Disclaimer: Did not own One piece. Kalo punya saia, saia nikahin cepet-cepet Nami en Luffy dan mereka pun akan melakukan hal ini dan itu... *dikemplang karena tampang mesum*

Sedikit catetan dari author (yang seneng karena UKK akan berakhir): Maaf karena hiatus yang saia lakukan. Sebenarnya chap ini udah jadi dari doloooooeee... tapi karena kepotong sibuk menjelang UKK, akhirnya saia tunda dulu ngapdetnya. Baru deh saia sempet sekarang. Kalo Fanfic 'Romansa Kekalahan L' dan fanfic 'Natsu Replace Luffy's Brother Position' apdet akan menyusul. Karena chapnya masih setengah jalan... Mohon kesabarannya...


Chapter Nine

Bukan Luffy Donk yang Harus Memilih!

Begitulah, atas dasar pemikiran irasionalis dari sang Kapten 'belangsat' of Mugiwara, para Mugiwaraners menyetujui usul itu, walaupun ada beberapa di antara mereka yang menolak untuk ikut campur. Seperti misalnya Brook (yang merasa udah bau tanah, jadi gak pantes untuk ikut-ikutan masalah ini), Zoro (yang beralasan lebih memilih kasur tercintanya di rumah ketimbang masalah serius Luffy), Chopper (yang lebih ingin merawat luka-luka para korban bencana geng), dan tak terkecuali Nami sendiri (yang sebenernya ingin ikut tapi dilarang Chopper untuk alasan kesehatan).

"Kok banyak yang gak ikut?" protes Luffy marah-marah sambil nginjek-nginjek kecoak yang lewat di depan sofanya.

"Sorry Luffy, gue nitip salam aja sama Vivi," cengir Nami karena takut disundut jarum suntik sama Chopper.

"Ahh… gimana sih!" keluhnya kemudian sambil menjepit bangkai kecoak dengan jari kakinya dan melemparnya ke arah Geng Trafalgar. Anggota geng itu otomatis kalang kabut berusaha menghindar. Bonney dan Perona menjerit-jerit dan mencakar-cakar tembok berusaha kabur kayak kucing kepojok air bah. Law, Kid dan Duval langsung lompat terus kabur ke arah yang sama alhasil mereka bertabrakan dan klenger di tempat dengan sukses. Buggy langsung loncat nempel di kepala Zoro. Dan sementara itu Kohza dan Tashigi hanya cengar-cengir ngeliat keadaan memalukan nakama-nakamanya.

"Payah…" komen Ace memandang pemandangan rusuh itu dengan tampang ogah-ogahan. Tak lama, pikirannya pun kembali ke jalur topik pembicaraan. "Luffy, kayaknya mending lo pergi ke sana sama Kohza aja," ujarnya.

"Jahh! Nii-chan! Kok sama Kohza-senpai?" protes Luffy lagi sambil memandang benci pada Kohza yang kemudian dirinya kembali disambut tatapan yang sama pula. Ace mendesah menghadapi permusuhan macam ini.

"Gini ya," timpal Ace yang kemudian diiringi untaian nafas panjang dan dalam, "Luffy, elo gak bisa berlaku kayak gitu sama Kohza, karena Kohza adalah senior lo, paham? Nah, Kohza, lo juga ga bisa ngiri sama Luffy gitu aja. Karena pada kenyataannya—atau menurut sudut pandang yang gue liat—Luffy gak begitu cinta mati sama Vivi."

"Justru bukan itu, Ace-sama!" tampik Kohza tiba-tiba, "gue gak suka sama nih anak bukan karena itu! Gue gak suka sama dia karena dia sama kayak Nami! Dia ngabaikan Vivi gitu aja!"

Luffy beranjak dari tempatnya, dengan cepat menyambet kerah Kohza dan medorongnya dengan kasar ke tembok, "denger manusia endel!" umpatnya kesal, matanya menatap serius pada mata biru yang ada dihadapannya, "gue akui tampang gue kayak gini, tapi asal lo tau, gue gak kan pernah ngaibai'in yang namanya temen," seriusnya dengan nada rendah walau sanggup di dengar oleh telinga Kohza dan yang lain sekali pun. Kohza menatapnya datar.

