Disclaimer: Whoaaa…! Oda-sensei bersedia memberikan hak milik One Piece padaku? Aih… senangnya…! (ketika author ngelindur)

Summary: "Hancock ternyata ga sejahat yang kita kira… mungkin dia hanya 'sedikit' freak sama Luffy…" WARNING: Virus kocak dan tidak waras tidak akan pernah bisa menghilang dari fanfic ini, nyehehehehe…


CHAPTER TWELVE

Persiapan Sebelum Persidangan

"Hah? Yang bener?" seru Franky sekencang-kencangnya pada hape Be-be nya yang baru. Ia tidak mempedulikan Ussop yang berada di sampingnya menderita terkena 'ampas' muncratan air liurnya. Dengan muka derita, Ussop mengelap wajahnya yang telah berubah jadi lautan air liur Franky itu.

"Buset dah," keluh Ussop, "Mas, permisi mas, kasih sedikit aja kesempatan muka saya jauh dari mulutnya mas…" cibir Ussop dengan kesal, tak lupa sesekali setelah mengelap mukanya ia mencium baunya.

Chopper yang melihat itu berteriak, "Udah tau bau, masih diciumin juga! Udik! Ndeso!"

"Itulah derita hidup," komen Zoro dengan suara kecil. Sebelum Ussop menyadari kata-katanya yang mepet-mepet sedikit itu, ia melanjutkan, "Kenapa, ky? Siapa yang nelpon barusan?"

Setelah mengantongi hapenya, Franky bersabda, "Kawan-kawan, kita harus ke Lawang Park sekarang!" tanpa menunggu serangan pertanyaan dari kawan-kawannya, Franky menginjak gas mobilnya dan segera mempercepat laju mobilnya di jalan raya, hal ini tentu membuat Mugiwara cs pontang-panting tidak karuan di dalam mobil. Zoro dan Sanji nungging di bawah jok mobil paling belakang, sedangkan Brook, Ussop dan Chopper terlempar ke atas badan Zoro dan Sanji. Kalau para wanita hanya mengalami dehidrasi sesaat saja.

Sanji yang merasa dirinya sedemikian teraniaya pun melempari jok yang ditempati Franky dari belakang dengan sepatu Zoro. "Heh, kunyuk!" kasar Sanji, "Apa-apaan sih lo!" teriaknya resah pada Franky yang jelas tak menggubris sama sekali goncangan akibat sepatu tersebut. Sanji melototi Franky dan tak mempedulikan Zoro yang berulang kali memukulinya karena sepatu Zoro kini mental ke luar jendela.

"Mahal…!" komat-kamit Zoro berulang kali dengan matanya yang terus mengikuti arah terbangnya sepatu ke belakang mobil.

"Emang barusan lo dapet telepon dari sapa?" tanya Robin dengan hati-hati sekaligus menanggalkan suara ribut Sanji dan Zoro di jok paling belakang. Franky menyahut agak lama.

"Barusan itu dari Hancock," kata Franky serius.

"EHHH?" pekik Mugi cs gak mutu. Nami memajukan tubuhnya ke jok depan dengan cepat.

"Yang bener, ky?" pekiknya di samping telinga Franky dan Ussop yang berada di jok depan.

Franky mengangguk yakin. Ia melanjutkan, "Dia bilang, Luffy sekarang ditangkep Satpol PP karena disangka berbuat mesum."

"Eh?" seru Mugiwara. Mendengar ini, reaksi mereka tidak begitu hebat, mengingat Luffy memang sering melakukan tindakan-tindakan bodoh. Dan kali ini, tindakannya yang di luar nalar manusia ini adalah biasa.

"Makanya, kita disuruh kesana sekarang," lanjut Franky, kemudian sedikit memelintir setir mobil ke kanan. Dengan kecepatan mobil yang luar biasa itu, Franky berhasil mendapat hujatan dan makian dari teman-temannya yang stress memikul nasib nyawa masing-masing yang ada pada mister supir 'ugal-ugalan-tanpa-sim' itu. Tapi Franky tetap anteng, dan malah semakin mempercepat laju mobilnya.

Tak beberapa lama kemudian, tibalah mereka di Pub yang disebutkan Hancock melalui ponsel tadi.

Franky turun dari mobilnya, dan langsung disambut hangat oleh tangisan dari Bon-chan, Coby dan Hancock yang berlari lebay ke arahnya. "AKHIRNYAAAA~!"

Wajah lega dan bahagia ala anak kecil yang baru dapet THR pun nampak pada wajah ketiga makhluk itu. "Dan dimulailah adegan episode telenovela: 'Ratapan Anak Autis' untuk minggu ini…" sinis Ussop yang sebel tingkat berat melihat adegan Hancock, Coby dan Bon Clay memeluk Franky ala geng teletubbies.

