Uda chapter 5 nih..

Hahaa..

Sourie klo telat apdet..

Kali ini Ichi bakal buat lebih pnjang dari fic sblmnya..

Bca terus ya..

Pairing: SasuNaru

Disclaimer: Masashi senpai

Warn: Yaoi, OOC, typo, cerita belit", dll...

Don't like, don't read

Chapter 6

"Aishiteru dobe."

Kata-kata itu terus terngiang dalam kepala Naruto. Cinta? Kata yang baru didengarnya ini serasa membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Bagaimana tidak? Sasuke, teman sekaligus sahabat nya dari kecil itu mengatakan ia menyukainya. Menyukai Naruto. Itu tidak mungkin bukan? Lagipula gender mereka sama. Mana mungkin saling menyukai.

"Dobe, dengarkan aku."

Naruto masih terdiam ketika Sasuke mulai melepas pelukannya.

"Aku tau kau mungkin masih tak percaya dengan apa yang barusan kukatakan. Tapi aku ingin kau tahu satu hal. Kau takkan pernah kulepaskan. Kau adalah milikku. Mau itu dulu, sekarang, dan juga nanti, selamanya kau akan tetap selalu menjadi milikku."

Naruto hanya terdiam mendengar pernyataan yang diucapkan langsung dari mulut Sasuke. Sasuke telah mendeklarasikan dirinya sebagai pemilik Naruto. Biasanya kalau situasi seperti ini, bila orang lain yang berani mengucapkan hal seperti itu pada Naruto bisa dipastikan amarah seorang Naruto pasti akan meledak-ledak. Tapi ini berbeda, yang mengatakannya adalah Sasuke sendiri. Tak tau perasaan apa yang bergelorah dalam dadanya, ia merasakan sesuatu yang hangat menjalar ditubuhnya. Perasaan ini membuatnya nyaman, serasa ia ingin terus berada dalam dekapan Sasuke seorang.

"Naruto tataplah aku."Pinta Sasuke.

Naruto mengangkat kepalanya, untuk melihat pria yang berada dihadapannya itu.

"Naruto, mulai dari sekarang, jangan pernah berharap aku akan melepaskanmu lagi, dobe"

"Hei teme, aku bukan milikmu" tiba-tiba Naruto mendapatkan suaranya kembali.

"Hn, bukankah sudah kubilang kau milikku"

"Jangan harap teme, aku takkan mau" Naruto berusaha menyembunyikan rona mukanya yang memerah dengan menundukkan kepalanya.

"Kalau begitu aku akan membuatmu mau"

"Su,sudahlah.. Aku mau kembali ketempat Shikamaru dan kawan-kawan." Naruto langsung bergegas berbalik dan berlari menjauhi Sasuke.

Sasuke yang ditinggal oleh Naruto hanya tersenyum. Tersenyum amat tulus. Ia merasa lucu, melihat tingkah dari Naruto. Sebenarnya ia tidak tau sudah berapa lama ia memiliki perasaan terhadap Naruto. Bagaimana bisa ia memiliki perasaan seperti itu pada Naruto pun tak ia ketahui penyebabnya. Tapi yang ia tahu, mulai dari sekarang ia akan terus melindungi pria yang dicintainya ini. Ia takkan membuat pria ini sedih lagi, takkan membuatnya kecewa seperti ketika ia meninggalkannya dulu.

"Tunggu aku Naruto."

...

Naruto melompati tiap pohon yang ia lewati. Mukanya begitu merah. Ia terus melompat lurus, tanpa menyadari bahwa ia hampir sampai ke tempat Shikamaru dan kawan-kawannya berada. Untung saja, Sai yang melihat Naruto tampak tergesa-gesa melewati mereka meneriakinya.

"Naru-chan, mau kemana?" Sai berteriak dengan keras, karena takut Naruto takkan mendengarnya kalau teriakannya kecil.

"Eh, Sai kalian disana." Naruto langsung berbalik arah menuju tempat Sai berada.

"Ada apa Naru-chan?" Tanya Sai begitu Naruto mendarat di dekat Sai.

"Tak ada apa-apa, memangnya kenapa?" Elak Naruto.

"Naru-chan, mukamu merah sekali. Hihihi, apakah hari ini begitu panas ya Naru-chan. Sampai mukamu semerah tomat begitu." Sindir Sai sambil tertawa jahil.

