Yooo, semuanyaaaa..! XD Ehem, pertama-tama kami mau mengumumkan kalau kemungkinan besar di fic ini tidak ada lemon, paling cuma slight aja. Sebab walaupun ratenya M, kami lebih menekankan Horrornya saja (^^)a

Mohon maaf kalau ada yang kecewa, soalnya yang suka lemon di antara kami cuma Kira aja. Jadi kami mengubah genrenya jadi Horror/Supranatural. Kami akan berusaha sebaik mungkin, agar fic ini tidak mengecewakan X3

Baiklah. Selamat membacaaa..!

xXx

Disclaimer : Masashi Kishimoto..

Genre : Horror/Supranatural

Pairing : SasuSaku

STOIC NECROMANCER

xXx

CHAPTER 3

Di perjalanan...

"Kau ini, mandi lama sekali sih?" ketus Sasuke marah. Aku tertawa cengengesan, yah aku mengaku salah. Habis gara-gara sabunnya jatuh ke dalam kloset, terpaksa harus beli sabun lagi di warung yang jaraknya cukup jauh.

"Maaaf, habis aku kan tidak sengaja," gumamku sambil menggaruk rambut pinkku yang tidak gatal. Sasuke mendengus.

Kami terus berjalan dalam hening. Dan lama-lama aku mengambil jarak beberapa meter dengan Sasuke. Entah kenapa aku selalu takut kalau dekat dengannya, mengingat mayat-mayat yang dipanggilnya, aku jadi merinding sendiri. Lalu aku melihat seseorang di depanku, rambutnya yang berwarna hitam kelimis dan kulit putih pucat itu, aku seperti mengenalnya. Ah, itu Sai..!

"Saaaiii..!" teriakku sambil mendekatinya dengan senyum ceria. Sai menatapku kaget lalu ikut tersenyum.

"Wah, Sakura rupanya. Aku pikir siapa, mau ke mana Sakura?" tanyanya ramah seperti biasa.

"Mau ke tempat kos-kosan, aku sudah menemukan tempat baru untuk ditinggali, hehehehehe," jawabku ceria dan berusaha menyembunyikan ketakutanku saat kurasakan hawa menusuk dari punggungku. Sepertinya Sasuke mendekat.

"Benarkah? Seperti apa tempatmu yang ba-"

Sai tertegun melihat ke belakangku. Dia tidak melanjutkan kata-katanya, aku bingung lalu aku menoleh ke belakang. Uuugh, benar saja Sasuke rupanya. Seperti sebelumnya, dia menatapku dan Sai seperti jijik melihat serangga. Aku mendengus kesal melihatnya, apalagi setelah kurasakan Sai juga agak gemetar melihat onyx Sasuke.

"Sasuke..! Berhenti menatap kami seperti itu..!" cerocosku agak marah. Sasuke mengangkat alisnya.

"Memangnya... aku harus menatap kalian seperti apa?" tanyanya tanpa ada sedikitpun rasa bersalah. Aku menggertakan gigiku kesal, lalu berbalik. Saat itu juga, Sasuke berjalan melewatiku dan Sai sambil bergumam...

"Ayo pergi, Sakura..." gumamnya tanpa berbalik. Sai terbengong melihat kami berdua. Wajar saja, dia kan belum tahu apa yang terjadi dan sebaiknya dia tidak perlu tahu.

"Sa.. Sakura, dia kok.. kamu? Eh?" sepertinya Sai bingung harus bilang apa. Aku tersenyum di depannya.

"Tenang saja, gak ada apa-apa kok. Jangan pikir aneh-aneh ya..! Kamu kan tahu aku sangat benci si sombong itu..!" ketusku. Sai terdiam masih menatapku heran, lalu dia ikut mengangguk ragu.

"Hehe bagus..! Nah, aku pergi dulu yaaa," gumamku ceria lalu melambaikan tanganku padanya. Sai membalas lambaianku ragu. Dari matanya, aku bisa melihat adanya keraguan pada pernyataanku padanya.

Beberapa saat kemudian..

"Waah, tak kusangka barangku sebanyak ini," gumamku saat sedang membereskan semua barangku. Sasuke mendengus.

"Bawa yang perlu saja, kenapa sih?" tanya Sasuke kesal, melihat banyaknya tas yang kubawa. Aku menatapnya kesal.

"Tentu saja, semua ini perlu..! Keperluan cewek kan banyak..!" balasku. Sasuke memutar bola matany bosan, lalu dia membawakan semua koperku. Yah, cuma 4 sih.

