Disclaimer: Mungkin salah saia, makanya One Piece jadi banyak penggemarnya… (uhm, aku ngomong apa tadi?) Ah lupakan! OP hanya punya Eiichiro Oda. Dan saat kalian membaca ini, aku udah nonton OP TM 10 nya…
Summary: Luffy hendak menanyakan pertanyaannya pada Nami, tapi sebuah telepon Mr. Ius menganggu ritual ajang curhat-curhatan mereka. Lalu? Bagaimana reaksi Luffy? (masih peringatan sama Virus yang berterbangan disini...)
A/N: Sudah saia katakan sebelumnya, apapun spoiler chapter dalam fanfic ini jangan pernah dipercaya… Sekalipun kalo saia mengatakan jumlah chapternya… *tertawa laknat*
CHAPTER ELEVEN
'Oh Come My Way!' Vs. 'The Golden Lion of Satpol PP'
Luffy menatap sekeliling. Di atas sepeda yang diboseh seseorang yang begitu dikenalnya, ia merasa bingung dan ingin sekali bertanya banyak. Namun ia tak mempedulikan hal itu. Ia hanya perlu fokus pada satu hal; segera sampai di Lawang Park.
"Ne, Bon-chan! Jangan-jangan yang lo liat itu Vivi!" tanya Luffy mencoba meyakinkan. Orang yang ditanyanya hanya tak menjawab sambil terus memboseh sepeda. "Lo yakin itu cewek berambut biru? Maksud gue… cewek kan? Bukan cowok?" seru Luffy memastikan seiring bayangan sosok Buggy melintas dalam kepalanya.
"Yakin lah Mugi-chan! Mata aku tuh selalu bagus melihat sosok cewek! Gak salah lagi, cewek yang kamu panggil Vivi itu sekarang mungkin dibawa ke rumah sakit! Kita cek aja dulu ke tempat mangkal gue!" katanya sambil terus dengan giat memboseh sepeda dengan cepat. Luffy terdiam, di kepalanya tersusun kembali memori singkat ketika ia di rumah tadi…
SEKITAR SATU JAM YANG LALU…
Luffy tertawa laknat mengetahui bahwa Nami adalah korban dari pertanyaannya. Brook bersorak dan berulang kali mengucapkan, 'tanyakan apa dia mau ngasih liat celana dalamnya?'. Brook pun sukses dilempar sepatu hak Nami.
Nami memandang ngeri Luffy yang menyeringai ala kusir kuda dan kudanya. Luffy membuka mulutnya, "Nami… apa elo mau jadi…"
Mugiwara menahan nafas.
"…apa lo mau jadi…" lanjut Luffy nerpes.
"Mau jadi apa…?" sewot Mugiwaraners yang lain stress nungguin jawaban dari Luffy yang boleh dibilang kebangetan dramatisnya.
"Sabar donk!" balas Luffy nyelepet, "Nami! Apa lo mau jadi tu…"
'Kriiing… Kriiing… Kriing…'
"Lho? Jam segini kok ada telepon…?" lirih Luffy dengan bingung, sementara itu Nami tarik napas lega. Sambil dengan tak senonohnya ia menggaruk bokong, ia pun berjalan di tengah kegelapan untuk mengangkat telepon rumah yang berada di samping rak lampu.
BANG! BUAGH! DIAAAAAGGGGHHH~! Doeeengg…
Ups, seseorang lupa menyalakan lampunya.
Ussop dengan sigap menyalakan lampu. Tampak telah terkapar di dekat sofa, Luffy malang yang nungging karena kakinya tadi kesandung bantal, jidadnya yang lebar itu dikit lagi mental kena ujung rak. "Bego! Nyalain lampunya dulu sebelum pergi!" kesel Ussop memandangi kekonyolan ketua gengnya itu.
'Kriiing… Kriiing… Kriing…'
Dengan keadaan nungging itu, Luffy rupanya masih mampu mengambil telepon. Ia angkat ganggang telepon dan menempelkan pada telinga kepalanya yang masih berada di bawah.
