Title: Heartquake
Disclaimer:Masashi Kishimoto
Rating:T
Genre:Romance/Hurt/Comfort
Pairing:Naru/Saku.
.
.
.
.
.
Maaf baru bisa update kali ini soalnya baru-baru ini saia baru sakit dan masih sakit.
Terima kasih untuk adik saia tercinta yang sudah menulari virusnya dengan indah kepada saia.
Masih bingung mau menggunakan kata "kamu" ato "kau". Bagusan yang mana ea? Kadang tuh saia nulis "kamu" terus ganti sendiri jadi "kau" ato sebaliknya.
Mau nulis fic baru tentang Naru/Saku tapi takut hiatus lama banget soalnya udah mau masuk kuliah. Ya sebenernya sih masih Agustus, tapi kan tetep ja, aku takut hiatus lama lagi. Terus update fic tahun depannya lagi. Parah banget!
Nah, benerkan. Belum selesai masalah "kamu" "kau" malah nambah lagi "saia" aku"
Haish. .Menyebalkan. Ya sudahlah. Balik ke cerita aja yah ^^
.
.
.
.
.
Heartquake
Keesokan harinya
Naruto memutuskan untuk bangun pagi hari dan mencari tempat tinggal anak yang dia temui kemarin. Entah itu benar Tora anaknya atau bukan. Yang paling penting Naruto harus menemukan jawaban atas pertanyaa yang terus menghantuinya.
Masihkah Sakura mencintainya?
Maukah Sakura kembali kepadanya bersama dengan Yuki dan Tora ke dalam kehidupannya lagi. Memulai hidup yang baru?
Siapakah laki-laki yang memanggil nama Tora kemarin?
Naruto tidak menanyakan kenapa Sakura lama sekali meninggalkannya karena dia tahu kalau ini semua adalah salahnya. Murni kesalahannya. Dia tidak bisa menyalahkan Sakura atas apa yang dia perbuat. Itu semua benar-benar manusiawi. Bukan salah Sakura jika dia pergi meninggalkan Naruto bersama dengan Yuki dan Tora dalam jangka waktu yang lama, sangat lama. Sakura sudah cukup kuat menghadapi apa yang telah Naruto pebuat kepadanya. Sangat kuat.
.
.
.
.
.
"Yah! Naruto kamu rapi sekali. Mau pergi kemana?" tanya Kiba yang masih malas-malasan untuk bangkit dari tempat tidurnya.
"Uh…Oh … Aku ada sedikit urusan." jawab Naruto seadanya.
"Bagaimana kamu bisa kau menjawab jika kamu ada urusan? Ini kan bukan Jepang, ini Pulau Jeju! Bagaimana bisa kau punya urusan di sini?" tanya Shikamaru yang tahu bahwa Naruto sedang berbohong terhadap mereka semua.
"Uhm…sebenarnya aku sedang mencari seseorang." jawab Naruto dengan nada yang sedih.
"Kamu mengenal orang disini Naruto? Bukannya kamu bilang kamu baru pertama kali datang ke sini? Bagaimana bisa kamu mengenal orang disini?" tanya Chouji dengan penuh rasa penasaran.
"Aku memang baru pertama kali datang kesini. Kalian ingat kemarin aku pergi untuk jalan-jalan di sekitar sini? Sebenarnya…"
"Sebenarnya apa?" tanya Chouji dan Kiba serempak. Ingin tahu apa yang akan dikatakan Naruto selanjutnya.
"Tidak bisakah kalian sabar menunggu Naruto melanjutkan kalimatnya?" jawab Neji sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya melihat tingkah Chouji dan Kiba yang kekanak-kanakan.
"Maaf."
"Baiklah Naruto ceritakan kepada kami apa saja yang kamu lakukan kemarin. Aku tahu ada yang tidak beres denganmu sejak kamu kembali dari jalan-jalanmu kemarin." tanya Shikamaru yang merasakan hal yang aneh sejak Naruto pulang dari berjalan-jalan kemarin.
"Sebenarnya kemarin aku bertemu dengan anakku, Tora." jawab Naruto dengan nada yang lebih sedih dari sebelumnya.
"APA?" semua orang terlihat kaget dengan jawaban Naruto.
"Bagaimana bisa kamu bertemu dengan Tora?"
"Apa saja yang kamu lakukan?"
"Bagaimana kamu tahu kalau itu Tora anakmu?"
"Kamu tidak bercandakan Naruto?"
