Title: I' am

Disclaimer:Masashi Kishimoto

Rating:T

Genre:Romance/Hurt/Comfort

Pairing:Naru/Saku, Sasu/Saku

.

.

.

.

.

Terima kasih buat review dan sarannya

Mulai sekarang saia (formal maksudnya) bakalan pake "aku" sama "kau"

Decided ^^

Makasih banyak ea semuanya ^^

Sebenernya aku pengen nulis chapter yang panjang, tapi aku males banget buat ngeliat ulang buat benerin typo

Terima kasih buat saran and kritiknya

Maklum ini baru pertama kalinya saia nulis fic

Jadi ea beginilah jadinya

A total fail T_T

Padahal lho di tempat laen ini udah panjang lho

Geeeeezzzzzzzzzz

Buat yang secara tidak sengaja saia buat nangis ato hampir nangis gara-gara fic ini saia hanya bisa minta maaf

Soalnya bukan taget saia buat bikin kalian semua nangis

Cuma pengen nge-share cerita aja

Tolong jangan nangis ea ^^ soalnya kalo liat orang nangis saia jadi ikutan nangis *parah*

Santai saja, seperti janji saia ini bakalan happy ending

Bakalan nulis fic lagi

Ntar lo udah selesai nulis fic-nya saia posting deh soalnya kan udah mau kuliah nih, takut hiatus

Mungkin fic-nya saia update satu minggu sekali

Mohon dukungannya *bow*

.

.

.

.

.

I' am

Naruto berjalan dengan langkah gontai dan mata yang sembab karena terlalu banyak menangis. Dia tidak peduli dengan apa kata orang-orang tentang dia karena dia benar-benar tidak peduli. Naruto memutuskan untuk kembali ke hotel dengan taksi karena sudah tidak banyak waktu yang tersisa untuk berjalan. Sekarang sudah pukul dua lebih lima puluh menit. Dia pun menangis di dalam taksi sepanjang perjalanan dan sopir taksi pun tidak menanyakan mengapa Naruto menangis karena ia tahu kalau itu adalah urusan pribadi seseorang. Apalagi Naruto seorang laki-laki yang notabene sulit untuk menangis. Jadi jika Naruto sampai menangis selama itu, itu berarti bahwa Naruto benar-benar telah mengalami kejadian yang sangat buruk atau mungkin menyedihkan.

"Sakura, maafkan aku. Kembalilah padaku Sakura, aku membutuhkanmu dan anak-anak kita."

"Sakura…"

"Sakura…"

Kata-kata itulah yang terus diucapkan Naruto didalam taksi sambil menangis tanpa henti. Dan sepertinya sopir taksi itu pun mengerti alasan mangapa Naruto menangis.

.

.

.

.

.

Klek

Naruto membuka gagang pintu hotel dengan lemas. Dia merasa bahwa dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk hidup. Dia merasa bahwa tubuhnya masih hidup, tetapi pikirannya sudah mati. Semua terasa sangat suram. Seperti sudah tidak ada lagi cahaya di dalam hidupnya. Tidak ada lagi keceriaaan dalam hidup Naruto. Pelangi pun terlihat sangat suram dan berwarna abu-abu. Rasanya ingin mati saja.

"Ya Tuhan! Apa yang terjadi padamu Naruto?" tanya Kiba yang kaget sekaligus panik melihat keadaan sahabatnya yang terlihat seperti mayat hidup. Pucat dan tidak bernyawa, itulah keadaan Naruto sekarang di mata Kiba.

"Naruto, apa yang telah terjadi? Apakah kau menemukan Sakura dan anak-anakmu tinggal?" tanya Chouji yang langsung berhenti memakan snak setelah melihat keadaan Naruto yang begitu menyedihkan. Dia sungguh tidak tega melihat Naruto. Selama ini Naruto selalu tersenyum riang dan tidak pernah sekalipun ia terlihat sedih. Dia selalu tertawa dan terlihat begitu bahagia. Tapi sekarang yang ada di hadapannya adalah Naruto yang belum pernah sekalipun ia lihat sebelumnya. Dia begitu. Ah… tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan keadaan Naruto sekarang di hati Chouji.

"Naruto ceritakan apa yang terjadi kepadamu. Kita kan sahabat, dan kami akan selalu ada disisimu. Ceritakanlah semuanya Naruto. Itu akan membuatmu sedikit lega." kata Neji walaupun dia sendiri sudah tahu jawabannya.

