Soul Guide

Chapter 8 – Truth & Dare

Stasiun Eastern terlihat semakin mengecil dari pemandangan mereka, sejalan dengan berlarinya kereta yang mereka tumpangi ke arah West City, ke tempat rumah roy berada. Oh iya, keduanya telah mendapatkan izin berlibur ke sana untuk 2 minggu. Tadinya Roy cukup kesulitan mencari alasan untuk dirinya sendiri pergi ke rumahnya sendiri . Akhirnya dengan sangat terpaksa, ia memberi alasan untuk menjaga keselamatan colonel –seperti yang biasa Riza katakan- di perjalanan, akhirnya ia diperbolehkan libur selama 2 minggu. Lumayan… tidak ada paperwork, tidak ada senjata yang ditodongkan…. Santai.

Hari ini keduanya memakai baju yang casual, karena kepergian mereka kali ini tidak ada hubungannya dengan military sama sekali. Riza –Roy- memakai celana khaki selutut yang berwarna coklat krem muda, dengan kaus hitam dan kemeja hijau tua lumut yang tidak dikancing. Karena sudah terbiasa hidup dikalangan laki-laki (sejak 16 tahun ia berada di military, dan disekitarnya semuanya laki-laki, hanya sedikit wanitanya) maka ia mudah menentukan baju apa yang ingin dipakainya.

Lain halnya dengan Roy. Walau sudah menjadi seorang playboy yang setiap malam gonta-ganti cewek di ranjangnya, ia jauh menemui kesulitan dalam memilih baju bebas yang dipakainya. Akhirnya, hal yang belum pernah ia lihat Hawkeye pakai itulah yang ia kenakan sekarang. Rok mini jeans biru dengan tanktop berwarna putih. Rambutnya ia gerai di bahunya, dengan alasan tidak bisa mengklip mereka dengan benar.

Riza nyaris pingsan ketika melihat Roy/dirinya mengenakan pakaian macam itu. Lagipula darimana sih ia menemukan rok mini lamanya yang rasanya sudah ingin ia sumbangkan saja, namun sayang karena itu hadian dari sahabatnya ketika berulang tahun dulu. Akhirnya dengan sedikit paksaan, sedikit (menodongkan senjatanya dan memojokkannya hingga keringat dingin bercucuran) ia memaksa roy, setidaknya mengenakan jaket biru muda daripada hanya tanktop saja.

Roy tersenyum cengar-cengir, menatapi dirinya di kaca. Puas sekali akan penglihatannya. Alangkah bahagianya lagi jika betulan Riza Hawkeye yang mengenakan pakaian se-feminim ini. Namun, rengutan muka di seberang tempat duduknya, membuatnya tidak jadi membuka mulut, berkomentar soal minat fashion feminimnya.

"hey… riza" panggilnya memecah kesunyian, berharap wanita itu tidak sedang beTe saja… kalau tidak, habislah dia. "bosan…"

"Hawkeye, sir" Riza mengoreksinya secepat mungkin. "ya… silahkan anda hibur diri anda sendiri… lagipula kata bosan itulah awal mula kesialan kita sekarang"

CROT ! nancep, man ! memang sih… karena ia bosan itulah ia mengajak mereka main petak umpet… dan jadinya sekarang. Ia menikmati memakaikan dirinya sendiri baju-baju imut, yang tidak pernah disentuh Riza.

"tidak. Tidak ada anda, sir, de el-el ! sekarang ini kita sedang libur… dan… bagaimana dengan main truth or dare ?"

oh tidak ! awal dari kesialan lainnya yang akan menimpa mereka lagi ! Riza hendak menolaknya, namun telah disambut dengan kata ini perintah dari atasanmu, sehingga seperti waktu itu lagi, mau tidak mau ia mengikuti permainan orang bodoh ini.

"oke, kamu duluan, roy. Mau truth atau Dare ?"

"dare" jawabnya mantap tanpa ragu-ragu.

"…. Kalau begitu, kamu harus merayu bapak yang ada diujung sana, oke ?" Riza menunjukkan pada seorang bapak tua yang duduk dipojok kereta. Roy berjalan ke sana dengan pedenya, lalu mulai merayu si bapak.

"bapaak… anda umur berapa ? dari sini bapak mau kemana ? minta nomor teleponnya dong…"

SI bapak terdiam saja. Roy bingung. Beberapa detik kemudian, terdengar teriakan histeris roy(riza) minta tolong, dan Roy kembali lagi ke tempat duduknya, dengan pipi merah bekas tamparan.

"sialan.. kau tidak beritahu aku kalau istrinya itu si gendut diseberangnya…" gerutunya kesal sambil menatap tajam pada Riza yang ketawa cekikikan melihat Flame alchemist, yang paling jago merayu ditolak mentah-mentah plus hadiah tamparan. Bagus…bagus.. hey… sekarang gilirannya. Ah, sial.

"Truth or dare, riza ?"

