Soul Guide
Chapter 12 : Bro & Sis's night – secret revealed : part I
Setelah perjalan panjang dan melelahkan sekaligus menyebalkan itu, kembalilah mereka ke rumah kediaman mustang, di mana para bawahan Roy –kali ini mungkin akan lebih tepat jika dikatakan bawahan Riza- menggali keuntungan dengan menginap di sana. Illia Mustang terlihat bahagia mendapatkan beberapa bawahan Roy yang dianggapnya care pada atasannya sehingga merela-relakan waktu dan jadwal mereka yang padat untuk datang berkunjung.
Gabby juga kelihatannya amat ceria dengan kedatangan teman-teman adiknya. Dengan segera setelah sampai di rumah, ia berlari ke arah dapur dan membuatkan teh untuk mereka semua. Belum selesai teh diteguk, gadis itu telah mengeluarkan kue strawberry cheese cake di hadapan mereka, dan hal ini juga cukup membuat Riza berjuta-juta kali menginjak keras kaki Roy yang tidak tahan ingin melahap kue-kue itu dalam sekejap.
"hoa…kuenya enak sekali… ini kau yang buat, gabby ?" tanya havoc menyeringai sambil menambahkannya lagi. "atau mungkin Colonel ??"
"Diam, havoc !" bentak Riza dengan keras. "sudah kubilang jangan berani macam-macam atau adieu pada kepalamu tercin- AWWW !"
Dengan keras kakinya akhirnya diinjak, setelah sedari tadi ia puas menginjak-injak kaki pacarnya-yang-akan-datang itu. Bukan. Roy mustang tidak akan menginjak kakinya hanya karena ia memberikan ancaman tingkat 2 pada havoc…itu terlalu rendah. Gabby yang melakukannya. Ia berdiri sambil mengacakkan pinggang, lalu menatapnya tajam. "Roooy ! Sudah kubilang untuk tidak memperlakukan bawahannmu seperti kau memperlakukan seekor anjing !!! Mana sopan untuk berbicara demikian di depan umum ??!"
Muka Riza terasa amat sangat sekali merah hingga rasanya lebih parah dari kepiting rebus. Darah dari seluruh tubuhnya serasa berkumpul di wajahnya, mengembang dan membuat wajahnya panas. Ia sedikit menundukkan kepalanya, amat malu karena dirinya yang perfeksionis itu rasanya sama sekali tidak pernah ditegur dalam satu decade ini-sama sekali.
Gadis yang hari itu dikuncir poni itu mengalihkan tatapannya ke arah havoc, tidak mengindahkan sedikitpun bagaimana muka ataupun ekspresi Roy Mustang adiknya itu, lalu memperlembut cahaya matanya. "tidak apa-apa, tuan letnan…aku sudah menegur adikku yang kadang-kadang memang suka lupa diri dan tidak mengontrol ucapannya." Ia tersenyum. "tidak apa-apa, kan ?"
Havoc mengangguk. Mukanya sedikit memerah juga, hampir sama seperti Riza, namun bukan dan sama sekali bukan karena malu, namun rasanya… ia tersipu…. Jantungnya berdetak amat keras hingga seolah-olah benda kecil itu ingin keluar melompat dari tempatnya. Ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata apa pun. Ia kehilangan pita suaranya… Mulutnya tergetar dikala ia mencoba memaksakan mengatakan sesuatu, walau hanya sembarang satu kata saja.
"u…uh…te..terima kasih…"
Gadis itu tersenyum sambil mengangguk sekali lagi, tidak menyadari bahwa itulah yang membuat pria lawannya ini mendapat serangan jantung tahap 4 kronis yang sudah tidak ada obatnya lagi.
