Soul Guide

Chapter 6 – You messed it up !

"yap. Itu saja. Tidak ada penolakan ?"

roy dan Riza menggeleng. "tidak sir."

"kalau begitu, silahkan…"

Riza menjejakkan langkah beratnya ke luar pintu. Tak disangka ia mendapatkan misi yang menyebalkan yang harus ia lakukan. Membereskan para preman dan semua orang-orang yang tinggal di sepanjang garis perbatasan East, dimana daerah itu berbatasan dengan gurun kering dan tidak ada apa-apa.

Semuanya dimulai dari satu jam yang lalu, karena Roy yang bodoh yang melakukan terlalu banyak kesalahan dalam berperan sebagai dirinya.

/ flash back/

jam 12 siang. Jamnya perut keroncongan. Jamnya waktu anak-anak tidur siang. Jam waktunya orang kantoran isirahat…. Jam waktu lieutenant hawkeye alias Roy mustang ditahan bekerja. Waktu istirahat mereka masih 2 jam lagi. Kejamnya military yang tidak mengikuti tanda waktu istirahat internasional yang diakui oleh semua orang.

Sebelumya, pagi itu, Riza sambil menodongkan senjatanya, sudah membuat langkah keras. Ia meraih kerahnya, mengangkatnya ke atas (mumpung dalam bentuk Roy, ia mampu menganggkat roy ) kata-kataya jelas tak kan ia lupakan. Sir,anda harus memainkan peran saya dengan baik. Saya tidak mau tahu. Tidak boleh ada orang lain lagi yang mengetahui rahasia kita. Mengerti ?

Katanya menekankan frase mengerti seolah-olah memang dia memiliki kekuasaan lebih, dan hendak membunuhnya jika ia macam-macam. Waktu istirahat nanti ia pun tidak berani makan yang aneh-aneh lagi, karena pasti akan dimarahi Riza.

Dari ujung penglihatannya, ia menangkap khas wajah Havoc yang tertidur saat bekerja. Ah… iya. Bersifat seperti Riza Hawkeye. Ingat, Roy. Kamu adalah Riza Hawkeye. Kamu adalah Riza Hawkeye.

DOr !Dor ! DOr !

"AAUU !"

"bangun, Sir !" teriaknya dibuat semirip mungkin dengan kebiasaan Riza. Ia baru sadar ketika melihat bercak merah yang mengalir dari atas meja. Kita telusuri lagi ke atas….dari… kuping Havoc !

"aaahhh….!" Teriaknya stress, melihat kupingnya yang kena tembakan dari Roy. Tidak parah-parah amat, hanya menyerempet sedikit…namun sudah membuat satu eastern gempar – mungkin- "KUPINGGKUUU !"

"aaaa..aah… so..sori, sir…"

"RO- HAWKEYEEE ! APA YANG KAU PERBUAT !" Riza berteriak kencang-kencang, walau sedikit malu harus menegur namanya sendiri. Tapi mau bagaiamana lagi ? Fuerry sudah belari ke klinik military mencari dokter. Brenda teriak-teriak tidak jelas, sambil mengerjakan paperworknya dengan rajin, mungkin takut akan menjadi korban selanjutnya.

Riza yang kesal, melepaskan tembakannya tepat 1 mm disebelah kuping kanan Roy. Pria itu untungnya belum sempat mengelak, dan hampir mendapat serangan jantung ketika mendapatkan tembakan cepat itu.

"hey ! hati-hati donk ! ini juga tubuhmu tahu !" dampratnya kesal sambil menghapus keringat dingin dari wajahnya.

"karena itu saya melencengkan 1 mm. Kalau enggak, peluru itu sudah mengenai kepala anda seluruhnya dan pasti anda akan koma di rumah sakit untuk 4 tahun !" balasnya kesal lagi dengan nada setengah berteriak.

"nyumpain, ceritanya, nih ?" nadanya mulai naik dan terdengar semakin sengit.

"masalahnya, kebodohan anda itu sudah melebihi batas dari kesabaran saya. Saya mau sabar bagaimana lagi ?"

"ah.. semaumu, lah !" teriaknya sambil melemparkan file pada Riza. "ini, kerjakan. Aku malas…"

nice timing, saat Roy(Riza) melempar file itu, Fuhrer King Bradley masuk ke dalam, dan file tersebut terlempar dengan indahnya mengenai wajahnya. Sementara di ruangan, terlihat wajah Brenda yang sedang berteriak-teriak hal yang tidak jelas, Havoc dengan telinganya yang berdarah dan berlarian ke sana kemari, Roy (Riza) yang melempar file tersebut dengan bekas tembakan di dinding, dan Riza (Roy ) yang masih memegang senapannya.

Bradley berhendam, lalu berkata, "ada yang bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi di TAMAN KANAK-KANAK MILITER ini ! " tatapan matanya jelas pekat menatap Riza dan Roy yang keduanya memegang senjata. "Hawkeye, Mustang, temui aku di kantor SEKARANG JUGA"

Keduanya saling berpandangan, melemparkan tatapan ini semua gara-garamu ! pada satu sama lain, lalu menangguk lemah sambil menundukkan kepala mereka. "yes, sir."