Merasa bakal kalah beradu mulut dengan Sai, Naruto memilih untuk berjalan ke arah Shikamaru dan Neji berada.

"Hei, Shika! Bangun. Ayo kita berangkat." Teriak Naruto pada Shikamaru, maklum karena bila tak diteriaki, Shikamaru tak akan bangun-bangun.

"Hmn.. Sudah balik Naruto?" Tanya Shikamaru, kemudian diakhiri dengan uapan yang lebar.

"Udah, ayo kita berangkat!"

Naruto lalu berbalik hendak melanjutkan perjalanan mereka, ia melirik sedikit ke arah Sai, baru menyadari bahwa tadi Sai habis bertarung dengan Sasuke. Pasti sekarang luka Sai belum sembuh sepenuhnya. Jadi ia menghampiri Sai sekedar melihat keadaannya.

"Eh, ano.. Sai. Bagaimana lukamu? Apakah masih sakit?" Cemas Naruto.

"Eh?" Tanya Sai heran, karena Naruto tiba-tiba menghampirinya.

"Itu, luka waktu bertarung dengan Sasuke tadi." Naruto tiba-tiba salah tingkah begitu nama Sasuke ia sebut.

"Ou. Masih sedikit. Kalau begitu Naru-chan mau memeriksakannya untukku tidak." Tanya Sai dengan sedikit nada yang mencurigakan.

Karena merasa bersalah, Naruto menganggukkan kepalanya. Sai yang tak menyangka bahwa Naruto akan menyanggupi permintaannya begitu saja. Maka terbesitlah suatu pemikiran jahil dalam otaknya.

"Ne, Naruto-kun. Bisa minta tolong pijatkan tubuhku tidak? Tubuhku rasanya sakit. Terutama bagian pinggang kebawah." Ucap Sai dengan raut wajah seakan berkata ia sangat menderita sekarang.

"Yosh, baiklah. Mari kupijat sekarang." Naruto langsung bergegas memijat pundak Sai.

"Naru chan, lebih ke bawah lagi." Pinta Sai.

Naruto pun memijat makin kebawah. Ia sekarang memijat bagian pinggang Sai yang tak tertutupi sehelai benangpun, alias langsung menyentuh kulit Sai. Tak Naruto sadari bahwa ada sepasang mata yang menatapinya dengan rasa cemburu.

Sai yang mengetahui bahwa Sasuke sedang menatap mereka dengan sengaja memegang tangan Naruto.

"Ne, Naru-kun. Bagian kakiku juga sakit, karena terjatuh tadi." Aduh Sai, sambil menarik tangan Naruto ke arah kakinya, sehingga terlihat seperti Naruto sedang memeluk Sai.

Melihat hal itu, Sasuke entah mengapa malah mengeluarkan semacam aura yang mengerikan. Sasuke berjalan mendekati Naruto dan Sai. Tapi tiba-tiba terdengar suara yang membuat langkahnya terhenti.

"WOII! KALIAN MAU MELANJUTKAN PERJALANAN TIDAK SIH?" Teriak Neji dengan marah.

"Ano Neji, tak usah teriak begitu." Kata Shikamaru pelan.

"Biar saja! Waktu sudah hampir siang. Kalian malah santai disini." Teriak Neji kesal.

Naruto langsung bangkit berdiri. Ia berjalan ke arah Neji.

"Yosh, ayo kita berangkat. Misi ini harus segera kita selesaikan. Jangan sampai terlambat." Kata Naruto dengan semangat.

"Begitu baru baik." Ucap Neji.

Naruto yang begitu berbalik, melihat Sasuke sedang berdiri tak jauh darinya. Muka Naruto langsung merona dalam sekejap.

"Te,teme! Kau kenapa disini?" Gagap Naruto.

Sontak mendengar kata Naruto, semua kepala disana berpaling melihat Sasuke.

Sedangkan Sasuke hanya diam berdiri saja, untuk sementara waktu. Lalu Sasukepun berjalan mendekati Naruto, dan yang lain.

Ketika sudah mendekat, tiba-tiba seorang anak lelaki mendekat ke arah Sasuke. Itu Sora.

"Sasuke-sama?" Tanya Sora.

"Hn."

"Apa Sasuke-sama berniat ikut?" Tanya Sora lagi.

"Hn."

