Necromancer adalah sebutan untuk mereka yang bisa membangkitkan orang mati dan mengendalikannya.

Ada Necromancer yang baik dan ada juga yang jahat.

Necromancer jahat hanya mempedulikan keuntungan dirinya sendiri, tidak pernah memikirkan dunia dan orang lain. Saat semuanya sudah menjadi hancur, dia akan kabur menyelamatkan dirinya sendiri.

Mereka cenderung tertawa di atas penderitaan orang lain. Baik yang masih hidup atau yang sudah mati.

...dan karena adanya necromancer yang seperti itu, dulu diberlakukan hukum untuk membantai seluruh necromancer, yang jahat maupun yang baik. Tanpa pengecualian.

Dulu para necromancer ketakutan. Mereka diburu siang malam, tidak boleh lengah. Predikat sebagai manusia seakan hilang dari diri mereka. Kini, para necromancer itu tak lebih dari binatang liar yang terus berlari dan berlari untuk menghindari para pemburu yang haus akan daging mereka.

Sejak itulah, necromancer tidak pernah bahagia—mereka selalu hidup di dalam ketakutan yang tak berujung.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Story and plot by Syllie Charm

Typing fic and Horror/Romance scene by Kira Desuke

Beta and description by cumanakecil

.

sykucil™

.

.

Warning : OOC, AU, OC [Eric]

Genre : Fantasy/Horror/Suspense/Romance

Main Pair : SasuSaku

.

.

:STOIC NECROMANCER:

.

CHAPTER 6

.

Haruno Sakura masih memasang wajah cemberutnya walaupun Uchiha Mikoto sudah memberinya segelas teh hangat—minuman yang pas untuk suasana yang dingin. Hujan turun dengan lebat di luar sana. Petir dan kilat menyambar. Langit kelabu. Angin dingin yang berhembus masuk dari jendela yang sedikit terbuka memainkan rambut gadis Haruno itu.

Sakura memposisikan dirinya duduk di atas sofa ruang tamu dengan kedua kaki terangkat dan kedua tangan memeluk sebuah bantal besar. Bola mata hijau emerald miliknya menatap Mikoto di depannya dengan takut takut kesal, sementara setengah dari wajahnya sudah tenggelam di balik bantal. Uchiha Mikoto masih tetap menunduk tanpa mengangkat kepalanya, tapi dia tahu suasana hati gadis di hadapannya.

"Ada... masalah?" tanyanya. Nada suaranya yang selalu terasa bergetar menakutkan dan menggema pada ruangan di sekitarnya, membuat Sakura kembali merinding di tempat. Ah, dia merasa heran mengapa dia masih belum juga terbiasa dengan salah satu mayat hidup di rumah ini. Sakura berusaha menarik napasnya dan memaksakan senyum.

"A-aku tidak apa-napa kok..." jawab Sakura canggung. Melihat Mikoto yang sama sekali tidak memberi reaksi, gadis itu menelan ludah gugup. Tangan kanannya menggaruk belakang kepala yang tak gatal, dan cengiran kikuk menghiasi wajahnya. Ia sungguh masih segan berbicara dengan makhluk-makhluk yang mestinya tak ada di rumah ini.

Mikoto mengangguk mengerti. Tanpa berniat bertanya lebih lanjut, wanita yang sudah meninggal sejak tiga tahun lalu itu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh. Melihat itu Sakura menghembuskan napas lega. Sebenarnya Sakura melakukan aksi ngambek seperti ini juga bukan tanpa alasan. Setidaknya dia ingin seseorang mengerti lalu menjelaskan hal yang sedari tadi ingin dia dengar. Orang itu...

"Berhenti bersikap seperti itu, kau membuatku gerah."

Ah, sudah datang.

Sakura menggembungkan kedua pipinya. Laki-laki yang menjadi calon suaminya ini sama sekali tidak peka!

"Aku akan berhenti bersikap seperti ini kalau kau mau menjelaskan apa yang kutanyakan!" balas gadis berambut seperti bubble gum tersebut. Uchiha Sasuke menghela napas. Gadis ini benar-benar kekanakan. Sebenarnya bisa saja dia meninggalkan Sakura dalam keadaan begini tanpa harus mempedulikannya. Tapi mengingat sebentar lagi kakaknya yang merepotkan itu akan pulang—ah, Sasuke tidak mau membayangkan akan berapa lama dia diceramahi oleh kakaknya itu setelah melihat keadaan calon adik iparnya ini.

