"Hah, hah!"

Suara napas anak kecil berumur sekitar tujuh tahunan yang memburu terdengar di sepanjang jalan yang dilaluinya untuk berlari. Bulir air mata menggenang di pelupuk matanya. Berkali-kali kehilangan keseimbangan, namun berkali-kali pula dia berusaha untuk bangun. Ancaman kematian yang mengejar, membuatnya sudah terlalu bebal untuk mempedulikan luka-luka ringan di sekujur tubuh kecilnya.

Bocah itu lari demi mempertahankan hidupnya. Kedua bola mata stoic-nya menyala garang. Napasnya naik turun dengan cepat. Bulir keringat menetes satu persatu demi mempertahankan suhu tubuhnya yang meningkat secara mendadak.

Lari atau mati.

Ingatan beberapa menit yang lalu berkelebat di benaknya. Ia hanya ingin latihan. Apa salahnya? Mencoba mengalahkan sang kakak yang seorang necromancer jenius. Seringai kemenangan sudah mulai muncul di wajah kecilnya ketika ia melihat tanda-tanda kehidupan dari seekor anjing mati yang jadi bahan percobaannya, sebelum satu teriakan keras membuyarkan seluruh konsentrasinya.

"DIA NECROMANCER! ANAK KECIL ITU NECROMANCER!"

Mengabaikan kenyataan bahwa anak yang mereka sebut sebagai necromancer itu adalah anak yang jauh di bawah standar umur dewasa, orang-orang dewasa yang telah tertutup mata hatinya itu tetap mengejarnya dengan nafsu membunuh. Ada yang membawa pentungan besi atau kayu, kapak, gergaji, bahkan senapan. Sesekali Sasuke kecil melirik ke belakangnya. Dan saat melihat tatapan orang-orang dewasa itu padanya, Sasuke kembali menangis ketakutan.

Ternyata apa yang dikatakan ayahnya benar. Sekarang, bagi orang-orang di luar sana, necromancer tak lebih dari sekedar binatang buruan yang dibunuh demi kesenangan bersama atau bahkan pribadi. Sudah tidak ada lagi hak asasi manusia untuk necromancer. Ah, tapi memang dari awal mereka—klan Uchiha—tak pernah dianggap manusia. Mereka adalah monster yang harus dibunuh. Menjijikkan, hina, hanya mengganggu pemandangan.

DHUAK

"Aaaaakh!" Sasuke berteriak kesakitan ketika dia tersandung batu besar saat berlari hingga terjatuh dan menimbulkan luka lecet di beberapa bagian tubuhnya. Laki-laki kecil itu berusaha membangkitkan tubuhnya dengan susah payah. Namun percuma, rasa nyeri yang berpusat di kedua tangan dan kakinya membuatnya terus terjatuh berkali-kali.

"ITU DIA!" suara teriakan salah satu kumpulan pria dewasa tadi membuat Sasuke tersentak kaget dan reflek menoleh ke belakangnya. Dengan air mata yang tertahan, Sasuke berusaha menyeret tubuhnya untuk maju. Tapi tetap percuma, para pria dewasa itu kini sudah mengepungnya. Menutup semua jalur yang ada. Belum sempat Sasuke menangis ketakutan, sebuah tendangan dilancarkan pada perutnya hingga tubuh anak kecil yang malang itu terdorong cukup jauh.

DHUAK

BHUG

BHUAG

Tidak cukup satu. Tendangan yang lain pun ikut menyusul dari berbagai arah. Tidak memberi kesempatan sedikit pun pada Sasuke untuk melawan atau bahkan sekedar berdiri, "MENJIJIKKAN! DASAR ANAK SETAN! MATI SAJA SANA! DASAR MONSTER!"—begitulah teriakan orang-orang di sekelilingnya. Telinga Sasuke berdengung dan kepalanya mulai pusing. Tubuhnya meringkuk seiring dengan pukulan balok kayu yang mulai mendarat di sekujur tubuhnya.

Takut.

Dia sangat takut.

Dimana ayah ibunya?

Dimana kakaknya?

Bayangan kematian kini ada di depan matanya. Apa dia akan mati seperti ini? Mati dengan cara menyedihkan dan umur yang masih sangat muda? Sasuke menangis sembari menggigit bibir bawahnya. Kali ini bukan hanya hinaan, beberapa dari pria dewasa itu tertawa melihatnya ketakutan di tengah siksaan yang sangat tidak manusiawi. Rasanya susah sekali untuk bernapas. Tanpa bisa menahannya lagi, akhirnya Sasuke kecil pun jatuh pingsan ketika seseorang memukul kepalanya dengan ujung senapan hingga darahnya mengalir melalui dahinya.

