Naruto© Masashi Kishimoto
Symphony of My Heart © Takamura Uru
Gomen Taka baru lanjutin lagi QAQ bagi yang sudah lupa baca lagi aja chapter 1 nya yang Memory ya~ dan gomen kalau cerita ini berantakan lagi males mikir bahasa penulisan T.T
Genre : Romance/Tragedy
Warning : Typo bertebaran, alur membingungkan dan kecepetan, gaje, berantakan, little
OOC dan warning standar lainnya (==)"
Summary : Symphony itu selalu mengalun lembut dihatiku membuat ku terbius dengan
pesonanya. Sampai suatu hari tatkala simphony dan melodi itu tak terdengar
indah lagi di hatiku. Seakan aku mendengar symphony yang menyayat hatiku lebih
dalam...
Not like?
Don't read
Chapter 2 à Déjà vu
"TING"
Ada apa ini..kenapa sekarang ada suara dentingan nyaring..
Bukan rangkaian symphony yang kuharapkan...
Kurasa dentingan itu mencoba membuat symphony baru dihatiku ini..
Tapi akan kah piano klasik ini kan menerima dentingan itu..
Aku berjalan sendirian menyusuri taman bertema klasik ini. Mencari inspirasi untuk novel terbaru ku. Novel ku yang baru berjudul 'Deja Vu', menceritakan sebuah perjalanan hidup seorang gadis yang selalu mengalami deja vu dalam hidupnya.
Aku memerhatikan sekitar, memandangi sesosok pemuda berambut merah yang berjalan mendekat kearahku. Tanpa memikirkan pemuda yang berjalan mendekat itu, aku langsung memalingkan wajah dari pandangannya. Melanjutkan langkahku kembali menyusuri taman. Namun langkahku berhenti, saat tanganku di tahan oleh pemuda tidak kukenal tersebut.
"Siapa kau?" tanyaku dengan nada sakartis.
"Kau sudah lupa dengan diriku?"
"Aku tidak pernah merasa pernah kenal dengan mu," ujarku seraya melepas genggaman tangan pemuda aneh itu.
"Hh..aku Gaara, sahabat kecilmu! Apa kau lupa huh?"
"Aku tidak mengenalmu, jadi..tolong tinggalkan aku,"
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu! Apa kau juga lupa? Hari ini adalah hari dimana kita dulu bertemu sebelum aku pergi?!"
"Baiklah akan aku ceritakan," pemuda bernama Gaara itu menerik tanganku kembali, tapi kali ini lebih pelan. Dia mengajakku berkeliling untuk menceritakan tentang siapa sebenarnya dia dan aku, dulu. Aku tidak begitu mengerti karena segala kenangan itu sudah lama hilang semenjak aku berubah atau memang sebenarnya kenangan tentang yang pemuda itu ceritakan memang tidak pernah ada.
XXX
"Hei Hinata, apa kau sudah mengingat semuanya tentang kita dulu?"
diriku hanya menggeleng pelan sembari menatap lurus kedepan. Aku tidak punya niat untuk mengingat masa lampau, kecuali itu berkaitan dengan Naruto.
"Hinata, sebenarnya aku dari dulu sudah..mencintaimu, aku menunggu hari ini dimana aku bisa menemuimu lagi dan berterima kasihlah pada Sakura karena sudah mempertemukan kita Hinata," ucap pemuda bernama Gaara itu dengan senyum yang kuanggap palsu dan hanya kutatap dengan pandangan dingin. Karena aku sudah merasa tidak begitu nyaman lagi bersama dengan Gaara, kulepaskan secara paksa genggaman tangan Gaara.
"Maaf tapi aku tidak mengenalmu, selamat tinggal." pemuda itu mematung tidak percaya untuk beberapa saat, tapi tak lama pemuda itu berujar seolah tidak terjadi apapun barusan.
pemuda itu tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai ke arahku lalu berkata, "Aku akan tetap mengejarmu Hinata sampai kau tahu siapa diriku.." serasa ada hembusan angin dingin yang menerpa wajahku, membuat selintas perasaan takut menyelimuti hatiku sebelum aku berpaling dan meninggalkan pemuda itu sendiri di taman.
Tak lama dentingan itu mulai menjadi sebuah symphony..
Tapi symphony yang asing bagiku..
Entah bisakah ku mendengar lagi symphony ini..
Rasanya symphony...memekakkan hatiku..
Tak bisa kuterima..
XXX
Diriku tengah berjalan menuju pemakaman, karena hari ini tepat 4 tahun semenjak kematian Naruto. Aku ingin mengunjungi tempat Naruto sembari berharap dapat bertemu dengannya lagi. Haha pernyataan bodoh apa lagi ini, mana mungkin dia dapat kembali lagi ke dunia ini. Tapi aneh nya aku selalu berfikiran positif dengan bahwa kau, Naruto akan kembali lagi dan mengajak ku pergi bersama. Yah itu yang kuinginkan, dan aku berharap suatu hari nanti dapat terjadi.
