Seperti biasa, diawali dengan, DISCLAIMER: Saia pasrah, One Piece hanya milik Oda-sensei… *ngejambak rambut Oda-sensei, nodongin piso*
SUMMARY: "Nami menyatakan perasaannya pada Luffy. Luffy sangat bahagia hari itu. Tapi, Nami dengan lugas mengatakan bahwa mereka tak kan bisa pacaran. He?! Nande?!! Pekik Luffy."
A/N: Okeh, spoiler yang kemarin itu dusta… Chapter ini chapter spesial bagi pecinta LuNa. Meski demikian, saia masih mempertahankan genre Humor/Parody saia… jadi jangan harap fanfic ini akan berubah jadi humor/romance atau fanfic khusus LuNa
.
__CHAPTER EIGHT__
Nami's Sudden Confession
"…Nah… setelah itu, mereka terjungkal di atas tanah… hwahaha!!" tawa Ace menyelesaikan ceritanya, yang disambut tawa dan tepuk tangan meriah dari Mugiwaraners (yang dendam Nyi Roro Kidul sama Trafalgar Gank).
Trafalgar Gank pun tertunduk malu, duduk di lantai bagai calon-calon TKI dan TKW yang lagi dikasih pengarahan dan pelatihan untuk jadi pembantu yang sukses. Tanpa dikomando, mereka pun menundukkan kepala dengan kompak tanda nyembah, "Maafkan kami, Ace-sama! Kami memang gak berguna!"
"Ah, jangan ngomong gitu, Law…" tampik Ace yang mulai iba sama geng Trafalgar, "Lo, Bonney, en Kohza bentar lagi mau ujian, 'kan? Baiknya, kalian fokus sama ujian. Inget ujiannya tuh tinggal dua minggu lagi," nasehat Ace dengan bijak. "Nah, sekarang, ayo minta maaf sama adek gue!"
Mereka menyembah lagi secara bersamaan, "Maafkan kami, Luffy-sama!"
Luffy megangin mulut nahan ketawa denger namanya ditambahin kata '-sama'. Ditambah, tingkah Gank Trafalgar yang bisa dibilang sekarang ini konyol banget. Chopper yang lagi memperban kepalanya pun protes karena kepalanya jadi goyang-goyang. Sementara itu, semua Mugiwara tersenyum kombinasi menyeringai.
"Aku juga… minta maaf Luffy," ujar Nami tiba-tiba yang masih tiduran di atas sofa, dalam keadaan kepala yang baru saja diperban oleh Chopper juga. Semua pandangan jadi tertuju pada Nami. Nami berusaha duduk, tapi ditahan oleh Margarett yang menyuruhnya untuk tetap tiduran.
"Minta maaf? Buat apa? Lo gak nyusahin gue kok!" polos Luffy sambil tersenyum ceria. Namun, Nami memandangnya sambil mengkerut. Tak lama kemudian, pipinya merah merona. Ia pun angkat bicara dengan suara agak lirih karena ragu.
"Em, gu-gue… mau ceritain semuanya. Tapi Luffy, lo musti janji jangan ngejauhin Vivi…" Luffy mengangguk serius, tanda ia memang berjanji dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, Kohza menahan nafas mendengar nama Vivi disebut.
"Sebenernya, gue berbohong sama lo. Waktu itu, gue cuman bilang sama lo, kalo Hancock sendiri yang ngambil CD itu, dan gue—"
"OH YAAA!!! CIDIIIII~!!!!!!!!!!!!!" teriak Franky dengan ganas dan berhasil membuat Ussop dan Brook yang ada di sampingnya sakit perut dadakan.
"Apaan sih, ky!" tegur Ace yang kesal karena akibat teriakan Franky barusan, Ace sempat menyemburkan teh yang diminumnya melalui mulut dan juga hidung. Mukanya yang rapih itu pun berubah menjadi lautan teh. Luffy bahagia kakaknya mengalami kesialan.
"Heh! Lo! Idung gajah merah!! Balikin CD gue!!" tagih Franky menyodorkan tangannya di depan dagu Buggy. Denger sebutan baru, Buggy langsung sumringah nempelin idung merahnya itu di idung Franky yang terbuat dari besi.
"Jangan belagak lo ya! Lo pikir gue bakal tunduk sama lo, hah?!" teriak Buggy gak kalah sangar.