"Oi, Teme! Jangan pakai 'hn' terus bisa tidak sih?" Kata Naruto hilang kesabaran.

Tanpa mendengarkan celotehan Naruto, Sora berjalan mendekati Sasuke.

"Terima kasih Sasuke-sama. Anda mau ikut pergi ke Desa Ori bersama kami." Kata Sora, yang sepertinya sudah bisa menafsir arti dari kata 'hn'nya Sasuke.

"..."

Lalu mendekat lagi sesosok pria berambut putih, itu Suigetsu.

"Ne, Sasuke. Ayo kita pergi sekarang." Kata Suigetsu dengan pelan, lalu ia berpaling ke belakang melihat segelombolan shinobi di belakangnya.

"Hei, kalian juga! Ayo pergi." Kata Suigetsu sok memerintah.

Mendengar hal itu, Sai langsung berdiri dari duduknya. Sai yang berdiri dengan terburu-buru, tanpa sadar malah kehilangan keseimbangan, untunglah ia ditahan oleh Naruto yang memang berada didekatnya. Hal ini dilihat oleh Suigetsu, maka ia langsung beranjak mendekati Sai.

"Ne, Sai-chan. Sini biarku papah saja." Kata Suigetsu dengan manis.

Hal ini sukses membuat Suigetsu harus melihat Death glare ala Sai. Sai lalu berkata pada Naruto, tak usah memapahnya, dan ia berjalan menyusul anggota kelompoknya yang lain.

Akhirnya, mereka pun melanjutkan perjalanan, dengan Naruto yang seperti biasa selalu berada dibarisan terdepan berjalan dengan semangat. Disusul dengan Sai yang sibuk menghindari bantuan dari Suigetsu, malah menerima bantuan dari Sora. Neji berjalan dengan sekali-kali mengaktifkan Byakugan, melihat apabila ada tanda-tanda pemberontak. Sedangkan Shikamaru berjalan paling belakang, dengan Sasuke di sebelahnya.

Selama perjalanan Shikamaru dan Sasuke yang berjalan bersebelahan sama sekali tak berbicara apapun. Mungkin karena kedua ini memiliki ciri khas yang sama, sama-sama pelit bicara. Kalau Sasuke yang pelit bicara dikarenakan ia adalah elit Uchiha, sebaliknya Shikamaru yang pelit bicara memang karena malas. Apalagi kedua orang ini memang tidak begitu akrab, malah tidak akrab sama sekali.

...

Sore menjelang malam, akhirnya ketujuhnya sampai ketujuan mereka. Sesampai disana, mereka dikejutkan dengan suasana yang amat suram.

Di Desa Ori yang mereka singgahi ini, sama sekali tidak menampakkan aura keberadaan manusia. Tempat ini seperti pemukiman yang sudah lama tidak ditinggali oleh manusia. Mereka lalu berjalan secara terpisah untuk mencari tanda-tanda keberadaan warga yang tinggal di desa itu. Tak lama mereka berteriak, akhirnya tampak seorang anak perempuan yang, kira-kira seumuran dengan Sora. Anak perempuan itu berjalan mendekat dengan ragu-ragu ke arah para pendatang itu.

"Ka,kalian siapa!" Teriak anak perempuan itu dengan tangannya yang gemetar mengacungkan sebilah pisau ke arah Sora.

Tiba-tiba diteriaki seperti itu, tentu saja membuat Sora kaget. Langsung saja yang lainnya berkumpul kearah Sora dan menatap anak perempuan itu.

"Ma,mau apa kalian!" Teriak anak perempuan itu lagi, ia tambah gemetaran melihat banyak orang mengellinginya.

"Tenanglah! Kami tak ada maksud buruk." Ucap Shikamaru. Yang mendapat anggukan setuju Naruto.

"Bohong! Kalian pasti teman mereka!" Teriak anak perempuan itu lagi.

"Siapa?"Tanya Naruto.

"Tak usah pura-pura! Kalian teman pemberontak itu kan!" Teriak anak perempuan itu setengah menangis.

"Te,tenanglah dulu. Kami bukan teman para pemberontak itu." Ucap Naruto berusaha menenangkan anak perempuan itu.

"Benarkah?" Tanya anak perempuan itu dengan ragu.

"Iya, kami Shinobi Konoha yang kalian sewa untuk memberantas pemberontak itu." Ucap Shikamaru akhirnya, setelah melihat anak perempuan itu mulai tenang.