/ end of flash Back/

"Sir, apa kita masih punya air yang cukup untuk sekitar 3 hari kedepan ?" tanyanya sambil memeriksa tas punggung militer milik Roy dan miliknya. "tinggal satu gang lagi yang harus kita hadapi dan tugas kita selesai."

"cukup…." Ucapnya cepat sambil melemparkan senapan pada Riza. "tuh. Punyamu..kita akan menunggu mereka bergerak duluan baru kita serang…kali ini aku akan mengumpan, dan kau yang membackingku. Bisa ?"

"apa tidak terlalu berbahaya kalau anda yang mengumpan ? Lebih baik saya saja yang maju."

"mau memulai pertentangan seperti waktu itu lagi ?" ia menyeringai lebar. Di mission ini mereka lumayan belajar untuk bekerja sama, walau menggunakan kombinasi yang aneh, misalnya orang yang mengetahui Roy mustang, si lelaki flame alchemist, terperangkap karena melihat Riza Hawkeye yang dianggap tidak ditakuti itu. Begitu pula sebaliknya. Dan keadaan ini cukup menguntungkan mereka, walau kelihatannya canggung.

Roy bangkit berdiri dari bangku tua yang ia duduki dari gedung yang sudah reyot itu, lalu merenggangkan kedua tangannya. Matanya menyipit ketika mendengar suara suara yang aneh tertangkap di telinganya. Bunyi itu di telinganya semakin jelas, namun Riza sama sekali tidak menyadarinya. Tentu saja, wanita itu tidak terlalu tahu soal turun langsung ke medan perang. Ia adalah seorang sniper, yang bekerja melindungi dari jarak jauh.

Suara menggeluduk tersebut semakin jelas di telinga Roy, dan baru ia sadar apa bentuk asli itu sebenarnya.

"RIZA TENGKURAP !" teriaknya tiba-tiba, seraya ledakan besar terdengar, dan atap tembok tersebut berjatuhan.

BBBRRRAAAKKK! GLLUDDUKK !

Roy dengan cepat melompat ke arah Riza, menaruh dirinya sebagai tameng untuknya. "Uhuk…uhuk…" lelaki itu masih terbatuk-batuk, bersyukur ledakan tersebut tidak terlalu besar, dan tidak ada kepingan besar yang menimpa kepalanya. "kau… tidak apa-apa lieutenant ?"

Roy masih berada di atas Riza yang berbaring dengan punggung membelakangi lantai berpasir yang sekarang sudah penuh dengan jatuhan atap itu. Tangannya berada di sebelah kanan dan kiri kepala Riza, melindunginya.

Mata Riza memancarkan sinar kekesalan. Terlihat sedikit air dan perubahan warna menjadi merah di sana. "ugh…. Seharusnya… anda tidak melakukan seperti itu, sir…seharusnya….seharusnya saya yang melindungi anda…bukan sebaliknya…"

"jangan begitu…." Roy tersenyum. Lieutenantnya ini memang sedikit polos dan ia senang sekali tampangnya itu. "sekali-sekali aku juga harus bisa membalas jasamu…"

Mata mereka beradu, menyalurkan perasaan mereka melalui tatapan mata. Riza yang tiba-tiba merasa mukanya merah sekali itu segera melemparkan mukanya ke samping, menghindari tatapannya. "hey…. Mukamu merah, loh…"

"ti..tidak"

"kalau begitu, coba…sini perlihatkan…" ejek Roy lagi. Ia tahu, Riza sudah blushing setengah mati, dan ia menikmati hal ini. "atau… kau takut mereka nantinya akan meledak seperti bom ?" Dengan lembut, satu tangan Roy memutar kembali wajah Riza itu. mereka bertatapan sekali lagi, dan perlahan, roy memajukan wajahnya. Semakin dekat….semakin dekat….. dan…

"well..well..well… mungkin aku mengganggu colonel dan Lieutenantnya yang sedang pacaran ?"

Keduanya tersentak kaget, langsung spontan menarik diri satu sama lain. Mereka melihat Rald, si pemimpin Gang yang mereka cari itu dihadapan mereka, dengan satu tangan yang terbuat dari automail itu.

"ayo, Colonel mustang ! mana apimu ?"

riza tersenyum. Ia maju ke hadapan Rald, memainkan senyum tipis di bibirnya. "sayang sekali…" ia menggumam di bibirnya. "apiku, ….ya !"

DOr ! DOR ! DOR !

5 Peluru melejit dengan cepat ke arah Rald, 4 darinya ditangkis dengan tangan kanan automailnya, sedankan satu lagi dengan tangan kirinya. "sial…." Ia mengutuk, melepaskan pengawasannya dari Roy yang berwujud Riza itu.

CLETAKK !

BZZARRR !

