Kyahoo~ at last i finished the third chapter...
it took sometime than I thought...
Well, enjoy~
Disclaimer: It's still Masashi Kishimoto-san's :m
[-_-] [-_-] [-_-]
Karashi berusaha mengangkat kepalanya. Matanya mencari-cari keberadaan si pemuda berkulit coklat di seberang sana. Begitu mendapati si lumba-lumba manis tersebut baik-baik saja, ia langsung diliputi rasa lega yang sangat besar, saking besarnya iapun melupakan rasa ngilu di seluruh tubuhnya dan tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.
Melihat kepala Karashi terkulai lemas dan tak bergerak lagi, Iruka terkesiap. Namun, begitu ia menangkap gerakan kecil yang dihasilkan oleh napas teratur Karashi, ia merasa lega. Yaah.. untuk sementara ini, keduanya boleh merasa lega karena para shinobi Iwa yang menangkap mereka, merasa puas –untuk sekarang ini- dan meninggalkan mereka. Namun, bagaimanapun juga Iruka tahu dirinya harus mencari akal untuk keluar dari sini. Haruskah ia menunggu regu pencari dari Konoha untuk menyelamatkan mereka? Atau haruskah ia berjuang sendirian? Iruka terus memutar akalnya namun, sebelum ia berhasil menemukan jawabannya, mental dan tubuhnya yang lelah membuatnya jatuh tertidur.
"AARRGGGHHH!" suara teriakan parau seseorang menusuk telinganya. 'Cara yang buruk membangungkan seseorang' pikir Iruka. Namun, sesaat 5 detik setelah otaknya bekerja, ia langsung meronta liar berusaha melepaskan dirinya. Bagaimana tidak? Suara yang didengarnya tadi menandakan, para shinobi Iwa di seberang sana sudah kembali beraksi melampiaskan nafsu sinting mereka pada temannya.
"Hoo...? Sudah sadar rupanya. Apa tidurmu nyenyak manis?" Tanya shinobi berjanggut kambing yang kalau Iruka tidak salah ingat bernama Toki. Iruka mengerutkan alisnya. 'Apa yang ia lakukan disini?' batin Iruka bingung. Sepertinya si janggut kambing menyadari pertanyaan yang muncul di kepala Iruka dan langsung menjawabnya tenang, "kami bergantian jaga... yaah.. apa boleh buat.. kalau tidak aku yakin Ranko pasti langsung membunuhmu karena emosi... dan kami tidak mau itu terjadi." "Jadi maksudmu.. kalian tetap harus menyanderaku supaya partnerku tidak mengamuk? Betapa menyedihkannya kalian... bahkan kalian tidak berani melawan shinobi yang sudah terluka parah." Sahut Iruka sambil menunjukkan air muka kasihan. "Terserah katamu, nak... kami para Shinobi yang telah berpengalaman punya perhitungan sendiri. Bagaimanapun juga, kami tidak mau mengambil resiko." Timpalnya tenang. Iruka tersenyum sedih, "betapa lemahnya kalian..." PLAAKK! Tangan Toki melayang begitu saja menampar pipi kiri Iruka. "Dengar nak... walau aku ini orang yang tidak cepat naik darah, ada baiknya kau tidak bermain denganku." "Oh yaa..? Bukankah kemarin kau orang pertama yang kegirangan ingin menghajar temanku..?" Sebuah kunai mendadak sudah berjarak 1cm dari leher si lelaki berkulit coklat tersebut,Iruka menyadarinya dan ia memang sengaja memanas-manasi Toki. "Kuperingatkan kau... bila kau tak ingin kunai ini menembus lehermu, maka.. –"
"TOKII! HARUS BERAPA KALI KUPERINGATKAN KAU AKAN HAL ITU!?" hardik Kido mengamuk dari seberang. "Ta..-tapi Kido-san.. dia" "HARUSKAH KAU KUREKOMENDASIKAN UNTUK TURUN KEMBALI MENJADI CHUUNIN?!" "Ti..-tidak Kido-san.. ti-" "KALAU BEGITU JANGAN LAKUKAN APAPUN DAN TURUTI PERINTAHKU!"
