Darah yang merembes dari luka sepanjang sekitar delapan sentimeter di lututnya membuat gigi-gigi susu Hideaki menggigit kuat bibir bawahnya, berusaha menahan perih dan air mata yang sudah siap tumpah dari kelopak matanya.
Bocah berumur lima tahun itu bisa mendapatkan luka lengkap dengan cairan kental berwarna merah di lutut kaki kanannya setelah terjatuh dari sebuah pohon akasia di pekarangan belakang rumahnya. Mainan pesawat-pesawatannya yang tidak sengaja tersangkut di salah satu ranting pohon tersebut memaksanya untuk memberanikan diri memanjat. Padahal selama ini dia sama sekali belum pernah melakukan hal tersebut. Setelahnya, apa yang terjadi, sesuai dengan perkiraannya
Kepala bersurai biru dongker acak-acakannya berputar ke sekeliling. Mengamati keadaan langit yang telah berubah senja. Menandakan bahwa waktu telah sampai pada perjalanan sang surya menuju ke tempat peristirahatannya. Kurang lebih lima belas menit lagi, siang akan berganti malam. Sedangkan dia masih meringkuk kesakitan di pekarangan belakang mansionnya seorang diri.
Kalau biasanya ada Uzumaki Hikari yang ikut bermain atau ada kedua orangtuanya yang turut menemaninya, tapi hari ini dia terpaksa bermain sendiri karena mereka semua sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Hikari mengunjungi rumah saudaranya bersama kedua orang tuanya sedangkan Tou san dan Kaa san-nya menghadiri undangan pernikahan kawan mereka di Central City yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari mansionnya.
Dia sengaja menolak ketika diajak dan juga menolak bermain bersama pelayan-pelayannya yang telah dititahkan ibunya untuk menjaganya. Dia tidak terbiasa berada di keramaian atau berdekatan dengan orang lain selain dengan ketiga orang tersebut.
Di waktu yang sudah setengah gelap begini mungkin saja kedua orang tuanya belum kembali. Tapi bayangan seluruh mansion yang ramai mencarinya membuat bocah tersebut berdecak kesal. Dia tidak ingin membuat siapapun khawatir terutama ibunya.
Maka dari itu, dia mencoba untuk berdiri lagi. Mencoba kembali untuk melangkahkan kakinya menuju mansion yang memiliki jarak tak kurang dari sepuluh meter jauhnya mengingat betapa luas pekarangan berumput tempatnya berada kini.
Tapi rasa nyeri yang menyengat sampai ke tulang-tulang mungilnya menjerembabkan pantatnya kembali ke bawah. Darah yang mengucur semakin deras seiring dengan sakit yang juga semakin menjadi-jadi.
Namun dia tidak mau menyerah begitu saja. Bayangan ibunya yang mungkin kini sedang panik mencarinya membuat semangatnya tumbuh semakin tebal. Dia memaksa berdiri lagi dengan mengabaikan perih serta rembesan darahnya yang telah mengubah sebagian warna kaos kaki putihnya.
Tak pelak, air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya tumpah ruah. Sambil tertatih tatih dia melangkah pelan dengan wajah yang telah seluruhnya memerah. Hanya saja, isakannya sama sekali tidak keluar. Mungkin karena kuatnya dia menggigit bibir bawahnya.
Suara derap kaki Uchiha Sakura membuat kedua bola matanya semakin berair. Ibunya berlari ke arahnya bersama dengan ayah dan dua orang pelayan di belakangnya
"Hideaki!"
Wanita itu semakin mempercepat laju larinya begitu melihat langkah kesulitan Hideaki.
"Kaa-san..."
Hideaki berhenti melangkah. Tangisnya meledak seketika. Dia membiarkan tubuhnya kembali ambruk ke tanah berumput. Mengisak hebat di sana.
"Hideaki! Ya ampun!"
Kedua penglihatan Sakura yang menangkap luka di lutut sang anak segera menghambur menenangkannya. Dia memeluk seraya mengusap-usap punggung anak laki-lakinya yang sesenggukan.
"Sudah. Tidak apa-apa. Berhenti menangis, sayang."
Sakura menjauhkan diri untuk menyeka air mata di pipi kanan Hideaki. Sasuke yang tiba kedua setelah Sakura segera memposisikan dirinya di samping wanita tersebut. Kecemasan terpancar dari sorot kedua irisnya, terlepas dari raut wajahnya yang tetap datar seperti biasa. Sedangkan dua orang pelayan yang datang paling akhir berhenti tak jauh di belakang Sakura. Dahi mereka berdua mengernyit khawatir di sela-sela deru nafas memburu masing-masing.
"Kaa san...Sa..kit..."Rengek Hideaki di sela-sela isakannya.
"Sudah. Tidak akan sakit. Biarkan Kaa san melihatnya, sayang." Sakura berusaha meluruskan kaki kanan Hideaki. Agak susah, karena anak itu justru semakin menangis takut dan melancarkan penolakan dengan lebih menekukkan kakinya.
