Disclaimer: Hingga akhir chapter ini pun, masih bukan punya saia...

SUMMARY: "Siapa wanita yang Luffy pilih?" I THINK this is the last chapter... (I don't mean it.)


CHAPTER THIRTEEN

At The End of The Story

Dari luar bangunan bertubuh putih itu samar-samar terdengar suara beberapa perawat atau pasien menjerit. Rumah sakit yang biasanya sunyi senyap, kini jadi ramai karena beberapa orang muda memaksa masuk, kemudian membuat gaduh koridor Rumah Sakit dengan suara derap langkah berlari. Luffy dengan tenaga super abal-abalnya berlarian, yang kemudian disusul anak-anak Mugiwara dan Ace. Luffy terus berlari menuju kamar nomor 234 lantai dua. Bahkan sangking terburu-burunya, ia sempat menabrak Mister Satpam yang lagi ngupil di pojok tangga rumah sakit.

"Luffy! Ada Lift, ngapain lo naek tangga?" sewot Ussop yang mengikuti kawan-kawan Mugiwara lain memasuki lift yang lokasinya tak jauh dari tangga dan telah mengkhianati Luffy karena alasan 'perbedaan-metabolisme-dan-otak'. Tapi Luffy masa bodoh dengan semua hal itu. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, yaitu kondisi Vivi. Dan hebatnya, Luffy sampai di kamar Vivi lebih dulu. Sedangkan Mugiwaraners yang lain barulah sampai selang sepuluh detik kemudian. Luffy buru-buru membuka pintu bertuliskan 'Bangsal Melati, nomor 234' itu.

"VIVI~!" teriaknya yang langsung digaplok Ace dan memperingatinya bahwa kini mereka berada di rumah sakit, bukan Halte Bis Kampung Rambutan.

"Hey, Luffy," senyum Vivi yang terbaring lemah di atas kasur. Wajahnya nampak senang dapat bertemu dengan Luffy. Sementara itu Nami dan Robin terkejut melihat Hancock, Sandersonia, dan Marigold sudah ada di samping Vivi tersenyum pada Mugiwara. Entah hanya perasaan mereka, ataukah, memang senyum Hancock dan Vivi pada saat itu seperti senyum yang redup?

Luffy menghampiri Vivi, "Kak Vivi? Kakak gak apa-apa?" tanyanya khawatir.

Vivi menggeleng tersenyum.

"Tadi malem rupanya setelah gue anter pulang karena pingsan, dia dibawa ke rumah sakit sama Kohza yang kebetulan nungguin dia semaleman di rumahnya," jelas Hancock.

"Lha, Kohza-senpai nya sendiri sekarang kemana?" tanya Ussop sambil memindai sekeliling, kalau-kalau ia melihat lelaki berambut cokelat itu.

"Lagi beliin bubur buat kita," sahut Vivi lemah.

Chopper tiba-tiba melangkah maju menghampiri Vivi, dengan bantuan Luffy, ia diangkat naik ke kasur rumah sakit yang lumayan tinggi bagi Chopper. Chopper menawarkan pemeriksaan, ia hanya sekedar ingin tahu kondisi Vivi saat itu juga. Ia memegang pergelangan tangan Vivi, kemudian memeriksa lidah Vivi. Terakhir matanya.

"Gimana, Chopper?" tanya Luffy was-was. Sejenak Chopper terdiam, dan memandang Vivi. Vivi tersenyum kepadanya dan berkedip beberapa kali. Melihat itu, Chopper menahan nafas dan menekuk alisnya ke atas, ia tertunduk. Mendapat panggilan yang kedua kalinya dari Luffy, Ia cepat-cepat menyahut.

"Dia gak papa kok, tenang aja!" katanya riang, "cuman butuh banyak istirahat dan harus sedikit menjauh dari rutinitas."

Luffy menarik nafas lega. Kecuali beberapa Mugiwara yang malah terlihat kebingungan melihat reaksi Chopper.

"Wah, pada ngejenguk nih? Tau gitu buburnya gue beli yang banyak," sapa Kohza memasuki ruangan sambil membawa beberapa keresek bubur ayam yang baru dibelinya di depan rumah sakit. Kohza tersenyum memandang Mugiwara. Senyum yang sama seperti yang digunakan Hancock, Sandersonia, dan Marigold saat menyambut Mugiwara Cs sebelumnya.

"Eh? Gak papa kok, kita cuman pengen ngejenguk Vivi…" jelas Robin.

"Iya, gue lega dia gak kenapa-napa!" cengir Luffy sambil menggaruk kepala belakangnya, kemudian mengenakan kembali topi jerami Shanks yang lagi-lagi terbawa olehnya.


Setelah kegiatan menjenguk usai, Mugiwara memutuskan untuk pulang dulu, baru setelah itu kembali menjenguk ketika petang hari. Namun, dasar Mugiwara. Tak lengkap rasanya jika ada Mugiwara tanpa adanya masalah. Luffy dan Nami rupanya terpisah dari kawanan Mugiwara yang lain. Nami terus cemberut terduduk di atas kursi kayu yang berada di koridor. Luffy yang berdiri di sampingnya hanya sibuk celingak-celinguk mencari Mugiwara yang lain.

"Trus?" manyun Nami sambil mengayunkan kakinya ala anak kecil, "kita ngapain masih di rumkit kayak orang gak jelas gini?"

"Ssstt!" serius Luffy sambil tiba-tiba mengangkat tangannya di depan wajah Nami, dan berhasil membuat sang pemilik wajah tersebut ingin menyuntik Luffy dengan jarum anti rabies karena sebal.

"Luffy!" marah Nami memuncak. "Tau gak sih lo keadaan kita sekarang ini? Kita kepisah sama yang laen!" teriakan Nami memunculkan pelototan-pelototan super sangar dari para suster dan mister satpam di sekitar mereka. Melihat itu, Nami cepat-cepat membungkam mulutnya sendiri.