Namun tiba-tiba aku melihat seseorang berambut merah menunggu di gerbang pemakaman, dan dapat kutebak itu adalah pemuda yang kemarin. Pemuda aneh yang mengaku-ngaku sebagai sahabat masa kecil ku.
Gaara POV
Berkat Sakura aku bisa sejauh ini mendekati Hinata, baiklah selangkah lagi aku akan bisa mendapatkan Hinata. Akan kulakukan segala cara agar dia dapat sepenuhnya menjadi milikku. Hinata kuharap kau segera melupakan tentang bocah tengik itu!
Gaara POV End
Segera saja aku sedikit menjauh kesisi gerbang yang satunya, aku merasakan sesuatu perasaan tidak enak yang mungkin akan terjadi. Dan benar saja pemuda itu mendekat dan menarik diriku pergi menjauh dari pemakaman. Berusaha aku melepaskan genggaman tangannya yang sangat kuat, aku berontak dan berteriak meminta pertolongan, namun nihil hasilnya tak seorangpun mendengarku karena dia membawaku ketempat yang sepi. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan dan semoga saja bukan hal buruk yang akan dia lakukan. Tiba-tiba dia berhenti disuatu tempat atau lebih tepatnya disebuah gang sempit dan langsung melemparku kea rah dinding. Rasanya sakit dan sedikit takut, suatu perasaan yang sudah lama tidak aku rasakan.
"Hinata! Kali ini aku akan mengatakan sesuatu," ucap pemuda itu dengan wajah datar.
"Apa yang ingin kau ucapkan dasar kurang ajar!" bentakku dan langsung disambut tatapan tajam dari pemuda bernama Gaara itu, namun itu tidak membuat nyaliku berkurang.
"Sebenarnya…aku bukan teman dekatmu semasa kecil. Aku hanya diberi saran oleh Sakura dengan mengaku sebagai teman masa kecilmu agar dapat dekat denganmu. Tapi ternyata hal itu tidak berhasil dan kini aku akan melakukan dengan cara ku sendiri,"
"Dasar pembohong! Kau tak pantas berada di dekatku! Aku hanya pantas berada disisi Naruto! Hanya Naruto!"
"Apa kau gila huh?! Naruto itu sudah MATI! Apa kau akan terus-terusan menyukai hantu huh?!"
Ucapannya kali ini sudah sangat membuatku kesal dan dengan spontan langsung kutampar dirinya, "Kau! Jangan pernah katakan bahwa Naruto Hantu dia itu masih hidup! Kau hanya orang sok tahu yang tiba-tiba datang dihidupku dan merusak hariku! Aku tidak akan pernah menerimamu sampai kapanpun! " teriakku di hadapannya dengan amethyst ku yang sudah berlinangan air mata.
"Kau egois! Seharusnya kau bias mengerti tentang bahwa Naruto sudah tiada! Sadarlah Hinata!" Gaara tampak marah dan bersiap seperti mau menamparku. Namun tiba-tiba Sakura datang dan menahan tangan Gaara yang hendak menamparku sebelum terlibat percekcokan, lalu menarik diriku menajauh dari tempat itu.
XXX
"kau egois"
..itu yang kudengar saat symphony ini mengalun..
Aku tak peduli..aku hanya piano klasik yang usang...
Menanti datangnya symphonyku yang dulu..
Yang mempunyai melodi...
"Hinata apa kau baik-baik saja?" ujar Sakura sembari menyentuh pipiku namun kutepis tangannya itu dan menatap tajam Sakura. Sakura seakan mengerti kenapa aku berlaku seperti ini, dia lalu menunduk dan terlihat menyesali apa yang telah dia perbuat.
"Apa yang kau lakukan? Aku tidak pernah meminta bantuanmu! Kau kan tahu aku hanya akan menunggu sampai Naruto datang kepadaku!" bentak ku didepan Sakura.
"Gomen ne~ Hinata aku hanya ingin membuatmu dapat melupakan Naruto-senpai, sadarlah Hinata..Naruto-senpai itu sudah tidak ada lagi didunia ini sejak lama….seharusnya kau menerima kenyataan itu Hinata!" ujar Sakura yang menaikkan nada seakan membentak pada beberapa kata terakhir. Dengan spontan aku langsung menampar Sakura dalam diam. Aku sudah terlalu lelah untuk menjawab apa yang dikatakan Sakura. Aku lebih memilih untuk berjalan meninggalkan Sakura.
"Hinata! Sebenarnya Sasuke-senpai itu suka padamu! Dan…Naruto itu sudah pernah menyatakan cinta padaku Hinata! Aku selalu menyembunyikan tentang ini darimu karena aku takut kau akan menjauhiku…" ujar Sakura dengan nada penuh penyesalan dan rasa sedih. Aku terdiam sementara untuk mencerna perkataan Sakura, namun entah apa yang membuatku kurang dapat mencerna perkataan Sakura dan memilih untuk berjalan meninggalkan Sakura kembali. Sakura mematung dan menangis dalam diam entah apa yang dia pikirkan sekarang, aku sedang tidak ingin peduli.