"Pilem telenovela baru?" tanya Brook sang tengkorak pecinta sinetron abal-abal ini. Ussop hanya membalasnya dengan tatapan tampang males.

"Kalian gak kenapa-napa?" kata Zoro ala Suparman kesiangan, menegakkan diri dan membusungkan dada ketika keluar dari mobil. Sanji yang baru keluar dari mobil, memukul dadanya hingga kempis kembali.

"Kemana arah mobil Satpol PP itu, Hancock-chan?" potong Sanji segera setelah menyalakan rokok, tak menghiraukan gunjingan Zoro. "Ngomong-ngomong, Hancock-chan gak papa kan?"

"Iya, Hancock-senpai gak kenapa-napa kan? Gak luka? Gak dikasarin kan sama mister Satpol PP?" tanya Nami yang baru turun dari mobil disusul Robin. "Kalian juga gak kenapa-napa kan?" alihnya kemudian pada Bon-chan dan Coby. Mereka berdua hanya mengangguk.

"Kalo ada yang sakit bilang sama gue! Biar gue obatin deh!" seru Chopper keluar dari mobil paling akhir yang disambut anggukan setuju dari Mugiwaraners yang lain.

Sejenak, Hancock memperhatikan mereka. Kantong matanya yang sembab namun tertutup bedak make up itu, kembali terbasahi aliran air mata dari matanya. Mugiwara mendelik.

"Hancock-senpai? Senpai gak apa-apa?" tanya Robin dan Sanji bebarengan mendekati Hancock. Robin mengusap punggung Hancock untuk mencoba menenangkannya. "Cobalah tenang, ceritain aja, ada apa? Gak usah panik…"

"Iya, Senpai! Soal si Luffy ketangkep Satpol PP itu biasa! Gak usah dikhawatirin anak itu sih! Dia ketangkep banci juga pernah!" seru Chopper yang ujung-ujungnya nunjuk Bon-chan yang langsung komen, 'Daku bukan banci! Tapi waria!'.

"Hush! Jangan buka aib si Luffy!" seru Nami menjitak Chopper, "Dia digrebek sama Pak Er-Te karena maling ayam dan sendal masjid aja pernah!"

'Tuh elo yang buka aib…' sewot Chopper dalam hati.

"Sst! Kalian ini berisik! Dah tau ada cewek nangis!" sabda Franky bijak.

"Ini pasti gara-gara petugas-petugas Satpol PP sialan itu! Biar gue hajar kalo ketemu!" seru Sanji sambil meninju telapak tangannya.

Hancock makin terisak.

"Tuh kan, tambah nangis… elo sih!" komen Sanji yang ujung-ujungnya malah nyalahin Zoro. Zoro sih nyantai aja, tapi sambil nabok Sanji pake sendal bakiaknya Ussop.

Nami mendekati Hancock, "Senpai… jangan nangis gini… aduh, sebenernya ada apa? Cerita deh sama kita… si Luffy mati, kita ikhlas kok!" Nami dipelototin Mugiwara yang lain, "Ah, maksud gue… jangan terlalu mikirin… si Luffy pasti baik-baik aja kok…"

"Oy, oy!" Ussop nyikut Nami, kemudian membisikkan sesuatu pada telinga Nami, "kita kan belom tau si Luffy kemana? Jangan yakin dulu si Luffy bakal baik-baik aja!"

"Elu kan tau sendiri kebodahan si Luffy! Setan mana yang berani nandingin 'daya-tahan-tubuh' Luffy?" balas Nami. "Lagian gue kan cuman berusaha ngibur dia?" Liriknya cepat ke arah Hancock hanya agar Ussop mengerti siapa yang dimaksud. Ussop membalasnya hanya dengan anggukan, menunjukkan bahwa ia memang setuju.

Hancock berusaha berhenti menangis, kemudian menghapus air matanya. Ia berusaha bicara walaupun masih terisak-isak, "gu… gue… hanya… gak tau harus gimana…"

"Gimana apa? Soal si Luffy? Nyantai aja dulu, si Luffy gak akan kenapa-napa! Gak akan kuat deh satpol PP ngadepin dia! Paling-paling Si Luffy juga bentar lagi dikembaliin sama Satpol PP karena gak tahan sama ocehan si Luffy," potong Zoro gak sabar, menyandarkan dirinya pada mobil, kemudian melipat kaki serta tangannya. Sanji mandang Zoro dengan tatapan, 'sepatu-lo-ga-ada-sebelah-ga-usah-sok-keren-deh'. Mereka pun saling melempar bola deathglare.