"Tidak apa-apa, Hideaki. Biarkan Kaa san memeriksamu."
Perlahan-lahan Hideaki mulai menuruti gerak tangan Sakura setelah Sasuke mengeluarkan kalimat bujukannya. Ibu muda itu tersenyum saat si anak telah benar-benar menurutinya.
"Anak pintar."
Sakura mengangkat tangannya di udara. Tepat di atas lutut Hideaki yang berdarah. Setelah dia menarik napas satu kali, sebuah cahaya berpendar menyelimuti bagian kaki yang terluka. Cahaya berwarna hijau toska itu terasa hangat di kulit Hideaki. Terbukti dari tangisnya yang tinggal menyisakan jejak-jejak air mata saja. Kulit yang tergores horizontal itu perlahan-lahan menutup bersamaan dengan berhentinya darah yang mengalir.
Kedua kelopak mata Hideaki melebar begitu merekam keajaiban kekuatan penyembuh ibunya. Kekaguman tak pernah memudar dari lubuk hatinya setiap menyaksikan betapa hebatnya kemampuan sang ibu meski telah berulang kali dia melihat hal tersebut.
Hideaki mendongakkan kepalanya. Tepat saat Sakura juga menengadahkan wajahnya.
"Nah, sudah sembuh kan."
Biasan cahaya hijau toska tersebut berpendar menyinari wajah tersenyum ibunya. Hideaki sadar bahwa dia dapat merasakan hangat lain selain di lututnya. Di bagian Dadanya yang membumbung lah hangat turut dia rasakan dan itu bukan karena cahaya tersebut, melainkan oleh kasih dan sayang ibunya.
"Arigato...Kaa san."
Sakura yang tersenyum tambah lebar justru semakin memperkuat terangnya cahaya hijau toska tersebut. Mmebuat sosoknya tertutupi dan ditelan pendar terang tersebut. Sampai akhirnya Sakura tidak dapat Hideaki lihat lagi. Hanya menyisakan warna putih sejauh mata memandang.
Naruto by Masashi Kishimoto
The Fiction by Sakura Hanami
.
.
.
.
Uchiha Crisis
.
.
.
.
Warning: Flashback, Miss Romance (maybe), Humor garing,
AU, Rate M buat jaga-jaga, No Lemon, Miss Typo(?)
Genre: Crime, Fantasy, Mystery, Gore, Action
.
.
.
Uchiha Sasuke & Haruno Sakura
With My Original Character:
Uchiha Hideaki
.
.
.
Sequel of Shinigami Mate
.
.
.
Happy Reading, Hope You Like It
And
Please Your Review^^
Uchiha Sasuke tengah memasukkan sedikit bagian otak si sopir bus ke dalam sebuah tabung silinder lain yang telah terisi cairan berwarna merah di dalamnya. Seketika itu juga, bagian otak itu meleleh dan bereaksi dengan cairan kimia tersebut. Warna cairan yang sebelumnya merah menjadi sedikit kehitaman. Lelaki tersebut menggoyangkan tabungnya dengan pelan. Membuat pencampuran tersebut semakin merata.
Setelahnya dia menutup silinder di tangannya, kakinya melangkah menuju sebuah tabung kaca berdiameter kurang lebih enam puluh sentimeter yang berada tak jauh di belakangnya. Tabung kaca tersebut memiliki sebuah tempat yang terdiri dari beberapa lubang untuk menaruh silinder seperti yang tangannya pegang.
Asap-asap tipis semakin memenuhi ruang tabung setelah jari-jari Sasuke men-setting pengaturan dari sebuah keypad virtual di sisi kanan luar tabung. Silinder berisi cairan yang kini berwarna merah kehitaman itu diputar cepat oleh tempatnya dengan berselimutkan sekumpulan asap.
Sasuke kembali menggerakkan kakinya menuju meja marmer tempatnya tadi mencampurkan dua formula tersebut. Banyak benda kelaboritoriuman miliknya yang berserakan di sana. Dengan gerakan yang santai dia mulai merapikan meja panjang tersebut. Tangan kanannya mengambil sebuah teleskop sebelum tubuhnya mulai berbalik melangkah lagi. Menuju sebuah lemari kaca tempat di mana teleskop-teleskop lain berjajar di dalamnya. Melewati seorang lelaki berambut hitam yang duduk di sofa putihnya tanpa menoleh sedikitpun. Entah sejak kapan lelaki itu berada di sana.
"Ada perlu apa Nii san kemari?"
Tanyanya sembari membuka pintu lemari kaca tanpa berniat untuk memfokuskan perhatiannya pada seseorang yang dia ajukan pertanyaan. Uchiha Itachi—lelaki tersebut—tersenyum.
"Apa salah kalau aku mengunjungi baka otoutoku?"
