Hanya kehancuran yang akan kamu dapatkan apabila tetap bersikeras melakukan hal tersebut.


Sasuke mengerjabkan matanya sekali. Apa yang terjadi berikutnya adalah sekitarnya yang seolah berputar. Diturunkanlah buku bersampul hitam dengan tulisan 'Destiny Note' itu dari wajahnya. Berganti dengan naiknya tangan kirinya yang bebas untuk memijat pangkal hidungnya pelan.

Dia mendengus.

Kalimat yang tidak bisa dilupakannya selama sebelas tahun terakhir itu masih saja mampu membuat kepalanya pening walau hanya sepintas teringat. Bagaikan bayangan yang selalu mengikuti kemanapun.

Sasuke memejamkan mata. Berusaha menahan sakit kepalanya seperti yang biasa dilakukannya selama sebelas tahun terakhir ini juga. Setelah dirasanya cukup, dibukalah kedua kelopak matanya dengan diiringi helaan napas berat.

Tangan kirinya yang sudah dia turunkan diangkatnya lagi. Namun kali ini bukan untuk memijat pangkal hidungnya seperti tadi. Melainkan untuk menilik pukul berapakah sekarang dari jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tangannya.

"Sudah waktunya."

Kepala bersurai biru dongkernya menoleh ke kiri, di mana terbentanglah sebuah jalan raya yang cukup lebar. Di ujung jalan, terlihatlah sebuah bus umum yang baru saja berbelok dari pertigaan kanan. Kilat senang terlihat samar di kedua bola mata Sasuke saat mendapati apa yang dia tunggu berjalan dengan kecepatan medium menuju halte di seberang tempatnya duduk.

Kedua onyxnya tidak berpaling kemanapun. Terus mengikuti laju bus berwarna merah yang sebagian catnya mengelupas itu sampai benar-benar menepi enam meter di depannya. Siap membawa lima orang calon penumpang yang sudah menunggu sedari tadi. Kelimanya pun langsung menaikkan diri satu per satu segera setelah bus berhenti.

Seringai yang awalnya tidak ada di wajah serius Sasuke tiba-tiba saja muncul dalam sekejab saat pandangannya menangkap siluet tubuh seorang pria berjanggut tebal bangkit dari kursi bus paling belakang.

Pria berjaket jins hijau pudar dengan topi kupluk krem kumal yang menutupi rambut hitam setengkuknya itu melangkah ke pintu depan bus. Selayaknya penumpang yang ingin keluar karena telah sampai di tempat tujuannya.

Kepalanya tertunduk dengan kedua tangan bersedekap. Dia terlihat sangat memperhatikan sekali langkahnya.

Namun saat pria itu sampai di tengah-tengah badan bus, tepat berjarak satu depa tangan orang dewasa dari seorang pria yang baru saja naik, tangan kanannya yang terlipat bergerak cepat. Sebuah parang tergenggam di sana, yang pada akhirnya meninggalkan kilatan putih sekedipan mata, darah bercipratan ke kaca bus dan suara teriakan histeris seorang wanita di tempat kejadian perkara.

Kekehan kecil menguar dari bibir tipis Sasuke.

"Pemandangan sore yang sangat indah."


Naruto by Masashi Kishimoto

The Fiction by Sakura Hanami

.

.

.

.

Uchiha Crisis

.

.

.

.

Warning: Pembunuhan, Penyiksaan sadis (maybe),

AU, Rate M buat jaga-jaga, No Lemon, Miss Typo(?)

Genre: Crime, Fantasy, Gore, Action

.

.

.

Uchiha Sasuke & Haruno Sakura

With My Original Character:

Uchiha Hideaki

.

.

.

Sequel of Shinigami Mate

.

.

.

Happy Reading, Hope You Like It

And

Please Your Review^^


"Apa yang kamu lakukan di situ, Hideaki?"

Yang ditanya langsung menoleh ke belakang, asal darimana suara seorang lelaki dewasa tersebut datang. Dilihatnya, Itachi telah berdiri menjulang dengan senyum di wajahnya.

