Title: Way for Love

Disclaimer:Masashi Kishimoto

Rating:T

Genre:Romance/Hurt/Comfort

Pairing:Naru/Saku, Sasu/Saku

.

.

.

.

.

OMO. .OMO

Aku diancam T_T

Maaf lo lama buat nemuin Naru ma Saku

Maaf *bow*

Aku jadi agak takut buat nulis nih

Huft. . .

Sempet ilang mood buat nulis dan pengen hiatus lagi

Jeeezzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Maaf lo aku update lama banget soalnya sibuk ngurus forum *ngeles*

Maaf banget telat update *crying*

Buat yang pengen Naruto ketemu ma Sakura sabar ea ^^

Bukan di chapter ini, tapi selanjutnya ^^

Maaf banget ea

Kira-kira masih ada 1-2 chapter lagi sebelum tamat (Insyaallah)

Tergantung otak author yang sekarang udah mulai kehabisan ide

Aku tahu ne fic ngebosenin banget, apalagi authornya T_T

Huft…

Oh iya, saia cuma janji happy ending kan, bukan janji Naru balikan ma Saku ^^ *author minta di bunuh*

Ehehehe ^^v

.

.

.

.

.

Way for Love

"Oh, hey Sakura. Kau pasti Ino, teman baik Sakura." sapa Sasuke.

"Uh. Iya, aku Ino, teman baik Sakura. Sakura siapa dia?" tanya Ino yang sedikit terganggu dengan kedatangan Sasuke.

"Kau belum mengatakan pada temanmu kalau aku melamarmu, ya Sakura?"

"APA!" Ino berteriak ke arah Saksuke.

"Hey, kau! Jangan bercanda, ya! Ini semua tidak lucu. Sakura, dia hanya bercandakan?" Ino menggoyang-goyangkan tubuh Sakura tidak percaya.

"Hahaha. Bagaimana, ya Ino." Sakura menggoda Ino yang terlihat lucu saat dia panik.

"Sakura." kata Ino yang benar-benar tidak sabar mendengarkan penjelasan Sakura.

"Sakura sayang. Kenapa kau belum memberitahu ke semua temanmu kalau aku melamarmu?" kata Sasuke yang ikut menggoda Ino.

"Yah! Kau diam saja!" bentak Ino yang mukanya sudah mulai memerah melihat tingkah Sasuke.

"Sayang kenapa kau diam saja?" kata Sasuke yang mulai mendekati Sakura dan memeluknya.

Sakura hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Sasuke dan Ino.

"Maafkan aku Sasuke. Aku belum memberitahu teman-temanku. Bahkan aku belum sempat memberitahu Ino yang notabene sahabat dekatku." jawab Sakura sambil tertawa kecil.

"Sakura, kau belum memberitahu teman-temanmu kalau aku melamarmu…" Sasuke berhenti sejenak.

"Dan kau menolakku, Sakura." lanjut Sasuke.

"Eh? Apa maksudmu er Sas… Sasika… Sasuke?" tanya Ino yang semakin bingung.

Sakura dan Sasuke hanya bisa tertawa melihat Ino yang kebingungan seperti itu.

"Yah! Kalian berdua mengapa malah menertawakanku!" bentak Ino yang tidak suka jika ia dibuat bingung seperti ini.

"Hahahaha... Maafkan kami Ino. Tapi mukamu lucu sekali kalau kau sedang kebingungan seperti itu. ya kan, Sasuke."

"Iya. Hahahahaha. Perutku sakit sekali. Hahahahaha." kata Sasuke yang belum bisa berhenti tertawa.

"Huh."

"Baiklah Ino yang cantik akan aku jelaskan semuanya. Sewaktu kami berada di Pulau Jeju, Sasuke memang melamarku. Tapi seperti yang Sasuke katakan tadi aku menolaknya." jelas Sakura kepada Ino.

"Sakura kau jahat sekali. Padahal aku sudah membawamu ke candle light dinner di restoran yang mewah dan menyiapkan semuanya hanya untuk melamarmu. Tapi kenapa kau menolakku Sakura. Kau jahat sekali." kata Sasuke yang berpura-pura marah kepada Sakura padahal ia tahu kalau ia tidak bisa marah kepada Sakura. Ia akan melakukan semua hal agar Sakura bahagia.