Api menyambar diri Rald, yang hebatnya, teryata matanya cukup awas dan ia sempat menghindar. Dilemparnya jaket kulit cokelat mudanya, lalu dengan cepat disobek-sobekannya sebelum benda itu jatuh ke lantai. Ia mengelap darah yang mengalir dari mulutnya, tersenyum menjijikkan. "puih…. Menarik sekali rupanya. Kau tidak mau menggunakan apimu, Mustang ? malah melatih bawahanmu ? naïf sekali…"

Riza hampir mati tertawa cekikikan lagi, namun karena ini sikonnya serius, maka ia mengurungkan niatnya. Ini sudah kesekian kalinya orang salah melihat mereka lagi. Yah… mau bagaimana lagi. Mana ada orang yang tahu kalau jiwa mereka tertukar…!

"rasakan ini !" teriaknya, berlari dengan kecepatan yang luar biasa, menorehkan pisaunya di tubuh Roy yang berjiwa riza itu. Wanita itu tidak sempat menghindar sama sekali. Tubuhnya terasa teriris pisau tajam itu berkali-kali. Satu serangan Rald itu rasanya sudah hampir melumpuhkan lima puluh persen dari total kekuatannya. Ia jatuh tertelungkup, menaruh satu tangannya di lengan kirinya yang berdarah.

"aw.. ternyata colonel mustang itu adalah pria selemah ini ?"

Riza berusaha berdiri dengan kedua kakinya lagi. Darah berceceran mengotori seragamnya dan lantai. Tangan kanannya bergetar mengarahkan pistol itu ke arah Rald. Perlahan, ditariknya pelatuknya, hendak melepaskan tembakan. Sekali lagi, dengan cepatnya, Rald telah berada di depannya, memukul tangannya dengan cepat sehingga senapan itu jatuh dan tertembak ke lantai. Satu kakinya ia gunakan untuk memukul perut Roy (Riza) hingga ia terlempar menabrak dinding dan terjatuh.

CLIK !

Roy menjentikkan jarinya dengan sarung tangan yang sekarang rasanya kekecilan, sehingga kadang molor-molor di tangannya. Ia perlu karet untuk membiarkan sarung tangan itu tetap berada di tempatnya.

Lelaki berjenggot tebal itu tidak sadar akan ability api yang dimiliki Riza Hawkeye yang sekarang ada di belakangnya itu. Tubuhnya terbakar gosong, namun tidak terlalu parah. Ia masih bisa berdiri.

Roy berlari ke arah Riza, mengecek apa keadaannya baik-baik saja. Dari sana, ia baru bisa melihat wajah Rald jelas yang sudah gosong itu, tertawa terbahak-bahak.

"bagus sekali… baru kali ini aku lihat kombinasi seindah ini… tapi apakah kombinasi ini dapat bertahan menembus api neraka ?" tawanya kembali menggelegar lebih kuat lagi. Roy merasakan hirasat buruk yang ada. Hidungnya kali ini menangkap suatu bau yang juga familiar... bensin ? namun, ia telat bereaksi, dan ruangan itu sepenuhnya sudah dikelilingi oleh tarian kobaran api merah yang menjilat-jilat seluruh bangunan.

Riza (Roy) melihat Riza yang sudah tidak mampu berdiri lagi, lalu menggendongnya dengan gaya pengantin ke luar. walau dengan tubuh Riza, menggendong dirinya sendiri itu termasuk pekerjaan yang berat, karena tidak disangka, ia cukup berat juga. Roy berlari menembus api yang besar itu. heran… biasanya api adalah sahabatnya…tapi kali ini api yang mau membunuhnya.. ironis sekali.

Sesampai di daerah yang cukup jauh, Roy menurunkan Riza dan membaringkannya dibawah pohon, mengecek lukanya oleh Rald tadi. Dari tempat mereka terlihat api mengepul dari salah satu bangunan, dan pastinya Rald mungkin sudah terbakar habis di sana.

"tidak keren…" bisik Riza ditengah rasa sakitnya itu.

"apanya yang tidak keren ?"

"kali ini tampangnya seorang wanita yang menggendong pria lari… "

Roy tertawa akan komentarnya itu. Ia merobek ujung kemejanya dengan mulutnya, lalu mengikatkannya di bahu Riza untuk menghentikan pendarahannya. "kau ini…ceroboh sekali. Kau tahu tubuh siapa yang kau pakai ?"

"ma..maaf, sir…" Riza tidak berani menatap Roy. Ia tahu, pria itu pasti marah besar padanya. Ia ceroboh, tidak memperhitungkan dulu kekuatan musuh dan main maju seenaknya tanpa rundingan dulu. Sekarang, ia sudah pasarah akan kata apa pun yang akan keluar dari mulut roy.

"berkeyakinan…. Cepat bertindak… tidak menyerah…. Aku suka sifatmu itu, lieutenant."

Barusan dia bilang suka ? dia tidak memarahiku ? Riza hanya dapat tersenyum, sebelum ia memejamkan matanya yang lelah itu. "terima kasih banyak, sir…."