"Sudah kukatakan... Si codet di seberang sana amat sangat mengesalkan, dan kau tidak percaya padaku Kido-san" gerutu Ranko kesal. Sedangkan Haeba hanya terkekeh melihat keadaan napas Karashi yang semakin memburu dan sekali-kali terbatuk. Wajah Kido memerah karena amarah yang mencapai ubun-ubun, "Tidak kau, tidak dia! Semua sama saja!" erangnya kesal sambil kembali menendang perut Karashi. "KHH..!" erang Karashi pelan, semua rasa ngilu ditubuhnya tak mampu lagi ia tahan. Ia kesakitan, ia kelelahan, ia ingin mengakhiri semua ini namun, tidak! Ia tahu ia tidak bisa. Ia harus melindungi Iruka, apapun yang terjadi. Walau ia harus menyerahkan jiwanya, demi Iruka, akan ia lakukan. Namun, tiba-tiba saja wajah Shizune terbayang dalam benaknya. Ia belum rela meninggalkan kekasihnya, ia belum rela bila harus pergi sebelum mendekap kekasihnya, untuk yang terakhir kali, karena itu.. ia bertekad untuk bertahan, apapun yang terjadi ia harus melewati siksaan ini.
"Sudahlah Kido-san... bukankah sekarang kau punya tempat untuk melampiaskan amarahmu itu?" ujar Haeba tenang dengan senyum licik diwajahnya sambil menjambak rambut Karashi – membuatnya terpaksa mendongak melihat para shinobi Iwa tanpa perasaan dihadapannya. Ranko langsung menyeruak menggapai wajah tampan Karashi yang kini penuh jejak darah dan memar. Ranko membelainya penuh nafsu dan menjilat pipi kanan Karashi. Wajah Karashi menekuk merasakan perasaan aneh yang menggerayangi tubuhnya. "Dasar kau mahluk sinting! Sudah kukatakan kalau kau melakukan hal-hal aneh, aku akan menempatkan kau diseberang sana lagi!" umpat Kido. "Kido-san... kau tahu kalau Ranko punya selera miring seperti ini... sudahlah.. bukan kau yang digerayangi olehnya kan..." sahut Haeba.
Karashi melirik kepada Shinobi yang sibuk membelai wajahnya, menghapus jejak darah di wajahnya dengan perasaan bergidik. Ia menggelengkan wajahnya berusaha melepaskan diri dari Ranko namun, tidak semudah itu. Ranko terus menjelajahi wajah dan rambut Karashi, sampai pada akhirnya tangan Ranko menggapai leher jenjang Karashi. Tiba-tiba saja jemari Ranko mengencang mencekik leher pemuda tampan itu. "GKKH..!" erang Karashi terkejut kesulitan bernapas. Karashi mengarahkan kedua tangannya – dengan susah payah – mendekati lehernya, berusaha menggapai tangan yang mencekiknya tanpa ampun. Begitu ia berhasil meraihnya, ditariknya tangan tersebut berusaha mendapat sedikit udara. Ketika paru-parunya mendapati udara, ia terbatuk beberapa kali. Ranko tersenyum melihat hasil kerjanya. "Kau memang menggiurkan bocah. Tak kusangka kau begitu… lezatnya.." ujar Ranko sambil menjilat ujung bibirnya sendiri.
"HAHAHHAA! Ranko… jangan kau makan dia… sadarlah, Kido-san masih ingin bermain dengannya." Haeba mengingatkan teman setimnya. Ranko menatapnya kesal namun, ia mengerti, ia sendiri masih ingin melihat kehancuran Karashi – dengan perlahan.
"… Apa yang sebenarnya.. kalian inginkan..?" hardik Iruka lemah. Toki meliriknya sebentar dengan enggan ia menyahutinya, "Entahlah… hanya Kido-san yang tahu apa yang ia inginkan." Iruka melihat ke arahnya dengan wajah penuh tanda tanya. Toki hanya mengehela napas menanggapinya tanpa berkata apapun. Mengetahui ia tidak akan mendapat jawaban dari shinobi di sampingnya, Iruka kembali memalingkan pandangannya ke seberang namun, tangannya tetap berjuang melepaskan diri dari belenggu besi yang dilindungi chakra. Darah mulai menetes dari kulitnya yang terkelupas akibat paksaan yang ia lakukan sedari kemarin.
" Haeba!" suara Kido terdengar memerintah temannya. Iruka hanya bisa memperhatikannya dari seberang, sambil sesekali melirik pada Toki, memastikan shinobi penjaganya tidak memperhatikan dirinya. Perjuangan Iruka tidak sia-sia, Walau ngilu dan perih, tangannya kini sedikit lagi terlepas dari belenggu besi tersebut. Setidaknya dengan begitu ia akan mampu membuat beberapa seal untuk mengeluarkan jutsu-jutsunya.