Sebelah alis Sasuke terangkat. "Kamu mau memperingatkanku, kan?" Tanyanya to the point sambil tangan kanannya menutup kembali pintu kaca tersebut.
"Yah, kira-kira begitulah." Itachi mengikuti langkah adiknya yang kembali ke meja laboratoriumnya dengan tatapan mata.
Tak ada respon lagi setelah beberapa detik Sasuke sampai di mejanya dan melanjutkan acara beres-beresnya. Dia menunggu sang kakak kembali bersuara, maka dari itu Itachi pun melanjutkan lagi kalimat yang sengaja dia hentikan.
"Semua ini ulahmu, kan?"
Sengaja dia bertanya dulu untuk memastikan. Walaupun sebenarnya hal itu tidak perlu. Tapi dia ingin sebuah kejujuran keluar dari mulut adiknya sendiri perihal meningkatnya kurva kematian dunia manusia selama seminggu terakhir walau tidak secara gamblang.
"Kalau sudah tahu kenapa bertanya."
Itachi menghela napas. "Semua ketua divisi mulai curiga dan kemungkinan besar mereka sudah melakukan penyelidikan yang di pimpin oleh Zetsu."
Itachi masih mengawasi tiap gerakan yang Sasuke lakukan. Adiknya itu sama sekali tidak merespon namun sebenarnya, dia mendengarkan dan Itachi tahu itu.
"Cepat atau lambat ulahmu akan ketahuan. Segera lakukan sesuatu untuk menjelaskan semua ini." Lanjutnya dengan sebuah saran.
Seringai kecil terulas di atas bibir Sasuke. "Kamu mau menangkapku begitu?"
Kali ini gantian Itachi lah yang menaikkan satu alisnya. Namun hanya sedetik yang kemudian langsung di susul dengan terangkatnya kedua bahunya sembari memunculkan senyumnya yang tadi hilang.
"Untuk apa? Kamu ingin membaca Shinigami News dengan headline seorang Uchiha Itachi, ketua divisi 4 yang membawahi kelompok shingami pengawas lajunya kematian dunia manusia beralih menjadi seorang penegak disiplin? Tidak terima kasih untuk hukuman yang akan aku terima." Ujarnya dengan nada yang dibuat-buat sarkastik sambil mengibaskan tangan kanannya di akhir kalimat.
Sasuke masih tidak mengindahkan Itachi. Sekarang dia tengah asik dengan acara mencuci beberapa tabung silindernya di sebuah wastafel di bagian ujung kiri meja. Namun di balik punggungnya yang membelakangi Itachi, seringai di wajahnya tadi telah berganti menjadi sebuah senyum simpul.
Dengusan napasnya yang menertawakan kalimat Itachi hanya dapat dia dengar seorang. Tapi entahlah apa Itachi tahu atau tidak akan penghinaan si adik atas dirinya. Yang pasti lelaki itu sudah sangat mengenal dan memahami Sasuke luar dalam. Tak heran kalau dia tahu siapa dalang penyebab meningkatnya kurva kematian dunia manusia seminggu terakhir ini. Dan kenyataannya Itachi memang tahu isi pikiran Sasuke.
Namun untuk kali ini dia tidak sedang ingin bercanda. Karena ada hal penting yang harus segera di selesaikan dan Sasuke sendiri juga memang tak ada niat untuk menanggapi perkataan anikinya di saat dia sibuk dengan 'percobaannya'. Apalagi dengan kemunculan Itachi segera setelah kemarin dia melaporkan hasil pekerjaannya kepada Shikamaru. Kedatangan kakaknya kali ini bukan sekedar untuk menyapanya seperti layaknya keluarga.
"Kalu begitu benar , kan. Pasti kamu yang memberitahu peningkatan kurva tersebut kepada Orochimaru. Ketua tertinggi kedua Shinigami Association?"
"Apa?" Kedua alis Itachi sedikit menyatu. "Jangan asal menuduh otouto. Bukan aku pelakunya meski aku memang menerima laporan datamu dari Shikamaru."
"Lalu?" Tanya Sasuke lagi.
"Tentu saja semuanya tahu. Peningkatan kurva itu dapat dilihat dari banyaknya roh yang masuk secara berlebihan ke Event Suck sebelum mereka semua ditentukan akan masuk ke Neraka atau Surga sementara."
Itachi mengambil waktu sejenak untuk menarik napas. Entah mengapa dadanya sedikit terasa sesak. Bicara panjang lebar seperti ini sangat jarang sekali dia lakukan walau terkadang dia suka menggoda sang adik dengan kalimat yang bahkan jauh lebih panjang dan dengan durasi yang juga jauh lebih lama. Mungkin karena topik yang mereka bicarakan kali ini merupakan suatu pembicaraan yang cukup berat.
"Kamu mungkin memang bisa menyabotase laporan pekerjaanmu tapi tidak bisa menutupi jumlah roh yang masuk ke Event Suck." Sambung Itachi setelah berhasil mengontrol alur napasnya.