"truth" sebenarnya ini jawaban yang licik. Ia tahu, kalau ia memilih dare, bisa-bisa Roy yang masih kesal baru dikerjain itu akan memberi soal yang serupa, dalam hal ini mungkin diganti merayu gadis.

"kalau begitu…" ia menyengir. "kau…. Pernah jatuh cinta, riza ?"

Blushed ! sialan ! pertanyaan macam apa itu ! dan… kenapa mukanya memerah ? heyy ! ia harus menjawabnya dengan jujur ? tapi ia kan tidak jatuh cinta… ia hanya mengaggumi…

"p..pernah…" suaranya pelan sekali, ia tertunduk malu sambil menahan mukanya yang memerah. Roy tidak begitu yakin, namun ia bersumpah jelas sekali Riza berkata pernah. Puas. Ia tersenyum puas sekali. balasan secara mental langsung lebih baik dari balasan fisik.

"ya sudah. Sekarang giliranmu. Ku pilih… truth." Ia menambahkan "biar aman…"

truth… kira-kira pertanyaan apa yang bagus untuk mengorek keterangan dari roy, ya…?

Sekilas, memorinya tentang pengalaman mereka ketika sweeping di mission kemarin teringat lagi. A..apa waktu itu…. roy mau menciumnya ? sialan ! kok aku penasaran sih ? k..ka…kan… sudah kubilang.. kalau aku ini tidak jatuh cinta padanya… dan… hey ! siapa yang bilang 'pernah' tadi ? cih..mulut memang tidak dapat dikontrol…

"roy….. beritahu aku…" DEG ! DEG ! eeh…apa-apan ini ? ada degupan jantung ? milik siapa ? miliknya ? kok bisa ? kurang ajar. Ia deg-deg-an. Bagaimana ini… " beri tahu aku…. Beri tahu…." Ia menarik nafas dalam-dalam. "kapan kau berhenti menghisap jempolmu..."

GUBRAK !

"ha !" roy memasang tampang cengo. Jelas sekali Riza bingung harus bertanya apa, dan akhirnya otaknya kacau. "eh…itu sih… sampai sekarang juga masih sering…."

"APA ?" (gantian kali ini Riza yang kaget mendengar jawabannya, bukan pertanyaannya)

"ya… kalau aku stress…."

"oh…okay…" Riza memegangi kepalanya yang rasanya sakit itu. lumayan membuat shock, kalau kolonel yang berkharisma itu masih menghisap jempol.

"truth or dare ?"

"dare, lah !" kapok ia pilih Truth. Roy bisa mengorek rahasianya sampai paling dalam. Hey…pikir-pikir, pertanyaan yang tadi enggak salah banget juga, kok… lumayan, jadi tahu kalau sampai sekarang roy masih sering hisap jempol.

"kiss me, riza"

"WHAT ?"

ia menyengir lebar. "kiss me"

WHAT ! bi..bisa-bisanya dia kepikiran memberi dare seperti itu ! memang orang itu berotak ular, tapi pikirannya picik ! Tiba-tiba, riza menyadari sesuatu, membiarkan perasaan apa pun yang ada padanya ini, lalu maju ke arah colonelnya, dan mengecupnya – di dahi.

"sudah. Mudah, kan ?"

memang. Tidak ada sulitnya mengecup diri sendiri, kan ? hahaha… memang. Untung kau tidak terbawa emosi, riza… untung juga tubuh mereka tertukar…hahaha !

"CURANGG !" roy ingin berteriak-teriak. "tidak bisa ! aku maunya kau menciumku ! dalam wujudku sebagai pria. Karena itu, hal itu tidak dapat diwujudkan sekarang. Makanya, save itu buat nanti kita sudah kembali ke semula !"

Riza menarik nafasnya. Colonelnya ini memang tidak mau rugi. Dasar…dikasih hati minta jantung dikasih jantung minta ampla…dikasih ampla..minta hati lagi ! serakah boo !

"pokoknya aku enggak mau tahu ! ulang, ulang !" rengeknya lagi. "truth atau dare !"

"lho ? ya..sudah. kalau begitu truth saja…" siapa lagi yang mau dare ? nanti dia akan minta yang lebih aneh lagi.

"hm… Riza… kau mengangggapku ini sebagai apa ? atasanmu ? temanmu ? sahabatmu ? atau lebih dari itu ?"

mata mereka beradu. Riza membuang muka lagi. Pertanyaan ini…. Menjebak sekali. ia tidak bisa menjawabnya. Ia sendiri tidak tahu ! hanya atasannyakah ? temannyakah ? sahabatnyakah ? atau…lebih ? apa maksud lebih itu !

"AHEM !" potongnya, merusak suasana yang sudah dibangun sejak tadi. "roy, West city sudah terlihat… lebih baik kita berunding dulu soal peran kita… ini jauh lebih penting…"

Roy terlihat sedikit kecewa, namun berusaha tidak menampakannya di wajahnya. "kau masih mengutangku dua…" ia setengah berbisik, riza tidak yakin benar menangkap suara itu sayup-sayup dari balik telinganya.

To Be Continued…