Sasuke memutar bola matanya, "Apa sih yang perlu kujelaskan? Tentang anjing itu? Bukankah sudah kujelaskan tadi?"

Sasuke mulai kesal sekarang. Dia sangat tidak suka jika harus mengulangi penjelasan yang sama dua kali. Bola mata onyxnya menatap Sakura dengan jengkel. Tapi aneh, kali ini Sakura tidak terpengaruh. Padahal biasanya wajahnya akan berubah ketakutan. Sakura yang tambah berani atau dirinya yang memang kurang menyeramkan? Berusaha menyingkirkan pikiran aneh yang baru lewat, Sasuke akhirnya menyimpulkan gadis ini tengah serius. Pemuda itu menunggu sampai Sakura angkat bicara.

"..."

"Kenapa necromancer tidak pernah bahagia?"

Melotot kaget sesaat, Sasuke berusaha mengendalikan emosinya. Pertanyaan apa tadi? Tanpa sadar, Uchiha bungsu itu sudah mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sasuke membuang mukanya, berusaha agar Sakura tidak melihat perubahan di wajah stoic andalannya.

"Walaupun kau sudah sedikit menjelaskannya padaku... tetap saja aku tidak mengerti. Boleh aku tahu lebih lengkap?"

Melihat wajah Sakura yang juga sepertinya terlihat serius—walau tidak mau menatap matanya—membuat Sasuke mengalah.

Laki-laki dingin itu berjalan mendekati Sakura hingga dia duduk di samping gadis itu—tapi masih ada jarak di antara mereka. Sasuke menopang dagunya dengan tangannya yang menyandar di atas batas sofa. Posisi mereka masih sama-sama tidak mau melihat satu sama lain. Sasuke melihat ke samping yang berlawanan dari tubuh Sakura sementara Sakura menunduk—menatap jari-jari kakinya. Mereka berdua sempat tenggelam ke dalam keheningan. Sakura mengerutkan kening. Hendak bertanya, tapi Sasuke sudah terlebih dahulu berbicara.

"Sebelumnya aku tanya dulu, apa untungnya untukmu mengetahui jawaban atas pertanyaan tadi?"

Sakura menarik napasnya—ia bisa merasakan pandangan sekilas Sasuke tadi. Berusaha untuk terlihat tenang, ia menjawab dengan agak terbata. "Te-Tentu saja aku harus tahu!" Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "Aku kan sudah berjanji untuk membahagiakanmu kelak! Jadi minimal, aku harus tahu alasan yang membuatmu tidak bahagia..." suara Sakura semakin mengecil begitu mendekati akhir kata-katanya. Mendadak wajah gadis bermarga Haruno itu memerah. He-Hei, barusan apa yang dia katakan?

Sasuke tertegun beberapa saat, sebelum senyum kecil tersungging di wajahnya. Entah kenapa ada perasaan hangat melewati hatinya saat Sakura mengucapkan kata-kata tadi. Namun Sasuke segera menguasai pikirannya kembali. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa—memutar otak untuk menentukan awal penjelasannya.

"Baiklah,"

Mempunyai firasat kalau Sasuke akan bercerita tak lama lagi, Sakura langsung menoleh antusias. Binar matanya menunjukkan sirat penasaran.

"Sebenarnya, necromancer itu—"

"—Selamat sore, Sasuke! Sakura-chan!"

Dan suara seseorang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka. Sasuke dan Sakura segera menoleh ke sumber suara, dengan Sasuke mengerutkan alisnya tak suka sementara Sakura tersenyum menyambut sang pemilik suara. Orang itu tidak sendiri, ada seorang lagi di belakangnya—entah siapa.

"Ah ngomong-ngomong Sakura-chan..."

"Ya, Itachi-nii?" tanya Sakura dengan nada yang sedikit gugup. Uchiha Itachi yang merupakan kakak dari Sasuke tersebut tersenyum menatap calon adik iparnya yang sangat lugu.

"Kalau kau segitu inginnya membahagiakan Sasuke," Itachi tersenyum santai seraya mengangkat telunjuk kanannya ke atas membentuk angka satu, "kau cukup memberi keturunan yang baaaanyak untuk Sasuke, oke?"

Dan sedetik kemudian wajah Sakura memerah sepenuhnya. Wajahnya memanas tak karuan. Dan bukan hanya Sakura saja, Sasuke pun sama—yah walau hanya semburat merah tipis. Kalau saja ini komik, pasti sudah ada empat sudut dan asap yang mengebul di kepala pemuda berambut raven itu.