"Akhirnya Luffy mengakui kalo dia punya tampang pas-pasan!" curhat Sanji pada Ussop.

Luffy nengok sangar ke Sanji, "Gue gak bilang tampang pas-pasan! Gue bilang 'tampang gue kayak gini'!" Luffy siap-siap ngelempar sendal jepit 'swallow' ijonya yang tadi dia pake buat wudhu ke arah idung Sanji.

"Tampang kayak 'gini' bukan maksudnya 'pas-pasan'?" ledek Sanji lagi nyengir stress. Luffy pun dengan kemampuan 'atlit-lempar-kodok-antar-er-we'nya melempar muka Sanji dengan sendal. Untung Sanji refleks langsung loncat sembunyi di belakang sofa, dan sendal itu pun mendarat sukses di jidat Zoro. Zoro pun kejang-kejang, Chopper segera menolongnya.

"Udah… udah…" ujar Ace berusaha menenangkan makhluk-makhluk buas itu.

Luffy melepas cengkramannya dari kerah Kohza. Ia menurunkannya dengan perlahan. Sementara itu Kohza merapihkan kerahnya yang kusut. Mereka pun saling meminta maaf dengan gentle.

"Udahlah, ayo kita bergegas ke rumah Vivi…" ajak Kohza. Luffy mengangguk setuju dan mereka berdua pun pamit pergi, disusul pula para Geng Trafalgar yang lebih memilih pulang ketimbang terus meratapi bangkai kecoak dihadapan mereka.


"Ahh… Luffy lama bangeeeett~!" keluh Nami masih tiduran di atas sofa. Robin yang mendengar itu, mencibir jahil.

"Takut Luffy diapa-apain sama Vivi ya?" tanyanya yang kemudian diiringi tawa atau hanya sekilas senyum dari Mugiwara yang lain. Pipi Nami mengembung tanda protes.

"Bukan itu! Gue hanya takut Luffy diapa-apain sama Kohza-senpai di tengah jalan…" katanya menunduk sedih, matanya menerawang jauh pada imajinasi yang jelas tak logis itu.

Robin mengibaskan tangannya tanda menampik, "ah, kalem aja, Nami. Kohza-senpai gak bakal berani!"

"Iya, Nami, lo mikirnya berlebihan banget…" timpal Ussop tanpa memandang orang yang diajaknya bicara dan terus meramu beberapa ramuan untuk eksperimen senjata Hisatsu barunya. Tak lupa, Franky yang ada disebelahnya dan sedang mereparasi beberapa mesin turut mengangguk menyetujui timpalan Ussop.

Keadaan untuk sesaat hening dan sepi. Semua asyik dengan pikirannya masing-masing. Suasana seperti ini akan terasa makin mencekam kalo saja Zoro tak angkat bicara, "Oh ya, Nami," panggilnya pada Nami. Sesaat kemudian ia menghentikan kegiatan membedaki pedangnya seiring lawan bicaranya menyahut, "setelah ini, kalo seandainya Vivi tetep bersikeras pengen…" suaranya merendah sedikit, "…Luffy jadi milik dia, gimana?"

Nami mendelik. Kalo seandainya kamu ada di posisi Nami saat ini, pasti kamu juga bakal bingung dan tak yakin kemana hati orang yang kamu sayangi akan mendarat. Apalagi tipe orang yang kamu sayangi sifatnya model-model si Luffy. Orang bodoh yang terlampau baik, yang akan berbuat sesuka hatinya dan tak mau menuruti orang lain. Orang yang disayanginya sekalipun.

"Entahlah," desah Nami. Ia pun memaksakan diri untuk tersenyum, "…pasrah aja deh."

"Baik amat lo," nimbrung Margarett yang baru masuk ke ruang tengah dari arah dapur untuk membantu Sanji. Sambil mengelap kedua tangannya yang basah pada celemek putih di pinggangnya, ia tersenyum manis pada Nami. "Lo harusnya gak boleh pasrah gitu. Cinta lo itu pantes buat diperjuangin!"