Hancock menggelengkan kepalanya menanggapi tanggapan Zoro. "Gue bukan ngekhawatirin Luffy. Yah, gue emang khawatir… tapi, alasan gue nangis bukan karena Luffy…"

"Lha? Terus karena apa donk?" kompak Chopper dan Ussop.

Hancock tersenyum sedih, "Gue…"

"UDAH GUE DUGA! PASTI GARA-GARA MISTER SATPOL PP KAN?" teriak Sanji sok sibuk. Franky pun terpaksa mengambil ban serep yang udah gak kepake di mobil untuk menyumbat mulut manusia-kuning-sibuk-tapi-gak-jelas itu. Zoro turut membantu Franky dengan nimpukin kepala kuning Sanji dengan batu-batu kerikil setempat en komat-kamit ala kegiatan 'jumroh'. Terjadilah pertengkaran gak penting lagi diantara mereka.

"Jangan hiraukan mereka…" es-we-te Nami mempersilahkan Hancock melanjutkan ceritanya.

Hancock mengangguk, "…belom pernah seumur hidup gue diperlakuin baik sama orang-orang yang udah gue sakitin…"

Mugiwara tambah bingung. Mereka semua mencoba mendengarkan Hancock. Zoro dan Sanji langsung berhenti bertengkar, Brook yang tadinya ngorok sambil berdiri pun dikemplang Bon-chan, bahkan Ussop dan Chopper yang tadinya maen 'Ampar-ampar Pisang' dihajar Nami untuk gak berisik. Hancock segera melanjutkan, "Kalian… padahal… udah gue sakitin, tapi kalian tetep ngekhawatirin gue… Gue, minta maaf atas semua kelakuan gue selama ini… gue ngaku, kalo selama ini gue yang ngerayu Geng Trafalgar untuk ngelabrak kalian… gue juga yang selama ini nyakitin Nami, yah… walopun itu kecelakaan…"

Mugiwara dengan kompak dan sangat tidak inteleknya cengo menghadapi pengakuan dan permintaan maaf dari Hancock. Tapi, yang lebih membuat mereka bingung adalah kata terakhir dari kalimat Hancock. "Kecelakaan?" delik Nami.

"Iya… waktu itu…"


[flashback]

"Senpai! Kenapa temboknya dijebol pake meriam?" sewot Vivi menatap benda besar yang dibawanya, Hancock, dan dua orang perempuan yang lain.

"Lagian kalo mau nyuri CD gak perlu sampe gini-gini amat kan?" lanjut gadis berambut hijau yang sering mereka panggil 'Sander-chan' itu. Vivi mengangguk setuju.

"CD? Emank celana dalam siapa yang mau kita curi?" seru Marigold yang disambut tabokan hangat dari Hancock.

"CD beneran, ahou! Bukan celana dalem!" meski berkata demikian, Hancock sempat membayangkan dirinya mencuri celana dalam Luffy yang sedang dijemur di rumahnya. Dalam bayangannya, Luffy yang mempergokinya mencuri celana dalam, malah dengan kerennya memberikan celana dalam miliknya dengan cuma-cuma, gratis, dan tanpa pungutan apapun pada Hancock. Kilas imajinasi yang jelas tak mungkin terjadi pada Luffy kita ini membuat Hancock terjatuh pingsan dengan wajah memerah. BRUUK!

"Oy Senpai!" teriak tiga orang yang lain berbarengan. Malu dengan dirinya yang jatuh tiba-tiba dengan tidak jelas dan irasional, Hancock buru-buru berdiri tegak dengan sok gagah dan sedikit tebar pesona, seraya berkata, "I'm alright…"

"Syukurlah… tadinya kalo senpai gak bangun-bangun, mau saya pipisi—hemmhh!" mulut Marigold langsung dibekep Sandersonia seiring tatapan dengan kekuatan setan penuh memandangi Marigold.

Sandersonia cengar-cengir, "Ehehe, maaf kak, maksud Mari-chan adalah… untuk apa kakak repot-repot bawa meriam untuk nyuri CD?"

"Habis mau gimana lagi? Ruangannya itu ada dibawah tanah, jadi kita harus jebol tanah sama temboknya sekaligus! Dan itu harus pake meriam kan?" seru Hancock tak mau kalah.

"SIAPA BILANG HARUS?" sewot mereka bertiga kompak menyesali otak Hancock yang kadang-kadang pinter tapi lebih seringnya blo'on kambuhan itu.

"Maafkan aku~" katanya dengan pose super cute, membuat mereka bertiga mengurungkan niatnya untuk memarahinya, dan malah berbalik patuh.