"Iya, gue tau Nami…" seringai Luffy pada Nami. Kalau saja tak mengingat sifat aneh Luffy, Nami pasti sudah heran melihat senyum seringainya yang super aneh itu sekarang. "Makanya, kesempatan ini musti kita pake baik-baik!"

"Kesempatan apa?" terlintas agenda acara yang tidak-tidak planned by Luffydibenak Nami. Ia setengah menyidik Luffy. "Lo mau ngapain lagi, hah, anak bengal?"

"Hee~" seringai Luffy lagi, kali ini lebih lebar. "Ayo kita masuk ke ruang dokter~!" Semangat Luffy meninjukan kepalan tangannya ke udara kemudian hendak berlari seperti anak kecil—entah mau kemana—sebelum akhirnya Nami menarik kerah belakang Luffy dan menggaploknya sepuluh kali. Sementara itu orang-orang di sekitar memandang mereka dengan tatapan 'KDRT-versi-2011'.

"Ahou!" sentak Nami sambil mencengkram kerah depan Luffy kemudian menggoncang-goncangkan tubuh Luffy ke depan dan ke belakang beberapa kali, "Ngerti kondisi donk! Kita kepisah dari anak Mugiwara yang lain, dan gak ada di antara gue sama elo yang bawa hape! Kita harus ke tempat parkiran sekarang juga, mereka pasti nungguin kita!"

"Tapi Nami…" kata Luffy merengek, "gue mau liaaatt…."

"Liat apa?" tanya Nami dengan muka sangar.

"Liat ruang dokter!" Luffy menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang gak dibolehin naik odong-odong sama ibunya.

"Dame da yo, dame!" geleng Nami dengan tatapan super seram ke arah Luffy, dan membuatnya bergidik takut. Namun Luffy pun tak kalah taktik menghadapi si 'serba-gak-boleh' Nami.

"Kumohon Nami…" mata Luffy membesar dengan sedikit efek kilat cahaya air mata, ditambah bibirnya yang sedikit manyun, dan bonus wajah imut. Iyak, inilah jurus 'Pancaran Cahaya Suci' made by Luffy untuk menghadapi keganasan Nami.

'Ahh! NO~! Apapun! Tapi jangan jurus ini!' pekik Nami dalam hatinya yang hanyut terkena jurus andalan Luffy.

"Plis~" manja Luffy menepuk kedua tangannya memohon pada Nami.

Nami mendesah mengaku kalah. Batinnya hancur sudah digempur jurus mematikan ala Luffy. "Baiklah, baiklah…" Nami menahan kening dengan tangannya seolah 'pusink-gue-liat-lo'.

"Asyiikk~!" girang Luffy yang sekarang cengar-cengir bangga jurusnya berhasil untuk yang ke sekian kalinya pada Nami (cat: karena jurus ini hanya selalu berhasil pada Nami. Ia pernah mencobanya pada Zoro, namun yang bersangkutan malah membalasnya dengan jurus 'Pancaran Cahaya Dajjal', Luffy pun di opname selama seminggu karena jurus itu).

"Tapi gimana caranya kita ke ruang dokter? Kan gak boleh masuk, Luffy?" tanya Nami, walau tahu, pertanyaannya itu pasti akan mengundang ide gila lainnya dari Luffy.

"Gampang…"

'Tuh kan… feeling gak enak nih,' batin Nami. "…caranya?"

"Kita nyamar aja jadi dokter en suster!"

"Elo mau digorok warga rumkit?" stress Nami mendengar ide bodoh tapi stupid itu.

"Ahh, macam biasanya aja, kalo ketahuan, kita ngabur!" simpel Luffy dilanjutkan tawa lebar khasnya.

"Sebelum sempet ngabur kita udah dijadiin mayat percobaan Fakultas Kedokteran!" sewot Nami, diakhiri dengan suara keluhan dan omelan.

"Eh…" celingak-celinguk Luffy. "Ruang dokter dimana yaa~" gumamnya kemudian melangkah meninggalkan Nami yang mengomel, namun akhirnya mengikutinya juga. Luffy terus berjalan menelusuri lorong rumah sakit dengan lengang dan santainya tidak mempedulikan kawan-kawannya yang sekarang mati kebingungan mencarinya dan Nami. Ketertarikannya pada suatu ruangan di ujung lorong itu, membuat langkahnya terhenti kemudian memperhatikan ruangan tersebut dengan cengir luar biasa autis dan sedikit jahil.

"Ah? Kayaknya itu deh, hehe~" katanya sambil kemudian berlari menghampiri ruangan tersebut.

"Ah! Tunggu Luffy!" sergah Nami kemudian berlari mengikutinya hingga depan ruangan bertuliskan 'Infirmary Official Room, Staff Only' itu. Nami kecolongan, karena saat hendak mencegah Luffy, sang pujangga berandal kita ini sudah memasuki ruangan duluan.

"Permisi…" sopan Luffy dengan wajah riang.

"Stupid! Jangan masuk seenaknya gitu!" kata Nami buru-buru tanpa melihat ke dalam ruangan, "Maafkan temanku ya—eh? Ternyata gak ada orang ya?" gumamnya saat menyadari di dalam ruang dokter tersebut tak ada siapapun kecuali berkas-berkas di atas beberapa meja dan lemari-lemari penyimpanan obat, infus, dan peralatan kedokteran lainnya.

"Ah sial, 'permisi'-ku gak ada yang jawab donk…" kecewa Luffy dengan tak pentingnya.

"Udah yuk, Luffy… kan udah liat ruang dokternya? Kita cari teman-teman yuk!" Bujuk Nami takut-takut Luffy berbuat lebih jauh lagi. Tapi, bukan Luffy namanya jika ia mau mendengarkan bujukan orang lain.

