"Silakan saja."

Biji mata Deidara melotot begitu besar. Keterkejutan yang sangat begitu kental pada wajahnya.

"Apa?"

Pertanyaan retoris itu betapa menandakan ia yang sangat tidak mempercayai telinganya. Respon Sasuke yang kelewat santai sama sekali tidak dia duga. Namun sejurus kemudian, seringainya muncul. Sebelah mata Deidara yang tidak terhalangi poni menjuntainya memicing penuh penghinaan.

"Uchiha biadap! Padahal aku ingin sekali melihat perlawananmu!"

Kini, gantianlah Sasuke yang terbelalak. Tidak tanggung-tanggung, ngeri pun turut hadir menghiasi sorotnya. Pemusatan kekuatan dalam gradasi warna hijau kebiruan pada tangan kanan Deidara seketika membawa sepoi hawa dingin yang menyentuh langsung tulang belulang Sasuke. Hawa dingin yang seketika menyengatkan tanda bahaya dalam naluri terlatih lelaki tersebut.

"Jauhkan tanganmu dari Sakura!"

Ternyata dia salah. Keputusannya untuk menyerah tanpa perlawanan justru berbuah pada menyulutnya emosi ketua divisi penangkapan tersebut. Kini hal yang dikhawatirkannya terjadi. Dia sama sekali tidak ingin membahayakan Sakura, maka dari itu lebih baik apabila membiarkan Deidara menyeretnya ke penjara dengan damai. Sungguh, sebab akibat ini begitu di luar analisisnya.

Dapat Sasuke lihat tangan kiri Sakura yang terkulai di sisi tubuhnya sedikit membeku. Tatapannya semakin nyalang pada Deidara. Terutama terhadap tangan kanan berpendarkan cahaya aquamarine yang hanya beberapa senti menggantung di atas tubuh bagian kiri istrinya.

Melihat Sharingan yang telah keluar dari persembunyian onyx di hadapannya, kekehan Deidara keluarkan.

"Aku tidak akan membuat permainan ini menjadi sesederhana dalam pikiranmu."

Sedetik setelah Deidara mengangkat tangannya yang masih terbalut pendar warna indah tersebut untuk menyentuh Sakura, dia sama sekali tidak merasakan kulit tangannya bersinggungan dengan tubuh wanita tersebut walau sedetik. Justru sebaliknya, sengatan yang mengejutkan membuat tubuhnya mengejang. Jelas saja gerakannya terhenti. Tusukan ribuan jarum pada setiap pori-pori kulit yang ia rasakan mencegah tangannya untuk bertindak lebih jauh lagi.

Teriakannya menggema keras dalam tempat serba putih yang berbarengan pula dengan jalaran sakit hingga ke seluruh sumsum tulangnya. Untuk alasan yang Deidara sendiri tidak mengerti, terlepas dari sakit luar biasa yang dia rasakan, hatinya justru berbunga. Dia membatinkan tawa akan pancingannya yang berhasil Sasuke tangkap. Deidara tahu kalau tujuannya semakin dekat.

Begitu ia memaksa untuk membuka mata, ingin tahu apa yang telah Sasuke lakukan terhadapnya, yang kedua iris biru lautnya lihat bukan lagi kondisi gelap kamar pribadi Sasuke. Sebuah bidang tanah luas berumput dengan dilingkari pagar kesatuan pohon mahoni lah tempatnya terbaring saat ini.

Berdiri menjulang di depannya, adik Uchiha Itachi itu menghujaninya dengan sorot Sharingan penuh nafsu membunuh. Deidara menyeringai kaku begitu dia melihat tangan kiri Sasuke mengenggamkan pedang listrik yang terhubung membaluti sekujur tubuhnya.

"Senang bermain denganmu, Deidara."

Dari posisi badan menyamping dan menggunakan siku tangan kanan untuk menyangga tubuhnya yang masih kesemutan dengan susah payah, Didara tertawa pelan. Pandangan matanya sama nyalang dengan milik Sasuke di tengah kondisi badan terluka dalam seperti ini. Pemuda pirang ini benar-benar tak tahu diri.

"Mari kita nikmati, Uchiha."


Naruto by Masashi Kishimoto

The Fiction by Sakura Hanami

.

.

.

.

Uchiha Crisis

.

.

.

.

Warning: Alur lambat, No Romance,

AU, Rate M buat jaga-jaga, No Lemon, Miss Typo(?)

Genre: Crime, Fantasy, Mystery, Gore, Action.

.

.

.

Uchiha Sasuke & Haruno Sakura

With My Original Character:

Uchiha Hideaki

.

.

.

Sequel of Shinigami Mate

.

.

.

Happy Reading, Hope You Like It

And

Please Your Review^^


Di usahanya yang terakhir untuk berusaha tidur, Hideaki menyerah juga dengan memutar tubuhnya menjadi telentang menghadap langit-langit kamarnya dengan sekali sentakan keras. Menimbulkan bunyi benturan pelan dari kedua tangan yang mengikuti gerak tubuhnya dengan permukaan kasurnya. Berbeda sekali dengan keinginannya untuk segera terlelap, air muka yang dia tampilkan sama sekali tak diliputi kantuk.