"Ambilkan air es untuk membangunkan bocah yang sudah tidur pulas ini!" perintah Kido di seberang. Iruka mempercepat usahanya untuk melepaskan kedua tangannya sambil memutar otak untuk mencari cara untuk lolos dari tempat penyiksaan disana. Begitu belenggu tersebut tak lagi sanggup menahan pergelangan tangan Iruka yang sudah berlumur darahnya sendiri, Chuunin pantang menyerah tersebut langsung membuat beberapa seal dan meng-kawarimi dirinya dengan Ranko yang berada di seberang sana tanpa disadari oleh Toki. Belum sempat para shinobi Iwa tersebut menyadari apa yang telah terjadi, Iruka sekali lagi membuat beberapa seal, mengeluarkan jutsunya, menghentikan gerakan Kido. Ranko langsung melepaskan kekkai yang dibuatnya, menghubungkan kembali dua ruangan yang terpisah itu. Iruka berjalan limbung ke arah Kido sambil mengeluarkan kunai dari pinggangnya.
"BERHENTI! Atau terpaksa akan kuhabisi dia!" ancam Iruka mengarahkan kunainya ke leher Kido.
"CHUUNIN KEPARAT!" umpat Ranko.
"HEY TOKI! BAGAIMANA BISA KAU DIBODOHI NINJA LEMAH INI?! KAU BENAR-BENAR MENGECEWAKAN!" bentak Toki marah, panik dan shock. Siapa sangka Chuunin yang dianggap remeh oleh mereka mampu mengacaukan formasi yang sudah susah payah mereka atur. Iruka sadar Haeba belum kembali ke ruangan tersebut namun, yang tidak ia sangka adalah, Shinobi yang sejak awal selalu diperintah oleh Kido ternyata mampu melakukan jutsu teleportasi.
"AKH!"
"HAEBA! JANGAN BUNUH DIA!" hardik Kido penuh amarah. Serangan dadakan yang dilakukan oleh Haeba berhasil membuyarkan jutsu Iruka dan kini Kido terbebas darinya. Telinga shinobi berkuncir tersebut berdengung, kepalanya terasa berat, pandangannyapun berkunang-kunang. 'Apa yang telah ia lakukan?' batin Iruka, tubuhnya limbung namun, sebelum Iruka jatuh sekalipun, rompi yang ia kenakan direngut dengan kasar.
"KAU….! KAU BENAR-BENAR CARI MATI, HAH?!" Hardik Kido dengan amarah yang nyaris tidak dapat ditahan lagi. Ia merasa dirinya dipermainkan dan ia sangat tidak menyukai hal tersebut, apalagi ia kini berada di depan anak buahnya. Shinobi Iwa berambut klimis tersebut langsung menghantam perut Iruka hingga terpelanting ke belakang menabrak tembok. Tubuhnya yang sudah kelelahan tidak mampu menahan pukulan tersebut, Iruka terbatuk dan muntah. Pandangannya semakin kabur. Iruka tidak mampu menahan berat badannya dan langsung merosot ke lantai. Kido mendekatinya dengan muka beringas, napas memburu senang melihat mangsanya tidak berdaya. Pandangan Iruka yang kabur menangkap sebuah gerakan namun, tidak jelas apa yang ia tangkap. Dan ia langsung merasakan sebuah tendangan keras pada perutnya membuatnya ia sekali lagi terbatuk-batuk. Tendangan itu tidak berhenti begitu saja. Ia merasakan beberapa tendangan lagi yang diarahkan pada perut, wajah dan punggungnya. Iruka meringkuk melindungi bagian tubuh depannya agar serangan-serangan yang diarahkan padanya tidak meninggalkan kerusakan vital padanya. Pada tendangan yang entah kesekian kalinya, ia merasa tidak dapat bertahan lagi, terlebih tendangan terakhir yang ia rasakan entah bagaimana mampu mengarah ke perutnya dan hal tersebut benar-benar menyiksanya. Punggung Iruka sekali lagi menabrak tembok di belakangnya. Jejak darah sudah mengalir dari ujung bibirnya. Beberapa tulang rusuknya retak, ya.. retak, Iruka merasakannya. Terasa ngilu sekali. Iruka menggelengkan kepalanya berusaha memfokuskan pandangannya. Betapa paniknya shinobi berkulit coklat eksotis tersebut begitu melihat sebuah tendangan mengarah tepat ke dagunya. Kontan ia memejamkan mata, menunggu hantaman keras yang bisa menhancurkan rahangnya tersebut. 5 detik berlalu. Iruka tidak merasakan apa-apa. Ia mengintip, membuka satu matanya melihat apa yang terjadi. Di hadapannya, ia menyadari beberapa lapis chakra menghalangi dirinya dengan orang yang menyiksanya – Kido. Pandangan Iruka langsung tertuju pada Karashi yang kini sedang menyeringai padanya dari belakang Kido. Toki yang menyadari Karashi, langsung menendang Shinobi berambut silver berantakan tersebut. Karashi mengerang lemah dan muntah darah.