Semua orang melemparkan pertanyaan kepada Naruto tanpa henti. Tentu saja, ini adalah berita yang mengejutkan bagi mereka semua. Setelah lima tahun berpisah dengan Sakura dan anaknya, kali ini Naruto dapat bertemu dengan salah satu anaknya. Tora.
"Teman-teman tunggu dulu. Biarkan aku menceritakan ini semua." Naruto yang terlihat sedukit panik dengan reaksi teman-temannya yang sedikit berlebihan.
"Baiklah. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kemarin."
"Sewaktu aku jalan-jalan kemarin aku tidak sengaja menabrak seorang anak. Mata anak itu berwarna emerald green. Mirip sekali dengan warna mata sakura. Dan aku pun mulai mengobrol dengan anak itu. Entah mengapa rasanya nyaman sekali ketika aku mengobrol dengan anak itu. Seperti sedang mengobrol dengan anakku sendiri. Rasanya jantungku berdebar cepat sekali. Semuanya mengalir begitu saja. Caranya tersenyum benar-benar mirip dengan Sakura. Anak itu benar-benar mengingatkanku dengan Sakura."
"Tunggu dulu, bagaimana kamu bisa yakin kalau anak itu adalah Tora anakmu hanya karena matanya dan caranya tersenyum sama dengan Sakura." tanya Kiba.
"Aku belum selesai cerita."
"Oh… Maaf. Ayo, lanjutkan ceritamu Naruto."
"Anak itu tahu bahwa aku adalah salah satu turis di tempat ini. Tentu saja aku bertanya kepadanya apakah dia tinggal disini dan dia menjawab iya. Dia menjawab bahwa dia tinggal bersama dengan ibu dan kakaknya. Tentu saja aku bertanya dimana ayahnya. Dia menjawab dia tidak tahu karena ibunya berkata padanya bahwa ibunya ingin tinggal bersama dengan mereka berdua tanpa ayahnya untuk sementara."
"Anak itu mengatakan itu semua?"
Naruto hanya bisa mengangguk pelan lalu melanjutkan ceritanya.
"Lalu anak itu pergi dan saat anak itu pergi…"
Naruto menelan ludahnya mengingat laki-laki yang memanggil anaknya kemarin.
"Saat anak itu pergi ada seorang laki-laki yang memanggil namanya. Tora Uzumaki." Naruto mengakhiri ceritanya dengan nada yang sedih.
"Jadi anak itu adalah anakmu naruto?" anya Chouji.
"Aku belum tahu pasti. Maka dari itu aku ingin mencari tempat tinggal anak itu selagi kita masih berada di tempat ini." jawab Naruto dengan lirih.
"Naruto, siapa laki-laki itu?" tanya Kiba.
Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemas. Hatinya terasa sakit jika mengingat laki-laki tersebut. Bagaimana jika apa yang selama ini Naruto takuti terjadi?
"Teman-teman biarkan Naruto menyelesaikan masalahnya sendiri. Selamat berjuang Naruto. Tabahkan hatimu. Masih ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Apapun yang akan terjadi, kami semua akan disini untuk menemanimu apapun yang terjadi. tidak usah takut." jawab Neji sambil menepuk pundak Naruto.
"Terima kasih teman-teman."
"Er… Naruto. Sebenarnya ada kabar buruk. Uhm… liburan kita ternyata hanya dua hari. Jadi nanti sore kita sudah harus pulang. Maafkan aku Naruto." kata Kiba dengan rasa bersalah.
Deg
Apa? Berarti aku hanya mempunyai waktu hari ini juga untuk mencari anakku? Kalau begitu aku harus bergegas. Kalau tidak hilang sudah semua kesempatanku untuk bertemu dengan Sakura.
Naruto menarik nafas dengan berat dan menghembuskannya. Neji benar, masih banyak kemungkinan yang akan terjadi. Entah itu baik atau buruk. Yang harus Naruto lakukan sekarang adalah mencari kebenaran.
Naruto mengumpulkan segala keberaniannya untuk mulai mencari tempat tinggal anak yang ia temui kemarin. Naruto pun melangkah meninggalkan hotel tempat mereka menginap.
.
.
.
.
.
"Maaf apakah Anda tahu tempat tinggal anak yang bernama Tora Uzumaki?" Naruto bertanya kepada salah satu orang yang berada di taman.
"Maaf saya adalah orang baru disini, jadi saya tidak begitu tahu orang yang tinggal disini." jawab orang itu.
"Terima kasih."