Kedua iris sehitam jelaganya masih terbuka lebar. Dengan kedua alis saling bertaut, terlihat kalau ada suatu hal yang tengah menganggu pikirannya. Mungkin itulah penyebab tidak bisa tidurnya anak ini dan pada kenyataannya memang begitu. Suara desahan napasnya yang keras sudah terdengar dalam hitungan yang tidak sekali dua kali. Hideaki telah naik ke ranjangnya sejak pukul sembilan malam dan kini jarum jam di dinding sebelah kanannya menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh lima.

"Ck! Menyebalkan!" Dan gerutuannya yang seperti ini juga ada lebih dua kali mulutnya keluarkan.

Hideaki kembali mengingat kejadian siang tadi di sekolah. Ketika ibu guru Moegi baru saja membuka mulut hendak menjawab pertanyaannya soal kakek buyut Madara yang langsung dicegah oleh bel tanda pelajaran berakhir. Kekesalan karena ketidaktuntasan rasa penasarannya itulah yang masih setia membayangi otaknya sampai detik ini.

"Kenapa harus bel, sih."

Dia membuat rambutnya yang sudah berantakan menjadi tambah berantakan sebelum ia mendudukkan diri. Hideaki tahu dia tidak akan bisa tidur kalau jawaban itu tidak segera didapatkannya. Ini sudah bukan masalah biasa. Seluruh ketua divisi saja sampai membicarakannya dan itu berarti bahwa tingkat keseriusan masalah yang berhubungan dengan klannya sudah teramat serius.

Asal mula problematikan tersebut dimulai oleh kakek buyutnya yang ternyata menurun pada ayahnya. Apa yang telah Uchiha Madara lakukanlah yang harus dia ketahui terlebih dahulu kalau ingin memperoleh kejelasan masalah ini. Meski dia tahu bahwa tidak pantas anak yang baru berumur sepuluh tahun sepertiya ikut campur.

Tapi masa bodoh. Dia harus tahu hubungan namanya disangkut pautkan dalam urusan orang dewasa. Mereka yang terlebih dahulu menyeretnya tanpa dia sadari.

Akan tetapi, siapa yang bisa menjawab pertanyaanya? Kesempatan di sekolah hilang sudah.

Hideaki menoleh ke jam dindingnya. Sudah pukul setengah sebelas malam. Siapa orang terdekatnya yang masih terjaga di waktu sekarang?

Ayahnya?

Hideaki berdecak lagi.

Ia yakin kalau sang ayahanda sudah berkelana ke alam mimpi. Lagipula dia tidak mau membebani pikiran ayahnya yang sudah penuh dengan usaha membangunkan ibunya kembali dengan pertanyaannya.

Lalu siapa? Itachi?

Hideaki menggeleng—dan berhenti secara tiba-tiba. Tertegun cukup lama. Merefleksikan lagi bayangan pamannya yang sekilas tadi melintas lalu tak berselang dari lima detik, wajahnya mencerah. Hideaki turun dari kasurnya dan menghilang setelah menutup pintu kamarnya.

Pilihannya jatuh benar pada Itachi. Dia tidak tahu pukul berapakah pamannya itu pergi tidur, tapi kemungkinan besar, kakak ayahnya itu masih bangun mengingat malam lalu seluruh ketua divisi mengadakan rapat untuk klan Uchiha dan menurut dugaannya, sang paman pastilah tengah bertukar ucap perihal topik rapat dengan Uchiha Uchiha lain yang tergabung dalam Akatsuki. Pasti di ruangan paman Itachi akan ada paman Tobi juga. Atau mungkin ayahnya belum pergi tidur dan Uchiha-uchiha yang lain pun bisa saja ikut bergabung.

Padahal jam tidur untuk shinigami dewasa seperti Itachi, Tobi atau ayahnya adalah pukul dua belas malam nanti. Sepertinya kepenatan otak telah membuat Hideaki melupakan fakta tersebut. Jadi kalau tadi dia ingin mencoba menemui ayahnya, pastilah kedua mata beliau masih terbuka. Anak ini sudah kacau.

Benar-benar tidak disadari olehnya. Yang ada justru terlintas rasa sungkan jika memikirkan bahwa Itachi pun pasti tertekan oleh masalah ini. Tapi sekali saja, boleh dia egois kan?

Kedua kaki-kaki kecilnya menyusuri lorong yang sangat dia hapal untuk menuju ke ruangan Itachi. Langkahnya semakin cepat. Ketidaksabaran mendesak Hideaki untuk mengubah langkahnya kini menjadi lari-lari kecil. Tidak diburu waktu memang, tapi didorong keingintahuannya yang bertambah besar lah menyebabkan setiap senti jarak semakin cepat mengecil.