"Ya, halo… di sini keluarga Monyet…" Luffy menepok jidat sendiri, "ah! Maksudku di sini keluarga Monkey. Ada yang bisa saya banting?" Franky dengan rela menghajar Luffy sambil mengatakan, 'BANTU! DOGOL!'.
"Mugi-chan! Mugi-chan!"
"Eng? Suara ini…" lirih Luffy, "Bon-chan! Ini Bon-chan kan?" seiring Luffy berteriak, Mugiwaraners dengan kompaknya meriungkan diri di sekitar Luffy dan masing-masing berusaha mendapatkan tempat terdekat dengan telepon yang menempel di telinga Luffy itu.
"Mugi-chan! Sebentar lagi kau kujemput! Kau harus membantuku!"
Mendengar permintaan sahabat karibnya yang terdengar mendesak itu, Luffy menyanggupi dengan cepat. "Okeh! Gue bantu elo! Lo jemput kemari ya!"
"OOOWWWKKKKEEEEEEHHHH!"
BRRUUAAKKK~!
Seiring suara kayu hancur terdengar, tampak pula makhluk jejadian muncul menerobos pintu ruang tengah dengan sepeda berwarna merah jambunya.
"GYAAAA~! ADA SILUMAN NAIK KUDA PINK~!" pekik Mugiwaraners stress kecuali Luffy yang langsung teriak,
"CEPET BANGET?"
Orang yang duduk di atas jok sepeda itu menutup ponselnya, "Kemon Mugi-chan!"
"JADI ELO BARUSAN NELPON DARI DEPAN PINTU RUMAH GUE?" depresi Luffy kumat. Sementara itu akibat adegan mengejutkan barusan, Franky dan Brook loncat nembus alang-alang, serta Chopper dan Ussop yang pingsan sambil mengigau gak jelas komplikasi berbusa dan ayan. Sedangkan Zoro dan Sanji hanya tenang-tenang karena mereka sedang mendengarkan musik lewat headset, dan para wanita hanya masang wajah gak mutu.
"Udah lah! Gak usah banyak cincong, deh cin~" seru Bon Clay dengan gaya bancay khasnya. "Oh come my way~"
Karena Luffy sudah berjanji akan membantu, ia pun dengan tak segan melompat ke sepeda Bon-chan. Bon-chan pun langsung memboseh sepedanya dan berlalu hanya dalam waktu sepersekian detik.
"Oy! Luffy! Lo mau kemana…?" teriak Franky dari atap genteng bersama Brook.
"Gue ada urusan sebentar! Daahh~!" lambai Luffy. Ia dan Bon-chan menghilang dari kegelapan malam. Franky dan Brook pun segera turun untuk menemui Mugiwaraners yang lain. Setelah briefing sebentar, anggota setia Mugiwara sepakat akan menyusul Luffy menggunakan mobil Franky (di mana briefing sempat ricuh karena Nami mengamuk menolak membayar iuran uang bensin).
Sementara itu… di Lawang Park…
Luffy turun dari boncengan dengan tergesa-gesa. "Mana si Vivi…? Kayaknya udah dibawa ke Rumkit deh!"
Setelah memarkirkan sepedanya dengan terburu-buru alias melempar sang sepeda ke sembarang arah, Bon-chan turut bingung. Pasalnya, ia yakin tadi melihat sosok Vivi yang pingsan karena dihajar seseorang ada di situ.
Bon-chan dengan rasa terpaksa berkata, "Mugi-chan, aku gak mau mengotori hatimu yang masih suci," katanya dengan gaya artis teater lebay, "Tapi, kita harus mencarinya di dalam Pub Club itu!" tunjuknya pada suatu bangunan tempat maksiat di depan mereka yang meriah dengan lampu-lampu warna-warni. Otak kekanak-kanakan Luffy yang suka sama lampu warna-warni itu (mungkin dikira toko mainan, es krim, ato semacamnya) langsung menyetujui. Bon-chan dengan rasa terpaksa, mengajaknya masuk untuk mencari sosok Vivi—atau paling tidak, menanyakan keberadaannya.