"Kami maafkan~" kata mereka bertiga yang sukses terjangkit lovey-dovey akibat efek tebar pesonanya Hancock.

"Kalo begitu," Hancock menyuruh mereka menaruh meriam itu sekitar 500 meter dari rumah kerja Franky. Ia melanjutkan, "…sekarang Mari-chan dan Sander-chan stanby di sana!" tunjuknya pada sebuah titik yang akan mereka ledakan, "tapi, jangan terlalu deket. Oke, setelah itu, segera menyelinap masuk mengambil CD itu. Mengerti?"

"Tapi, nee-san… kalo ada orangnya di dalam ruangan itu gimana?" rengek Marigold. Hancock mendecakkan lidah.

"Ah, gak mungkin ada!"

Sandersonia sengaja menggetarkan kakinya, "Gue takut nee-san…"

"Ah, kalian ini manja banget! Ya udah, gue yang kesana sendiri, kalian yang nyalain nih meriam! Oke?" Hancock pun berlari menjauhi mereka menuju pusat titik yang akan mereka ledakkan itu. Sambil berlari, Hancock berteriak "Kalo gue bilang 'TIGA' baru kalian ledak—" Hancock mendelik.

"SEKARANG!" seru Marigold dan Sandersonia sambil menyalakan sumbu meriamnya.

"KALO GUE UDAH ITUNG TIGA DUNGU!" depresi Hancock, namun terlambat meriam sudah mental dari tempatnya. Persis ketika meriam akan mengenai Hancock beberapa cm lagi, Vivi menubruknya agar ia tertelungkup di tanah dan terhindar dari bola meriam itu. Bola meriam itu pun langgeng dan sukses meledakkan arah pusat titik yang dituju.

"Senpai gak apa-apa?" kata Vivi. Hancock melenguh kesakitan, namun kemudian mengangguk.

"Ah? Kita harus segera mencuri CD-nya! Sebelum orang lain datang!" ia pun bangkit berlari menuju reruntuhan tanah serta tembok ruang bawah tanah rumah kerja Franky itu.

Vivi menyusulnya, "Senpai!"

"Ini dia CD-nya!" seru Hancock dari balik kepulan asap, memungut sebuah CD yang terlempar keluar dari tembok itu.

"Senpai?" panggil Vivi kehilangan jejak Hancock di tengah kepulan asap itu. Saat melangkah, ia menemukan sosok Nami yang terkulai tak berdaya di tanah. "Astaga! Nami!" serunya, kemudian hendak menyentuh Nami untuk memastikan Nami baik-baik saja. Namun, sebelum tangannya sampai menyentuh lengan Nami, Hancock menarik lengan Vivi dan membawanya menjauh dari ruangan itu persis ketika mereka mendengar suara langkah kaki lain memasuki ruangan tersebut.

"Senpai! Nami! Nami!" histeris Vivi ketika Hancock menariknya semakin jauh dari kepulan asap itu. Mereka pun kembali ke tempat meriam, kemudian berempat, lari sambil menggotong meriam itu.

[end of flashback]


"Kuat juga ya kalian berempat gotong meriam itu sambil lari?" kagum Zoro yang kemudian ditampol Sanji, 'that's not the point!'.

"Ma… maafin gue… gue udah nyakitin kalian! Gue hanya pengen cari perhatiannya Luffy! Tapi semua itu sia-sia… yang Luffy peduliin tetep hanya Nami dan Vivi…" Hancock menunduk, seiring tangan kanannya memegang lengan kirinya sendiri, air dari matanya kembali jatuh. Sementara itu Franky, Ussop, Chopper, Bon Clay dan Brook nangis bombay sambil rebutan tisu untuk buang ingus setelah mendengarkan penjelasan sekaligus permintaan maaf Hancock.

Nami dan Robin saling berpandangan. Robin pun angkat bicara, "Kita ngerti kok, Hancock-senpai…" Robin kembali mengelus punggung Hancock yang kini menangis di pelukannya. Nami lanjut juga menghiburnya, "Iya senpai, Luffy bukan tipe yang gak peduli sama cewek… pasti Luffy juga sebenernya peduli kok sama senpai…" Nami mengkerutkan alisnya ke atas tanda prihatin.

"Gu-gue… tadinya juga pengen minta maaf sama Vivi… gue tau selama ini dia ngerasa tertekan gabung sama geng gue, apalagi dia tau kalo gue suka sama Luffy… Bodohnya gue, gak tau kalo Vivi suka sama Luffy!" tangis Hancock pecah. Mendengar tangisan itu, Mugiwara sempet ngerasa risih karena orang-orang yang lalu lalang di sekitar mereka ngeliatin dengan tatapan aneh. Tapi, mereka mengabaikan perasaan itu setelah Hancock melanjutkan ceritanya.

