Apdet gi..
Hhaa..
Gomen ne, klo tlat apdet..
Maklum da msuk skolah, ga smpat..
Tpi,
Thengkiuu banget bwat yang da review..
Lin'Zz bakal brusaha trus bwat fic ne..
Hhee..
Bca truz klanjtan na..
Pairing: SasuNaru
Disclaimer: Masashi senpai
Warn: Yaoi, OOC, typo, cerita belit", dll...
Don't like, don't read
Chapter 5
Sunyi, begitu lah yang dapat mendeskripsikan keadaan mereka sekarang ini. Sasuke dan Naruto sedang berjalan kembali ke gua tempat mereka bermalam semalam. Mereka berjalan dalam jarak yang relatif cukup jauh. Sebenarnya Narutolah yang sengaja berjalan lebih cepat kedepan meninggalkan Sasuke. Muka Naruto serasa ingin meledak. Ia tak dapat menahan rasa malu. Ia dan Sasuke berpelukan. Berpelukan cukup lama. Sungguh ia tak pernah membayangkan hal itu terjadi! Tidak pernah sama sekali. Mungkin pernah sekali ketika ia mendapat wet dream pertamanya. Tapi sungguh ia tak pernah berpikir ini akan terjadi.
Tak lama kemudian mereka berdua tiba di gua. Disana Neji dan Shikamaru sudah menunggu. Setibanya Naruto disana tentu saja ia mendapat hadiah berupa omelan dari Shikamaru dan Neji. Sedangkan Sai? Naruto sempat mencari dimana gerangan sosok satu ini. Ternyata ia ada bersama.. Sosok rambut putih yang selalu menemani Sasuke. Em.. Siapa namanya, Suigetsu!
"Ano, Shika kenapa Sai tiba-tiba menjadi akrab dengan pria berambut putih itu?" Naruto tiba-tiba berbisik ke telinga Shikamaru.
"Entahlah, mungkin karena mereka setipe. Sudah ayo kita lanjutkan perjalanan kita." Seru Shikamaru, yang entah mengapa langsung bersemangat.
Eh? Pergi. Tiba-tiba Naruto jadi tak ingin melanjutkan perjalanannya. Ia masih ingin bersama Sasuke.
"Cepat Naruto!" Sekarang giliran Neji yang berucap.
"SAI" teriak Shikamaru.
"Haik,haik." Sai langsung menyusul tempat Shikamaru dan Neji berdua berdiri.
Melihat temannya sudah bergegas untuk pergi, Naruto menyempatkan dirinya untuk melirik ke arah Sasuke. Ia mendapati bahwa orang yang diliriknya juga ikut melihatnya. Tatapan nya terlihat sangat tajam. Baru Naruto sadari bahwa tatapan itu ditujukan pada tangan yang sekarang telah merangkul bahu Naruto tanpa disadari oleh Naruto sendiri.
"Sai, jangan merangkulku begitu." Naruto takut Sasuke akan salah paham.
'Hei, kenapa aku harus takut teme marah? Akukan bukan kekasihnya' blush! Wajah Naruto langsung memerah seperti kepiting rebus. Kenapa ia bisa berpikir begitu.
Sementara itu Sasuke masih menatap Naruto dengan tatapan yang sedikit tajam. Sungguh aneh untuk seorang Uchiha melirik setajam itu, apalagi pada seorang dobe.
"Ayo cepat Naru-chan, kita harus segera pergi ke desa Ori." Sai dengan sengaja langsung menyeret Naruto.
Tiba-tiba ada tangan yang menahan Naruto. Tangan ini lebih kecil dari tangan Naruto. Itu adalah Sora.
"Desa Ori?" Tanya Sora dengan ragu-ragu.
"Ada apa Sora chan? Kenapa dengan desa Ori?"
Sesaat Sora terdiam, ia tertunduk dan tak terasa airmata menetes dari matanya.
"A,ada apa! So,sora-chan.." Panik, itu yang dirasakan Naruto sekarang.
Tiba-tiba dirasakan Sora sentuhan di pundaknya. Sentuhan yang membuatnya merasa nyaman. Sora yang tadinya tertunduk langsung berpaling melihat siapa gerangan yang menyentuhnya.
"Sasuke-sama.."
"Hn."
Sejenak terasa kesunyian.
"Sasuke-sama.. Me,mereka.. Ada disana."
"..."
"Para penculik kakak."
"..."
"Sasuke-sama, aku ingin ikut kak Naruto ke sana. Ke desa itu untuk menolong kakakku." Seru Sora yang kembali bangkit dari kesedihannya.
