Soul guide
Chapter 7- Mustang's Fiancee !
KKRRRIINNGG !
Bunyi telepon di pagi hari membuat Riza sebal. Satu minggu lewat setelah mereka menyelesaikan misi hukuman mereka di gurun itu. Selama satu minggu itu pula ia belum pergi ke kantor sebab tangannya yang terluka. Dengan malasnya akhirnya ia mengangkat telepon itu.
"hallo ?"
suara wanita terdengar di ujung sana. "hey pumkin, aku sudah rindu banget di sini !"
pumkin ? apakah itu nama kecil Roy ? wanita ini dekat sekali dengannya… "ya… ini..siapa, ya ?"
"jahatnya ! bagaimana kau bisa lupa ? kita kan sudah sehidup semati ! selalu kita bersama-sama…."
Waduh. Kata-katanya ini tambah lagi membuat Riza kesal. Siapa sih yang meneleponnya atau mungkin menganggap menelpon Roy ?
"sori… a..aku lupa."
"ini Gabriella. Masak kau lupa ? hey… pumkin, mama mau bertemu denganmu lagi… gara-gara satu tahun ini kau belum pulang dan kau belum buat keputusan soal pernikahan…"
sekarang yang ada di otak riza hanyalah usaha merelatifikasi kata mama, pulang, dan pernikahan. Jadi… wanita itu…apakah dia tunangan Roy ! akh… mengapa hatinya terasa kesal sih ? heran…
"y…ya… a..aku banyak kerjaan." Wah. Bohong yang indah.
"hm…. Masak begitu, sih… pokoknya mama mau bertemu denganmu apa pun alasannya. Oke ? kalau enggak hubungan kita putus….oke ?"
"…baiklah."
/Ckik/
Semudah itukah ia meng-oke-kan datang ke kampung halaman ceweknya Roy ? ah…iya. Nanti saat di kantor ia akan menanyakan hubungan mereka. Ingat, bukan karena cemburu, ya ! ini karena ingin tahu !
Ngomong-ngomong soal cemburu…. Sebenarnya akhir-akhir ini Riza tidak dapat menghilangkan scene saat Roy melindunginya waktu di misi mereka yang terakhir. Hal itu selalu membuatnya berakhir dengan blushing, memeluk erat-erat bantal dan berkelakuan seperti gadis delapan belasan yang sedang jatuh cinta.
Heey… tidak. Ia tidak jatuh cinta, kok… hanya… mungkin gemas pada colonel. Mungkin begitu. Yap. Oke. Satu statement yang clear untuk menyatakan hal tersebut bisa ia nyatakan seperti ini; dia hanya suka melihat tatapan yang penuh ambisi itu. Hanya itu. tidak lebih.
Tok…tok…tok…
"ngapain anda ke sini, sir ?" tanyanya ketika melihat tampang Roy di depan pintunya.
Roy berhdendam keras. "lieutenant, tidak bolehkah aku datang mengunjungi rumahku sendiri ?"
"baiklah…silahkan masuk, sir."
Ahh… iya. Baru saja ia pikirkan untuk bertanya di kantor. Tapi ini timing yang lebih baik, kalau ia menanyakan secara personal- sekarang.
"AHEM, sir" Riza memulai percakapan, sambil menawarkan Roy duduk dan teh. "… tadi pacar anda, Gabriela menelpon dan ingin agar anda datang menemui mamanya…masalahnya saya tidak tahu tempatnya di mana….dan.. dia sempat menyinggung soal pemutusan hubungan kalian kalau anda tidak datang."
"APA ! HAWKEYE, pinjam telepon !" perintahnya cepat, lalu ia segera mendial nomor yang ia kenal betul. "katakan apa yang aku diktekan padamu, oke ?"
"Hallo ?" Riza bicara dengan ragu-ragu.
"kyaaa ! pumkin ! kenapa ?"
"jangan panggil aku pumkin !" teriak Roy mengkomandokan apa yang harus diulang olehnya.
"ja..jangan panggil aku pumkin…."
"lho ? selain kamu ada siapa di sana ? kok tadi aku mendengar suara wanita ?"
"um….."
"MAMAA ! kak pumkin sudah punya tunangan ! dia bakal bawa tunangannya juga ke sini !"
"sial ! siapa yang bilang punya tunangan, hoy !" teriak Roy kesal.
"a…aduh… sir. Anda yang bicara saja, deh…saya bingung harus bilang apa…."
"hey, Gaby !"
… "benarkah pumkin akan segera menikah ?" (suara mamanya Roy)
"yup ! ada tunangannya tuh di telpon"
"akhirnya setelah sekian lama pumkin kecil kita akan menikah juga….."
"HOY ! GABY ! DI-A BU-KAN TU-NA-NGAN GUAAAA !"
tuuuuuut….tuuut…tuuuut…
terlambat. Telepon sudah ditutup. Roy terkulai lemas diatas sofa. Bagaimana nasibnya sekarang ? Ia mengalihkan pandangannya pada Riza yang terlihat bingung itu. Tiba-tiba muncul ide dari dirinya untuk menggoda.
"iri, ya ?"
"AHEM !" Riza terbatuk-batuk, entah kenapa. "bukan begitu...ya… lebih baik anda memberitahu sedikit tentang dia."
"Gaby…. Dia kakakku. Tepatnya kembaranku yang lahir 1 detik lebih cepat. Karena kami lahir hampir bersama-sama, maka itu dia suka bilang kalau kami ini sehidup semati… "
"lalu, bagaimana soal perkawinan yang dibicarakannya ?"
roy segera menutupi mukanya yang memerah karena malu, lalu melemparkan kepalanya sandaran sofa. "i…itu… mereka selalu memaksaku untuk cepat-cepat menikah… ka..karena aku sudah hampir 30 tahun…"
ROY ! menikah ! masih dipikirin ! Dia mah, tinggal mencomot satu wanita yang dikencaninya, kasih cincin kawin, ke chapel, pemberkatan, wedding kiss, pesta, selesai ! beres, man ! entah kenapa itu masih bisa jadi masalah baginya ? Riza sendiri pun tak kunjung bingung.
"sudah… tidak perlu dibahas lagi. Yang penting, ini berarti kita harus minta izin pada fuher untuk minta cuti beberapa hari." Katanya cepat, sambil bangkit berdiri dan memakai boot militarynya. "ayo. Nanti East HQ gempar lagi kalau Hawkeye terlambat."
Riza tersenyum, segera berlari ke arahnya dan ikut berjalan bersama ke Headquarter.
a/n : sori… lagi enggak ada ide buat bikin sesuatu jadi lucu. Di sini aku buat karakter baru, Gabby, kembaran Roy yang rada brother complex. Hehe… reviews, ya… bingung.. chapter ini juga rada hancur deh… stress