Naruto kehilangan Sakura

Naruto hanya bisa menangis melihat sahabatnya seperti ini. Disatu sisi ia merasa bersalah karena sudah membuat sahabat-sahabatnya khawatir, disisi lain ia benar-benar sudah tidak tahan lagi terhadap ini semua. Selama ini ia telah berbohong terhadap semua sahabatnya. Ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tetapi didalam hati dia sangat rapuh. Tiupan angin pun bisa merapuhkannya. Dia tidak pernah merasa serapuh ini setelah Sakura dan anak-anaknya pergi meninggalkan ia sendiri. Semua senyum dan tawa yang selama ini Naruto berikan kepada semua orang hanyalah topeng untuk menutupi semua kesedihannya. Semua itu hanyalah palsu.

"Ak..aku kehil..langan..Sak…kura."

"A…ku…kehila..ngan..Sak..ura..unt…tuk…sel…lam…manya…" Naruto mengatakan kepada sahabat-sahabatnya sambil masih terisak.

"Apa maksudmu dengan selamanya Naruto? Apakah Sakura sudah meninggal? tanya Kiba yang langsung mendapat pukulan dikepala oleh Neji.

"Maaf. Bukan maksudku untuk mengatakannya."

Naruto hanya bisa menggeleng dengan pelan.

"Apa maksudmu Naruto. Apa maksudmu dengan kehilang Sakura untuk selamanya?" tanya Shakamaru.

Naruto yang sudah mulai bisa tenang dan berbicara lancar pun mulai bercerita kepada sahabat-sahabatnya.

"Sebenarnya tadi aku telah berhasil menemukan rumah tempat tinggal Sakura dan anak-anakku." Naruto mengatakaanya dengan nada yang begitu sedih.

"Benarkah!" Kiba memulai kebiasaan menyela pembicaraan orang sekali lagi dan mendapatkan pukulan dikepala dari Neii sekali lagi.

"Ouch, maaf Naruto. Lalu kenapa kau terlihat sedih sekali? Apakah hal buruk telah terjadi pada Sakura dan anak-anakmu?" tanya Kiba dengan nada perhatian.

Naruto menggelengkan kepalanya sekali lagi.

Kiba, Chouji, Neji, dan Shikamaru benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Naruto. Dia berhasil menemukan tempat tinggal Sakura dan anak-anaknya dan tidak ada hal buruk yang terjadi kepada Sakura ataupun anak-anaknya. Lalu mengapa Naruto terlihat seperti ini? Apakah Sakura tidak mau kembali kepadanya? Mereka semua berharap itu tidak terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Mereka semua tidak mau melihat Naruto yang selalu ceria menjadi murung seperti ini.

"Aku terlambat." jawab Naruto yang sudah mulai menangis lagi.

"Apa maksudmu dengan terlambat Naruto?" kali ini Shikamaru yang bertanya kepada Naruto.

"Aku terlambat." Naruto mengulangi kata-katanya.

"Apa maksudmu Naruto, kami tidak mengerti sama sekali." tanya Chouji yang terlihat bingung dengan situasi ini.

"Sakura."

"Sakura telah dilamar orang lain dan sekarang mereka telah pergi dari pulau Jeju. Dan aku tidak tahu mereka pergi kemana." dengan ini Naruto mulai menangis tak terkendali.

"APA!" Kiba, Chouji, Neji, dan Shikamaru berteriak bersamaan mendengar apa yang telah Naruto katakan. Mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah Naruto katakan. Ini semua terlalu sulit untuk dipercaya.

"Naruto, kau tidak bercandakan? Ini semua tidak lucu Naruto." kata Kiba sambil mengoncang-goncangkan tubuh Naruto.

Dan Naruto pun menggelengkan kepalanya sekali lagi. Ingin sekali ia mengangguk dan mengatakan bahwa ia hanya bercanda, tapi kenyataan berkata lain.

"Naruto, apakah kau percaya pada takdir?" Neji mulai berbicara kepada Naruto sambil berusaha untuk menenangkan sahabatnya.

"Uh?" Naruto pun menolehkan kepalanya kearah Neji.

"Apa maksudmu Neji?" kata Naruto yang sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Neji.

"Jika kau berpikir bahwa Sakura diciptakan untukmu. Relakanlah dia. Jika Sakura kembali ke sisimu, itu berarti dia milikmu, tetapi jika Sakura tidak kembali itu berarti dari awal memang Sakura diciptakan bukan untukmu." Neji mengatakannya kepada Naruto.

"Mungkin kau benar Neji. Tapi rasanya sakit Neji."

Neji hanya bisa mengangguk mendengar jawaban Naruto, dia pun mungkin akan merasakan hal yang sama dengan Naruto jika dia kehilangan Hinata.