Di dalam klub, Luffy merasa agak kecewa karena itu bukan toko yang diharapkannya. Ketika ia pertama masuk, banyak sekali wanita-wanita berdandan aneh—menurut Luffy—datang menghampirinya dan menawari sesuatu yang tak Luffy mengerti. Ketika hal macam itu terjadi, Bon-chan akan dengan tanggap menarik Luffy pergi dan mengusir wanita-wanita gak jelas itu seraya berkata 'Limited Edition!'. Semacam kode atau apa ya?
Tibalah Luffy dan Bon-chan di sebuah drinks bar, bartender berpewarak lumayan ramping menyambutnya hangat. "Luffy? Ini Luffy kan? Uwahh… lama gak ketemu! Kamu masih inget aku…?"
"Eh? Siapa lo?" tanya Luffy bingung memiringkan kepalanya. Pria berkacamata bundar itu makin semangat memperkenalkan dirinya.
"Ini aku! Coby! Adik kelas kamu waktu es-de! Inget gak? Dulu kan kamu sering maen ke kelasku untuk ngajak temen sekelasku maen monopoli pake duit beneran!" mendengar itu Bon-chan sempet ngebatin, 'Nih anak bakat judi dari es-de…'.
"AHHH! Gue inget! Masya Allah…! Lo udah gede sekarang! Gak nyangka badan lo cepet banget tumbuhnya?" pekik Luffy menyalami Coby dengan hangat. Coby hanya cengangas-cengenges mengusap kepala belakangnya yang tak gatal itu.
"Gak kusangka ketemu kamu disini, Luffy! Eh, tapi kamu ngapain di sini? Ka… kamu… bukan mau cari yang 'aneh-aneh' kan?" bingung Coby menandakutipkan kata 'aneh-aneh' dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa yang ia lihat dihadapannya itu masih Luffy konyol tukang berkelahi seperti dulu.
Luffy melipat kedua tangannya, "Yang aneh-aneh…? Apa maksud lo? Gak lah, gue ke sini cari Vivi!"
"Vivi?" Coby menatap Bon-chan dengan bingung. Bon-chan mengangguk membenarkan.
"Ya, kita nyari Vivi. Kamu kan bartender di sini, pasti tau donk!"
Luffy setengah menggeplak meja, "Tolong Coby! Gue butuh bantuan elo! Kasih tau di mana Vivi sekarang!"
"Err… itu…" Coby menunduk sambil mengusap kepala belakangnya lagi, "Aku gak tau, soalnya aku baru aja dateng dari nganter barang. Sebelum aku berangkat, aku gak liat Vivi. Jadi aku gak tau dia ada di mana…"
Luffy menatap Coby kecewa. Sementara itu, Bon-chan yang tak mau melihat sahabatnya kecewa mendesak Coby. "Kalo gitu bartender yang ngegantiin kamu waktu kamu gak ada, siapa?"
"Um… itu juga gak tau… gue gak begitu yakin, tapi coba tanya sama cewek di sebalah sana, dia cewek yang sering keliatan bareng sama Vivi-neesan."
Bon-chan dan Luffy pun dengan kompak menyusuri jari telunjuk Coby, dan mendapati seorang gadis tinggi semampai, putih, langsing, rambut panjang, dan seksi yang sedang bediri di sela-sela pintu antara pintu dapur dengan pintu ruangan mereka berada saat itu.
"HAMMOCK…?" pekik Luffy dengan suara tercekat yang disambut teriakan dari Bon-chan dan Coby, 'yang benar HANCOCK, idiot!'.
"Oy~! Hammock~! Ngapain elo di sini…?" lambai Luffy pada Hancock. Gadis anggota fansgirl Luffy itu pun tentu saja langsung menoleh karena betul-betul hapal dengan suara cempreng Luffy (yang bagi Hancock itu suara seksi yang pernah ada). Namun Hancock juga sangat terkejut Luffy berada di tempat seperti itu. Sebenarnya ia agak segan menghampiri Luffy karena merasa takut identitasnya terbongkar.
'Luffy…?' pipi Hancock memerah, ia memegangi wajahnya sendiri, 'Kenapa Luffy ada di tempat seperti ini…?'