Sasuke tak bergeming. Kegiatan mencucinya sudah selesai cukup lama. Tanpa perlu repot menghadapkan tubuhnya pada Itachi, dia mendengarkan dengan kedua tangan di sisi kiri dan kanan meja. Entah apa yang dia pikirkan dari semua perkataan Itachi tapi yang pasti, semua buku-buku jari kedua tangannya memutih berkat cengkeraman eratnya pada sisi-sisi meja selama dia mendengarkan kakaknya itu berbicara.
"Sasuke, aku tidak habis pikir efek dari perbuatanmu sebelas tahun yang lalu berdampak serumit ini."
Itachi dapat mendengar adiknya itu mendecih, tapi tidak dia pedulikan.
"Kamu sampai rela bekerja keras dengan membunuh lebih dari satu nyawa selain yang telah di targetkan hanya demi memperoleh sedikit bagian otak manusia untuk bahan campuran obat Sakura."
Sasuke tidak menjawab. Tapi perlahan-lahan, darahnya mulai bergejolak dalam diamnya.
"Aku tahu kamu tidak cukup bodoh sebelum merubah takdir Sakura. Apa perlu kujelaskan lagi akibat dari mengubah takdir seorang manusia?" Suara Itachi sedikit berbeda. Terdengar mendesiskan sedikit hawa dingin. Ada sebentuk emosi terkumpul di sana. Emosi yang sepertinya sudah dia pendam cukup lama.
"Perputaran takdir menjadi kacau, nasib manusia berbelok secara besar-besaran, dan kematian massal. Hanya karena satu orang yang takdirnya berubah dapat mengakibatkan keseimbangan dunia manusia dengan dunia kematian berputar balik. Shinigami juga jadi mendadak sibuk dan akibat dari luapan roh di Event Suck, mereka yang harusnya belum waktunya untuk hadir ternyata telah berada di sana lebih awal membuat mereka pada akhirnya di kembalikan lagi ke dunia manusia dengan nasib yang jauh lebih parah. Yaitu menjadi arwah gentayangan."
Itachi menolehkan kepalanya ke kiri. Di sebelahnya, duduklah Uchiha Shisui yang tengah menatap lurus punggung Sasuke. Dia yang tadi menjelaskan secara tiba-tiba sama halnya dengan kemunculannya yang juga tiba-tiba sama sekali tidak membuat Itachi maupun Sasuke terkejut.
"Maaf aku ikut campur tapi di sini yang menjadi ancaman karena ulahmu adalah seluruh klan Uchiha dan aku tidak bisa diam begitu saja." Sambung Shisui.
"Klan Uchiha tidak akan memperoleh dampak dari apa yang telah kulakukan." Akhirnya Sasuke bersuara juga. Tidak hanya mulai mengeluarkan argumennya, tapi dia juga telah membalikkan badannya. Jadilah merek abertiga saling bertukar pandang serius.
"Kalau begitu apa yang akan kamu lakukan?" Shisui mengambil alih apa yang Itachi ingin katakan. Sebagai gantinya pemuda berambut hitam tersebut memperoleh waktu sejenak untuk mengistirahatkan pita suaranya.
Sasuke terdiam dengan memilih untuk menundukkan kepala. Tampak berpikir mengenai ketepatan jawaban yang akan dia lontarkan.
Cukup lama dia dalam posisi demikan sampai akhirnya Shisui sendirilah yang menyuarakan dugaannya. Ternyata kebisuan Sasuke telah menggerogot habis kesabaran sahabat Itachi tersebut. "Kamu ingin menyadarkan kembali istrimu, iya kan?"
Lagi, Sasuke tidak menjawab dan hal itu sudah merupakan sebuah pembuktian bahwa tebakan Shisui tersebut memanglah jawaban dari pertanyaanya sendiri.
Seketika itu pula kedua alisnya menukik ke dalam. Raut wajah yang mulanya tenang itu telah berubah keras. Tatapannya pada Sasuke yang masih belum menegakkan kepalanya kian menajam. Dilihat dari perubahan-perubahan itu, tahulah bahwa emosi telah menjalari dirinya dengan cepat.
"Uchiha Sakura sudah lima tahun terbaring koma setelah terjatuh dari jurang. Tidak ada tanda-tanda dia dapat bertahan hidup kalau tidak ada kabel-kabel penolong yang kamu tempel di sekujur tubuhnya. Seluruh dokter di dunia ini sudah memvonis otaknya mati, bahkan nona Tsunade yang seorang dokter paling hebat di sini pun sudah angkat tangan. Mau dengan cara apa lagi kamu ingin membangunkannya?" Nada tersiratkan emosi Shisui tersebut mampun membuat Sasuke mengubah bola mata miliknya yang awalnya hitam menjadi semerah darah dengan tiga tomoe di sekelilingnya. Itachi hanya menghela napas pelan melihat kedua Uchiha tersebut telah saling menatap dengan memamerkan Sharingannya masing-masing. Entah sejak kapan pula Shisui juga telah mengaktifkan Sharingannya.
