#bergetar di depan laptop#
Halo ... Saya datang lagi ... Ada yang kangen gak? #plak#
/ Te-te-terimakasih buat semua yang review di chapter sebelumnya yaa ... Terimakasih sudah memberi masukan lewat review. Pokoknya terimakasih! #ngusap ingus di baju Sasuke# (Sasuke: Chidori!)
Saya akan berusaha lebih keras lagi. Sampai-sampai berkali-kali ke perpustakaan baca novel —buat meneliti cara menulis yang benar dan tentu saja buat bisa bikin fanfic SasuNaru yang bagus juga. Semoga yang ini bisa sedikit lebih baik ^/^
Nah, sesuai janji saya lanjutin ceritanya ya ... Maaf kalo telat —sebab lagi sibuk-sibuknya sama sekolah #alah alasan#
Aduh, gak tega banget mau update. Cerita ini sangat gaje dan sepertinya tidak pantas untuk diteruskan X'D. Oke, kebanyakan curcol nih. Kita mulai ceritanya ...
.
.
'Primadona?' by Uchiha Over Love
Disclaimer: Naruto punya Kakek saya, Masashi Kishimoto (MK: Siapa loe? #Author pundung#)
Pair: SasuNaru saklawase
Genre: Romance dengan setitik Humor. Gak yakin juga sih ...
Warning : BL, AU, Slash, Shounen-Ai dan mungkin sedikit Shoujo-Ai, OOC, penulisan gak sesuai EYD —gara-gara kebiasaan nulis Author yang salah, typo(s), gak nyambung, alur cepat, kesamaan kata dan cerita adalah unsur ketidaksengajaan, kebanyakan warning(?) dan segala keburukan lainnya terdapat di fanfic ini
Rated: T = Tentu #plak#
.
A/N: Terimakasih untuk 'Katsu,' yang selalu setia mendukungku. Dan untuk 'Gama,' yang menjadi sumber inspirasi terbesarku. Terakhir, untuk kalian yang sekarang mengunjungi/membaca fanfic ini. Beribu terimakasih, I'M NOTHING WITHOUT YOU ;') #kebanyakan woy#
.
Don't like don't read. Anak baik akan mengindahkan peringatan ini
.
.
I don't own anything
.
12.30
11 IPA B
NARUTO'S POV
"Eh, Hinata sayang ... Coba liat foto ini deh ..."
"Jangan, Hinata cintaku(?) ... Lihat yang ini saja, lebih klop(?) ..."
"W-wah, i-ini kan ShikaKiba ... Eh, oh, y-yang ini NejiGaa ... A-aku suka d-dua-duanya!"
"Ini lho, siswa baru yang tampan tadi. Aku berhasil mengambil fotonya!"
"Aku yakin Naruto akan menyukainya!"
"B-betulkah N-naruto?"
Aku terdiam.
"Naruto?"
"Hei Naruto?"
Ukh ... Sengaja aku tidak menjawab dan menulikan telinga dari suara tiga gadis fujoshi yang asyik berdiskusi(?). Apalagi bila menyangkut teman-temanku di kelas sebelah. Bahkan mendengarkan penjelasan dari guru saat ini juga sama buruknya. Aku ingin berkata: "Kenapa setiap detik dalam hidupku berisi penderitaan?" by Squidword.
Bila aku punya pilihan, aku lebih memilih disuruh mengerjakan tugas sampai tanganku keriting —daripada harus memenuhi otakku dengan hal kekanak-kanakan seperti ini. Bisa jadi otakku yang tidak seberapa pintar akan semakin bertambah bodoh ... Hiks hiks. Kejamnya guru tiri(?).
"... Jadi anak-anak ... 1+1 sama dengan?"
Kriiik ... Kriiikk ...
Tak ada yang minat merespon. Sebagian cengok.
"... Yak! Benar! Jawabannya 2!"
Kali ini sebagian murid lagi pingsan berdiri di tempat.
"3+3 sama dengan? 6? Hohoho ... Betul sekali ... Tobi memang anak pintar!" guru dengan topeng pusaran air itu melonjak-lonjak ala Kanguru. Dia yang memberi pertanyaan malah dijawab sendiri ...
