Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
Story and plot by Syllie Charm
Typing fic and horror/romance scene by Kira Desuke
Beta and description by cumanakecil
sykucil™
.
.
Warning : OOC, AU, OC [Eric]
Genre : Fantasy/Horror/Romance
Main Pair : SasuSaku
.
.
:STOIC NECROMANCER:
.
CHAPTER 5
.
Gadis itu masih terlelap di bawah alam sadarnya saat ia merasakan seberkas cahaya menerobos masuk—menyilaukan matanya. Haruno Sakura dengan enggan membuka kelopak matanya, menggerakkan perlahan badannya yang terasa kaku setelah tidur lelap semalaman. Tangannya bergerak seolah ingin menggapai sesuatu di samping kanan tempat tidurnya, Sakura yang masih setengah sadar itu hanya bisa mengernyitkan alisnya karena tidak mendapati siapapun di sampingnya. Aneh. Sakura masih ingat persis kalau tadi malam—
"Cepat siap-siap atau kau akan terlambat masuk sekolah hari ini," alih-alih mendengar ucapan selamat pagi, ia dikagetkan dengan suara bariton khas yang dingin. Refleks, gadis berambut soft pink itu membelalakkan mata hijau emeraldnya dan menoleh cepat ke arah datangnya suara. Sakura hanya bisa menghela nafas lega melihat laki-laki yang tadi—secara tak sadar—sempat dicarinya kini berdiri tepat di depannya. Lelaki Uchiha itu memasang tampang angkuhnya seperti biasa dan menyilangkan tangan.
"…aku yakin tadi kau mendengar kata-kataku."
Tersadar, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ha-Hai! Gomen," sebelum benar-benar turun dari tempat tidurnya, Sakura menyempatkan dirinya untuk melirik jam besar di belakang Sasuke. Dan kedua mata hijau emeraldnya dibuat membulat seketika tatkala melihat jarum pendek jam itu yang tengah mengarah ke angka 8.
"BAKA SASUKE! Kenapa kau tidak membangunkanku lebih awal?" dengan tergopoh-gopoh ia langsung melompat dari atas kasur dengan brutal dan segera berlari menuruni tangga. Sasuke hanya diam mengamati, dia juga bisa mendengar suara langkah Sakura yang sangat keras—tak ayal dia juga mendengar calon istrinya itu terjatuh berkali-kali. Dasar ceroboh.
Bahkan seorang Uchiha Sasuke yang dingin sekalipun tidak tahan untuk menarik sudut bibirnya ke atas, menyunggingkan senyum yang sangat tipis. Sasuke menunduk, berusaha menahan tawa—mempertahankan imej cool miliknya. Sasuke kembali teringat dengan kata-kata Itachi.
"Aku yakin gadis ini bisa mengendalikan emosimu sebagai necromancer sejati. Yah, memang butuh waktu, tapi lebih baik daripada tidak ada kan?"
Sasuke menarik napas panjang. Semburat merah mulai terlihat di wajahnya—bukan, bukan tersipu malu. Tangannya yang mengepal secara tak sadar menunjukkan kemarahannya yang perlahan muncul kembali. Jujur, Sasuke mungkin tidak akan melupakan rasa bencinya kepada Itachi. Tapi… kali ini saja, mau tak mau si bungsu Uchiha itu harus mengakui kebenaran kakaknya atas keputusan sepihak untuk menikahkannya dengan seorang Haruno Sakura.
"Tch, sial!"
"Jadi…"
Dengan penggaris yang ia ketuk-ketukkan ke telapak tangan, pria berambut cokelat itu berjalan pelan mengitari kedua murid yang kini sedang terduduk diam. Yang satu memang terlihat merasa bersalah bahkan dia berulang kali meminta maaf seraya menunduk-nundukkan kepalanya, sementara yang seorang lagi… jangankan minta maaf, membuka mulut saja tidak sama sekali, "…kalian ini niat sekolah atau tidak?"
Sakura menelan ludah, "Ano… niat tentu saja, ta-tapi—"
"Kalian kira sekarang jam berapa, heh?" Genma mendekatkan mulutnya ke arah telinga kedua murid di depannya, membuat bulu kuduk Sakura berdiri seketika—ia bisa merasakan hembusan napas pria itu tepat di tengkuknya. Gadis itu memejamkan mata dan menggigit bibir, seraya tanpa sadar menggenggam telapak tangan pemuda di sebelahnya lebih erat. Lagi. Mungkin 'cengkramlah tangan Uchiha Sasuke jika kau ketakutan' sudah menjadi aturan tidak tertulis yang melekat di otak Sakura semenjak dia tinggal bersama necromancer itu.
