Soul Guide

Chapter 11 – His & Her Past

"Hai sayang ! sudah lama tak bertemu !"

Gabby menyipitkan matanya, sambil tetap mundur teratur dan menjauhi dirinya. Lelaki itu justru malah terus mendekat padanya, hendak memeluknya sekali lagi.

"sudahlah Matt !! sudah kubilang kau pergi saja jauh-jauh !!!"

"oh, ya ??" Ia maju kembali sambil berbisik pelan ditelinganya, yang memberi getaran ke seluruh tubuh Gabby. "bagaimana dengan malam pesta waktu kelulusan itu, huh ??"

Gabby tergetar. Matanya sudah tak tahan ingin menangis sejak pertama kali ia melihat sampah itu. Untungnya Mattheas telah pergi meninggalkannya setelah ia melepaskan sebuah kecupan di pipinya dengan cepat. Ia terdiam.

"Gab !!" teriak Roy sambil berlari ke arahnya. "kau tidak apa-apa ??"

Pelan, ia menggunakan jari telunjuknya untuk menyeka ujung matanya yang telah berair. Ia menggeleng dan tersenyum. "tidak apa-apa koq… Ia tidak membuatmu terkejutkan, Riza ?

Roy menggeleng. "aku juga tidak apa-apa."

"kau betul-betul tidak apa-apa ?" sebenarnya Riza tidak ingin menanyakan hal itu. Jelas sekali Roy tidak apa-apa…Hanya saja ia melakukan itu sebagai bagian dari acting Roy Mustangnya yang sepertinya mulai ia hayati. "Kalau ia macam-macam lagi pada kalian, panggil aku saja."

Gabby mengeluarkan tawa kecil dengan gugup. "Roy..kau berperan seperti bodyguard kami saja…tidak apa-apa. Dia tidak akan ke sini lagi… tenang saja."

Riza menyentak nafasnya dengan keras. "ya sudah kalau begitu. Lebih baik kita pulang saja."

Sebenarnya perjalanan pulang mereka tidak terlalu mulus. Buktinya, mereka bertemu dengan beberapa kelompok orang yang tidak pernah diharapkan untuk bertemu. Kelompok pertama, peserta single, seorang wanita muda berusia sepantaran Riza yang mereka temui di depan caffee.

"Roy !!" teriaknya sambil dengan cepat melompat ke arah pelukannya. "sudah lama sekali kau tidak pulang ke sini !!" jelas sekali nada semangat dari dalamnya. Wanita itu berambut hitam panjang sepunggung dengan celana jeans pendek ketat dan kaus putih tanpa lengan yang tak kalah ketatnya, yang menunjukkan lekuk tubuhnya yang cukup indah.

"…anda siapa, ya ??" Riza menatapnya cukup lama sambil mengamatinya dari atas ke bawah. Tidak ada alasan untuk wanita ini memeluknya tiba-tiba begitu saja, dan ia tidak mengenalnya. Lagipula, dia ini WANITA, demi Allah ! Ia tidak senang dipeluk dan bersentuhan dengan wanita lainnya, apalagi dalam jangkauan dekat sperti itu.

Yang ditanya malah merenggut dan (untungnya) segera melepaskan pelukannya. "Roy ! Kehidupan dikota telah mencuci ingatanmu akan desa ini, ya ?! Masak kau bisa lupa kalau aku ini adalah- "

Roy yang menyadari siapa wanita itu segera belari dari jauh dan menggandeng lengan Riza dengan mesra. "sayang… siapa wanita itu ??" pelan-pelan, ia menyiku pinggangnya, memberi kode untuk ikut bermain dalam drama kecil mereka.

"uh…sendiri juga lupa. Kau tidak menunggu lama, kan ?" Riza tersenyum. Sejujurnya, ia sendiri hampir muntah dengan kebohongan sperti ini.

"Sebenarnya aku masih mau lihat-lihat lagi di toko itu…hanya saja aku lihat kamu dipeluk-peluk oleh wanita itu… aku kan jadi cemas…" Roy memberikan tampang memelas, sambil terus bergelantungan di tangannya.

"tidak…tidak… memangnya untuk apa aku selingkuh darimu, huh ??"