"Jangan bicara sembarangan, baka aniki!" gerutunya kesal. Dia tidak mau terlihat malu gara-gara perkataan kakak menyebalkannya itu. Tapi terlambat, kemampuan Itachi yang bisa membaca isi hatinya sudah tahu semuanya. Yeah, Sasuke memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari kakak satu-satunya itu.

Sementara itu, Sakura berusaha mengalihkan pikiran. Ia berdehem sejenak dan kemudian bangkit berdiri.

"A-Aku akan membuatkan teh hangat..." dan setelahnya tanpa ba-bi-bu lagi, Sakura langsung melempar bantalnya asal dan melesat ke dapur. Itachi tertawa kecil seraya menggeleng. Dia sangat suka dengan kepolosan gadis itu, apalagi kalau sudah menggodanya. Setelah cukup tertawa, Itachi kini menoleh pada orang yang sedari tadi sudah berada di sampingnya.

Kakak Sasuke itu menunjukkan senyum ramahnya,

"Silahkan duduk, Hyuuga-san."

Mendengar nama keluarga yang sangat dikenalnya membuat Sasuke mengembalikan wajah stoic-nya. Laki-laki yang memiliki rambut berwarna biru dongker itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat saat tamu yang dibawa Itachi tersenyum kepadanya. Tamu yang memiliki bola mata lavender indah itu duduk di sofa yang kemudian diikuti Sasuke dan Itachi, duduk bersebelahan di sofa depannya.

Laki-laki berambut coklat panjang itu bernama Hyuuga Neji. Berasal dari klan Hyuuga yang merupakan persekutuan dari klan Uchiha. Kedua klan ini sudah berdiri bersama sejak masa Madara mendapatkan kekuatan necromancer untuk klannya. Sejak dulu, kedua klan ini sudah sering bekerja sama. Hyuuga sudah biasa disebut sebagai klan dokter. Dan sudah sejak dulu kala kedua klan ini selalu bersama jika melakukan suatu misi. Jika ada sesuatu yang terjadi, Hyuuga selalu memberi tahu hal itu pada Uchiha begitu pula sebaliknya. Seperti sekarang, Sasuke sudah memperkirakan pasti ada yang terjadi. Sebab, sudah lama sekali sejak terakhir keluarga Hyuuga mengunjungi mereka seperti ini.

"Saya tidak suka berbasa-basi, jadi saya akan langsung ke topik pembicaraan," mendengar nada bicara Neji yang sepertinya terburu-buru, membuat Sasuke dan Itachi meningkatkan kewaspadaannya. Neji menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya kembali berkata.

"Kemarin malam, klan kami diserang oleh beberapa orang tak dikenal."

Sasuke membelalakkan matanya kaget—walaupun hanya sedetik karena setelahnya dia kembali mengatur wajahnya. Sementara wajah Itachi tidak berubah sama sekali, seolah-olah dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Neji mengeratkan kepalan tangannya. "Korban dari klan kami ada dua orang, dan mereka semua adalah pelayan. Kepala keduanya pun hilang tak ditemukan."

Itachi mulai mengerutkan keningnya. Meskipun sedikit, Itachi bisa melihat ada ketakutan di dalam diri Neji yang biasanya tenang itu.

"Kepalanya... hilang?" Sasuke bergumam. Dia tidak mengerti, apa maksud dari semua itu. Apa maksud para pembunuh tak dikenal itu mengambil kepala pelayan yang notabene belum tentu mempunyai darah Hyuuga. Kalau memang para pembunuh itu mengincar Hyuuga, seharusnya mereka mengambil kepala pewaris Hyuuga itu sendiri—tak terkecuali Neji,

"Kenapa?"

"Jawabannya mudah." Dengan santai Itachi meneguk teh yang dibawakan oleh ibunya yang baru saja datang —entah pergi kemana Sakura yang tadi izin pergi untuk membuatkan teh. "Yang diincar para pembunuh misterius itu memang bukan Hyuuga."