"Wahh~! SUGGGEEEE~!" sontak Luffy menghampiri sebuah lemari yang berisi peralatan-peralatan kedokteran. Luffy hendak menyentuh lemari tersebut, namun bentakan Nami mengagetkannya dan akhirnya membuat Luffy kehilangan keseimbangan. Tak sengaja, sikutnya menjatuhkan sebuah tumpukan rendah kertas dokumen di atas salah satu meja terdekat dengan lemari tersebut.

"BAKKA!" bentak Nami lagi. Ia sendiri mulai panik dan buru-buru membantu si ceroboh Luffy untuk membereskan kertas-kertas tersebut.

Luffy jongkok di bawah dan terus sibuk memungut kertas-kertas tersebut. Hingga, satu di antara kertas-kertas itu, menarik pandangan Luffy. Luffy menghentikan kegiatan sibuk tangan-tangannya yang sedang membereskan kertas-kertas itu, kemudian henyak membaca kertas dokumen itu. Matanya membulat.

"Luffy cepet!" seru Nami. Namun yang diserunya masih terdiam membaca tulisan tersebut dengan wajah serius. Nami sendiri hampir-hampir tidak mendengar nafas Luffy, mungkin ia menahan nafasnya. "Luffy?"

Luffy berdiri. Ia menurunkan tangannya dan menyingkirkan kertas tersebut dari pandangannya. Kertas itu berubah kusut karena tangan Luffy bergetar menggenggam kuat kertas itu di samping pahanya. Nami yang khawatir melihat perubahan atmosfir tubuh Luffy segera ikut berdiri, dan berusaha mengintip wajah Luffy yang tertunduk tertutup helai rambut dan topi jeraminya.

"Luffy? A-ada apa?"

Dengan sekejap, Luffy mengangkat kepalanya, dan menatap Nami. Matanya berkaca-kaca dan tentunya kali ini bukan jurus 'Pancaran Cahaya Suci' seperti tadi. Nami menyadarinya, matanya membulat. "Kenapa? Lo kenapa Luffy?" Nami benar-benar khawatir sekarang. Jurus 'Pancaran Cahaya Suci' saja dapat meleburkan batinnya dalam sekejap, apalagi wajah tak berdaya seperti ini.

Luffy membuka bibirnya, "Vi…" kemudian cepat-cepat mengatupkannya kembali. Luffy menggigit bibir bawahnya. Nami mulai mencium ketidakberesan di sini.

"Vivi?"

Luffy menarik nafas panjang. Ia mencoba mengendalikan diri. "Ayo kita beresin kertas-kertas ini dulu, sebelum ada yang dateng," ajaknya kemudian kembali jongkok dan membereskan kertas-kertas tersebut. Melihat tingkah ini, Nami tentu menyadari ada yang coba Luffy katakan. Tapi bukan saatnya bertanya, Luffy benar, lebih baik membereskan kertas-kertas itu dulu.


"Vivi hamil?" tebak Sanji seenak udel. Tebakan hebat tapi tidak tepat itu sukses mendapat tabokan dari Margarett.

"Ngawur!" teriak Chopper.

"Habis apa donk? Lo sih gak mau ngasih tau kita!" kesel Sanji.

"Apa ya?" pikir Chopper menunduk memandang semen basement tempat parkir di mana mereka berkumpul sekarang. "Gue gak bisa mendiagnosa gitu aja, karena pemeriksaan yang gue lakuin tadi umum. Tapi dari warna mata, lidah, en denyut nadinya yang gak normal… gue yakin ada sesuatu yang salah."

Semua mendesah, kecewa dengan jawaban dari sang calon dokter handal ini.

"Duh, si Luffy sama si Nami pake kepisah segala lagi!" keluh Franky memandangi jam tangannya. "Gue kan mau nonton 'Putri yang Diputar' dulu!" serunya menyebutkan salah satu acara sinetron paling tren di masa kini.

"Badan gede, ehh, tongkrongannya sinetron…" ledek Ussop yang padahal dia juga hobinya nonton sinetron 'fantasy'. Ledekan ini tentu memicu pertengkaran tak penting di antara dua orang sesama penggila sinetron ini.

"Berisik! Lo berdua itu 'kan sejenis," ketus Zoro menghentikan keributan duo pecinta sinetron itu. Untung Brook gak ada, kalau ada bisa pas jadi trio. Zoro bersandar pada mobil, dilanjutkan dengan menguap. "Mana nih si ketua… gue udah kangen sama bantal gue…"

"Ato kita tinggal aja ya mereka?" bejad Sanji yang sengsara karena persediaan rokoknya habis.

"Lo ini, setia kawan donk!" protes Ussop.

"Yang jelas," ucap Chopper tiba-tiba mengundang perhatian dan mengheningkan Mugiwara. "Keanehan ini jangan kalian kasih tau ke Luffy. Kalian liat kan tadi? Vivi mencoba ngekode gue biar gak ngasih tau Luffy soal sugesti gue tentang kesehatan Vivi."

Mugiwara berkeringat dingin. Pasalnya mereka juga mengerti dan paham perasaan serta posisi Vivi sekarang. Mereka pun sepakat untuk tidak memberitahukan keanehan mengenai kesehatan Vivi pada Luffy sampai terungkapnya penyakit yang diidap oleh Vivi.

"GUUUYYYYSSSS~!" teriak Luffy tiba-tiba dari ujung pintu koridor menuju tempat parkir sambil berlari. Tampak Nami juga sedang kewalahan berlari mengikutinya.

"Kenapa lo tereak-tereak? Kayak manggil tukang cendol aja…" ketus Zoro sambil menggosok telinganya yang mulai mengalami gangguan 'denger-suara-melengking-manggil-cendol' seiring Luffy mendekat.

