Title: A Few Steps Late
Disclaimer:Masashi Kishimoto
Rating:T
Genre:Romance/Hurt/Comfort
Pairing:Naru/Saku, and lil' Naru/Hina Neji/Hina
.
.
.
.
.
A Few Steps Late
Hari ini Naruto tidak pulang. Katanya dia menginap dirumah Chouji. Sakit? Tentu saja. Tapi seperti yang sudah kukatakan, aku terlalu mencintainya. Seolah-olah semua tindakan Naruto kuanggap benar walaupun aku tahu itu menyakitkan. Kadang ingin rasanya aku mengatakan kepada Naruto betapa aku merindukan pelukan hangatnya, kecupan manis dibibir, tidur berada disampingnya, ucapan selamat pagi. Semuanya. Aku sangat merindukan itu semua. Tapi apa yang ku dapat?
Terkadang aku berpikir, apakah Naruto masih mencintaiku? Apakah dia masih peduli denganku? Apakah dia menganggapku sebagai istrinya? Dan kau tahu, setelah kejadian akhir-akhir ini aku pun berpikir Apakah Naruto PERNAH mencintaiku?
Kenapa aku berpikir demikian? Aku tahu kalau kalian tahu jawabannya. Benarkan?
Apa yang harus aku lakukan? Ini sakit sekali, terlalu sakit. Dari tadi aku hanya bisa menangis. Tentu saja aku tidak memperlihatkannya dihadapan anak-anakku. Dan disinilah aku. Menangis di dalam kamar kami, atau mungkin bisa dibilang kamarku karena Naruto jarang sekali tidur disini.
Pernah terpikirkan olehku untuk bercerai dari Naruto. Tapi setelah kupikir lagi bisakah aku hidup tanpanya? Walaupun pahit, entah kenapa aku tetap tidak bisa membencinya. Salahkah aku karena aku terlalu mencintainya?
"Ibu, Ibu!" Yuki dan Tora berteriak dan langsung menuju ke kamarku.
Oh, Tuhan tidak! Mereka melihatku menangis!
"Ibu kenapa ibu menangis? Ibu kenapa? Ibu?" Yuki bertanya kepadaku.
Melihatku menangis seperti ini, mereka pun ikut menangis. Dan aku pun hanya bisa memeluk mereka.
"Ibu tidak apa-apa. Ibu hanya…"
"Ibu apa semua ini karena ayah?" Yuki bertanya
Deg, jantungku berdetak cepat sekali. Apa ini? Bagaimana bisa Yuki bisa mengetahuinya? Aku tahu bahwa Yuki anak yang pintar untuk seumurannya. Tetapi ini terlalu mengejutkan. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?
"Ibu jawab aku ibu. Apa ini semua karena ayah, Ibu?"
Perkataan Yuki membangunkanku dari lamunanku. Dan aku pun hanya bisa menangis sambil memeluk mereka. Maafkan ibu nak. Maaf. Maaf. Maaf. Ibu sudah tidak sanggup lagi. Maaf.
"Ibu…"
.
.
.
.
.
Keesokan harinya
"Anak-anak, Ayo kalian siap-siap. Hari ini kita akan pergi berlibur. Tapi hanya kita bertiga. Ayah… Ayah tidak bisa ikut karena ada urusan" Aku berbohong tentang Naruto. Maafkan ibu, ibu perlu berpikir jernih.
"Ibu…" Yuki menatapku. Semburan ragu terlihat dimatanya. Sepertinya dia tahu bahwa aku berbohong padanya. Ya, dia tahu itu.
"Yuki sayang. Ayah benar-benar sibuk. Kemarin saja ayah tidak pulang, itu tandanya ayah benar-benar sibuk Sayang. Nanti kalau urusan ayah sudah selesai, ayah pasti akan menyusul kita."
"Baiklah. Ibu, kita mau pergi kemana?"
"Kita akan pergi ke Pulau Jeju Sayang"
"Wah, itu jauh sekali ibu."
"Iya, tapi disana pemandangannya bagus sekali. Yuki dan Tora pasti menyukainya."
"Benarkah Ibu?" Yuki terlihat senang sekali mengetahuinya.
"Iya, Ibu tidak bohong. Kita akan berada disana selama 3 hari."
"Asik!"
Aku perlu waktu untuk memikirkan ini semua. Apa yang kulakukan selama ini benar. Aku perlu waktu untuk memikirkan ini semua. Tentang hubunganku dengan Naruto. Tentang keluargaku.