Neji dan Sasuke langsung menatap Itachi meminta penjelasan. Uchiha yang sudah memasuki kepala dua itu mendengus dan melirik ke arah pintu utama rumah. "Aku juga belum tahu apa yang diincar para pembunuh itu, tapi kemungkinan besar..." membetulkan posisi duduknya senyaman mungkin, kini Itachi menarik napasnya. Bola mata obsidiannya menunjukkan ketidak pastian akan jawaban yang sebentar lagi akan dia keluarkan. Ketegangan memenuhi seluruh ruang tamu tersebut. Suara detik jam mengisi ketegangan itu, dan satu menit berjalan namun Itachi belum juga melanjutkan ucapannya yang ambigu.

"Uchiha-san?" tanya Neji dengan pelan. Memastikan keadaan baik-baik saja. Tapi pria berambut hitam panjang itu tidak membalas Neji, dia malah menoleh pada ibunya yang kini berdiri di samping tubuhnya yang sedang duduk di atas sofa.

"Kaasan," panggilan Itachi membuat tubuh mayat hidup itu bereaksi, dia menolehkan kepalanya untuk menatap Itachi dengan bola matanya yang putih tanpa adanya pupil lagi, "mana Sakura? Kalau aku tidak salah dengar, tadinya dia yang ingin membuatkan teh untuk kami."

Uchiha Mikoto mengangguk pelan, "Ya, memang Sakura... yang membuatkan teh kalian. Tapi dia langsung keluar begitu mendapatkan telepon dari temannya, dia bilang... akan segera kembali..."


"Dasar Ino! Bikin orang susah saja!" gerutu gadis yang memiliki bola mata viridian itu. Dia melangkahkan kakinya dengan kasar—membuat genangan air terciprat kemana-mana. Hujan sudah mulai mereda, meskipun gerimis masih turun rintik-rintik. Haruno Sakura mengeratkan genggamannya pada gagang payung yang melindunginya dari hujan.

Sakura menghela napas, ternyata udara sangat dingin di luar rumah. Dan anak tunggal dari keluarga Haruno itu merutuki kebodohannya yang lupa membawa jaket. Angin yang kencang juga tidak membuat semuanya menjadi lebih baik.

"Kyaaa!"

Sakura spontan berteriak begitu angin kencang menerpanya membuat payung di genggamannya terbang entah kemana. Kepala Sakura kini terkena hujan yang tiba-tiba kembali deras. Dengan panik, gadis itu menolehkan kepalanya ke kanan kiri untuk mencari payung yang tadi dia pegang.

Tubuh gadis malang itu masih diserang oleh hujan yang datang tanpa ampun. Tapi tetap saja langkahnya terus membimbingnya untuk mencari salah satu alat pelindung dari hujan itu. Sakura terus mencari hingga dia sampai di ujung suatu gang. Ternyata payung yang sedari tadi dia cari ada di ujung sana. Sakura tersenyum dan akan mengambil payung yang tergeletak itu, kalau saja tidak ada sesuatu yang berdiri tepat di samping ujung payung yang dicarinya.

Sakura mengerutkan keningnya. Sepertinya dia mengenal sosok dari kejauhan itu. Suara geraman-geraman semakin terdengar di tengah hujan yang deras ini. Gadis Haruno itu bisa merasakan makhluk yang di depannya berbahaya. Sakura terus terpaku di tempatnya sampai kedua bola emeraldnya menangkap sesuatu keluar dari ujung gang yang gelap. Bola mata Sakura membulat seketika.

"Tidak mungkin..."

Tentu saja Sakura sangat mengenal makhluk itu. Tak lain dan tak bukan, itu adalah anjing yang tadi sepulang sekolah sempat dihidupkan kembali oleh Sasuke lalu dibuat mati lagi. Sakura bisa memastikan bahwa itu adalah anjing yang sama seperti tadi siang, dari telinga sebelah kanannya yang berwarna hitam sedangkan tubuh lainnya berwarna coklat. Yang membedakan, kalau tadi siang anjing itu memiliki bola mata hitam yang lucu, sekarang anjing itu bermata merah menyala dengan gigi taring yang sepertinya kelihatan lebih besar dari sebelumnya.

Sakura melangkah mundur dengan pelan. Tak dipedulikannya hujan yang semakin membasahi tubuhnya yang gemetar karena kedinginan, sekarang rasa takut telah menguasai hati dan tubuhnya.

"GUK!" anjing itu menyalak kencang dan berlari mengejar Sakura. Terperanjat, gadis itu reflek berlari menjauh. Ia berusaha menggerakkan kakinya sekuat tenaga meskipun genangan air menghambat gerakannya. Butir-butir itu terpercik seiring hentakan kaki sepatu boot sang gadis.