"Sakura belum mati." Intonasi suara Sasuke memang masih sama datarnya. Namun terdapat sebuah peringatan bahaya di sana.
"Kamu berkhayal Sasuke. Lihatlah kenyataan." Shisui tak mau kalah.
Itachi memejamkan kedua matanya. "Hentikan. Kalian berdua."
"Jangan-jangan kamu lah pihak yang ingin menstabilkan kembali roda takdir manusia dengan menyingkirkan 'riak' tersebut dengan cara licik seperti itu."
"Sasuke." Tegur Itachi.
Shisui mendelik horor mendengar tuduhan Sasuke. "A—"
"Kalau begitu kenapa tidak sekarang saja kamu bunuh Sakura yang tengah terbaring lemah? Kalau kamu tidak cukup pengecut untuk seorang Uchiha, kamu bisa melawanku saja sekarang. Bukankah sama saja?"
"Jaga bicaramu Uchiha Sasuke." Shisui masih sabar. Dia masih mau memperingatkan.
"Bukankah begitu caranya untuk kembali memperbaiki 'jalan yang rusak'? Sesuai dengan ramalan kan?"
Habis sudah kesabaran Shisui. Dia beranjak cepat dengan tangan kanan bergumpalkan cahaya merah kekuningan yang sudah terangkat setinggi telinganya. Cahaya tersebut sudah siap terlempar menerjang Sasuke. Namun sebelum semua hal buruk terjadi akibat pertengkaran yang berlandaskan amarah ini, seorang tentara berbaju besi muncul menangkap kepalan tangan Shisui. Cahaya kemerahan tersebut pecah menyisakan percikan-percikan berwarna merah yang ikut melebur bersama biasan hitam yang mengekori datangnya tentara itu. Tekanan kekuatan sihir tersebut mampu membuat beberapa tabung silinder Sasuke pecah. Bahkan pecahannya meninggalkan goresan luka di pipi kiri ayah Uchiha Hideaki tersebut.
"Aku sudah bilang untuk berhenti, kan?" Pertanyaan yang lebih pantas disebut pernyataan dari Itachi tersebut tetap tak mengurangi tatapan tajam Shisui dan Sasuke.
Tak ada aksi lagi, pun tak ada reaksi pula dari keduanya. Hanya saling menatap tajam. Seolah dengan tatapan mata, mereka dapat saling menyerang satu sama lain. Diam dalam api amarah. Terus begitu selama beberapa menit.
"Bisa tolong kamu lepaskan prajurit sihirmu ini dariku, Itachi?" Shisui mulai terlihat menyerah karena sakitnya cengkeraman prajurit sihir Itachi yang kekuatannya dapat meremukkan seluruh jarinya dalam satu kali tekanan lagi. Tapi tidak untuk tatapan membunuhnya yang masih terarah pada Sasuke dan Itachi mengetahui niat jahat tersebut. Shisui belum sepenuhnya menyerah. Bisa jadi setelah tangannya terlepas, dia kembali hendak menyerang Sasuke.
"Tidak akan sampai kamu benar-benar telah mengontrol emosimu."
Shisui mendengus kesal. Diputarlah kepalanya ke arah Itachi yang masih duduk anteng dengan mata terpejam. Ekspresinya yang tadi kaku berubah kesal dengan bibir sedikit mencibir ke arah sahabatnya itu. Raut wajah tak suka yang kini dia tampilkan sudah tidak lagi dihiasi dengan Sharingan. Dia telah memilih untuk mengalah karena dia tahu akan setiap kebenaran yang terkandung di dalam ucapan Itachi. Tentu saja harus begitu kalau dia masih ingin tangannya baik-baik saja.
"Lepaskan baka. Ini sakit!"
Tak sampai lima detik, prajurit tersebut memecah diri menjadi cahaya hitam berwujud puluhan gagak ke segala arah bersamaan dengan terbukanya kedua kelopak mata Itachi. Sepeninggalnya prajurit itu, Shisui langsung mengusap-usap tangannya yang memerah. Tak lupa pula dengan tatapan kesalnya untuk Itachi yang masih belum hilang, tapi yang sayangnya tidak digubris sama sekali oleh pemuda tersebut.
Sedangkan Sasuke hanya mendenguskan napasnya sekali tanpa berani menatap pada sang kakak yang kini tengah memandangnya. Dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini dan sebelum itu benar-benar terjadi, dia memilih untuk beranjak dari tempatnya.
"Mau ke mana kamu Sasuke?" Terlambat. Baru saja dia hendak berbalik, suara Itachi keduluan menginterupsinya. Hanya diam lah yang mampu dia lakukan.
"Minta maaf pada Shisui nii-san." Perintah Itachi tersebut langsung membuat Shisui yang telah mendudukkan kembali dirinya di sofa menoleh terkejut.