Dengan cara yang telah pamannya latih pada kedua telapak kakinya untuk tidak menimbulkan derap, dia pusatkan energi dalamnya agar kedua kakinya seolah melayang. Hari sudah semakin larut dan terdapat pintu-pintu yang menutup di kiri kanan lorong ini. Dia tidak ingin dimarahi, atau yang paling memalukan, dilaporkan pada orang tuanya karena tingkahnya yang sangat tidak sopan oleh para penghuni ruang di balik pintu-pintu tersebut.

Lajunya berhenti total di hadapan sebuah pintu coklat muda berukir tanaman merambat. Mengelilingi empat sisi persegi panjang tersebut dari ujung atas hingga ke ujung bawah. Setelah dua tiga kali menarik napas, menenangkan diri dari kegugupan tak beralasan, tangan kanannya sudah mengudara. Siap mengetuk pintu jati tersebut. Setidaknya itu yang hendak Hideaki lakukan kalau sebuah teguran seorang lelaki tidak menginterupsinya.

Hideaki tersentak lantas menoleh cepat ke asal suara dari kanannya dan dia mendapati sepasang mata berpupil vertikal membias di bawah bayangan.

"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini, Uchiha-san?"

Orochimaru maju. Membiarkan tubuhnya terlihat utuh di hadapan Hideaki. Perlahan semakin mendekat pada anak itu.

Mengetahui identitas pemilik mata ular tersebut, Hideaki tanpa sadar menghembuskan napas lega. Kagetnya ia tadi membuatnya secara tanpa sadar juga telah menahan napas. Dia membungkuk rendah sambil mengucapkan 'selamat malam, Orochimaru taichou' sebelum menegakkan tubuhnya lagi dan menjawab pertanyaan salah satu anggota Akatsuki yang telah berada setengah meter di depannya.

"Aku hanya ingin menemui Itachi Jii-san."

Kerutan heran di dahi Orochimaru yang sebelumnya telah ada begitu mendapati sosok Hideaki sejak pertama kalinya menjadi semakin dalam.

"Malam-malam begini? Kenapa tidak menunggu besok saja?"

"Ini sesuatu yang penting." Sangat penting malah, tambah Hideaki dalam hati.

Dapat Hideaki dengar helaan napas pelan di atas raut Orochimaru yang tampak menyesal.

"Tapi sayang sekali. Seingatku tadi, Itachi-san sedang berada di ruangan Tobi-san."

Benar dugaan Hideaki. Ada paman Tobi juga. Kedua orang itu pasti masih sibuk di jam terlelap seperti ini. Hanya saja, ayahnya tidak ikut. Itu yang dapat Hideaki simpulkan dari keterangan Orochimaru.

"Apa Taichou melihatnya keluar?"

"Maaf." Orochimaru menggeleng dan Hideaki menghembuskan napas kecewa.

"Sepertinya mereka tengah terlibat pembicaraan serius hingga memutuskan untuk membahasnya di tempat tertutup."

Ini sudah bukan masalah kecil. Ada apa dengan klannya?

"Begitu ya."

Sebentar.

Dia baru ingat akan satu fakta. Orochimaru juga hadir pada malam rapat berlangsung. Lelaki ini kan salah satu Akatsuki juga. Kalau begitu, tidak perlu merepotkan pamannya kan?

Dengan penuh keraguan dia bertanya.

"Ano... Taichou juga ikut dalam rapat kemarin malam, benar?"

Hideaki melihat kedua mata Orochimaru yang sedikit melebar.

"Bagaimana kamu bisa tahu?"

Kalau begitu, tidak ada salahnya kan? Sudah setengah jalan. Lebih baik katakan saja apa adanya.

"Aku tidak segaja mencuri dengar pembicaraan kalian ketika hendak kembali ke kamarku."

Ketakutan sempat melanda nurani Hideaki saat Orochimaru tak merespon. Dia tahu bahwa sejak awal, saat dia lebih memilih berhenti di depan pintu ruang rapat malam kemarin serta memutuskan untuk berkata jujur beberapa menit yang lalu, kemarahan salah satu anggota Akatsuki karena kelancangannya tempo hari dari siapa pun itu, pastilah akan ia terima.

Hanya saja ia tidak menduga bahwa yang ditemuinya adalah Orochimaru, bukannya Itachi. Semua jadi berbeda jika benar Orochimaru tersinggung. Setidaknya isi rapat itu, meski berhubungan dengannya, sama sekali belum tiba saat baginya untuk tahu.

Hideaki merutuki kependekan pemikirannya dalam hati. Harusnya dia bisa bersabar sampai ayah atau paman-pamannya yang menyampaikan padanya. Ini memalukan klannya kalau benar dia kena wejangan dari wajah keras orang di luar Uchiha.

"Begitu."

Tanpa Hideaki sendiri sadari, dia meneguk salivanya sehati-hati mungkin. Hatinya mulai menciut jika benar Orochimaru murka.

"Anggota keluargamu memang lambat memutuskan. Harusnya hal seperti itu tidak terjadi. Aku bisa menjelaskannya padamu soal rapat kemarin malam. Bagaimana?"