"Betul itu," setuju Sanji yang tiba-tiba nongol dari pintu dapur hanya kepalanya saja, sedangkan badannya dibalik pintu dapur. Zoro mandangin Sanji dengan tampang 'lo-mirip-ju-on-deh'. Sanji membalasnya dengan tatapan death glare. "Apa lo liat-liat? Nafsu lo ama gue?" sinisnya.

"Iye gue nafsu! Nafsu pengen nyukur kepala lo yang 'kuning-ngambang-di-parit' itu!" tantang Zoro yang entah sejak kapan sudah menempeli jidadnya pada jidad Sanji. Duo dungu itu saling jambak menyambak, hingga Sanji mendengar teriakan Margarett yang telah kembali ke dapur.

"SANJIIII! MASAKANNYA GOSOOOONNNGGG!"

Sanji pun spontan dengan laknat langsung mendorong muka Zoro hingga jatuh jeblak di lantai dan segera berlari ke dapur. "Gawaaatt! Gara-gara si Marimo jelek!" protesnya kemudian menghilang di balik pintu dapur.

"Kok salah gue?" sangar Zoro sambil mengelus-elus kepala belakangnya yang geger otak itu. Chopper sambil mengomel dengan terpaksa mengobati kepala Zoro dengan memberinya plester putih silang.


Beberapa menit yang ngebete-in kemudian…

"Ahh… bosen nih, nunggu Luffy lama banget!" kesal Zoro menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di sebelah Nami dan membiarkan dirinya terkapah di sofa.

Nami dengan pelan menekukkan kedua kakinya, "Iya nih… bete…"

"AH! ANE TAAAUUUKKK!" teriak Brook selebar-lebarnya sampe-sampe rahangnya hampir copot dari tempatnya. Ussop dan Franky yang ada di sebelahnya bergidik ngeri membayangkan kalo rahang si 'tua-hanya-tulang' itu beneran jatuh ngegelinding di depan mereka. Hiiy~

"Tau apa Brook jii-chan?" tanya Chopper sambil giat memakan semua permen yang ada di toples. Kalo Ace lihat ini, ia pasti langsung histeris dan jantungan sambil berteriak geje, 'PERMEN PENGHIAS RUANG TAMUKUUUUU~!". Syukurlah ia sekarang sedang di lantai dua, di kamarnya sendiri. Entah sedang apa, mungkin tidur.

Brook dengan bahagia dan bangga mengeluarkan biola yang tak jelas asal-usulnya itu. "Mau mendengarkan lagu?" tawarnya dengan sopan.

"UEEHHH…! ide yang bagus!" sambut Ussop dan Chopper ngacungin jempol tangan dan jempol kakinya.

"Baiklah, mau lagu apa?"

Ussop dan Chopper yang tadinya udah siap-siap membuka mulutnya untuk mengatakan 'LAGU ABANG TOYIB!', segera saja mulutnya disumpel Zoro dengan sendal bakiak. "Biasa lah, Bink's no Sake…" sahut Zoro tenang yang disambut senyuman Mugiwara yang lainnya (kecuali Ussop dan Chopper yang nangis karena bakiak gak bisa keluar dari mulut mereka).

Saat sudah aba-aba, di luar dugaan dan membuat jantung pindah lokasi ke punggung, Luffy loncat masuk dari jendela persis maling ayam yang akan di ketapel oleh Pak RT (tuh Pak RT kurang kerjaan deh). Franky kelabakan nyari penggebuk karena masih belum nyadar kalo itu Luffy bukan maling ayam, Zoro nyabut bakiak dari mulut Ussop dan Chopper untuk membidiknya ke arah lain yakni ke mulut maling ayam, Nami stanby di depan telepon untuk nelpon polisi, dan Robin hanya membalikkan halaman novel menuju halaman selanjutnya dengan santai.

"Guys! Ini bahaya!" serunya sambil memutari sofa 45 kali, memutari meja lampu 23 kali, dan scot jam di atas di atas karpet 85 kali.

"YANG BAHAYA ITU ELO!" sewot Mugiwaraners (kecuali Robin) yang masih berpikir kalo Luffy adalah lakon maling ayam tersebut.