"Dia minta maaf?" Kepala Shisui berputar kembali pada Sasuke disertai dengan decihan. "Aku tidak sudi memaafkannya!"
"Kalau kamu tidak mau memaafkannya bayaran bulananmu sebagai wakilku akan kukurangi seperempat." Ancam Itachi dengan tenangnya.
"Apa?!" Shisui menuding Itachi. "Cuma karena aku tidak mau memaafkannya kamu memotong gajiku, Taichou? Ini tidak adil?!"
"Minta maaf." Itachi tetap keras kepala.
"Tidak!" Shisui sama keras kepalanya. Wajar, Uchiha memang terkenal dengan kepala batunya.
"Oke, akan kupotong."
"Aku tidak peduli dengan jabatan kita! Pokoknya aku tidak sudi. Dia sudah bersikap tidak hormat padaku!"
"Terserah."
"Aarrghh! Kamu ini sahabat atau bukan sih?!"
"Tentu saja. Memang kenapa?"
"Jangan berlagak bo—"
"Aku tidak—"
Sasuke menghela napas. Tingkah dua orang yang notabene jauh lebih tua darinya ini sangat terlihat aneh untuk seorang Uchiha. Mengambil kesempatan emas yang tersedia lebar, dia menghilangkan sosoknya dalam sekejab. Meninggalkan kedua orang lelaki yang masih seru berdebat.
"Lihat. Dia pergi."
"Baguslah. Dia sendiri tidak berniat untuk minta maaf."
"Tetap kupotong."
"Apa?!"
"Kaa san?"
Hideaki terbangun dari tidurnya berkat goyangan pelan pada bahu kanannya. Pandangannya yang mengabur membuat dahinya mengernyit dalam saat melihat bayang seseorang yang berdiri di sampingnya.
"Tou san?" Tanyanya memastikan setelah matanya dapat mengenali orang tersebut dengan bantuan cahaya remang yang masuk dari lampu di balkon kamar.
Sasuke mengangguk. Sebuah senyum tecetak tipis di wajahnya yang siapa pun yakini bahwa Hideaki sendiri pasti tidak dapat melihatnya. Di samping karena kantuk yang masih mendominasi, juga karena pencahayaan kamar yang sangatlah minim.
"Sudah larut, Hideaki. Kembalilah ke kamarmu sendiri."
Si anak hanya mengangguk pelan sambil mengucek-ucek matanya lantas beranjak dari kursi yang dia duduki di samping tempat tidur dimana Sakura terbaring. Sebelum dia benar-benar pergi, dia menyempatkan diri untuk menyapu pipi kanan ibunya.
"Oyasumi Kaa san. Besok aku akan datang lagi."
Senyum di wajah Sasuke kini lebih tepat di sebut dengan senyum miris saat melihat apa yang anaknya lakukan.
"Terima kasih sudah menjaga Kaa san, Hideaki."
Kepala berwarna rambut sama dengan Tou sannya itu mengangguk lagi. Setelahnya anak itu benar-benar telah lenyap ditelan pintu coklat kamar kedua orang tuanya.
Untuk beberapa saat, Sasuke terdiam di samping tempat tidurnya dan Sakura. Di tempat yang sama saat dia membangunkan Hideaki tadi.
Dia pandangi wajah tidur sang istri. Wajah pucat namun terlihat damai tersebut selalu mampu membuat jalur pernapasannya menyempit. Sakura yang begini saja sudah membuatnya perasaannya seperti ini apalagi kalau istrinya itu sedang tidak tertidur koma.
"Sakura."
Tangan yang terkulai lemas itu dia bawa ke dalam genggaman tangan besarnya untuk di a remasnya lembut. Duduk di atas kursi bekas Hideaki duduki tadi, Sasuke mambawa tangan sang istri untuk di tempelkan ke sisi kanan wajahnya. Dia terpejam saat hawa hangat di rasakan kulit pipinya yang dingin.
"Aku merindukanmu. Kami merindukanmu."
Jantungnya yang mendadak terasa nyeri mengantarkan rasa sakit ke sekujur tubuhnya. Tenggorokannya tercekat karena luapan emosinya. Susah payah dia meneguk salivanya sendiri hanya untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang mengering. Napasnya turut memberat kibat pasokan udara yang dia hirup seolah menipis.
Kedua iris sehitam jelaga miliknya kembali nampak. Menampilkan permata hitam yang biasanya datar dan setajam mata pisau itu kini berkaca-kaca dengan tatapan masih mengarah pada wajah tidur sang isteri. Nanar lah sebentuk rasa yang terlihat sangat jelas di kedua bola matanya, di mana terpantullah wajah tidur Sakura di sana.