"Ahaha. Maafkan aku Sasuke kau baik sekali padaku dan anak-anakku tapi tetap saja aku tidak bisa menerimamu."

"Huft, aku membencimu Sakura."

"Ahahaha. Benarkah?"

"Tidak."

"Aku tahu kau tidak bisa marah kepadaku Sasuke. Terima kasih atas semuanya." kata Sakura dengan tulus.

"Tapi berjanjilah padaku kalau kau akan bahagia bersamanya. Kalau kau tidak merasa bahagia, kembalilah padaku Sakura." kata Sasuke sambil menatap lurus ke arah mata Sakura.

"Ehm. Halo kalian berdua aku juga berada di sini." kata Ino yang sedikit jengkel karena merasa tidak dianggap.

"Maafkan kami Ino." kata Sakura.

"Yah kau Sasuke! Apa maksudmu dengan berbahagia dengannya?"

"Apakah kau tidak bisa bersikap sopan kepadaku Ino?"

"Tidak akan! Sekarang jawab pertanyaanku tadi."

"Menyebalkan sekali. Sakura bagaimana bisa kau tahan dengan orang seperri dia?" ledek sasuke.

"Kau!" bentak Ino.

"Kalian berdua bertingkah seperti anak kecil saja. Ino, Sasuke kalian bukan anak kecil lagikan." lerai Sakura.

"Sakura apa maksud Sasuke dengan berbahagia dengannya? Siapa dia Sakura?"

"Uh, aku belum tahu pasti Ino. Biarkan waktu menjawabnya." jawab Sakura.

Ino semakin bingung dengan jawaban Sakura.

.

.

.

.

.

"Noona, aku mau pergi membeli snack. Ayo temani aku." pinta Tora kepada Yuki.

"Tora, kau kan baru saja makan siang. Kau masih lapar?"

Tora hanya mengangguk pelan.

"Noona ayo temani aku."

"Tora sayang, aku sedang mengerjakan PR. Nanti saja ya." jelas Yuki.

"Tapi aku mau membeli snack sekarang."

"Tora."

"Noona."

"Baiklah kalau begitu. Tapi jangan lama-lama ya." Yuki akhirnya mengalah, tidak tega melihat adiknya memohon dari tadi.

"Asik! Ayo noona kita berangkat."

Yuki hanya bisa menghela nafasnya melihat adiknya.

"Noona, dimana tokonya?"

"Tokonya ada di dekat aparteman kita, hanya sekitar 10 meter. Jadi ibu membolehkan kita pergi berdua."

"Oh. Kalau begitu ayo cepat kita pergi, Noona."

.

.

.

.

.

"Noona, noona aku ingin membeli itu. Ah itu juga. Itu juga, Noona." Tora terlihat senang sekali melihat semua makanan kesukaannya.

"Tora, kita tidak boleh membeli terlalu banyak makanan. Nanti ibu marah kepada kita."

"Baiklah kalau begitu." kata Tora yang terlihat sedikit kecewa.

"Tunggu disini sebentar, ya. Noona ingin membeli pesanan ibu dulu. Atau kau mau ikut dengan noona?"

"Tidak mau. Capek. Aku mau menunggu disini saja. Tapi noona jangan lama-lama, ya."

"Baiklah kalau begitu. Tora jangan pergi kemana-mana, ya. Disini saja. Mengerti?"

"Iya, Noona."

Yuki pun pergi meninggalkan Tora untuk membeli semua titipan ibunya.

Uh? Sepertinya aku pernah melihat orang itu, tapi dimana ya? Pikir Tora yang melihat orang yang sepertinya familiar untuknya. Oh iya orang itu kan yang aku temui waktu aku masih di Pulau Jeju.

"Ahjussi!" teriak Tora memanggil orang itu. Kontan semua orang berpaling kepada Tora.

"Ups. Maafkan saya." kata Tora sambil membungkukkan badannya meminta maaf.