"OKAY !" teriak wanita berambut hitam yang sedari tadi sudah kesal melihat pasangan yang mesra ini, sedangkan dirinya yang dikacangin itu. "Fine ! Pasti karena wanita ini, makanya kau telah melupakan diriku, juga desa ini, kan !! Aku tahu, ini desa kecil, tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan di kota, tapi lihat saja kau… " ia menyipitkan matanya dan menatap diri Riza dengan tajam. "aku akan memberitahukan SEMUA kebenaran tentang dirimu pada gadismu yang sekarang. Biar semuanya tahu !! Biar terbuka semua sifat jelekmu !!"

Roy mengedipkan matanya beberapa kali, lalu menepuk-nepuk gendang telinganya, maksudnya gendang telinga Riza, berharap agar saat itu ia tidak jadi tuli seketika. "menarik. Sifat apa itu, kalau aku boleh tahu, huh ?? Roy… ada yang kau sembunyikan dariku ??"

Riza menggeleng. "silahkan, nona….nona siapa ?"

"Eri !" teriaknya kasar.

"Eri ?? sepertinya aku ingat nama itu…" bohong. Hanya saja feeling Riza mengatakan bahwa gadis ini adalah mantan Roy yang ke sekian ribu. Makanya ia bepura-pura untuk mengingatnya sedikit…setidaknya. "silahkan… ceritakan semua yang kau tahu…"

"Huh. Baik. Kalau kau mau tahu, nak. Kuberitahu saja kalau aku ini adalah pacar Roy 7 tahun yang lalu. Dia yang bilang kalau nanti ia pulang, kami akan menikah dan hidup bahagia. Tapi apa ? Pulang-pulang bawa gadis lain…Lihat saja. Paling-paling satu dua minggu setelah ini kau akan diputuskan !! semua di desa ini sudah tahu kebiasaannya !!"

Roy tertawa kecil lalu mengambil tangan riza dan menaruhnya di atas perutnya. "aku tahu…tapi itu kebiasaan lamanya… Memang pacarnya dulu banyak. Tapi sekarang sudah tidak, kan ?? Lagi pula dia ke sini tidak membawa gadis lain…Tapi membawa istri dan calon anaknnya "

Dua orang yang tersentak mendengar hal itu. Satu si gadis yang bernama Eri itu, kedua, Riza sendiri yang tangannya masih berada di atas perut tubuh aslinya. Gila !!! Roy benar-benar gila !! bohong macam apa itu !! Oke. Dia mau mengikuti permainan aktingnya, tapi tidak sampai separah ini !!

Muka Riza sudah memerah. Ia melirik ke arah Roy yang dengan pedenya menghadapi mantannya itu. Sepercah rasa malu menghantui dirinya. Tampang Roy di dalam dirinya, seolah menjadi gadis yang amat berani. Tidak takut apa pun. Namun terkadang juga bisa menjadi seorang yang amat manis. Feminim yang amat disukai lelaki.

Ia tidak bisa seperti itu. Walau tubuhnya sama, namun didiami oleh dua roh yang beda, membuat diri Riza Hawkeye terlihat beda sekali.

Sentuhan pelan mendarat di pundaknya. "hey…bengong, sir ? "

"tidak…tidak…"

"Hey !!!!" teriak Gabby dari belakang. "aku dengar ada ribut-ribut apa di sini ??"

"tidak…hanya si Eri saja…" Riza tersenyum, lalu mengambil kantong buah yang dibawa Gabby dan berjalan membawakannya. "bukan masalah. Kudepak dengan mudah…"

"roy…roy… urusi gadis-gadis lamamu di sini, lho… banyak dari mereka yang masih menunggumu…"

"oh, ya ?" Riza berpura-pura santai sambil tertawa. Padahal hatinya kaget setengah mati. Kolonelnya bukan hanya saja player di kota, tapi di desa juga…. Susah sekali punya colonel terkenal seperti dia…

Mereka berjalan pulang memutar karena ada kecelakaan di jalan utama. Maka itu mereka memutar sedikit lewat stasiun, dan disitulah mereka bertemu dengan kelompok kedua, kelompok yang amatttt mengganggu Roy.

"ahh !! betulkan ! sudah kubilang kalau menunggu di sini sebentar saja, pasti ada kemungkinan kita akan bertemu dengan mereka." Suara berat yang familiar terdengar di telinga Roy, ketika ia berjalan melewati stasiun. Jantungnya berdebar dengan cepat, menimbang-ninmbang pilihan antara memalingkan kepala untuk melihat atau tidak.

"ah…salah orang, kali…lagipula, menunggu di sini satu hari bukan ide yang tepat, kan ?!"

