Pairing: Sasunaru
Disclaimer: Masashi senpai
Warn: yaoi, OOC, crita belit, typo,dll..
Don't like, don't read..
Chapter 4
"Teme.." Suara Naruto terasa sangat lemah. Ia masih tak percaya didepannya berdiri Sasuke, dan Sasuke memeluknya.
"Ada-apa dobe?" Dengan suara datarnya Sasuke tetap memeluk Naruto.
Kenapa Sasuke bisa memeluk Naruto?
Flash back
Sasuke menarik tangan Naruto menjauh dari gua. Ia berjalan begitu cepat tanpa mengubris celoteh Naruto yang mengadu kesakitan. Mereka terus berjalan tanpa henti. Naruto yang sudah tak dapat menahan rasa sakit ditangannya lagi langsung melepas genggaman Sasuke, yang tentunya membutuhkan usaha yang cukup keras mengingat kekuatan Sasuke yang jauh diatasnya.
Mereka terhenti di tengah hutan. Sasuke hanya diam melihat Naruto mengelus-elus tangannya yang kesakitan. Begitu Naruto mengangkat kepalanya melihat Sasuke, Sasuke tiba-tiba salah tingkah, tapi tentu saja tidak kentara, mengingat wajah nya yang still stoic itu. Pembicaraan itu lalu dimulai oleh Naruto.
"Kenapa kau menarikku teme?"
"..."
"Oi, teme! Jawab.."
"Karena aku mau!"
"Hei, kurasa itu bukan sebuah jawaban!"
"Terserahlah!"
"Dan apa maksudmu dengan aku itu milikmu, teme?" Tiba-tiba wajah Naruto menjadi memanas.
"Karena kau memang milikku, usuratonkachi!"
"Grraahh.. Teme! Berhenti mengejekku."
"Hn"
"Dengar ya teme aku itu milikku sendiri! Bukan milikmu!"
"Terserahlah."
Mendengar jawaban Sasuke yang spontan membuat hati Naruto sedikit kecewa.
'Hei kenapa aku harus kecewa? Aku kan bukan cewek yang patah hati gara-gara ditolak. Lagipula aku tak menyukai teme!'
Tetapi tetap terbersit kekecewaan di hati Naruto.
Sasuke yang melihat tingkah Naruto entah mengapa terlihat sedikit menyeringai. Bukan seringai yang menawan, tapi sedikit mengerikan mungkin.
"Hn dobe, aku mau bertanya."
"Apa sih teme!"
"Siapa cowok yang berpelukan denganmu itu?"
"Arrggh, aku tak berpelukan dengannya teme! Dia yang memelukku!"
"Terserahlah, siapa dia?"
"Dia Sai teman satu timku,dan rekanku dalam misi kali ini!"
"Hn. Tampaknya kau menikmati bersamanya ya dobe."
"Bukan urusanmu teme!"Sambil memalingkan wajahnya membelakangi Sasuke.
Terdengar suara yang samar di belakang Naruto. Meskipun samar ia masih dapat menangkap kata-kata yang diucapkan itu.
"Teme?"
"Aku bilang itu urusanku Naruto!"
Deg.. Tiba-tiba jantung Naruto berdetak dengan kencang. Naruto, sudah begitu lama sejak terakhir kali Sasuke memanggil namanya secara langsung. Dan Sasuke berkata bahwa itu urusannya? Urusan Naruto adalah urusan Sasuke juga? Merasa tak percaya dengan pendengarannya ia kembali bertanya.
"A,apa yang kau katakan teme? A,aku tak mengerti."
"Aku bilang itu urusanku dobe. Kau adalah urusanku!"
Deg.. Jantung Naruto kembali berdetak semakin cepat.
"Tapi kau bilang bahwa kau benci aku bukan?"
"Iya"
Jawaban Sasuke itu langsung membuat Naruto kecewa kembali.
"Lalu kenapa aku harus menjadi urusanmu bila kau nyatanya membenciku!"
"..."
"Kenapa?"
"..."
"Sasuke.."
"..."
"JAWAB SASUKE TEME!"
Masih tak ada jawaban. Merasa air akan jatuh di kedua matanya, Naruto hanya berlari menjauh dari tempat ia dan Sasuke berdiri sedaritadi. Naruto berlari terus, melompati setiap pohon yang ditemui. Ketika melihat sebuah sungai ia berhenti hanya untuk membersihkan mukanya. Mendinginkan kepalanya. Untuk menyadarkannya agar tidak terlalu berharap akan Sasuke. Tapi memikirkan Sasuke membuat airmata yang dari tadi telah ditahannya tumpah. Ia menangis.