Luffy tersengal-sengal, ia menarik nafas. "Guys, kita musti balik lagi ke ruangan Vivi!"

"Ngapain? Trus sinetron gue gimana?" pekik Franky nunjuk jam.

"Rokok gue habis nih!" keluh Sanji yang ditanggapi oleh Zoro, 'Bilang aja lo males ke warung…'

"Kenapa musti balik lagi? Kolor lo ketinggalan?" tanya Ussop dengan 'hebat'nya. Selang beberapa detik, Ussop tersungkur mengenaskan akibat jurus maut Pasukan-Pelindung-Kasukabe ala Luffy yang kesal karena dirinya tak dianggap serius, udah capek-capek teriak dengan kerennya, eh, malah disangka ketinggalan kolor.

"Sialan, penting nih!" seru Luffy masih agak tersengal-sengal, "Ayo cepet, ada hal yang mau gue lakuin buat Vivi!" Luffy melepaslandakan kembali langkahnya dan kembali berlari menuju rumah sakit.

"Haa?" bingung Mugiwara kecuali Nami yang memang tahu apa yang akan Luffy lakukan.

"Luffy, gue tunggu sini ya…" lirih Nami tak beranjak dari tempat parkir sementara yang lain berlari berusaha mengejar Luffy. Menyadari Nami tak ikut, Sanji berpaling dengan love-eye style sudah terpampang di wajahnya.

"Kalo gitu gue nungguin Nami~"

"Follow us, or rather you die," sangar Margarett dengan aura dukun-sesat-pengoyak-jiwa sambil menarik kerah belakang Sanji dan kemudian menyeretnya dengan kasar. Nami hanya eswete melihat Sanji cengar-cengir dadah gak jelas ke arahnya sambil diseret Margarett, dan menghilang di balik pintu Rumah Sakit.

Nami mendesah.

"Nami?" panggil seorang wanita dari balik mobil. Nami segera menengok ke belakang tanpa menjawab panggilan itu.

"Robin? Kok lo gak ikut mereka?" terpindai wajah heran Nami di mata Robin. Ia pun tersenyum menanggapi hal itu.

"Gue baru dari toilet kok," jawab Robin lembut.

Nami tersenyum, menatap lantai basement dengan tatapan aneh. Robin yang teliti tentu melihat hal ini. Ia menatap kearah lain, kemudian angkat bicara dengan suara yang sulit diterka, "Vivi…"

Nama itu membuat telinga Nami berkejut ringan. Nami mengintip Robin yang ada di sampingnya dari balik helai-helai rambutnya, hingga akhirnya ia menukikkan rambutnya ke belakang telinganya. Robin melanjutkan.

"Perempuan itu… memalsukan penyakitnya, iya kan?"

Nami mendelik lebar dengan bibirnya ternganga.


BRAAAAKK!

Pintu rumah sakit terbuka kasar. Luffy menerobos masuk, dan tak mempedulikan Kohza dan Ace yang ribut ingin menenangkannya. Mereka sibuk menahan Luffy yang hendak berlari ke arah Vivi yang kini sedang super terkejut melihatnya tiba-tiba menerobos masuk dengan kasar. "Lepasin gue!"

"Ok," sahut Kohza dan Ace berbarengan. Di luar dugaan, Kohza dan Ace dengan kalem nan kompak melepas Luffy yang masih berusaha berlari, hingga mengakibatkan Luffy yang bablas alias kelebihan tenaga akhirnya sukses tersungkur di bawah kolong tempat tidur rumah sakit. Masih untung tak menubruk pispot.

Mugiwara yang lain akhirnya tiba, beberapa di antara mereka pura-pura gak kenal begitu melihat Luffy tersungkur dengan pose memalukannya di bawah tempat tidur rumkit. Tapi mereka juga jadi tiba-tiba terkejut melihat Luffy tiba-tiba bangkit dan menggebrak tempat tidur Vivi.

"VIVI!"

Tentu saja Vivi kontan shock, dan langsung pingsan.

"Ahou!" kompak Mugiwara menggunakan jurus andalan masing-masing untuk memukul Luffy sang manusia rajin menolong dan tidak sombong tapi tukang todong ini.


Hari Senin dimulai dengan ceria dan wajah senang. Pukul 06.45, semua anak berlomba lari memasuki sekolah sebelum Pak Satpam Jango menutup gerbang pada pukul 06.55. Tak terkecuali Luffy yang sedang menenteng helem, dengan kecepatan penuh berlari menuju gerbang. Waktu menunjukkan pukul 06.50 sekarang, dan Pak Jango dengan tampang dramatis akan menutup gerbang sekolah.

"PAK~! WAAAIIITT~!" seru Luffy berlari tunggang langgang dengan efek selaw mosien. Namun Pak Jango yang merupakan musuh eternal Luffy, dengan seringai penuh kemenangan, dengan baik dan tidak sombong langsung menutup gerbang sekolah dengan segera. "HEE?" shock Luffy melihat adegan licik itu, karena waktu masih menunjukkan 06.51. Apa boleh buat, Luffy akhirnya mengeluarkan trik andalannya. Ia melompat ke atas terpal milik tukang dagang yang ada di depan sekolah, kemudian melenturkan dirinya sendiri agar memantul melompati pagar.

"Rasakan ini~! GOMU GOMU NOOOO…!" teriak Luffy selang beberapa sepersekian detik setelah memantul dari terpal sambil menenteng helemnya, tak mempedulikan sang tukang dagang Smoker yang mengomelinya karena terpalnya kini sudah tak layak pakai.

"Apa? Jurus gomu-gomu…?" desis Pak Jango keringat dingin sekaligus takjub dan tak dapat berkutik ketika melihat Luffy dengan selaw mosien melompati pagar sambil mengarahkan kaki kanan padanya. Pak Jango sempat mengira Luffy punya kekuatan memelarkan diri.