Dan tanpa Hideaki sadari juga, dia menghembuskan napas panjang mendengar Orochimaru yang sama sekali tidak menyalahkannya. Justru pria itu terkesan mendukungnya.

Raut tegang Hideaki seketika pergi dari wajahnya. "Baiklah."

"Kalau begitu, mari kita bicara di ruanganku saja."

Tanpa Hideaki tahu, kilatan cahaya mata Orochimaru membiaskan kelicikan samar ketika dia berbalik memimpin jalan.


Beberapa lorong jauhnya dari tempat Hideaki dan Orochimaru mulai beranjak. Di dalam sebuah ruangan berpintu tak beda dengan milik Itachi. Ada tiga orang lelaki sedang dalam kungkungan hawa suram.

Satu pria berdiri meghadap jendela besar di belakang meja kerjanya. Menatap pemandangan luar berselimutkan gelapnya malam dengan tatapan datarnya. Bersebelahan dengan bingkai jendela tersebut, seorang lagi berdiri. Punggungnya ditahan dinding ruangan ini. Sedangkan lelaki terakhir, berdiri di depan meja kerja tersebut.

Meski dalam posisi yang berbeda-beda, tapi ada satu kesamaan dari ketiganya. Mereka sama-sama berekspresi serius.

"Seperti Madara dulu." Suara berat dari pria yang memiliki bagian tumbuhan venus di sisi kiri kanan kepalanya berpendapat. Zetsu namanya, anggota Akatsuki di bidang pengawasan dalam Shinigami Association.

Tobi yang bertatap muka dengan jendela tidak merespon ucapan manusia aneh tersebut. Dia tetap menatap lurus langit kelam di luar jendela besarnya.

"Semua harus diakhiri, Itachi. Adikmu sumber bahaya."

Sama seperti Tobi, Itachi pun bergeming dalam posisinya yang tengah bersandar. Dia terpejam sambil bersedekap.

Ada hening yang menyusup. Sama dengan masing-masing benak yang disusupi kepenatan panjang. Ketiga pria berkedudukan tinggi ini sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mereka tahu apa yang harusnya mereka lakukan terhadap Uchiha Sasuke. Tapi kebimbangan akan persoalan lain yang tak kalah rumit menghentikan usaha mereka untuk mengakhiri ketidak seimbangan dua dunia.

Deidara telah menyanggupi diri untuk mengurus Sasuke sedangkan aktor utama untuk mengakhiri kepelikan ini ada pada Hideaki. Masalahnya, apa anak sekecil itu sanggup untuk menjadi penyelamat dan melalukan seperti yang telah digariskan? Dengan mengorbankan semuanya?

"Bagaimana yang dikatakan ramalan?" Akhirnya Tobi angkat suara. Namun tanpa mengubah posisinya.

"Hideaki yang harus melakukannya." Jawab Zetsu.

"Kalau begitu..." Itachi menggantung kalimatnya. Dibawa lah tubuhnya menuju satu-satunya pintu di ruangan ini.

"Aku percaya pada keponakanku."

Itachi pun membuka pintu. Meninggalkan Zetsu dan Tobi berdua saja.


"Terima kasih, Tou-san."

Begitu Naruto menunduk, ia mendapati sepasang bola mata sebiru langit cerah Uzumaki Hikari yang menatapnya penuh binar kebahagiaan. Sesaat Naruto terpana. Pesona cahaya milik kedua iris itu begitu memukau.

Rupanya ia berpikir kelewat percaya diri. Pigmen pembentuk warna pada kanta sang putri itu jelas berkat gen-nya dan itu berarti bahwa dia pun memiliki pancaran sinar mata yang juga mempesona. Hikari keturunannya dan gadis berumur sepuluh tahun itu mewarisi sifatnya. Siapa dulu ayahnya. Ia tertawa dalam hati.

Sejurus kemudian, ia membalas dengan tersenyum. Dapat Naruto rasakan senyumnya pastilah lebih dari lebar. Toh, biar saja. Peduli amat dengan orang-orang sekitar. Hatinya sedang melambung tinggi.

Tangan kanannya yang menggandeng Hikari sengaja ia lepaskan agar bisa mengusap pelan kepala pirang sang putri. Hikari benar-benar jiplakannya.

"Sama-sama, sayang."

Kedua sudut bibir gadis itu tertarik semakin panjang sebelum dia menunduk. Dalam pelukannya, sebuah tas belanja kecil menempatkan sebuah buku bersampul biru tua. Ia melonggarkan dekapannya untuk dapat memandang benda itu. Tampak samar, gambar sebuah kepala teddy bear coklat menjadi sampul depan buku tersebut. Sedangkan tepat di atasnya, kesatuan huruf-huruf berbalutkan warna-warna soft membentuk sebuah tulisan 'My Diary'.

"Aku harap Hideaki menyukainya, Tou-san."

Naruto tertawa. Ia mengusap bagian bawah hidungnya dengan telunjuk kirinya.