Pemilik nama Hideaki yang Itachi ajukan pertanyaan tadi adalah seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun. Sayangnya, si anak tidak menjawab pertanyaan Itachi, melainkan kembali berpaling ke posisi semula. Menekuri lagi kolam bening berukuran sedang yang tepat berada di bawahnya.

Kegemaran Hideaki di waktu senggangnya, Itachi tahu itu. Tapi memang dasarnya sifat cuek Hideaki yang sebelas duabelas dengan ayahnya. Maka sudah pasti anak itu menyimpulkan bahwa pertanyaan Itachi hanyalah salam basa-basi yang tak perlu mendapat jawaban.

Itachi tak ambil pusing. Dia pun memutuskan untuk mengikuti posisi Hideaki yang tengah berjongkok. Di ambilnya tempat di sebelah kiri keponakannya yang tetap bergeming.

"Apa Hideaki ingin ke dunia manusia juga?" Tanya Itachi lagi tanpa mengarahkan fokusnya pada yang ditanya. Dia juga ikut melihat ke dalam kolam.

Permukaan air kolam yang bening itu seolah memainkan sebuah film. Menampilkan adegan seorang lelaki bertopi krem kusam yang sedang menusukkan sebuah parang ke perut seorang wanita. Tidak sampai di situ, adegan itu berlanjut begitu sadis yang dapat disaksikan dari turunya tangan berparang si pria dengan gerakan cepat nan ringan. Menciptakan sungai darah yang deras diikuti pula dengan jatuhnya beberapa isi perut si wanita.

Walau tanpa melihat, Itachi tahu Hideaki yang kini tengah menggelengkan kepalanya itu tengah memberikan jawaban atas pertanyaannya. Setidaknya, dia tidak benar-benar mengacuhkan kehadirannya.

Tingkah Hideaki barusan bukan karena takjub akan tontonan yang dia lihat. Bagi keluarga Shinigami, apa yang sekarang mereka saksikan bukanlah suatu kejadian yang patut mendapat suatu kesan pujian.

"Aku hanya merasa kalau hari ini Tou-san bekerja terlalu berlebihan."

Ucapan Hideaki itu mampu menyedot perhatian Itachi seluruhnya. Kedua iris sehitam jelaganya menangkap Hideaki yang masih memandangi kolam tanpa ekspresi. Dingin, datar dan tak terbaca. Sama seperti di menit-menit yang lalu.

Namun di detik ini, Itachi mengabaikan kemiripan sifat Hideaki dengan otoutonya terlepas dari fakta bahwa anak ini adalah darah daging Sasuke.

Seolah dalam diamnya kini, ada yang tengah dia pikirkan. Hanya saja kabut tebal yang menyelimuti iris emerald warisan ibunya membuat Itachi tak tahu apa beban tersembunyinya. Instingnya saja yang berkata demikian dan hal itu tidak pernah salah.

"Benarkah? Ji-san rasa, Tou-san mu hanya terlalu bersemangat."

Itachi kembali menatap kolam. Dilihatnya gambar Sasuke yang tengah duduk di atas kursi panjang dengan kaki kanan menindih paha kirinya. Ekspresi girang terpatri jelas dari seringai menakutkannya. Dia terlihat menyaksikan dengan nikmat kejadian berdarah di halte depannya.

"Tidak dengan jumlah kematian yang meningkat pesat selama empat hari terakhir ini."

Itachi selalu meyakini instingnya dan saat ini pun nalurinya itu masih tetap tajam. Anak ini benar tengah memikirkan sesuatu. Namun di balik itu, anak ini juga tengah mengetahui sesuatu. Lebih tepatnya mengetahui apa yang tengah Tou-sannya lakukan di belakang meningkatnya kurva kematian manusia dalam kurun waktu empat hari terakhir.

Uchiha memang selalu terlahir jenius, termasuk Hideaki. Tapi bolehkah Itachi berpendapat kalau anak ini terlalu jenius?