Sasuke melirik calon istrinya itu sekilas—ia bisa merasakan kuku-kuku jari gadis itu menusuk telapak tangannya. Kini tatapan bola mata onyxnya yang tajam menatap sang sensei di depan mereka. Ia menyeringai tipis. "Apapun alasan kami, itu tidak ada hubungannya dengan anda. Genma-sensei akan membiarkan kami mengikuti pelajaran seperti biasa, kan?" nada suaranya yang dingin membuat Sakura mengutuk lelaki itu dalam hati. Duh, bisakah ia bersikap sopan sedikit saja?
Merasa diremehkan, Genma pun mendelik tak suka. "Uchiha, kau—A-Aakh…" eh? Sakura mengernyitkan alisnya—setengah ketakutan dan penasaran—begitu dilihatnya Genma membelalakkan matanya. Mukanya terlihat berubah pucat dan kesakitan. Sakura mengeratkan cengkramannya pada tangan Sasuke sementara pemuda berambut raven itu hanya menatap dingin.
Genma terus menerus terlihat kesakitan. Cairan berbusa perlahan keluar dari sudut-sudut bibirnya. Bola matanya menjadi putih, urat-urat tubuhnya terlihat. Darah keluar dari hidungnya, bahkan tangannya entah kenapa mencakar-cakar lehernya sendiri hingga berdarah.
"S—sialan! Apa ini? Aaaakh!"
Detik berikutnya pria berambut cokelat sebahu itu langsung jatuh tengkurap. Menggelepar kesakitan beberapa saat sebelum akhirnya dia tergeletak. Entah pingsan atau arwahnya sudah terbang ke alam sana.
Sakura bergidik ngeri. Ia memperhatikan darah yang mengalir turun dari hidung dan mulut pria yang kini tergeletak di depannya itu—namun kelamaan perhatian gadis itu beralih pada dalang yang menyebabkan salah satu senseinya terkapar. Eric. Ya, Sakura yakin sekali kalau anak kecil di depannya adalah Eric—salah satu makhluk yang Sasuke bangkitkan.
..Bukan. Ini bukan Eric, anak bangsawan kecil polos yang Sakura kenal. Dengan bola mata yang sepenuhnya hitam, mulut sobek sampai ke bagian mata, ia terlihat sangat berbeda. Sepertinya anak itu baru saja menggigit leher Genma hingga mulutnya dipenuhi darah seperti itu. Sesekali ia menjilat jarinya yang terkena percikan darah—terlihat seolah ia ingin memakan jarinya sendiri.
Sasuke bangkit dari duduknya dan meletakkan kedua jarinya ke pergelangan tangan gurunya. Sepertinya memang benar Genma hanya pingsan karena kekurangan darah yang disedot oleh Eric. Tapi tetap saja wajahnya menunjukkan ketidak sukaan.
"Eric, aku memang berterima kasih kau sudah membuat Genma-sensei pingsan sehingga kami bisa belajar seperti biasa. Tapi aku tidak menyuruhmu datang ke sekolah kan? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke tajam. Mendengar tanda-tanda Sasuke akan meledak lagi, membuat Sakura menyiapkan posisinya.
Eric yang kini sudah kembali seperti biasa merengut polos. "Aku tidak akan mengganggu Sasuke-sama dan Sakura-nee. I just wanna play with Haku!" elak Eric.
Sakura mengernyitkan alisnya lagi. "Haku? Sia—" kata-kata lanjutan gadis Haruno itu tertelan lagi begitu dirasanya lampu ruang guru tiba-tiba menjadi remang. Nyala, mati, nyala, mati, begitu terus. Sasuke hanya melirik ke kanan dan kiri sementara Sakura mulai merasakan bulu kuduknya mulai merinding. Rasa takutnya membuat ia tanpa sadar memeluk lengan Sasuke erat. Ia membelalak saat bola matanya menangkap sesuatu di sudut pojok ruang guru yang gelap. Ia menenggelamkan kepalanya ke lengan Sasuke, berusaha untuk tidak melihat sesuatu di pojok ruangan tersebut.
"Sa-Sasu itu…" bisikan Sakura hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Sasuke menoleh sesaat. "…itu… siapa?"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, namun ia akhirnya mengangkat kepala dan memicingkan mata ke arah sosok yang masih terdiam di pojok sana. Makhluk berambut panjang itu berdiri di sana, terdiam mematung. Dia memakai jubah putih yang penuh dengan bercak darah, ditambah semacam golok dengan gagang antik menancap tepat di jantungnya. Meski memakai jubah, dia memakai rok seragam yang sama dengan yang dipakai Sakura, sepertinya dia mantan murid Konoha highschool juga.
