Betapa besar keinginan kuatku untuk menolongnya. Lebih dari siapun itu. Kini aku sadar dia berharga diantara lumpur yang mengering—walaupun aku tahu kemungkinan kecil dia akan peduli balik kepadaku.
Warning: Semi Canon. Sedikit bumbu OOC dan kayaknya agak didramatisir, romance 30%. This is the last chapter from this fik XD
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Dedicated to SISTER (yang telah terlewat) *bows*
.
Sebelum sepenuhnya bangun, Ino sudah dapat merasakan kram di seluruh badannya dari dalam mimpi. Dia seperti berada di dalam semen keras yang membatasi ruang geraknya. Masih dalam terpejam ia merasakan terpaan hangat sinar mentari masuk melalui kelopak matanya. Gadis itu terlihat mengerjab-ngerjabkan matanya sebentar sembari ingin mulai merenggangkan tangannya.
Tidak bisa. Dia tidak bisa menggerakkan tangannya. Dan di detik itu pula dia baru sadar kalau sekarang dia tidak berada di kamarnya. Ino memaksakan matanya yang berat untuk terbuka. Pandangannya menyapu ke segala tempat dia berada—ternyata dia berada di sebuah penjara dan seluruh badannya diikat. Ino hanya menghela napas, karena dirasakannya kepalanya sangat berat.
Di luar sana Ino merasakan tidak ada Anbu atau tanda-tanda orang yang berjaga. Kalau saja dia tidak diikat seperti ini, mungkin dia bisa meloloskan diri. "Sialaaan!"
.
"Ribut sekali, ada apa ya?" Sakura penasaran dengan apa yang didengarnya sekarang. Sebuah keributan yang berada di luar rumah sakit—yang dapat didengarnya dari kamar inapnya sendiri. Merasa penasaran gadis pink ini keluar dari sana untuk melihat keadaan di sekitar. Banyak orang-orang berjalan melewati rumah sakit ini entah mau kemana.
"Maaf, kalian mau kemana?" sedikit heran yang dirasakan oleh si pink, apa salahnya dia bertanya kepada salah seorang rombongan yang sengaja lewat di depan rumah sakit.
"Kau tidak tahu ya? Hari ini kita akan bersama-sama menyaksikan kematian Sasuke!" jawab perempuan yang ditanya tadi.
"Lebih baik kau segera ke lapangan besar di sana!" sela seorang lagi yang tidak diketahui Sakura siapa itu. "Ayo cepat!" tanpa basa-basi lagi kedua orang itu kembali berjalan dan meninggalkan Sakura yang mematung.
Ya. Ada satu hal yang terbersit di hatinya. Sakura awalnya bingung mengapa hatinya benar-benar sakit ketika mengetahui ini. Kemarin, dia sempat merasa sangat benci dengan pemuda emo itu, pemuda itu yang telah menghancurkannya dan dia pantas mati. Tapi detik ini ada sebuah amarah yang benar-benar tidak dapat diterimanya. Di antara orang yang berbondong-bondong melewatinya sekarang. Sakura merasa seperti sebuah patung batu yang di dalamnya terdapat sebuah jasat. Itulah dirinya yang sekarang ini.
Dia menyadari sesuatu. Ada kabut genjutsu di kepalanya—dan dia juga sadar, kekuatannya mulai stabil.
.
"Shikamaru?" Chouji memanggil teman setimnya dengan takut-takut. Kali ini dia melupakan soal keripik kentangnya.
Mereka sudah tahu kalau sekarang Ino sedang dihukum karena perbuatannya semalam. Maka dari itu Chouji meyakinkan Shikamaru untuk mengambil tindakan untuk menyelesaikan ini. Andai saja dia memiliki otak secerdas Shikamaru. Mungkin dia sudah mengambil keputusan sendiri.
"Apa boleh buat." Shikamaru menghela napas. Tidak ada keputusan lain yang melintas di pikirannya selain menentang Konoha. "Semua memang butuh keadilan." Shikamaru mengambil kunainya dan menatapnya dalam. "Chouji persiapkan keripik kentangmu!"
.