Ekspresi teman-temanku —tak perlu ditanyakan— benar-benar terlihat seperti bosan hidup. Dimana Iruka-sensei? Aku akan lebih bersemangat bila dia yang mengajar Matek-matekan daripada guru piket labil bernama Tobi-sensei ...
"Naruto, masa muda ..."
Aku mendengus, "Diamlah, Lee."
Disaat seperti ini, kurasa di dalam jiwanya masih mengobarkan semangat masa muda turunan Gay-sensei, guru OLGA. Kepanjangan dari OLahraGA. Wah, mereka berdua memang benar-benar membara.
Diam-diam niat iseng muncul di kepalaku. Mungkin menjahili Lee akan menyenangkan. Entah karena otakku yang mulai konslet, atau pekikan suara gadis-gadis fujoshi yang mulai menggila, mungkin juga dua-duanya. Aku mencondongkan tubuh lebih dekat.
"Kenapa kau tidak memacari Chouji, Lee?" Alisku naik sebelah, bermaksud menggoda.
"Masa mu ... ," ia berhenti, menatapku seperti mendengar kabar hantu beranak dalam kubur. "Apa?"
Hihihi ... Coba lihat wajahmu ...
"Kau tahu ," kusipitkan mataku, pura-pura serius sekaligus dengan arti fleksibel mendramatisir suasana. "Chouji kan tubuhnya 'sedikit' membulat, berbanding terbalik denganmu yang 'sangat' langsing. Mungkin kalian bisaa ... saling melengkapi?"
Perhatian, beri penekanan pada kata SEDIKIT dan SANGAT. Perkataanku tadi efeknya luar biasa, atau dianya saja yang merespon berlebihan.
Kulihat mata Rock Lee yang sudah bulat kini semakin membulat sebesar bola pingpong. Kemudian ia meledak —setengah berbisik, tentunya. Aku tertawa pelan. Setidaknya ia tak akan mengucapkan semangat masa mudanya lagi.
Sekarang aku bersyukur karena tempat dudukku berada dekat jendela. Perlahan angin semilir berhembus melewati telingaku —meredam suara-suara makhluk halus(?)— menggodaku untuk menengok keluar.
Rasanya seperti dibuai dalam indahnya pleasure dunia. Berlebihan memang, dan inilah nyatanya yang kurasakan.
Di bawah sana, terlihat rombongan ayam dan anak-anaknya sedang berjalan-jalan. Ayam-ayam itu memang tidak berdosa dan tak tahu apa-apa. Tapi salahkan mereka yang mengingatkan akan kenangan buruk di jam istirahat, tepat siang ini.
Tiga siku-siku muncul dengan indahnya di dahiku.
Aku benci ayam! Aku benci ayam!
Flashback
Lee terus bersemangat sambil meninju udara, "Masa muda! Kita menuju kantin tepat di jam istirahat! Yosh!"
...Benar-benar hal yang tidak perlu dikatakan.
"Nyam nyam ... Aku sudah lapar ...," ucap siswa tambun berambut coklat a.k.a Chouji sambil mengelus perutnya. Persis orang hamil sembilan bulan, bedanya ini bayi nggak lahir-lahir dan tidak akan pernah lahir.
Siswa lain yang misterius dengan jaket ditudungkan, kerah baju tinggi, serta kacamata hitam ala orang pijat —katanya sih mau nutup aurat— menyahut, "Itu bukan perut, tapi karung."
"Naruto, aku traktir yuk? Sebentar lagi kusuapi ya?" hidangan terakhir, Sai tersenyum bagaikan zombie.
Ah, anggap saja aku tak dengar. Empat temanku ini adalah Jombloers yang tidak mengenal suasana, sekaligus tidak normal. Jadi meskipun kau mengabaikan perkataannya, mereka tak akan protes. Sungguh. Dan inilah yang kulakukan sekarang.
Tujuanku kesini ... tentu saja makan ramen. Seperti biasa, kantin cukup ramai, dengan banyak orang yang menatapku —masih sama seperti kemarin, lusa, bulan lalu, dan dulu-dulu.