Luffy tampak tak mempedulikan hujatan teman-temannya dan terus saja berpanik ria, hingga Sanji keluar dari dapur, "Makan malam siap!"

Luffy yang 'cepat-datang-cepat-pergi-cepat-lupa' itu pun langsung masuk dapur. Saat hendak menerobos pintu dapur, Ace yang entah sejak kapan ada di situ, tiba-tiba saja menarik hidung Luffy dari belakang dan menyebabkan hidung Luffy semakin melebar. Saat Luffy lengah, Ace pun masuk ke dapur memotong jalan Luffy. "HEEEYYY!" protes Luffy yang gak terima idungnya yang udah lebar (karena rajin ngupil) makin melebar gara-gara dua jari kakaknya itu pun akhirnya segera menendang bokong kakaknya dari belakang. Alhasil, Ace tersungkur masuk ke kolong meja makan.

"Kyaa! Hentai!" pekik Margarett yang mengira Ace sedang mengintip roknya dari bawah meja. Ia pun lantas menginjak wajah Ace dengan sepatu haknya yang berdiameter 0.5 cm, dan tinggi 10 cm.

"GYAAAA~!" Pekik makhluk malang itu. Tak lama, Sanji yang iba ngeliat keadaan Ace, segera menolongnya keluar dari bawah meja (lebih tepatnya menyeret dengan kasar).

"Wah… sorry om… hehehe~" bahagia Luffy melihat kakaknya sedemikian tersiksa. Sambil mengelus mukanya, Ace mengacungkan jari tengah ke arah Luffy.

Sanji dengan riang menata makanan yang masih hangat itu di atas meja—ia dibantu pula oleh Margarett dan Robin. Sementara itu Luffy, Ace, dan Brook dari tadi sibuk teriak 'Makan! Makan!' berulang kali sambil sesekali menggetok meja dan menggetok-getokkan piring. Zoro dan Franky ribut soal piring siapa yang paling bersih. Ussop dan Chopper ngiler berjamaah melototin makanan-makanan yang dibawakan Sanji—yang mana menu dan jumlahnya tampak lebih banyak dari biasanya.

"TUNGGGGUUUUU~!" Teriak seseorang dengan suara berat, yang diiringi suara gebrakan pintu hingga jebol.

Luffy langsung histeris lagi, "PINTTUUUU GUEEE~!" teriaknya sambil ngacak-ngacak rambut. "Heh! Jii-chan jelek! Rumah sendiri maen hantem aja! Pintu dapur tuh pintu paling gue sayang taukk!" sewotnya darah tinggi. Kakeknya cuman cengenges-cengenges dengan bangga.

"Hahaha… Sorry, tapi, hari ini ada yang mau nginep sini dan mau ikut makan malem bareng kita!" sumringah sang kakek. Ia pun menggeserkan badannya, agar semua makhluk jejadian di dapur dapat melihatnya dengan jelas siapa yang ia maksud itu.

Luffy dengan wajah surga segera berlari selaw mosien ke arah orang yang ada di belakang Garp. "PAMAN SHAAANKKKS~!" teriaknya.

Shanks tersenyum dan membuka lebar tangannya hendak siap-siap membalas sambutan hangat keponakan angkat tercintanya itu. "Luffy… sudah lama tak jum—"

BAAAAGGGHHH!

Iyak, apa yang terjadi pemirsa? Ternyata hewan buas kita Luffy si beruang Griesley malah menendang wajah Shanks yang ganteng itu, sodara-sodara!

"NGAAAHH! Apa-apaan sih lo, Luffy!" protes Shanks sambil menyingkirkan dengan kasar kaki Luffy yang masih nyangkut di rambut merahnya. "Gue dateng kirain bakal dipeluk, ternyata malah ditendang!"

Luffy langsung menunjuk-nunjuk Shanks tepat di hidung. "Heh, idung lebar!" panggil Luffy seenak udel. "Lo utang janji sama gue!"