"Hn"
Naruto yang sedaritadi mendengar percakapan Sora dan Sasuke pun ikut bicara. Entah mengapa dalam suaranya terdengar nada yang begitu bersemangat.
"Ne, Sora-chan bagaimana kalau bergabung dengan kita saja?"
"Nii-chan?"
"Kami juga akan membantu kamu menolong kakakmu."
"Benarkah? Nii-chan mau?"
"Tentu saja!"
Sora sedikit melirik ke arah Sasuke, tetapi yang dilirik malah terdiam dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Aku mau Naru-nii!" Sora langsung memeluk Naruto.
"Kalau begitu ayo!"
Naruto pun langsung berjalan sambil menyeret Sora. Setelah sampai ditempat dimana Shikamaru berada, ia melirik ke belakang sesaat.
'Sasuke?'
Naruto kelihatan amat kecewa karena Sasuke tidak mengikutinya. Padahal tadi ia mengira bahwa Sasuke akan turut bersama Sora ke desa tujuannya. Bukannya tidak ikhlas membantu Sora, tapi ia memang berharap sekali bahwa Sasuke akan ikut.
"Hei! Naruto, mana Sai?" Seru Shikamaru membuyarkan pemikiran Naruto.
Naruto yang tersadar dari lamunannya, langsung memandang kesakelilingnya. Mencari tanda-tanda keberadaan Sai. Celaka! Tadi Sai kutinggal bersama Sasuke.
Naruto langsung berlari kembali ke arah tadi ia meninggalkan Sasuke dan Sai. Sedangkan Shikamaru, Neji, dan Sora hanya dapat diam melihat kepergian Naruto.
'Huh, Naruto..' Shikamaru memutuskan untuk berbaring saja. Menunggu kedatangan Naruto.
...
Di lain tempat,
Terlihat 2 orang shinobi sedang berhadap-hadapan , seperti sedang menilai satu sama lain. Yak, itu adalah Sasuke dan Sai. Suigetsu? Ia sedang duduk lebih jauh dari 2 pria berkulit pucat itu. Kenapa? Tentu saja, karena sedaritadi sejak ditinggal Naruto dan Sora, ada hawa-hawa yang kurang mengenakkan disekitar mereka.
"Hai Sasuke-kun." Sapa Sai dengan muka senyum nya yang biasa.
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
Suigetsu yang melihat suasana bisu antara Sasuke dan Sai hanya bisa sweatdrop. Akhirnya salah satu dari kedua pria itu angkat bicara juga.
"Apa maumu" dengan dingin Sasuke berkata pada Sai.
"Hanya ingin menyapa saja kok, Sasuke-kun" jawab Sai masih dengan senyum menghias diwajahnya.
"Berhenti berpura-pura dengan senyum palsu itu."
"Aku tidak pura-pura kok Sasuke-kun"
"Terserahlah, apa maumu?"
"Kamu tidak khawatir?"
"..."
"Kau tahu tidak Naruto masih begitu polos untuk pria seusianya" serius, itulah raut wajah Sai sekarang, muka senyumnya sudah hilang.
"Apa maksudmu!" Dengan nada sedikit tajam.
"Kau pasti tau maksudku bukan, Sasuke-kun"
Mendengar perkataan Sai, Sasuke entah mengapa hatinya tiba-tiba berkobar. Marah, itulah yang dirasakannya saat ini. Ia merasa ia tak akan pernah bisa menyukai sikap pria yang berada dihadapannya.
"Kenapa diam Sasuke-kun?"
"Kau mau aku bereaksi apa?"
"Aku tidak minta kau untuk bereaksi apa-apa kok"
"..."
"Kalau begitu aku pergi dulu ya Sasuke-kun. Aku rasa Naru-chan akan segera mencariku. Aku tidak ingin merepotkan Naru-chan."
Ketika Sai hendak pergi dari Sasuke, tiba-tiba sebilah pedang langsung mengacung ke lehernya. Sai langsung bersikap waspada. Ia menyelipkan tangannya ke kantong tempat kunainya berada.
"Berhenti."
"..."
"Naruto bukan milikmu."
"Itu bukan urusanmu bukan."
"Ku peringatkan, Naruto itu bukan milikmu!" Terdengar nada sedikit mengancam dalam setiap perkataan yang diucapkan oleh Sasuke.
"Kurasa itu bukan urusanmu juga bukan. Naruto juga bukan milikmu." Sai dengan berani melawan Sasuke yang sudah mulai terbakar oleh amarah.