Posisinya yang berada di pojok ruangan yang kelihatan paling remang, cukup membuat Sasuke menatapnya selama beberapa saat untuk mempertajam pengelihatannya. Sasuke tetap diam melihat gadis yang ternyata memiliki rambut sepinggang itu berjalan dengan terhuyung menuju ke arahnya.
Si bungsu Uchiha tentu sudah banyak merasakan aura-aura yang muncul di setiap arwah, tak terkecuali hantu yang satu ini. Dia… memiliki aura dendam yang sangat kuat hingga tidak bisa meninggalkan ruang guru ini. Sasuke memicingkan matanya begitu hantu itu kini tepat berada di depannya. Ah, benar perkiraannya. Sepertinya gadis yang mungkin saat kematiannya seumur dengan Sakura itu benar-benar disiksa sebelum mati. Buktinya, lihat saja bola matanya diambil paksa dari tempatnya sampai bolong begitu. Dan wajahnya hancur, seolah dibakar.
Seolah gadis itu hanya muncul saat lampu menyala, begitu mati dia langsung hilang tanpa ada auranya. Sasuke menyipitkan matanya begitu lampu sempat mati selama dua detik. Lampu kembali menyala, Sasuke terkejut dan refleks memundurkan kepalanya melihat wajah hancur hantu itu tepat berada di mukanya—bahkan ia bisa merasakan helaian rambut makhluk itu menggelitik wajahnya.
"Kenapa kesini?"
Tanya sang gadis. Suaranya yang serak memantul sepanjang dinding ruangan yang cukup kecil itu, meninggalkan gaung beberapa kali. Sakura menggigit bawah bibirnya—berusaha menenangkan jantungnya yang telah berdetak lebih cepat dari biasanya. Bagaimanapun, wajah gadis itu tetap tak enak untuk dilihat. Bola matanya bergerak-gerak gelisah.
Namun ia bisa merasakan tangan besar Sasuke mengelus pelan punggungnya. Secara tak langsung membantu dirinya untuk menenangkan diri. Gadis itu melirik Sasuke, melihat senyum tipis yang disunggingkan sang pemuda. Sakura sedikit tersentak, entah kenapa wajahnya menghangat.
"Kami hanya kebetulan datang," Sasuke berujar dengan tenang. Ia memasukkan sebelah tangannya ke saku celana dan menyeringai tipis, sebelum akhirnya menundukkan kepala sejenak.
"Maaf mengganggu." dan dengan satu dorongan tangan dari punggung, Sasuke menuntun Sakura berjalan keluar ruang guru dan kemudian menutup pintunya.
Perjalanan menuju kelas rasanya begitu jauh terutama bagi Haruno Sakura. Gadis itu berkali-kali menghela nafas kesal. Dengan susah payah ia menahan wajahnya untuk tidak menghangat. Apa yang terjadi padanya?—dia sendiri tidak tahu.
"Meskipun kelihatan keras, kau ini tetap penakut seperti yang lain," sindirnya sarkastik. Hal ini tentu saja membuat wajah Sakura semakin memerah, gadis berambut soft pink itu berbalik dan menatap Sasuke kesal.
"Berisik! Kau saja yang tidak normal!"
:D
D:
KRIING KRIING
Bel sekolah berbunyi untuk kesekian kalinya, menandakan ini adalah waktunya anak-anak untuk pulang sekolah. Rasanya waktu berjalan terlalu cepat bagi Sakura sekarang. Sepertinya baru saja tadi pagi dia kembali dimarahi oleh Kurenai-sensei karena telat memasuki kelasnya bersama Sasuke. Gadis itu memutar bola matanya bosan. Yang benar saja, Sakura masih ingin merasakan kebebasannya di luar rumah Sasuke yang penuh dengan mayat hidup itu. Ah, membayangkan dia harus kembali ke rumah itu saja rasanya Sakura merasa lemas.
"Sakura!" seseorang yang sepertinya lelaki—dari suara beratnya—menepuk pundak Sakura yang tengah merapikan tasnya dari belakang. Mengenal suara ini, gadis beriris hijau emerald itu akhirnya menoleh, "Kau masih belum memberi tahuku mengapa tadi terlambat? Seperti bukan kau saja," tanya laki-laki itu to the point. Membuat Sakura memutar bola matanya bosan.