Namun sebelum itu, suara seseorang memasuki indra pendengarannya...

"Salahkan takdir yang telah menjadikanmu sebagai necromancer."

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Basic idea of story © sellleh

Typing fic, Plot, and Horror/Romance scene © Kira Desuke

Beta and Description © cumanakecil

.

sykucil™

.

.

Warning : OOC, AU, OC [Eric]

Genre : Fantasy/Horror/Suspense/Romance

Main Pair : SasuSaku

.

.

:STOIC NECROMANCER:

.

.

.

.

.

CHAPTER 7

.

Uchiha Sasuke terbangun dari tidurnya dengan tersentak hebat. Tubuhnya langsung terduduk tegak. Napasnya naik turun, seiring dengan bulir keringat dingin yang mengucur. Untuk beberapa saat kedua bola mata Sasuke membulat kecil, tubuhnya bergetar ketakutan, kedua tangannya mencengkram selimut yang menutupi tubuhnya.

Setelah mengatur napas beberapa kali dalam hitungan detik, Sasuke menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. Tubuhnya berangsur-angsur kembali tenang seperti sebelumnya. Adik dari Uchiha Itachi itu memejamkan kedua matanya. Tangan kanannya kini bergerak memegang kepalanya lalu mengusap keringat dingin yang menempel di wajahnya tersebut.

"Mimpi..." gumamnya masih diselingi deru napas yang belum sepenuhnya teratur. Tangan kanan yang tadi mengusap wajahnya kini menutup kedua matanya,

"...hanya mimpi."

Laki-laki berumur tujuh belas tahun itu kini menengadahkan kepalanya, menarik napas panjang untuk yang ke sekian kalinya. Mimpi buruk yang mengingatkan tentang masa lalunya yang kelam.

Sasuke melirik jam dinding yang menempel pada tembok di seberangnya saat ini. Jarum panjang menunjuk angka dua belas sementara jarum pendek menunjuk angka empat. Suasana di luar jendelanya terlihat masih gelap. Belum sempat Sasuke menggelengkan kepalanya frustasi, suara orang lain di dalam kamarnya menghentikan gerakannya.

"Anda mimpi buruk, tuan?"

Pertanyaan itu membuat Sasuke membuka setengah kedua matanya yang sempat terpejam. Uchiha bungsu tersebut tidak bergeming ketika kumpulan debu yang menyelip masuk dari celah jendela dan pintu ruang keluarganya kini membentuk suatu wujud anak kecil. Anak dengan rambut pirang yang mencolok itu tersenyum ketika wajahnya telah terbentuk sementara tubuh lainnya masih dalam proses menuju bentuk sempurna.

"Eric," suara Sasuke yang memanggil namanya membuat anak itu membuka kedua matanya. Kedua mata yang seharusnya berwarna blue sapphire yang indah itu sekarang berwarna merah darah—tidak, bukan. Tapi menjadi merah karena diselimuti darah yang berkumpul di kedua matanya. Saat Eric membuka mata, darah itu mengalir keluar melalui pipi hingga akhirnya menetes dari dagunya yang masih sedikit terlihat kumpulan debu di sana.

Belum lagi dengan kedua pipinya yang jelas menunjukkan bekas sobekan kasar. Lehernya terlihat melepuh—entah kenapa. Meskipun belum seluruh tubuhnya terbentuk, Sasuke segera mengerti apa yang terjadi. Laki-laki itu membuang muka, enggan melihat Eric yang sekarang.

"Bulan purnama?" tanyanya acuh.

Sasuke bisa mendengar ringisan bocah keturunan bangsawan Inggris abad 50-an tersebut, "Ya tuan," jawabnya dengan nada anak kecil yang polos.

"Sakura-neechan sedang tidur di kamar tuan, jadi kupikir tidak apa-apa menemui tuan seperti ini. Lagipula, aku mengkhawatirkan tuan yang tiba-tiba berteriak saat bangun tadi," lanjutnya. Kini kedua tangannya sudah terbentuk cukup padat. Eric pun memajukan tubuhnya—sekarang debu-debu tersebut perlahan membentuk pinggang dan kakinya—dia memeluk lengan Sasuke manja layaknya anak kecil seumurannya.

"Hehe," mengabaikan tatapan Sasuke yang terganggu dengan perbuatannya, Eric kembali melanjutkan kata-katanya sembari menyandarkan kepalanya pada lengan kekar Sasuke, "I miss you so much, Sasuke-sama."