Anak perempuan itu akhirnya menganggukkan kepala tanda mengerti. Lalu Naruto dan yang lainnya mengajak anak perempuan itu untuk masuk ke salah satu rumah di desa, agar dapat mendengar cerita dari anak perempuan itu secara menyeluruh.

"Ne, jadi, ano.." Ucap Naruto setengah.

"Nami, namaku Nami." Potong anak perempuan yang bernama Nami itu.

"Nami-chan, sebenarnya apa yang telah terjadi dengan desa ini?" Tanya Naruto.

"Sebenarnya, setengah hari sebelum kalian datang, hampir seluruh penghuni desa ini mengambil keputusan untuk meninggalkan desa ini. Yang tertinggal hanyalah kedua orangtuaku, kakak lelakiku, dan beberapa tetua desa ini. Mereka semua tidak ada yang berniat meninggalkan desa, jadi mereka tetap tinggal didesa. Tak lama setelah para penghuni desa ini pergi, desa ini diserang segerombolan pemberontak. Mereka merampas seluruh harta di desa ini. Para tetua dan orangtuaku yang tidak rela para pemberontak itu melakukan hal yang semena-mena, langsung melakukan perlawanan. Ternyata salah satu dari pemberontak itu memiliki kekuatan yang aneh. Ia adalah seorang wanita, dan ia dapat mengendalikan tubuh orang. Wanita itu mengendalikan tubuh kakak lelakiku yang memah telah lemah dari lahir. Kakakku membunuh seluruh tetua desa, la,lalu dia juga membunuh ayah dan ibu." Isak Nami.

"La,lalu ketika kakak lelakiku hendak membunuhku juga, ia menangis. Airmata mengalir dari kedua pelupuk mata kakak lelakiku. Kakak lelakiku berusaha melawan kekuatan aneh yang menguasai tubuhnya, dan akhirnya malah menancapkan pisau ke dadanya sendiri. Para pemberontak itu hanya tertawa. Lalu meninggalkan aku yang menangis sedih melihat kematian semua orang terpenting di hidupku." Kata Nami dengan isakan yang makin menjadi.

"I,itu kakak." Seru Sora langsung.

Mendengar pernyataan itu, Nami langsung menerjang Sora.

"Kau! Kau adik wanita tak berperikemanusiaan itu!"

"Na, Nami.." Kata Sora terputus, karena Nami yang berusaha menekan leher Sora dengan keras.

"Kau adik pembunuh itu! Kau harus mati." Bentak Nami.

"Tenanglah Nami. Jangan gegabah." Naruto berusaha menenangkan Nami, dan menarik Nami menjauhi Sora.

Nami yang ditarik menjauh dari Sora kembali terisak. Lalu tiba-tiba ada dua tangan yang memeluk Nami dengan lembut. Itu adalah tangan Sasuke. Melihat hal itu, tentu saja seluruh penghuni ruangan itu hanya dapat membelalakkan mata. Tidak pernah seorang Sasuke bisa bersikap sepengertian ini pada seorang perempuan, apalagi yang baru pertama kali ditemuinya.

"Jangan menangis."

Mendengar Sasuke berkata seperti itu, Nami berusaha untuk tidak menangis. Ia lalu melanjutkan ceritanya yang belum selesai.

"Se,sebelum menghembuskan nafas terakhir, kakakku juga membisikkan kata yang serupa. 'Jangan menangis Nami. Pergilah dari desa ini, hiduplah dengan tenang. Jangan pernah menyimpan dendam' itulah kata terakhir kakakku." Kata Nami melepaskan pelukan dari Sasuke.

"Hn.."

"Ano, nama kakak siapa?" Tanya Nami.

"Sasuke." Jawab Sasuke singkat.

"Sasuke-nii, boleh tidak aku memelukmu sekali lagi?" Ucap Nami meminta.

Mendengar hal itu, seluruh mata diruangan itu menatap Nami dengan kaget. Lebih kaget lagi ketika mereka melihat Sasuke menganggukkan kepalanya. Melihat Nami memeluk Sasuke lagi membuat bagian perut Naruto merasa tak enak. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa sakit. Tapi ia tidak terlalu menghiraukan perasaan itu.