"Oh ayolah Sai, tadi kan aku sudah bilang kalau aku tidak mau membicarakannya," jawab Sakura seraya kembali melakukan aksi pemberesan tasnya yang sempat tertunda. Sai mengernyitkan alis tak suka melihat dirinya diabaikan begitu saja oleh saudara sepupunya sendiri. Ia mengerinyitkan dahi dan mengetuk-ngetukkan telunjuknya di pelipis. "Kau tahu? Cepat atau lambat sepertinya gosip tentang kau dan Sasuke akan menyebar,"
"Hah?" Sakura menghentikan kegiatannya dan menatap Sai dengan ekspresi terkejut. Hening beberapa saat kemudian Sakura menggeleng, "Tidak mungkin, aku dan Sasuke hanya kebetulan sekali terlambat bersama hari ini. Lagipula—"
"Sakura, ayo pulang sekarang."
Dalam hitungan detik, dipastikan suasana kelas menjadi sunyi senyap. Dasar tidak tahu situasi!—rutuk sang Haruno. Ingin rasanya ia membungkam mulut cowok sok dingin di sampingnya itu. Sesuai dugaan, sekarang mereka berdua menjadi sorotan utama di dalam kelas. Seluruh pasang mata menatap mereka tajam dan penuh tanya, terutama dari kalangan para gadis—Sasuke fangirls. Bahkan bukan hanya mereka, Sai pun menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata, 'Sakura tolong jelaskan padaku, ada apa antara kau dan Sasuke?'.
Menelan ludah, Sakura mencoba berkelit, "Err sepertinya aku pulang dengan Sai saja, soalnya aku dan dia—"
"Sayangnya aku tidak menerima alasan, ayo pulang sekarang…" dan sandiwara yang dilakukan Sakura pun sia-sia setelah Sasuke dengan seenaknya menarik tangannya untuk keluar kelas. Tapi gadis itu masih belum menyerah juga, akhirnya usaha terakhir dilakukan. Sakura meraih lengan Sai hingga pemuda malang itu ikut tertarik. Merasa ada 'beban' satu lagi, Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh tak suka pada sosok yang kini ikut menguntit di belakang Sakura.
Pemuda berambut biru dongker itu menghela nafas—berusaha sabar. "Sakura, lepaskan tangannya." mulanya Sasuke hanya memandang dingin dan memasang wajah sejutek mungkin. Namun melihat Sakura malah melepaskan tangannya dan malah mencengkram erat tangan Sai—yang tak tahu apa-apa—dengan muka merengut, mau tak mau Sasuke harus menghela napas sedalam mungkin untuk meredakan emosinya yang mulai muncul.
"Jangan seperti anak kecil, Sakura."
"Lebih baik aku jadi anak kecil daripada harus pulang bersamamu," ujar Sakura galak, "pokoknya aku tidak akan pulang jika tidak bersama Sai!" dan kali ini gadis itu sedikit membentak. Di kepalanya kembali terbayang bagaimana seandainya dia pulang bersama dengan Sasuke. Memang tidak mungkin dia akan dibunuh seperti sebelumnya, tapi bukan tidak mungkin dia akan kembali bertemu dengan hantu-hantu atau semacamnya—hal yang paling tidak dia suka. Dan terima kasih untuk Sasuke, karena berkat laki-laki itu dia dapat melihat semua yang tidak pernah dia mau lihat seumur hidup.
Sudah cukup dengan melihat Eric atau Uchiha Mikoto di rumah saja.
"Tch," Sasuke mendecih kesal melihat sifat kekanak-kanakan gadis di depannya itu. Ingin sekali dia memberikan tatapan membunuh kepada Sai, ah tapi jangankan balik menatap. Alih-alih Sai malah terus menundukkan kepalanya dan sesekali melirik Sakura. Sepertinya sesama saudara sepupu itu memang penakut. Sasuke memutar bola mata onyxnya kesal. "Terserah sajalah, yang penting pulang sekarang." Sasuke memutar tubuhnya dan berjalan membelakangi Sakura dan Sai yang mematung. Kedua saudara itu hanya saling menatap sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti sang necromancer.
Mereka bertiga berjalan dalam diam. Yah, mungkin hanya Sasuke saja yang diam, karena Sakura yang mengoceh sementara Sai sesekali menanggapi dengan antusias. 'Dua saudara bodoh' gerutu sang Uchiha. Dia mengutuk dirinya sendiri yang telah membiarkan Sai ikut begitu saja dengan mereka. Padahal kalau tidak ada Sai, mungkin perjalanan mereka akan tenang mengingat Sakura jadi sedikit lebih pendiam jika bersama necromancer yang sewaktu-waktu bisa saja membangkitkan hantu dan menakut-nakutinya itu.