"Stop it, Eric," gerutu Sasuke lalu mendorong tubuh Eric dengan pelan untuk menjauh darinya. Sebelum Eric sempat memasang wajah merajuk khas miliknya, Sasuke langsung melanjutkan, "darahmu bisa mengotori bajuku."

Eric pun akhirnya tak jadi merajuk. Dia tertawa kecil dan ketika kakinya sudah terbentuk sempurna, bocah berumur sekitar lima sampai tujuh tahunan itu menendang-nendangkan kakinya ke udara. Walau begitu, kini luka di tubuhnya yang lain terlihat jelas. Selain pipi yang terdapat sobekan dan leher melepuh, di kaki dan tangan Eric terdapat bekas jahitan yang entah kenapa berada di sana. Dan walau sudah terbentuk sempurna, jika diperhatikan baik-baik, jempol tangan kanan dan kelingking tangan kiri anak laki-laki itu sudah tidak ada pada tempatnya.

Darah dari kedua bola mata Eric masih enggan untuk berhenti. Sasuke hanya diam memperhatikan penampilan Eric sekarang. Ini bukan kali pertamanya dia melihat keadaan Eric yang seperti itu. Hanya saja, sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali dia melihatnya. Tentu saja pertama kalinya Sasuke melihat penampilan Eric yang berantakan adalah saat Uchiha Itachi alias sang kakak yang membangkitkannya dari kubur lalu memerintahkannya menjadi pengikut setia Uchiha Sasuke.

Ah satu hal lagi tentang necromancer, saat membangkitkan mayat, perlahan tapi pasti mayat yang tadinya sudah menjadi tengkorak akan berubah ke penampilan terakhir sebelum mereka mati. Jika yang membangkitkannya adalah Sasuke, memang akan memakan waktu lama. Tapi, lain halnya dengan si jenius Itachi. Waktu dibangkitkan untuk pertama kalinya, Eric terlihat kebingungan dan terus menangis darah tanpa sebab. Bagaikan anak kecil yang tersesat dan tidak tahu harus bagaimana, Eric hanya bisa memasrahkan dirinya pada Itachi yang terus menggenggam tangannya—mencoba menenangkannya.

Itachi telah memberi tahu Sasuke sebelumnya, bahwa Eric itu spesial. Tidak seperti mayat lain, Eric bisa merubah penampilannya sesuka hatinya—entah kenapa. Contohnya saja Uchiha Mikoto, dia tetap pada penampilan terakhirnya ketika dirinya mati karena kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya dan suaminya. Tapi, tetap saja masih sama seperti raga mati lainnya, di saat bulan purnama, mau tak mau Eric akan kembali pada penampilan terakhir sebelum kematiannya.

Akhirnya Sasuke kembali pada alam sadarnya setelah sebelumnya melamun mengingat masa lalunya ketika bertemu Eric untuk yang pertama kalinya. Gara-gara mimpi buruk sialan tadi, sekarang Sasuke tidak bisa tidur lagi. Helaan napas Sasuke yang cukup panjang membuat Eric yang sedang melihat ke luar jendela kini menoleh ke arahnya. Eric tersenyum lebar dengan kedua mata yang penuh darah itu menyipit, "Tidak tidur lagi, Sasuke-sama?" tanyanya.

Adik bungsu Itachi itu menggeleng pelan, "Tidak bisa tidur," jawabnya singkat. Eric mengangguk mengerti lalu kembali melihat ke luar jendela. Sehingga sekarang Sasuke hanya bisa melihat punggung kecil dan rambut pirang Eric yang sudah sangat kusam. Kedelapan jari Eric saling mengait di belakang punggungnya.

"Tuan,"Sasuke bergeming ketika suara Eric yang dalam memanggilnya, "Adakah cara untuk menghilangkan bulan purnama dari dunia ini?" lanjutnya dengan pertanyaan yang rancu. Sasuke mengernyitkan kedua alisnya.

"Tentu saja tidak ada," Sasuke menarik napas panjang, "membangkitkan makhluk mati saja sudah cukup memuakkan," lanjut Sasuke tanpa perlu Eric minta.

Tawa kecil Eric kembali terdengar, "Begitu. Sudah pasti tidak mungkin, ya?" Uchiha bungsu itu merasa tidak perlu menjawabnya. Dia cukup diam saja, "Aku benci bulan purnama," sembari mengatakan itu, Eric berjalan melangkah mendekati jendela kaca besar di depannya. Sehingga kini dia bisa melihat bayangan penampilannya yang terpantul pada jendela tersebut.