Sebuah senyum miring tercetak sangat tipis di bibir Itachi. Kejeniusan anak ini dapat menjadi ladang emas dengan keuntungan berlipat. Memang seperti yang di ramalkan. Tapi untuk saat ini, 'emas' tersebut belum waktunya untuk di keruk.

Itachi pun membangkitkan diri dari posisinya.

"Ji-san rasa kamu sudah terlalu lama di sini."

Hideaki masih tetap sama cueknya. Namun sekali lagi, Itachi tidak terpengaruh. Dia pun melanjutkan lagi perkataannya yang sengaja dia tunda.

"Bagaimana kalau kita latihan bersama saja? Sekalian Ji-san ingin melihat apa yang sudah Tou-san mu ajarkan padamu."

Tidak disangka, Hideaki mendongak. Beberapa detik dihabiskannya dalam keterdiaman. Menimang ajakan Itachi sebelum sebuah garis kecil terbentuk di atas wajah stoic-nya. Kepalanya mengangguk sekali berbarengan dengan berdirinya dia.


Begitu pintu bus terbuka, lima orang yang sedari tadi menunggu di halte langsung menaikkan diri masing-masing. Mereka berlima terdiri dari dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Kelimanya tampak terburu-buru. Tak sabar ingin segera sampai ke tempat tujuan masing-masing.

Satu-satunya penumpang bus sebelumnya yang duduk di kursi paling belakang, yaitu seorang pria bertubuh tidak terlalu tinggi namun gempal, juga bangkit dari tempatnya di waktu yang hampir bersamaan dengan masuknya kelima orang tersebut.

Pria berjanggut lebat dengan topi krem kusam di kepalanya itu menunduk dalam perjalanannya menuju pintu keluar. Kedua tangannya pun terlipat. Pria itu terus begitu sampai akhirnya dia sampai pada jarak sekitar semeter di depan seorang penumpang pria yang hendak mencari tempat duduk di deret belakang.

Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan. Gerakannya sangat cepat juga mengagetkan. Sampai-sampai pria di hadapannya tidak dapat menghindar saat golok tajam itu di ayunkan si pria berjanggut ke lehernya.

Darah bercipratan ke jendela kiri dan kanan bus bagian tengah. Suara benda berdebum akibat menghantam sandaran salah satu kursi terdengar sangat jelas. Benturan tersebut mementalkan benda tersebut yang entah apa itu wujudnya, menggelinding di lantai menuju ke depan bus dan berhenti tepat di bawah kaki seorang wanita yang masuk terpisah dari rombongan pertama.

Jeritan melengking pun memecah suasana sore yang tenang. Wanita itu terbelalak ngeri mendapati sebuah kepala manusia berbola mata melotot serta mulut menganga tepat di kakinya. Seketika itu pula dia tak mampu bergerak. Tubuhnya gemetar hebat di sertai dangan tangisnya yang juga langsung pecah.

Namun tidak lama, sesenggukan kerasnya berhenti berkat sebuah benda merah pekat sekepalan tangan manusia dewasa yang menyumbat mulutnya. Wanita itu terbelalak ngeri saat kedua iris ruby-nya menangkap gerakan turun dari tangan si pria berjanggut yang berdiri tepat di tengah-tengah bus.

Tangan itu merah berlumurkan darah segar. Tangan yang telah memisahkan kepala di bawah kakinya dengan tubuhnya. Tangan yang juga telah melemparkan jantung tepat ke dalam mulutnya.

Keadaan menjadi semakin histeris. Penumpang lain yang mulanya duduk manis di kursi masing-maisng langsung merespon cepat. Mereka-mereka yang kebetulan berjarak tak jauh dari pintu keluar segera melompat turun dari bus. Tak ayal, kehebohan mereka menarik perhatian pejalan kaki yang masih berlalu lalang.

Semua orang mulai mengerubungi bus. Namun, mereka hanya menonton saja. Tak berani mendekat karena kengerian yang langsung mengurung nyali masing-masing saat menilik apa yang tengah terjadi di dalam bus.

Pria berjanggut itu tak peduli sekelilingnya yang mulai ramai. Dia justru merangsek maju. Melepaskan pegangannya pada tubuh tak berkepala yang sedari tadi masih ditahannya.