"NARUTO ADALAH URUSANKU!"
Tak dapat menahan emosi. Itulah yang terjadi pada Sasuke. Sasuke langsung mengeluarkan Chidori. Sai menggunakan jurus kagebunshin untuk menghindari serangan Sasuke. Sasuke terus menerus mengejar Sai. Perbedaan kekuatan, itulah faktor yang menyebabkan Sai harus kalah. Disaat serangan Sasuke yang terakhir, Sai tidak sempat menghindar. Maka serangan Sasuke mengenai Sai, yang mengakibatkan Sai harus terlempar jauh.
"Haah.. Hah.." Sai terengah-engah, kelelahan dan sekaligus berusaha untuk menahan rasa sakit akibat serangan dari Sasuke.
"Kurasa kau harus mengingat sesuatu." Sasuke berjalan perlahan-lahan mendekati Sai dengan pedang ditangannya.
"Jangan pernah berani memancing amarahku!" Sasuke sudah berada tepat didepan Sai.
Sasuke yang sekilas melihat Sai dengan darah yang mulai mengucur dari mulutnya langsung menghunuskan pedangnya ke arah Sai.
Ditahan? Ada sesuatu yang menahan pedangnya. Itu Naruto.
"Teme! Apa yang kau lakukan!" Bentak Naruto dengan amarah yang tak dapat ia redam sedikitpun.
"..."
"Sai, kamu tak apa-apa?" Naruto menggoncang tubuh Sai memastikan apakah Sai terluka atau tidak.
"Aku tidak apa-apa kok Naru-chan. Aku hanya bermain-main sedikit dengan Sasuke." Sai melirik sedikit kearah Sasuke, ingin melihat reaksi Sasuke. Tapi Sasuke sudah kembali ke wajah stoicnya.
Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke lagi.
" Teme, apa yang kau lakukan pada Sai."
"..."
"Jawab Teme!"
"Itu bukan urusanmu."
"Itu urusanku Teme. Sai itu teman setimku. Kau tidak boleh menyakitinya." Teriak Naruto.
Sasuke terdiam sejenak. Ia merasa ada yang tiba-tiba terasa amt menyesakkan di dadanya.
"Temen setimmu?"
"Iya, Sai adalah teman setim ku."
"Kalau begitu aku?"
"Kau itu..." Tiba-tiba ucapan Naruto terputus. Ia berusaha mencari kata yang tepat.
"Kenapa diam? Aku siapa mu?"
"Kau, kau itu adalah.." Masih tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menjabarkan arti seorang Sasuke.
"Naruto."
"..."
"Naruto."
"Kau itu adalah mantan sahabat satu tim ku." Ucap Naruto pada akhirnya.
Mendengar ucapan Naruto, Sasuke hanya dapat terdiam. Tak pernah terpikir olehnya Naruto akan menjawab seperti itu.
"Sasuke?"
Masih diam, itulah yang dilakukan oleh Sasuke.
"Sasuke-teme!" Naruto langsung bangkit berdiri. Tapi begitu melihat ekspresi wajah Sasuke, ia merasa begitu bersalah. Ekspresi Sasuke begitu sedih. Ini pertama kalinya Naruto melihat raut wajah Sasuke seperti itu. Selama ini yang diketahui Naruto, Sasuke selalu pandai menyembunyikan raut wajahnya. Tapi mengapa kali ini wajah Sasuke harus seperti itu begitu mendengar perkataan Naruto?
"Te,teme"
"..."
".. Te..."
Belum selesai ucapan Naruto, Sasuke sudah langsung memeluknya.
"Te,teme! Apa yang kau lakukan.." Seru Naruto panik. Ia menyadari bahwa Sai masih berada disana.
"Diamlah dulu Naruto. Aku ingin seperti ini untuk sementara."
Naruto hanya dapat diam mendengar permintaan dari Sasuke.
...
Sai yang melihat adegan Sasuke dan Naruto berpelukan hanya terdiam. Ia sudah bisa menyangka ini akan terjadi.
Tak perlu waktu lama, Sai langsung ditolong oleh seseorang yang memegang tangannya untuk membantunya berdiri. Itu adalah Suigetsu.
"Huh, tak kusangka kau seberani ini. Nyalimu besar juga berani menantang Sasuke dengan memancing amarahnya."
"Kau terlalu memuji." Senyum Sai mulai menghiasi wajahnya.
'Huh, dasar picik' pikir Suigetsu dalam hati.