"Gue gak peduli lo bakal tunduk kek, bakal ngelawan gue kek, kakek kek! Yang penting balikin tuh CD!!"
"Nih! Ambil tuh CD jelek!! Kita udah pada liat isinya! JELEK BANGET ISINYA!!" belagu Buggy nempelin CD-nya di jidad Franky.
"Wah, elo ngajak perang nih…" kesal Franky sambil menodongkan lengan kanannya yang besar itu.
"Boleh!! Sini deh lo, gua jabanin!!" tantang Buggy melipat baju lengan pendeknya.
"STRONG RIGHT—"
BLETAAAAKK~!!
Merdu banget tuh bunyi jitakan dari Ace di kepala Buggy sama Franky. Mereka berdua pun teleng, plus matanya jadi jereng.
"Yang ngancurin rumah gue, hadepan sama gue!!" sangar Ace, dimana indikasi kesangarannya 400 kali lipat lebih besar daripada indikasi kesangaran kedua makhluk berambut biru ini. "Lagian, kalian tuh harus akur!" Mereka berdua pun mengangguk mengerti sekalian minta maaf.
Ace mengibaskan kedua tangannya, "Nah Nami, lanjutin cerita lo…"
Nami pun mengangguk, "begini, eh tadi nyampe mana ya?" tanya Nami balik. Robin menjelaskan bahwa tadi ceritanya belum sampe mana-mana. Nami pun nyengir, "Hoo, iya, hehe… Jadi gini, Luffy, jujur gue… gu-gue… sebenernya…" wajah Nami makin memerah. Ia melirikkan matanya kiri dan kanan, dan mendapati kawan-kawan menatapnya dengan ekspresi aneh. Semacam ekspresi penasaran, tapi juga ekspresi mesum.
"Lo sebenernya apa?" tanya Luffy anteng, tapi tetep serius mendengarkan penjelasan Nami.
"Em… gue… gue… gue… gue…" gugup Nami.
"Halah! Kebanyakan kata 'gue'!!" protes Ussop gak sabaran mendengarkan suara Nami yang kayak kaset rusak itu.
"Eh, ya, sorry…" sesal Nami, ia pun akhirnya berusaha serius dan bertekad bulat, "Luffy, sebenernya gue suka sama lo, gue sayang sama lo, plus… gue cinta mati sama lo…"
Luffy terdiam. Ia merasa sesuatu mencekik pernafasannya, yaitu jantung yang hampir-hampir berhenti berdetak. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk. Mendengar pernyataan ini, ada perasaan hampir tak percaya, perasaan senang, perasaan tak nyaman, perasaan ingin berlari sebebas-bebasnya di lapangan sepak bola, perasaan ingin membenturkan kepala ke tembok, bahkan… perasaan ingin memeluk Nami untuk berterima kasih atas segala kebaikan dan keberaniannya yang mau menyatakan rasa sayangnya pada Luffy, dan perasaan lain sebagainya.
Sementara itu, orang-orang yang ada di ruangan itu memandang Nami tak percaya kecuali Robin yang malah tertawa kecil. Ia merasa sudah bisa menduga apa yang akan diucapkan Nami saat itu. Brook, Chopper dan Ussop jaw dropped. Zoro, Sanji, Margarett dan Ace hanya tersenyum, Trafalgar Gank melotot, dan Franky sibuk nyiumin plus melukin CD yang baru dikembaliin Buggy.
"Ja… jadi… orang yang lo bilang paling lo sayang semalem itu…" Luffy menunjuk hidungnya sendiri.
Nami tersenyum, ia merasa lega bisa menyatakan perasaannya pada Luffy, "Ya Luffy, orang yang paling gue sayang itu elo…"
Luffy nyengir kecil, kemudian tersenyum, tak berapa lama kemudian tersenyum lebar, dan akhirnya tertawa lepas sambil berdiri merentangkan kedua tangannya dan berteriak geje bagai orang gak waras yang lepas dari kandang, "NAMI! GUE JUGA SAYANG SAMA ELOOOOO!!!!"
Luffy pun lari-larian geje mengitari ruangan ala pemain sepak bola yang berhasil mencetak gol. Chopper yang masih sedang membalut perban di kepala Luffy pun ikut terseret dan akhirnya terbang ngiterin ruangan sambil megangin perban yang masih belum terlilit di kepala Luffy dengan benar.
