLASHBACK]

Alkisah di negeri dongeng, ada seorang manusia laki-laki kelas tiga SMA bernama Portgaz D. Ace. Sebetulnya, ia hanya seorang lelaki biasa yang kelihatan tak menonjol, apalagi dibanding teman-temannya. Tubuhnya yang tidak begitu tinggi dan tidak begitu semampai, membuatnya tampak seperti lelaki murid SMA kelas satu, bukan kelas tiga. Hingga suatu saat…

"Heh, lo anak mana, hah?!!" Tanya ganas seorang cowok bertopi aneh dan memiliki jambang, dengan ditemani seorang cewek perawakan tomboy berambut pink.

"Gue anak SMA Grandline," sahut Ace muda yang tampaknya baru saja pulang sekolah itu. Ia tampak agak tak nyaman jalan pulangnya dihadang anak-anak berandal yang masih menggunakan seragam sekolah juga itu.

"Hee? Jadi lo satu sekolah sama gue?" Tanya cowok yang masih culun tapi belagak berandal itu.

"Udah, bos Law… sikat aja…!" seru Bonney di sampingnya sambil menyerahkan pemukul baseball.

Law sambil nyengir mengambil pemukul baseball itu, kemudian mengetuk-ngetukkan di telapak tangannya. "Serahin uang lo!" ancamnya.

"Gak mau," sahut Ace.

Law yang gampang kesal, akhirnya mengayunkan pemukul tersebut ke arah kepala Ace dari atas. Ace pun menggeserkan badannya beberapa centimeter ke samping, kemudian dengan gesit, menginjak pemukul tersebut sehingga Law pun tertunduk di tanah. "Sialan!"

Persis setelah Law mengumpat, Ace menghantam dagunya yang berposisi di bawah itu dengan lutut kanannya. Alhasil, Law pun terpental ke belakang. Bersyukur, Bonney segera menangkapnya. Law mengusap bibirnya yang mengucurkan darah itu. Sementara itu, Ace menatapnya dengan tatapan hina.

"Cih, bocah brengsek!" umpat Law lagi, ia pun menjentikkan jarinya. Tampak beberapa orang muncul dari balik kegelapan gang yang tersembunyi dari balik matahari sore hari itu.

"SERAAAANG!!"

Ace tersenyum lugu.


_TSUZUKU_

Next Chapter Spoiler:

Mugiwara dan teman-teman memutuskan untuk menghukum Genk Trafalgar?? Uwahhh... kayaknya bakal banyak korban berjatuhan...


Pojok SBS (meski sudah digorok Oda, saia tidak kapok bikin SBS abal-abal!!)

ARGENTUM SILVER-CHAN: Iyah… makanya apdet dong fic nya!! *balik ke RSJ*

edogawa Luffy: yak, di chapter ini terjawab my nakama…! CD? Hampir lupa! CD bakal dibahas di next chapter…

Monkey D. Cyntia: jah, itu sih gak negative… payah… ==" lovey dovey itu apa, tante?? Gyakakakak~ maaf, nama Luffy versi cewek bukan Luffywati, tapi Luffy Cahyati!! Yohohoho~ jiwa sadisme mu aku terima… *jabat tangan* Hueh?? Ceritamu lucu-lucu kok! Saia suka!!

ruki4062jo: hiyaaa~ terima kasih atas dukungannya~ *bend down kepala ngejedug lantai* maaf kalo chapter ini ga begitu lucu… saia janji chapter selanjutnya lucu deh minna~

MelZzZ: Begitulah… Smoker mengaku senang kok dijadikan penjual cireng *fitnah tingkat berat* Nah, makanya jgn bolos ke UKS lagi ya! *padahal author paling doyan sama yg namanya boloz* Yah, tangan chopper syukurnya udah di cuci menyan 7 rupa yang diambil dari 7 sumur yang ad adi 7 benua…

Izu-chan: Izu-chan~~!! Nyahaha~ makasih atas dukungannya…

Kirihara Hisoka: Wah, saia sangat senang kalo fic saia dijadikan acuan untuk semangat membangkitkan fandom OP… *menangis terharu* Mohon kerja samanya!! *tak kuat menahan banjir ingus dan air mata*

Gua Lagi Pilek: Jaaahh~ dia mau ikut pesta strip poker ternyata!! XD bagus, murid hentai bertambah! *bangga* ah, ini ternyata anda, ya? Senangnya mendapat kunjungan dari anda! :D


REVIEW OKEH, KALO GAK, SAIA PANGGILIN ACE DARI ALAM BAKA!!

V

V