Shanks dengan santai berdiri sambil membersihkan jubah hitamnya yang berbau amis karena air laut itu, dan meregangkan otot leher dan bahunya. "Ya," katanya lembut sambil tersenyum lembut, "gue inget kok. Makanya gue dateng hari ini, Luffy."

Sementara itu, Mugiwaraners yang ada di ruang dapur sekaligus ruang makan itu saling berpandangan, mencoba mencari tahu janji macam apa yang Shanks buat, hingga Luffy sedemikian tumbennya mengingat hutang janji orang lain terhadapnya. Mereka pun tak habis pikir dan memutuskan untuk menanyakannya nanti.

Luffy kembali duduk di kursi meja makan begitu juga dengan yang lain. Mereka dengan tanpa rasa segan (disingkat: biadab), melahap semua makanan yang ada di atas meja. Garp, Shanks, Ace dan Luffy memakan makanan-makanan itu dengan super ganasnya. Zoro yang bahkan sedang memegang paha kambing, dikibulin oleh Shanks.

"Wah! Pedang terbang!" tunjuk Shanks ke arah jendela. Zoro yang tahu itu hanya akal-akalan, enggan menengokkan kepalanya.

"Gue gak bakal kesandung sama trik begituan!" cueknya. Saat hendak menggigit daging kambing itu, Shanks menjatuhkan garpu milik Zoro.

"Ah! Sorry!" serunya meminta maaf sambil berlagak hendak memungut garpu itu kembali.

"Ga papa, gue ambil 'ndiri," sahut Zoro setengah kesal. Ia pun mengambil garpu itu. Namun saat ia mendongak kembali ke atas meja, daging kambingnya sudah ludes.

"SIALLL!" kesal Zoro yang baru menyadari itu ulah Shanks 10 menit kemudian.

"HAHAHA!" tawa si koki dengan bahagia nunjuk-nunjuk Zoro dengan rendah. Zoro pun dengan gesit melempar garpu ke jidat Sanji.

"Jii-chan!" panggil Luffy pada Garp.

"Apa?" tengok Garp. Tak sampai satu detik selang Garp menyahut, Luffy mencomot daging ayam di piring sang kakek. "BEGGGOOOO!" refleks Garp yang kaget.

"NGAHAHAHAHA~! Dasar kakek bau tanah blo'on!" bangga Luffy (A/N–Pesan Moral: wahai anak Indonesia yang baik! Jangan tiru manusia durhaka ini!).

"CUCU KURANG AJAR!" teriak Garp dengan senantiasa dan tanpa ampun mencekik sang cucu. Nyawa Luffy sedikit lagi keluar dari tubuhnya.

"Kalian! Makan ga bisa tenang apa! Ga ada sopan santun banget! Krauss krass! Gleg…! Krauss! Krauss..!" teriak Ace sambil dengan berisiknya mencomot makanan sana-sini. Sangking cepatnya ia mencomot dari berbagai arah, lengannya jadi terlihat seolah-olah ada banyak.

'Yang berisik itu elo!' swt Mugiwara yang lain ngebatin.

Sementara itu, Margarett dengan sweatdrop gede di kepalanya memandangi suasana meja makan yang seperti suasana viking itu. Zoro dan Shanks yang saling rebutan daging kambing, Garp yang sedang mencekik cucunya sendiri sampai meja bergoyang-goyang, Ussop dan Chopper yang sibuk ngeributin taruhan antara Zoro dan Shanks, Brook en Franky yang sibuk minta nambah sama Sanji. Dan Sanji yang kepalanya sempet ngebentur wajan karena kepleset minyak yang tadi sempat tumpah.

"Apa mereka selalu begini saat makan?" tanyanya dengan muka males pada Nami dan Robin. Mereka berdua hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Kecuali Robin yang langsung balik bertanya,

"Lo gak suka?"

"Ah, entahlah. Malah suasana kayak gini yang sebenernya ngangenin…"

"Ngangenin?" tanya Nami.

"Yah," sahut Margarett berdecak, "masa lalu."

Nami dan Robin hanya saling berpandangan. Sebetulnya mereka penasaran, namun apa boleh buat, takut salah bicara, mereka menahan rasa penasarannya.