"Permisi. Apakah Anda tagu tempat tinggal anak yang bernama Tora Uzumaki?" Naruto bertanya kepada salah satu pedagang souvenir disana.
"Wah, saya tidak tahu. Maaf,"
"Terima kasih."
Sudah banyak orang yang Naruto tanya tentang tempat tinggal anak itu. tapi tak satu pun juga yang mengetahuinya. Naruto melirik jam yang ada ditangannya. Sekarang sudah jam satu siang. Pukul tiga nanti Naruto sudah harus check out dari hotel. Dia tidak mempunyai banyak waktu lagi. Tapi dia tidak tahu harus pergi kemana lagi. Sepertinya dia sudah bertanya kepada hampir semua orang yang tinggal disini, tetapi tidak ada orang yang mengetahui tempat tinggal Sakura.
Groar
Perut Naruto berbunyi. Dari tadi pagi Naruto tidak sarapan karena dia ingin segera mencari tempat tinggal Sakura. Rasanya Naruto lapar sekali, tetapi dia tidak mau membuang buang waktu yang tersisa atau dia akan menyesalinya seumur hidup karena dia tidak bisa menemukan mereka.
Naruto melangkah dengan gontai. Wajahnya terlihat pucat dan lemas. Sedari kemarin dia tidak bisa tidur karena memikirkan peristiwa kemarin. Naruto terus saja memikirkannya. Dan sampai saat ini Naruto belum makan sama sekali. Walaupun kemarin Neji mengajak Naruto dan teman-temannya untuk makan di restoran yang bisa dibilang mewah, Naruto hanya memakan sedikit hidangan. Tentu saja ini membuat teman-temannya khawatir, tetapi Naruto berbohong mengatakan bahwa dia tidak lapar.
Naruto melihat ada seorang ibu yang sedang menyiram bunga di taman depan rumahnya.
"Permisi. Apakah Anda tahu rumah Tora Uzumaki?"
"Wah, saya sudah lama tinggal disini tetapi tidak pernah mendengar nama itu. Maaf."
Naruto benar-benar sudah putus asa dan ingin meninggalkan tempat itu. Tetapi terlintas sesuatu di pikirannya.
"Sakura." gumam Naruto.
"Sakura… Sakura Haruno. Apakah Anda mengetahui tempat tinggal Sakura Haruno." tanya Naruto sebelum ibu tersebut kembali menyirami bunganya.
"Oh… Sakura ya. Kalau itu saya tahu. Rumahnya ada di dekat sini. Anda tinggal lurus lalu belok ke kanan. Rumah yang berwarna pink itu adalah rumah Sakura." jawab ibu tersebut dengan seulas senyum di wajahnya.
"Apakah Sakura sudah mempunyai anak." tanya Naruto.
"Iya sudah, dua orang malah. Perempuan dan laki-laki. Namanya Yuki Haruno dan Tora Haruno."
Pantas saja dari tadi Naruto mencari tempat tinggal Tora Uzumaki tidak ada orang yang mengetahui. Tapi, Yuki Haruno dan Tora Haruno? Mengapa bukan Yuki Uzumaki dan Tora Uzumaki? Apakah Sakura benar-benar sudah melupakan Naruto. Tapi mengapa laki-laki itu memanggil Tora Uzumaki? Apa sebenarnya yang telah terjadi? Naruto benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi. terlalu banyak pertanyaan di dalam pikirannya.
"Kalau boleh tahu Anda ini siapanya Sakura."
Saya adalah suami Sakura.
Itu yang ingin dikatakan Naruto. Tetapi dia tidak mengatakannya. Naruto malah menjawab dengan.
"Saya adalah teman lama Sakura. Kami dulu dekat sekali. Sangat dekat."
"Oh…"
"Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih atas infonya."
"Sama-sama."
Naruto pun melangkah pergi dari tempat itu. pergi menuju alamat yang diberikan kepadanya.
Tunggu dulu. Kenapa aku tadi tidak bertanya siapa laki-laki itu kepada ibu tadi. Akh… Naruto kau bodoh sekali!
Naruto semakin mempercapat langkahnya menuju rumah tempat tinggal Sakura dan anak-anak mereka. Dia sudah sangat merindukan mereka semua. Rasanya ingin cepat-cepat bertemu dengan mereka. Ingin cepat bertemu dengan Sakura. Naruto pun berlari menuju rumah itu.
