Soul Guide
Chapter 3 – Hawkeye's Revenge & Chaotic home-part a
Roy Mustang (riza) mulai memutar otaknya. Ini tidak dapat dijelaskan dalam alchemy ! berarti hal ini tidak nyata dan tidak perlu ia percayai, kan.. ingat, alchemist tidak percaya akan hal atau kejadian yang eksistensinya dipertanyakan, tidak nyata, atau tidak dapat diselidiki dengan ilmu pengetahuan.
Yap. Tenang saja… ini hanya mimpi dan keesokannya ia akan bangun...
BUKAAN! Ini betulan. Jiwanya dan Jiwa Lieutenantnya tertukar gara-gara benturan yang amat keras. Kalau dipikir-pikir ulang, sekarang kesalahannya sekarang menjadi 94,5 persennya dan Hawkeye tinggal 5,5 persen saja. Ingat, siapa yang mengajak main petak umpet ? Dia, kan. Berarti, sekarang bebannya nambah lagi…
"Lieutenant.. ada masalah ?" Riza sudah mencoba bersikap senormal mungkin untuk mengingatkan Roy agar kembali ke pekerjaannya. Tapi tangannya terasa gatal untuk mencabut senjata. Sayang, hal itu tidak mungkin ia lakukan. Ia dalam wujud roy mustang, tidak pernah mencabut senjatanya, menembaki Lieutenantnya yang seharusnya amat rajin dan cemerlang saat bekerja. "sepertinya anda kurang sehat ?"
Penekanan dalam kata sehat sudah dibuat sejelas mungkin, menandakan bahwa Roy harus segera bekerja, dan untunglah orang ini mulai connect, sehingga ia meminta maaf, dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Havoc." Panggil Riza (roy). "pulang nanti kau ada janji kencan ?"
"aah.. sir. Saya tahu anda nanti ada kencan dengan gadis di toko bunga itu, kan ? udah, deh, sir ! saya juga udah bosen karena setiap kali target saya dimakan anda duluan…" kata-katanya memang terlihat pasrah dan mengalah, tapi sebenarnya dari tampang kesalnya saja sudah terlihat kalau Havoc masih belum menyerah, hanya saja sudah mengalami terlalu banyak kekalahan sehingga apa bedanya kalah dengan mengalah !
Riza memainkan senyumnya, senyum biasa yang digunakan Roy Mustang ketika idenya berjalan di saraf pusatnya. "begini… aku… ingin menyelesaikan paperworkku… jadi maukah kau saja yang keluar bareng dia ?"
"Colonel menawarkan cewekknya dan bilang mau menyelesaikan paperwork ? MUSTAHIL !"
"cepat… mau tidak ? atau, kau saja, Fuerry ?"
"eeh ! iya…iya…! Mau, mau sir !" Havoc buru-buru menjawab agar tidak diserobot Fuerry. "makasiiih sirr !"
Riza tersenyum lagi. Dengan wujud Roy, dia bisa berbuat baik pada orang lain, kan… jadi mak comblang untuk teman-temannya yang pacar-pacar mereka diambil Colonel… Dari sudut pandangannya, Ia bisa melihat jelas wajah kesal kolonelnya (Riza) yang mau tidak mau mengerjakan paperwork dan mengingat kencannya yang sudah pasti cancel untuk malam itu.
---
Semua officer sudah pulang. Havoclah yang pertama kali pulang, buru-buru keluar sambil melompat-lompat dan menggumamkan lagu tak jelas karangannya sendiri, lalu berlari ke arah toko bunga. Kemudian, disusul Fuerry, Brenda, dan terakhir Falman. Sisa kedua orang ini, tenggelam dalam kesunyian di kantor, dengan beberapa alunan gesekan pensil yang menyerupai gesekan Stradivarius di telinga mereka.
"Sir... anda sudah selesai menemukan caranya ?" Riza bertanya, sepenuhnya berharap colonelnya menjawab iya. "saya sudah mentolerasi untuk mengerjakan tugas-tugas anda yang tertumpuk untuk hari ini, kemarin, kemarinnya lagi, kemarin punya kemarin, hingga dua minggu yang lalu !"
Roy menyeringai kembali. "kalau belum, aku tidak akan menjadi state alchemist, Lieutenant !" Lalu lelaki itu mengambil kapur, dan menggambar lingkaran besar di kantor itu. Ia menepuk kedua tangannya, lalu memukulnya ke dalam lingkaran itu.
BZZAAARRR
Cahaya putih terang melingkupi ruangan itu. riza merasakan dirinya seperti ditarik oleh sebuah kekuatan lain, dan ia merasakan jiwanya dirampas begitu saja… setelah itu… tidak ada apa-apa lagi yang ia rasakan.
Cahaya putih itu meredup, menyisakan dua orang officer yang terjatuh di tengah lingkaran itu.
"ba…bagaimana ?" tanya roy perlahan, kecapekan setelah melakukan transmutasi berdasarkan tulisan yang baru saja ia buat. "ki..kita sudah kembali ?"