Enaknya pesan ramen apa lagi ya? Kuharap Teuchi Jii-san punya menu baru ...
CRAT!
Mendadak semua pikiran mengenai makanan pupus dari benakku. Saat mengetahui bahwa jaket orange favoritku dipenuhi cairan berwarna merah, rasanya aku ingin menguliti siapapun tersangkanya. Sejenak kurasakan orang-orang di sekitarku berhenti bernafas. Hanya detik jam yang terdengar.
Sabar dulu, Nar. Tarik nafas, hembuskan melalui mulut. Tarik nafas lagi ... hembuskan melalui mulut. Hitung satu sampai sepuluh berulang-ulang atau kau akan meledak seperti bom nuklir manusia.
"Ah, maaf. Aku tak sengaja menumpahkan jus tomatku," ujarnya sambil nyengir. Mimik mukanya menyebalkan sekali, mengundang untuk digiles pakai buldozer.
CUP!
Teriakan memilukan langsung terdengar di seluruh penjuru kantin. Apa-apaan orang ini? Cari mati rupanya.
Apa dia ingin kupukul, kulumat, dan kuremukkan wajahnya sampai tak berbentuk? Kalau perlu nanti di presto, dan pasti tak lama lagi akan jadi makanan lezat untuk Kyuubi —rubah imut peliharaanku.
Lalu apa yang kutunggu? Kenapa aku hanya terbelalak dan mematung?
"Itu permintaan maaf sekaligus salam perkenalan dariku," bibirnya membentuk senyuman miring. "Namaku Sasuke Uchiha. Jangan lupakan aku ya, sweety."
Seenak rambut chickenbutt-nya, ia berbalik dan pergi. Kata orang, kesan pertama begitu menggoda. Lha ini apa? Kesan pertama begitu ... ? Titik titik.
Tangan kuning langsatku menyentuh pipi yang tidak perjaka lagi ... Lebay deh. Intinya mulai hari ini aku akan membuat Kyuubi menyukai daging ayam segar macam Sasuke.
Flashback [end]
Sejak saat itu aku tak bisa melepaskan pikiranku terhadap anak ayam Uchiha itu. Untung masih ciuman di pipi, kalau sampai lebih dari itu maka wajahnya pasti sudah kusemen, kuberi pakaian wanita, dan kuberi obor sampai jadi patung liberty part 2.
Ya, dia memang KEREN. Kependekan dari KEtek RENtengan.
Sampai kurasa cukup melamun menatap keluar jendela, ternyata kudapati sudah hanya ada sesosok makhluk hidup yang ada di kelasku. Lho? Jangan-jangan sudah bel pulang?
Seberapa lamanya aku terbuai dalam mimpi semu? Lebay lagi. Sepertinya sekarang aku sudah berhasil menguasai tekhnik tertidur sambil melamun. Hei Shikamaru, ada kabar baik untukmu. Kau kalah.
Shion mendekat, "Naruto. Aku sudah selesai piket. Aku boleh pulang kan?"
Aku terhenyak dan meringis menyadari keteledoranku. Ketika menengok ke balik punggungnya, kelas benar-benar terlihat sudah kosong melompong. "Dimana yang lain?"
Walaupun bertanya, kurasa jawabannya tidak jauh-jauh dari pikiranku sekarang.
Gadis cantik yang mirip dengan Hinata itu hanya mengangkat bahu, "Yang piket hari ini hanya aku seorang. Yang lainnya tadi sudah lari terbirit-birit karena takut dipaksa makan lollipop bekasnya dijilat Tobi-sensei."
Bulu kudukku meremang. Tentu saja, hanya orang tidak waras yang mau memakan lollipop itu. Bisa jadi pula mereka terkontaminasi ikut-ikutan tidak waras.
"Kebetulan hari ini jadwalmu piket juga, Naruto," sambungnya.
Ia beranjak menuju pintu, teriakan lantangnya masih terdengar walaupun menjauh. "Kau sebagai ketua kelas dan aku wakilnya, jadi kita sama-sama jangan membolos piket, oke? Biar aku besok yang mendenda dan memberi hukuman seumur hidup kepada mereka. Bye bye!"