Roy sedikit terkekeh melihat semua kejanggalan setelah kedatangan para bawahannya. Riza yang terlihat culun dengan tampangnya yang didepak mudah oleh Gabby, dan Havoc yang kembali jatuh cinta-pada kakaknya sendiri. Betapa bodohnya !! Kalau tidak ada gabby atau pun Riza di sana, mungkin ia sudah akan mati tertawa bergulingan di lantai, menahan perutnya yang sakit karena tertawa. Bodoh, bodoh dan amat bodoh !! Havoc bukanlah tipe gabby sama sekali dan kembali, amat menyenangkan melihat bawahannya nanti akan putus cinta…
Ukh. Memang, bicara soal percintaan, ia sendiri juga sebenarnya tidak boleh banyak buka mulut. Kali ini dan hanya kali ini saja –karena ini kasus khusus baginya-, percintaannya rasanya penuh jalan berkerikil dan berbatu tajam, tidak seperti jalan-jalan cintanya sebelumnya, bersih dan mulus bak jalan tol. Okay. Memang, baginya bisa menemukan jalan tikus berbatu yang penuh rintangan itu tidaklah mudah dan penuh perjuangan. Tapi demi wanita –sekarang pria- yang dicintainya seumur hidup itu, ia tidak akan menyerah.
"hm… sepertinya kalian semua lelah, bagaimana kalau kuantar dulu ke kamar untuk berisirahat sebentar ??" tanya gabby sambil berdiri dan mengumpulkan semua gelas-gelas dan piring-piring kotor ke dalam nampan dan membawanya ke dapur. "Masih ada satu kamar kosong di atas…"
"Bukannya kamar gudang cadangan itu hanya memiliki single bed ?? Mana cukup untuk mereka bertiga ??" Langsung tiba-tiba Roy menyambar tanpa melakukan kompromi ulang dengan saraf pusatnya. Gabby menatapnya dengan penuh curiga.
"Riz, kau sudah pernah masuk ke kamar itu ??"
Roy kalap. Riza kembali menatapnya dengan tatapan membunuh itu. Oh, rasanya ia amat menyesal sekali atas perbuatannya tadi, diam-diam menertawakan Riza ketika dia dipojokkan oleh Gabby, dan sekarang, dia sendiri yang berada di dalam posisi serupa ! sial !!!
"uh…Roy yang telah menjelaskan seluruh denah di rumah ini secara mendetail sebelum kami berangkat ke sini….katanya takut tersesat, begitu…" aih…karangan yang amat buruk darinya. Bahkan Havoc dapat berbohong jauh lebih baik dari itu. Malu dirinya.
"hm…" Gabby mengusap-usap dagunya yang memang tidak mungkin tumbuh janggut di sana. Roy menunggu jawabannya dengan tatapan yang amat memelas agar wanita itu mau percaya padanya. Akhirnya mulutnya terbuka juga. "benar juga…kalau begitu bagaimana mungkin muat 3 orang dalam satu kamar 2x2 dengan satu single bed ??"
2x2 ?!!! gila !! kami ini mau dipecel seperti apa ?!!!!
"uh…sepertinya kalau dua orang yang tidur di sana masih mungkin….kalau tiga, mungkin salah satu atau tiga-tiganya, aku tidak berharap yang terburuk terjadi, bisa kehabisan oksigen dan jadi ikan asin yang siap di goreng di sana…"
"Benar…benar sekali, Roy."
"bagaimana kalau Colonel berbagi ranjang dengan Letnan Havoc, saya dan Brenda tidur berdua, karena kalau letnan Havoc dan Brenda, pasti ranjangnya tidak akan muat, lalu Letnan Hawkeye berbagi ranjang dengan Gabby ??" usul fuerry tiba-tiba yang membuat muka-muka kusam yang sedang berpikir itu mencerah bagaikan lampu neon osram yang baru diganti.
APA ?!! Rizaku akan tidur seranjang dengan Letnan Havoc ?? No Way in the Hell !!!! tidak bisa…tidak bisa !!!
"Uh… bagaimana kalau Letnan Havoc saja yang berbagi ranjang dengan Gabby ??"
Semua menatapnya dengan curiga, kecuali Havoc tentunya yang sekarang sudah bleeding-bleeding karena hidungnya yang mimisan dan Roy alias Riza yang memberinya tatapan KAU ITU BEGO SEKALI, SIH !!!!
"Letnan, hubungan apa yang sudah terjadi antara anda dengan Colonel selama tidak ada kami beberapa hari ini ??" tanya Brenda menyengir sambil tersipu-sipu. "sudah memasuki tahap ranjang, rupanya ??"