"…lalu Sai, tiba-tiba saja hantunya keluar dari kuburan—bahkan membawa sabit seolah ingin mencabik siapapun di depannya! Mengerikan sekali, aku sampai tidak bisa tidur memikirkannya." Great. Sekarang Sakura tengah menggebu-gebu menceritakan tentang film horror yang ditontonnya beberapa minggu lalu. Sai yang mendengarkannya seksama hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau ini, aku kan sudah bilang jangan nonton film horror lagi! Kau kan tahu kalau kau ini sangat penakut," Sai menggelengkan kepalanya dan mengacak pelan rambut pink gadis di sebelahnya.
"Aku tidak mau kalau kau sampai lari dan menginap di rumahku gara-gara menonton film tak berguna seperti itu lagi."
"Itu benar."
Terkaget mendengar suara yang tiba-tiba saja muncul, membuat Sakura dan Sai refleks menoleh. Mereka melihat Sasuke yang sudah berhenti di depan mereka dan menatap mereka dengan bola mata onyxnya yang gelap, "Film seperti itu hanya menjelek-jelekkan mereka yang sudah pergi ke dunia sana, hanya menakut-nakuti manusia—nonsense!" Sai mengernyitkan alis sementara Sakura tertegun.
"Kesimpulannya sama seperti kalian, manusia pengecut yang tidak berguna."
"Jaga bicaramu Uchiha," dan sekarang bola mata hijau emerald milik Sakura membulat tatkala dia melihat saudara sepupunya—yang biasanya hanya berbicara di belakang—kini maju dan mendelik pada Sasuke yang menatapnya datar.
"Kau mau bilang kalau kami tidak berguna? Kau sendiri? Bersembunyi di balik uang peninggalan orang tuamu, bukankah itu artinya kau lebih pengecut dari kami?" tanyanya, menatap tajam pada mata onyx Sasuke. Sai maju selangkah sehingga kini dia berhadapan dengan—tanpa sepengetahuannya—calon suami sepupunya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan uang." Sasuke menekankan setiap kata-katanya. Sakura yang memang sudah sedikit peka dalam hal ini langsung bergerak untuk menghentikannya. Namun sayang, tangan Sai terangkat untuk menghalangi dia lebih maju lagi. Sepertinya kali ini Sai benar-benar serius dan tidak ingin Sakura ikut campur dulu. Sasuke menatap Sakura sesaat sebelum akhirnya kembali menatap Sai.
"Kau membelokkan arah pembicaraan, berarti kau memang pengecut sejati."
"Oh hebat," Sai mendengus, menyeringai dan memandang rendah pada sosok di depannya. "Apakah setiap manusia normal yang melakukan kesalahan sedikit saja bisa langsung disebut pengecut? Sepertinya kau ingin bilang kalau kau sempurna, apa hal yang bisa kau lakukan hingga kau merasa pantas disebut seperti itu?"
Sasuke mengeratkan genggaman tangannya. Kurang ajar juga anak ini. Ingin sekali ia berkata 'Oh tentu saja, aku bisa membangkitkan makhluk hidup yang sudah mati. Mau kutunjukkan?' tapi kewajibannya yang harus menyembunyikan keberadaan necromancer yang tersisa, membuatnya diam seribu kata. Uchiha itu bisa merasakan kupingnya memanas saat Sai menyilangkan tangannya di depan dada dan mendengus pelan.
"Kenapa diam? Tidak bisa menjawab, eh?" pemuda itu tersenyum penuh kemenangan lalu beralih pada Sakura di belakangnya. "Kau lihat Sakura? Uchiha sombong itu hanya besar di mulut saja," ucapnya seolah menghibur. Sementara Sakura yang bingung harus menjawab apa hanya bisa mengangguk.
"Tidak hanya di mulut," Uchiha bungsu yang sedari tadi diam saja akhirnya mengangkat kepalanya. Sai yang tadinya ingin membantah langsung terdiam. Kata-katanya tertelan begitu saja melihat bola mata onyx Sasuke yang serasa mengikatnya di tempat. Aura di sekitar laki-laki berambut raven itu berubah mencekam. Sai tidak bisa bergerak ketika Sasuke mendekat ke arahnya, menatapnya dalam jarak yang sedikit demi sedikit mulai tereliminasi.