Sebelum sempat menemui Sasuke untuk hari ini Tsunade sempat menangis. Bagaimana tidak, pria itu sempat menjadi anggota dari ninja Konoha yang sangat berbakat. Tsunade tahu ini pasti akan berlalu jika mereka menjalaninya. Hanya saja untuk menjalaninya ternyata cukup berat dirasakannya.
"Sasuke," panggil Tsunade sembari memegang kepalanya dengan lembut. Sasuke merasakan itu. Tsunade menyayanginya. "Aku ingin bertanya satu hal."
"Aku harap pertanyaan itu bukanlah hal yang bodoh." Kalau saja tidak ada empat Anbu yang memegangi tangan dan badannya, mungkin Sasuke akan berontak sekarang. Dia memang pernah berkata pada Naruto bahwa hanya ada dua pilihan baginya; dia yang mati dan Naruto menjadi pahlawan, atau Naruto yang mati dan dirinya hanya akan dikenangan sebagai pecundang.
"Apa kau masih membenci desa Konoha?"
Sasuke menyeringai, "aku rasa aku tidak perlu menjawabnya." Sampai saat ini Sasuke memang sangat membenci desanya. Walau begitu dia sadar, kalau tidak desa Konoha mungkin dia tidak akan sampai dewasa seperti ini. "Tapi, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan."
Tsunade menatap Sasuke yang kini tengah menatapnya juga. "Kalau tidak desa ini, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Naruto."
.
"Bunuh SASUKE!"
"CEPAT musnahkan!"
"YEEEEE!"
Dari atas ranting pohon Kakashi mendengar semua keributan itu di bawah sana. Kakashi lebih memilih menjauh dari lapangan ketimbang berada di tengah lapangan yang mungkin akan menjadi sejarah sampai kapanpun.
Banyak yang terjadi di Konoha. Ada ninja yang hebat—yang mampu melindungi Konoha. Ada juga ninja yang hebat yang pada akhirnya akan menjadi musuh Konoha. Itu sungguh realita yang kejam. Kalau saja dia punya keberanian mungkin dia akan melakukan sesuatu. Kakashi pun bingung, memang sebaiknya dia melakukan apa untuk menghentikan ini?
"Kakashi-sensei?" panggil Yamato yang dari tadi berada di belakangnya. "Aku dengar Ino berada di penjara?"
"Dia anak yang cukup ceroboh mengatasi semua itu. Biarkan saja."
"Lalu, bagaimana dengan Sakura dan Naruto?"
"Hm? Entahlah."
.
DGAAAR!
"Kyaaaa!" Ino memekik kuat saat ada sebuah dentuman keras dari dinding penjara itu. Dia tidak bisa bergerak dalam posisi terikat seperti ini—hanya sekedar untuk menghindar dari reruntuhan batu kecil dari atap.
Ino membuka matanya setelah kepulan asap dari pecahnya dinding penjara itu. Ada dua sosok yang Ino kenal berdiri di lubang yang telah dibuat tadi. "Teman-teman!" Ino merasa Shikamaru dan Chouji benar-benar malaikat penyelamatnya dimanapun juga.
Shikamaru langsung menghampiri Ino dan membuka tali-tali yang mengikat di seluruh badannya. "Sudah kuduga ini cukup kuat." Shikamaru mengeluarkan kunai dari belakang kantungnya. Beberapa saat kunai itu dialiri cakra darinya dan terlihatlah cakra berwarna biru menyelimuti kunai itu.
"Terimakasih, Shikamaru." Ino beranjak duduk setelah semua tali terlepas dari badannya. Jujur saja saat ini dia sedikit terharu.
"Masih kuat menolong Sasuke?"
Ino mengangguk mentap. Semangat yang beberapa saat tadi terbang akhirnya kembali lagi padanya. "Lagipula aku tidak disiksa juga oleh para Anbu." Ino melemparkan cengirannya sembari menggerak-gerakkan kedua lengannya agar lebih rileks.
"Lalu, apa yang kau lakukan nanti, Ino?" akhirnya Chouji bertanya.
Benar juga, Ino masih bingung apa yang akan dilakukannya nanti saat dia ke tempat Sasuke dihukum. "Entahlah, tapi aku sudah bertekad akan memberitahunya tentang perasaanku."
