Author Note: hya! Meet again! XD Tidak terasa sudah sebulan berlalu!

Dislaimed! KH belong to SE, Disney, and Tetsuya Nomura! Better not forget about it!

A Forgotten Promise

2. Chu

White Day pun tiba. Kegelisahan menyerangku selama beberapa hari ini. Saatnya tiba untuk memberi balasan atau tidak sama sekali.

Ketika hendak keluar gedung sekolah, kulihat Riku dikelilingi oleh beberapa siswi cantik di depan pintu keluar. Mungkin mereka sudah janjian dengan Riku untuk pergi ke suatu tempat. Karena hari ini tidak ada PR, kuyakin Riku tidak akan menolak ajakkan mereka.

Aku berdiam diri dan menatapi Riku dengan perasaan bingung. Bagaimana aku bisa memberikan balasan jika Riku tidak bersamaku? Hadiah balasan cokelat Riku masih tersimpan rapi di tasku. Aku sengaja tidak memasukkannya ke dalam loker Riku karena aku ingin memberikannya langsung.

Ketika Riku mulai melangkah keluar bersama para siswa, refleks mulutku memanggil namanya. Kupegangi mulutku saat Riku menatapiku dengan wajah bingung.

"Ada apa, Sora?"

Karena sudah terlanjur memanggilnya, sebaiknya aku mencari alasan agar dia bisa bersamaku.

"Hei, Riku, apakah kau mau main denganku?"

"Tapi Riku sudah ada janji sama kami!" Salah seorang siswi protes mendengar ajakkanku.

Aku terdiam. Menunggu jawaban dari Riku.

"Sorry, girls, kurasa aku akan membatalkan janjiku dengan kalian. Tidak apa-apa, kan?"

Para siswi sangat kecewa atas keputusan Riku. Mereka pergi meninggalkan Riku sambil menggerutu kesal. Aku sangat tidak menyangka kalau Riku akan lebih memilihku daripada siswi-siswi tadi. Kukira dia akan lebih senang bersama mereka daripada aku.

"So, kita akan kemana?"

"Um..." Aku hanya memikirkan tempat untuk bermain bersama. "Bagaimana kalau kita ke tempat permainan di mall terdekat?"

Riku setuju tanpa membalas.

Tiba di sana, hal yang pertama kali kami lakukan tentu bermain bersama. Selama bermain, aku terus memikirkan kapan waktu yang tepat untuk memberikan balasan Valentine Day pada Riku.

Satu jam berlalu dan kami masih saja asik bermain. Aku tambah gelisah karena tidak tahu kapan aku bisa memberikannya.

"Hei, Sora, ayo kita foto," ajak Riku sambil menunjuk tempat foto cetak dalam bentuk stiker.

Dulu, sewaktu kecil aku dan Riku sering foto bersama. Aku dan Riku bahkan punya album kumpulan stiker foto. Kami mengumpulkan stiker foto sejak awal berteman hingga sekarang. Benar-benar harta karun yang amat berharga bagiku dan Riku!

Jika kuingat-ingat, rasanya setiap tahun minimal kami foto tiga kali. Pernah ada yang sampai limabelas kali foto. Pose kami pun macam-macam. Dari kocak hingga serius.

Kami menatapi kamera yang akan mengambil foto kami. Aku terdiam. Mungkin ini saat yang tepat untuk memberikannya. Saat Riku menekan tombol memotret, balasan untuk Riku baru kukeluarkan. Riku menatapiku dengan heran.

"Untukmu," kataku sambil menyerahkan kotak berukuran 20 kali 10 sentimeter. Pita biru yang mengikat bungkusan hadiah berwarna putih.

Riku menerimanya. "Balasan Valentine Day?"

Aku mengangguk. "Masih ada satu lagi."

Riku menatapiku dengan bingung.

Mukaku memerah. Aku menunduk sejenak sambil menggerakkan jemariku dengan gelisah. "Tu-tutup matamu."

Riku menutup matanya setelah menatapku dengan alis terangkat sebelah. Kudekatkan wajahku pada Riku. Sesenti lagi sebelum bibirku menyentuh bibirnya...

Ketika bibir Riku mulai kurasakan, kupejamkan mataku dan membiarkan bibirku dan bibirnya bertemu beberapa detik. Aku tidak bisa menciumnya jika dia menatapiku. Aku akan salah tingkah jika ditatapi. Ketika menjauh, aku langsung berlari meninggalkannya dengan muka memerah. Aku terlalu malu untuk melihat reaksinya. Aku juga terlalu malu untuk mendengar reaksinya. Apakah dia akan berkata bahwa aku aneh? Tapi aku hanya memenuhi janjiku saja. Jadi, mungkin dia tidak akan menganggapku aneh, kurasa?

Mendadak seseorang memegangi tanganku dari belakang dan menghentikan lariku. Aku menoleh ke belakang dengan wajah terkejut. Ternyata Riku mengejarku. Cepat sekali dia mengejarku, padahal kecepatan kami berlari hampir sama karena kami sering berlomba untuk menjadi pelari yang tercepat di sekolah.