"Oh kau ya. Anak yang di Pulau Jeju itu kan?" kata Naruto kepada anak yang memanggilnya tadi.

"Ne. Ahjussi tinggal disini juga?"

"Iya. Bukannya kau bilang kau tinggal di Pulau Jeju? Kenapa sekarang kau bisa ada di Jepang? Kau berlibur dengan keluargamu ya?" hati Naruto sedikit sakit mengatakan "keluarga" kepada Tora.

"Bukan. Sekarang aku tinggal disini. Kami tinggal di hotel dekat disini. Itu hotel tempat kami tinggal."kata Tora sambil menunjuk hotel tempat mereka tinggal.

"Wah, kebetulan sekali. Aku juga tinggal di hotel itu. lantai 12. Tapi untuk minggu ini saja karena aku ada meeting dengan client."

"Aku tinggal di lantai 11. Kapan-kapan aku main ke tempat ahjussi ya. Oh, iya nama saya Tora."

"Naruto. Naruto Uzumaki. Kau kesini sendirian? Itu berbahaya. Ayo aku antar pulang."

Tora menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Aku kesini bersama dengan kakakku. Yuki. Itu dia." Tora menunjuk ke arah Yuki yang sekarang sedang menuju ke arah mereka.

Naruto ingin sekali bertemu dengan Yuki, tetapi ia masih belum siap untuk bertemu dengannya. Mungkin lain kali ia akan menunjukkan siapa dia sebenarnya. Untuk sekarang biarlah seperti ini saja. Paling tidak Tora pernah bertemu dengannya dan sepertinya ia menyukai kehadiran Naruto. Sebuah awal yang baik pikit Naruto.

"Aku pergi dulu ya, Tora. Sampaikan salamku untuk kakakkmu ya. Dan Sakura. Selamat tinggal." Kata Naruto sambil mencium kening Tora.

"Tunggu dulu. Bagaimana ahjussi bisa tahu nama ibuku?"

Terlambat Naruto sekarang sudah keluar dari toko itu. Aneh sekali pikir Tora.

"Tora, tadi kau berbicara dengan siapa? Kalian terlihat akrab sekali." tanya Yuki.

"Oh itu. itu ahjussi yang kuceritakan tadi. Dia ternyata tinggal di hotel yang sama dengan kita. Tapi hanya satu minggu saja karena ahjussi itu sedang ada uhm mating? Matung? Uh apa tadi. Uhm… Ah iya meeting."

"Oh begitu. Aku kira siapa. Apa kau sudah tahu siapa nama ahjussi itu?"

Tora mengangguk dengan penuh semangat.

"Namanya Naruto. Naruto Uzumaki."

Deg

Apa? Naruto Uzumaki? Itu kan ayah. Tidak. ini tidak mungkin. Dan lagi ayah sudah bertemu dengan Tora. Apakah ayah tahu kalau Tora adalah anaknya? Dan lagi ternyata ayah tinggal disini? Tidak ini tidak mungkin.

"Uh, noona apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Tora sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Yuki.

"Tidak. Tidak. Ayo kita bayar semua belanjaan kita lalu pulang. Ibu pasti sudah mengkhawatirkan kita." ajak Yuki sambil menggandeng tangan Tora.

Apa yang harus ku lakukan? Apakah aku harus memberitahukan ibu tentang hal ini? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku diam saja atau memberitahukan semuanya kepada ibu?

.

.

.

.

.

Di kantor Naruto tidak bisa berkonsentrasi bekerja, pikirannya melayang kemana-mana. Dia masih mengingat kejadiannya denagn Tora dan Yuki.

Jadi Sakura tinggal disekitar sini. Apa yang harus ku lakukan? Apakah aku harus menemuinya? Atau aku harus merelakannya pergi saja? Oh iya, katanya Sakura pergi bersama laki-laki itu. Sasuke. Berarti laki-laki itu ada di sini juga. Apakah Sakura sudah menikah lagi? Oh Tuhan mengapa ini berat sekali. Apa yang harus ku lakukan?

