Love Between Gryffindor Princess and Slytherin Prince
Chapter 2 "Fall In Love"
Disclaimer: All of the character belong to J.K Rowling
Warning : Rada gaje dan mungkin ada typo :3 soalnya ini fanfic ku yang pertama. Hope you like it! Dramione forever! *teriak pake toa
Draco POV
Kami saling berpandangan. Granger tampak shock. Mungkin dia shock gara-gara aku langsung panggil nama depannnya atau bisa juga dia shock karena aku tangkap ketika dia nyaris jatuh. Maklum, biasanya aku kan cuek terhadapnya. Bahkan tak acuh. Bukannya itu sama saja ya? Ah, sudahlah!
"Apa-apaan sih kamu ini! Pasti mau berbuat macam-macam ya?! Dasar musang mesum!" seru Granger marah. Dengan sigap ia sudah berdiri lagi.
"Musang, musang! Aku ini penyihir tau! Dasar kau Mud Blood tak tau terimakasih!" aku balas berteriak
Profesor McGonagall yang mendatangi kami pun sampai terdiam sebentar, mengamatiku lalu mengamati Granger, kemudian menatapku lagi dengan tatapan bingung.
"Kalian ini kenapa? Kok tiba-tiba memanggilku lalu saling menatap kemudian bertengkar?" suara Profesor McGonagall yang tegas terlihat. Ia pasti kesal kalau dipanggil tapi ternyata tidak ada masalah apa pun.
"Mud Blood ini.." kataku geram
"Jaga mulutmu, Malfoy!" tegur Profesor McGonagall
Aku mendengus kesal. "Ya, ya, ya apalah itu."
Profesor McGonagall seperti direbus. Wajahnya memerah. Dan tiba-tiba.. DUAARR! Keluar lahar dari kepalanya dan terjadi hujan abu. Enggak, aku cuma bercanda. Pastinya, ia marah sekali dengan ucapanku.
"Profesor, kami hanya ingin bertanya. Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Granger mengalihkan pembicaraan sebelum McGonagall memberiku detensi.
Profesor McGonagall berpikir sebentar, "bantu Profesor Sprout memasang Mantra Perlindungan di sekitar Hogwarts. Rasanya ada yang tidak beres. Untuk jaga-jaga saja."
Secara bersamaan kami mengangguk. Selama perjalanan keluar dari kastil, kami tidak berbicara. Entah kenapa rasanya ada yang tidak nyaman kalo Granger tidak berbicara padaku.
"Hmmm," gumamku tak jelas, "Granger…"
"APA KAU?! MAU MENGHINAKU LAGI?!"
Kayaknya dia marah sekali denganku.
"Huh, apa memang semua Mud Blood itu sensitif ya? Gitu saja ngamuk!" ejekku
"Apa sih! Diam saja deh kamu!" Granger memukul pundakku, "kupanggil Alastor Moody kalau kamu masih mengejekku!"
"Dia sudah mati."
"Oh iya. Lupa."
Wajah polos Hermione terlihat lucu bagiku. "Memangnya kenapa kok kamu ingin memanggil Alastor Moody?" tanyaku
"Aku ingin minta dia merubahmu lagi menjadi musang seperti di tahun ke-4," katanya, "kamu lebih baik kalau jadi musang."
"Oooh jadi begitu? Bukannya kamu bisa Transfigurasi? Rubah saja aku sekarang!" kataku kesal. Jujur aku agak tersinggung waktu Hermione bilang aku lebih kalau jadi musang. Soalnya itu pengalaman paling memalukan dalam hidupku. Diubah jadi musang di depan banyak siswa Hogwarts.
Hermione tertawa, "hahaha! Ternyata kamu juga gampang tersinggung ya!"
Dia sengaja menggodaku. "Ya,ya.. Itu Profesor Sprout! Profesor! Kami bantu memasang Mantra Perlindungan ya?" tanyaku pada Profesor Sprout.
"Oh ya, ya silahkan!" kata Profesor Sprout.
Ia baru melindungi beberapa sisi saja. Maka aku memutuskan untuk mengambil sisi kanan, sementara Hermione di sisi kiri. Tunggu, apa dari tadi aku memanggilnya "Hermione"? Ada yang salah denganku. Biasanya aku selalu memanggil nama belakangnya. Tidak apalah. Toh Hermione itu juga namanya.
"Protego Horribilis! Protego Maxima! Salvio Hexia!" seruku
Terdengar Hermione dan Profesor Sprout melakukan hal yang sama. Muncul suatu perisai yang melindungi Hogwarts.
"AAAAAHHH!" jerit Hermione
Seorang raksasa berlari ke arah kami. Untung saja raksasa itu terhalangi oleh perisai yang kami buat.
"Ada apa ini? Kenapa mahkluk-mahkluk yang ada di Hutan Terlarang menyerang Hogwarts? Ada yang tidak beres. Para raksasa dari tadi mencoba menerobos masuk ke Hogwarts." Kata Profesor Sprout, "menurutmu bagaimana Draco? Ini tidak mungkin berkaitan dengan Pangeran Kegelapan kan?"