"Ne, Suigetsu-san."
"Ada apa?"
"Bisa tolong bawa aku pergi tidak?"
"Hah? Untuk apa?"Suigetsu bertanya dengan keheranan. Bukankah Sai daritadi sangat menikmati pertengkaran dihadapannya itu. Kenapa sekarang malah meminta untuk membawanya pergi?
"Tentu saja menghindar."
"Menghindar?"
"Iya. Kau tentunya tak ingin melihat pertengkaran secara langsung bukan?"
"Kenapa? Bukankah itu akan seru?"
Rasanya Sai sudah tak dapat menahan mulutnya untuk bersikap manis. Akhirnya perkataan yang lumayan kasar keluar dari bibir seorang Sai yang murah senyum itu(!)
"Hei, idiot. Sudah turuti saja aku" masih dengan tersenyum Sai berkata seperti itu.
Glekh! Sesaat Suigetsu berpikir bahwa orang ini lebih berbahaya dari Sasuke.
"Tapi, aku masih ingin liat!" Gerutu Suigetsu dengan mimik memohon.
"Kubilang cepat bawa aku pergi! Suigetsu-chan."
Merinding itulah yang dirasakan Suigetsu saat ini begitu mendengar perkataan Sai yang terdengar begitu dibuat-buat seakan ada maksud tersembunyinya.
"Baiklah."Bisik Suigetsu pada akhirnya, menyerah dengan perkataan Sai. Suigetsupun lalu menggendong Sai dan berlari melompati pohon-pohon disekitarnya menyusul Shikamaru dan Neji.
...
Kembali ke Naruto dan Sasuke.
"Te,teme, mau berapa lama lagi kau memelukku seperti ini? Aku mulai merasa sesak.." Dengan wajah merona Naruto mulai bergerak gelisah dalam pelukan Sasuke. Wajah Naruto hanya mengenai dada Sasuke, karena perbedaan tinggi keduanya. Merasa mendengar dentuman jantung. Entah dentuman jantung siapa itu. Mungkin dia mungkin juga Sasuke. Ia hanya dapat tersipu malu.
"Kau tahu Naruto. Aku sama sekali tak ingin menjadi sahabatmu"
"Eh" tiba tiba dada Naruto terasa sakit mendengar perkataan Sasuke.
"Aku tak ingin menjadi sahabatmu. Aku juga amat membencimu"
Dada Naruto terasa lebih sakit lagi mendengar ucapan yang kembali dikatakan oleh Sasuke.
"Aku amat sangat membencimu"
Sudah. Airmata mulai menetes dari mata safir milik Naruto. Ia sudah tak dapat menahan rasa sakit didadanya hingga mengharuskannya meneteskan airmata.
"Kau tau mengapa? Itu karena kau selalu menghantuiku."
"..."
"Mengikutiku,kemanapun aku pergi. Selalu menantangku dengan wajah yang entah mengapa begitu senang."
"..."
"Bahkan ketika aku pergi dari desa Konoha. Kau masih terus mengikutiku, mengejarku."
"..."
"Kau tau itu amat menyiksaku. Membuatku mengingat waktu yang ingin kulupakan."
"..."
"Membuatku merasakan perasaan yang ingin kutiadakan sedari dulu."
"..."
"Perasaan yang membuatku sangat membencimu."
"..."
"Kau tahu perasaan apa itu"
Tak sanggup. Naruto sudah tak sanggup menahan segala perkataan yang dilontarkan oleh Sasuke. Ia merasa kalau ia mendengar satu kalimat lagi mungkin itu akan membuatnya lemas tak berdaya.
"Sudah cukup." Bisik Naruto
"Kau tahu perasaan itu.."
"KUBILANG SUDAH CUKUP!" Bentak Naruto seraya melepaskan pelukan Sasuke secara paksa.
"..."
"Cukup, perkataanmu sudah cukup. Aku tak akan pernah mengejarmu lagi."
"..."
"Aku tak akan menemuimu lagi."
"..."
"Dan terakhir aku juga akan melupakanmu."
"..."
"Sudah puas bukan? Orang yang paling kau benci takkan pernah mengganggumu lagi."
"Diam Dobe!"
"Sayonara, Sasuke." Bisik Naruto dan berjalan berbalik menjauhi Sasuke.
"Berhenti."
"Berhenti! Dobe!"Bentak Sasuke yang kesabarannya sudah habis.
Tak menggubris bentakan Sasuke, Naruto tetap berjalan menjauhi Sasuke.