"…STUPID-SECURITY-MAN SPECIAL STAMP~!"

"GYAAAHH~!" teriak Pak Jango dengan merana dan penuh derita seiring Luffy yang tak memelarkan kakinya melainkan menginjak wajah Pak Jango dengan kaki kanan dan menjadikan wajah Pak Jango sebagai pijakan untuk kemudian melompat kabur lagi memasuki koridor sekolah.

"Maaf ya Pak! Anggep aja kenang-kenangan!" teriak Luffy nyengir sambil berlari seolah menertawakan bekas jejak sepatu merek 'Batako' yang menempel jelas di muka (tak) gantenk Pak Jango.

"AWAS KAU! MURID SIALAN!" kesal Pak Jango mengumpat beberapa kali. Sang Pak Kepala Sekolah Sengoku yang kebetulan lewat, langsung memotong gajinya sebesar 200 persen karena umpatannya yang dikhawatirkan akan merusak citra baik sekolah GrandLine.

Luffy langsung berlari menuju kelasnya, ia buru-buru menaruh tas, dan pergi kembali menyusul teman-teman kelasnya yang sudah bersiap di lapangan untuk melaksanakan Upacara Bendera. Sambil mengikuti intruksi ketua kelas Kidd, ia buru-buru memasang dasi dan mengenakan topi abu-abunya. Kalian tahu kan Eustass Kid? Ya, anggota genk Trafalgar Law ini sebenarnya adalah seorang Ketua Kelas di kelas Luffy. Sejak mengetahui Luffy adalah adik Ace, sikapnya berubah pada Luffy. Ia menjadi agak nurut dan tidak menggigit lagi (he?).

Karena keterlambatannya, Luffy berbaris di barisan paling belakang. Nami yang juga ada di barisan perempuan bagian belakang mendekatinya. Nami menyikut pinggang Luffy dan menciptakan suara lenguhan dari yang bersangkutan. "Aww! Apaan sih, Nami?"

"Pak Jango lo apain, Luf? Masuk ruang UKS noh," bisik Nami sedikit mengomel. Luffy nyengir sesaat.

"Bodo amat dah. Sapa suruh gak ngasih gue toleransi?" sahut Luffy sambil sikap istirahat di tempat.

"Lo nya juga rese! Pake terlambat segala!" omel Nami dengan bonus geplakan 'ringan' di kepala belakang Luffy. Gaplokan itu hampir saja membuat kepala Luffy menubruk teman sekelas tampang-preman-badan-AdeRai-jiwa-banci yang ada di depannya.

"Gue juga terlambat gara-gara ngurusin Kak Vivi dulu!" Luffy agak menekan nada suaranya dan membuat alibi. Menanggapi alibi ini Nami agak terdiam, di luar dari kesadarannya sendiri, ia memandang Luffy lekat dengan tatapan khawatir. Luffy membalas pandangannya dengan tersenyum. "Nyantai… Kak Vivi sekarang gak akan nyoba bunuh diri lagi kok!"

Nami menghembuskan nafas panjang. "Ini semua karena kebodohan elo juga."

"Eits, gak juga…" tampik Luffy mulai membuat alibi lain, "…kalo bukan karena gue kemaren nemu kertas laporan pemeriksaan yang bilang kalo Kak Vivi minta infusnya dicampurin Arsenik dengan konsentrasi super rendah, kita gak akan tau kalo ternyata masuk rumah sakit merupakan plot Kak Vivi sendiri untuk bunuh diri, ya 'kan?"

Nami agak terkejut mendengar kalimat lengkap penuh analisis ala Luffy yang begitu jarang didengar apalagi dilontarkan oleh Luffy. Nami sedikit manyun, "Sejak kapan otak lo lancar?"

"Sejak gue nginjek muka Pak Jango tadi pagi," canda Luffy yang disambut tawa riang Nami.

"Yah, seenggaknya tuk sementara ini, Kak Vivi gak akan nyoba yang macem-macem," komen Ussop yang juga ada di barisan belakang di banjar kelasnya yang bersebelahan dengan banjar kelas Luffy dan Nami. Zoro yang baris bersebelahan dengan Ussop juga ikut meramaikan obrolan di tengah amanat pembina upacara itu. Walopun sempat di tegur guru PKS super kekar Pak Shirohige, mereka tetap melanjutkan obrolan dengan suara pelan.

"Yep, permintaan maaf Hancock, bujukan kita, dan rayuan Luffy en Kohza berbuah hasil…" ucap Zoro tanpa memandang Mugiwara yang lain.

"Mudah-mudahan ini suatu happy ending…" kata Ussop.

Nami dan Luffy tersenyum lega. Kecuali Zoro yang melipat kedua tangannya kemudian berkata, "belum." Sahutannya ini tentu membuat Mugiwara yang lain kembali menahan nafas.

"Kamu gak ingat?" tatap Zoro pada Luffy dengan serius. "Tujuan akhir dari sidang kita adalah untuk memutuskan siapa cewek yang lo pilih, kan?"