"Oh, tutup mulut, Brenda !!" bentak Riza keras. "kau tidak berhak untuk mengucapkan sepatah kata apa pun tentang ini mulai dari sekarang dan aku yang memerintahmu sebagai atasan."
Brenda masih cengengesan bersama Fuerry, sementara kali ini lutut Roy kembali merasa lemas, disoroti tatapan haus darah seperti itu dari letnannya tercinta juga sekaligus ter….ter…uh… tidak ada kata untuk mendescribe-nya. Itulah Letnan Hawkeye-nya
"Ahem !" Riza berhendam keras sekali lagi. "aku mengerti maksud baik letnan Hawkeye untuk menjodohkan kakakku dengan letnan Havoc," di bagian itu Gabby sedikit tersipu dan mengalihkan perhatiannya ke lantai, tidak ingin diketahui oleh orang-orang. "namun, ada baiknya demi keamanan dan keprofesionalan kita, terlebih lagi alasan Havoc yang sebelumnya dari fuhrer untuk menjaga agar hubungan antara kita semua tetap seperti sebagaimana seharusnya, maka aku menetapkan agar pembagian tempat tidur akan tetap sebagaimana ide yang diungkapkan oleh Fuerry pertama kalinya. Havoc denganku, Hawkeye dengan gabby dan Fuerry bersama Brenda. Jelas ?"
Yuhuu !! itulah kekuasaannya sebagai Colonel sekarang. Dengan mudah akan mengatur semua bawahan Roy agar lebih teratur –termasuk dalam itu, aspek mengatur Roy yang seharusnya adalah atasannya- dan lebih membuat pekerjaannya cepat terselesaikan.
"Ya sudah, kalau begitu, nanti kumpul saja lagi di sini pukul 7 malam untuk makan malam. Akan kubuatkan menu special untuk penyambutan kalian semua !!"
---
Menu special yang dikatakan gabby benar-benar adalah menu special seperti menu-menu makanan di hotel berbintang. Sebanyak 10 macam makanan bintang 5 yang diolah dari bahan-bahan terbaik terjejer rapih di atas meja makan. Anggur first class pun tidak boleh dilupakan untuk dihitung sebagai penghias makanan mewah sebagai pesta penyambutan mereka malam itu.
Setelah puas makan kenyang dan minum lezat, beberapa dari mereka ikut bermain kartu di depan perapian sambil menunggu mengantuk, sedangkan sisanya, semua tenggelam dalam keasyikan mereka masing-masing seperti membaca buku atau mendengarkan musik dan sebagainya.
Kira-kira pukul sebelas lebih hingga hampir setengah dua belas malam, ruang keluarga yang tadinya riuh dengan suara tawa dan candaan orang-orang sudah menyepi, hanya tersisakan pion-pion catur yang berserakan di atas meja, kartu-kartu di mana-mana dan beberapa bungkus makanan kecil yang besok akan menambah kerja Gabby membuang sampah.
Riza masuk ke kamarnya seperti biasa, berakting normal seolah-olah dia adalah Colonel Mustang, membuka kancing kemeja hijau tua yang sedang dipakainya lalu membuka jendela di sebelah tempat tidur Roy untuk mendapatkan angin sebanyak yang dimungkinkan.
Tanpa suara ia naik ke atas tempat tidur, lalu mulai berusaha untuk memejamkan matanya. Havoc di sebelahnya baru naik tidur beberapa saat setelah ia berbaring di atas ranjang tersebut, berpura-pura telah tidur terlelap.
Ia tidak takut walaupun harus tidur seranjang dengan lelaki itu. Toh, ia juga tidak mungkin berpikiran negative setitik pun karena, for God's sake, jiwanya sedang mendiami tubuh seorang lelaki di mana lelaki normal lainnya tentunya tidak akan memiliki nafsu untuk sesama jenis kecuali tentunya yang memiliki sense yang sedikit berbeda, dan ia tahu jelas, bukanlah Havoc untuk memilih tidur dengan lelaki daripada perempuan, walau ia amat memahami jelas bagaimana peruntungannya dalam bidang tersebut.