Luffy kembali melambai dan memanggil namanya kembali setelah Luffy menegaskan bahwa Hammock kakak kelasnya di sekolah pada Bon-chan dan Coby. Tak dapat mengelak dari panggilan sang pujaan hati, Hancock menghampirinya dengan malu-malu, bagai pembantu yang baru dipanggil majikannya.
"Hammock, ngapain lo di sini?" Luffy yang sebenarnya masih belum menyadari tempat apa yang ia datangi itu, kontan menimbulkan salah paham pada Hancock. Hancock sendiri tak menyangka kalo Luffy pria hidung belang.
"Lu… Luffy… Gu… gue gak nyangka elo cowok kayak gini…" lirih Hancock kecil. Dengan suara musik disko yang begitu memekakkan telinga itu, tentu saja pernyataan seperti itu tidak dapat didengar Luffy dan yang lain kecuali Bon-chan yang mungkin karena sudah terbiasa, jadi dapat mendengar suara itu. Bon-chan hendak membuka mulutnya untuk menjelaskan, tiba-tiba terpotong Luffy.
"Hammock! Lo liat gak Vivi ada di mana?"
Hancock mendelik. "Eh? Jadi Luffy kemari untuk nyari Vivi?"
"Ya iyalah! Emang mau ngapain lagi? Lagian gue gak suka tempat ini, udah berisik sama suara musik aneh, banyak cewek gak jelas lagi di sini! Padahal gue pikir bakal banyak makanan di sini, eh… yang ada malah minuman doank! Rasanya gak enak pula!"
Coby dan Bon-chan mendelik mendengar tanggapan Luffy yang kini sudah berumur 16 tahun itu. Anak berumur 16 tahun yang MASIH aja polos, dan MASIH gak tau itu tempat apa. Bon-chan dan Coby pun tiba-tiba menangis terharu melihat Luffy yang masih polos itu.
Bon-chan menggenggam pundak Luffy sambil mengacungi jempol, "You're such a nice kid…! Aku jadi merasa bersalah membawamu ke tempat ini, maafkan aku Mugi-chan… tapi ini demi Vivi, temen elo~!" dramatis Bon Clay meluk Luffy sekalian ngelapin ingus ke baju Luffy.
"EH? SIALAN LO NGELAP INGUS SEENAKNYA!" ngomel Luffy. Luffy berusaha melepas pelukan tenaga babon dari Bon-chan namun tetap susah dilepas, alhasil, mereka pun rusuh sendiri.
Hancock menunduk, mengepalkan tangannya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tak lama di sela kerusuhan antara Luffy dan Bon-chan, "KENAPA LUFFY…?" seru Hancock tiba-tiba dengan lantang walau tidak menyaingi suara musik disko itu sendiri. Luffy yang tadinya hendak menjontos Bon-chan memperhatikannya.
"Kenapa…? Kenapa kamu selalu merhatiin Vivi? Kenapa…? Kamu selalu merhatiin Nami…?" air mata yang sudah menggulung, tumpah dari pelupuk mata Hancock yang indah. "Kenapa…? Hanya aku satu-satunya wanita yang gak pernah kamu perhatiin?"
Mata Luffy yang mendelik melemah. Ia bahkan tanpa sadar menurunkan kerah Bon-chan dari tangannya. Ia memperhatikan Hancock dengan lekat yang kini terjongkok di bawah menutupi wajahnya yang memalukan sambil terus menangis.
"Nah lho, Luffy…" celoteh Coby mandang aneh sama Luffy. Mendengar itu Luffy langsung salting.
"Gyaaah! Go…gomen…!" katanya spontan, ia ikut jongkok di depan Hancock memastikan Hancock tidak kenapa-napa.
"Dia sakit bukan karena pukul ato apa, lho, Luffy…" cibir Bon-chan melipat kedua tangannya.
"Eh? Sakit? Hancock sakit apa…?" papat Luffy.
"Dia emang lagi sakit…" Bon-chan menepuk dadanya sendiri, "…sakit disini."
"Hah?" cengo Luffy, "Hancock punya penyakit jantung?"