"Tadi, gue liat Vivi lewat depan Pub ini… pas mau gue samperin, Vivi tiba-tiba pingsan. Trus gue tolongin, gue anter balik ke rumahnya pake mobil temen…" jelas Hancock.

"Oh, begitu…" angguk-angguk Luffy sok ngerti. Hah? Luffy?

Ia muncul tiba-tiba di antara Zoro dan Ussop, karena kaget, maka mereka pun spontan dengan kompak saling mendorong pipi Luffy ke arah berlawanan dan berteriak, "SETAN MANA LOE?". Alhasil, pipi Luffy dempes bagai balon yang dijepit dua buah bokong gajah.

"Gila lo! Maen nabok aja!" seru Luffy dengan mulut manyun karena wajahnya masih terjepit tangan Zoro dan Ussop. Mengetahui yang mereka tabok adalah sang kapten, mereka melepas tangan masing-masing, kemudian bergumam kompak, "Oh… setan dari neraka bawah…" dengan intonasi datar.

"Luffy?" pekik yang lain kegirangan kecuali Zoro dan Ussop.

"MUGI-CHAAAN~!" lompat Bon Kureii menagis bahagia minta digendong Luffy. Luffy menyambutnya dengan tangis bahagia juga.

"Bukannya elo ditangkep SatPol PP?" tanya Coby.

"Masalah itu gak penting," kata Sanji tiba-tiba mengundang perhatian yang lain. Ia pun melanjutkan setelah membuang sisa puntung rokoknya kemudian menggilasnya di atas tanah, "Karena lo udah dateng, kita harus menyelesaikan masalah cinta segiempat ini."

"Oh ya," serius Luffy sambil dengan santainya membuang Bon-chan yang ada di gendongannya ke sembarang tempat. Ussop swt memandang Bon-chan yang terkapar lemah bagai sampah di atas tanah. 'Masih untung gak dibuang ke got,' lirih Ussop pada Bon-chan.

"Kayaknya… kita rundingin besok aja deh guys," usul Robin seiring dirinya menangkap tubuh Chopper yang lemas karena kelelahan. Ia pun tertidur pulas di pangkuan Robin.

Mugiwara yang lain tadinya tidak setuju sama sekali dan berencana akan melanjutkan perundingan ini di rumah Luffy karena mereka benar-benar berharap masalah ini diselesaikan dengan cepat. Namun setelah melihat Luffy (sang tersangka utama) juga jatuh lemas karena kelelahan dan tertidur pulas diiringi suara nyanyian ngorok dari para pendahulu tukang tidur yaitu Chopper, Brook, Ussop dan Zoro, maka Mugiwara yang lain pun memutuskan untuk mengantar pulang Hancock, Coby dan Bon Kureii. Sedangkan mereka sendiri kembali ke rumah Luffy untuk meneruskan gerakan yang telah dicetuskan oleh Chopper.


Pukul 04.00 pagi, Hari Sabtu…

Robin terbangun. Dirinya terjaga dari suatu kilas mimpi, yang memang selalu menghantuinya setiap malam. Perlahan, ia mengusap air mata yang rupanya keluar dari pelupuk matanya pada saat tertidur tadi. Sejenak kemudian, ia memperhatikan nakama-nakamanya yang masih tertidur. Tanpa menghitung, ia sudah menyadari salah satu nakamanya menghilang dari situ. Ia pun bangkit, berjalan pelan melewati nakama-nakamanya dalam keadaan gelap menyusuri tembok sebagai satu-satunya pegangan agar ia tak hilang keseimbangan. Sampailah ia kemudian di pintu dapur, membuka pintunya—kali ini tanpa perlu pelan-pelan. Karena ia tahu, nakama-nakamanya takkan terbangun meski mendengar decitan pintu.

Di dapur, satu cahaya lampu kecil menerangi sebagian pojok dari ruangan itu, yakni meja makan dengan sebuah gelas berisi air tak lebih dari seperempat gelas itu sendiri. Seseorang tadi ada di sini, dan pastinya orang itu adalah orang yang sama yang telah menghilang dari kawanan Mugiwara di ruang tengah.

'Tapi kemana ia sekarang?' Pikir Robin agak kikuk. 'Mungkin di luar?'

Sebelum ia mencarinya keluar, ada baiknya jika ia membasuh wajahnya dengan air. Ia menghampiri wastafel tempat cuci piring, menyalakan keran dan membasuh wajahnya dengan air. Ia meraba-raba sekitar wastafel untuk mencari handuk.