Shikamaru memandang Ino datar. Betapa Ino mendukung Sasuke untuk berada di Konoha. Dan betapa gadis itu mencintainya. Shikamaru menghela napas, "kalau begitu ayo kita segera pergi dari sini!"
.
"Sakura! Naruto! Kalian berdua belum boleh keluar dari rumah sakit!" beberapa perawat berusaha menyeret Sakura dan Naruto untuk kembali ke kamarnya semula. Tapi mereka berdua tetap kukuh untuk meninggalkan rumah sakit ini.
"Lepaskan kami!" pinta Naruto berusaha untuk tidak menyelakai mereka.
Beberapa saat yang lalu Sakura sadar kalau dirinya terkena genjutsu tingkat tinggi. Kemarin dia memang tidak menyadarinya karena kondisinya masih lemah. Begitu juga dengan Naruto. Pria itu sudah dilepaskan kesadarannya oleh Sakura. Naruto sangat marah, begitu pun juga Sakura. Karena hal tersebut mereka berdua sudah menyepakati sesuatu—yang mungkin sedikit memaksa dan tak layak mereka lakukan.
Sakura menoleh ke arah perawat itu dengan tegas karena cukup lelah dengan perintahnya. "Semuanya maafkan aku ya!" kemudian gadis pink itu menoleh ke Naruto yang senasib dengannya. "Untuk kali ini kesabaranku telah HABIS, SHONAROOO!" Sakura memukul tanah yang dipijaknya sehingga tanah itu retak—yang membentuk sebuah lubang besar di depan rumah sakit ini. Para perawat yang tadi berteriak ketakutan, lalu terdampar ke dalam lubang itu.
"Ayo, Sakura-chan!"
Baru saja mereka berdua akan berbalik meninggalkan tempat ini, mereka mendapati seseorang yang terseyum kepada mereka. "Kalian melupakan aku ya?"
"SAI!"
.
Ino, Shikamaru dan Chouji tergesa-gesa menjauh dari penjara itu. Mereka berusaha menyelinap hati-hati agar para Anbu tidak mengetahui keberadaan mereka. Saat ini mereka sudah cukup jauh dari ruang penjara itu dan Ino merasa dirinya benar-benar terbebas. Dia masih memiliki harapan rupanya.
Sinar matahari yang terhalang oleh daun-daun pohon sudah cukup menyemangati gadis pirang itu. Rasanya dia kembali hidup dan mempunyai tujuan baru dalam hidupnya.
Baru saja gadis itu memikirkan hal-hal yang menyenangkan untuknya, tiba-tiba ada beberapa shuriken terlempar ke arah mereka. Mau tak mau mereka harus menghentikan langkah dulu.
"Ternyata ada dua penghianat lagi." Muncul lima orang Anbu bertopeng tidak jelas di hadapan mereka. Mereka siap bertarung dengan tim sepuluh yang kelihatannya sudah siap balik menantang. Sepertinya ini sedikit memakan waktu.
Terlihat keringat mengalir di pelipis Ino. Gadis itu tidak siap bertarung sekarang. Apalagi harus mengurusi hal-hal seperti ini. Tanpa bicara lagi seorang Anbu mendekat ke arah Ino dan mencoba menyentuh gadis itu dengan kunainya. Ino yang tidak sempat membaca gerakkannya hanya membelalakan mata ketika sebuah kunai itu sudah berada di depan matanya. Dia berhenti.
"Ino cepat kabur dari sini! Biar kami yang mengurus ini!" Chouji berteriak karena Ino masih mematung di sana. Saat itu juga ino tersentak dan menoleh ke arah temannya. Ternyata secepat kilat pun Shikamaru sudah mengunci kelima gerakkan Anbu itu dengan jurusnya.
"Cepat Ino!"
Ino mengangguk mantap. Dia tahu kagemane Shikamaru tidak akan bertahan lama. Ino segera berlari melompati—melewati para Anbu yang mencegatnya. Kali ini dia sadar dia tidak berjuang sendiri. Dia tahu ada orang yang mendukungnya.