"EH, SETAN! SENENG SIH SENENG! TAPI TURUNIN GUE!!" ambek Chopper sambil terus menggigiti kepala Luffy. Luffy sih enak aja dan gak kerasa pula, ia tetep aja ngiterin ruangan sambil teriak-teriak penuh kemenangan. Seluruh penghuni ruangan itu pun tertawa melihat tingkah laku kedua makhluk tengik ini.
"Tapi, Luffy, walopun kita sama-sama suka, kita gak bisa jadian…" lirih Nami lemah, tersenyum memandang Luffy. Luffy dan yang lain freeze di tempat, dan mengheningkan cipta.
Ia pun berteriak tanda protes, "NAN DE?!!"
"Pertama, gue orangnya matre," sahut Nami mengacungkan jari telunjuknya, sementara itu Mugiwara yang lain tertawa menanggapi joke Nami, "Kedua," wajahnya mulai serius tapi berpendar sedih, "…Vivi juga cinta sama elo…"
"EEEHHH???!!!!!" pekik semua makhluk yang ada di ruangan itu, kecuali Robin dan Kohza. Semua orang memasang wajah ga mutu sebagai respon yang paling tepat menanggapi hal konyol ini.
Sanji tertawa kecil sambil menepuk-nepuk punggung Luffy, "Wah hebat lo, Luffy, gue gak nyangka tampang pas-pasan kayak gitu banyak yang suka~!"
"Kak Vivi? Suka sama gue??" tanya Luffy balik dengan wajah was-was.
Nami mengangguk, "gue sama Vivi sebenernya temen sejak kecil. Kita berdua sahabat deket, malah, lebih deket daripada gue sama Robin en Zoro," tatapnya pada Robin dan Zoro, yang dipandang hanya tersenyum. Nami melanjutkan ceritanya, "kita deket banget, sampe suatu saat pas MOS masuk SMA…"
[FLASHBACK]
"Nami, lo masuk kelas sepuluh berapa?" sapa gadis berambut biru panjang berparas manis itu pada seorang gadis berambut oren yang diikat sebanyak 10 ikat, pipinya memakai cat merah—mungkin lipstik, dan menggunakan papan nama yang menggantung di lehernya. Nami menepuk dahinya tanda kecewa. "Kenapa? Kok lo kayak yang sebel gitu sih?"
"Gawat banget, gue sekelas sama Monkey D. Luffy!" keluhnya sambil berpaling dari papan pengumuman.
"Lho? Emang kenapa??" tanya Vivi bingung.
"Dia kan anak badung, Vi! Dia tuh anak paling badung seantero kota! Masa' lo gak tau??" kesalnya sambil menggeplak papan pengumuman itu. Siswa lain yang di sekitar pengumuman siaga satu dan mulai menyingkir dari Nami.
"Oh? Jadi yang terkenal sebagai anak badung itu namanya Monkey D. Luffy? Gue baru denger tuh nama lengkapnya. Monkey? Ah, pasti dia anaknya Monkey D. Dragon yang buronan polisi itu, ya?"
"Oh, lo kenal?" tanya Nami balik menilik Vivi. Vivi menggeleng pelan.
"Enggak ko! Monkey D. Dragon tu terkenal banget! Di tipi-tipi kan dibahas? Jangan-jangan lo gak punya tipi lagi di rumah…" ledek Vivi sambil bertolak pinggang.
Nami menjulurkan lidahnya, "Punya kok! Cuman gue nya aja yang gak pernah nonton berita…"
"Pasti nonton sinetron ya?"
"Enak aja! Nonton saluran pelayaran tauk! Mereka ngebahas ilmu-ilmu neolitika!"
"Hee… jadi lo pengen jadi navigator ya?" tanya Vivi menggoda.
"Iya lah! Kalo jadi navigator, gue bisa keliling dunia! Entar kalo gue udah keliling dunia, gue ceritain deh ke elo dunia itu kayak gimana!" sumringah Nami.
Vivi yang mendengarnya pun tertawa kecil, "sip deh, siiiip…"
Mereka berdua pun tertawa bersama-sama.
[FLASHBACK TO BE CONTINUED]
"Yoho? Mana bagian Luffy-nya? Apa hubungannya sama Luffy?" tanya Brook gak sabaran.