Setelahnya, merekapun menyusun sebuah rencana untuk menangkap para pemberontak itu. Dan tentunya setelah Sora dan Nami tertidur. Yang tidak ikut dalam rencana ini tentunya hanya Sasuke, entah mengapa, Suigetsu begitu bersemangat mendengarkan rencana ini. Bahkan ia sangat semangat ketika pembagian kelompok, ia di tempatkan berdua dengan Sai. Setelah penyusunan rencana selesai, mereka mengistirahatkan diri.

Entah peristiwa apa yang menanti mereka esok harinya. Hari ini mereka tertidur dengan begitu nyenyak.

...

Cip-cip-cip

Suara kicauan burung mulai terdengar. Semua sudah bersiap-siap. Hari ini Naruto dan yang lainnya akan pergi untuk menangkap para pemberontak yang mulai merajalela, sekaligus menyelamatkan kakak Sora yakni Seri.

Naruto dan yang lain memulai perjalanan mereka. Melalui jurus Sai mereka mengetahui keberadaan para pemberontak itu sekitar 500meter dari tempat mereka. Mereka pergi dengan mengikutsertakan Nami. Karena Nami terus memaksa untuk ikut.

Setelah tiba ditempat sarang para pemberontak itu. Semuanya segera mengambil posisi yang telah disepakati. Sai dan Suigetsu berada di bagian utara, bertugas untuk menyelundup ke dalam markas pemberontak dan mencari kelemahan mereka. Shikamaru dan Neji berada dibagian timur, bertugas untuk mengawasi pergerakan dari para pemberontak. Sasuke dan Naruto berada dibagian barat, tugas mereka adalah mengawasi tanda dari Shikamaru, dan baru boleh menyerang setelah mendapat tanda-tanda dari Shikamaru. Sedangkan Sora dan Nami ditinggal di bagian selatan dengan dilindungi beberapa pelindung yang membuat mereka tak akan terlihat oleh para pemberontak.

Akhirnya saat untuk menyerang tiba. Sai dan Suigetsu menyelinap masuk. Mereka berdua mendapati markas pemberontak itu dijaga dengan ketat. Mereka mencoba melihat dengan menggunakan tikus yang digambar Sai. Terlihatlah suatu keadaan dimana seorang wanita sekitar 20tahunan sedang melakukan sebuah tarian untuk 2orang lelaki yang bertubuh kekar yang sepertinya adalah bos dari para pemberontak itu. Maka menurut tanda tanda dari Shikamaru, Sasuke dan Naruto langsung menyerang memasuki markas pemberontak itu.

Pertarungan berlangsung cukup lama, mengingat jumlah para pemberontak yang cukup banyak. Pemberontak itu juga mempunyai kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Sehingga menbuat Naruto yang sudah menggunakan Kagebunshin juga cukup kewalahan.

Ketua pemberontak yang merasa terganggu dengan keributan diluar tempatnya berada, segera keluar. Terlihat lah sebuah pemandangan dimana anak buahnya hampir seluruhnya telah dikalahkan oleh kelompok yang hanya beranggotakan 6 orang.

Ketua yang merasa terhina dengan keadaan ini, langsung keluar menghajar kelompok yang telah membuat anak buahnya tak menggunakan jurus yang amat aneh, membuat ke4 anggota kelompok tak berdaya, tubuh ke4nya tak dapat digerakkan, hampir mnyerupai patung. Hanya Naruto dan Sasuke saja yang tak terpengaruh.

"Oi, Shika, Neji, Sai, Suigetsu! Ada apa dengan kalian." Teriak Naruto melihat ke 4 rekannya yang sama sekali tak bergerak, seperti tubuh tak berisi.

"Dobe, konsentrasi pada lawanmu." Kata Sasuke melihat Naruto mulai tidak fokus dangan lawannya.

Naruto yang melihat ke arah Sasuke, tak sengaja hampir mengenai pisau yang sedang diayunkan oleh salah satu anak buah pemberontak.

"Uwaa!" Teriak Naruto hampir terjatuh, untung saja ia ditahan oleh Sasuke, yang sengaja berdiri didekat Naruto.

"Teme, arigatou." Ucap Naruto, bangkit dari pelukan Sasuke, bersiap-siap untuk menyerang kembali.

Tapi kemudian tangannya ditahan oleh Sasuke.