Tanpa menoleh Ino terus-terusan berlari sampai ke tempat tujuannya. Dia tahu dimana Sasuke berada sekarang dari Shikamaru dan Chouji. Dalam hati dia terus memikirkan apa yang seharusnya dilakukannya nanti.
Kini langkah Ino hampir mendekati tempat itu. Dia sudah dapat melihat gerombolan warga Konoha yang bebaris seperti menonton sesuatu. Ino tidak peduli menyerobot orang-orang untuk lebih ke depan sekali.
"Minggiiir!"
Beberapa orang yang dilewati Ino secara paksa ada yang protes. Sayangnya Ino tidak sedang peduli dengan sikapnya yang sedikit kasar. "Hei kau, nona! Jangan main serobot!"
Akhirnya Ino dapat menyerbangi sungai manusia itu. Ketika dia sudah berada di depan sekali Ino sempat terpaku dan langkahnya terhenti. Dia bisa melihat di depan sana sudah ada Tsunade, Shizunne, para Anbu dan juga… Sasuke. Sepertinya dia belum ketinggalan.
Ino mulai menggerakkan lagi kakinya untuk berlari sampai ke depan. "HENTIKAAAN!" tanpa peduli Ino berteriak. Dia juga tidak tahu mengapa orang-orang di sekitarnya tidak mendengarnya. Apalagi Tsunade dan dan orang-orang di sekelilingnya. Seperti tidak mendengarnya.
Dia lihat Sasuke menoleh ke arahnya. Jujur saja dia gugup dan langkahnya terhenti tidak jauh di hadapannya. Sasuke hanya memandangnya datar, Ino tidak sadar kalau pipinya sedikit bersemu merah. Walau dia berada di dekat Sasuke, herannya para Anbu tidak mendekat ke arahnya untuk menahannya lagi. Para Anbu itu tiba-tiba merosot ke tanah dan pingsan. Ino tidak memperdulikan itu. Dia masih menatap Sasuke.
Dari langit turun seperti salju dari bunga Sakura. Bunga-bunga itu membuat para semua orang yang berada di sana tertidur. Anehnya Ino tidak merasakan itu apa.
Ino mengalihkan pandangannya ke atas langit dan melihat bunga-bunga itu. "Apa ini?" di lemparkannya lagi pandangan ke sekelilingnya yang mendadak sepi—ternyata mereka semua jatuh ke tanah. Kemudian Ino melempar pandangan ke Tsunade dan Shizunne—dan mereka hanya berdiam diri. Kenapa hanya mereka yang tidak jatuh pingsan?
Awalnya Sasuke tahu ini apa. Ini jurus genjutsu dari seseorang. Dia membebaskan dirinya sendiri dan diam-diam membebaskan Ino dari genjutsu itu. Dia juga tidak tahu mengapa dia melakukan itu. Walau Anbu yang memeganginya pingsan di antaranya, sedikit pun Sasuke tidak memiliki keinginan untuk berontak dari sini. Atau mngkin karena gadis itu?
Sebenarnya Ino ingin mendekat lagi ke Sasuke. Tapi tiba-tiba ada suara burung dari atas sana yang sepertinya mengarah ke arahnya. Ino mendongak lagi melihat burung macam apa itu. Dan ternyata burung itu adalah gambaran dari jurus temannya.
"Ka-kalian?" Ino terbelalak tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Naruto, Sakura dan Sai melompat dari atas burung itu ke hadapannya. "Ja-jadi kalian yang melakukan ini?" tebak Ino tepat yang dibalas oleh anggukkan Sakura.
"Sasuke!" Naruto langsung mendekat ke temannya berusaha untuk melepaskannya. Dia tidak terima jika ini terjadi. Karena dia yakin Sasuke yang ini masih tetap Sasuke yang dulu.
"Kenapa kau membebaskanku?" tanya Sasuke tidak percaya.
"Memangnya kenapa? Sudah ku bilang kan, tidak ada yang harus mati diantara kita."
"Kau…" Sasuke manggantungkan kalimatnya dan melirik Ino yang berada di belakang Naruto sesaat, kemudian pandangannya beralih ke Sakura lalu bergantian ke Sai. "Mengapa sangat menginginkan aku kembali?"