"Tunggu, Zoro…" sergah Nami. "Sidang ini kan tujuan utamanya untuk menuntaskan masalah? Bukan untuk—"

"Justru memang masalah ini belum tuntas dan gak akan pernah tuntas, kalo dalang dari semua permasalahan ini sendiri gak menyelesaikan masalahnya," potong Zoro sekaligus menunjuk tajam pada Luffy yang menatap Zoro dengan keringat dingin. "Ingat, guys, Luffy kemaren cuman ngebujuk (lebih tepatnya ngerayu) Vivi untuk gak bunuh diri lagi. Tapi Luffy belum ngejelasin sama semua orang tentang perasaan dia yang sebenarnya untuk siapa," Zoro memandang Nami sejenak, Nami membuang pandangannya ke arah pembina upacara seolah tak mendengarnya. Zoro melanjutkan, "Luffy, kita harus nyoba ngumpulin sekali lagi semua orang yang bersangkutan sepulang sekolah dan—"

"Gue tau, gue tau…" potong Luffy agak menekan sambil sedikit menundukkan kepalanya. "Biar gue yang bersihin sampe ke akar-akarnya…"


Pukul 16.00, tampak ruang tengah Vivi yang besar dan biasanya lega, kini tampak sumpek dipenuhi orang-orang berseragam SMA, tapi ada juga beberapa di antaranya tak mengenakan seragam SMA. Seperti misalnya Luffy yang hanya mengenakan celana hitam pendek dan lekbong merah, Ace yang mengenakan celana jeans hitam model pensil dan kemeja oranye panjang, Law yang mengenakan baju Olah raga SMA nya, Brook dengan baju senam polka dotnya, dan Franky yang… yah, tanpa dijelaskan pasti tahu bagaimana baju Franky seperti biasanya.

Luffy menatap Zoro yang kemudian membalasnya dengan tatapan, 'Langsung saja mulai, dan to the point'. Luffy mengangguk.

"Ehem," dehem Luffy mengundang perhatian anak-anak geng Trafalgar yang pada mulanya asyik ribut tentang baju SMA siapa yang paling putih (dan soal idung siapa yang paling besar, mereka dengan kompak menunjuk Buggy yang langsung ngamuk kemudian mengacak-acak mukanya sendiri). "Gue rasa tanpa gue jelasin lagi, masing-masing dari kalian udah tau kenapa gue panggilin kesini."

Semua terdiam mengakui posisinya masing-masing yang diundang kemari sebenarnya hanya sebagai saksi. Pasalnya semua sudah tahu tentang berakhirnya masalah ini dan kemana inti masalah ini. Maka, mereka pun menghargai berjalannya sidang ini, dan menghargai setiap pembicara. Kecuali Buggy yang menguap ngantuk dan akhirnya digetok Perona dengan sepatu gothicnya.

"Hancock," panggil Luffy. Hancock menyahut sopan dengan wajah memerah.

"KAWAII~!" teriak semua geng Trafalgar kecuali Kohza. Kalau Sanji, tak usah ditanyakan. Yang bersangkutan telah membatu dengan baik dan benar sesuai prosedur.

Luffy melanjutkan, "Gue akui lo cewek yang cantik en lumayan populer di kalangan anak-anak SMA. Lo juga orangnya ambisius en selalu pantang nyerah buat mencapai apa yang lo inginkan. Gue suka semangat itu…"

"Wow… di luar dugaan… Luffy serius juga…" bisik Chopper pada Ussop. Ussop mengangguk-angguk dengan wajah serius.

"Kyaaa~ makasih Luffy-sama~ Jadi itu artinya lo milih gue?" teriak Hancock kegirangan dan tentu tak jelas.

"Tapi," Luffy buru-buru mengeluarkan kata 'tapi' sebelum Hancock datang untuk memeluknya. "…sifat ambisius itu yang membuat lo jadi egois dan kurang merhatiin temen-temen lo. Gue muak liat orang yang gak mikirin nakamanya…"

Hancock terdiam dan mulai menangis dengan wajah sok imutnya yang berhasil membuat Law (Sanji masih tidak bergerak, malah agaknya Mugiwara memanfaatkan sang patung dengan menaruhnya di etalase rumah Vivi sebagai penambah nilai estetika) terus mendengas-dengus semangat terkena efek lovey-dovey. Margarett yang tak mau tinggal diam, segera memplester mata Sanji dengan hansaplast bekas.

"Vivi," Luffy membuat sugesti yang kedua. "Lo—"

"Cukup," senyum Vivi memandangnya kuat. Luffy dan yang lain sontak terkejut. "Apapun yang kamu katakan… aku gak ambil pusing," ia tersenyum kemudian memandang Kohza yang duduk di sampingnya. Tatapan itu sempat membuat Kohza salting dan membuang tatapan ke arah lain. "Memang, aku menyimpan rasa padamu Luffy, karena kamu telah menyelamatkan aku dan Nami dulu. Tapi kini aku sadar, yang aku rasain itu bukan 'cinta'."

Semua memasang telinganya baik-baik, termasuk Bonney yang sedang main PSP langsung dijewer Tashigi untuk menghentikan suara PSP nya yang menganggu suasana itu. Vivi melanjutkan, "Aku seharusnya tahu diri. Membalas kasih sayang yang setimpal kepada orang yang telah memberi kasih sayang kepada kita dengan sepenuh hati. Itulah yang dinamakan cinta. Yaa… aku tahu kau orangnya juga perhatian dan baik, Luffy. Tapi aku tahu, kasih sayangmu yang sesungguhnya enggak ditujukan padaku…"

Mata Luffy melebar memandang Vivi yang tersenyum padanya.

Franky tersenyum kemudian membuka bibirnya, "Heh, Kohza-senpai… Jangan sok pura-pura gak tahu gitu donk…"

Mendengar itu Kohza agak gelagapan, ditambah Vivi yang menggenggam lembut tangan Kohza dan memberikannya senyum termanis yang pernah ada. Kohza mungkin ingin pingsan saat itu juga memandang senyum milik gadis yang paling disayanginya di dunia itu. Meski dengan agak tersipu, Kohza tersenyum gugup membalas sunggingan Vivi. Adegan ini seperti biasa disambut sorakan 'Cieee~' dari kawan-kawan yang lain dan tentu saja para fans berat Entis Sutisna (Zoro, Ussop, Franky) yang teriak 'Prikitiew~!'.