"Bentar dong… penonton sabar!" sahut Nami dengan sangar, 'memang Nami yang biasanya' pikir Luffy. "Luffy, elo inget? Waktu kejadian gue sama Vivi dihadang preman, lo en Zoro nolongin kita?"
Luffy terdiam.
"Ahh, percuma lo nanyain yang begituan sama Luffy! Otak dia tu pentium dua! Yang dia inget cuman daging!!" komen Zoro sambil menusuk-nusuk kepala Luffy dengan jari telunjuknya. Luffy yang kesal, kemudian menggigit jari Zoro. "GYAAAAAHH!!" pekik Zoro dan segera menarik jarinya yang sudah terlanjur bengkak (plus bau).
"Gue inget kok!" tampik Luffy, "waktu itu kan pulang MOS, ya kan?"
"Uwaaahh… adegan Luffy nolongin Nami, neh…" seringai Franky, "Ceritain dong!!"
"Oke, jadi waktu itu, tepatnya setelah kita berdua pulang dari liat papan pengumuman itu…"
[FLASBACK CONTNUED] (Perhatian! Anak kecil harap menyingkir dari adegan ini!)
"Keshishishishi~!! Serahin uang lo, gadis manis… keshishishi~" seru seseorang aneh sambil mengelus dagu Nami.
"Enggak! Ngejauh lo dari gue! Orang aneh!!" Nami berusaha ngejauhin diri dari orang aneh tersebut dan berusaha berontak sekuat tenaga. Namun, apa daya, tangannya ditahan oleh dua orang di belakangnya.
"Nami!! Hey, kalian!! Jangan ganggu Nami!" teriak Vivi yang kedua tangannya juga di tahan oleh dua orang di belakangnya.
"Diam!!" teriak orang yang menahan Vivi kemudian menggamparnya.
"Kalian mau apa sama kita?" tanya Vivi yang mulai tak dapat menahan rasa tangisnya. Ia memohon berulang kali agar orang aneh berbadan besar itu mau melepaskan Nami. "…kalo kalian mau, ambil aja uang gue! Jangan uang Nami!!"
"Hee? Benar nih, boleh?" tanya orang itu, "Keshishishi!! Ayo anak-anak! Geledah anak perempuan itu! Ambil segala barang berharga yang nempel di tubuh gadis itu!"
Dua orang tengik nan mesum di belakangnya, tentu saja senang dengan perintah itu. Mereka menggeledah tubuh Vivi, sekaligus menjamahi beberapa bagian tubuh Vivi. Melihat itu, Nami melonjak-lonjak memohon agar menghentikan itu. Karena adegan itu sangat menjijikan, ia sungguh iba melihat Vivi diperlakukan seperti itu.
Vivi berteriak "Kyaaa!!" berulang kali. Pipinya merah merona seiring tubuhnya dijamahi seperti itu. "Kalian! Ambil aja uang gue, kenapa kalian mesum gini?!"
"Mungkin ada dibalik sini?" tanya seorang pemuda dengan wajah mesum, menunjuk bagian dada Vivi.
"Ya! Ya! Sekalian, kita geledah aja!" sahut pemuda satunya, mereka pun bersiap-siap melucuti pakaian seragam putih Vivi.
"Kyaa! Jangan!!" Vivi berusaha berontak, tapi apa daya, kekuatan orang yang menahan tubuhnya jauh lebih kuat daripada kekuatannya.
"HENTIKAAAN!!" teriak Nami berusaha kabur dari orang-orang yang menahannya, tapi tangannya malah dipelintir, ia pun terjatuh di tanah kesakitan.
"Hey! Cewek itu bilang hentikan, ya hentikan!!" teriak seseorang dengan pede. Seseorang berambut hitam dengan jahitan di bawah matanya itu berdiri tegak menantang di hadapan mereka, sementara itu seorang lagi berambut hijau yang masih sedang berjalan ke arah mereka sambil menyeret pedang kendo yang terbuat dari rotan.
Seseorang itu adalah sosok Luffy dan Zoro yang memakai helem dari setengah bola plastik—dan tali yang terbuat dari rapia merah, sebuah papan nama yang menggantung di depan dada mereka—kecuali Zoro yang papan namanya menggantung di punggung, dan muka yang penuh coretan hasil 'kerja keras' kakak kelas Osis yang iseng.