"Tou-san yakin Hideaki pasti akan suka karena Hikari yang memberikannya."

Gadis kecil itu menyudahi tatapannya dengan memeluk kembali buku tersebut. Kali ini lebih erat daripada sebelumnya. Kepalanya yang masih Naruto usap sedikit tertunduk. Seolah menyembunyikan sesuatu dan memang benar, kedua pipi timbulnya merona dan dia tidak ingin Tou-sannya tahu. Dia ingin selamat dari ledekan tak kenal ampun yang kerap kali ayahnya lancarkan bila mendapatinya berkondisi begini.

Kesunyian kembali hadir. Mereka berdua melewati jalan setapak Central City—pusat kota di dunia Shinigami—ditemani hening. Percakapan diantara mereka selalu cepat berakhir yang membuat Naruto teringat akan satu hal lagi. Peran Hinata dalam diri Hikari pun memliki porsi yang sama besar dengan dirinya. Karena andil siapa Hikari memliki sikap pendiam kalau bukan dari Hinata?

Naruto semakin melambung bangga namun sayangnya, dia tidak bisa tersenyum seperti saat ia mengetahui bagian dirinya ada pada Hikari. Karena untuk saat ini, ia butuh pengalih perhatian dari kegusaran yang tadi sempat hilang. Ia merasa bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Karena tahu bahwa tidak mungkin Hikari yang akan memulai percakapan, ia pun angkat suara. Semoga kali ini, percakapan mereka bisa awet sampai mereka tiba di rumah.

Di waktu sekarang, dia tidak mau memikirkan permasalahan apapun. Hanya untuk saat-saat bersama anaknya, Naruto ingin membuang sebentar firasat buruk yang sedari tadi dirasakannya.

"Kenapa Hikari ingin memberikan Hideaki hadiah? Bukannya ulang tahun Hideaki sudah lewat?"

Gadis kecil itu mengerjabkan matanya sekali sebelum kemudian menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa, Tou-san."

Naruto dapat merasakan perubahan emosi anaknya—karena memang ia memiliki kemampuan istimewa dalam hal tersebut—dan otomatis saja ia mengerutkan kening. Ada yang tidak beres.

Benar saja, dalam diamnya Hikari kembali teringat dengan kondisi Hideaki akhir-akhir ini. Dia kerap kali melihat anak laki-laki itu memandang kosong. Walau ia tampak memperhatikan tiap penjelasan guru di Shinigami Junior Academy dan masih bisa menjawab berbagai pertanyaan yang pengajar ajukan padanya, tapi Hikari tahu, ada suatu hal yang mengusik pikiran kawannya itu.

Pernah sekali, Hikari terlalu fokus memperhatikan kejanggalan pada Hideaki dari sudut matanya yang justru secara tidak sengaja membuatnya seolah melihat sosok seorang lelaki berambut panjang. Bola mata pria yang entah siapa Hikari sendiri tak tahu itu berwarna merah menyala. Tubuhnya gagah dibaluti setelan hitam dengan corak elang putih di sepanjang jubah panjangnya. Kalau dia tidak salah lihat, ada simbol kipas di bagian dada kanan rompi dalam yang pria itu kenakan.

Dia tidak yakin apa yang ia dapati itu merupakan refleksi jalan pikiran Hideaki. Dia sadar akan kemampuan membaca pikirannya yang masih belum terasah penuh. Hikari tidak ingin salah terka. Tapi untungnya, beberapa pekerjaan rumah telah berhasil membuatnya melupakan sosok misterius tersebut. Setidaknya, sampai tadi siang dia kembali menangkap sorot kawannya yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan dan kembali membangkitkan wujud lelaki asing tersebut.

"Aku hanya merasa akhir-akhir ini Hideaki tampak murung. Karena itu kurasa, buku diary cocok untuknya."

Kemurungan Hideaki mengkhawatirkannya dan dia tahu akan keengganan anak itu untuk berucap walau sekedar untuk meringankan beban hatinya. Padahal Hikari sangat bersedia diajak berbagi masalah. Siapa tahu dia dapat membantunya, kan. Atau kalau tidak pun, terdapat sedikit keringanan dari beratnya masalah itu apabila tidak disimpan sendiri.

Percuma saja mendesak Hideaki untuk bicara. Maka dari itu, dia berinisaitif untuk memberikan sebuah buku diary. Mungkin Hideaki dapat lebih terbuka dengan cara menuliskan semua unek-uneknya. Semoga benar begitu dan Hikari berharap begitu. Kalau dia tidak bisa membantu Hideaki secara langsung, dia ingin agar Hideaki mencurahkan kejanggalan hatinya ke dalam buku ini.

"Habisnya, dia sama sekali tidak mau cerita padaku."

Naruto tersenyum. Dia paham apa isi hati anaknya itu.

"Pertahankanlah teman terbaikmu, Hikari. Dukung dia dan jangan pernah meninggalkan temanmu. Semua suka dan duka lewatilah bersama."