"Hoo… jadi kau hanya berpura-pura tidak sadarkan diri untuk hal ini?" ejek Kido berusaha mengontrol amarahnya. Ia berjalan mendekati Karashi, menjambaknya dan mengamatinya dengan mata berapi-api penuh keinginan untuk membunuhnya karena telah mempermalukan dirinya – lagi-lagi – di depan anak buahnya.
"Bagus… Berarti aku masih bisa bermain denganmu… Haeba!" seru Kido. Haeba mengerti seruan Kido dan langsung berjalan mendekati Kido menyerahkan ember berisi air es yang telah ia bawa.
"He..-HENTIKAAAN!"
"KKKHH…!" Erang Karashi begitu air es tersebut mulai membasahi tubuhnya, ia menggertakkan kedua giginya, menahan segala rasa sakit yang menyelesak keluar dari luka-luka ditubuhnya. Teriakan Iruka tidak digubris oleh para Shinobi Iwa, mereka malah menyeringai dan tertawa, menandakan mereka puas akan apa yang telah mereka lakukan terhadap Karashi.
"KARASHI! LEPASKAN KEKKAI INI! KARASSSHIIII!" Iruka menggebrakkan tangannya ke kekkai yang kini membatasi dirinya dengan Karashi dan Shinobi-shinobi Iwa.
"HENTIKAN! KUMOHON LEPASKAN DIA!" teriak Iruka, air matanya kini mengalir membahasi pipi coklatnya. Mata Iruka bertemu pandang dengan Karashi. Lelaki bertubuh putih pucat tersebut memberikan senyum tipis, berusaha menenangkan Iruka namun, dengan keadaannya sekarang ini, hal tersebut sama sekali tidak berhasil.
"GAAKHH!" sekali lagi Karashi tidak mampu menahan rasa sakit akibat tendangan yang diberikan Kido ke arah pinggangnya. Iruka masih berjuang menghancurkan kekkai yang dibuat Karashi namun, tiba-tiba saja suara tersebut terngiang disamping telinga si lumba-lumba,
'Iruka.. Hen..tikan.. K-kau akan.. membuat semua..-nya sia.. Kuuh… sia…. Pergilah… K-kembalilah ke Konoha.. jangan kembali kemari…'
'K-… KARASHI! Kau… LEPASKAN KEKKAI INI! MANA MUNGKIN AKU MENINGGALKAN KAU?!'
'Kumohon… pergilah..'
'KARASHI!'
'pergi…'
"KARASHII!"
"Hey bocah! Temanmu memanggil..!" ujar Kido penuh kemenangan sambil menjambak si rambut silver, memaksanya mendongakkan kepala memberikan detail pemandangan pada Iruka yang aman di dalam kekkai. Wajah pucat Karashi kini sudah dipenuhi luka dan memar. Bibir tipisnya pecah-pecah, terluka dan dari sudut bibirnya terlihat jejak darah juga darah yang masih menetes. Darah dari keningnya membasahi sebagian wajah tampannya. Iruka bahkan sudah tidak dapat menemukan fokus mata Karashi, matanya menatap kekosongan. Iruka tidak menyukai pemandangan yang ia lihat tersebut. Dadanya bergemuruh dipenuhi rasa benci, sedih, marah, sesak, kini ia tidak dapat mengontrol dirinya sama sekali. Paru-parunya terasa tersumbat, hatinya serasa akan meledak, bahkan pikirannya terasa kosong. Dan tiba-tiba saja ia diliputi kegelapan. Iruka mendapati dirinya berada dalam kegelapan, sebuah kegelapan tidak berujung.
[-_-] [-_-] [-_-]
TBC
Gyaaa.. I hope it isnt to much ,
kok berasa jadi kejam ya ==a
Im sorry for the misspelling though...
Until next time~
Jaa...~
NB: dont hesitate to leave some RnR
Ur Review will be my pleasure..~ [^o^]/