Tubuh yang sudah tidak utuh lagi itu jatuh meninggalkan bunyi benturan keras. Tubuh itu bermandikan darah bukan hanya dari sisa lehernya yang baru ditebas, tapi juga dari rongga dadanya yang terbelah tanpa jantung. Tahulah darimana asal jantung yang kini berada di mulut wanita bertampang ketakutan di dekat kursi sopir sana.

Entah karena terlalu shock atau karena amisnya darah hingga merusak otaknya, wanita itu hanya membeku di tempat tanpa bisa memuntahkan jantung basah nan lunak tersebut. Sampai-sampai dia juga tidak sadar akan kehadiran si pria yang kini telah berdiri tak sampai semeter di depannya.

Otaknya yang sejenak mati kembali berfungsi saat merasakan sakit yang menusuk perutnya. Sakit yang semakin lama menjadi semakin luar biasa.

Dia mengggulirkan tatapannya ke bawah dan sedetik setelahnya, kedua kelopak matanya membesar ngeri menangkap pemandangan sebuah tangan tengah memutar-mutar parang di dalam perutnya.

Pekikannya tidak keluar. Tertahan jantung tersebut. Hanya air matanya yang menderas sebagai tanda betapa dia sangat tersiksa.

Rasa sakit itu memberikan sensasi bagai di cabik, disayat dan ditarik pada organ-organ dalamnya. Seluruh isi perutnya bagai dililit dan dihancurkan pelan namun pasti. Sakit yang tak terperi itu membuatnya melengkungkan punggungnya ke dalam.

Jantung yang masih bersemayam di mulutnya nyaris meluncur keluar, tapi satu tangan bebas si pria bergerak cepat menahannya agar tidak jatuh. Tak sampai di situ, perbuatannya juga menyebabkan kepala serta tubuh wanita itu menegak. Kini si wanita telah kembali berdiri dengan kepala terdongak menempel kaca depan bus.

Namun lagi-lagi tidak hanya itu saja efek dari perbuatan pria tersebut. Tenaganya yang besar tanpa sengaja membuat jantung itu pecah. Berliter-liter darah memenuhi mulutnya, tergenang di sana. Sebagian ada yang tertelan paksa hingga membuatnya tersedak.

"Bagaimana rasanya, sayang? Kamu menikmatinya, kan?"

Tawa kecil pria sadis itu terurai usai dia bertanya. Ekspresinya sangat sumringah. Orang-orang yang masih menonton adegan tersebut hanya mampu terpana takut. Mereka memundurkan langkah pelan-pelan.

Wanita itu meggeleng lemah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Menciptakan anak-anak sungai darah dari mulutnya yang turun melewati dagu juga lehernya. Kaos putih bergambar Mickey Mouse yang dia pakai sudah berganti warna seluruhnya.

Tangisnya turut keras seiring putaran-putaran benda tajam yang masih dimainkan si pria di tempat yang sama. Rupanya pria berdarah dingin itu belum puas dengan kegiatannya.

Nafas wanita itu mulai pendek-pendek. Bau amis darah dan rasa sakit yang sangat merajam semakin lama semakin mengantarkannya menuju jembatan kematiannya. Kesadarannya sudah hampir hilang seluruhnya kalau dia tidak melihat sesosok lelaki berpakaian serba hitam yang duduk di kursi bus baris ketiga dari belakang.

Fokus matanya yang sempat mengabur mendadak jelas. Tubuhnya mendingin dalam sekejab saat melihat senyum seram di atas wajah tirus lelaki berambut biru dongker di sana.

"Sa —"

"Kamu mengatakan sesuatu, sayang?" Wanita itu terkesiap. Sejenak dia sempat melupakan kehadiran pria berdarah dingin di depannya. Kehadiran sosok makhluk tak nyata yang selalu menemaninya selama empat puluh hari terakhirnya juga sempat mematikan indera perasa pada sakit di perutnya.