--
Roy sudah mengganti bajunya dengan nighgown imut-imut, setidaknya ia berpikir begitu, yang ia curi dari lemari baju Riza. Gabby duduk di samping ranjangnya yang ½ kali lebih besar dari ranjang miliknya dibawah lampu tidur sambil membalikkan halaman novel yang sedang di bacanya. Ia bahkan tidak tahu kalau kakaknya itu masih suka membaca cerita romansa walau sudah berumur hampir 30 tahun ! Walaupun begitu, ia tidak mengambil pusing akan hal demikian, namun ikut duduk di sisi ranjang lainnya sambil menarik selimut ke arahnya.
"Membaca novel-novel percintaan lagi ?" tanyanya sedikit kaku, membuka pembicaraan diantara mereka. Sumpah, matanya masih lekat-lekat terbuka dan tidak dapat tertutup sama sekali walau jam dinding yang merefleksikan bayangan mereka sudah menunjukkan 2400 hours.
Gabby sedikit mengangguk, matanya masih terfokus pada novel cukup tebal yang dari tadi menyita perhatiannya. "ceritanya tentang seorang wanita yang mencintai seorang lelaki yang kemudian menjadi pacarnya…"
Roy menguap, sepertinya pertanda baik kalau dia mulai mengantuk. Tapi sialnya, rasa ngantuk yang biasanya ingin ia usir itu tak kunjung pula. "Happy ending story seperti biasanya…" tak sadar ia mengucapkannya keras-keras. "padahal hidup manusia tidak semuanya berakhir seperti itu, kan ??"
"Bukan, Riz, wanita ini tidak mendapatkan cinta dari pria yang dicintainya…" perlahan ia membenamkan wajahnya ke novel yang sedang ia baca. "pria itu hanya mengincar harta dari wanita yang merupakan putri jendral kaya, lalu menduakannya setelah sekian lama mereka berkencan…" suaranya mulai parau. Wanita itu memperlambat setiap kata yang ia ucapkan dan volume suaranya pun mengecil. Roy mulai merasakan kalau ada butiran-butiran air kecil meluncur cepat dari pipi halus miliknya, turun membasahi tumpukan kertas di atasnya.
Roy menggeserkan tubuhnya mendekat ke kakaknya, menurunkan sedikit kepalanya untuk melihat apakah ia benar-benar sedang menangis-dan memang benar. Satu tangannya ia gunakan untuk menepuk-nepuk punggungnya pelan. "Gab…. Kenapa ??" matanya melembut, menatap wanita itu penuh sebagai kakaknya yang walau kelihatannya kuat, namun sebenarnya rapuh di dalamnya. "apa….ada yang salah ?"
Gabby menghapus air matanya, namun air-air itu masih tetap mengalir sendirinya, bukan atas perintah dari otaknya ataupun apa yang mengatur alurnya itu. "bukan, riz…bukan apa-apa…" bisiknya pelan. Suaranya masih tergetar, bibirnya masuk ke dalam, digigit olehnya untuk menahan tangisan dan kepedihan yang tergores jauh di dalam sana. "...bukan apa-apa…"
Roy menata matanya sekali lagi. Ia bohong. Jelas bohong. Ini bukan bukan apa-apa… Jelas ini ada apa-apa. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik mata cokelat tuanya yang selalu bersinar kapan pun ia berbicara dengan orang lain. Ada sesuatu jauh dibalik itu yang tidak ia ketahui, yang mungkin telah terjadi di sepanjang 7 tahun silam ini.
"Gab…" suaranya dalam, dengan nada yang kaya. "ini kelihatannya serius…dan kau butuh teman berbagi…"
Gabby mengambil selimut untuk menghapus air matanya. Ia mulai berhenti menangis. Wanita itu berusaha mengatur nafasnya, lalu mulai membuka mulutnya untuk bercerita. "ini kuceritakan padamu hanya sebagai sahabat….tolong jangan beritahukan siapa pun, riz….termasuk Roy…"
TBC