"Haa? Dengan tampang kayak gitu lo mau nantangin kita? Keshishishi~!! Beresin muka aja belom bisa, apalagi mau ngehajar kita! Keshishishi!!" tawa makhluk invalid itu yang kemudian diiringi tawa anak buahnya (yang tergolong sama-sama invalid).
Guratan nadi muncul di dahi Luffy, "Mau coba?" ujarnya menantang sambil mengatur kuda-kuda bertarungnya. Zoro hanya nyantai sambil menopang pedang kendoitu di bahunya. Sementara itu mata Nami dan Vivi terbelalak.
"Ja-jangan! Kalian gak kan bisa ngalahin orang-orang ini!" seru Nami—yang masih belum mengetahui identitas sebenenarnya dari kedua orang pecinta nantang maut ini. "JANGAN CARI MATI!!"
"Cih, berisik," komen Zoro setengah menghardik. "Masih syukur ada yang mau nyelamatin elo!"
Nami mendelik sesaat, "Kalian cari mati?! Buat apa kalian cape-cape nolongin kita, hah?!" protesnya.
"Kalo kita pengen, memang kenapa?" sahut Luffy dengan cool, walopun sebenernya gak cocok banget dia pasang muka gitu karena masih dalam kostum MOS.
"Ah, udahlah! Banyak bacot! Anak-anak! Hajar mereka sampe mati!!" teriak pemimpin geng invalid itu. Otomatis, anak-anak buahnya pun patuh dan segera menutupi dengan kesan melindungi bapak buahnya.
[FLASHBACK TO BE CONTINUED]
Wajah Nami mulai memerah, "…dan… Luffy waktu itu keren banget…"
Ruangan pun seperti biasa penuh dengan iring-iringan meriah dari suara 'ehem.. ehem…', 'cie… cie…', dan 'cihuy… manteb euy…'. Malah ada yang teriak 'prikitiew' dengan semangat dari penggemar Opera Sabun Van Jawa (Zoro dan Ussop). Franky, Brook dan Ace nyanyi ala padus Gereja lagu 'Kemesraan Ini'. Sanji cuman nyengir sambil terus menghisap rokok empat batang. Trafalgar Gank masang muka cengo ga ngerti apa-apa. Sementara itu, Margarett dan Robin hanya tertawa kecil.
Wajah Luffy sedikit memerah, ia pun tersenyum lebar sambil menopang kepala dengan kedua tangannya, nyantai. "Hehehe…" cengengesnya mendengar pujian dari Nami.
"Tapi, tau gak, Luffy?" tanya Nami menarik rasa penasaran Luffy dan yang lainnya, "…itu awal dari keretakan persahabatan gue sama Vivi…"
"Eh?" ruangan riuh ramai dengan suara heran dan gumaman. "Maksud?" tanya Luffy balik.
"Sesudah kejadian itu, sekitar seminggu setelah MOS, Vivi curhat sama gue kalo dia suka sama elo… Waktu dia curhat gitu, gue masih belom ada perasaan apa-apa sama elo. Tapi sayangnya, dia nyangka yang enggak-enggak sama gue."
Luffy mendelik sesaat, matanya penuh rasa heran dan sebetulnya banyak sekali yang ingin ia tanyakan. Tapi semuanya itu ia pending untuk mendengarkan cerita Nami lebih jauh. "Sejak elo ngajak gue gabung sama geng Mugiwara, Vivi jadi kelihatan banget jarang mau ngobrol sama gue. Pernah waktu itu dia gue sapa, tapi dia gak ngejawab sapaan gue…"
"Apa iya, Vivi sejahat itu?" tanya Robin padanya dengan hati-hati. Nami menggeleng.
"Gue yakin banget dia bukan orang yang jahat. Tapi gue juga heran, kenapa dia dan Hancock mau nyakitin gue," jelas Nami tentang pendapatnya.
"Apa-apaan si Vivi itu? Dia temenan sama Hancock, terus nyakitin Nami yang merupakan sahabat dia sendiri? Keterlaluan!" ujar Ussop mengeluarkan pendapat.
Ace menyanggah, "jangan mikir negatif dulu," Ace melirik sedikit ke arah Perona, Perona geleng-geleng kuat menampik kalo itu bukan hasil perbuatan dia, "gue yakin Vivi punya alasan kuat."
Kohza menundukkan kepalanya, ia mencengkram kepalannya dengan kuat. Hingga ia sendiri tak sadar, bahwa kuku jari-jari tangannya menyebabkan telapak tangannya robek dan mengeluarkan cairan merah. Giginya ia tahan dengan rapat.