Dengan senantiasa serta membaca basmallah, Bon Clay menendang kepala Luffy dengan jurus barunya 'menghilangkan-penyakit-blo'on-pada-anak-autis'.
"APAAN SEH?" protes Luffy bales jontos.
"Sakit hati, idiot… jadi anak autis-autis amat seh?" balas Bon-chan sewot menggaplok Luffy.
"Oh…" bibir Luffy membulat. Sementara itu Coby swt, 'sempet-sempetnya kalian ribut soal penyakit di depan seorang gadis yang lagi nangis …'
Luffy mengangkat pundak Hancock mencoba membantunya untuk berdiri. Hancock berdiri namun tetap tak mau menatap Luffy, ia terus mengusap air mata yang tak kunjung mengalir dari matanya itu. Luffy yang 10 centi lebih pendek darinya, tentu saja dapat mengintip mata Hancock yang tak mau menatap padanya. Luffy menghela napas.
"Sebenernya ada apa sih… gue gak ngerti…" Luffy menatapnya serius, Hancock tetap tak berani menatapnya, "…di satu sisi lo sama Vivi ngelukain Nami, di sisi lain, lo begini keadaannya. Gue gak ngerti…" lanjutnya dengan suara diseret. Luffy memunggungi Hancock mengenakan kembali topi jerami Shanks (yang tadi kebetulan kebawa) di kepalanya.
Hancock berhenti menangis. "Gue… hanya pengen nyari perhatian elo… gue… gak maksud untuk—"
Luffy berpaling dan menatapnya dengan tatapan penuh dendam, alisnya mengernyit dengan kuat, "…Dengan nyakitin nakama gue?"
Hancock mendelik, Luffy melanjutkan. "Gue sayang sama Nami! Karena gak ada dia, duit kas gak ada yang pegang! Gue sayang semua temen-temen gue! Lo pikir gampang bangun relationship dengan mereka?"
Hancock kembali menangis. Ia berpaling hendak berlari pergi, namun Luffy menahan tangannya. "Hancock," katanya serius di balik topi jerami Shanks. "Jangan merasa terbuang. Ayo gabung jadi nakama gue…"
Mata tatapan Luffy bagai sebuah kutukan Gorgon bagi Hancock. Bedanya gorgon yang ini hanya mampu membuat Hancock...
"Jiaaahh! Dia pingsan!" pekik Coby yang melihat Hancock terkapar begitu saja dengan wajah sangat memerah. "Apa dia pingsan karena demam?" komen Coby melihat wajah Hancock.
"Oy, Hammock!" papat Luffy menabok-nabok pipi Hancock seenaknya. "Gawat! Kalo dia pingsan, gimana kita bisa tau Vivi ada dimana…?"
"INI SEMUA GARA-GARA ELO, BAKAA~!" sangar Bon-chan kesel.
Luffy memandangnya innocent, masang muka gak bersalah. "Tapi gue kan gak mukul dia…"
Bon-chan kembali melipat tangannya, "Udah lah! Ayo kita nyari orang lain untuk ditanyain!"
"Tunggu…"
Luffy dan Bon-chan, tak terkecuali Coby, menengok ke bawah ke arah Hancock yang kini duduk di lantai di hadapan Luffy yang sedang jongkok. Dengan pipi yang masih memerah layaknya tomat, Hancock memandang Luffy dengan berbinar. "Luffy… Vivi ada di rumahnya sekarang…"
Bon-chan menaikkan alis kirinya, "Dari mana kamu tau?"
"Itu… soalnya… tadi gue yang anter. Soalnya, orang yang ngehajar Vivi tadi… adalah para Mafia tulen di kota ini," lirih Hancock menjelaskan.
Luffy memandang Coby dengan bingung, "Coby, emangnya kota ini punya Mafia?"
DONNNKKK~
Bon-chan, Hancock, dan Coby memasang muka 'i-am-shock-you-are-stupid'. Bibir mereka menganga gak percaya kalo Luffy sedemikian kupernya sampe-sampe gak tau kalo di kota itu memang terdapat satu geng Mafia terbesar dalam sejarah, yang bahkan anak kecil berumur lima tahun pun tau nama kelompok Mafia itu, bahkan mungkin, hapal nama anggotanya satu persatu.