Fokusnya pun kembali. Kedua irisnya menatap takut pria berdarah dingin tersebut. Senyumnya sama mengerikannya dengan senyum Uchiha Sasuke yang duduk anteng di kursinya.

"Kamu bilang kurang nikmat? Oh, baiklah."

Kepalanya baru akan menggeleng menanggapi ucapan pria tersebut namun semua membekukan gerakannya berkat kedahsyatan sakit yang menghantamnya. Rasa dicabik, disayat, dililit dan ditarik itu kembali hadir dengan insesitas yang semakin menggila. Berikut dengan gerakan tangan brutal si pria tanpa ampun.

Akhirnya pekikannya keluar keras juga. Melengking tinggi bersamaan dengan histeris tertahan seorang wanita paruh baya yang berdiri tepat di depan pintu bus yang terbuka.

Pria itu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Sasuke di sana semakin memperlebar tarikan seringainya. Suara-suara beroktaf tinggi itu bagaikan alunan musik indah bagi keduanya.

Seluruh usus wanita itu terbelit di sepanjang parang sampai ke pergelangan tangan pria tersebut. Tertarik keluar dengan sebagian lainnya menjuntai ke bawah. Darah semakin menambah suasana ngeri yang sudah menyelimuti sekitar.

Cairan bening si wanita tumpah ruah seolah kelenjar air matanya diperas. Dalam pandangannya yang kembali memburam wanita itu masih dapat melihat Uchiha Sasuke yang belum berpindah posisi. Hal terakhir yang dia lihat dan dia dengar sebelum berselimutkan kegelapan abadi adalah mulut Sasuke yang bergerak pelan, disertai dengan terdengarnya sangat jelas suara berat yang begitu dikenalinya meski di jarak mereka yang terbilang jauh.

"Sayonara, Karin."

Begitu kedua mata Karin tertutup, pria sadis itu menghunuskan parangnya kembali ke perut terbuka Karin. Dengan gerakan cepat nan ringan dia menurunkan tangan yang mengenggam senjata penuh dosa itu ke bawah. Tangannya berhenti tepat di antara dua paha Karin yang berbalut jins biru tua.

Perut yang sudah menganga itu semakin membelah mengucurkan darah yang mampu membuat sebuah kubangan di lantai bus. Sisa-sisa isi perut Karin yang belum tertarik keluar jatuh satu per satu.

"Nah, akhirnya kamu menikmati permainan kita sayang."

Karin yang telah mengeras di hempaskannya dengan kasar.

Merasa ada yang memperhatikan, kepala berkupluk yang ternodai cipratan darah itu menoleh ke kanan. Kedua matanya mendapati sopir bus bertubuh subur yang ternyata tidak sempat melarikan diri itu gemetar di kursinya.

"Oh, ada yang menyaksikan permainanku rupanya."

Sopir itu menggeleng cepat. Menghamburkan air matanya ke kiri dan ke kanan. Hei, sejak kapan dia menangis?

"Tidak bisa. Kamu tetap harus membayarnya."

Si sopir semakin menggeleng kuat sejalan dengan semakin mendekatnya pria itu padanya.

"Jangan! Tolong biarkan aku hidup Uchiha-san." Pinta sopir itu dengan suara bergetar.

Pria itu menggeleng. Senyum miring terpasang di atas wajahnya yang belepotan darah. Tapi di dalam penglihatan si sopir, Uchiha Sasuke lah yang tampak tengah menggelengkan kepalanya dengan ekspresi dan kondisi wajah serupa.

"Sudah waktunya, Pak tua."

Jeritan si sopir tertahan oleh golok yang bergerak vertikal dari atas kepalanya. Suara pelan jatuhnya sebagian batok kepala berisi otak milik si sopir mampu membuat seorang wanita di luar bus menangis keras.

Sopir bus yang malang itu meregang nyawa dengan separuh kepala terbuka di lengkapi dengan wajah cacat berlumurkan darah.

"Itulah akibat suka mengintip." Kata pria itu dengan sarkastis.

"Dan sepertinya..." Kalimatnya sengaja dia gantung.