"Seseorang pasti akan kembali ke tempat lama. Ke tempat yang mereka memiliki ikatan."
Ino terdiam lagi. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain mencoba menenangkan keterkejutannya. Apa yang dikatakan oleh Naruto benar. Seseorang akan kembali ke tempat semula yang memiliki ikatan.
Ini tidak masuk dalam rencananya beberapa saat yang lalu. Tapi dia sedikit senang karena ada tim tujuh di sini. Ino berusaha menarik senyum walaupun raut mukanya terlihat lelah.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN, BODOH!" dan kini Tsunade pun sudah tersadar. Sedangkan Shizunne yang berada di samping wanita berambut pirang itu hanya meringis melihat apa yang ada di hadapannya.
.
.
Beberapa hari kemudian Ino dipanggil untuk menghadap ke Tsunade. Kemarin dia dan timnya sudah dihukum untuk membersihkan seluruh penjara karena ulahnya yang seenaknya sendiri. Sampai detik ini dia belum bertemu dengan Sasuke juga. Entahlah dia hanya tidak siap untuk menemui pria itu. Lagipula dia tahu—dirinya tidak terlalu dekat dengan Sasuke. Untuk sekarang Ino menunda dulu untuk mengungkapkan perasaannya kepada Sasuke.
"Permisi…"
"Oh masuklah, Ino."
Sebelum masuk menghadap Tsunade, Ino sempat menutup pintu itu dulu. Betapa seluruh badannya masih terasa pegal sekarang. Mengingat dia harus membersihkan seluruh sudut penjara yang benar-benar kotor itu. Belum lagi kemarin dia sempat dimarahi oleh kedua orangtuanya.
"Ino, kau dimaafkan karena kau ninja berbakat. Tapi lain kali kalau melanggar peraturan, aku tidak akan memaafkanmu."
"Memangnya aku sudah melanggar peraturan berapa kali? Baru sekali kan?"
"Bukan berati kalau kau tidak melanggar peraturan, kau boleh melakukannya!" beri tahu Tsunade sedikit berteriak. Ino terkadang memang agak melawan.
"Iya, iya!"
"Baiklah kau boleh keluar dari sini!"
"Jadi, nona hanya memanggilku begitu? Aku kira ada apa?"
"Memangnya ada apa?"
"Ada yang ingin aku tanyakan. Bagaimana cara Naruto dan timnya untuk meyakinkan rakyat kalau Sasuke tidak sejahat dulu? Aku lihat mereka biasa-biasa saja sekarang saat mendengar hukuman Sasuke dibatalkan." Ino memang melewatkan berita ini ketika dia berada di waktu hukumannya.
"Oh itu, yaaah, karena Naruto itu sudah dianggap pahlawan di sini, makanya mereka mengabulkannya. Aku juga tidak menyangka itu bakal terjadi. Tapi tentu saja ada syaratnya."
"Syarat dari desa lain?"
"Iya, Sasuke masih akan terus diawasi oleh dunia shinobi. Lagipula sepertinya Sasuke tidak keberatan." Tsunade terlihat menghela napas. "Aku juga tidak tahu apa yang dilakukan bocah itu sampai-sampai semuanya yakin."
"Lalu, mengapa kalian menyegel pikiran Naruto dan Sakura? Kalau tahunya begini aku tidak perlu susah-susah menyelinap dan masuk penjara."
"Soal itu permintaan dari para Kage. Aku juga tidak tahu mengapa menyetujuinya. Mungkin karena saat itu aku baru pulih jadi aku tidak bisa berpikir jernih."
"Nona sendiri, mengapa setuju ketika Naruto meminta untuk membatalkan hukumannya?"
Tsunade terdiam mendengar perkataan Ino. "Sebenarnya aku juga berat untuk mengadakan hukuman untuk Sasuke. Berhubung penduduk Konoha sudah setuju atas permintaan Naruto. Yah, mau bagaimana lagi?"
"Oh begitu ya? Berarti peranan Naruto lebih besar dariku."
"Kau bilang apa tadi?"