"Ini sakit Neji. Sakit sekali."

Neji mendekati Naruto lalu memeluknya. Membiarkan Naruto menangis di pelukannya. Neji menutup matanya dan tanpa ia sadari air mata jatuh dari pelupuk matanya.

.

.

.

.

.

Di sepanjang perjalanan pulang ke Jepang Naruto hanya diam saja dan melihat keluar jendela pesawat. Sahabat-sahabatnya tidak berani mengajaknya berbicara setelah mengetahui keadaan Naruto. Apa yang dia butuhkan saat ini adalah waktu untuk sendiri.

Naruto hanya melihat keluar jendela. Memikirkan apa yang akan ia lakukan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sesaat lalu ia berpikir bisa kembali bersama keluarganya yang telah lama ia rindukan. Naruto mengingat kenangan lamanya bersama keluarganya. Naruto tahu bahwa mengingat semua kesedihan akan membuat kita bahagia, tetapi ia tidak tahu bahwa mengingat semua kebahagiaan akan membuat kita sedih.

Diam-diam Naruto mulai menangis didalam pesawat tanpa sepengetahuan orang-orang.

Aku bermimpi kau datang kembali padaku sambil membisikkan tiga kata itu ditelingaku. Sampai waktu itu tiba, aku akan selalu disini, menunggumu. Walaupun aku harus menunggumu untuk selamanya.

.

.

.

.

.

Naneun (I am) by KARA

I rewind the memories that I've had with you

Close my eyes shut and rewind them

In the loving days, I am smiling

But painful tears are flowing from my eyes

Even though I turn my head at your familiar scent

Even though it won't be, I am still looking for you

Maybe this is not my heart

Always, at this position, at this place

I wait for you but you don't come back

Only the cold memories

Your cold stare glances at me

I can't see the person that you and I loved

My heart that it's "what if", will you forget my voice?

My lips call out only our name

You were the person that was my whole life

I've figured that out now, but it doesn't matter anymore

I guess it really is the end

Always, at this position, at this place

I wait for you but you don't come back

Only the cold memories

Your cold stare glances at me

I can't see the person that you and I loved

Even though I lean my ear in (I don't hear you)

Even though I call out to you

It comes back as an echo

It keeps shaking me

(You don't know) How much it hurts

(You probably forgotten) Even all the memories

Even though I know

I can't turn back

Only the cold memories

Your cold stare glances at me

I can't see the person that you and I loved

Kriet

Naruto membuka pintu rumahnya dan meletakkan kopernya dilantai. Dia lalu menuju kamarnya. Dia sangat menyukai rumahnya karena ini adalah satu-satunya tenpat yang memberikannya rasa nyaman damai, tetapi ia juga membencinya karena dia hanya bisa merasakan rasa sepi dan dingin yang tiada tara setiap kali ia ada di rumah.

Naruto mengubah posisi tidurnya. Dia sekarang bisa melihat wallpaper mereka yang bergambar bunga sakura dengan latar langit biru. Naruto lalu menutup matanya mencoba untuk tidur karena selama ia berada di Pulau Jeju ia tidak bisa tidur. Dia menutup matanya dan Sakura pun datang kepadanya. Rambutnya yang pink, kulitnya yang lembut, aroma tubuh Sakura yang menenangkan Naruto, senyum Sakura yang selalu menghangatkan hati Naruto tiap kali ia melihat Sakura tersenyum. Naruto benar-benar merindukan Sakura. Naruto lalu memeluk dirinya sendiri sambil tetap menutup matanya. Ia takut jika ia membuka matanya ia akan kehilangan semua itu.

"Aku merindukanmu Sakura."

Naruto bergumam lirih.

"Aku mencintaimu Sakura, tetapi aku telah melukaimu."

"Aku berjanji kepadamu entah itu dalam kehidupan ini atau kehidupan yang lain cintaku hanyalah untukmu. Tak ada yang lain selain dirimu Sakura. Aku akan mencintaimu sekarang ataupun selamanya. Hatiku hanyalah untukmu seorang. Ini adalah janjiku untukmu Sakura"

Naruto pun menyadari satu hal. Tidak mudah untuk dua orang untuk bersama. Walaupun kau sudah menikah dengannya tetap saja apapun bisa terjadi dan pernikahan tidak bisa menjamin kebahagiaan di kehidupanmu. Dan dia belajar satu hal lagi: jangan pernah membiarkan kebahagiaan pergi dari tanganmu sekali kau mendapatkannya.