Robin yang sedari tadi memang sudah menyadari kelakuan Kohza, angkat bicara, "ara-ara… Sepertinya Kohza-senpai mau menyampaikan pendapat rupanya?"
Kohza mendelik memperhatikan Robin yang sedang menyeringai kepadanya. Ia pun berdiri tiba-tiba angkat bicara dengan nada keras dan menekan, "Kalian gak tau apa-apa soal Vivi!!"
Seluruh perhatian, kini berganti tertuju pada Kohza. "Vivi…" lanjutnya dengan suara bergetar, "dia orang yang perhatian sama temen-temennya…"
"Kalo dia perhatian, kenapa dia ngelukain Nami?" tanya Chopper.
"Dia gak punya pilihan!! Lagian, Nami, yang ngelukain elo waktu itu bukan Vivi, tapi Hancock!!" pekik Kohza.
"Kohza, tenangin diri lo… ochitsuke!" bijak Ace kemudian membawa Kohza duduk kembali. Kohza menarik nafas menenangkan diri.
Nami menaikkan alis kirinya sekilas, "Hancock?"
"Kok lo gak tau sih sapa yang ngelukain elo waktu itu??" tanya Luffy heran.
"Waktu itu gue juga gak bener-bener ngeliat siapa yang ngehajar gue—karena banyak kepulan asap dan kejadiannya terlalu tiba-tiba. Tapi gue inget dengan yakin sebelum pingsan, gue liat sosok Vivi sama Hancock. Mungkin bener juga kata Kohza-senpai, Vivi gak ikut ngelukain gue waktu itu…"
"Vivi emang gak ikut ngelukain elo!" sewot Kohza, "Vivi waktu itu curhat sama gue…"
[FLASHBACK CONTINUED]
"Kalo kayak gini, gue nyesel… banget gabung sama gengnya Hancock-senpai!" lirih Vivi hampir-hampir menangis, meski ia sebenarnya tak bermaksud agar lawan bicara mendengar atau bahkan memperhatikannya.
Kohza yang sedang minum karena baru selesai ekskul Sepak bola, memandangnya dengan sedikit heran dan salting. Pasalnya, ia tak suka ada seorang gadis menangis di hadapannya. Apalagi, gadis yang disayanginya.
"Lho? Emang Hancock ngapain elo?" tanyanya khawatir dan menghentikan kegiatan minumnya. Vivi yang sudah dapat membaca gerak-gerik Kohza yang mulai khawatir, segera menghapus air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya dan menggelengkan kepalanya untuk meyakinkan. Ia pun sambil tersenyum menyodorkan sebuah bento.
"Ayo dimakan, Kohza-senpai pasti lelah… Gue udah nyiapin khusus buat Kohza-senpai!"
"Vi, jangan masang muka palsu kayak gitu," serius Kohza menatap Vivi, "ayo cerita, ada apa…"
Vivi terdiam menundukkan kepalanya. Ia sebenarnya agak bingung. Mau cerita, takut Kohza-senpai marah dan datengin Hancock. Mau diam, Kohza-senpai pasti ikut sedih. Dia sebenarnya gak mau ada orang yang ikut merasakan penderitaannya.
"Ayolah, Vi, cerita aja! Ga apa-apa kok!" desak Kohza. Vivi mengangguk pelan.
[FLASHBACK's END]
"…Vivi dipaksa sama Hancock supaya mau mencuri CD yang orang aneh itu buat," tunjuknya pada Franky yang ngambek dibilang orang aneh, "Hancock nipu Vivi, dia ngerajuk Vivi kalo dia hanya ingin Vivi mencuri CD itu dan berjanji gak akan ngelukain siapapun," Kohza semakin kuat menahan geram di giginya, suaranya semakin bergetar menahan amarah, "tapi itu ternyata hanya alesan dia supaya bisa melukai Nami! Orang itu pendusta!!"
Ruangan kembali riuh dengn gumaman dan komentar-komentar. Kohza melanjutkan ceritanya, "Vivi… selama ini dia menahan rasa sakit dan tekanan dari lingkungan di sekitarnya. Dan ini gak bakal kejadian, KALO LO GAK ADA, NAMI!!!!" pekiknya sambil menunjuk tajam pada Nami yang terkulai lemah di atas sofa. Nami hanya menatapnya dalam diam. "DAN INI GAK BAKAL KEJADIAN KALO LO MAU NGALAH DAN NGASIH KESEMPATAN SAMA VIVI!!!"