"Ah tidak-tidak!" Ino mengibaskan tangannya karena ngomong keceplosan di depan Tsunade. Sebenarnya dia sedikit cemburu karena tim tujuh berperan lebih besar dari dirinya. "Sekarang Naruto dimana?"
"Apa kau ingin menemuinya? Sepertinya setelah ini dia akan menjalani hukuman dariku."
"Kau juga memberikan hukuman untuknya?"
"Yah, untuk tidak makan ramen seminggu."
.
"Permisi…" setelah keluar dari kantor Hokage. Ino memutuskan untuk menuju ke kediaman Naruto. Dia hanya ingin membawakan semangkuk ramen besar untuk salah satu temannya itu sebagai ucapan terimakasih. Terimakasih karena telah mengakhiri semuanya.
"Ah, Ino!" Ino sedikit kaget karena yang membuka pintu bukan Naruto.
"Sakura?" Ino melihat ke dalam rumah Naruto yang ternyata ada Sai juga. Dan di sana juga ada Sasuke! Tiba-tiba Ino menjadi gugup. Jujur saja dia belum siap untuk menemui pemuda itu. Dia hanya takut dicampakkan saja.
"Kau bawa apa Ino?" tanya Naruto yang mendekat ke arahnya.
"I-ini, aku bawakan kau ramen, aku dengar mulai besok kau akan dihukum tidak makan ramen, kan?" dari perkataannya, Ino terlihat gugup. Dia hanya salah tingkah ketika Sasuke benar-benar berada di antara mereka. Entahlah sejak kapan pemuda itu tinggal seatap dengan Naruto. Lalu, mengapa dia segugup ini?
"Waaah, terimakasih, Ino!" Naruto menyambut uluran mangkuk dari tangan Ino dengan gembira.
"Tenang saja, walau dia dihukum Naruto pasti diam-diam masih memakan ramen," sela Sakura sedikit bercanda.
"Kalau begitu aku permisi dulu." Ino membungkukkan badannya sesaat. Saat dia berbalik Sakura memegangi tangannya—membuat pergerakkannya terhenti.
"Jangan secepat itu, masuklah dulu!"
Ino mendengus dalam hati, sepertinya Sakura sudah mengetahui atas kegugupannya. "Sa-sakura apa yang kau lakukan?" Ino tambah gugup saat Sakura malah benar-benar menyeretnya masuk ke dalam untuk berhadapan dengan Sasuke. Lagi-lagi Ino hanya berteriak histris dalam hati.
"Sasuke, Ino-lah yang berperan besar atas penyelamatanmu kemarin." Sakura sedikit mendorong tubuh Ino untuk mendekat ke arah pemuda itu.
"Sakura jangan dorong aku!" sergah Ino benar-benar malu. Kemarin dia sangat ingin bertatapan dengan pria ini. Dan sekarang dia benar-benar tidak menginginkan ini. 'Awas kau Sakura!' teriak ino dalam hati.
Sasuke menoleh—memandangi Ino dari tempat duduknya. Tanpa sadar muka Ino kini memerah. Sedangkan yang lain tersenyum puas melihat itu. "Terimakasih," ujar Sasuke datar.
Ino tidak salah dengar? Sasuke mengucapkan itu? Ino tidak menyangka ini akan terjadi. Sebenarnya dia tidak menginginkan apapun, asal Sasuke masih hidup dan berteman baik dengan semuanya. "Hmmm, sama-sama," balas Ino berusaha menghilangkan rasa malu dan gugupnya.
Sakura sudah dapat melihat itu. Mulai sekarang dia sudah menyadari kalau Ino menang darinya. Sebenarnya dia sedikit bersedih karena harus mengalah dengan gadis itu. Ya mulai sekarang dia akan membiarkan Ino mencintai pemuda itu sampai cinta itu terbalas.
"Oh, aku baru ingat, setelah ini aku akan melaksanakan hukuman dari Tsunade!" Sakura berseru tiba-tiba. Dia harus pergi dari sini sebelum dia merasakan sakit hati. Tapi walau begitu dia tidak harus membenci Ino maupun Sasuke.