"Oi, teme. Ada apa? Kita harus menyelamatkan teman-teman yang lain." Ucap Naruto sedikit emosi.

"Tenanglah Dobe, aku punya rencana." Desis Sasuke.

"Rencana apa?" Naruto berteriak dengan begitu antusias.

"Begini" Sasuke kemudian membisikkan rencananya kepada Naruto.

Setelah mengerti, Naruto langsung bergerak menyerang ketua pemberontak. Naruto mencoba menyerang ketua pemberontak itu dengan menggunakan Kagebunshin. Serangan yang dilakukan Naruto dapat dihindari dengan sempurna oleh ketua pemberontak itu.

"Sial" oceh Naruto karena gagal melakukan serangan.

"Oi, bocah. Jangan coba-coba melawan, kamu takkan mampu mengalahkanku." Ucap ketua pemberontak.

"Betul kata Thai. Kalian menyerah saja." Kata lelaki yang baru muncul dari balik bayangan pohon, dengan membawa 2 orang anak.

"Nami! Sora!" Teriak Naruto.

Betul saja, kedua anak yang berada dalam pegangan lelaki yang baru muncul itu adalah Nami dan Sora.

"Kalian kenal mereka?" Tanya lelaki itu pada Nami dan Sora.

"Tidak, Master Shin." Jawab kedua anak itu dengan datar seperti robot.

Naruto yang melihat hal ini hanya terheran. Ia lalu sadar bahwa saat ini Sora dan Nami sedang dalam pengaruh orang yang dipanggil Shin itu.

"Bagus Shin, kedua anak itu akan lumayan berguna." Kata Thai dengan sedikit tawa kemenangan.

"Lepaskan kedua anak itu! Mereka tak ada kaitannya." Teriak Naruto dengan amarah.

Tanpa menghiraukan ucapan Naruto, Shin memerintahkan Nami dan Sora untuk menyerang Naruto. Shin yang sibuk mengendalikan Nami dan Sora untuk menyerang Naruto tak menyadari kehadiran Sasuke, dan dalam sekejap Shin sudah tersungkur ke tanah.

"Ka,KAU!" Teriak Shin marah.

Mungkin karena konsentrasi Shin yang telah buyar, mantra pada Nami dan Sora sekarang sudah hilang.

"Naru-nii? Sedang apa?" Tanya Sora dengan heran melihat Naruto sedang berusaha menghindar.

"Sora kau sudah sadar?" Tanya Naruto.

"Sadar?" Ucap Sora dengan nada heran.

"Sudahlah, Sora kau mencari tempat berlindung dulu, sekalian bawa juga Nami." Kata Naruto.

"Hm.. Baik! Ayo Na-chan." Kata Sora.

Sora dan Nami pun pergi mencari tempat untuk berlindung.

"Yosh ayo serang aku kalau berani!" Teriak Naruto dengan semangat.

"Kau bangsat." Teriak Thai, sambil berlari kearah Naruto.

Maka pertarungan antara Naruto dan Sasuke melawan Thai dan Shin berlangsung cukup lama. Meskipun dari segi kekuatan Naruto dan Sasuke lebih hebat, akan tetapi kemampuan Thai dan Shin untuk mengelak dari serangan lebih hebat. Sampai sebuah serangan yang nyaris mengenai Naruto ditahan oleh Sasuke.

"Teme!" Teriak Naruto ketika Sasuke terjatuh setelah menahan serangan yang terarah ke Naruto.

"Tenanglah Dobe, aku tak apa-apa." Kata Sasuke tenang, seraya bangkit.

"Teme." Kata Naruto lemah.

"Ayo cepat, kita harus segera mengalahkan mereka."

"Baik Teme!" Seru Naruto semangat.

Sasuke dan Naruto dengan serempak menyerang Shin, yang menyebabkan Shin terjatuh, dan pingsan. Ketika Sasuke dan Naruto bermaksud menyerang Thai sang ketua, muncullah seorang sosok wanita.

Dan dari tempat tak jauh dari arena pertarungan ini terdengar seruan.

"SERI-NEE!"

.

.

.

TBC

Chap 6 finish!

Huah..

Gmana-gmana..?

Mga-mga jelas ya!

Gomen buat bahasa, ma cara penulisan yang kurang baku.

Buat adegan pertarungan yang terasa kurang hot juga, gomen ne..

Tpi trus giv repiew na..

Hhee..