"Akan kubuat kau menjilat ludahmu sendiri… suatu hari nanti," Sai menelan ludah. Entah kenapa bibirnya selalu terasa kelu setiap dia ingin membukanya. Dan yang sangat disayangkan, sosok di depannya kini terasa sangat menyeramkan hingga pemuda ini tak bisa mendorong otaknya bahkan untuk berpikir sekalipun. Bola mata itu mengikatnya.
Suasana semakin bertambah tegang sampai akhirnya Sakura menyelip di tengah mereka. "Sudah cukup, kalian seperti anak kecil!" Sakura berusaha mendorong tubuh Sasuke menjauh, namun ia lagi-lagi hanya mendengus dan memalingkan wajahnya. Sakura mengalihkan pandangan dan tersenyum menatap sepupunya.
"Hei, bisakah kau pulang duluan? Ada yang ingin kubicarakan dengan si sombong ini," gadis itu tertawa kecil—bermaksud mencairkan suasana—tetapi tetap saja Sai tidak terpengaruh. Pandangannya masih kosong—entah masih terpengaruh Sasuke atau mengkhawatirkan gadis di depannya itu. "Aku akan baik-baik saja," ucap Sakura lagi.
Menelan ludah, Sai akhirnya membuka bibirnya. "Hati-hati." tatapan tajam dia keluarkan pada Sasuke sebelum akhirnya dia berbalik dan meninggalkan Sasuke Sakura berdua saja. Diam-diam, Sakura sedikit menyesal menyuruh Sai pergi. Tapi mau bagaimana lagi? Toh dia sendiri juga tidak mau ketahuan kalau dia adalah calon istri Uchiha Sasuke.
Sakura menatap punggung Sai yang semakin lama semakin menjauh dan menghela nafas panjang. Dia menoleh begitu mendengar langkah Sasuke yang juga ikut menjauh. Sakura berlari kecil untuk mengejar, namun langkah Sasuke yang lebar dan jalannya yang cepat, membuat Sakura agak kesusahan menyamainya. Akhirnya gadis berambut soft pink itu memutuskan untuk berjalan di belakangnya—menatap punggung tegap pemuda berambut biru dongker itu.
"Ano—"
"Kau suka dia?"
"Eh?" kaget karena kata-katanya disela membuat Sakura menghentikan langkahnya dan menatap Sasuke bingung. Sadar akan hal itu, Sasuke juga ikut berhenti dan memutar tubuhnya—menghadap Sakura, "Aku tanya, apa kau menyukai saudara sepupumu itu?" tanyanya lagi. Tiba-tiba Sakura menelan ludahnya gugup, bola matanya bergerak gelisah dan perlahan pipinya mengeluarkan semburat merah tipis. Seolah mengerti tanda itu, Sasuke tidak berniat bertanya lebih jauh. Dia kembali menghadap depan dan melangkah lagi.
Merasa tidak perlu menjawab, akhirnya Sakura menghela nafas dan ikut melangkah di samping Sasuke. Iris hijau zamrud itu menatap wajah Sasuke dari samping, entah kenapa rahang laki-laki itu terlihat sedikit mengeras. Tapi Sakura tidak mau ambil pusing, dia memilih untuk menatap depan saja sampai akhirnya suatu obyek menarik perhatiannya. Sakura membulatkan matanya kaget dan berhenti.
Seekor anjing yang tergeletak begitu saja di bawah tiang listrik. Dilihat dari keadaannya, sepertinya anjing itu baru saja mati kelaparan. Sakura menatap nanar mayat anjing berwarna coklat itu. Dia berjongkok dan menyentuh kepala sang anjing yang sudah tidak mungkin merespon lagi. "Kasihan sekali," bisiknya sendu. Sakura bisa dibilang termasuk penyayang binatang. Sasuke mengangkat sebelah alisnya saat dia memperhatikan dari jauh. Penasaran, akhirnya Sasuke melangkah untuk mendekati Sakura yang tengah berjongkok di depan tiang listrik.
"Apa ada yang ingin kau katakan jika anjing itu hidup kembali?"
Sakura mendongakkan kepalanya. Sasuke bisa melihat bola mata gadis itu sudah berkaca-kaca, dia benar-benar tidak habis pikir mengapa perempuan gampang menangis hanya karena melihat seekor anjing mati?
Pria bermata onyx obsidian itu menggelengkan kepalanya. Sedetik kemudian dia angkat sebelah tangannya di atas anjing itu, "Bangkitlah wahai anjing berwarna coklat di depan Haruno Sakura," ucapnya, sama saat dia membangkitkan ibu Sakura dulu.