Takut. Takut. Dia sangat takut. Apa yang diinginkan anjing itu dari dirinya?

"Tolooooooong! TOLOOONG!"

Sakura berusaha teriak sekencang yang ia bisa. Tapi percuma, suaranya tertutup di tengah guyuran hujan. Dan pastinya di saat begini, semua orang pasti akan memilih tidur, atau sekedar menghangatkan diri di perapian rumah sambil meminum teh hangat. Air mata mulai mengalir di pipi Sakura.

"SIAPAPUN TOLONG AKUUUU!"

GUSRAK

Terpeleset, Sakura terjatuh di atas jalan beraspal. Ia merintih kesakitan. Lututnya mengeluarkan darah—ia tak berani menggerakkan kakinya lebih banyak ketika dirasakan perih itu menjalar saat ia berusaha meluruskan kakinya. Sementara itu sang anjing tepat di depan matanya sekarang. Menyalak kencang dan menggeram, seolah dia menemukan musuh majikannya dan siap untuk mencabik-cabik korbannya yang malang. Sakura bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan. Air mata mulai terkumpul di bola matanya.

Tolong...

Tolong aku...

"Grrr... GUK GUK GUK!" anjing itu kini melompat ke arahnya. Dengan cakar dan giginya yang tajam, siap untuk mencabik gadis itu dengan brutal. Sakura bisa merasakan dadanya bergemuruh kencang. Dingin. Takut. Air mata itu mulai menetes. Sakura mencengkram kerikil di tangannya—tidak peduli akan garis-garis kemerahan yang tertoreh di sana. Ia tak berani menegakkan kepala.

Siapa saja...

Tolong...

"SASUKEEEEEEEE!"

Tidak peduli siapa lagi nama seseorang yang dia teriakkan, Sakura berteriak sangat kencang. Walaupun Sakura tahu seseorang yang dia sebut namanya itu tidak akan datang, mengingat tempat ini sangat sepi dan cukup jauh dari kediaman Uchiha. Gadis itu memejamkan matanya dengan kencang.

GRAUP—Sakura yakin itu adalah suara gigitan. Apa bagian tubuhnya yang digigit oleh anjing yang dihidupkan kembali itu? Entahlah, Sakura sendiri terlalu takut untuk mengetahuinya.

"JANGAN DIAM SAJA! BAKA!"

..eh?

suara teriakan yang sudah sangat dikenal membuat Sakura membuka matanya. Gadis itu berusaha menatap seseorang yang kini berdiri di hadapannya, tapi tidak bisa. Pandangannya semakin mengabur. Terlalu lama di bawah guyuran hujan, rasa takut yang menguasai tubuhnya dan ditambah terkurasnya tenaga saat dia berlari membuat kondisi tubuh Sakura memburuk. Sayang sekali, dia tidak sempat melihat siapa orang baik yang sudah menolongnya.

Uchiha Sasuke mendecih melihat gadis yang akan dia selamatkan itu malah jatuh pingsan. Berusaha mengabaikannya, Sasuke menatap tajam kedua bola mata merah milik anjing yang sedang menggigit lengannya. Dengan segenap tenaga, Sasuke membanting lengannya—membuat anjing itu terlempar hingga tubuhnya menabrak tiang listrik. 'Monster' itu mengerang kesakitan, tapi dia tetap berusaha untuk bangun. Sementara itu, Sasuke memilih untuk setidaknya memindahkan Sakura ke tempat yang kering. Baru saja Sasuke akan memindahkan tubuh Sakura, anjing itu sudah kembali menyerang.

"GUK GUK GUK GRRAAAU!"

"Yak, cukup sampai disitu, anjing manis..."

ctak!

Dengan satu jentikan jari, Uchiha Itachi sukses membuat anjing yang tengah melompat itu kehilangan nyawanya seketika, jatuh di jalanan beraspal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi dari anjing itu. Sasuke bisa menemukan butiran-butiran tanah yang tertinggal di sepanjang bulu cokelat anjing itu—membuat Uchiha bungsu itu yakin sepenuhnya bahwa anjing di depannya ini adalah anjing yang tadi siang dia dan Sakura kuburkan sebelum pulang ke rumah.

Pemuda itu memandang Itachi. Sang kakak tak bereaksi, hanya balik menatap. Menghela napas—entah lega, atau merasa dikalahkan—Uchiha itu mengangkat tubuh Sakura perlahan dan menggendongnya di punggung.

