Soul Guide
Chapter 9 – The Answer
Rumah milik Roy di kampung halamannya bukanlah rumah mewah seperti yang tadinya dibayangkan Riza. Tidak berada di tengah kota, namun sedikit kepinggiran kota sehingga jauh dari keramaian kota. Rumah mereka berlantai tiga, dengan taman kecil di depan dan di belakang rumah. Di seberangnya, terdapat lapangan besar untuk olahraga yang dipakai oleh masyarakat setempat. Taman depan rumah Roy penuh dengan tanaman hijau yang menghiasi, ditambah lagi dengan apiknya lampu taman dan gazebo kayu yang membuatnya menjadi rumah kecil nan hangat idaman Riza Hawkeye.
Dengan berat, Riza menapakan jejak kakinya dan tangannya gemetar ketika memencet bel. Tadi di kereta mereka sudah sempat membicarakan soal ini. Riza, yang berperan sebagai Roy, tidak akan banyak omong, dan Roy sudah berjanji untuk menutupi kekosongan bicaranya. Pokoknya mereka akan berperan, selayaknya atasan dan bawahan yang sedang pergi liburan, dan Roy akan berusaha sekuat mungkin supaya terlihat seperti Riza – melindungi colonelnya-.
TING..TONG…
Bunyi derap kaki terdengar, semakin jelas dan semakin cepat. Begitu pintu besar kayu rumah itu terbuka, seorang wanita berambut hitam panjang melompat langsung memeluk Roy (Riza) dan tidak membiarkannya lepas, hingga rasanya Riza hampir kehabisan nafas.
"pumkin ! pumkin ! lama sekali tidak berjumpa !" teriaknya bahagia. (Roy : untung Riza yang menjadi aku… kalau tidak, sengsaralah aku…hihihi…rasakan kau, Riza penderitaanku !) Ia tersenyum lebar, namun setelah itu ia melepaskan Roy setelah melayangkan pandangannya pada Riza (roy). Gaby menyengir. "jadi.. itu tunanganmu, huh ?"
"bu…bukan !' riza cepat berteriak, namun sepertinya tidak didengar oleh Gabby. Dengan cepat ia memeluknya juga dengan erat, sambil menjabat tangannya berkali-kali. "hwaa ! seleramu bagus juga, ya ! dia maniiss !"
"hw..hwaa…. le..pas..kan….ti..dak..bi..sa…na..fas…"
untung Roy berkata seperti itu. Kalau tidak, Gaby akan terus memeluknya karena gemas. AKhirnya, setelah penyambutan yang lumayan hot itu, ia menyuruh keduanya masuk. Riza memandangi Gaby. Ia seorang wanita yang kira-kira usianya hampir sama dengan Roy. Struktur wajahnya pun hampir sama. Namun, tidak seperti Roy yang wajahnya sedikit bulat sehingga terlihat baby face, wajah Gabby lebih terlihat elegan, cantik dan dewasa. Postur tubuhnya pun bagus. Ideal sekali. tinggi dan langsing. Pokoknya, mental Riza langsung jatuh melihat kakaknya yang sempurna itu.
"kenapa ?" tanya wanita itu melihat adiknya memandanginya sekian lama.
"a…ah… tidak. hanya saja.. kau banyak berubah…"
tentu. Yang tadi diceritakan Roy tentang kakaknya ialah seorang wanita tomboy dengan wajah kekanak-kanakan. Tapi memang benar, sih… Roy bilang ia berjanji untuk pulang tahun lalu, karena sudah 7 tahun ia tidak pulang. Yah…dasarnya si kolonel yang sibuk sama kerjaan sekaligus kencan, makanya jadwalnya selalu penuh dan tidak sempat terus.
Riza tidak banyak ambil pusing. Ia berjalan melewati koridor rumah sambil memandangi barang-barang yang ada di sana. Di dinding tergeletak foto keluarga mereka. Tiga orang perempuan di belakang berdiri berjejer, yang paling kanan, sepertinya itu Gabby, di depannya, sepertinya Mr. mustang dan di sebelahnya Mrs. Mustang, yang sedang dudul. Ditengah-tengah mereka, terdapat seorang anak laki-laki, yang sepertinya ialah Roy. Fotonya diambil sudah cukup lama, melihat umur roy di foto itu yang kira-kira umur 5-6 tahunan.