Aku pun salah tingkah saat menatapinya. Debaran jantungku menjadi kencang dan tidak karuan. Napasku memburu saking bingungnya diriku. Apa yang harus kukatakan padanya? Bukan, apa yang harus kulakukan? Tersenyum? Menunduk? Memalingkan muka? Menghindari tatapannya? Terdiam?

"Jangan pergi dariku, Sora," kata Riku sambil menggenggam tanganku dengan erat, tapi tidak menyakitiku. "Aku...sesungguhnya menyukaimu."

Mataku melebar. Rasanya wajahku memanas. Mataku melirik ke berbagai arah karena malu mendengarnya. Aku tidak sanggup menatap Riku setelah menciumnya dan mendengar kata-katanya tadi. Setelah kupikir-pikir, ternyata aku juga mempunyai perasaan pada Riku juga setelah dia menyatakan perasaannya padaku. Aku pun salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa.

Riku menarikku ke suatu tempat tanpa berkata apa pun. Kami masuk ke gang mall yang sepi karena belum ada seorang pun yang berjualan di wilayah ini. Riku mendorong tubuhku hingga menyandar di tembok. Debaran jantungku meningkat saat melihat wajah Riku mendekatiku. Kupejamkan mataku saat bibirnya menyentuh bibirku.

Ketika menjauh, dia masih menatapiku dengan tatapan lembut. Herannya, pikiranku berseru untuk berhenti menatapinya karena malu, tapi mata ini tidak mau beralih darinya. Kami terdiam beberapa saat hingga aku menundukkan wajahku.

"Riku..."

"Hm?"

"Soal...pernyataanmu tadi..."

Riku terdiam dan menunggu lanjutan. Sedangkan aku, kubiarkan hening sesaat karena otakku masih belum berjalan dengan normal, alias loading.

"Aku juga." Akhirnya kata-kata keluar dari mulutku setelah terdiam kurang lebih 5 menit.

Mukaku sangat merah. Kuberanikan diriku untuk menatap Riku. Dia...tersenyum! Aku tersenyum dengan malu-malu.

Saat pulang, Riku menunjukkan foto stiker kami tadi. Foto pertama berisi gambar saat aku mengeluarkan hadiah. Foto kedua saat dia menerima hadiahku. Foto ketiga…

"Kau menekan tombol potret saat aku menciummu?" Wajahku tersipu saat melihat foto stiker yang Riku berikan padaku.

Riku tersenyum sinis. "Aku tidak ingin melewatkan momen penting seperti ini."

Wajahku kembali memerah mendengarnya, tapi diam-diam aku tersenyum sambil memegangi foto stiker ini. Untuk foto yang satu ini, ini benar-benar foto yang paling berharga dalam hidupku. That was… my first kiss.

END

Author Note: selesai! XD hehehehe! Singkat yah? Tenang saja! Masih ada omeka/extra di bawah! Jangan lupa review please! XD

Omeka/Extra

Saat menempelkan stiker foto di albumku, aku tidak dapat menyembunyikan rasa maluku saat menatapinya sekali lagi. Hatiku menjeritkan kebahagiaan yang tidak bisa kujeritkan di dunia ini—yang ada nanti aku dikira gila karena mendadak menjerit tanpa sebab. Aku terkekeh pelan menatapinya. Jika dipikir-pikir, foto stiker tentang ciuman bukan hanya ini saja sih. Dulu aku pernah mencium Riku di pipi dan difoto olehnya—itu permintaan Riku saat dia berumur 7 tahun. Riku juga pernah mencium dahiku—saat berumur 8 tahun, punggung tanganku—saat berumur 10 tahun, dan hidungku—saat berumur 10 tahun juga.

Ketika membalik halaman album, tatapanku terhenti pada sebuah foto yang membuatku tersipu sekali lagi. Ternyata kami pernah punya foto berpelukkan. Pipi kami saling menempel dan mata kami menghadap ke kamera. Jika tidak salah ingat, foto ini ketika umurku 7 tahun.

Baru kusadari, hingga sekarang aku dan Riku selalu dekat karena kami memang saling menyukai. Di sekolah, kami selalu makan siang bersama, pulang terkadang bersama, dan mengerjakan PR pasti selalu bersama. Setiap beberapa kali seminggu, aku pasti bermain ke rumahnya meski tidak ada PR.

Kututup album foto stikerku dan kusimpan dalam rak buku paling dalam agar orangtuaku tidak melihat foto kami berciuman.

Aku berdiri lalu tersenyum. Well, jumlah albumnya masih akan bertambah kok.

Omeka/Extra 2 (Riku POV)

Tiga tambahan stiker baru di albumku. Sudah ada puluhan stiker foto yang memenuhi albumku. Ini juga bukan buku pertama, melainkan buku ketiga. Sora terlihat sangat manis ketika berfoto dalam ekspresi apa pun.

Kusimpan albumku di dalam laci meja dan kukunci rapat. Kukeluarkan kado balasan Valentine Day dari Sora dan membukanya. Sebuah kalung rantai dengan mahkota putih. Sepertinya mahal karena terbuat dari perak. Ada sebuah kertas di dalamnya.

"Kurasa kalung ini sepadan dengan cokelat yang kauberikan selama ini."

"Kurasa, huh?" Aku tersenyum setelah membacanya. "Ini...lebih dari cukup. Bagiku, perasaanmu lebih penting," kataku pada diriku sendiri.