"Ini handuknya, Robin," kata seseorang dari belakang. Robin terdiam mendengar suara itu, setelah menerima handuk itu dan mengeringkan wajahnya, ia memandang sosok yang memberikan handuk kepadanya tadi.

"Terima kasih," kata Robin lembut, "Luffy."

Luffy tersenyum senang. Ia mengambil kembali handuk itu kemudian menaruhnya di gantungan. Robin memperhatikannya.

"Kenapa? Lo gak bisa tidur?" tanya Robin seraya mengambil gelas kemudian membuka kulkas.

"Yaa… gue masih mikirin masalah aneh yang gue alamin ini. Selama gue jadi anak berandal, gue belom pernah ketemu sama masalah ginian…" keluhnya dengan nada berat pada Robin. Seiring Robin menutup kulkas dan menghamipirinya, Luffy duduk di kursi makan dan menyangga kepalanya dengan mencengkram kuat rambutnya sambil tertunduk. Robin menghampirinya dan duduk di kursi di depannya. Belum pernah ia melihat Luffy sedepresi itu. Ia pun menunggunya untuk bicara.

"Kenapa… masalahnya jadi bengkak kayak gini…" bingungnya. "Gue gak tau harus gimana… urusan sama tiga orang cewek yang semuanya gak normal!" katanya berseru dengan suara tercekat. Robin menengok ke arah pintu dapur, takut-takut yang lain terbangun. Setelah yakin aman, Ia menengok pada Luffy kembali.

"Gue ngerti kok, ketua…" kata Robin sambil menengguk jus jeruk yang ia ambil dari kulkas tadi. Ia pun tertawa kecil mengingat kata-kata Luffy, "…tapi… kenapa lo bisa mikir mereka itu gak normal?"

Bibir Luffy manyun tingkat empat, "Terang lha! Yang satu pengennya bunuh diri mulu! Yang satu pengennya nyakitin orang mulu! Yang satu…" Luffy terhenti.

"Yang satu?" singkap Robin.

"uhm… yang satu…" Luffy agak malu mengungkapkannya. Ia menahan kata-katanya.

"Yang satu apa?" desak Robin penasaran. Luffy pun mengurungkan niat untuk menahan kata-katanya lebih lama lagi.

"Yang satu begitu penuh semangat, tegar, dan gak pernah negative thinking. Walopun pemarah dan selalu nyiksa gue, tapi dia orang yang paling care sama gue en temen-temen yang lain…" lanjut Luffy. Sebelum Robin menyadari wajah konyolnya, ia pun berdiri dan berjalan klise agak menjauhi meja makan. Ia melanjutkan, "Kalo gue boleh milih… gue milih dia," ia pun menghilang di balik pintu dapur. Entahlah, mungkin melanjutkan tidurnya.

"Dasar, si Luffy itu…" decak Zoro bersandar di depan pintu kamar mandi.

"Dari mana aja lo?" sahut Robin. Zoro menatapnya balik, Robin melanjutkan, "Abis pas gue bangun tadi, lo gak ada."

"Iya, gue tiba-tiba aja sakit perut tadi…" lirih Zoro sambil tersenyum.


Pukul 06.00 pagi…

"YOSHHHAAAAAAAAAAAAAAA~!" teriak Luffy di tengah lapangan badminton sambil mengacungkan raket badmintonnya. Teriakannya itu sukses membuat seorang nenek berumur tujuh puluh tahun yang kebetulan lewat akhirnya meninggalkan dunia ini dengan baik dan selamat. Sanji lantas melepas-landaskan sendal jepit swallow dengan kakinya tepat ke ubun-ubun Luffy. Tak sampai hitungan sepersekian detik, Luffy sukses terkapar dengan kepulan asap di kepalanya.

Zoro yang baru sampai di lapangan badminton tersebut, berjalan membopong raket sambil menguap santai. "Ayo kita maen," kata Zoro kemudian berpose ala atlit Badminton di depan net.

"Zoro," panggil Ussop, "itu kan raket tennis…"

"Oh ya?" lesu Zoro sambil memperhatikan raketnya. "Oh iya," katanya baru sadar, tapi tetap bersikukuh akan menggunakan raket itu untuk maen badminton. Ussop tepok jidat.

Nami, Robin, dan Margarett baru saja tiba membawa raket masing-masing dan lengkap dengan baju olahraga mereka.

"Hoy, Luffy… ngapain elo di situ?" bingung Nami melihat Luffy yang rupanya masih terkapar di tanah lapangan. Karena merasa tak ada jawaban dari yang bersangkutan, Nami senantiasa sedikit menendang-nendang tubuh Luffy seolah tubuh Luffy adalah bangkai yang tergeletak di tengah jalan raya. "Oy… masih idup?"