Suasana berubah menjadi hening, suasana kuburan sangat terasa. Hening dan mencekam.
Ace menarik nafas panjang, "negative thinking lagi…" ia menengokkan kepalanya lagi ke arah Perona. Perona spontan nunduk tanda nyembah dan menyakinkan kalo dia gak melakukan apa-apa.
"Waktu itu… Dia gak mau bales sapaan Nami karena dia bingung banget, dan takut bikin lo khawatir kalo dia ngeliatin wajah bingungnya ke elo. Dia juga malu dan ngerasa bersalah sama elo. Vivi orang yang paling gak bisa nyembunyiin ekspresi wajah…"
Sementara itu Franky menangis menutupi muka dengan tangannya, "Cerita ini terlalu sedih… gue gak nangis…! GUE GAK NANGIS~!!" lebaynya kemudian berlari ke arah tembok dan menangis lebay ala Entis dari Opera Sabun Van Jawa.
"Biarkan dia," es-we-te Sanji, "jadi, intinya… Hancock emang yang ngerencanain ini semua?" tengoknya pada Law. Seolah ia melemparkan pertanyaan itu pada Law, bukan pada Kohza.
"Gu-gue gak tau apa-apa!! Gue hanya dimintain dia supaya mengacau di base camp Mugiwara, trus dia ngasihin CD si banci itu ke kita!" tunjuk Law pada Franky yang masih menangis lebay di pojokan tembok.
"Tuh orang dibilang banci, ngedenger gak sih?" bisik-bisik Brook pada Ussop. Ussop hanya mengangkat bahu.
"Oh, dengan kata lain, lo dibujuk dengan cara dirayu Hancock, ya…" ujar Zoro tepat sasaran. Spontan, Law memerah dengan tampang indikasi konyol.
Sanji langsung nyamperin Law dan menepuk bahunya, "Lo orang paling beruntung di dunia…" ujarnya mengangkat jempol kanan dengan mesum. Hal ini tak berlangsung lama, karena Margarett langsung menjewer telinganya dengan baik, benar, dan tidak jelas.
"Kasian Vivi, kalo gue jadi dia, pasti udah bunuh diri deh…" komen Ussop yang disambut tatapan Zoro yang mengatakan, 'lo-bunuh-diri-gue-tidur-nyenyak'.
"Persis," kata Kohza membenarkan, "Vivi sering ketangkep basah mau bunuh diri…"
"HHHEEEEEE???!!!!" pekik semua makhluk pecinta 'eskpresi shock' di ruangan itu. Tak terkecuali Nami sendiri.
"Usso..." delik Nami tak percaya.
"Buat apa gue ngebohongin kalian," sahut Kohza meyakinkan. "Percobaan bunuh dirinya kurang lebih udah ketahuan sekitar 5-6 kali sejak dia gabung sama gengnya Hancock. Terakhir kali, dia ketahuan mau minum obat kimia H2SO4 (asam sulfat) yang ada di lab. Kimia waktu disuruh ngambil peralatan-peralatan lab."
Luffy mendelik. Ia ingat kejadian itu. Ia yakin, percobaan bunuh diri yang terakhir kali itu dilakukan Vivi tepat setelah Vivi bertemu dengannya di depan koridor saat ia dihukum pada pelajaran Matematika. "Ah, ya… kakak disuruh guru untuk mengambilkan penggaris panjang dan beberapa gelas ukur di Lab Kimia," begitulah yang dikatakan Vivi seingat Luffy.
"Jadi saat itu…" gumam Luffy. Ia melemparkan matanya pada Nami dan Kohza, "Nami, Kohza-senpai… makasih kalian udah ngelindungin Kak Vivi," demikian kata-katanya yang didasari akan janji untuk melindungi Vivi saat itu.
Tak lama, Luffy menundukkan kepalanya, hingga matanya tertutup helai-helai rambut hitamnya. Ia berpikir sejenak, yang membuat seluruh Mugiwara bergidik karena takjub. Tahulah sifat Luffy, tak pernah berpikir tapi sekalinya berpikir, ia pasti akan melakukan hal-hal yang aneh.