Eric mencoba mengusap air mata darah yang masih belum berhenti mengalir dari matanya. Namun percuma, terus saja darah itu mengalir tanpa bisa dia hentikan. Bocah berambut pirang itu menghela napas pasrah, kini tangannya yang penuh darah menyentuh jendela di hadapannya, "Bulan purnama selalu membuatku kembali pada penampilan terakhirku sebelum aku mati..." tak lama kemudian Eric menggertakkan giginya. Sorot matanya berubah penuh dengan kebencian yang seakan tak bisa dihilangkan begitu saja.

Sasuke masih diam ketika Eric menggerakkan tangannya hingga mengotori jendela besar ruang keluarganya. Laki-laki kecil itu seakan mencoba menutup bayangannya yang terpantul di sana. Percuma, percuma... bayangannya masih ada. Eric pun akhirnya hanya bisa terpaku melihat penampilannya yang begitu menyedihkan.

"...mengingatkanku dengan siksaan terakhir yang diberikan ibu kandungku sendiri sampai aku mati."

.

.

.

.

.

.

.

#

Haruno Sakura sedang membereskan bajunya ketika suara pintu kamar diketuk menghentikan sejenak kegiatannya. Melupakan dimana posisinya sekarang, Sakura menyahut untuk mempersilahkan siapapun yang telah mengetuk pintu kamar yang ditempatinya sekarang. Tadinya Sakura tidak sadar siapa yang masuk untuk menemaninya dan terus berkutat melipat rapi baju-bajunya. Setidaknya sampai bulu kuduknya berdiri dan firasat tidak enak menghampirinya. Setelah menelan ludah, Sakura pun memberanikan dirinya menoleh...

...dan langsung menyesali keputusannya saat itu juga.

"Ah, Mi-Mikoto-san," Sakura berkata kaku lalu tertawa kikuk. Keringat dingin mengalir di pelipisnya ketika melihat sepasang bola mata berwarna putih di depannya menatapnya penasaran.

"Perlu... kubantu?" tanyanya dengan suara yang semakin serak saja dari hari ke hari. Sakura menggeleng lemah, mencoba menolak dengan halus. Tapi sebelum Sakura sempat menjawab pertanyaan Mikoto, wanita yang memiliki dua anak itu kembali melanjutkan, "Bajumu terlihat banyak... yakin tidak perlu bantuanku?"

"Ya... memang..." kedua iris Sakura yang berwarna hijau emerald melirik ke kanan kiri—berusaha mencari alasan yang tepat untuk penolakannya. Walaupun alasan sebenarnya adalah karena tidak mau bajunya terkena tangan rapuh Mikoto yang bisa hancur kapan saja. Bagaimana kalau nanti di baju-bajunya terselip retakan kulit atau bahkan daging ibu dari Uchiha Sasuke itu?

Sakura tetap harus berlaku sopan dalam perilaku dan bahasa meskipun wanita di hadapannya sudah mati tiga tahun yang lalu. Yah, begitu begitu juga wanita itu adalah calon mertuanya. Bukan berarti Sakura menerima keputusan Itachi yang ingin menikahkannya dengan Sasuke secara sepihak itu dengan ikhlas. Setidaknya sampai saat ini, Sakura belum menemukan jalan alternatif untuk mengeluarkannya dari situasi yang ada. Mau tak mau gadis berumur tujuh belas tahun itu harus mengikuti salah satu permainan di dalam hidupnya.

Sebenarnya tanpa perlu Sakura memikirkan alasan yang tepat, istri dari Uchiha Fugaku itu sudah tahu apa yang ada di pikiran gadis calon suami anak bungsunya tersebut. Tapi... setidaknya mari dengar apa yang akan dikatakan gadis itu agar tidak menyakiti perasaannya. Setelah memakan waktu sekitar lima menit, akhirnya Sakura berkata lembut, "Saya tidak ingin merepotkan anda, Mikoto-san. Saya sudah dengar dari Sasuke, tadi malam ada bulan purnama—dimana para mayat hidup sedang dalam masa rapuhnya—anda pasti baru memperbaiki tubuh anda, 'kan? Pasti anda lelah, istirahat saja."

Ah, alasan yang bagus. Mikoto terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum tipis penuh arti, "Baiklah..." jawabnya dengan suara serak. Sakura menelan ludah ketika melihat ibu dari dua anak itu kini membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar pintu. Setelah pintunya tertutup, Sakura menghela napas lega.

