Chapter 2 – Philosophy of Marriage

Matahari bersinar dengan kencang, menghangatkan, bukan membakar. Angin musim semi bertiup sepoi, mengalun bersama dengan gemerisik dedaunan dan cicitan burung riang yang berkicau dari atas pohon. Aroma bunga lily putih di depan headquarter menambah semangat dari sang lieutenant untuk berjalan dengan sedikit berlompatan menaiki tangga-tangga yang cukup banyak itu.

Ah…musim semi… Saat yang paling tepat untuk mencari wanita. Setelah bertahun-tahun ia terus mengalami musim dingin, kini saatnya ia bertekad untuk mendapat pacar yang dapat bertahan…yah, syukur kalau bisa sampai pelaminan.

Jean Havoc berdendang pelan sambil bersiul-siul. Dengan semangat ia membuka pintu kantornya dan menyapa dengan keras. "PAGI SEMUANYA !!"

Pintu kantor terbuka. Sayangnya, ia tidak melihat seorangpun di sana. Yah…sebenarnya ada lieutenant Hawkeye, yang saat itu sepertinya tidak alert pada panggilannya karena konsenstrasinya sedang berkutik pada tumpukan kertas di atas meja.

Havoc memanggil sekali lagi. "PAGI SEMUANYA !!" dengan keras ketika ia melewati meja Hawkeye.

Wanita itu hanya menengadahkan kepalanya untuk berkata "Oh, sudah datang, lieutenant ? Pagi." Dan lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.

Musim semi macam apa ini ? Paginya yang hangat disapa dengan balok-balok Es Hawkeye yang sepertinya ingin mengajak dingin hari-harinya.

"uh…baru anda saja yang datang, lieutenant ?"

"tidak." Jawabnya tanpa melihat Havoc sama sekali. "Colonel sudah datang. Dia keluar sebentar mengambil file untuk kasus nomor 109."

"oohh…." Havoc melempar pandang sebatas meja colonel yang sudah penuh dengan kertas. Matanya tajam mengobservasi apa saja yang ada di atas situ. Satu benda yang amat menarik perhatiannya, entah mengapa, ia berjalan mendekati meja itu sambil mengambil benda kulit terbuka yang menghadap ke bawah, yang tak lain adalah dompet Colonel. Pada saat itulah pintu kantor kembali di buka dan secepat kilat Havoc menaruh dompet itu kembali di atas meja.

"pagi.." sapa fuerry ramah pada Hawkeye dan Havoc.

Havoc melengos kencang melihat Fuerry yang datang. Tangannya secara otomatis langsung mengelus-elus dadanya dan membuat gerakan mengusap peluh di dahinya, seolah ia berekeringat dingin, walaupun sebenarnya itu hanyalah gerakan hiperbolanya.

"Pagi sergeant…."

Mata fuerry menyipit. "sedang apa anda, Lieutenant ??"

"ah…tidak…"

"kulihat ada sesuatu yang disembunyikan dibelakangmu ?" tanyanya lagi menyelidik.

"tidak…tidak…kau salah lihat. Ah, ya. Bagaimana dengan anjing di depan HQ ? boleh diambil ?"

"Lieutenant Haavoc…"

"eer…yah ?"

"tunjukkan apa yang ada di belakangmu !!" perintahnya, walau memang tumben ia bisa berbuat seperti itu.

Oke…oke… Dia menyerah. Satu, tidak ada ruginya pula kalau Fuerry tau, toh dia tidak akan memberitahukannya pada Colonel, kecuali kalau Fuerry bukan lagi Fuerry sahabatnya dulu. Dua, dia sudah tidak tahan lagi dengan ekspressi sergeant yang sepertinya sangat ingin tahu sekali itu, yang mau tidak mau, hati kecilnya yang bak barang pecah belah dari kaca yang amat tipis itu mengalah.

"ini dompet Colonel…Siapa tahu ada foto cewek cantik di sini ???!"