"Uung…"
Sakura tersentak kaget, dia alihkan perhatiannya dari tangan Sasuke dan langsung melihat ke bawah—menunduk. Anjng itu bergerak! Perlahan tapi pasti matanya terbuka, menampilkan bola mata hitam gelap dan bulat tapi juga terlihat sedih.
Sakura tersenyum senang. Ingin rasanya ia melompat dan memeluk pemuda di sebelahnya itu—tapi sayangnya, itu tidak mungkin. Maka ia hanya berjingkrak girang dan berterimakasih, sebelum akhirnya ia berjongkok dan mengelus anjing itu dengan sayang.
"Jangan senang dulu," pernyataan Sasuke yang dingin membuat Sakura mendongakkan wajahnya dan memasang muka penuh tanda tanya.
"Waktumu dengannya hanya lima menit dimulai dari sekarang,"
Tunggu. Apa katanya?
"Kaing…" sebelum sempat bertanya, sang anjing menyentuh tangan Sakura. Gadis itu tersentak kaget dan menoleh. Anjing itu menatapnya, dia terlihat begitu lemah, wajahnya sedih, bola matanya terlihat berair seperti menangis. Merasa tak tahan, Sakura mengangkat anjing itu dan memeluknya, "Maaf… aku tidak bisa melakukan apa-apa…" entah kenapa sang gadis merasa lega mendengar detak jantung dan getaran tubuh anjing berwarna coklat itu. Anjing itu terus mencium-cium pipi dan rambut Sakura seolah ingin mengatakan sesuatu.
Anjing yang masih berada dalam pelukan Sakura itu mengangkat kepalanya, menatap Sasuke yang masih berdiri dari awal. Kaki depan binatang berbulu itu bergerak seolah ingin menggapai Sasuke. Awalnya laki-laki dingin hati itu berusaha tidak peduli, dia menghindar dari tatapan sang anjing. Namun senyum Sakura ketika melihatnya membuat Sasuke menghela napas panjang dan mengalihkan pandangan.
Gadis itu menggendong sang anjing dan berdiri, dia tersenyum menatap Sasuke sebelum akhirnya dia menggenggam telapak tangan laki-laki itu. Sasuke tak sempat protes saat Sakura mengangkat tangannya, hingga anjing di gendongan Sakura bisa menjilat telapak tangan Sasuke dengan antusias. Sakura tersenyum tulus melihatnya.
"Sepertinya anjing ini ingin berterima kasih denganmu."
Sasuke tertegun. Air mukanya berubah, tidak dingin seperti di awal. Melihat anjing itu sangat bersemangat menjilati tangannya, membuat hati Sasuke mencelos. Merasa ada gelagat yang aneh pada pemuda itu membuat Sakura mengangkat sebelah alisnya. Namun sang Uchiha bungsu tidak mempedulikan tatapan Sakura. Sebelah tangannya mengelus kepala anjing itu dengan perlahan dan tangannya yang tadi dijilat kini dia tarik mundur.
"Tolong, jangan berterimakasih padaku."
Satu jentikan jari dari Sasuke sukses membuat kepala anjing itu jatuh terkulai di atas pundak Sakura. Gadis itu terkejut. Detak jantung yang tadi dia dengar dan getaran tubuh anjing itu kini berhenti. Sakura mulai panik, dan tanpa sadar dia membentak Sasuke, "Sasuke! Apa yang kau—"
"Kenyataan bahwa anjing itu sudah mati, tidak dapat diganggu gugat." bola mata Sakura membulat seketika. Gadis itu ingin membantah tapi Sasuke sudah terlebih dahulu berbicara, membuat gadis itu bungkam.
"Jangan berpikir muluk mentang-mentang aku bisa menghidupkan makhluk yang sudah mati," Sasuke menatap bola mata hijau emerald Sakura dengan tajam. Dia menarik napas panjang. "Ingatlah Sakura. Sesuatu yang hidup, pasti akan mati suatu hari nanti. Semua itu sudah diatur oleh yang di atas. Kalau ada yang lahir, berarti akan ada yang pergi. Begitu pula anjing ini. Semua semata-mata untuk menjaga keseimbangan bumi ini sendiri," kini bola mata onyx obsidian itu melirik pada tubuh anjing yang sudah tidak bernyawa itu.
Sakura tetap diam, dia menggigit bibir bawahnya. Jelas sekali terlihat kalau dia masih belum mengerti ucapan Sasuke dan menerimanya. Sasuke hanya mendengus, dia memalingkan mukanya.