Luffy sontak melompat dan berdiri dengan posisi ala pesumo, kemudian berteriak tidak wajar. "HEY! SANJI! Ngapain lo ngelempar sandal ke ubun-ubun gue?" tunjuknya kesal pada ubun-ubunnya yang rupanya bengkak tiga tumpuk itu. Namun yang diteriakinya malah sedang asyik in-de-hoy dengan Margarett. "Cih…" geramnya kemudian berbalik hendak mengambil raket. Namun ia terhenti ketika melihat Nami di belakangnya.

"Eh… Nami…" basa-basinya sedikit. Nami tersenyum.

"Apa Luffy?" sahut Nami dengan suara sedikit manis.

"CIHUUUYYY~! Ciee ciee~! Manggilnya mesra amatt!" kompak Franky, Brook, Ussop, dan Chopper dari arah belakang lapangan yang sukses membuat Nami tersipu di tempat.

Sementara itu Luffy hanya komen, "BERISIK WOY! Nenek sebelah lagi ngejemur baju!" Mendengar itu Mugiwara yang laen ngebatin dengan tampang males, 'Apa hubungannya, coba…?'

Zoro menghampiri Luffy kemudian merangkulnya dengan tampang sok keren, "Udahlah, kalian berdua… jadian aja deh…" Zoro mengedipkan mata pada Luffy.

Luffy dengan tampang dungu hanya menyahut, "Mata lo kelilipan, Zoro?" dan Luffy pun sukses mendapat smash dengan raket tenis.

"And… HOME RUUUUNNN~!" teriak Ussop dan Chopper yang kagum melihat Luffy melayang dan nyangkut di pohon rambutan tetangga.

"Ahou," timpal Zoro kesal dan akhirnya keluar lapangan dengan tampang indikasi 'males-ngadepin-orang-blo'on-kagak-normal-normal-aje'. Sementara itu yang lain sweatdrop liat Luffy yang turun dari pohon rambutan dengan badan penuh bengkak di sana-sini karena terkena gigitan semut Penghuni Pohon Rambutan.

"Udah yuk, mulai aja maennya," kata Chopper kemudian setelah beres mengolesi obat untuk Luffy yang terus mengomel, 'Zoro ga ahou nda… baka ga nare… (Zoro itu idiot, bodo apalagi…)'

"Oy, Zoro, kayaknya ada baiknya elo ganti raket deh…" swt Ussop melihat Zoro mukul kok pake raket tenis melawan Sanji.

Zoro menurut, ia membuang raket tennisnya ke sembarang arah (ke arah kepala Sanji, lebih tepatnya) kemudian meminjam raket pada Nami yang kebetulan bawa tiga raket.

"Ok, guys, mumpung belom jam delapan nih, kita sempet-sempetin maen badminton…" kata Robin menyiapkan raketnya.

"Emang jam delapan ada apa?" tanya Margarett innocent. Mugiwara yang lain langsung memandangnya. "Eh?"

"Oh iya," kata Ussop memukul tangannya, "Margarett kan kemaren gak ikut ke LP, guys?"

"Oh iya ya," kata Sanji. "Gini, Mar-chan, jam delapan nanti ada sidang tertutup di rumah Luffy."

"Sidang tertutup?" tanya Margarett. Nami segera menyambung.

"Iya, sidang buat Luffy. Kemaren kita ketemu Hancock di LP…"

"Oh ya? Trus?" tanya Margarett penasaran. Robin melanjutkan penjelasan.

"Kita sepakat untuk ngadain sidang cinta segiempatnya Luffy. Yang jadi hakimnya nanti Ace…"

"Wow, bakal seru tuh…" kata Margarett bersemangat.

"Bakal puyenk… bukan seru," manyun Luffy. Nami yang kesal menarik pipi Luffy dan memandangnya dengan wajah seram yang pernah ada.

"Ini semua gara-gara elo sendiri…" kata Nami dengan nada intonasi 'kuntilanak-siap-nyate-anak-bego'. Luffy langsung berkeringat banyak.

"Glek…" Luffy menelan ludah kemudian bergumam, "Jadi anak ganteng emank susah ya…"

"NARSIS NAJIS!" protes Mugiwara sambil melempar raket masing-masing ke arah Luffy. Luffy pasrah Lillahi ta'ala.

Selang satu jam mereka bermain badminton…

"LUFFFYY~!" teriak seseorang dari kejauhan, berlari menuju lapangan dengan amat tergesa-gesa. Spontan, Mugiwara menengok ke arahnya. Kecuali Luffy yang maen badminton sambil ngedengerin lagu di MP4 nya. Sanji langsung membuka paksa headset yang ada di telinga kanan Luffy kemudian menunjuk pada Ace yang sedang berlari ke arahnya.