Kepala gadis kecil itu mendongak memandang sang ayah.

"Tou-san yakin, suatu saat nanti Hideaki akan menceritakan masalahnya padamu. Mungkin untuk saat ini, dia masih belum siap. Dia kan, mirip dengan Sasuke Jii-san."

Kedua bola mata sewarna Naruto itu membulat kaaget. "Sasuke Jii-san juga seperti itu?"

"Yap! Tunggu waktu saja, Hideaki pasti akan bicara. Pernah dulu sekali, Sasuke Jii-san seperti itu dan pada akhirnya dia datang sendiri pada Tou-san untuk bercerita."

Hikari tersenyum. Dia memang tidak salah mengajak ayahnya untuk menemani berbelanja. Segala gundahnya selalu dapat lelaki itu hilangkan hanya dengan kata-kata penghibur sederhana.

"Arigato, Tou-san."

Hikari merasakan usapan tangan besar ayahnya yang semakin keras.

"Ingatlah selalu ucapan Tou-san tadi ya, Hikari."

"Hai!"


Di bawah naungan malam. Di suatu tempat terbuka berpagarkan pohon besar nan rindang, jauh dari pemukiman, tekanan hawa yang kontras begitu terasa. Dingin yang menusuk kulit bersamaan pula dengan panas membara. Biasan cahaya putih dan merah berpendar di udara. Bak aurora di kutub sana. Namun tentu saja dengan warna yang berbeda meski sama indahnya. Panorama langka tersebut dihasilkan oleh dua orang pria yang tengah saling gencar merubuhkan menggunakan kemampuan khusus masing-masing.

Es dan Api. Perpaduan yang tak akan pernah saling tarik menarik seperti medan magnet. Begitu pula dengan hawa yang mereka ciptakan. Sama halnya dengan apa yang tengah kedua orang itu lakukan. Dua orang laki itu sama sibuknya. Seorang terlihat begitu cekatan menghindar dan menangkis sedangkan yang satu lagi tetap diam di tempatnya, namun dengan perhatian yang tak absen. Dia tetap fokus pada si pria yang melompat-lompat lincah. Menyerang lalu menangkis. Menghindar lalu memblokir. Tak ada yang mau mengalah diantara Deidara dan Sasuke.

Lima buah burung salju yang keluar dari mulut di kedua telapak tangan Deidara langsung melesat cepat ke arah Sasuke. Menggunakan tangan kanannya yang memegang sebilah pedang, dia cepat menebas burung buatan itu. Namun sekali lagi, Deidara tetap tidak mau mengalah. Segala usaha dia lakukan untuk menumbangkan Sasuke. Burung-burung saljunya, bukan sekedar senjata biasa. Lebih dari itu, begitu tubuh pedang Sasuke menyentuhnya, ledakan berskala kecil terjadi. Sasuke harus rela repot menangkis serta menghindari ledakan sekaligus.

Jadilah dia bersalto ke belakang dua kali usai melakukan tebasan yang pertama. Segera pula ia melompat ke kanan satu meter di sambung pula dengan salto dua kali lagi ke arah yang sama pula setelah ia menebas burung ke dua Deidara. Walau ukurannya tak lebih dari telapak tangan orang dewasa, tapi daya ledak yang Deidara tetapkan tidak main-main. Radiusnya memang berkisar satu meter, tapi efeknya bukan hanya sekadar luka bakar.

Tiga burung yang tersisa terus melesat. Tidak mungkin bagi Sasuke untuk menebas lantas menghindar seperti tadi. Tidak akan sempat kalau lengannya tidak ingin menjadi sasaran ledakan lagi seperti tadi. Luka bakar yang dia terima sudah menjadi bukti bahwa dengan menebas pun bukan berarti tidak akan terkena bom di baliknya. Dan lagi, terbangnya burung-burung itu sangatlah cepat meski hanya buatan. Deidara memang sesuai dengan posisinya sebagai sepuluh besar panglima perang.

Namun dibekali dengan otak jenius, Sasuke pun memang tidak perlu diragukan. Begitu ketiga burung Deidara yang tersisa berhasil mengepungnya, sebuah kubah api muncul berputar membakar mereka. Ledakan-ledakan burung tersebut diredam pertahanan absolut tersebut.

Melihat apa yang Sasuke perbuat, tawa Deidara memecah malam.

"Uchiha Uchiha. Senang melihatmu serius seperti ini."

Memang tidak mau kalah, seperti yang sudah terihat sejak awal, Sasuke pun melakukan serangan balasan dengan mengeluarkan tangan kanannya dari dalam kubah. Dan seketika itu pula bola-bola api kecil melesat tak kalah cepat dari burung-burung salju Deidara. Siap membakar si pria pirang yang kini jutrsu tertawa semakin keras.

Seperti yang Sasuke lakukan terhadap serangannya, Deidara pun berusaha menghindari semua bola api itu dengan berlari memutar. Hanya saja, dia sama sekali tidak menangkisnya. Dibiarkannya bola-bola api seukurang kepalan tangan orang dewasa itu menari-nari di udara. Berusaha menyentuh tubuhnya yang tengah berkelit dengan berbagai gerakan. Berputar, bersalto, melompat maupun menyerong sambil terus berlari.