.
.
.
.
.
Naruto POV
"Hinata, bisakah kita bertemu hari ini?"
"Oh, kebetulan Naruto. Ada sesuatu hal yang ingin aku berutahukan kepadamu."
"Baguslah kalu begitu. Kita bertemu di tempat biasa ya."
"Tentu. Sampai jumpa Naruto."
"Sampai jumpa."
Aku tahu ini salah, tetapi aku tidak bisa membohongi hatiku. Aku mencintai Sakura, tetapi aku juga mencintai Hinata. Aku tahu aku sudah mempunyai Sakura sebagai istriku, tetapi aku juga mencintai Hinata. Aku tahu bahwa aku salah telah membohongi Sakura berkali-kali hanya untuk bertemu dengan Hinata. Tetapi mau bagaimana lagi. Aku terlanjur menyukai Hinata.
Salahkah aku? Salahkah aku mencintai dua orang. Aku menginginkan mereka berdua. Aku tahu aku egois, tetapi mau bagaimana lagi. Hati ini terlanjur jatuh cinta kepada dua orang.
Sakura, aku tahu dia pasti hatinya sakit sekali mengetahuinya. Maafkan aku Sakura. Maaf…
.
.
.
.
.
"Naruto." Hinata melambai ke arahku. Tunggu siapa laki-laki disampingnya. Siapa laki-laki itu? Dia terlihat akrab sekali dengan Hinata.
"Naruto. Kau lama sekali. Aku pikir kau tidak datang."
"Oh. Uh, maaf Hinata. Tadi aku ada sedikit urusan."
"Tidak apa-apa. Oh, iya Naruto. Uhm..aku ingin…uhm…mengenalkanmu dengan…uhm...seseorang."
Aku bisa melihat wajah Hinata berubah merah. Sepertinya dia malu sekali dengan perkataannya.
"Uhm…perkenalkan…ini Neji…tunanganku."
Tunggu dulu. Apa ini. Tunangan? Apa aku salah dengar?
"Tu..tunangan?"
"Iya."
"Hai, namaku Neji. Aku sering mendengarmu dari Hinata. Kalian adalah sahabat yang sangat dekat. Aku senang ada yang menjaga Hinata selagi aku pergi."
"Uh..pergi. maksudmu?"
"Iya Naruto. Aku baru bisa mengenalkanmu dengan Neji sekarang karena Neji adalah seorang nahkoda kapal. Jadi kami jarang bertemu. Tapi hari ini dia memutuskan untuk berhenti dan akan menemaniku bekerja di perusahaan. Kau tahu aku senang sekali. Ehehe."
"Uh...Oh…Pa...pantas saja. Hinata kau jahat sekali. Aku ini temanmu kan." Aku mencoba marah kepada Hinata untuk menutupi hatiku yang sakit ini.
"Maafkan aku Naruto. Habis, Neji sibuk terus sih. Huh."
"Aigoo…Hinataku sayang marah. Lucunya Hinataku sayang kalau sedang marah." Neji pun mencium pipi Hinata. Dan tentu saja wajah Hinata berubah menjadi merah semerah tomat.
"Ne…Neji."
"Oh, Iya Naruto. Kemarin waktu aku ada dirumah sakit untuk menjengukmu aku bertemu dengan Sakura. Dia cantik sekali. Kau beruntung Naruto mempunyai istri seperti Sakura."
Tunggu dulu. Apa? Hinata bertemu dengan Sakura. Kau pasti bercanda. Jangan-jangan Sakura melihat semuanya?
"Sakura?"
"Iya, kami sempat mengobrol sebentar. Tapi sepertinya dia habis menangis karena aku melihat matanya sedikit merah waktu itu. Makanya Naruto, kau jangan sakit. Kasiankan Sakura, dia sedih melihatmua berada di rumah sakit."
Sakura? Menangis? Seketika itu juga rasa bersalah yang sangat terlintas dibenakku. Apa yang telah aku lakukan. Sakura selama ini merawatku, mencintaiku dengan sepenuh hati. Tak peduli apa yang telah aku lakukan kepadanya, dia tetap mencintaiku. Dia tak pernah mengeluh padaku. Apa yang telah ku lakukan? Sakura maafkan aku.
"Naruto, kau baik-baik saja."
"Uh…aku baik-baik saja. Hinata aku harus pergi. Aku ada urusan penting. Hey, jangan lupa mengundangku di pesta pernikahan kalian. Neji jaga sahabatku baik-baik ya. Jangan sakiti dia."