Luffy tertawa dengan suara khasnya. "Maa, yokatta da ne… shi shi shi~"

Setelah puas tertawa, semua kembali menghening menunggu orang terakhir yang akan Luffy sugesti. Semua orang yang ada di situ, menyimpan rasa penasarannya masing-masing. Boleh jadi, rasa penasaran mereka mengarah pada suatu tebakan yaitu terjadinya momen 'penembakan'. Tebakan ini pun memunculkan suatu perasaan berharap dari masing-masing orang agar benar-benar terjadi. Karena kalau Hancock tak terpilih, dan Vivi menolak apapun jawaban Luffy, pilihan terakhir tentu saja hanya Nami. Semua juga sudah tahu perasaan Nami untuk Luffy, juga sebaliknya. "Yak, sidang udah selesai, gak ada masalah lagi kan?" ceria Luffy hendak kabur ke pintu keluar untuk pulang.

"HEE~?" pekik semua orang mendengar kalimat 'sok lupa' karangan Luffy itu. Saat hendak benar-benar meninggalkan ruangan itu, suara kecil Nami menggetarkan kakinya untuk melangkah lebih jauh.

"Lo gak niat beneran mau ngelupain gue kan?" ucap Nami dengan intonasi yang luar biasa dalam level 'iblis' karena merasa dilupakan (kamus gaul: galau).

"Ehh… ahaha…" keringat dingin membasahi wajah Luffy yang sedang memasang senyum gugup karena takut wajahnya kena bogem Nami lagi. Tapi bukan bogem Nami yang menghampiri wajahnya melainkan barang-barang gak penting yang dilemparkan oleh penonton karena kecewa, tak terkecuali Ussop dan Brook yang giat melempari Luffy dengan tisu, tomat, dan kaos kaki yang sudah 4 bulan tak menyentuh sabun cuci. Bahkan ada beberapa di antara mereka, seperti Zoro dan Franky yang meminta tiket dikembalikan karena acaranya gak seru sama sekali (mungkin mereka ngelindur atau semacamya?).

Luffy pun segera kembali duduk di atas sofa biru tempatnya memberi sugesti tadi. Ia berdehem, kemudian melanjutkan sugesti lagi. "Nami," seriusnya. Nami menelan ludah. Semua orang menunggu momen ini.

"Nami… Lo orang yang paling perhatian, terutama sama nakama-nakama lo," ucap Luffy yang mengundang wajah tersipu sang pemilik nama. "…walopun lo itu orang yang matre, mata duitan, ringan tangan, dan kadang-kadang suka mengomel gaje," Nami kecewa tingkat berat mendengar kalimat akhir Luffy yang ujung-ujungnya malah menjatuhkan harkat dan martabat Nami.

"Tapi, gue suka cewek kayak lo yang care sama temen, dan ngutamain nakama, bahkan lo juga mau mengalah demi Vivi dan Hancock… Sifat lo emank gak jauh beda sama Vivi," Luffy tersenyum ke arah Vivi, yang disungging membalasnya dengan sunggingan yang sama. "Jawaban gue adalah…"

Nami menahan senyum, melihat gelagat ini, ia tahu apa yang akan Luffy sampaikan. Ia mengenal Luffy, ia tahu gerak-gerik Luffy dan segala kode tubuh Luffy. Nami memandang Luffy seiring Luffy berdiri. "Maaf, gue ini… orang yang ingin bebas."

"NAN NIIIII~?" shock penonton abal-abal kita dalam ruangan itu.

Nami melebarkan senyum pada akhirnya. Inilah jawaban yang sudah Nami duga. Luffy? Menyatakan cinta? Tentu saja hal yang konyol, dan bahkan hal itu adalah imajinasi yang Nami sendiri sulit untuk membayangkannya. Nami berdiri kemudian dengan senyum lebar mengulurkan tangan di hadapan Luffy yang juga sedang terseyum lebar kepadanya. "Nyantai aja… kita ini, nakama kan?"

Luffy tertawa senang, kemudian menyambut jabatan tangan Nami dengan hangat. "Attarimae da…! Shi shi shi!"

Ia tak mempedulikan para penonton dan pembaca yang terbengong-bengong dengan jawabannya. Kecuali bagi mereka yang betul-betul mengenal watak Luffy yang…

seenaknya, dan bodoh.

"AKHIRNYAAA~! BEBAAASSS~!" teriak Luffy girang melompat dari kursi kemudian berlari keluar dari rumah itu, entah kemana, meninggalkan orang-orang Jaw Dropped, kecuali Mugiwaraners yang hanya bisa geleng-geleng pasrah melihat tingkah laku Luffy yang kekanak-kanakkan dan mungkin tidak akan pernah bisa berubah selamanya.


~Love Triangle Arc status: OWARI~

Sugi wa, donna SUTORII ga mattenda?
GRANDLINE HIGHSCHOOL wa mada tsuzukeyou!


~POJOK SBS~ (Selamat Berpisah Semuanya~!)

Benjiro Hirotaka: waduh, si om ngereview! Whaha~ tenkyu udah mampir om! Di fav lagi! Hontou ni arigato!

PortgasTsuchiya D. Michi: Ah, iya sih… tapi di sini ceritanya mereka umurnya sama. Begini, seperti yang telah dijelaskan di chapter pertama, Zoro pernah putus sekolah selama setahun. Ini berarti seharusnya Zoro satu angkatan dengan Robin. Namun karena ia kehilangan kesempatan selama setahun itulah, jadinya seangkatan dengan Luffy, Nami, Ussop, dan Chopper. Zoro sih gak masalah, toh yang membiayai sekolahnya yang sekarang adalah Kakek Garp. Tunggu, kenapa aku menjelaskan seolah-olah mereka pacaran? Ehh, enggak lho! Mereka cuman teman sedari kecil! Jadi memang kedekatan mereka lebih dari sekedar teman. Menurutku karena Zoro memang cocok untuk urusan curhat atau hal sensitif, sedang Franky jauh lebih mencintai mesin dan blueprint ketimbang mendengar curhatan Robin. Mungkin karena sifatnya yang agak serampangan…

Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura: Eh? Makasih… he? LuNa? Saia memang fans LuNa, tapi di fic ini saia berusaha semaksimal mungkin LuNa tidak begitu menonjol karena saia lebih fokus sama karakter Luffy.