"Yakin kamu gak tau? Mugi-chan…?" pekik Bon-chan depresi masih dalam stadium I still can't Really believe it!.
"Luffy…? Yakin kamu gak tau…?" disusul pekik dari Hancock dan Coby.
Saat mereka sedang bershock ria, orang-orang yang berada di luar tiba-tiba ribut dan seseorang dari beberapa orang yang ada di luar masuk menjerit, "RAZZZIIIIAAAA~!"
"NAN NI~?" papat Bon-chan, beberapa penyakitnya seperti skot jantung komplikasi kudis dan panu pun kumat. Namun tiba-tiba, Hancock dengan sigap, menarik tangan Luffy dan Bon-chan pergi dari ruangan itu, begitu juga Coby yang segera berlari melompati meja bar dan mengikuti mereka.
Hancock membawa mereka melewati sebuah lorong sempit, kotor dan gelap. Mereka terus berlari hingga sampailah mereka di bangunan pub bagian belakang—di gang sempit antara dua bangunan. Saat hendak menyusuri gang itu menuju jalan raya, tiba-tiba saja terdengar suara orang tertawa lepas dari ujung gang yang mereka tuju. Luffy ngerem dadakan.
"Siapa itu?" teriak Hancock mencoba menganalisis bayangan seseorang yang ada di ujung gang.
Menyadari sosok itu, Coby tiba-tiba terjatuh lemas ke belakang.
"O-oy, Coby…?" seru Luffy.
Seiring cahaya mobil memberi cahaya pada gang itu, Coby berteriak dengan lantang sambil menunjuk sosok besar dengan setir kapal di kepalanya, "Shi-shi…! shi…! Shiiiiiiii….!"
"Siluman?" cela Luffy yang sebel sama efek gagap dari mulut Coby.
"SHIKI THE GOLDEN LION!" teriak Coby kencang pada akhirnya. Luffy menatap kembali sosok itu.
"Oy, manusia kepala setir kapal! Minggir!" tentang Luffy. Sementara itu, Coby malah lebih terlihat shock menanggapi tentangan dari Luffy ketimbang kedatangan sosok itu sendiri.
"Eh? Mau keluar lewat jalan ini ya? Gak bisa semudah itu donk, laki-laki hidung belang…" suara berat membahan seisi gang buntu itu. Mendengar itu, guratan nadi muncul di dahi Luffy,
"IDUNG BELANG KATAMU…?"
"Oy oy… Luffy sabar… jangan dilawan!" Bisik Bon-chan, "Jangan pedulikan kata—"
"Coby bukan cowok idung belang!" teriak Luffy membelas Coby (yang padahal cowok yang dimaksud itu dia).
Coby tereak sangar ala tukang patri, "ELO BEGO! BUKAN GUE!"
Orang aneh itu tertawa lagi, "GHAHAHA~! Anak yang aneh…" Shiki pun mengeluarkan senjata apinya, "Sudahlah, menyerah saja. Menyerah dan masuk ke mobilku!"
"Oh~ Benarkah? Apa boleh, Ossan..?" bahagia Luffy.
Bon-chan menampiling Luffy, "Kamu tau gak sih mobil dia mobil apaan…?"
Luffy menggeleng innocent lagi.
"MOBIL SATPOL PP!" jelas Bon-chan, Hancock dan Coby penuh ketidaksabaran dan kekesalan yang amat mendalam.
"EHHH~?" jerit Luffy. Yang lain menepuk dada karena akhirnya si bodoh mengerti juga, hingga mereka mendengar komen Luffy selanjutnya, "Keren doooonnnkk~! Gue mau naik~!" Luffy berlari ke arah mobil yang ditunjuk Shiki kemudian melompat naik.
"Bego! Di sana banyak—" peringatan Bon-chan terhenti ketika mendengar teriakan Luffy dan sosok Luffy yang mencoba melompat turun namun di tarik beberapa orang yang ada di dalam mobil.