Langkahku terhenti. "Pangeran Kegelapan? Kenapa Anda bisa berpikir ke situ, Profesor? Dan kenapa Anda menanyakan itu pada saya? Apa karena keluarga saya pernah menjadi Pelahap Maut? Itu mustahil. Pangeran Kegelapan sudah mati." Ujarku datar
Profesor Sprout jadi salah tingkah. Karena tugas kami sudah selesai, akhirnya kami boleh pulang ke asrama Ketua Murid.
"Laparr.." keluhku pelan. Tubuhku merosot ketika aku mengenyakkan diri ke sofa empuk di ruang rekreasi kami.
Hermione melepas sepatunya, "rakus sekali kamu. Belum lama kita makan masa kamu sudah lapar lagi? Baru satu jam yang lalu kita makan!"
"Lalu apa masalahmu Granger? Urusanmu ya kalau aku lapar?" kataku kasar
"Karena kamu mengeluh di depanku!" seru Hermione
"Oh.. Aku capek. Jangan mengajakku berdebat. Huussh sana pergi!" aku langsung kabur ke kamarku.
"Nantikan pembalasanku, FERRET!" Hermione berseru
Untung saja aku sudah di kamar. Begini, aku selalu geli melihat Hermione marah. Makanya aku suka mengganggunya. Dan sebenarnya membuat kesal orang adalah salah satu sifatku, sifat Malfoy sebenarnya. Kata orang sih, aku ini sombong, kasar, cuek dan apalah sebagainya itu.
"Hermione! Oh! Aku baru ingat! Kamu saja yang patroli malam ini!" seruku
"Kenapa aku?" dia balas berseru
"Aku malas!" aku kembali berseru
"Grrrr!" dia menggeram
Mengingat kejadian tadi, saat Hermione nyaris terjatuh.. Kenapa aku panik? Saat ia marah padaku, kenapa perasaanku jadi tidak enak padanya? Setiap kali aku berdekatan dengannya aku selalu deg-degan seperti saat ujian OWL. Kata Ibuku, ini yang dinamakan jatuh cinta. Jatuh cinta? Pada Hermione? Tidak. Apa kata orang tuaku nanti?! Mereka sudah bilang padaku, jangan pernah menikahi seorang Mud Blood. Itu akan menghancurkan reputasi keluarga Malfoy yang semuanya Pure Blood. Hmm, jam 2 siang sekarang. Masih ada beberapa jam untuk waktu bebas. Bagimana kalau aku ke ruang rekreasi Slytherin? Huh, nanti aku bakal diisengin di sana sama teman-teman seangkatan.
Tok, tok, tok!
Ada burung hantu yang mengetok jendela kamarku. Ini kan burung hantu milik keluargaku!
"Hmm, mmm. Sudah sana pergi! Apa yang kau harapkan dariku?!" bentakku pada si burung hantu saat aku sudah mengambil suratku
Burung hantunya tersinggung. Ia mematuk tanganku sampai berdarah, sebelum terbang pergi, ia juga mengigit tanganku yang sama.
"BERANINYA KAMU MENGIGIT DAN MEMATUK TANGANKU?!" teriakku kesal pada si burung hantu yang sudah terbang kembali ke Malfoy Manor.
Darahku banyak juga yang mengalir dari luka yang disebabkan burung hantu tadi. Kuputuskan untuk mencuci tanganku di wastafel. Sekedar membersihkan saja. Siapa tau burung hantu tadi beracun (itu jelas tidak mungkin).
"Granger, kamu tidak pakai kamar mandi kan?" tanyaku begitu keluar dari kamar
"Jelas tidak! Aku kan ada di sini!" katanya
Bodohnya aku. Bisa-bisanya aku tidak melihat dirinya yang sedang membaca buku di sofa. Sial, darah itu sudah menetes-netes. Begitu aku membuka keran wastafel, kusodorkan tanganku ke arah air yang mengalir.
"Hebat. Wastafel ini bisa-bisa menjadi merah karena terkena darahku," pikirku
Beres. Aku kembali ke kamarku untuk tidur siang. Semuanya gelap. Sunyi senyap.
"AAAH! MALFOY! Kau apakan wastafel kita?!" jeritan Hermione membuatku terbangun dari tidur
"Ada apa sih?" tanyaku ling-lung karena masih ngantuk
"Wastafelnya! Merah!" katanya panik
"Itu darahku tau." Kataku sambil mengucek mata. "Tadi aku dapat surat lalu burung hantunya menggigit dan mencakar tanganku karena kuusir dengan kasar."
Mulut Hermione membentuk huruf "o". Suratku. Aku belum baca surat itu sama sekali. Waktu aku kembali ke kamar, aku segara membaca surat itu.
"APA?!" seruku kaget
Gimana? Penasaran apa yang bikin Draco kaget? Liat di chapter 3 ya! Author mau tidur dulu. Besok sekolah XD . Review ya please!