Aku menghembuskan nafas pelan. Sudah terlambat untuk menyesal, kenapa dulu diriku setuju-setuju saja waktu ditunjuk jadi ketua kelas. Alasannya sederhana saja, untuk sedikit menyenangkan hati Iruka-sensei.
Kejengkelanku bertambah ketika kucari sapu atau apapun yang bisa membersihkan kelas, ternyata tidak ada satupun. Masa' Shion memakan sapu-sapu dan kain pel?
Sambil menghentakkan kaki dengan kesal, aku berjalan menuju kelas sebelah. Kupikir ini hari tersialku sepanjang tahun.
o.o
Sayup-sayup aku mendengar suara Iruka-sensei menerangkan sesuatu di lab IPA. Beruntung sekali kelas yang dapat diajar oleh guru kesayanganku itu. Tanpa sadar bibirku mengerucut karena tak bisa melampiaskan kekesalan pada siapapun.
Bagaimana caranya supaya ada yang menemaniku?
Kupikir Lee adalah korban kejahilan terakhirku hari ini. Tapi sepertinya tidak, sebab lagi-lagi ide jahilku muncul ketika melihat sandal Iruka-sensei.
Aku mengendap-endap seperti seekor kucing yang sedang mengincar tikus. Kuambil kedua sandal itu, lalu kubawa dengan niat kusembunyikan di kolong mejaku. Dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa, aku melenggang pergi.
NARUTO'S POV [end]
o.o
Sasuke telah menghabiskan beberapa menit untuk mendengarkan penjelasan ini-itu dengan serius. Ketika melihat jam menunjuk pukul 2, ia merapikan alat tulis. Secara tak sengaja mata onyx nya menangkap siluet seseorang yang mencuri sandal di depan lab. Setelah keheranan dan menerka-nerka, seringaian mengembang di bibirnya.
BRUK
Guru dengan tanda luka melintang di hidung itu mengetukkan buku-bukunya yang telah dikemas di atas meja, kemudian berdiri tegak. "Baik, sampai disini saja perjumpaan kita. Selamat siang."
Semua murid juga melakukan hal yang sama, berdiri dan serempak menyahut. "Selamat siang."
Minus Sasuke, berbondong-bondong siswa-siswi berebut keluar dari kelas. Coba bandingkan dengan anak kecil, sehabis berdo'a langsung pulang teratur dan tidak lupa bersalaman dengan gurunya. Betapa tertibnya anak TK ya? Ckck.
Ketika melihat Sasuke masih terdiam seolah memikirkan sesuatu, Iruka mengernyitkan dahi keheranan. "Uchiha? Kenapa tidak pulang?"
"Masih ada urusan," jawab Sasuke. Singkat, padat, tidak jelas. Dan jelas-jelas membuat kerutan di dahi Iruka semakin dalam. Guru satu ini memang penyayang dan khawatiran kepada anak didiknya. Terutama kepada Naruto, yang sudah dianggap anaknya sendiri.
Tapi akhirnya Sasuke mempunyai rencana lain. "Baiklah, aku pulang Sensei. Selamat siang."
Cepat-cepat Sasuke berjalan mendahului Iruka, ketika melewati pintu tentu hanya sepasang sepatu saja yang tersisa —ia hanya tersenyum tipis mendengar suara keheranan di belakangnya, tanpa berniat berbalik untuk menoleh.
"Lho? Mana sandalku?"
o.o
"Ada apa, Iruka-sensei? Kok sedih?" tanya Naruto yang kebetulan atau sengaja lewat di depan TKPKS, Tempat Kejadian Perkara Kehilangan Sandal.
Bakat yang didapat karena Tou-san nya sering ber-akting supaya tidak kena marah Kaa-san nya —dipraktekkan saat ini juga. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, pepatah itu bisa dikatakan benar.