"Lihat Uchiha! Kau menyedihkan!"

Rahang Sasuke mengeras. Sharingannya semakin memerah mengikuti gerakan Deidara. Kemarahan telah sampai pada puncak kepalanya. Berlari sebanyak dua jangkauan, Sasuke mengayunkan tendangan api seratus delapan puluh derajat ke arah Deidara. Namun sayang, lelaki itu bisa menghindarinya dengan menjatuhkan diri ke kiri yang langsung disambung dengan berguling dua kali.

Deidara segera melompat begitu melihat tendangan api Sasuke yang kedua dari bawah. Naas, pijakannya ketika kembali mendarat tidak tepat. Tubuhnya oleng ke belakang dan hal itu diketahui Sasuke tiga detik lebih cepat sebelum tungkai Deidara menapak tanah berumput. Dihiasi seringaian kemenangan, dia melancarkan dua kali tendangan api beruntun sekaligus. Memang kemampuan pupil mata yang hebat.

Begitu pula dengan kejadian setelah dia menembakkan serangan. Tiga detik sebelum api-apinya mengenai Deidara, seringai Sasuke lenyap. Ternyata keberuntungan masih belum berpihak padanya.

Meminimalisir cedera, Deidara membiarkan punggungnya menyentuh rumput terlebih dahulu. Pinggulnya diangkat hingga kepalanya berada di sela kedua kakinya dan dengan dibantu oleh kekuatan pada kedua tangan yang berada di samping telinga, tubuh Deidara diputar kedua tangannya sembari membawa salju untuk membungkusnya. Dia lolos dari api Sasuke.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Deidara melakukan hal mengejutkan tanpa jeda setelah ia melepaskan perlindungannya. Dengan hanya berdiri menggunakan tangan kirinya, sebelah tangannya yang lain bergerak cepat ke arah Sasuke. Menciptakan duri-duri tajam es dari dalam tanah. Memanjang membentuk lengkungan yang rupanya bisa di hindari Sasuke dengan hanya melompat.

Niat membunuh Deidara terpancar begitu jelas dari sorot matanya. Tak kenal ampun terhadap musuhnya, cepat dia menggunakan kaki-kakinya untuk membentuk kuda-kuda sempurna. Ia arahkan kedua telapak tangan bermulut terbukanya itu ke arah Sasuke yang masih setengah melayang.

Tawa Deidara kembali meledak untuk yang kesekian kali saat melihat hawa dingin dari mulut di telapak tangannya menutupi tubuh Sasuke. Hanya ada putih yang semakin putih. Dapat Deidara rasakan tubuh Sasuke yang terdiam di tempat begitu kedua kakinya berpijak kembali ke rerumputan. Lelaki Uchiha itu tidak sempat menghindari serangannya. Dalam benaknya, refleksi bongkahan es berbentuk bungsu Uchiha itu menari-nari girang. Dia lah pemenangnya.

Setelah tiga menit berlalu, hembusan angin dingin itu usai. Dia tersenyum lebar saat penglihatannya mendapati bongkahan es yang jauh lebih besar. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Tidak hanya dapat Sasuke seorang, tapi Manda si ular besar turut serta menemani tuannya. Sasuke masih sempat memanggil Manda, tapi sayang masih kurang cepat.

"Kau memang hebat Uchiha. Menggunakan hewan panggilanmu itu untuk perlindungan."

Tawa kecil Deidara keluar juga. Tawa mengejek. Sama mengejeknya dengan matanya yang kini memicing.

"Tapi sayangnya kemampuanmu yang katanya hebat itu tidak ada apa-apanya."

Jeda sengaja ditimbulkan Deidara hanya untuk menatap gunungan Manda yang membeku.

"Aku kecewa."

"Terima kasih atas pujiannya."

Deidara terbeliak. Tubuhnya pun menegang. Muncul dari belakang tubuh Manda yang membeku, Sasuke memposisikan diri di samping bongkahan es Manda yang pecah setelah ia menjentikkan tangannya sekali. Meninggalkan kepingan-kepingan es kosong yang mulai menguap.

"Tenang saja. Aku tidak akan membuat permainanmu jadi membosankan di saat aku baru saja memulainya, Deidara."

Deidara terkekeh. Seringainya tampil kembali.

"Baguslah. Kalian berdua suami istri memang pintar sekali menghiburku."

Kening Sasuke semakin berkerut. Ada sesuatu di balik kata-kata Deidara yang ia tangkap.

"Maksudmu?"

Mendengarnya kekehan Deidara semakin keras.

"Kau memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"

Tak menyahut. Sasuke menunggu perkataan Deidara yang berikutnya.

"Pada dasarnya permainan ini sudah kumulai sejak lima tahun yang lalu, Sasuke."