"Bukannya hukumanmu sudah selesai?" Naruto yang tidak tahu ternyata Sakura berbohong untuk mencari alasan pergi dari sini malah kebingungan.
Sakura hanya refleks berbohong, secepatnya dia memutar otak agar tidak ketahuan. "Ini hukuman tambahan. Kau juga kena. Ayo Naruto, nanti Tsunade marah!"
"Aku kena? Kalau Sai?"
Ah, Sakura jadi melupakan Sai. Sepertinya Sai sudah mengerti dengan kondisi yang dilakukan Sakura. "Apa aku juga?" tanya Sai pada akhirnya.
"Ah iya! Kalian berdua segera ikut aku. Aku baru ingat." Dengan seenaknya Sakura menyeret kedua teman setimnya itu menuju ke pintu luar.
"Sakura aku ingin makan ramen yang dibawa Ino dulu!"
"Ini bawa saja, makan di jalan!" Sakura mengambil mangkuk yang di bawah Ino dan menyerahkannya ke Naruto. Setelah mangkuk itu sudah diterimanya barulah Naruto diam.
"A-apa? Aku kan baru datang?" Ino yang merasakan ini janggal langsung ikut berdiri dari duduknya, dia belum siap harus berduaan dengan Sasuke saja.
Sakura masuk lagi untuk menyuruh Ino tetap duduk di bangkunya. "Jaga Sasuke ya! Dan Sasuke, istirahatlah dulu ya. Daaah!" setelah itu Sakura kembali keluar dan menutup pintu flat Naruto. Apa-apaan temannya ini?
Blam.
Setelah suara pintu itu tertutup Ino tidak tahu harus berbuat apa di sini. Rasanya dia sudah kehabisan seluruh tenaganya hanya sekedar untuk meneguk ludah. Ino mencoba melirik Sasuke yang berada di belakangnya. Ternyata Sasuke sedang berkonsentrasi memejamkan mata sambil duduk bersila. Entahlah apa yang dilakukan pemuda itu. Sepertinya dia sedang berusaha mengembalikan seluruh tenaganya.
Sudah Ino duga, walau dia ditinggal berdua saja dengan Sasuke, tidak akan menjadikan mereka bertambah dekat. Ino melirik jam yang berada di dinding kamar ini. Ternyata sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ino merasakan dia sedikit lapar—dan mungkin juga Sasuke merasakannya.
Tiba-tiba di pikiran Ino terbersit sesuatu. Daripada dia duduk diam di sini, mending dia melakukan sesuatu, yaitu memasak. Ino melirik lagi ke arah Sasuke. Pemuda itu masih bergeming dan sepertinya tidak ingin diganggu.
Segera saja Ino berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah dapur yang berada di flat ini. Ino tercengang sesaat karena dapur Naruto sudah seperti gudang yang tak terpakai. Tentu saja karena pemuda itu tidak pernah menyentuh ruangan ini. Apa boleh buat, Ino akan memasak dan mencari bahan-bahannya dulu di pasar.
.
"Jadi kau cuma berbohong, Sakura?"
Sakura hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Gadis pink itu langsung menjatuhkan dirinya ke atas ayunan itu. Saat ini mereka bertiga sedang berada di sebuah taman yang tidak jauh dari kantor Hokage.
"Sakura tadi memang berbohong, sudah keliatan dari mimik wajahnya," balas Sai datar seperti biasa.
"Ah, jadi Sai juga sudah tahu? Lalu mengapa kita harus pergi dari sana?"
"Naruto! Kau ini benar-benar bodoh ya!" bentak Sakura. "Biarkan saja mereka berdua, aku sudah cukup puas saat Sasuke pulang." Sakura menengadahkan kepalanya menatap langit luas terbentang jauh di sana. Begitupula dengan pikirannya yang kini terbang melayang ke udara.
.
Ino menaruh mangkuk sup di atas meja di depan ranjang yang di duduki Sasuke. Dia sudah sangat yakin kalau rasa sup itu enak—makanya dia sedikit percaya diri saat menyajikannya. Dalam waktu beberapa menit ke belakang, Ino hanya sempat memasak sup tomat ini karena mengingat dia juga tidak pandai dalam memasak.