"Fuaahh! Kenyang jugaaa!" sorak Luffy, Ace, Shanks, dan Brook di ruang tengah sambil menepuk perut masing-masing.

"Nah, Luffy," potong Shanks tiba-tiba memendam kemeriahan orang-orang yang ada di ruang tengah. Ia pun spontan jadi pusat perhatian. "…hal apa yang ingin lo rundingin sama om lo ini, hah?"

"Oh itu, gini… Om Shanks… Luffy kemaren…" dan begitulah Luffy menjawab dengan menceritakan segala masalahnya pada Shanks, didukung dengan Mugiwara yang lain menambahkan cerita ini-itu alias membesar-besarkan cerita.

Shanks bersandar pada sofa dan merentangkan tangan kirinya pada sandaran sofa. Ia melipat kakinya dengan santai seiring cerita Luffy dkk selesai. Shanks terdiam sebentar menganalisis cerita. Semua yang ada di ruangan itu (kecuali Garp yang asyik ngupil) berwajah tegang menunggu reaksi dari Om Shanks.

Shanks membuka mulutnya perlahan mendramatisir suasana, "Itu…" katanya dengan suara wibawa, "…aku haus."

Mugiwara yang mendengar reaksi itu pun dengan tega melemparinya dengan barang-barang sekitar mereka. Ada yang ngelempar sendal, panci, sendok dapur, kertas, tomat, bahkan celana boxer.

"YANG SERIUS DONK OM!" sewot Luffy mengerahkan segala muncratan ludah yang ada.

Shanks dengan santai dan wajah tak karuan karena banyak barang menempel di wajahnya merengek, "…tapi aku haus, Luffy-chan…"

"Ahh! Bawel!" sewot Sanji yang langsung pergi ke dapur dan mengambilkannya segelas air putih ukuran sedang.

"Mana cukup segini! Ini sih cuman bakal nyampe ke pangkal tenggorokan gue doang!"

"GYAAAHH! Bawel amat sih lo! Masih syukur dikasih!" sangar Sanji.

"HEH! Lo pikir ini rumah sapa, hah?" seru Shanks gak kalah sangar nunjuk hidung Sanji dengan ujung jempol kakinya.

"Iya, maaf… cerewet…" omel Sanji lantas kembali ke dapur dan mengambilkannya satu galon air minum. "Nih!" katanya sambil setengah membanting galon itu.

"Nah, gitu donk," sahut Shanks dan langsung menegak air yang ada di galon itu. "Oh ya, Luffy, tolong ulangi cerita yang waktu lo dan Kohza ke rumah Vivi donk… Paman tadi gak begitu mendengarkan bagian yang itu…"

"Oh, baik paman. Begini ceritanya…"


[FLACHBACK]

Kohza menyikut lengan Luffy yang berdiri tertegun di sampingnya, "Lo deh yang pencet belnya!"

"Ish, kau ni!" sebal Luffy, "Senpai kan lebih tua, harusnya yang lebih wibawa dan bijak. Ayo duluan!" dorongnya pada punggung Kohza hingga pipi dan dadanya menempel pada pintu Vivi.

"Sial, kau…" umpat Kohza yang akhirnya terpaksa memencet bel rumah Vivi. Ia menelan ludah.

Pintu pun terbuka.

Seorang laki-laki bertubuh besar dengan rambut anehnya yang bak Mozart itu menyapa mereka dengan senyum ramah. "Ya…? Ehem.. ehem Do… re… mi…! Uhuk-uhuk… ehem, ya?"

Memperhatikan orang aneh itu, Luffy dan Kohza pun bingung. Mereka saling pandang. Namun rasa bingung itu mereka tepis begitu saja, karena mereka berusaha untuk tak keluar dari tujuan mereka yang seharusnya. Luffy menyikut Kohza. Kohza memandangnya sebal, ia mengumpat dalam hati pada Luffy.

"Em… Kami temennya Vivi-chan—em... Vivi-san, maksud saya. Perkenalkan, saya Kohza," Kohza menyodorkan tangannya dan menjabat tangan pria tinggi itu dengan hangat yang kemudian disusul Luffy, "dan ini kawanku, Luffy."