Irisnya melirik ke belakang melalui bahu kanannya. Matanya menyipit mendapati seorang gadis remaja berseragam sailor hitam meringkuk ketakutan di kursi keempat dari depan.

"...Ada lagi yang mengintip." Lanjutnya sembari berbalik.

Kali ini wajahnya menampakkan raut tak suka. Dia benar-benar sangat terganggu dengan kehadiran sosok lain selain si sopir yang telah melihat permainannya dengan Karin tadi.

Gadis itu semakin sesenggukan saat pria itu merangsek perlahan ke tempatnya. Kedua bola matanya bergerak takut mengawasi jarak antara dia dan si pria yang semakin berkurang.

"Tolong, jangan."

Handphone di genggamannya jatuh. Menimbulkan bunyi berisik yang membuat perhatian pria itu tertuju pada handphone flip di bawah kursi si gadis.

Beberapa saat kemudian, kedua alisnya menaut. Apa yang dia lihat semakin memperkeruh wajahnya yang memang sudah berubah mood.

"Kamu menelpon polisi?" Tanyanya mendesis bahaya.

Gadis itu tak mampu menjawab walau hanya dengan bahasa tubuh. Tidak ada jawaban, berarti tandanya 'ya'.

"Kurang ajar!"

Pria itu memperlebar langkahnya. Mengurangi sisa jarak yang tersisa. Tangannya yang berlumuran darah itu mengangkat parangnya tinggi-tinggi. Siap mengkondisikan si gadis sama seperti pak sopir.

DOR

Gadis itu terperanjat saat cipratan darah mengenai wajahnya.

Tangan pria itu terkulai lemas. Parangnya terlepas dan jatuh setelahnya. Dia menatap horor kaca berlubang di belakang si gadis yang segaris lurus dengan dahinya. Di luar sana, berdirilah seorang polisi dengan pistol laras penjang menodong tepat ke arah lubang tersebut.

Langsung dirasakanlah panas yang dimulai dari dahinya dan menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Dia gemetar sedetik setelah satu rembesan darah keluar dari lubang di dahinya. Kedua matanya juga membelalak kaget melihat sosok di luar bus.

Namun bukan polisi itu yang membuat darahnya bergejolak cepat. Sosok di belakang si polisi lah yang membuatnya menggumamkan satu nama dengan suara tercekat.

"Uchiha..."

Sasuke tersenyum. Sebelum tubuhnya ambruk ke kursi kosong di sebelah si gadis, pria itu dapat mendengar suara Sasuke menggema di otaknya.

"Selamat jalan ke Neraka."

Tak lama kemudian beberapa orang polisi bersenjata lengkap menyerbu bus. Aksi brutal itu berakhir sampai di sini.

.

.

.

.

.

"Mendokusei."

Sasuke menoleh ke samping kirinya. Shikamaru telah duduk di kursi bus yang berseberangan darinya dengan kaki kanan terlipat. Rupanya, tidak hanya Sasuke seorang yang menikmati kejadian berdarah tersebut.

Dari kedua tangannya yang berada di belakang kepala nanasnya, dapat di simpulkan bahwa Shikamaru berada pada posisi santai selama adegan sadis itu berlangsung.

"Cuma segini saja ya?" Tanyanya di akhiri dengan sebuah kuapan lebar.

Tapi, sepertinya tidak juga. Tanggapannya sarat kekecewaan begitu.

"Ini tontonan yang menarik tahu." Kali ini Naruto lah yang menyahut kesal.

Sasuke mengalihkan perhatiannya pada si pirang yang berdiri menyamping di depan sisi kursi Shikamaru. Dia tampak tidak terkejut dengan kehadiran orang lain selain Shikamaru.

"Lumayanlah." Shikamaru pun membangkitkan diri. Kemudian menoleh pada Sasuke yang juga sudah berdiri.

"Baiklah, aku kembali. Jangan lupa setorkan laporan tugas kalian hari ini sebelum pukul sebelas ke kantorku."

Sasuke mengangguk.

"Oke, Shika." Jawab Naruto sambil mengacungkan jempolnya ke tempat Shikamaru yang kini telah kosong.