Naruto membuka handphonenya dan mebuka folder yang berisikan fotonya bersama Sakura serta Yuki dan Tora. Betapa indahnya masa-masa itu. ketika masih ada Sakura, Yuki, dan Tora di sisinya. Air mata Naruto pun jatuh. Naruto segera mengusapnya. Naruto menjelajahi kontak yang ada di dalam handphonenya dan berhenti tepat di namanya. My lovely wife.

"Aku merindukanmu Sakura."

.

.

.

.

.

"*Noona, Yuki noona. Tunggu aku. Noona!" kata Tora yang tengah mengejar kakanya yang sedang berlari-lari mengitari taman.

"Yah! Tora! Kita sedang ada di Jepang. Jadi kau tidak bisa memanggilku noona lagi." jelas Yuki yang tengah menghampiri adiknya yang terengah-enagh karena berlari cukup lama.

"Uh? Kenapa memangnya noona?" tanya Tora yang terlihat kebingungan.

"Tora adikku sayang. Kita sudah berada di negara yang berbeda, jadi jangan memanggilku dengan pangilan itu lagi, ya" jelas Yuki sambil mengelus tambut Tora. Yuki benar-benar sangat menyayangi adiknya.

"Tapi aku lebih suka memanggil noona." jawab Tora sambil memanyunkan bibirnya dan menyilangkan tangannya di depan dadanya.

Yuki hanya bisa tertawa melihat tingkah laku adiknya. Tora benar-benar menggemaskan!

"Baiklah. Kau boleh memanggilku noona. Tapi jangan sambil berteriak, ya. Tidak enak nanti didengar orang." jawab Yuki sambil tersenyum kepada adiknya.

"Ehehe. Gomawo noona."

"Tora, kita sedang berada di Jepang. Jadi katakan "Arigatou"."

"Tapi kan aku juga sedang belajar. Noona, kenapa noona bisa berbicara bahasa Jepang?" tanya Tora yang keheranan melihat kemampuan bahasa Jepang kakaknya.

"Uh"

"Setahuku noona tidak pernah les bahasa Jepang. Jadi bagaimana bisa noona bisa berbahasa Jepang selancar ini?"

"Uhm. Sebenarnya dulu sebelum kita pindah ke Pulau Jeju kita pernah tinggal disini… bersama ayah." jawab Yuki lirih ketika mengatakan kata "ayah".

"*Appa?"

Yuki hanya mengangguk.

"Noona tidak bercandakan?"

"Tidak. Noona tidak bercanda. Kita pernah tinggal disini bersama ibu dan ayah."

"Lalu mengapa ayah tidak ikut bersama kita untuk pindah ke Pulau Jeju, Noona? Apakah ayah marah kepada kita sehingga ayah tidak mau tinggal lagi bersama kita?"

"Noona tidak tahu." jawab Yuki. Tentu saja Yuki berbohong. Yuki tahu bahwa alasan mengapa Sakura pindah tanpa mengajak Naruto karena Sakura tidak mau tersakiti lagi. Yuki sudah terlalu sering melihat ibunya menangis. Yuki benar-benar tidak tega melihat ibunya menangis seperti itu. jadi ia mengiyakan ketika Sakura mengajaknya untuk tinggal di Pulau Jeju. Tapi, mengapa sekarang ibunya mengajak mereka kembali ke Jepang?

"Tapi noona. Hye Jin bilang kalau sppa membeci kita dan tidak menyayangi kita. Jadi appa tidak mau ikut bersama kita dan tinggal bersama kita." tanya Tora.

"Tentu saja tidak. Ayah tidak seperti itu. Percayalah pada noona." jawab Yuki sambil tersenyum untuk meyakinkan Tora.

"Baiklah. Aku percayamu pada noona. Oh, iya. Noona kemarin waktu kita masih ada di Pulau Jeju aku bertemu dengan ahjussi yang mirip sekali dengan noona. Bahkan warna matanya seperti mata noona. Aneh sekali kan."

"Uh."

"Benar noona. Ahjussi itu mirip sekali dengan noona. Aku tidak berbohong."

"Apa kau tahu nama ahjussi itu. Tunggu dulu. Tora kita sudah tidak tinggal di Pulau Jeju. Kita ada di Jepang."

"Ah… Aku lupa menanyakan nama ahjussi itu habis Sasuke ahjussi mengejarku, jadi aku kabur saja tanpa menanyakan nama ahjussi itu. Noona aku kan sedang belajar dan aku sudah terbiasa mengatakan ahjussi. Tidak seperti noona yang sudah lancar berbahasa Jepang. Ini benar-benar tidak adil!" sahut Tora sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya lagi.

"Ya sudah. Ayo kita pulang. Ibu pasti sudah mengkhawatirkan kita." jawab Yuki sambil menggandeng tangan adiknya.