"Yosh! Lanjutkan kembali..." Sakura menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. Dia mulai melipat baju-baju berantakan yang sudah semakin berkurang jumlahnya. Sedikit lagi. Sakura tersenyum senang. Setelah ini selesai, dia akan istirahat dulu sebentar. Kenapa? Jawabannya... karena dia hampir tidak bisa tidur semalaman. Dan itu disebabkan—

"Sepertinya kau mulai pintar mencuri dengar," suara sarkastik yang tiba-tiba terdengar membuat Sakura terlonjak kaget. Gadis itu segera menoleh ke arah suara. Hey! Sejak kapan laki-laki dingin itu berdiri di ambang pintu kamarnya? "jadi, seberapa jauh informasi yang kau dapatkan?" lanjutnya bertanya. Kini kedua iris onyx miliknya menatap tajam gadis yang masih duduk di atas karpet kamarnya.

Sakura tertawa canggung mendengar perkataan Sasuke, "Ya err... hahaha tidak banyak juga sih," gadis yang kini kebingungan tersebut memainkan kedua jari telunjuknya. Mencoba menghindari dirinya dari rasa gugup yang tiba-tiba menjalari tubuhnya, "hanya sebatas yang tadi kujelaskan pada Mikoto-san."

"Kau melihat Eric?"

Gadis Haruno itu kembali tersentak. Bagaimana tidak? Justru karena melihat sosok anak yang sepertinya hidup di abad lima puluhan itulah, Sakura tidak bisa tidur semalaman dan membuatnya ngantuk berat sekarang. Untung Sakura melihat Eric dari jauh—tapi itu cukup membuatnya muntah-muntah di kamar mandi yang ada di dalam kamar Sasuke—kalau saja dia melihatnya secara langsung... bukan tidak mungkin Sakura akan pingsan saat itu juga.

Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada. Ekspresinya terlalu datar, Sakura tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran adik dari Uchiha Itachi tersebut. Well, lain halnya dengan Sasuke yang sepertinya memang tidak butuh kemampuan Itachi yang bisa membaca pikiran orang lain untuk membaca apa yang ada di pikiran Sakura. Calon istrinya itu terlalu gampang ditebak, cukup dengan menatap dalam-dalam kedua iris hijau emerald miliknya.

"...Jadi, kau lihat," gumam Sasuke pada akhirnya setelah mereka berdua cukup lama terdiam. Sakura mengangkat kepalanya, menatap ekspresi laki-laki yang kini berjalan ke arahnya lalu duduk di sampingnya. Tanpa kata-kata lagi, Sasuke mengambil salah satu baju Sakura yang berantakan dan melipatnya.

Melihat itu, Sakura terkejut, "Eh, Sa-Sasuke?"

"Kubantu," jawab Sasuke singkat tapi dengan nada yang secara tak langsung memerintah Sakura untuk tidak membantahnya. Akhirnya Sakura pun menurut. Dalam keheningan, keduanya sibuk di dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Sakura telah menyelesaikan bagiannya lalu menunggu Sasuke selesai.

Gadis yang memiliki sepupu bernama Sai tersebut memperhatikan Sasuke yang hari ini memakai kaos hitam lengan pendek dan celana putih pendek selutut. Awalnya tidak ada yang aneh, sampai Sakura menyadari ada suatu luka di lengan atas Sasuke yang tertutupi kaosnya. Begitu Sasuke menyelesaikan lipatan baju terakhir, Sakura segera memegang tangan Sasuke dan hal itu cukup membuat kaget sang necromancer muda.

Namun, sebelum sempat bertanya, Sakura sudah lebih dulu menyerangnya dengan pertanyaan. Gadis itu melipat kaos lengan pendeknya hingga bahu. Memperlihatkan luka jahitan di lengan kanan atas Sasuke, "Ini kenapa?" tanya Sakura to-the-point.

Sasuke tidak langsung menjawab. Dia memejamkan matanya sekilas lalu menyingkirkan tangan Sakura dari lengannya. Gadis itu menatapnya penasaran sementara Sasuke menghela napasnya, "Hanya luka lama," jawabnya singkat. Tapi, sepertinya itu tidak membuat Sakura puas. Gadis bermahkota soft pink tersebut menatapnya tak suka.

"Sepertinya aku akan bertanya pada Itachi-nii saja," gerutu Sakura kesal. Ah, Itachi. Sasuke menggeram frustasi. Dia tidak akan mau diceramahi selama dua jam ke depan oleh kakaknya yang jenius itu. Sepertinya dibanding merajuk, kata-kata Sakura tadi lebih tepat disebut sebagai ancaman bagi Sasuke.