Ino masih memandangi punggung Sasuke dari tempatnya duduk. Dari beberapa detik yang lalu saat Ino menyajikan sup itu, sedikitpun Sasuke tidak bergeming. Apa mungkin Ino coba saja untuk menyapanya terlebih dahulu? "Sasuke?" panggil Ino pelan. "Aku membuatkan sesuatu untukmu, ini sup dengan obat-obatan yang bisa menambah kekuatan."
Tidak ada jawaban dari Sasuke pemuda itu hanya bergeming. Lagi-lagi dia diperlakukan seperti ini. Ino mendengus. Kemudian Ino memutuskan untuk berdiri dan mendekat ke arah Sasuke. Saat ini rasa gugupnya sudah sedikit teratasi—karena mengingat dia adalah gadis yang percaya diri.
"Sasuke, dicoba dulu! Kau itu manusia masih butuh makan juga!" pinta Ino sedikit kesal.
Akhirnya Sasuke membuka matanya dan melirik Ino. "Baiklah."
Ino harus menahan teriakkannya saat Sasuke meresponnya. "Kalau begitu ayo cicipi!" dengan semangat Ino menyuruh Sasuke untuk duduk di bawah menghadap semangkuk sup yang tersaji di atas meja.
Sasuke memang sudah berubah. Mau tak mau dia hanya menuruti permintaan Ino yang sangat ingin masakkannya dicicipi. "Aku sudah lama tidak makan sup."
"Benarkah? Jadi biasanya makan apa?"
"Sesuatu yang tidak banyak airnya seperti ini."
"Oh…"
Ino ikutan duduk di samping Sasuke, dengan gerakkan yang cepat dia memberikan Sasuke sebuah sendok sup. Sambil menunggu Sasuke memulai menyuapkan supnya, Ino harap-harap cemas menanti responnya.
"Bagaimana?" tanya Ino saat Sasuke sudah memasukan sendokkan pertama pada ke dalam mulutnya.
"Apanya?"
"Yaaa, rasanya?"
"Apa aku harus memberitahukannya?"
Ino mengerutkan dahinya. "Ya sudah tidak perlu. Kalau kau tidak suka aku minta maaf."
Sasuke melirik Ino dari ujung matanya. Sepertinya gadis itu telah kecewa padanya. Tanpa berbicara lagi Sasuke kembali menyendokkan sup itu dan memakannya. Rasanya memang tidak terlalu buruk dan cukup membuat badannya terasa hangat. Begitupun dengan perasaan Sasuke saat ini, dia merasa terlindungi dan ada suatu perasaan hangat yang menjalar—bersamaan dengan mengalirnya air hangat sup ke dalam tenggorokkannya.
Ino membiarkan saja Sasuke tetap makan sup buatannya sampai Sasuke sendiri berhenti. Ternyata Sasuke masih tetap berniat memakannya juga walau dia sudah membuat Ino sedikit kesal. Gadis pirang itu masih menunggui Sasuke dan memandanginya dengan menumpukan kepala di kedua sikunya. Ino juga semestinya tidak banyak tanya yang aneh-aneh mengingat dia baru memulai lebih mengenal Sasuke seutuhnya dari awal.
—yah kalau tidak ada awal, tentu tidak ada akhir, bukan?
.
FIN
.
AN : Sebenarnya udah diketik pas beberapa tahun yang lalu. Masalahnya waktu itu filenya hilang entah kehapus atau apa T_T alhasil saya kembali membaca fik ini kemarin dan mencoba melanjutkannya tanpa ke OOC an. Tapi kayaknya OOC banget—saya sendiri gak puas dengan hasilnya, apalagi yang baca *dilempar batu es*
Ok, thanks for reading. Dan terimakasih juga buat yang sudah baca : agusthya, arashielf, Lollytha-chan, Yamanaka Chika, Sukie 'Suu' Foxie, Uchiha Kagamie, Handa-chan, Chesee-chan, Anasasori29, vaneela, Nyx Quartz, Deidei Rinnerpero13, Cendy Hoseki, Thi3x Noir, gui gui M.I.T.