Duh..suara lain lagi. Lebih tinggi dan kekanak-kanakkan. Jangan-jangan itu memang benar mereka…tapi…Terlanjur, Kepalanya sudah berpaling pelan-pelan dengan slow motion untuk melihat siapa mereka.

"Benar kan !! LIEUTENANT HAWKEYEEEEE !!!! KAMI DI SINIIIIIII!!!!"

Suara lain lagi. Sedang. Plus bau rokok. Tanpa perlu mengidentifikasi mereka dari suara pun, kepalanya sudah menoleh sepenuhnya dan mengekspos wajahnya, sekaligus memberi harapan pada mereka.

"tuh, kan !! tidak sia-sia kita menunggu satu hari di stasiun…akhirnya kita bertemu Colonel dan lieutenant juga…" ucap Brenda sambil ikut berlari membawa tas barangnya ke arah Roy yang amat menyesal telah memperlihatkan wajahnya. Riz menghentikan tapaknya, lalu menoleh pula ke arah mereka. Setelah itu, wanita itu melepas tatapan garam Roy Mustang pada Roy yang membuat darahnya terasa mengering dan warna tubuhnya menjadi pucat pasi.

KENAPA MEREKA ADA DI SINI ??

Roy hanya menggeleng-geleng tak berdaya, lalu memberikan mata memelas bak anak anjing yang semoga ampuh untuk Riza.

"Havoc, Fuerry, Brenda !! Apa yang kalian lakukan di sini ???"

"uh… se..sebenarnya…Fuhrer juga memberi kami izin untuk menyusul colonel ke sini…"

"Aku tidak peduli kalau si tua setengah buta itu memberi izin atau tidak, tapi APAKAH AKU MENYURUH KALIAN KE SINI ?!!!"

Fuerry yang diteriaki itu merinding gemetaran, mirip dengan anjing kecil yang dulu ia temui di depan HQ pada saat hujan, di mana saat itu tidak ada seorang pun yang mau mengambilnya dan dengan terpaksa harus ia kembalikan lagi anjing kecil yang malang itu ke tempat sebelumnya yang amat dingin.

"Fuhrer menyuruh kami menginvestigasi Kolonel dan letnan agar tidak terjadi affair di antara mereka berdua." Jawab Havoc mantap tanpa menggunakan otak kecilnya itu untuk berpikir kedua kalinya. "Anda bisa menelepon Fuhrer untuk memastikannya, kok."

Ya..ya..ya.. Dialah Havoc si raja bohong yang paling dapat diharapkan pada saat-saat genting seperti ini. Riza menatap Havoc menyeluruh, memastikan apakah yang baru saja diucapkannya untuk betul atau bohong. Keduanya baginya sebenarnya sama saja. Sama-sama mendatangkan sial alias akan menimbulkan masalah baginya. Kalau memang Havoc berkata apa adanya, berarti Fuhrer telah mencurigai mereka berdua dan mereka sekarang sedang berada di posisi yang cukup genting (tidak untuk melupakan poin bahwa mereka telah memulai hubungan yang lebih serius, walau pun belum ada pengungkapan cinta yang pasti diantara mereka) dan kedua, kalau memang Havoc berbohong. Huh, rasakan tembakan mautnya nanti !! Berarti mereka telah membolos kerja yang juga berarti pulang dengan sambutan hangat dari kerjaan yang bertumpuk indah dan juga mereka telah melanggar perintah atasan, dimana ia -sebagai colonel -tidak pernah memberikan perintah untuk datang ke kampung halaman si Kolonel ini.

"Ya sudah. Ayo, ikut." Akhirnya ia mengalah. "Aku akan menelepon Fuhrer dari rumah saja dan kalau Fuhrer berkata dia tidak memberi izin, Havoc.,…" matanya tajam menatapnya. "silahkan ucapkan selamat tinggal pada kepalamu tercinta itu…"

Havoc menelan salivanya. Tangannya berkeringat dingin, kakinya bergetar ketakutan. Kok rasanya seperti diancam oleh letnan satu saja, ya…tidak seperti Colonel saja…"ugh. Tentu saja, sir." Cepat-cepat ia memberikan salute. "kami siap melaksanakan perintah anda apa pun juga di sini…"

Untung ia memberikan embel-embel itu sehingga Riza tak tahan untuk menyunggingkan sedikit ujung bibirnya ketika ia berkata "dismissed." pada mereka.

Well, rupanya ia punya bahan baku yang amat baik yang bisa ia eksploitasi…

TBC