Sasuke mengangkat sedikit tubunya. Agak mencondongkan diri ke arah kepala pink Sakura. Dengan gerakan pelan dia memberikan satu kecupan lembut pada dahi wanita tersebut. Seolah takut bila dia tidak melakukannya dengan sehati-hati mungkin, sosok istrinya yang rapuh itu akan pecah berkeping-keping. Lama dia mempertahankan posisinya. Menyalurkan tiap kasih dan sayang yang selalu ada untuk sang wanita tercinta sekaligus mendoakan kesembuhannya. Hingga tanpa dia sadari, setetes air mata jatuh di atas pipi sang istri.
"Bangunlah Sakura, kumohon."
Selalu hal yang sama dia katakan tiap kali mempertemukan bibirnya dengan kening sang istri dengan air mata yang juga selalu menetes tanpa dia sadari pula kehadirannya. Namun sampai saat ini, sejak lima tahun yang lalu Sakura mulai menutup kedua bola matanya, permohonan Sasuke itu selalu menyatu dengan udara sekitar tanpa ada respon sama sekali dari orang yang dia pinta. Wanita itu tetap menyembunyikan kedua iris emeraldnya rapat-rapat. Terlihat seperti tak mau memamerkan lagi warna kedua bola mata yang sangat Sasuke sukai tersebut.
Hanya saja Sasuke tidak tahu. Dia mungkin mengira kalau permohonannya bagaikan angin lalu yang selalu melebur menjadi satu dalam kehenigan di antara keduanya. Dia tidak menyadari kalau setiap kali air mata yang keluar dari sudut matanya tanpa sepengetahuannya itu juga selalu melebur menjadi satu dengan rembesan air mata yang turut keluar pula dari sudut mata Sakura.
Di pukul beranjak dua belas malam hari ini, berdirilah seorang pria berambut hitam sepunggung di balkon ruang kerja salah satu dari tiga menara paling tinggi Shinigami Association.
Ruangan di belakangnya yang gelap gulita menyamarkan sosoknya karena penerangan hanya diperoleh dari sinar-sinar lampu kota redup yang membentang di bawah sana.
Kedua iris bak ular tersebut memandang pemandangan malam Central City yang tampak sepi. Wajar saja semua kegiatan manusia tidak sesibuk siang hari, justru sekarang bisa dikategorikan sepi, karena hari yang telah beranjak larut. Meski begitu keindahan kota pada malam hari memang tidak ada kata bosannya untuk dinikmati.
Terbukti dari senyum yang terkembang di wajah pucat Orochimaru. Bahkan, tidak hanya dari itu saja. Semua orang pun pasti berpendapat sama.
"Kota malam yang sepi begini tetap menarik. Iya kan, Deidara?"
Tak ada yang menyahut perkataan Orochimaru. Tentu saja. Hanya dia sendirian yang berada di balkon ini. Tapi itu bagi kata sebagian orang yang hanya melihat sekilas ke tempat Orochimaru berdiri. Semua dugaan tersebut terpatahkan dengan munculnya sosok lain dari dalam bayangan di belakang samping kiri Orochimaru. Sosok tersebut sedikit menjelas setelah dia menghentikan kakinya tepat di samping Orochimaru. Seorang pemuda berambut pirang panjang dengan poni menjuntai yang menutupi sebelah matanya.
"Tidak ada yang lebih indah kecuali seniku." Pemuda tersebut berujar sinis. Dialah Deidara, si objek yang Orochimaru ajak bicara. Ekspresinya sungguh mencerminkan ketidaksukaan atas pujian yang keluar dari mulut Orochimaru. Ditandai dari kedua alisnya yang bertemu di pangkal hidungnya lengkap dengan satu matanya yang bebas halangan poninya itu sedikit menyipit. Sepertinya tidak semua orang menyukai keindahan kota pada malam hari.
"Semua orang mempunyai pendapatnya masing-masing." Orochimaru tidak mengalihkan tatapannya dari panorama di bawah. Dia semakin larut dalam pemandangan kerlip kota yang tidur.
Deidara mendengus. "Tapi tidak untuk satu hal." Sengaja dia beri jeda untuk membentuk sebuah seringai di wajahnya. "Seperti misalnya kebencian kita terhadap Uchiha."
Orochimaru mendehem pelan. Membenarkan perkataan pemuda pirang tersebut. "Aku tidak menyangka bahwa semua ini berjalan jauh lebih cepat dari dugaanku." Ucapnya membalas perkataan Deidara.
"Jangan bangga dulu." Hardik pemuda itu pelan. "Itu juga berkat aku. Kalau tidak sama-sama benci mana mau aku membantumu."
"Terima kasih atas bantuannya." Ucapan terima kasih tersebut di tanggapi Deidara dengan dengusan napasnya. Entah bagaimana dia merasa kalau Orochimaru terkesan tidak ikhlas mengatakannya.
Mengabaikan pikiran jelek tersebut. Dia memilih untuk membuka topik pembicaraan yang menjadi tujuannya datang kemari. "Jadi kapan 'penumpasan' tersebut dimulai? Bulan purnama terasa lama sekali. Aku jadi tidak sabar."