"Biar aku bawakan sampai rumah, kau ke supermarket saja, belikan bahan makanan yang sudah habis. Ini daftarnya, Itachi yang bilang," jelasnya dengan tenang. Aku melongo melihat banyaknya daftar makanan tersebut.

"Yaaaa deh," jawabku malas. Sasuke tidak membalas dan langsung keluar dari tempat kosku. Dia ke arah kanan, sedangkan aku ke kiri. Kami ke arah yang berlawanan.

"Haaah, Sasuke itu orangnya seperti apa yaaa?" gumamku pada diriku sendiri. Aku memang masih penasaran pada Sasuke. Selain necromancer, rahasia apa lagi yang dia punya ya? Apa dia punya cewek yang disukai? Atau kekuatan lain? Atau... Ah, buat apa dipikirkan?

Aku terus melamun, sampai aku sadar ada gedung di ujung jalan yang kutapaki. Aku memperhatikannya, tampaknya gedung itu sudah cukup tua. Gedung itu di cat putih, dan ada bagian tembok yang retak juga berlumut, seperti rumah hantu, aku pun bergidik ngeri. Tapi aku tersenyum senang saat melihat tulisan bahwa itu adalah Supermarket. Fuh, lumayan daripada harus ke supermarket yang biasa tapi masih harus jalan jauh lagi. Akhirnya tanpa ragu aku memasuki supermarket itu. Walaupun dari luar tampak seram, tapi dalamnya tidak juga. Bersih, seperti supermarket yang baru.

Aku segera mengeluarkan daftar belanjaan dan mengambil trolly. Saking sepinya, suara roda trollyku terdengar di semua bagian supermarket. Tapi aku tidak mempedulikan hal itu, dan tetap belanja sambil bersenandung agar tidak terlalu sepi. Aku lumayan puas di sini, karena selain gedungnya luas, semua kebutuhan juga lumayan lengkap. Dan saat yang tak pernah terlupakan bagiku, adalah saat aku berada di paling ujung gedung.

Tempat paling ujung ini, cahayanya agak redup, mungkin karena agak jauh dari jendela ya. Sama seperti tadi malam, saat aku mengambil botol mayonaise, tiba-tiba aku tersentak. Bulu kudukku kembali berdiri, tanganku terhenti kemudian mengusap leher belakangku. Aku merinding, entah kenapa hawanya terasa mencekam. Degup jantungku juga kembali terdengar kencang. Merasakan firasat buruk, aku langsung mengambil botol mayonaise itu dan segera mendorong trollyku balik arah, menuju pintu keluar. Nafasku agak berburu, aku terengah-engah, aku berlari karena gedung itu memang luas. Tiba-tiba...

TAP

CIIIT !

Aku ngos-ngosan dan menghentikan trollyku tiba-tiba. Beberapa jarak di depanku, aku bisa melihat seorang anak laki-laki berambut pirang menundukkan kepalanya. Aku menyipitkan mataku, rasanya aku mengenal anak itu. Peganganku pada gagang trolly semakin kencang bersamaan dengan degup jantungku yang juga semakin kencang. Lalu aku tersentak begitu menyadarinya, dia memakai baju bangsawan Inggris abad 50an. Oh, tidak mungkin...

Eric?

Anak berambut pirang itu berjalan perlahan ke arahku. Tiap langkahnya bergema di ruangan supermarket tersebut. Matanya yang biru menatap langsung mata emeraldku. Eric berhenti beberapa langkah di depanku dan dia mendongakkan kepalanya. Bibirnya terkembang membentuk seulas senyuman. Mataku membulat dan aku menelan ludah...

"Halo, kak..."

To Be Continued

xXx

Untuk A/N, kami bertiga mengucapkan MAAF yang sebesar-besarnya. Karena sudah (sangat) telat mengupdate fic yang satu ini, mana pendek banget lagi *plak* ini semua dikarenakan kemalasan kami bertiga *ditabok* dan sekarang ditambah kami Alhamdulillah naik ke kelas 3 SMP horeee! *menari hula bertiga (?)* karena tuntutan untuk belajar demi ulangan nasional dan untuk masuk SMA nanti, kami menyatakan diri untuk HIATUS beberapa saat. Kalaupun ada yang tidak hiatus, paling itu Kira Desuke alias saya sendiri. Tapi yang ngasih ide aja (syllie charm) hiatus, gimana saya mau ngelanjutin? =='a *dikejar mae dan Syl*

Yooosh..! Sekian dari kami, TERIMA KASIH BANYAK untuk yang mereview maupun hanya membaca sampai sini. Sampai jumpa di next chapter..! Revieeew please? X3