Air masih membasahi mereka bertiga. Terlalu terburu-buru membuat kakak beradik Uchiha itu bahkan lupa membawa payung. Setengah perjalanan, Itachi membalikkan tubuhnya. Menatap Sasuke dengan seringaiannya—yang menurut Sasuke—menyebalkan.

"Ne, Sasuke..."

Sang adik dari dua bersaudara itu mengangkat kepalanya, menatap bola mata sang kakak yang belum kembali menjadi onyx—masih dengan warna dasar merah dengan riak-riak hitam di sekelilingnya, "segitu paniknya kah adikku yang satu ini? Sampai tidak bisa mengucapkan kata-kata untuk mematikan kembali anjing di depannya?" tanya Itachi dengan nada mengejek.

Sasuke mengerutkan alisnya tidak suka. Memang, jangan lupakan kakaknya yang merupakan seorang necromancer jenius dan sering disebut-sebut sebagai jenius yang hanya lahir seratus tahun sekali. Uchiha Itachi bisa menghidupkan dan mematikan kembali makhluk yang sudah mati hanya dengan menatap tubuh makhluk yang bersangkutan lalu menjetikkan satu jarinya. Sementara necromancer pada umumnya seperti Sasuke, harus mengucapkan mantra untuk mengatur hidup mati makhluk yang sudah mati itu. Apalagi kalau manusia, mau tak mau Sasuke harus mengetahui namanya—seperti saat kasus pembangkitan ibu Sakura.

Ah, tapi kekuatan Itachi itu hanya berlaku untuk satu makhluk saja. Jika ada banyak, maka dia juga tetap mengucapkan mantra yang sama seperti Sasuke. Seperti kasus pembangkitan para pendahulu yang sudah meninggal dari kuburan.

Uchiha bungsu itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Itachi. Harus dia akui, tadi dia memang sangat panik. Belum pernah seorang Uchiha Sasuke begitu panik seperti sekarang. Menundukkan kepala, Sasuke menggeram dalam hati. Sialan. Sialan. Sialan. Kemana aku yang dulu?—batin Sasuke terus berteriak. Genggamannya pada tubuh Sakura yang tengah dia bawa di kedua lengannya mengerat.

...Apa gara-gara gadis ini? Kini batin Sasuke kembali bertanya. Tidak, tidak! Sasuke menggelengkan kepalanya. Ia kemudian mempercepat langkahnya, menyusul Itachi yang berjalan di depannya.

Itachi tahu dari awal kalau ada yang tidak beres di sini. Dia tahu sesuatu akan bergerak dan menurut perkiraannya, kejadian seratus tahun yang lalu akan kembali terulang. Uchiha sulung itu mengerutkan alisnya,

"Mata merah..." bisiknya. Itachi mengepalkan kedua tangannya. Tadi dia memang sempat ragu, tapi sekarang dia yakin. Giginya bergemeletuk, lalu berganti dengan seringai yang menghiasi wajahnya.

"Sudah mulai ya?"

Sebentar lagi, entah kapan.

Perang terkutuk itu akan dimulai kembali. Tidak peduli meskipun sekarang sudah memasuki zaman modern yang dikuasai teknologi-teknologi canggih.

Kira-kira berapa banyak lagi orang awam yang akan menjadi korban? Ratusan? Ribuan? Atau bahkan jutaan? Yang pasti, perang seperti ini tidak mungkin membuat jumlah korban yang bisa dihitung dengan jari.

Ya, itulah...

...perang antar necromancer.

.

.

To be Continued


GYAAHHH MINNA SAAN, HONTOU NI GOMENASAI FOR THE LATE UPDATE!

*grammar : fail*

Sekarang kami sudah punya aktivitas masing-masing.. Sendiri sendiri. Dikarenakan sekarang kami (khususnya Desuke) berbeda SMA. Untuk cumanakecil dan Syllie, minggu-minggu ini kita sibuk adaptasi + ulangan + regenerasi ekskul.. Untuk Desuke, dia juga lagi fokus belajar. jadi kami udah jarang banget ketemu. maaf bangeett. makasih banyak yang udah nungguin cerita ini (dan yang nodong-nodong buat update /plak) maafkan kelalaian kami, akan diusahakan chapter depan lebih cepat lagi updatenya...

ctt : Itu juga kalau Syllie dapet idenya lebih cepat =='