Jangan-jangan orang itu ayah? Ah. Itu tidak mungkin. Ayahkan berada di Jepang. Walaupun orang itu mirip denganku tapi belum tentu itu adalah ayah. Aku harus berhenti memikirkannya. Tapi bagaimana jika itu adalah ayah? Aish. Aku harus benar-benar berhenti memikirkannya. Pikir Yuki dalam hatinya.

.

.

.

.

.

Aparmen Sakura

"Sakura." tanya Ino kepada Sakura.

"Ya Ino?" jawab Sakura sambil memotong sayuran yang akan mereka masak.

"Kau tahu Naruto tidak pernah membahas tentangmu lagi semenjak kau pergi. Sepertinya dia ingin menyimpan semuanya sendiri."

"Naruto pasti senang sekali setelah mengetahui bahwa aku pergi meninggalkannya bersama Yuki dan Tora. Dengan begitu dia bisa bersama dengan Hinata. Menikah dan memiliki anak." jawab Sakura dengan nada yang sinis.

"Sakura, kau tahu Naruto itu sangat mencintaimu Sakura. Mungkin dia memang terlambat menyadarinya, tetapi dia benar-benar mencintaimu Sakura. Aku juga tahu bahwa kau masih mencintanya. Kalian tidak bisa hidup terpisah satu sama lain."

Sakura memalingkan wajahnya dari pandangan Ino. Sakura menatap atap apartemennya.

"Sakura apa yang telah terjadi selama lima tahun ini biarkanlah berlalu. Mungkin Naruto telah melakukan kesalahan dengan mencintai Hinata. Tapi Naruto telah menyadarinya dan melupakan Hinata. Maafkanlah Naruto Sakura. Lima tahun hidup tanpamu sudah lebih dari cukup Sakura. Dia telah mendapatkan hukuman atas tindakannya. Aku sungguh tidak tega melihat keadaan Naruto. Di luar dia tertawa, tetapi aku tahu bahwa di dalam hatinya dia hancur Sakura. Dia sangat mencintaimu Sakura. Sakura kembalilah kepadanya." jawab Ino sambil memegang tangan Sakura.

"Aku tidak tahu Ino. Aku tidak tahu." jawab Sakura sambil menatap lantai.

"Sakura Naruto mencintaimu. Dan masih tetap mencintaimu. Jangan bilang kepadaku kalu kau sudah tidak mencintainya Sakura. Kau hanya akan membuat hati Naruto semakin hancur."

"Apakah Naruto…"

"Ya, Naruto masih tinggal di rumah kalian yang lama. Menunggu keluarganya untuk kembali bersamanya. Berkumpul lagi seperti dulu dan memulai lembaran baru."

"Aku tidak tahu Ino. Aku benar-benar tidak tahu. Di satu sisi aku merasa bersalah telah meninggalkannya. Rasanya aku ingin memutar ulang waktu sehingga aku tidak pergi meninggalkannya waktu itu. tapi jika mengingat kejadian waktu di rumah sakit itu hatiku rasanya sakit, Ino." Sakura meletakkan tangannya di depan dadanya dan mulai menangis.

Ino mendekati Sakura dan memeluknya.

"Kalau begitu lupakanlah kejadian itu Sakura. Ingatlah kejadian yang indah yang kalian berdua pernah alami daripada mengingat kejadian itu."

"Mungkin kau benar Ino. Terima kasih atas saranmu."

Sakura dan Ino melepas pelukan mereka.

"Jadi bagaimana Sakura. Apakah kau akan memaafkan Naruto dan kembali kepadanya?"

Sakura hanya bisa mengangkat bahunya dan Ino hanya bisa menghela nafasnya.

"Kalau begitu katakan padaku mengapa kau kembali ke Jepang?"

Belum sempat Sakura menjawab pertayaan Ino, Sasuke sudah datang menghampiri mereka berdua.

"Oh, hey Sakura. Kau pasti Ino, teman baik Sakura." sapa Sasuke.

"Uh. Iya, aku Ino, teman baik Sakura. Sakura siapa dia?" tanya Ino yang sedikit terganggu dengan kedatangan Sasuke.

"Kau belum megatakan pada temanmu kalau aku melamarmu, ya Sakura?"

~TBC~

Noona : Panggilan seorang laki-laki untuk perempuan yang lebih tua

Appa : ayah

Maaf lama update.

Author baru saja kena musibah jatuh dari tangga.

Jeez

Mana posenya nggak PW beud.

Tapi author sekarang sudah baikan.

Mind to RnR?