Fuerry cepat-cepat menghampiri Havoc, bersama-sama menggeledah dompet Colonel yang malang. Malang ? Siapa sebenarnya yang bisa dibilang malang dalam konteks ini ? Setelah 15 menit menggeledah, hingga ke dalam-dalamnya sekalipun, mereka tidak menemukan selembar foto apapun, kecuali saat Colonel mereka masuk.

Selembar foto diantara uang pecahan yang cukup besar terjatuh ke lantai. Havoc cepat-cepat membungkuk untuk mengambil ketika ia telah melihat semburan urat perasaan terganggu besar telah muncul di kepala Colonel.

"HAAVOC !" teriaknya. "apa yang telah kau lakukan!"

"uh…i..ini, sir…"

"Serahkan apa yang ada di tanganmu." Matanya tajam menatap lieutenantnya. Seolah pedang yang siap dihunuskan kalau perintah itu tidak dilaksanakan. Jarang-jarang Colonel yang tampaknya sedikit urakan ini bisa seserius itu pada bawahannya. Jelas pertanda bahwa kali ini hal yang mereka permainkan pada Colonel benar-benar-amat-sangat-sekali mengganggunya…setidaknya pasti ada hubungannya dengan sesuatu yang jauh di dalam hatinya yang tak tersentuh itu.

Havoc juga bukanlah bawahan yang baru untuk tidak mengerti hal yang demikian. Dengan segera ia kembalikan dompet beserta satu-satunya foto di atas meja Roy. Walau sudah tahu bagaimana kira-kira pentingnya benda itu bagi Colonel, tetap saja otaknya yang jahil dan ingin tahu itu, ditambah dengan kemampuan bungkam mulutnya yang cukup minim untuk bertanya tentang gadis dalam foto itu.

Roy mengambil selembar foto itu dan menatapnya lama. Dirinya waktu muda berseragamkan biru militer –dari pangkatnya, rupanya saat itu ia masih menjabat sebagai mayor- bersama dengan seorang gadis muda berambut kuning emas panjang yang tergerai, yang saat itu mengenakan atasan putih dengan jaket dan topi berwarna pink yang sedang tersenyum dan ber-piece ria ke arah kamera. Background dari foto itu adalah sebuah kicir besar di taman bermain. Kencan pertamanya seumur hidupnya. Pria itu mengeluarkan sepintas senyum. Memori lamanya serasa terbang melingkupi otaknya sekarang.

"sir…" panggil Havoc untuk yang ketiga kalinya. "ayo…siapa dia ?? Tuh, anda senyam-senyum sendiri…"

Roy menghentikan senyumannya. Mukanya kembali normal seperti biasanya. "Namanya Emily. Dia gadis pertama yang menjadi pacarku…mungkin bisa dibilang cinta pertamaku, huh ?!" kembali ketika nama Emily keluar dari mulutnya, bibirnya tak tahan namun menyunggingkan senyuman yang lain. "Gadis yang energik, namun disuatu saat juga bisa menjadi feminim." Tambahnya tanpa tersadar perhatiannya terlempar kembali pada selembar foto lama itu.

"oooh…jadi itu alasannya foto ini ada di dalam dompet anda, sir ? Untuk mengenang cinta pertama ?" Tanya Havoc lagi kali ini dengan nada seolah memancing seekor kelinci dengan wortel yang beraroma sedap. Jarang-jarang ada kesempatan memancing Colonel untuk menceritakan cerita cintanya selain kencan-kencannya yang tak keruan yang ia tahu, dia tidak serius menjalaninya.

Roy mengambil dompetnya kulitnya dari atas meja, melipat foto itu dengan rapih, kemudian menyelipkannya lagi di sana. "tidak…" jawabnya enteng. "tidak kedua-duanya… Hanya secara kebetulan foto ini masih ada di sini…aku sendiri sudah lupa bagaimana caranya, tapi yang jelas, Emilylah yang menaruh foto itu di sini. Lagipula siapa yang cinta pertama ?? Dia menghilang begitu saja beberapa bulan setelah kami berkencan dan aku sudah tidak tahu lagi dimana dia sekarang."