Masih tak bersuara. Namun kali ia bukan menunggu, tapi tengah mencerna maksud ucapan ketua divisi penyergapan tersebut. Otaknya bekerja cepat menganalisis pesan apa yang tersirat di baliknya...

"Diawali dari istrimu, hingga sampai pada giliranmu sekarang."

...Hingga tiba-tiba saja kedua matanya yang berpupil Sharingan membulat. Tepat setelah ucapan Deidara menyusul, dia menemukan jawabannya.

"Kau...

Kalau benar begitu...

"...Kau yang telah membuat Sakura koma?"

Dua sudut bibir Deidara tertarik berlawanan semakin panjang.

"Betapa menyenangkannya menghancurkan Uchiha pelan-pelan."

...Deidara pantas mati.


Naruto menghela napas lega begitu mendapati tubuh istrinya berbaring di ranjang mereka. Hatinya yang sempat mencemas saat disambut oleh suasana rumahnya yang temaram di pukul delapan malam sepulang dari menemani Hikari membeli hadiah untuk Hideaki seketika menguap tak berbekas. Pasalnya, untuk masuk dalam kategori jam tidur yang berlaku di keseharian keluarganya—ralat. Keseharian seluruh shinigami dewasa yang baru akan beranjak tidur tepat saat pukul dua puluh empat—pukul sepuluh malam lebih empat puluh lima menit seperti sekarang ini terlalu cepat, kecuali untuk anak-anak.

Dan lagi dia tidak ingat Hinata meminta izin darinya untuk meninggalkan rumah. Tentu saja dia merasa gusar akan matinya seluruh lampu rumahnya kecuali penerangan di sepanjang tangga, ruang tamu dan dapur.

Berusaha untuk tak menimbulkan suara agar Hinata tidak terbangun dari posisi tidur yang memunggungi pintu kamar, Naruto mengintip wajah Hinata dari balik bahunya. Kebiasaannya memandangi wajah tidur istrinya sama sekali belum berubah sejak masih pengantin baru.

Dia ulurkan tangannya untuk membelai pipi sang istri, seperti kebiasaannya selama ini. Baru saja ujung telunjuknya mendarat pelan, Naruto terkejut bukan main.

Dengan kecepatan yang tidak diduganya, tiba-tiba saja Hinata mencengkeram pergelangan tangannya. Naruto sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengelak karena Hinata telah bangkit lantas melompat ke belakang tubuh Naruto. Ikut serta membawa tangan suaminya selaras dengan gerakannya.

Yang dapat Naruto sadari hanyalah tubuhnya yang telah tengkurap di ranjangnya dengan tangan kanan dipelintir di pinggangnya dalam satu kali gerakan.

Dia mengerjab sesaat setelah merasakan dingin di pergelangan tangannya yang dikunci. Seulas senyuman tersungging di atas ekspresi Naruto yang telah memahami kondisinya.

"Akhirnya..."

Naruto tahu, bahwa suatu saat nanti semua tindak kejahatan akan selalu dipertanggung jawabkan. Tidak peduli telah selama apapun waktu berlalu.

"Kau di tangkap karena terbukti telah membantu Uchiha Sasuke merusak keseimbangan dunia Shinigami dengan dunia manusia, Uzumaki Naruto."

Karena pada dasarnya, yang jahat akan selalu dikalahkan oleh yang baik.

"...Kau benar membuktikan ucapanmu ya, Hinata."

Nyeri di dada yang seketika Naruto rasakan merefleksikan bagaimana terlukanya ekspresi Hinata di belakangnya. Demi kebenaran dan demi perintah dari Deidara selaku ketua tertinggi divisi penyergapan tempatnya tergabung, Hinata sesungguhnya telah siap menyeret suaminya sendiri ke penjara. Tapi demi apapun, dia masihlah memiliki perasaan.

"Maafkan aku. Ini perintah."

Naruto menghembuskan napas pelan.

"Tak apa. Aku sudah tahu konsekuensinya."

Dibantu oleh Hinata, Naruto menarik diri untuk turun dari ranjangnya. Kedua netranya melihat beberapa rekan sedivisi Hinata yang ternyata telah siap siaga di sekitar mereka. Rupanya, sejak awal ia sudah di tunggu di balik kamuflaase gelap rumahnya.

Begitu Naruto dipindah tangankan kepada seorang pria berambut coklat sebahu, disempatkannya untuk menoleh pada sang istri sebelum dia dibawa pergi.

"Tolong jaga selalu Hikari sampai semua ini selesai."


To Be Continued...


A/N:

Halo semuanya, maap atas lamanya waktu untuk mengupdate. Aku sibuk dengan kegiatan sekolah.

Oh iya, mulai chapter ini cerita sudah memasuki konflik utama. Ada perubahan waktu yang terjadi di sini dari prolog yang udah aku tulis. Maap ya, karena untuk penyesuaian cerita. Apa ada yang tau di mana perubahannya? Fufufufu.

Semoga kalian semua tetap membaca fic ini ya :D

Sampai jumpa,

Sakura Hanami