XXX
Jika sampai hari itu datang aku ingin mengatakan sesuatu..
Tentunya dalam melody yang kubuat..
Aku memang tidaklah secerah matahari..
Bukan Selembut lavender..
Aku penakut tidak seberani mawar..
Aku tidak sewangi melati..
Aku rapuh, sangat rapuh tidak sekokoh edelweiss..
Aku usang dan tidak seindah sakura..
Aku kaku tidak seanggun anggrek..
Tapi...
Satu yang dapat ku katakan dengan tegas...
Aku adalah butiran berlian yang kehilangan kilaunya..
Aku butuh kilau itu..
Dan itu kau...symphony ku...
Aku berjalan tanpa arah, namun ada yang menuntunku seakan harus berjalan kearah sekolah lama ku. Dan sampaiah aku digerbang sekolah, aku menjadi kembali mengingat hal-hal indah yang pernah terjadi di sekolah ini. Ada persaan ku yang mengatakan bahwa aku kembali ke memori masa lalu seperti Déjà vu. Kebetulan aku melihat sekumpulan anak lelaki sedang bermain basket, dan dua anak perempuan sedang duduk di bawah pohon dekat lapangan. Mengingatkanku saat aku menyiapkan rencana akan mengikuti Naruto dan Sasuke saat pulang sekolah.
Kududuk disalah satu bangku dekat lapangan dan memerhatikan sekitar, sampai waktu berjalan begitu cepat. Bel pulang sekolah sudah berbunyi, tidak terasa sudah berjam-jam aku duduk di bangku itu. Aku berencana untuk pulang kerumah dan mencoba memulai kembali segalanya besok.
XXX
Dan aku juga selau jujur..
Dan itu kulakukan pula dengan tegas disetiap melodi-melodi yang kuberikan untukmu..
Melodi yang menyiratkan betapa tulusnya ku berikan seluruh melodi ku ini untukmu...
Andai kau dapat kembali lagi symphony ku..
Akan kubiarkan kau mengalun tak henti di hatiku..
Sampai waktu menggerogoti piano usang ini..
Diriku berjalan perlahan menuju gerbang, dan merasakan sesuatu angina dingin yang aneh di musim semi ini. Saat ku tatap lurus kedepan ada sepasang lelaki yang tengah berjalan berdampingan menuju suau arah yang sepertinya familiar bagiku. Saat kuperhatikan lebih baik ternyata dua lelaki itu adalah Naruto dan Sasuke. Sontak saja aku kaget dan terdiam di tempat masih mencerna apa yang kulihat itu memang benar mereka. Dan benar saja itu mereka! Aku tidak mungkin salah, langsung saja aku berlari menujju mereka, tapi entah mengapa rasanya mereka berjalan dengan sangat cepat.
Tibalah aku di perempatan jalan, tempat dimana sebuah kecelakaan terjadi dan mengubah hidupku. Aku masih berlari mengejar mereka. Aku memperhatika saat-saat ini persis seperti waktu itu. Dan aku tidak salah, ada sebuah truk yang datang mendekat kearah mereka. Dengan cepat aku berteriak memanggil mereka masih dalam keadaan berlari. Kemudian Naruto menoleh dan tersenyum kepadaku. Dan kejadian itu terulang kembali.
BRAAKKK!
Tapi hei tunggu dulu? Kenapa ini? Mengapa aku merasa sakit? Kenapa ada banyak orang yang mengelilingiku? Kenapa? Apa yang terjadi? Aneh semuanya tiba-tiba gelap dan digantikan dengan cahaya putih. Aku semakin bingung, dengan perasaan tak menentu aku terbangun dari posisiku yang tertidur di suatu tempat yang tidak aku kenal sama sekali. Namun tiba-tiba aku melihat suatu sosok yang kukenal di depan pandanganku dan tersenyum kepadaku. Aku senang dan aku berlari kearah sosok itu dan menghilang bersamanya kesuatu tempat yang sangat indah.
~Owari~
~Omake~
"Umm aku benarkan kalau kau masih hidup Naruto.." diriku tersenyum kearah Naruto dan meggenggam tangannya dengan erat.
"Ya kau memang benar Hinata tapi sebenarnya tidak juga sih haha, dan oh ya puisi yang kau buat itu bagus-bagus Hinata …"
"Tapi sayang itu belum 1000 puisi…."
"Hei? Yang benar saja bisa-bisa mataku pegal membacanya hahahaha…."
"Haha dasar kau ini.."
HUWAAAAAAAA GOMEN Taka baru nge-post fict lagi "
Taka terlalu sibuk sampai-sampai harus Hiatus QAQ
Tapi ini Taka sempat2in buat disela-sela belajar untuk UTS xDa#plak
umm sekali lagi gomen mungkin Taka akan buat lagi setelah UTS ya QAQ jaa~ Matta ne~!
.
.
.
.
.
.
Review Please ;D