"Naruto, sandalku hilang. Padahal sandal itu kan dari Kakashi ..." Iruka hampir saja mewek. Kalau tidak di depan Naruto, dia pasti sudah menangis bercucuran sampai 99 ember ala anime style. Lagi-lagi lebay.
Benar kata orang, kalau lagi jatuh cinta tai kucing pun dirasa coklat. Inilah yang terjadi pada Iruka, kehilangan sandal saja seperti orang kehilangan kuping sebelah. Namanya saja sandal dari kekasih. Cie.
Cowok manis berambut pirang di depannya hanya manggut-manggut sambil bawa sapu. "Begini saja. Sensei nungguin Naru bersih-bersih dulu. Nanti kalau Naru udah selesai bersih-bersihnya sampai semua kinclong, baru deh Naru cariin sandalnya. Oke?"
Iruka hanya mengangguk menyetujui tanpa mengetahui apa yang dipikirkan anak kesayangannya tersebut. Betapa polosnya orang dewasa yang satu ini. Ia memang terlanjur mempercayai Naruto, dan ia tahu kalau Naruto memang jahil. Jadi siapa sangka bahwa korban saat ini adalah dirinya sendiri.
o.o
1 jam kemudian ...
Kelas 11 IPA B sudah bersih berkilau berkat tangan-tangan cekatan Naruto. Meja, kursi, vas, lemari, semuanya bersih. Bahkan sampai wajah orangnya juga berkilau, berkilau dan licin oleh keringat. Sampai berbunyi Cling ... Cling ...
Naruto menghapus peluh dengan punggung tangannya yang telanjang, tak lupa dengan desahan puas atas hasil karyanya sendiri. "Nah, kelas sudah bersih. Iruka-sensei tunggu saja disini, Naru mau cariin sandalnya dulu."
Lagi-lagi Iruka mengangguk, berharap-harap cemas sandalnya bisa ditemukan. Untuk Naruto, mudah saja menemukan sandal yang hilang kalau tidak lain tidak bukan, pencurinya adalah dia sendiri.
Hihihi ... Hari ini pulang bareng Iruka-sensei lagi deh.
o.o
Sasuke termenung menatap kedua sosok yang berjalan beriringan di depan sana. Setelah suara canda tawa antara guru dan murid itu hilang, barulah ia keluar dari tempat persembunyiannya.
Rasanya ia hampir jenggotan menunggu Naruto bersih-bersih kelas. Lamanya mampus. Beberapa saat kemudian, tangan putihnya mengeluarkan benda kotak mengkilat dengan gantungan berbentuk kipas. Sambil menekan beberapa kata, kemudian nomor, barulah pria ini memutuskan untuk benar-benar pulang. Setidaknya memutar jalan dengan tetap membuntuti Naruto dan Iruka.
.
.
To: Shikamaru Nara; Kiba Inuzuka; Sabaku No Gaara; Neji Hyuuga
From: 08xxxxxxx093
Apanya yang licik? Dia hanya anak rubah yang kesepian.
Tenang saja, sesuai perkataanku. Aku yang akan menghapus rasa kesepian itu, dan aku yang akan memiliki sang 'Primadona'
-Sasuke
.
.
Te ... Te ... Tbc ... #ambruk /
.
.
Aduh ... Akhirnya selesai. Agaknya yang ini lebih pendek dan gaje dari yang kemarin ya?
Saya akan berusaha menulis dengan benar mulai sekarang ^/^
Fanfic ini saya post di tengah-tengah minggu sekolah yang bikin stres T^T
Tapi untunglah di samping itu teman-teman saya, Katsu dan Gama memberikan sedikit lelucon di percakapan kami. Menimbulkan banyak inspirasiku untuk menulis. Dan untukmu yang telah mereview, terimakasih sangat :D
Apalagi karena saya Author baru, update chapternya masih berbelit-belit. Lucu sekali, saya bertanya-tanya sendiri, "Kumaha caranya update chapter?" Dan akhirnya bernyanyi WE ARE THE CHAMPION waktu beneran bisa. Oh, terimakasih YouTube, I'll love you forever. Ampun deh, daku alay -_-
Minta recehannya dong? Eh salah. Minta reviewnya dong? :')
