Soul Guide
Chapter 10 – championship !
"pagi, gab !" sapa Riza ceria pada kakaknya. Pokoknya hari ini harus berjalan seperti rencana. Ia akan menjadi seorang adik yang penurut pada kakaknya. Mereka harus berperan sebagai atasan dan bawahan karena kalau tidak, Ilia dan Gabby pasti akan segera menyiarkan undangan untuk pesta pernikahan mereka yang rasanya rada imposible untuk sekarang karena mereka masih tertukar tubuhnya. Haah… menyedihkan sekali…
"pagi, roy. Sleep well dengan Riza tadi malam ?"
Riza mencibir padanya. "sudah kubilang kami tidak melakukan apa apa !"
"pokoknya Roy, kubilang, jangan main-main dengan perasaan wanita, ya…. Aku tidak ingin gadis sebaik dia dijadikan mainanmu saja…" ia memperingatkan. Sayang sekali, harusnya ia bilang langsung ke Roy saja daripada ke dirinya. Mata gabby menatap tajam dirinya. Sepercah pancaran kesedihan dan kemarahan terpancar dari mata hitamnya itu. "…. Tapi aku percaya padamu, kok…"
Riza memberinya senyuman ringan, lalu berjalan ke meja makan menuangkan susu di gelasnya.
"Riza belum bangun ?"
"sudah…. Dari jam 3 pagi… tapi kusuruh tidur lagi saja… kan kita tidak kerja hari ini…" Riza mengambil sebuah gigitan besar di sandwich isi ham yang diberikan oleh Gabby padanya. "sepertinya ia lelah sekali gara-gara perjalanan kereta kemarin… biarkan saja, lah.."
bohong. Sebenarnya dari tadi Roy belum bangun. Seperti biasa, orang itu selalu bangun siang dan sering terlambat ke kantor. Tapi, demi menjaga nama baik dan image baiknya di mata Gabby, terpaksalah ia berbohong, bukan demi Roy… tapi demi namanya !
"kau perhatian padanya, roy"
"ti..tidak…" muka Riza memerah sedikit. Sepertinya ia sudah salah bicara.
"kuharap nanti kau bisa menjadi seorang suami yang baik buatnya…"
Lho ? pembicaraan melompat jauh sekali ? Kira-kira bagaimana ya tanggapan Roy sebenarnya kalau yang sekarang sedang berbicara dengan gabby itu benar-benar Roy, bukan dirinya ? ah.. mukanya memerah gara-gara membayangkannya. Apakah Roy akan menolaknya mentah-mentah, atau mungkin malah blushing ? Kalau ia memang blushing, Riza ingin sekali melihat wajah Roy yang malu-malu yang cukup jarang ia tunjukan pada siapa pun.
"UHUk !…. Aku akan bangunkan Riza…"
Riza sendiri tidak tahu harus bilang apa. Pokoknya yang terbaik adalah mengalihkan pembicaraan secepatnya ! Wanita itu lalu berdiri dari kursinya, berjalan ke kamarnya lagi.
"benar, kan ! kau sayang padanya, roy ! itu bukti kalau kau dalam penyangkalan dirimu sendiri !" teriaknya keras pada Riza yang sudah berlari ke atas. "dasar, roy… padahal aku ingin sekali melihat wanita yang ada di sampingmu itu bahagia…" bisiknya perlahan dibawah nafasnya.
Gabby menatap pantulan gelas berisi susu dengan sedih. Ia mencampurkan dengan susu cokelat, lalu mengaduk-adukkannya sambil memainkannya seperti anak kecil. Ia…kecewa.
Akhirnya jam 10, Roy baru selesai mandi dan sarapan. Gabby mengusulkan mereka untuk pergi ke berjalan-jalan di sekitar pinggir kota. Roy dan Riza mengiyakan idenya, sekalian untuk berolahraga dan mencari udara segar.
"tunggu sebentar !" teriak Roy pada mereka yang sedang berjalan menyusuri pinggir taman kota. "aku mau ke kuburan Den dulu…"
"Riza, kau tahu Den ?" tanya Gabby curiga.