Luffy mendongakkan kepalanya dan memandang kawan-kawannya dengan serius, "Minna, ayo kita ke rumah Kak Vivi…"
'Tuh kan…' batin Mugiwaraners dengan tampang males.
__TSUZUKU__
Ahaaayy… spoiler yang chapter kemarin itu dusta… jangan dipercaya… ;p
POJOK 'MANGKALNYA TUKANG OJEG'… eh, maksudnya, POJOK SBS!
Monkey D Cyntia: Hoo... love dovey tu itu... OH YAA!! Namanya meregangkan sendi!! Aku lupa! Thanks udah mau ngingetin... *autho bo'ong, padahal emang ga tau* Darah hitam ituh cuman di manga! MANGAA!!! Si eneng bikin nafsu ajah ih... *author ditimpuk panci* Yaa... selalu ada yang interupsi saia buat sengaja... biar rame aja gitu... tapi chap ini enggak kan... *naik turunin alis tampang bejad* Pecinta Ace rupanya....
ruki4062jo: Huehehe... Robin emang sebenernya punya tipe cowok idamannya sendiri donk... Iya kan Zoro? *Zoro mendengus pergi*
ARGENTUM SILVER-CHAN: Ferisa-chan enjoy ya bacanya? syukur deh... :D Saia senang ketika readers enjoy membaca cerita saia. Itu suatu kebanggan tersendiri... *mau masuk kamar RSJ lagi tapi ditendang keluar*
edogawa Luffy: Thanks yo...! Yah, begitulah Luffy... ia menganggap Nami seseorang yang berharga (at least sebagai nakamanya). Adegan itu saia buat untuk memunculkan efek perasaan Luffy terhdap nakama-nakamanya. Ya, eksempelnya Nami dalam fanfic ini... Oh, soal CD? tadi udah di bahas kan? Masih ada pertanyaan lagi? ga ada? Oke, lanjuuut!! *dengan suara berwibawa*
Ryuuku S. AJ: *Sesek karna dipeluk-peluk* HEEEGGHH!!! Mba!! kecekek!! Kecekeeekkk!! Ya... saia juga kangen sama Ace... saia benci ngeliat Akainu!! HELL FOREVER FOR HIM!!! YEAAAAHHH!!! *balik nyekek Ryuuku-san*
MelZzZ: Iya nih si Law! Padahal di skenario saia gak ada lho dialog itu!! *demo masal* Robin bisa karate... yah, soalnya seperti yang saia tulis di chapter kemaren buah iblis/Devil Fruits/Akuma no Mi gak berlaku disini... saia sendiri juga nyesel... T,T. Eh nggak tau ya? di dunia ini sebenernya ada 7 benua! yang dua lagi kan benua antartika dan benua atlantik.
CELLjenova: Salam kenal juga... *menunduk tersenyum ramah* Iyyaaa~ juga menurutku mereka (LuNa) cocok~ *berubah jadi banci selama lima menit* Ah, soal Vivi udah dibahas kan disini? Ya, Vivi gak jelek jelek amat lah... dia orang yang baik, justru karena terlalu baik, dia gak sadar kalo dia membahayakan kawan-kawannya. Iya, iya... Ace saia banyakin... *death glare to Ace*
Izu-chan: Jaaahh... penggemar Ace lagi... Saia juga seneng Law jadi tukang pijet, hidup ini memang indah... *digorok Law* Okey, thanks for review... *senyum kecap manis*
Ah~ akhirnya... dikiiiittt... lagi fic ini selesai... mungkin sekitar chap 10 ato chap 11... ato mungkin juga 12... =="
Ah, ya! Saia ada pengumuman bagus... bagi anda yang juga menyukai crossover fic, saia mengapdet fic crossover baru fandom One Piece dan fandom Fairy Tail. Ceritanya gokil (maklum, author yang dekil dan belum mandi ini lagi mood bikin fic humor/parody) dan pasti menyenangkan! Yang mau baca, jangan lupa review ya, judulnya: NATSU REPLACE LUFFY'S BIG BROTHER POSITION
Agak panjang memang judulnya... tapi... ceritanya dijamin singkat kok... mungkin bakal tiga chap ato kurang dari lima chap...
akhir kata, wassalam... dan
FIC INI GAK GRATIS!! BAYAR DENGAN REVIEW!! *nodong bazooka*
V