"Halo, salam kenal," santai Luffy.

"Ano…" decak pria itu, "…Kalau kalian mencari Vivi-sama, ia saat sedang tak ada di rumah."

Lagi-lagi Luffy dan Kohza kompak memandang mata satu-sama lain dengan bingung. "Kalo boleh tau, kemana ya?" Tanya Luffy.

"Saya sendiri tak begitu yakin, tapi tadi katanya hendak ke rumah teman perempuannya… ehm, siapa ya? Han… Hancuk…? Hammock?"

Luffy dan Kohza mendelik, "Hancock?"

"Ahh! Ehem… ehem… do.. do.. re… mi…!" seru pria itu dengan suara aneh, "Ahh! Benar! Itu dia! Katanya dia hendak mengembalikan buku ke sana!"

Luffy dan Kohza menahan nafas. Mereka punya feeling buruk soal ini. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka segera meluncur menggunakan motor vespa biru Kohza menuju rumah Hancock. Untung saja Kohza tahu rumah Hancock karena sempat suatu ketika ia melihat Hancock berjalan memasuki sebuah gang agak lebar. Gang itu letaknya tak jauh dengan sekolah SMA Grandline mereka.

Kohza ngerem dadakan persis di depan gang itu.

"Kenapa? Kok senpai berenti sih! Gang ini kan cukup buat dimasukin vespa! Dimasukin mobil Jeep aja cukup!" protes Luffy masih di bangku bonceng. Kohza mendecakkan lidahnya tanda kesal.

"Berisik! Gue juga tau itu sih! Tapi…" Kohza agaknya terdiam, tiba-tiba dan dengan sigap, ia memepetkan motornya di bawah pohon di samping trotoar. Kohza pun memarkirkannya di situ, kemudian mengajak Luffy ngumpet di balik pohon. Tampang blo'on Luffy menunjukkan rasa herannya. Kohza tak banyak cakap, ia hanya menunjuk sebuah mobil Inova hitam beberapa ratus meter dari tempat mereka sedang terparkir di depan sebuah kafe kecil.

Luffy menyipitkan matanya. Tampak di matanya, dua gadis yang dikenalnya turun dari mobil Inova tersebut dan kemudian keduanya dirangkul oleh seorang bapak-bapak. Vivi an Hancock tampak manja di dalam rangkulan bapak-bapak tampang mesum, kumis tipis, kepala botak setengah dan hidung lebar itu.

"Masya Allah!" kaget Luffy memandang tak percaya. Matanya lekat terus memandang ketiga orang itu menghilang di balik pintu kafe. Seiring mereka menghilang dari pandangan, Kohza menarik Luffy untuk jongkok.

"Lo liat tadi, Luf? Gila bener!" seru Kohza merinding tak percaya menepok jidatnya sendiri.

Luffy berkeringat dingin, "Wait, ini gak mungkin… itu pasti orang lain…" katanya berusaha berpikir positif, walopun dalem hatinya tau apa yang ia lihat itu benar adanya.

"Sinting lo!" tampiling Kohza, "Itu jelas-jelas mereka! Lo masih bilang kalo itu orang lain?"

"Gu—gue…" tatap Luffy sedih, "Gue… bener gak nyangka Vivi en Hancock (Kalo Hancock sih sebenernya masih kepikiran) ternyata cewek kayak gitu!" Luffy mulai keliatan panik, ia pun berdiri. "Sekarang kita musti gimana?"

"Kita tunggu mereka keluar dari kafe itu…" tatap Kohza serius pada pintu coklat kafe itu. Luffy mengangguk menyetujui.

Sekitar satu jam kemudian…

Luffy yang sempat terantuk-antuk dan ngiler, terbangun karena goncangan Kohza. "Luffy! Mereka keluar!"

Luffy yang nyawanya masih belom ngumpul langsung ditarik Kohza untuk langsung naik ke motor vespa, karena rupanya ketiga orang itu melanjutkan perjalanan menuju suatu tempat lagi. Setelah diikuti oleh mereka, mobil itu tiba-tiba terhenti di sebuah hotel. Ketiga orang itu turun di depan Lobby. Setelah sang bapak-bapak mesum itu menyerahkan kunci kepada seorang bell boy, mereka pun memasuki Lobby.