"Hhh... baiklah," mendengar itu, Sakura tersenyum lebar. Kedua matanya berbinar meskipun hanya sekilas, "ini luka yang kudapat saat aku masih kecil dulu..." Sasuke terdengar menggantungkan kata-katanya. Pemuda berumur tujuh belas tahun itu menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.

"...luka yang masih berbekas setelah sekumpulan orang-orang berusaha membunuhku."

"Eh?" Sakura terkejut mendengarnya. Gadis itu memperbaiki posisinya agar dia bisa duduk dengan nyaman dan bisa berkonsentrasi dengan penjelasan Sasuke selanjutnya, "Apa maksudmu? Kau hampir dibunuh saat kau masih kecil? Oleh siapa dan mengapa?" tanya Sakura bertubi-tubi.

Sasuke melirik ekspresi penasaran Sakura sekilas sebelum kembali melanjutkan penjelasannya, "Kenapa kau kaget? Bukankah sudah kukatakan berkali-kali, keberadaan necromancer dibenci di dunia ini," meski sekilas, Sakura sempat menangkap kedua tangan Sasuke mengepal di atas lututnya—laki-laki itu duduk bersila, "necromancer harus dihilangkan dari dunia ini, meskipun necromancer itu masih berumur lima tahun atau bahkan baru pertama kali menghirup oksigen di dalam kehidupannya," Sasuke kini memejamkan kedua matanya erat.

"Membunuh necromancer sama saja seperti kau membunuh semut," Uchiha bungsu itu menggertakkan giginya, "kau tidak akan mendapat hukuman apapun, sebaliknya kau justru mendapat pujian—bukan tidak mungkin justru kau akan mendapat hadiah karena telah membunuh seorang necromancer. Bagi para manusia tanpa kekuatan istimewa itu, kami bagaikan serangga menjijikkan yang harus segera dibasmi, kami tidak mempunyai hak untuk hidup layak lagi sebagaimana manusia pada umumnya," Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu menundukkan kepalanya.

"Tapi..." Sakura memejamkan kedua matanya dengan erat. Air mata telah berkumpul di ujung matanya, "...itu kejam sekali."

"Ya, memang," jawab Sasuke dengan nada sarkastik. Laki-laki itu mendengus menahan tawa mengejek yang sebenarnya ditujukan pada dirinya sendiri, "salah satu kasus yang tak akan pernah kulupakan adalah pembantaian Shisui-san—sahabat Itachi," Sakura kembali mengangkat kepalanya, "waktu itu aku masih berumur tujuh tahun dan bersembunyi di balik gang kotor sehingga aku kurang jelas melihatnya," tarikan napas Sasuke membuat Sakura justru menahan napasnya.

"Shisui-san... dia dihajar massa di tengah kota hingga sekarat. Dan bukannya langsung dibunuh, tubuhnya dipaku dulu pada kayu salib yang kebetulan ada di sana. Orang-orang menertawakannya lalu saling bersulang seakan mereka baru saja mendapat mangsa besar yang memuaskan. Setelah dicambuk selama kurang lebih tiga jam, mereka pun memotong-motong tubuh Shisui-san, hingga yang tersisa hanya kepala dan tubuhnya. Baru setelah itu semua, Shisui-san mati dibakar mereka sampai tubuhnya berubah menjadi abu."

Kedua bola mata Sakura membulat tak percaya mendengar cerita Sasuke. Sementara laki-laki itu masih enggan menatapnya. Sasuke menunduk sehingga kedua matanya tertutup poninya dan Sakura tidak bisa melihat ekspresi yang sedang dipasang pemuda necromancer tersebut. Tapi yang jelas, sekarang Sasuke masih menggertakkan giginya dengan penuh amarah, "Tidak ada... yang bisa aku lakukan saat itu..." sekarang Sasuke meremas celana yang dikenakannya, "Tidak ada... padahal Shisui-san berteriak pilu berusaha mendapat pertolongan... tapi aku... aku hanya bisa menangis."

"Sasuke..." Sakura tak bisa menahannya lagi. Seolah menggantikan Sasuke, kini Sakura menangis hingga air matanya menetes dari ujung dagunya, "...aku mengerti, kau tidak salah," ucap Sakura berusaha menghibur.

Tapi, Sasuke tidak menanggapi ucapan Sakura. Dia kembali melanjutkan, "Waktu itu Shisui-san berusaha melindungiku karena Itachi sedang mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri," Sakura bisa melihatnya. Bagaimana Sasuke masih tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena kejadian yang menimpa laki-laki bernama Uchiha Shisui tersebut, "seandainya saja aku lebih kuat..." bisik Sasuke lagi.