"GYAAAHH~! BAANNCCCCEEEEEE~!" teriak Luffy depresi berusaha keluar dari mobil itu, namun apa daya tangan dan kakinya dikerubuti oleh para okama ganjen yang sudah sukses ditangkep duluan oleh para mas-mas Satpol PP yang gagah perkasa.
Semua yang ada di situ swt memandang Luffy, "Makanya dengerin peringatan aku dulu donk…" lirih Bon-chan dengan nada dan tampang males.
"Hemh," Shiki tersenyum kasar, "Dia gak akan pernah bisa keluar dari sana lagi, kecuali aku menyuruh para banci itu turun."
Akankah manusia slenge'an kita, Monkey D. Luffy, dapat selamat dari kejaran para bancay plus para Satpol PP? Please stay tuned on the next chapter.
Bahas Review…
SBS (Selamat Berpuasa Semuanya~! –tumben kepanjangan SBS tidak menyimpang—)
Ferisa-chan: Permainan itu sebenernya gak ada… itu cuman permainan ciptaan saia hanya sebagai 'bridge' antara story santai ke story yang lebih bejat lagi. Seperti chap kali ini, sungguh bejad dan tak bermoral… Kata sapa selese di chap 12? Ngarang kamu ini. Kemaren kan saia bilang puncak klimaks masalahnya di chapter 12! Bukan penyelesaiannya. Intinya aku baru jalan sekitar setengah dari seluruh kisah.
BlackWhite Feathers: Iya, gak tau kenapa kemaren kepikiran untuk nyisip adegan ZoRo… Anyways, thanks for review…
Chappy D. AniTsu: Astaga..? benarkah segitu terkenalnya…? *lebay mode* Okeh, kali ini fic nya gak akan ngegantung kk ceritanya. Tenang aja… walopun telat apdet sampe beberapa puluh ribu taun, tetep akan saia selesaikan (unless kalo saia mati).
MelZzZ: Iya nih, Robin tuh kemaren yang pengen muncul katanya *tidak mempedulikan Robin yang teriak2 "Fitnah itu! Fitnah"*. Permainannya bukan permainan beneran kok… saia sudah bilang, apapun sopiler dalam chap ini jangan dipercaya… *digiling rame2*
ruki4062jo: *menyalami* kalo begitu selamat, anda telah mendapat predikat gila stadium empat karena virus yang telah saia tularkan dari fic ini. Oh ya? Saia sendiri gak bisa nebak pikiran Luffy… *bersiul pura2 gak tau*
Cendy Hoseki: Wah, anda baru mereview di chap ini ya? Selamat! Anda telah terjangkit penyakit virus yang telah disebarkan oleh fanfic saia~! *bangga* Anyway, thx for review…
Sayurii Dei-chan: Lho? Ini Dei-chan kenalan saia bukan? *so kenal mode* Okeh, saia apdettt… maaf kalo agak garing untuk chap ini~
Kuchiki Rukia-taichou: Iyaph bener! Eh, ssstt…! Liat! *nunjuk Luffy yang lagi iseng masukkin bangkai kecoak ke sepatu Nami*
edogawa Luffy: UAS? Hoo… semoga nilainya bagus-bagus ya! Ya! Nami histeris! Dia kan punya penyakit 'suka-histeris-sendiri-kalo-deket-Luffy'. Mungkin semacam penyakit alergi? *ngangkat bahu* Yak yak~ siap-siap ketularan virus gak beres dari fic inih okeh~
Tika-Chan Shinigami: Ah saia ingat anda! Anda juga sebelum ini pernah review beberapa cerita saia… Lho? Review isinya cuman kata-kata 'penasaran'? *swt* Okeh ini juga udah apdet-apdet-apdet-apdet-apdet-apdet-apdet-apdet-apdet-apdet-apdet….
A/N: *ngelap keringat* Fuuuhh… cape juga… gak nyangka review untuk chapter kemaren banyak juga… Duh, mudah-mudahan chap yang ini gak mengecewakan ya… Silahkan kirimkan pesan, kesan, kritik, dan saran anda ke PO BOX review yang ada di bawah ini…
V
V