"anda tidak mencarinya dengan benar, sir" Riza Hawkeye yang sepertinya dari tadi menyimak pembicaraan mereka mulai terlihat tertarik dan ingin mendengar kelanjutan ceritanya. "Kalau soal data, anda tentu bisa mencarinya ke departemen investigasi melalui akses alchemist kenegaraan yang anda punya… atau mungkin dulu anda bisa bertanya pada almarhum Brig.Gen Hughes…" untuk bagian terakhir, suaranya diturunkan sedikit. Roy amat peka untuk hal-hal yang berhubungan dengan Brig. Gen mereka. Riza tahu itu dan tidak ingin mengapungkan kembali ingatan itu. "Namun kalau soal niat… saya tidak tahu, namun beginilah hasilnya atas besarnya niat anda saat itu..."

Akh. Sangat tepat sekali menuju sasaran. Ia memang sudah melupakan Emily sejak lama, dan tidak pernah ingatan akan dirinya itu muncul setelah sekian waktu, kecuali pada suatu kejadian di masa lampau.

"Sudahlah…jangan bicara lagi soal Emily atau Hughes…" hughes….ah…ya…Hughes. Roy menatap langit-langit kantor putih yang ditengah ruangannya terdapat kipas angin besar yang sedang berputar perlahan dan menimbulkan suara gesekan pelan. "apa yang akan dia katakan kalau misalnya ia masih di sini dan mendengar semua pembicaraan ini ??" pikirnya keras-keras dan tanpa tersadar telah mengucapkannya dengan amat dapat didengar.

"Tentu saja ia akan menyuruh anda cepat-cepat menikah dengannya !!" teriak Havoc dengan keras bersemangat, "lalu tentu saja ia akan mulai lagi dengan menceritakan bagaimana indahnya pernikahannya dengan gracia dan bla-bla-bla !!!"

Roy menghantamkan kepalannya ke atas meja dengan keras. "me…me…menikah ?!!!"

"ya ? dan apa salahnya dengan itu ?"

"APA SALAHNYA ?! dan kau bertanya dengan wajah tak berdosa seperti itu, Fuerry ?!"

"…memangnya ada yang salah, sir ??"

"SALAH !! SALAH BESAR !!! kau kira menikah itu semudah itu !!"

"apanya yang sulit ? apalagi untuk anda yang tinggal mencomot satu gadis yang anda kencani lalu tinggal lakukan sedikit persiapan, booking gereja, cari catering, buat pesta, cari baju pengantin, lalu menjemput mempelai dan janji pengantin. Selesai ! Simple !" dan satu lagi hal yang ditambahkannya yang membuat musim semi havoc kembali mendingin. "mudahkan ! Tentu saja karena anda tidak perlu susah-susah mencari gadis seperti Lieutenant Havoc…."

"mu…mudah kau bilang, Fuerry !! Oke !! Kuakui itu mudah. Lalu setelah itu apa, huh ?!"

Muka Fuerry langsung memerah. "uh…si..sir ?? bu..bukannya hal itu juga mudah untuk anda ??"

"oke. Mudah !! lalu selanjutnya apa ?!"

"apa ?" tanyanya kembali, bingung melihat kelakuan Colonelnya yang tiba-tiba menjadi amat stress.

"lihat. Kau bisa mengatakan itu mudah padahal kau tidak mengerti secara keseluruhannya. Kuberi nasihat padamu, fuery, ketika kau menikahi seorang gadis, pasti dia menginginkan seorang anak !!"

"apa susahnya untuk anda, sir ?"