"Tapi, itu memang di luar kemampuanmu, Sasuke!"

Dibalas dengan gelengan kuat dari sang Uchiha. Ia mengacak rambut raven-nya, menggeram frustasi. Ya, ia tahu seharusnya ia bisa. Bisa melakukan sesuatu selain berdiri dan menonton layaknya pengecut. Shisui-san sudah bagaikan anggota keluarganya. Kakak keduanya. Dan ia bahkan tidak berani sekedar melangkahkan kaki satu langkah saja untuk menyelamatkannya.

"Sudahlah..." Sakura menepuk bahu lelaki di sebelahnya pelan. Sekilas, gadis itu menelan ludah tegang, "Itu masa lalu, kan? Setidaknya sekarang yang kau butuhkan adalah bagaimana supaya tidak melakukan kesalahan yang sama."

Sasuke masih menundukkan kepalanya. Melihat itu, Sakura akhirnya kembali diam. Memilih untuk duduk tenang, menunggu sampai laki-laki itu kembali seperti sebelumnya. Sakura mulai menyesal karena telah menanyakan pertanyaan yang ternyata sangat tabu bagi Uchiha Sasuke tersebut. Gadis itu pun menghela napasnya pelan.

Dan semua terjadi begitu cepat.

Dari balik jendela yang terbuka, tiga sosok berjubah hitam melesat masuk secepat kilat. Sang Uchiha terperanjat. Langsung refleks menggenggam tangan wanita di sebelahnya—tapi sayang, kurang cepat. Entah kekuatan apa yang dipunyai oleh tiga sosok misterius tersebut.

Angin berhembus kencang dari arah luar. Menggelitik gorden jendela yang terurai bebas ke dalam.

Dan sang bungsu Uchiha itu di dalam sana. Menahan napas. Tidak bisa berkutik dengan ujung kunai dari empat arah angin kini sudah beberapa centi lagi menyentuh lehernya. Kedua tangannya dicengkram erat di belakang punggungnya. Ia berlutut.

Tetapi kedua bola matanya berkilat marah. Menyaksikan apa yang dilakukan mereka pada Haruno Sakura.

Lagi-lagi Sasuke merutuki dirinya sendiri. Sialan. Tidak berdaya lagi. Melihat sang gadis meringis kesakitan. Rambut pink-nya dijambak ke belakang, memaksa Sakura untuk menengadahkan kepalanya. Satu kunai tajam diarahkan melintang di leher sang gadis. Bergerak sedikit saja, dan benda tajam itu akan menggores kulitnya. Gadis itu susah payah menahan napas. Kedua bola matanya bergetar.

Kejadian-kejadian pembantaian yang sudah berkali kali ia saksikan di depan mata mulai berkelebat kembali dalam ingatannya. Dengan sukses memacu amarah sang Uchiha lebih cepat. Dan—bukan, ia bukan Uchiha Sasuke yang pengecut dan tidak berdaya sekarang. Yang hanya bisa melihat dari belakang tanpa melakukan sesuatu. Sudah cukup menjadi pecundang.

Satu sosok yang berada paling dekat dengan Sasuke menyeringai kecil. Ia mendekatkan diri dan berbisik pelan di telinga sang Uchiha.

"Lama tidak berjumpa, Uchiha-san."

Sasuke tersentak ketika sesuatu yang basah menyentuh pipinya. Laki-laki itu melirik dari sudut matanya. Salah satu dari tiga sosok itu ternyata mengeluarkan lidahnya yang panjang bagai ular lalu menjilat pipi tirus adik dari Uchiha Itachi tersebut. Sasuke mengernyit jijik sementara pria tua yang berambut hitam panjang itu tertawa meremehkan.

"Apa kau ingat padaku?" tanyanya sembari menjilat bibirnya sendiri. Sasuke memicingkan kedua matanya tajam, "Aku adalah salah satu dari ribuan manusia yang pernah kau bunuh, hei Uchiha," pria berambut panjang itu mendesis lalu tertawa lagi.

Setelah menggertakkan giginya cukup keras, Sasuke berbisik pelan, "Aku tidak ingat pernah membunuhmu, pak tua," jawabannya yang sarkastik membuat laki-laki berambut panjang itu menghilangkan senyumnya. Namun itu tak lama, dia kembali tersenyum. Bahkan jauh lebih lebar dari sebelumnya.