"Tentu saja Naruto."
Saat itu juga aku langsung pulang ke rumah. Aku ingin minta maaf kepada Sakura. Tunggu dulu, lebih baik kalau aku memberinya hadiah. Uhm…apa ya. Ah…aku akan membelikannya cincin. Ya cincin denagn tulisan NaruSaku didalamnya.
.
.
.
.
.
"Sakura aku pulang."
Uh…dimana Sakura. Bisaanya dia akan menyambutku dengan ceria. Tapi dimana Sakura?
"Sakura? Sakura? Dimana kau Sakura?"
Tunggu dulu. Yuki dan Tora juga tidak ada. Dimana mereka?
"Sakura, Yuki, Tora dimana kalian?"
Aku mencari mereka di seluruh ruangan, tetapi tetap juga aku tidak bisa menemukan mereka. Dengan lemas aku menuju ke kamarku dan Sakura. Aku menemukan sepucuk surat dimeja.
To Naruto
Sepertinya kau tidak akan pernah menyadari betapa aku mencintaimu Naruto. Aku mencintaimu sejak kau menyelamatkan aku 6 tahun lalu. Aku tahu itu hanya kejadian yang sepele, tapi semenjak saat itu aku tahu kalau aku mulai mencintaimu Naruto.
Kau tahu aku senang sekali mengetahui kalau aku dijodohkan denganmu Naruto. Aku berteriak dikamar hingga aku dimarahi oleh ibuku. Aku pikir bahwa hari itu adalah hari terindahku. Aku akan menikah dengan seseorang yang telah lama aku cintai. Hari-hari kulalui dengan indah Naruto. Dan kehadiran Yuki dan Tora melengkapi kebahagiaanku. Aku pikir kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya. Aku terlalu mencintaimu Naruto, aku hanya bisa melihatmu. Aku bahkan tidak menyadari bahwa kau sedang melihat yang lain.
Hari demi hari aku terus berusaha untuk merebut cintamu kembali darinya. Hinata. Benarkan Naruto. Kau mencintai Hinata. Aku melihatnya Naruto. Tatapanmu ketika kau melihatnya berbeda dengan tatapanmu untukku Naruto. Sakit Naruto, Sakit. Apa kau tahu itu Naruto.
Setelah kejadian itu banyak pikiran terlintas dibenakku. Apakah Naruto masih mencintaiku? Apakah dia masih peduli denganku? Apakah dia menganggapku sebagai istrinya? Apakah Naruto pernah mencintaiku?
Katakan padaku Naruto apakah kau mencintaiku? Tidak apakah kau pernah mencintaiku Naruto? Sedikit Naruto. Walaupun sedikit, pernahkah kau mencintaiku Naruto?
Ketika aku pulang malam, ketika aku sedang sakit. Apakah kau akan merawatku Naruto. Jika aku tiba-tiba hilang Naruto karena aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, apakah kau akan mencariku Naruto? Apakah kau peduli denganku?
Maaf aku pergi membawa Yuki dan Tora tanpa memberitahumu kami pergi kemana dan kapan kami akan kembali. Atau mengkin kami tidak akan kembali. Aku tidak tahu itu Naruto. Ini semua terlalu sakit Naruto. Aku perlu waktu untuk menenangkan pikiranku kembali.
Sakura
Aku hanya bisa menangisi apa yang telah ku perbuat. Aku telah melukai Sakura. Sakura aku minta maaf Sakura. Maaf karena aku terlambat menyadarinya. Maafkan aku Sakura. Kembalilah Sakura, kembali padaku Sakura. Aku mencintaimu Sakura, aku membutuhkanmu Sakura. Kembalilah padaku Sakura.
TBC
Ternyata typo bisa jadi biasnya muncul lagi
Kompieku kadang mau ku makan kok kalo gini terus
Jadi saia ganti daja ya
Biar nggak typo lagi
Sudah lama sekali saia tidak mengupdate fic ini.
Saia sibuk dengan ujian ney
Sekarang saia sudah jadi mahasiswa.
Nyahaha. Ukh…masih merasa bersalah karena telat buanget update. Mana ficnya jadinya geje gini. Akh… Saia minta maaf sebesar besarnya. Oh…iya terpikir oleh saia untuk menulis fic tentang Super Junior ma KARA. Adakah yang suka?
Oh iya
Mending aku bikin happy ending ato sad ending?
Oh…iya mind to review?