"TEME NO BAKA!" Teriaknya sekencang-kencangnya.
"Kau yang bodoh dobe."
Menyadari seseorang di belakangnya ia langsung menghapus airmatanya. Dan langsung berjalan menjauh dari sosok yang semakin mendekatinya.
"Jangan pergi dobe!"
Tanpa menggubris perkataan Sasuke Naruto tetap berusaha menjauh.
"Dobe!"
Masih tak didengarnya perkataan Sasuke.
"AKU BILANG BERHENTI DOBE!"
Langkah Naruto punterhenti mendengar teriakan Sasuke yang entah mengapa terdengar sedikit melengking.
"Untuk apa kau di sini Sasuke?" Wajah Naruto tersenyum. Senyum yang sangat dipaksakan, dengan mata yang lebam akibat menangis.
"Berhenti.."
"Apa Sasuke?" Masih tetap dengan senyum paksanya.
"Aku bilang berhenti dobe.."
"Aku tak mengerti maksudmu apa Sasuke." Senyum paksanya tetap tak meninggalkan wajahnya.
"JANGAN MEMASANG WAJAH PURA-PURA SEPERTI ITU DI DEPANKU DOBE!" Habis sudah kesabaran Uchiha yang satu ini. Tampang stoicnya telah berganti dengan tampang yang sangat murka.
"Jangan membentakku teme!" Wajah senyum nya sekarang sudah berganti dengan wajah yang marah.
"Kau memang pantas untuk di bentak! Kau tau itu!"
"Diam teme!"
Naruto langsung maju mendekati Sasuke. Ia megeluarkan kunainya. Mencoba melukai teman lamanya ini. Semacam perasaan marah sudah bersarang di hatinya. Sasuke dengan cepat langsung menangkisnya. Pertarungan dengan memakai senjata kecil ini berlangsung cukup singkat karena Sasuke berhasil menahan kedua tangan Naruto.
"Tenanglah dobe!"
"Lepaskan teme."
"Tidak akan!"
"Janga.."
"Hn?"
"Jangan teme.."
"Apa yang kau katakan dobe?"
"Aku mohon jangan buatku berharap lebih! Aku tak ingin berpikir bahwa kau akan kembali bersamaku ke konoha. Jangan mengatakan aku ini urusanmu! Karena dengan perkataan itu kau hanya akan membuatku semakin berharap bahwa kau menganggapku lebih spesial, bahwa kau tak akan meninggalkan ku lagi! Cukup dengan perkataan bahwa kau membenciku Sasuke-teme!" Akhirnya semua perasaannya tercurahkan.
Diam beberapa saat, kedua nya sedang berusaha merapikan perasaan mereka yang sedang bercampur. Kesal, marah, benci,dan semua perasaan lainnya yang membuat penat dada mereka.
Naruto yang melihat Sasuke kembali diam sudah tak dapat berkata apa-apa lagi. Jelas baginya bahwa Sasuke memang sangat membencinya. Ia pun berjalan pergi. Bermaksud untuk ke gua dan mencari teman satu timnya agar dapat melanjutkan perjalanan mereka.
Tiba-tiba sebuah tangan menariknya dan mengajaknya kedalam sebuah pelukan.
...
Masih tak memercayai. Sasuke? Memeluk Naruto? Ayolah hal ini tak akan pernah masuk akal. Dari pertama Naruto bertemu dengan pria berambut raven ini, tak pernah terlintas sedikitpun pikiran bahwa ia akan pernah berpelukan dengan pria ini.
"Ada apa dobe" Sasuke berbisik dengan lembut di telinga Naruto.
"Teme. Jangan buat aku berharap lebih lagi" takut! Itulah yang dirasakan Naruto sekarang ini. Ia tak ingin angannya melayang terlalu jauh kali ini.
"Memang itu yang aku harapkan!"
"Teme! Kau benci aku bukan? Jangan perlakukan aku dengan lembut begini. Itu amat licik."
"Hn."
Angin berhembus dengan lembut seolah mendukung perasaan kedua insan yang mulai tumbuh itu. Kedua insan itu tetap berpelukan tanpa mempedulikan sekitarnya.
TBC..
Masih berlanjut..
Terus riview ya..