"eeh… tidak…eh…iya. Roy yang memberitahukannya, iya, kan ?" Roy menyikut sikut Riza dengan kencang, berharap gadis itu cepat tanggap. "kupikirRoy pasti mau pergi ke sana, mumpung kita sudah di sini…"
"eeh…be..betul…iya..iya… Gab, ke tempat Den dulu, ya…."
"roy…" bisik Gabby canggung, ia menatap ke tanah sambil memainkan rok panjangnya. "…. daerah itu sudah dijadikan lapangan…."
Roy shock mendengarnya. Ti..tidak mungkin…. Memang, sih.. itu sudah lama… tapi ia masih rindu pada Den. Anjing itu sudah setia padanya dari ia berumur 3 tahun, hingga akhir hayatnya ketika ia tertabrak oleh mobil dan akhirnya anjing kecil itu mati di tangan roy.
"kalau begitu… ayo kita pergi ke lapangannya…" bisik Roy perlahan sambil menunduk. "…mumpung kita sudah di sini…"
---
Benar-benar apa jyang dikatakan Gabby adalah betulan. TEmpat yang dulunya berbukit-bukit dan masih penuh dengan semak-semak itu sekarang telah menjadi lapangan luas yang diaspal. Beberapa anak kecil sedang bermain basket, ada beberapa anak lainnya yang bermain lompat tali. Di pojok dari lapangan itu ada taman bermain anak-anak. Sebuah sandbox besar di mana anak berumur 3-5 tahun sedang membuat sand castle mereka, sedangkan di seberangnya ada ayunan dan perosotan kecil yang penuh dengan anak yang mengantri. Tidak begitu damai juga. Ada seorang anak yang bertubuh besar, menyelak masuk dan membuat anak perempuan kecil di hadapannya menangis.
Riza yang tidak tahan melihat hal itu, segera maju dan memarahi si anak bertubuh besar hingga kabur tunggang langgang. Sebaliknya, ia tersenyum pada si anak kecil, lalu menepuk perlahan rambutnya agar ia tidak menangis lagi.
Setelah beres, Riza kembali lagi ke tempat Roy dan gabby yang memandanginya tadi.
"roy ? selama 7 tahun ini kau berubah menjadi penyayang begini, ya !" Gabby terkejut tak percaya. "..pasti karena ada Riza, ya kan ?"
Roy yang asli tersipu malu, begitu juga Riza. Gabby hanya tertawa senang melihat keduanya itu malu-malu.
"aah…ayo, cepat jalan !" teriak Riza sambil berbalik dan berjalan di paling depan, ketika tiba-tiba sebuah bola basket menghalangi jalannya. Sekumpulan anak di sana berpaling padanya dengan penuh harap agar ia melempar kembali bolanya.
"dik…boleh pinjam bolanya ?" tanya Riza sopan sambil berjalan ke arah mereka. "nanti setelah selesai kakak kembalikan."
Anak kecil itu… mungkin sedikit takut melihat roy, sehingga mereka asal mengiyakan saja. Kumpulan anak itu menyingkir ke pinggir lapangan, sementara gabby dan roy menyusul Riza ke tengah lapangan.
"ngapain, riz ?" bisik roy pelan supaya gabby tak mendengarnya.
"kalau aku menang, hutangku lunas… one on one, oke ?" Riza tersenyum licik.
"hutang…ah ! iya!" roy menepuk dahinya. Ia lupa hutang riza, padahal tadinya ia yang paling bersemangat menagih hutangnya. "tidak ! tidak bisa ! lagipula kau kan dalam wujud pria, aku wanita, jelas saja kalah…"
"jangan jadikan itu sebagai alasan, Lieutenant "
"…jadi kau benar-benar merendahkanku gara-gara sekarang aku ini kelihatan jadi bawahanmu, begitu ? siapa takut !" roy mulai terpancing oleh Riza. "kalau aku menang, hutangmu ku tiga kali gandakan, oke !"