Roy berlari mencari cermin, lalu bersorak kegirangan. "YYYEESS !"
Hati Riza berdegup kencang. Entah ini perasaan tegang kembali melihat tubuhnya yang balik ke dirinya sendiri, atau karena saking senangnya juga. Ia mengambil cermin, tangganya bergetar ketika melihat wajah yang terpantulkan di depannya.
"APANYA YANG YES, SIR !" teriaknya. "ini mah sama aja !"
"karena itu, yes !" ia menyeringai lebar. "aku yang hebat ini saja tidak bisa melakukan transmutasi itu… berarti kita harus menunggu sampai fullmetal pulang…. Dan… aku bisa makan kue sepuasnya di rumah ! YEESSSS !"
Riza kesal, dan mengutuk dalam hatinya. Pokoknya ia akan melakukan pembalasan dendam untuk roy yang telah menggunakan badannya seenak saja supaya bisa makan kue-kue manis. "hm…bicara soal rumah, sepertinya sudah sore… lebih baik kita pulang saja…"
"aku pulang ke rumahku, atau kau pulang ke rumahmu. Atau kau pulang ke rumahku, atau aku pulang ke rumahmu ?"
"bisakah anda memakai bahasa yang lebih mudah, sir ?" tanyanya kesal sambil mengambil coat Roy dan memakainya. Dulu ketika ia memakainya, coat itu kebesaran sekali. Sekarang, ia merasa tubuhnya yang menjadi seperti raksasa…"dan, lebih baik anda pulang ke rumah anda pulang ke rumah anda sendiri saja.. saya tidak mau anda mengacak-acak rumah saya dan mencari-cari tahu hal yang tidak ada hubungannya dengan anda."
"aah.. jangan begitu, donk ! memangnya aku ini bertampang sebagai penguntit yang akan mengacak-acak lemari pakaianmu ?" tampangnya itu… membuat Riza merasa muak, apalagi Roy mengenakan wajahnya. Ia bersumpah, seluruh hidupnya saja ia tidak pernah membuat tampang seperti itu !
"Keputusan saya sudah bulat, sir !" dengan begitu, diikuti oleh tampang Riza hawkeye, alias Roy Mustang yang lemas karena tujuan awalnya tidak tercapai.
---
"hey… pria itu manis sekali, ya ?" tanya seorang gadis bernama Grace pada Havoc.
"hm ? yang mana ? pasti tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan dan ketampananku, kan ?"
Gadis itu mengambil tangan Havoc, lalu mendekatkannya ke arahnya supaya bisa melihat jelas pria yang ia tunjuk, yang sedang berjalan ke arah apartemen. "yang itu…. sepertinya dia seorang military officer ?"
COLONEL MUSTANG !
"aah….mana ? tidak ada.. itu hanya ilusimu saja, ketika melihat diriku yang tampan ini…" ia cepat-cepat mengalihkan perhatian gadis itu, agar ending yang ia harapkan tidak berakhir tragis dengan pilihan : a) gadis itu malah jatuh cinta pada colonel. B) sepanjang kencan topic pembicaraannya hanya colonel. C) pada akhirnya gadis itu akan bilang maaf… tadinya sih kau tipeku… tapi gara-gara melihat orang itu, kau jadi bukan tipeku lagi… sekali lagi, maaf…
Tidaaak ! Colonel sialan ! jangan-jangan ia memang sudah merencanakan hal ini dari tadi-tadi untuk menyakiti hatiku ? aaahh… kurang ajar ! heey… tunggu sebentar… ada yang aneh di sini…..
Tadi itu, benar kan Colonel Roy mustang ? Lalu ngapain dia masuk ke apartemen… Lt. Hawkeye ?
Blushed ! muka Havoc tiba-tiba memerah dan hidungnya berdarah hebat. Ia cepat-cepat minta izin pada Grace, lalu berlari menyusul Colonel yang baru dilihatnya itu.
"MUSTAANNNGG TAAAISSAAA !"
… tidak ada jawaban.
"hooy ! Mustang Taisa !" teriaknya lagi ketika sudah dekat. "anda sedang ngapain anda di depan apartemen Lt. Hawkeye ?"'
"ah.. iya..iya.. kenapa, Havoc ?" riza baru sadar, kalau namanya sekarang jadi Colonel Roy Mustang, bukan lagi Riza hawkeye.
"kenapa anda ada di depan apartemen Lt. Hawkeye ?"
"ah… aku mengantarkan paperworkku yang katanya mau ia kerjakan. Tumben, Lieutenant hawkeye baik sekali, kan…" waah.. Riza !hebat aktingmu bagus sekali…
"iya…ya sudah. Saya mau bersenang-senang dulu…dan.." matanya sedikit mengancam, tapi tidak berani berlebihan karena itu superior officernya. "jangan pernah menampakkan diri di depan kita, ya ! Daagh !"
Riza memberikan seulas senyum di bibirnya, tak tahan melihat reaksi Roy nantinya.