"Nii-chan?" teriak Luffy. "Ada apa?"

Ace nampak kelelahan berlari, ia menunduk untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. "Vivi… hosh… hosh…" ia menelan ludah, "Vivi… hosh…!"

"Vivi? Ada apa dengan Vivi?" sontak Robin.

"Dia… hosh, masuk… hosh… hosh, Ru… hosh, mah… Sa… hosh… kit!" kata Ace gak jelas.

"Hah? Vivi kenapa? Yang jelas donk!" panik Nami.

Ace tarik napas panjang, "VIVI MASUK RUMAH SAKIT!"

"APAAAA…?"


==TSUZUKU…==


Pojok SBS… (Pojok Sate Bandung Sedap!) –author langsung diculik Oda-sensei—

edogawa Luffy: iya, bon-chan gak ditangkep soalnya satpol PP nya lupa kalo Bon-chan juga okama… Untung dia juga lupa kalo authornya juga mantan okama, ups… gak… aku gak ngomong apa-apa…! –kabur-

Marigold Eye's: Iya! Makasih kritiknya! aku memang lupa di chap kemaren harusnya Bon-chan ngomong 'daku' bukan 'aku'. Hehe… -udah salah malah nyengir- Oh, untuk pairing saia memang sudah jelaskan dari awal chapter, fanfic ini memang gak jelas pariringnya dengan kata lain saia ingin membuat readers penasaran sendiri dengan ceritanya. Saia ingin membuat yang agak berbeda, saia pikir, kalo misalnya saia umumkan pairing pasti untuk fanfic ini, rasanya jadi tidak seru. Readers akan mudah menebak dengan siapa Luffy bakal jatuh hati. Gak menutup kemungkinan juga ini fanfic yaoi lho… -digebuk perkumpulan anti maho- Anyway, tengkyu banget dah kritikannya! Mantebh! ( I give you one hundred thumbs up)

Chappy D. Anitsu: ohh..! chappy-chan! Senang anda mereview cerita saia.. terima kasih banyak… -bend down-

Angga Rizki Ramadhan: Si om… dari kemaren reviewnya selalu gak berubah… -swt tingkat berat-

Virgo The Anime Lupherz: belom deh om.. baru sekarang… anyways, thanks udah review… -terharu-

Sayurii Dei-chan: Ohh.. anda kenal saia di fb? Akhir-akhir ini saia memang agak gak aktif di fb… entah kenapa… –sigh- tengkyu berat udah review.. –senyum cemerlang-

Ryuku S. A. J: Luffy ga di apa-apain, kayaknya dia dikembalikan cepat oleh Satpoll PP. Aku jadi ingat Spongebob yang dikembalikan cepat oleh fliying dutchman karena terlalu bawel… mungkin Luffy juga seperti itu?

Ryuzaki Hanabishi: iyaa… aduh maaf banget ya telat ngapdet… T-T

Yomigaeru: ini dia lanjutannya~! Maaf membuat anda menunggu lama… -menunduk-

Shino-xXxXx: belom pasti nih pairingnya… hehe… tapi saia udah ada bayangan ceritanya kok… tenang aja… -ngasih jempol- teng kyu berat di fave… -menangis haru biru-

ruki4062jo: iya nih, Luffy bejadnya belom ada di sini… dia polos banget… -berusaha menghilangkan ingatan waktu menangkap basah Luffy judi monopoli sama Franky- teng kyu udah review… -girang-

Robinsoon: Wah… kayaknya gak sampe chap 20 deh…. –membayangkan diriku yang mampus duluan- Oda-sensei memang hebat bisa bikin cerita panjang yang konsisten… -mengakui kekalahan- Anyway, makasih reviewnya… -senyum kecap manis-

NaruSaku LuffyNami IchiRuki: Yay~! Makasih ya udah review plus bonusnya di fave… -dancing gak jelas ala chopper-


The last, but not least… CATATAN DARI AUTHOR (gantenk dan keren –narsis time-): Maaf lama gak ngapdet… hehe… dan terima kasih atas kesabaran anda sekalian menunggu kelanjutan dari fanfic saia ini. Meski gaje dan ada sedikit virus gak waras, tapi saia tetap bangga sama fanfic ini… (karena yang bikin jaaauuuhhh lebih gak waras lagi). Mou ikkai, honto ni arigato gozaimasuta!


Ketik tentang apa aja yang kamu pikirkan saat membaca fanfic ku dengan...

klik tombol dibawah ini

V

V