Dan disinilah Naruto. Tepat di depan rumah yang ia tuju. Rumah itu tidak begitu besar juga tidak begitu kecil. Ada taman di depan rumahnya dan ayunan tempat bermain anak-anak. Ada juga kolam ikan dan bangku kecil di depannya. Hampir sama dengan rumah tempat ia tinggal. Hanya saja lebih kecil.
Ding dong
"Permisi."
Naruto menunggu jawaban dari sang pemilik rumah tetapi tidak juga ada jawaban. Naruto pun memencet bel sekali lagi.
Ding Dong
"Permisi. Apakah ada orang di rumah?"
Tidak ada jawaban.
Mungkin mereka sedang pergi. Sebaiknya aku menunggu mereka saja.
.
.
.
.
.
30 menit kemudian.
Sudah setenagh jam Naruto menunggu mereka. Akhirnya Naruto memutuskan untuk memencet bel sekali lagi. Siapa tahu mereka tertidur di dalam rumah.
Ding Dong
"Permisi."
"Anda mecari keluarga Haruno ya?" tanya seorang ibu-ibu kepada Naruto.
"Iya. Apakah Anda tahu sekarang mereka ada dimana?"
"Sayang sekali. Keluarga Haruno baru saja pergi."
"Pergi?"
"Iya. Katanya mereka mau pindah dari rumah ini dan pergi ke tempat lain."
Seperti ada petir yang menyambar diri Naruto. Jantungnya berdetak cepat tidak beraturan.
"Pi… Pindah? Ap… Apakah Anda tahu mereka pindah kemana?" tanya Naruto yang sedikit terbata-bata.
"Wah, kalau itu saya kurang tahu."
Laki-laki itu.
"Apakah Anda tahu laki-laki dengan rambut hitam dan mata berwarna onyx?" tanya Naruto. Sekarang jantungnya berdetak lebih cepat. Rasanya jantungnya ingin keluar dari tubuhnya karena berdetak terlalu cepat.
"Oh, Sasuke ya. Dia adalah sahabat dekat Sakura. Dia baik sekali. Dia juga menyayangi anak-anak Sakura seperti anaknya sendiri. Dan yang saya dengar Sasuke baru saja melamar Sakura."
Deg
Hati Naruto sakit sekali. Rasanya hatinya hancur berkeping-keping lalu hatinya dikeluarkan dari tubuhnya dan di lemparkan ke atas batu hanya untuk menghancurkannya menjadi kepingan yang lebih kecil lagi.
"Me… Mela… Melamar?"
"Iya. Tetapi saya tidak tahu Sakura menerimanya atau tidak. Tetapi mungkin Sakura menerimanya karena mereka baru saja pindah tadi siang. Mungkin mereka pindah ke kampung halaman Sasuke."
"Terima kasih atas infonya. Permisi."
"Sama-sama."
Rasanya Naruto sudah tidak bernyawa lagi. Apa yang selama ini Naruto takuti terjadi. Sakura meninggalkannya. Naruto benar-benar tidak bisa tahan menghadapi ini semua. Badannya lemas sekali. Kakinya sudah terlalu lemas untuk menopang tubuhnya. Naruto terduduk lemas di depan rumah Sakura. Menangis sejadi-jadinya hingga ia sudah tidak mempunyai air mata lagi untuk dikeluarkan. Ini adalah mimpi buruk. Benar-benar mimpi buruk. Naruto berharap ada seseorang yang segera membangunkannya dari mimpi buruknya.
Padahal dia sudah merencanakan untuk meminta Sakura untuk kembali kepadanya bersama dengan Yuki dan Tora. Berlutut kepadanya agar Sakura mau kembali padanya. Jika Sakura tetap tidak mau, dia akan menculik Sakura beserta Yuki dan Tora kembali ke Jepang. Memulai hidup baru.
Tetapi itu semua hanya terjadi dipikiran Naruto. Kini semua telah hilang. Musnah sudah semua harapan Naruto. Yang bisa Naruto lakukan sekarang hanya menyesali perbuatannya dan menangis walaupun ia tahu itu tidak akan mengembalikan Sakura kesisinya.
~TBC~
Ukh… maaf ya chapter jadi kayak gini.
Benar-benar tidak tahu harus menulis apa T_T
Kok kayaknya judul sama ceritanya nggak nyambung ya?
Menulis cerita ini sambil mendengarkan suar KRY
Ya Allah suara mereka kok bagus banget, Im melting
Semoga tidak terlalu mengacewakan (walaupun saya sendiri kecewa sama fic ini)
Mind to Read and review?
Saya butuh RnR sekarang biar ni fic jadi lebih bagus