"Ah, benar. Wajar kalau kau tak ingat. Karena yang membunuhku bukan kau, tapi leluhurmu yang haus akan kekuasaan itu," kedua bola mata Sasuke membulat kecil. Seolah tersadar akan sesuatu, "khu khu khu, sepertinya kau ingat... aku Orochimaru. Lalu mereka adalah dua temanku, Jiraiya dan Tsunade," ucapnya memperkenalkan rekan-rekannya.

"Kami adalah korban dari perang bodoh kalian. Perang antar necromancer."

Kini napas Sasuke semakin memburu. Mana mungkin dia lupa tentang perang necromancer yang memang dikatakan Itachi sebentar lagi akan kembali terulang. Dan jika sampai tiga mayat yang sekarang berada di kamarnya ini adalah korban dari perang tersebut—yang pastinya menyimpan banyak dendam pada klan Uchiha yang pertama kali memulai perang, itu artinya...

...sang lawan mulai bergerak.

Sial! Di saat seperti ini, Sasuke masih belum tahu dimana keberadaan Itachi. Bukan, bukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri, "Baik, aku mengerti," kepala Sakura yang dipaksa menengadah ke atas membuat gadis itu tak bisa melihat apa yang terjadi. Tatapan tajam mayat wanita yang menjambak rambutnya membuatnya sama sekali tak bisa berkutik, "jika kalian memang ingin membunuhku, silahkan. Tapi, lepaskan gadis itu," Sakura membuka kedua matanya yang terpejam mendengar perkataan Sasuke.

"Sayang sekali, bukan kau yang kami inginkan, bocah," suara pria tua lain kembali menyahut. Kali ini pria dengan rambut putih yang sangat panjang, "tuan yang telah membangkitkan kami, memerintahkan kami untuk membawa kepala Haruno Sakura padanya."

Apa?

Sasuke menggertakkan giginya, "Jangan..." tapi sebelum sempat berkata apa-apa lagi, kini Jiraiya menjambak rambut Sasuke. Memaksa kepala laki-laki itu untuk tegak dengan ujung kunai dari empat arah angin menyentuh kulit lehernya. Sekarang yang Sasuke lihat adalah kepala Sakura yang masih ditengadahkan ke atas dengan kunai melintang yang siap ditebaskan untuk memisahkan kepala gadis itu dari lehernya.

Tidak.

Tidak.

Tidak.

Jangan lagi.

Sakura memejamkan kedua matanya erat dengan air mata yang akhirnya mengalir di pipinya. Gadis itu meringis sakit dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan. Gerakan kunai yang mengiris lehernya sangat pelan. Sangat menyiksa. Dalam keputusasaan, gadis bermarga Haruno itu berbisik pelan, "Sa... Sasuke..."

Seakan menjadi bisu, Sasuke tidak bisa berkata apapun meski saat ini mulutnya terbuka. Dia hanya bisa menahan napasnya. Saat melihat aliran darah pertama gadis itu, mengalir dengan lancarnya. Mewarnai kulit leher yang putih dan bersih itu dengan warna merah darah yang segar.

Merah.

Seperti dulu.

"Bukankah gadis itu memiliki warna darah yang indah, Sasuke?"

.

To be Continued

.

Halo '-')/ sebelumnya maaaaaaf banget bagi yang udah nungguin fic ini dari kapan tahu. Aaa terharu deh masih ada yang nungguin, makasih ya untuk yang masih setia :') #apah Walau yang setia kebanyakan nagihnya ke Kira Desuke padahal masih ada 2 author lain yang bisa ditagih... iya gak papa kok, gak papa... #senyummiris (?) #apaini

Sebenarnya saat proses pembuatan fic ini lumayan banyak kendala. Dimulai dari 3 author ini mendapat sekolah yang berbeda. Yah, sebenarnya cuma Kira Desuke aja sih yang beda, cumanakecil dan sellleh masih satu sekolah. Tapi gara-gara itu, kesibukan kita jadi berbeda-beda dan susah ngatur waktunya, kita juga jadi jarang komunikasi. Ditambah sellleh yang punya ide dasarnya malah lupa lagi sama jalan cerita ini, jadi aja sekarang yang lanjutin cuma Kira Desuke dan cumanakecil orz

Tapi nama sellleh tetep kita tulis di sini, karena bagaimana pun juga tanpa dia fic Stoic Necromancer ini gak akan pernah ada. Makasih ya Syl ;w;)/

Udah itu aja kayaknya yang mau diomongin. Kurang lebihnya kami mohon maaf. Doain semoga kami ngaretnya gak nyampe 2 tahun lagi ya xD #ditabok Terima kasih bagi yang sudah mereview chapter sebelum iniii. Mind to review again? :3