"Astagfirulloh…" Luffy menepuk dadanya sendiri. (Author: Emang Luffy Islam?)

Kohza menegepalkan kedua tangannya dengan erat, dan tiba-tiba saja loncat dari vespa dan berlari memasuki Lobby, meninggalkan Luffy yang kakinya tertindas vespa. "BRENGSEK LO KOHZA!" umpat Luffy seiring ia memajukan bokongnya dari bangku bonceng menuju bangku depan, dan membawa vespanya mepet di balik tembok besar pembatas milik hotel tersebut. Ia terpaksa melakukan itu karena bulu kuduknya mulai merinding dipelototin abang satpam yang jaga di pos hotel itu.

Ia mendesah, tak lama, hapenya berdering. Dengan sigap, ia mengambil hapenya itu dari kantong celana SMA-nya. Ia mati rasa memandang nama yang terpampang di layar hapenya.

"Hancock?"


Tsuzuku…

lama-lama nih cerita mirip Termewek-mewek =,="


POJOK SBS (BY: ODACHI... GADUNGAN.)

Kuchiki Rukia Taichou: haaaddduuhhh... maaf... apdetnya telat... eng? gak jadian? yah, gimana ya... Luffy masih masa pedekate tuh... *nunjuk Luffy yang lagi ngasih bunga pinggir jalan ke Nami*

CELLjenova: Iyah... abang... ehm, tante? eh... kakak? manggil apa ya enaknya... oh! ane tauk... begini, nenek jenova... sebetulnya bukan cinta segiempat... tapi segitujuh! (ditambah kohza en bapak-bapak tampang mesum). Eh? Shanks ya? udah saia munculin... tenang ja... ok... minta chara apa lagi? saia munculin deh! Yaoi? enggak lha...

MelZzZ: Gimana? lulus gak kemaren? Mudah-mudahan lulus ya! Dan keterima di SMA terbaik... amin. Ahh~ maaf... adegan ZoRo di sini gak banyak (bukan gak banyak lagi malah gak ada... =,=") Maaf ya... maybe next time!

Monkey D. Cyntia: ish... tak tau ke? *upil & ipil mode* CD Franky itu merupakan 'KUNCI' dari semua masalah ini. Mungkin cerita ini juga kemungkinan mengarah ke chara death sama kepolisian. Ah.. gak tau deh liat entar. Soalnya nih cerita bakal aku panjangin lagi sekitar 4 ato lima chap lagi... huahahaha~ Keren? makasih... *ge er segede babon*

Ryuku S. A J: *balik ngegetok* Jangan cubit-cubit~! Mahaaaallll! *dijitakin satu kampung*

Izu-chan: Mereka memang menyukai O-Ve-Je... *geleng" ngeliatin trafalgar en mugiwara yang kompak nongkrong depan tipi tetangga sebelah*

robotcell: hiyaakk~ akhirnya! ada komen macam ini juga! Saia memang sengaja. Supaya mencerminkan anak remaja yang sesungguhnya. Tapi, humornya lumayan kan? btw, thanks for review~! *melambai-lambai centil*

ruki4062jo: Kiamat udah dekat? Gawat! *tetep nyantai tiduran di atas kasur gantung sambil kipas-kipas* Hancock merayu Law? Alaaah... masa tak tau! -author pura" gak tau, padahal udah dua kali digoda hancock-

edogawa Luffy: hoo... sekarang ceritanya lebih gawat lagi... tau... tapi, terakhirnya bakal mencengangkan... bahka mungkin geje... *cengar-cengir geje*

Tika-Chan Shinigami: Gapapa... curhat aja kalo merasa perlu... setiap masalah itu menurut saia penting... *senyum kecap manis, langsung digaplok* Wokeh deh! makasih banyak... maaf apdetnya telat ya...

Ferrisa-chan: Saia juga selalu telat merepiu ceritamu... tak pa.. saia maklumi... okeh, bagaimana dengan chap satu ini? lucu gak? mohon pendapatnya...