Tap

Seseorang menepuk pundak Naruto. Ternyata itu adalah teman-temannya. Neji, Chouji, Kiba, dan Shikamaru.

"Hey, Naruto. Ayo kita pergi makan siang. Kau tidak lapar? Dari tadi melamun terus. Kau sedang banyak pikiran, ya" tanya Kiba yang sedari tadi memperhatikan Naruto.

"Uh… Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepada kalian semua." Kata Naruto kepada teman-temannya.

"Kalau begitu lebih baik kita makan di luar saja. Santai saja bos kita pasti mengijinkan kita untuk datang sedikit terlambat. Iya kan, Neji?" kata Chouji sambil menyikut Neji menggodanya.

"Yah, walaupun Hinata adalah teman dekat kalian bukan berarti kalian bisa seenaknya datang terlambat." Jawab Neji sedikit marah.

Semua orang kaget dengan jawaban Neji.

"Aku cuma bercanda kok. Tadi aku sudah meminta ijin kepada Hinata kalau ada masalah yang ingin kita bahas. Sepertinya Hinata juga mengkhawatirkan keadaanmu, jadi dia mengijinkan kita untuk pergi. Hinata bahkan sudah memesankan tempat untuk kita." jawab Neji.

"Wah, istrimu baik sekali. Kau beruntung sekali memiliki istri seperti dia. Aku jadi iri denganmu." kata Shikamaru sambil menghela nafasnya.

"Ayo sekarang kita pergi."

.

.

.

.

.

"Naruto, apa yang ingin kau beritahukan kepada kami?" tanya Chouji penasaran.

"Sebenarnya Sakura ada di Jepang." jawab Naruto lirih.

Semua orang kaget dengan perkataan Naruto.

"Apa katamu Naruto? Sakura ada di Jepang? Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Kiba.

"Tadi aku bertemu dengan anak-anakku. Tora dan Yuki waktu aku sedang pergi membeli kopi di supermarket."

"Berarti…"

Naruto hanya mengangguk pelan.

"Apa kau tahu Sakura tinggal di mana?" tanya Shikamaru dengan tenang.

Sekali lagi Naruto menganggukkan kepalanya.

"Dia ada di hotel tempat kita tinggal sewaktu kita meeting di Tokyo kemarin. Tapi aku tidak tahu apakah Sakura masih tinggal disana atau tidak."

Semua orang hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Naruto.

"Lalu apa yang akan kau lakukan, Naruto?" tanya Neji memecah kebisuan.

"Aku tidak tahu."

"Apakah kau masih sering mengunjungi orang tua Sakura?"

Naruto menganggukkan kepalanya.

"Mengapa kau tidak pergi ke tempat orang tuanya saja? Bertanya apa yang harus kau lakukan. Aku tahu orang tua sangat Sakura menyukaimu." saran Neji.

"Aku tidak mengerti apa maksudmu Neji."

"Cobalah dahulu."

"Baiklah kalau begitu. Aku akan ke tempat orang tua Sakura besok."

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sakura aku merindukanmu. Bisakah kita bertemu walaupun untuk terakhir kalinya? Biarkan aku memelukmu Sakura.

~TBC~

Ohoho…

Naruto mau ketemu sama mertuanya

Aku kasih sedikit bocoran ya sebagai permintaan maafku gara-gara telat update ^^

"Ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan, ayah, ibu. Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. dan tentu saja aku menginginkan Sakura untuk kembali ke kehidupanku walaupun aku harus menukarnya dengan nyawaku sendiri aku rela melakukannya. Dan berharap bahwa suatu hari Sakura akan kembali kepadaku."

Sakura hanya bisa menangis mendengarkan itu semua. Dia menangis diam-diam. Rasanya Sakura ingin pergi keluar dan berteriak kepada Naruto mengapa ia tidak mencari Sakura dan memaki-makinya. Memanggilnya pengecut karena ia langsung pergi begitu melihat Yuki. Sakura ingin memberitahukan Naruto bahwa ia juga menginginkan Naruto kembali seperti Naruto menginginkannya kembali.

Ehehe

Segitu aja ya

Maaf kalo cerianya jadi ngebosenin plus geje kayak gini T_T