Edogawa Luffy: iya, ini udah apdet kok! Makasih yaa udah setia banget nungguin! Maaf kalau saia membuat nakama-ku kecewa! –membungkuk-

KoroCorona: Wah, semua Mugiwara juga dongo! Alah mak! Keceplosaaan! –RT Hasan Hutapea mode-

ruki4062jo: Nah, ketemu lagi nih sama istilah threesome! Kemarin saia becanda sama temen kelas, dan dia sempet berulang kali menyebutkan kata threesome… saia bertanya maksudnya apa, tapi malah dibalas "Buat apa ada gugel?" setelah saia coba search di gugel, saia tak menemukan arti kata tersebut! Akan saia pertimbangkan tokoh threesome kalau anda mau menjelaskannya… Terima kasih…

Marigold Eye's: Ah, iya! Saia juga senang menerima kritik, karena walau menyakitkan tapi kritik membuat pengetahuan serta pengalaman kita bertambah. Feel free to put some critic to your review! Oh masalah nama ya? Iya, lagi-lagi itu kesalahan saia! Tepat setelah anda review kemudian saia baca, pada hari yang sama saia langsung membongkar lemari komik saia dan mencari komik yang anda sebutkan. Dan setelah membaca kembali komik tersebut saia berkata, "Astaga… sungguh sesat nian aku ini…" Maaf membuat kesalahan yang cukup besar ini! Jadi terdengar seperti Salamander ya? Mungkin malah agak sedikit terngiang-ngiang dengan tokoh Natsu dari Fairy Tail… Terima kasih sudah memperbaiki!

Green Olive: sesuai permintaan anda, saia apdet! Saia senang berhasil membuat pembaca terhibur!

roronoalolu youichi: kenyataannya saia telah telat apdet… Maafkan aku yang pemalas ini hadir sebagai author. Kalau terlahir kembali aku lebih pantas menjadi makanan burung (terkena serangan negative hollow).

via sasunaru: nah, saia juga gak tahu… mungkin di chapter depan, Luffy akan membagikan ceritanya pada kalian…

GennyClos-chan: Salam kenal juga! Ahaay… asyiknya menambah kawan baru! Eh? Di chapter ini malah gak ada romans nya.. hahaha, maaf tapi saia masih lebih berfokus pada tokoh utamanya saja, sang dewa ganteng dengan satu kekurangan yaitu tak memiliki kelebihan, yang tak lain dan tak bukan adalah Monkey D. Luffy…

Sha-chan anime lover: Ahahaha… salam kenal! Terima kasih sudah membaca fic bermoral tapi sesat saia ini! Ah, jangan panggil kakak, panggil aja Jim… saia lagi sweetseventeen sekarang, dan aku tulen orang Jawa Timur alias Surabaya. Tapi saia besar dan lahir di Cimahi, makanya mau tidak mau terpengaruh budaya Sunda! Mind to introduce yourself for next review? Thank you udah review!

Bartho sCarbor: Weleh… salam kenal juga… (tapi rasanya sudah kenal? Ah, lupakan…) Hancurkan pom bensin? NOOO~! Nanti saia harus bayar bensin motor lebih mahal lagi! *lebih gak nyambung* Terima kasih sudah review!

HinamoriShinne: Umm, terima kasih… tapi maaf sebelumnya aku mau tanya… kenapa anda memanggil saia Minna? Dalam bahasa Jepang Minna artinya semua orang (biasanya semua orang itu mengarah pada orang-orang yang kita kenal). Misalnya 'Minna wa genki da yo' yang artinya "Semua orang baik-baik saja". Tapi… yah, lupakan… Hm… kalau anda tanya caranya… saia juga tak tahu… Mungkin mekanismenya seperti ini: Melamun – Keluar Ide – Menulis sketsa cerita pada sembarang kertas – mengetik ceritanya pada Netbook. Yah, semacam itulah… Oh, terima kasih sudah review! Salam kenal!


Akhir kata…

Ohhh~ Lelahnya bahas review! Tapi menyenangkan, karena saia bertemu kawan-kawan baru, dan kita bisa saling bertukar pikiran dan pendapat! Hahaha! It's fun, really! Tapi maaf kalo ternyata masih ada yang belum dibales, tolong salahkan modem saia karena telah me-load halaman setengah-setengah. Saia akan selalu berusaha membahas setiap review, karena saia menghargai kemauan anda untuk memberi komentar pada fic saia…
Oh ya, kalo ada hal yang masih belum jelas (selain bagaimana cara Luffy lolos dari Satpol PP) tolong beritahu lewat review, saia akan suruh Luffy untuk menceritakannya di chapter selanjutnya. Terima kasih!

Nantikan serial One Piece yang sedang dalam proyek saia:
"OKAPPIKI NO OYABUN: Detective Style"

Sekilas spoiler: Bagi yang pernah menonton One Piece special year-end, inilah fanficnya. Kental sama istilah-istilah Jepang jaman Shogun tahun Showa. Tapi kekocakannya gak bakal kalah sama GrandLine HighSchool. Fanfic ini termasuk merupakan kumpulan Drabble, jadi pembaca gak perlu cape mikirin ceritanya yang bersambung. Satu Chapter, masalah selesai.

Nantikan yaa~! *digebuk karena kebanyakan promosi*

MIND TO KEEP STAY CONNECTED WITH THIS STORY?
THEN, PLEASE REVIEW. Tq.

V
V
v