Pemuda berambut nanas itu telah kembali ke markas Shinigami dengan cepat.

Sasuke menghela napas. Dia melangkahkan kakinya ke sekumpulan polisi dan tim forensik yang tengah mengevakuasi tempat pembantaian di bagian depan bus.

Tangan kanannya merogoh saku celananya selama dia melangkah. Mengeluarkan sebuah tabung silinder sepanjang sepuluh sentimeter dari sana.

Dia berjalan menuju seorang polisi yang tengah memegang bungkusan plastik berisi setengah tempurung kepala lengkap dengan separuh otak milik si sopir bus. Tangan kirinya bergerak membuka tutup tabung dan langsung mengarahkan bibir tabung untuk mengambil sedikit otak di dalam bungkusan tersebut.

"Aku tidak menyangka kalau semuanya akan jadi serumit ini, Teme." Kata Naruto sambil menatap Sasuke yang kini telah menutup kembali tabungnya.

Si objek yang diajak bicara tidak merespon. Dia justru mengangkat tabung itu setinggi wajahnya. Menatap isinya yang berwarna kelabu pucat dengan tatapan datar.

"Apalagi ternyata ramalan itu terjadi padamu." Naruto berucap lagi.

Sejurus kemudian, Naruto menghela napas sebelum dia menatap kaca di depannya. Matahari sore yang perlahan kembali ke peraduannya dapat dilihat Naruto tengah bersembunyi di antara gedung-gedung tinggi kota Tokyo.

Sinar oranye biasan sang surya menerpa wajahnya. Begitupula dengan Sasuke yang masih terdiam mengamati isi tabung. Cahaya bintang terbesar di galaksi Bima Sakti itu memendar dalam tabung yang masih Sasuke pandangi.

"Kamu bahkan sampai melakukan kesalahan lain yang jauh lebih parah." Kata Naruto lagi.

Sasuke memasukkan tabungnya ke dalam sakunya kembali saat polisi terakhir keluar dari bus menembus tubuhnya.

"Banyak hal yang harus di korbankan untuk meraih kebahagiaan."

Tanggapan Sasuke tersebut berhasil menarik perhatian Naruto untuk menatap Sasuke yang juga tengah menatapnya. Cengiran lebar trademark Naruto pun akhirnya muncul tak lama kemudian.

"Setidaknya aku bersyukur jalan hidupku tidak sepertimu. Ternyata, Hinata Shigami juga."

Sasuke menunduk untuk mendenguskan tawanya. Senyumnya yang selalu tipis pun turut muncul.

"Ayo kembali, Dobe." Sosok Sasuke menghilang di ikuti dengan memudarnya wujud Naruto.

"Baiklah." Suara persetujuan Naruto terdengar meggema pelan ke seluruh sudut bus yang kini kosong.


To Be Continued...


Author Note:

Weessss...Akhirnya aku bisa update lebih cpt daripada fic multichapku yang lain. Kemajuan...kemajuan...wkwkwk.

Nah ya? Gimana pendapat kalian? Gore-nya gimana? Gomen kalo kurang memuaskan, karena ini pertama kalinya nulis genre begini. Dan yah, makasih untuk ke-enam belas review (yang satunya udah review lgsng ke aku sndiri) di chapter pertama. Makasih juga dukungannya dan makasih juga buat silent rider :D

Oh ya, aku taruh fic ini ke rate M, bukan berarti ada yang 'iya iya' a.k.a lemon. Aku masih terlalu kecil buat nulis yang kaya begituan kakak kakak XD #ppfffttt.

Aku taruh ke rate M ini karena hampir sebagian besar ada gorenya. Inget! HAMPIR bukan seluruhnya. Hehehehe.

Jadi mohon reveiw dan tanggapan kalian lagi ya:D

Karena besok udah puasa, jadi aku sekeluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan dan kekhilafan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Harus di maafin lho ya. Kalo ga dosa lho. Wkwk.

Yo, sekian dulu dan sampai jumpa :D

Sakura Hanami