Sasuke langsung mengejar Naruto, dan mencengkeram tangan Naruto sekeras mungkin.
"Ittai teme." Seru Naruto dengan suara amat rendah.
"Kubilang berhenti. Dengarkan perkataanku dulu dobe."
"Aku tak mau dengar lagi. Aku tau kau pasti akan menyuruhku untuk tak mengejarmu lagi bukan? Kalau begitu aku berhenti mengejarmu. Sekarang juga. Jadi biarkan aku pergi sekarang."
"Jangan coba lakukan itu!"
"..."
"Aku bilang jangan pernah mencoba melakukan hal itu."
"Kenapa?" Naruto mulai bingung dengan sikap Sasuke. Bukankah ia yang mengatakan bahwa ia membenci Naruto.
"Karena.. Karena aku benci kamu mengatakan hal seperti itu."
"Bukankah kamu memang sudah membenciku teme. Tentu tak ada pengaruhnya aku berbicara seperti ini bukan."
"Iya, aku membencimu. Tapi kalau kau berbicara seperti itu, dan kau mulai menjauhi aku, aku takkan punya alasan untuk membencimu lagi."
"Bukankah itu bagus teme!"
"ITU TAK BAGUS! KARENA AKU CINTA DENGANMU"
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"A.. Apa yang kau bicarakan?"
"Jangan membuatku mengulang dobe."
"Tapi kau bilang kau benci padaku bukan?"
"Iya"
"Kalau begitu kenapa kau bilang kau cinta padaku?"
"Aku benci padamu karena kau selalu merebut perhatianku. Kau yang selalu mengejarku selalu membuatku merasa bahwa kau lucu. Membuatku nyaman. Bahkan ketika tau bahwa kakakku membunuh klan hanya demi melindungi desa, hanya kau yang bisa membuat hatiku pulih dari duka."
"Aku tak mengerti"
"Apalagi yang tak kau mengerti?"
"Kalau begitu apa buktinya? Jangan permainkan aku lagi Sasuke"
"Bukti? Apa masih perlu dibuktikan? Kalau begitu ini buktinya.."
Sasuke langsung menarik Naruto dalam dekapannya. Bibir Sasuke langsung mengecup ringan bibir Naruto.
"A,apa yang kau lakukan teme."Teriak Naruto histeris dan tangannya langsung menutup bibir yang tadi telah di kecup oleh Sasuke.
"Memberikan bukti."
"Tapi kenapa dengan cara begini?"
"Karena kau yang memintanya bukan, dobe." Seringaian muncul di wajah tampan Sasuke, yang langsung membuat wajah Naruto memerah seperti tomat.
"Si,siapa yang meminta. La,lagipula kita berdua lelaki teme. Masa kau mencium aku yang sejenis denganmu."
"Aku tak peduli dobe."
"Ta,tapi."
Naruto berusaha untuk mencari argumen lain dalam otaknya. Tetapi begitu ia menatap wajah Sasuke, pikiran itu lenyap begitu saja. Sasuke tersenyum. Sudah lam sekali sejak terakhir kali Naruto melihat wajah senyum pri berambut raven ini. Entah mengapa hatinya terasa begitu hangat.
"Aishiteru dobe." Ucap Sasuke sambil memberikan pelukan yang begitu lembut pada Naruto. Sedangkan yang dipeluk hanya dapat terdiam.
...
Di lain tempat..
"Ne,Sai mana Naruto? Bukankah ia pergi mencarimu? Kok kamu tau-tau terluka?" Tanya Neji penasaran.
"Naruto? Oh dia sedang bersama dengan Sasuke." Balas Sai dengan tenang.
"Sasuke? Kenapa kau biarkan mereka berdua saja? Nanti mereka bisa berkelahi." Ucap Neji panik.
"Tenang saja itu tak akan terjadi kok."
"Betul malah sebaliknya, akan terjadi hal yang baik." Timbal Suigetsu.
Neji dan Sora hanya bisa sweatdrop mendengar perkataan Suigetsu dan Sai yang entah mengapa terlihat sangat serasi. Shikamaru? Jangan tanya. Ia sedang dalam alam tidur. Semangatnya tadi sudah menghilang gara-gara kelamaan menunggu Naruto kembali.
Suigetsu dan Sai? Mereka berdua sedang sibuk tertawa sendiri dan terhanyut dalam imajinasi mereka.
TBC
Udah..
Riview na o..
Mga" readers bakal tetap ikutin lanjutan na..
Hehehe...