Orochimaru tertawa pelan. "Kalau begitu kusarankan kamu untuk bersabar. Karena kalau kamu gegabah, maka semuanya akan sia-sia walau salah satu dari mereka berhasil dilenyapkan."
Deidara memutar bola matanya bosan. "Aku mengerti."
To Be Continued...
Author Note:
Gomennasai minna san #ojigi.
Maafkan atas keterlambatanku mempublish chapter baru. Aku udah mulai masuk sekolah dan waktu buat ngetik berkurang drastis. Jadi mohon maaf kalau chapter-chapter berikutnya beneran ngaret.
Banyak yang request adegan romance antara SasuSaku yak. Awalnya sih minim adegan romance sih, mengingat kondisi Sakura yang sekarat #plak.
Selain itu karena aku lebih memfokuskan ke 'main rahasia-rahasian di balik masalah yang menimpa klan Uchiha karena ulah Sasuke'. Hehehe.
Tapi yah, akan kuusahakan untuk menyisipkan adengan tersebut meski cuma flashback. Gapapa kan reader? Gapapa kan ya? #kedip2 #plak XD
Maap kalo romance di chap ini gak memuaskan T.T
Maap pula dengan humornya yang maksa abis di fic dengan 'hawa gelap' ini. Maap juga buat ke OOC-an Shisui. Aku ga seberapa paham sifatnya Shisui di anime/ manga karena dia munculnya sekilas-sekilas. Cuma aku taunya dia itu sahabatnya Itachi. Jadi maap ya kalo dia terkesan sangat aneh untuk ukuran seorang Uchiha T.T #dibantai Shisui.
Oke, sekarang waktunya bales review dari reviewer yang gak login. Kalo yang login aku bales langsung lewat PM bertanda tangan Sasuke XD #wkwk.
Yosh! Mari dimulai.
Balasan review Uchiha Crisis Chapter 1 to:
-Lolitadoll: Iyap! Kamu benar sekali, sayang XD. Alasan kenapa Sasu sampe gila-gilaan nyabut nyawa manusia itu karena memang konsekuensinya untuk kesembuhan Sakura. Hoho...Isi ramalan ya? Entar di chapter depan atau chapter depannya lagi bakal dibahas tentang ramalan tersebut. Jadi, di tunggu aja ya, un. Sakuranya nongol? Ini udah nongol, tapi Cuma segini aja. Gomen ya kalo ga memuaskan. Karena tuntutan peran (?) dia ga bisa nongol banyak. Tapi ada waktunya entar di chapter terakhir dia nongol full. Dalam kondisi sehat walafiat XD. Iya dong. Mereka juga pake acara nikah-nikahan, cuma ga aku jelasin. Mungkin flashback? Bisa jadi bisa jadi #angguk2. Yap, makasih udah mau baca dan review ya, un XD
-Oku Manami: Iya, un. Mohon maaf lahir dan batin juga XD
Hehehe...Gomen, aku udah masuk sekolah. Jadi kalo soal update cepat itu kayaknya agak susah. Gomen ya, tapi aku usahakan ga sampe sebulan sekali kok updatenya. Banyakin SasuSaku moment? Padahal fic ini lebih ke masalah di klan Uchiha-nya XD. Oke dah, entar di usahakan yak. Tapi ya itu tadi, karena kondisi Sakuranya aku buat begitu jadi dia Cuma muncul sebatas flashback kecuali mendekati akhir fic. Hehehe. Makasih udah baca dan review ya :D
-berjep45201: Hahaha...Enggak lah. Kebetulan aja sama Cuma sama Karin. Kalo semua cewe dia panggil gitu bisa-bisa Saku bangkit dari komanya dan buat perhitungan sama Sasu XD #plak. Lagian itu bukan Sasu beneran. Sasu yang asli kan duduk manis di kursi belakang, coba di cek lagi deh XD. , selama 40 hari mereka shinigami termasuk Sasu juga melakukan hal yang sama kaya sewaktu 40 harinya Saku sebelum mati. Tapi Cuma sebatas mengikuti dan menakuti. Kalau 40 harinya Saku kan di perlakukan khusus sama Sasu. Hehehe. Nah, kayaknya sekian dan makasih udah baca serta review ya :D
-Zoey: Ini udah lanjut un. Gomen ya, aku mulai sibuk sekolah. Hehehe. Makasih udah meluangkan waktu buat baca dan review :D
-Harry Borrison: Ini udah update. Gomen ngaret. Jangan sedih un T.T
Gomen karena aku ga bisa seminggu sekali kaya chap pertama. Udah sibuk dengan kegiatan sekolah. Maap ya. Tapi, makasih udah nyempatin baca dan nagih. Hehehe.
Nah ya udah di jawab semua kan?
Jadi, gimana menurut kalian? Review ya ;)
Karena setiap review kalian adalah penyemangatku.
Salam,
Sakura Hanami