"Lalu untuk apa kau ada, hei necromancer?" bisik Sakura lirih. Gadis itu membuang pandangannya ke sisi jalan sambil masih memeluk tubuh sang anjing yang sudah tak bernyawa itu.
Sasuke melirikkan pandangannya ke arah Sakura sebelum akhirnya membalikkan badan. "Necromancer adalah pendosa tak bertanggung jawab." mendengar jawaban itu, Sakura kembali mengangkat kepalanya. Menatap punggung Sasuke yang kini sudah membelakanginya.
"Sejak awal, menjadi necromancer bukan keinginanku. Selain pendosa, kami juga pengecut dan egois. Dengan seenaknya kami membangkitkan banyak makhluk yang sudah mati, tapi begitu kehidupan di dunia mulai berantakan dan tidak seimbang, kami lari begitu saja. Mungkin karena itu semua, kami diburu banyak organisasi yang ingin menaikkan pamornya dan kami pun dibantai secara brutal." Sasuke melangkahkan kakinya pelan. Bola mata onyxnya menerawang jauh.
Pemuda itu menundukkan kepalanya. Sakura bisa melihat seringai tipis menghiasi wajahnya. "Sial, tadi aku tidak bisa membantah saat saudara sepupumu mengataiku pengecut." gadis itu mengeratkan pelukannya pada anjing berbulu coklat itu. Dia mengerti—namun entah kenapa hatinya terasa sakit.
"Membangkitkan ibuku dan Eric tanpa mau mengembalikan mereka ke tempat yang seharusnya, adalah salah satu bukti keegoisanku yang selalu lari dari kenyataan bahwa aku sendirian di dunia ini." ia membiarkan organ pernapasannya menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya perlahan. "Dan yang terpenting…"
Sakura menahan nafasnya.
"…seorang necromancer tidak akan pernah bahagia."
Angin berhembus meniupkan daun-daun yang gugur dan berjatuhan. Helai-helai rambut Sakura dan juga Sasuke melambai pelan mengikuti arah angin. Sakura masih tidak bisa mengeluarkan suaranya, dia terus diam seribu bahasa. Seakan semua hal yang ada di otaknya hanya sekedar berlalu-lalang—tidak ada yang menyempatkan diri untuk turun ke mulutnya. Berusaha mengontrol emosi, Sakura akhirnya mencoba tersenyum dan menatap punggung pemuda di depannya.
"Meskipun tidak mungkin, aku…—"
Satu langkah ia tempuh, makin memperkecil jarak antara dirinya dengan sang necromancer.
"—aku akan mencoba membahagiakanmu, Sasuke!"
dan kini gadis itu bisa tersenyum lebar. Sasuke bisa merasakan sensasi aneh di dadanya saat ia mendengar ucapan polos dari gadis di belakangnya itu. Dia memutar sedikit kepalanya, melihat senyum Sakura dan—hei, sejak kapan gadis itu bisa tersenyum selebar itu?
Wajah Sasuke perlahan menghangat. Dia mendengus menahan tawa. "Dasar bodoh," Sasuke membalikkan kepalanya sehingga dia kembali memunggungi Sakura, "Kau… kau bicara seolah kita akan bersama selamanya," ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku—berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Eh..?"
Setelah sepersekian detik wajahnya menghangat, Sakura mulai merutuki dirinya yang tidak berpikir dulu sebelum berbicara. Tentu saja, dasar bodoh. Memang siapa yang menjamin kalau ia akan terus bersama pemuda dingin menyebalkan itu? Gadis itu memukul kepalanya pelan—masih tak menyadari kalau seulas senyum tipis masih tersisa di wajahnya.
Hening beberapa saat, Sasuke berhasil menguasai perasaan anehnya dalam waktu satu menit. Dia melangkahkan kakinya kembali. "Kuburkan anjing itu dan kita pulang," ucapnya. Sakura mengangguk, dia memeluk anjing itu semakin kencang sebelum akhirnya dia berlari untuk mengejar Sasuke yang semakin menjauh. Keduanya berjalan dalam perasaan tidak menentu. Apakah akan ada yang berubah nanti? Tidak ada yang tahu.
Sementara itu di balik tembok, seseorang keluar dari tempat persembunyiannya. Seperti biasa dia memakai tudung hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Namun raut wajahnya tampak tidak senang. Sosok itu mendecih dan membuang ludahnya kasar pada jalan di depannya. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan pemantik api dari sakunya. Ia hisap batang tembakau itu perlahan, sebelum akhirnya sang pria menghembuskan asap dari mulutnya.
"Kau masih terlalu naif, Uchiha Sasuke."
.
.
To be Continued