"waah…. ! pumkin ! lama sekali kau tidak pulang… sudah 7..8 tahun, ya !" lagi dan lagi, riza dipeluk keras oleh mamanya roy. "kau sudah besar !"
"ma, ini tunangannya Roy ! manis juga loh…tak kusangka seleranya bagus juga…"
Illia Mustang, mama Roy mengalihkan pandangannya pada Riza (RoY) yang berdiri canggung, menahan tawanya melihat penderitaannya yang ditanggung oleh Riza. "hm…sepertinya kau wanita baik-baik...senang bertemu denganmu. AKu Illia Mustang."
"Riza Hawkeye"
"Riza Mustang !" potong gaby padanya. "kalian kan sudah bertunangan…sebentar lagi kalian pasti akan menikah…" ia tersenyum-senyum bahagia.
"bukan !" muka keduanya blushing. "kami belum bertunangan kok !"
"ya… dia hanya bawahanku saja. Kan ada peraturan anti-fraternization di military. Tidak mungkin kami bersama, dong…." Potong Riza cepat, sebelum lainnya berpikiran hal aneh lainnya. Lagipula Roy bodoh sekali berkata belum bertunangan yang berarti akan segera bertunangan-nanti. Tapi ia juga lumayan canggung memanggil roy sebagai bawahannya. Rasanya tidak sopan… atau yah.. begitulah…
"ooh…kenapa ? dia kan manis…"
hey… kenapa semua bilang aku manis ? pikir Riza. Ia tahu, ini pasti gara-gara baju yang dipilih Roy. Memang tidak salah juga, sih… ia juga mengakui dirinya sendiri bahwa ia/ Roy memang amat manis dalam pakaian itu. tapi… sepertinya pikir-pikir satu decade dulu deh buat pakai baju seperti itu…
"ah.. ya sudah. Kalau begitu, langsung ke kamarmu saja, roy ?"
Riza mengangguk. "oh iya… Riza nanti mau pakai kamar mana ?"
"di kamarmu, bodoh !" Gabby tertawa cekikikan lagi melihat keduanya blushing sekali lagi. "dan.. kalian jangan melakukan hal yang aneh-aneh, ya ! kalau misalnya tiba-tiba papa datang dan melakukan sweeping mati deh…"
a..apa maksud perkataannya tadi ? hah ! mana mungkin mereka mau melakukan hal yang aneh-aneh itu ! For God Sake ! mereka tidak akan nafsu melihat tubuh mereka sendiri ! lagian siapa yang mau melakukan aneh-aneh sama roy ? Dia seorang yang tidak punya komitmen. Salah-salah bisa berujung pada hal yang tidak diinginkan…
Ah… pikiran Riza penuh sekali hari itu. sampai-sampai tidak terasa mereka telah menjejakkan langkah mereka ke lantai tiga, di depan kamar Roy. Kamarnya tidak terlalu besar, berantakan, jelas sekali seperti kamar cowok. Ranjangnya double bed, sehingga pasti mereka tidak akan kekurangan tempat nanti, sekaligus mereka bisa tidur berjauh-jauuuhan. Gabby mengantar mereka hingga sampai ke depan kamar, lalu meninggalkannya dan turun ke bawah sambil berpesan kalau air panas untuk mandi sudah siap di bawah.
2256 hours. Roy melirik jam yang ada di atas mejanya. Jam yang berbentuk panda, yang dulu ia transmutasikan pertama kali. Ingin sekali ia buang karena memalukan. Tapi kenangan selalu terpintas bagaimana bahagianya ia mengenal alchemy sampai sekarang ia ketagihan dan bisa terhipnotis oleh api.
Tanpa basa basi, roy melemparkan dirinya ke ranjang yang sudah lama tidak ia gunakan. Semuanya masih tetap pada posisi semulanya. Bola basket favoritnya masih bertengger di sudut ruangan. Poster-poster atlit favortinya pun masih menempel dibelakang pintu kamarnya. Pokoknya semuanya percis sama. Tidak berubah.
Sudah delapan tahun…
Roy hampir ketiduran, ketika merasakan sentuhan tangan lembut yang menggoyang-goyangkan badannya. "bangun, roy…. Kalau mau tidur, setidaknya ganti baju dulu…." Dibukanya matanya perlahan. Ia ngantuk sekali. perjalanan kereta membuatnya lelah, ditambah lagi pelukan hangat dari mama dan kakaknya itu.