Riza menarik nafas panjang. "whatever…"
dia pasti akan menang.
Gabby yang tidak tahu menahu sama sekali tentang negosiasi mereka ini disuruh menjadi wasit untuk game mereka. Pokoknya, siapa yang memasukkan 3 kali duluan, dia yang menang. Game dimulai dari Roy duluan yang mendrabble (Riza memberi kesempatannya sebagai ladies first). Bolanya direbut oleh Riza yang segera membuat slam dunk dan mencetak angka.
"mudah sekali kalau setinggi ini…" ejeknya pada Roy yang terlihat kesal, namun masih tetap dapat menahan emosinya dan bertindak arogan seperti biasanya.
"… jangan senang dulu… lihat saja…"
Kali ini bola yang didrabble roy kembali berhasil direbut oleh Riza. Perempuan itu bersiap untuk menge-shoot, namun sebelum bolanya menyentuh ring, segera ditangkap oleh Roy dan ia mencetak angka.
"satu sama, riz…" roy menyengir.
"itu nilai kasihan…biar angka seimbang."
Permainan terus berlanjut dan sekarang angka mereka 2 sama.
"kau hebat juga…" bisik Roy sambil ngos-ngosan, hendak memulai bolanya lagi.
"kau juga tidak buruk…"
"tapi aku tidak akan kalah !"
"aku juga.."
Roy tersenyum, mengecup pipi Riza di depan umum. "aku suka semangatmu, bunny…"
Riza terperanjat atas tindakan cepat roy itu. walau hanya anak-anak yang mungkin melihat mereka, tapi jantungnya rasanya hampir keluar dari tempat yang seharusnya. Darahnya memompa amat cepat ke arah kepalanya, sehingga pipinya bersemu merah sekali. "roy !"
Roy hanya tertawa kecil. "ayo, lanjutkan permainannya !"
Cara licik Roy berhasil. Riza tidak konsentrasi dalam permainan dan dengan mudahnya bola telah sepenuhnya dikontrol oleh roy dan ia pun membuat tembakan 3 point shoot yang indah, masuk dengan mulusnya ke dalam ring….-seharusnya.
Sialnya, hampir bola itu masuk, seorang laki-laki entah dari mana datangnya, telah melompat dan memukul bola itu keluar dari jalurnya. Score tetap dua sama…roy gagal mendapat ciuman 3 kali lipat dari Riza…
"sialan…" bisiknya dibawah nafasnya. Riza terlihat lega.
"tsk..tsk…tsk…" pria itu menggeleng-geleng kepalanya sambil mendatangi Roy. "gadis cantik sepertimu tidak pantas bicara sperti itu…" bisiknya dengan seduktif sambil mengangkat dagu Roy sejajar dengan wajah pria itu.
Gabby yang dari jauh menonton keduanya, berlari ke tengah lapangan untuk melihat apa yang terjadi. Ia menghentikan langkahnya dan mundur perlahan ketika melihat tampang lelaki itu. Mukanya dipenuhi rasa benci dan takut. Amarah yang tersimpan, juga dendam tergambar dengan jelas dari rautan wajahnya.
"ka…kau…"
Perhatian lelaki itu teralih dari Roy. Ia menurunkan wanita itu…maksudnya lelaki itu juga…atau… yah, pokoknya ia menurunkan roy (entah mau dibilang wanita atau lelaki, terserah!) Si orang misterius itu berbalik ke arah gabby, menyengir sambil berjalan ke arahnya.
"Hai, sayang ! sudah lama tidak bertemu !"
TBC
a/n : wah… karakter baru lagi ! aku suka ! orang ini… yah, lumayan ada hubungannya dengan masa lalu gabby…dan bakal kuceritaain di chapter-chapter berikutnya… trus, nanti juga akan kukeluarkan karakter baru lagi…mungkin satu orang lagi. Kutunggu setidaknya 2 reviews baru akan kuterusin cerita selanjutnya ! thx !