Dilihatnya Riza mengenakan celana pendek selutut dan kaus basket tanpa lengan. Sepertinya ia menemukannya di lemari bajunya dulu. Wanita itu menyiapkan bantal untuk tidur, seraya memberikan night gown padanya. "tuh…. Pakai itu saja. Sudah kuambilkan dari suitcase yang kau bawa. Kenapa hanya bawa yang model seperti itu, sih ?"
"hoah…" roy masih menguap, sambil berjalan ke kamar mandi, menjawab dengan entengnya. "aku suka… manis."
Tidak disangka…. Ternyata Roy benar-benar punya selera fashion wanita yang cute-cute dan feminm. Ia sendiri pasti kalah cantik dibandingkan dirinya yang ditinggali jiwa Roy sekarang.
Riza sudah tiduran di atas ranjang. Ia memilih tidur di bagian dekat jendela daripada yang dekat pintu. Dari dulu ia senang melihat bulan dari jendela tempat tidurnya. Roy masuk ke dalam selimut setelah mengganti bajunya. Pertama sekali, riza mengira bahwa pria itu akan segera tidur, atau paling tidak, akan mengerjainya. Tapi tidak. ia tidur dengan punggung berbalik membelakanginya, dan mulai mengajaknya bicara.
"hey… riza"
"kenapa ?"
"jawaban yang tadi…."
"yang mana ?"
"posisiku dimatamu sekarang…"
Blushed ! kenapa dia ingat pertanyaan itu ? padahal tadi di kereta ia sudah berhasil membuat Roy melupakannya dengan mengalihkan pada topic lain. Sekarang, kenapa pula mukanya memerah bak gadis yang sedang jatuh cinta, dalam hal ini, pria.
"hey… riza. Jangan pura-pura tidur. Aku tahu kau masih bangun."
"…. A…aku enggak tau roy."
"terlalu sulit, ya….bagaimana kalau kuganti begini…" Riza berbalik yang tadinya mereka punggung menghadap punggung, sekarang menjadi menghadap punggungnya sendiri. Sementara Roy, tetap berceloteh tanpa memperdulikannya. "kalau kukatakan….um…hm…"
sepertinya ia juga malu untuk mengatakannya. Colonel Roy Mustang ? si player itu ? malu ? lucu sekali.
"Kalau kukatakan… maukah kau jadi pacarku…kau mau ?"
riza bisa menebak muka Roy sekarang pasti sedang semerah mukanya. Jantung mereka berdua seakan berlomba siapa yang berdebar lebih kencang. Riza menarik satu nafas dalam, lalu tersenyum walau tahu Roy tidak melihatnya.
"aku mau coba…."
"apa ?"
Riza memajukan badannya, lalu mengecup dirinya sendiri di pipi. "jalan denganmu, roy."
"benar ?"
"iya…"
"YESS !"
"tapi kita tidak akan mulai dating."
"hah ?"
"sebelum kau bisa membuat badan kita kembali, aku tidak akan menganggap diriku sebagai pacarmu."
"kok gitu, riza ?" ia mendekatkan dirinya ke dirinya sendiri dan menikmati hangatnya Riza di sana.
"iya… supaya kau rajin…. Sudah,tidur sana. Aku ngantuk. Kita lanjutkan pembicaraan ini besok saja…"
"good nite bunny…" bisik Roy pelan padanya.
"I love you, pumkin…."
Ah.. kata-kata itu. padahal ia benci namanya dipanggil pumkin. Kekanak-kanakan. Tapi kalau Riza yang memanggilnya, itu lebih terasa seperti sebuah panggilan sayang. Bodo amat…. Ia sudah mengantuk juga. Matanya lelah, dan kemudian menutup. Roy tersenyum dalam tidurnya. Hari ini hari yang menyenangkan…
a/n : hahaha.. aku makin seneng bikin cerita ini…soalnya lagi ada ide yang ngalir terus. Aku rada bingung, enggak tahu apakah aku mainin perasaan mereka terlalu cepat atau enggak. Kayaknya OOC banget, ya ? susah bikin karakter untuk tetap dalam jalurnya…. kasih komentar & saran & kritik & de el el, ya ! thx.