"APA SUSAHNYA ?!" lihat. Colonel keder lagi. "ini bukan susah masalah proses pembuatannya, namun ini masalah setelah itunya !! Kau tahu bagaimana nanti tidurmu pasti akan berkurang dengan tangisan bayi di malam hari. Belum lagi istrimu pasti akan menyuruhmu membantu ini dan itu mengurus bayi yang kini akan dinomor satukannya. Istrimu juga pasti akan mengurangi perhatiannya padamu, malah memindahkan seluruh perhatiannya pada si bayi. Belum lagi kau tahu betapa mahalnya susu bayi dan peralatannya ?! Belum lagi bayi kecil yang cepat bertumbuh juga pasti akan terus berganti-ganti ukuran baju dan kau akan terus mengeluarkan uangmu untuk hal yang mengacuhkan perhatian istrimu darimu !! belum lagi-"

Untungnya essay panjangnya dipotong oleh lieutenantnya yang paham akan keadaan gendang telinga rekan kerjanya. "sir, saya rasa soal mahalnya biaya tidak akan menjadi masah untuk bujangan kaya seperti anda, sir. Itu hanya saja dalih anda, atau karena anda IRI pada bayi, atau opsi terakhir, itu hanya karena anda PELIT."

Uuuh…. Sakit sekali. Apalagi kalau Riza Hawkeye yang membacakan teks itu. Penekanan katanya dibuat seindah mungkin agar panah-panah sindirian itu tepat sasaran, bull's-eye.

"lupakan." Katanya cepat-cepat memindahkan perhatian dari kata-kata Hawkeye barusan sambil menghapus peluh di dahinya, entah karena lelah telah berpidato panjang berapi-api atau karena sindiran yang tepat mengena itu. "oh. Tapi kau dapat poinnya kan ?"

"tapi sir, tentu anda tahu kalau anda tidak menginginkan anak anda tetap bisa melakukannya dengan-"

Lagi-lagi omongan fuerry dipotong oleh Colonelnya. "Tidak Fuerry. Tidak bisa begitu. Sayang sekali kau belum mendapat poinnya. Uh. Ya. Mumpung ada Hawkeye sebagai wanita, mari kita tanya." Roy yang sedari tadi memutar-mutar pulpen di tangannya kali ini mengunakan pulpen itu untuk menunuk ke arah Riza. "Hawkeye, kutanya, apakah nanti setelah menikah kau berencana untuk mempunyai anak ? Itu impian semua gadis di dunia, bukan ? Selain mengenakan baju putih pengantin dan berdiri di altar gereja sambil mengucapkan sumpah setia, mereka mendambakan seorang-atau lebih- mujizat kecil dalam hidup mereka untuk mereka asuh…mungkin seperti rasanya dulu ketika mereka bermain boneka-bonekaan, betul ??"

"sejujurnya saya sendiri berkata tidak karena saya sendiri belum pernah berpikir hingga ke situ. Yang lebih saya pikirkan dalam hidup ini adalah bagaimana cara membuat si pemalas di depan saya ini menyelesaikan tugas-tugasnya agar dia dapat cepat-cepat dipromosikan menjadi Fuhrer dan mengubah Negara ini."

Pemalas !! Malu sekali ia. Double malah. Sudah lieutenantnya sebagai sumber untuk mencari kebenarannya malah tidak setuju dengan pendapatnya, dengan terbukannya wanita itu mempermalukannya didepan bawahannya sambil membawa-bawa kebiasaan buruk pemalasnya itu.

Roy berhendam keras sambil memalingkan mukanya dari tatapan Fuerry yang sepertinya berkata aha-itu-dia-jawabannya. "sudah. Aku lupa kalau kita tidak bisa menghitung Lieutenant Hawkeye sebagai wanita karena dia berbeda dari lainnya."

Tidak barang satu detik setelah ia berkata seperti itu, Ia merasakan metal dingin yang berhantaman dengan tulang belakang kepalanya. Tanpa melihat pun indranya telah tahu apa itu.

"apa maksud anda dengan berbeda dengan lainnya ??" tanyanya sambil menyanyikan nada ancaman maut luar binasanya.

"akhh….uh…tidak, hawkeye. Tidak. Maksudku….kau….spesial. Ya ! wanita special yang…punya visi misi untuk Amestris, ah tidak, untuk dunia ! Ya ! betul ! Spesial !!" Roy merasa amat beruntung pada kebiasaan merayunya yang berguna di saat-saat spontan seperti ini. Ia baru dapat bernafas lega setelah Hawkeye memindahkan logam itu ke kantongnya.

"sudahlah…ayo, cepat bekerja….tugas anda masih banyak." Ia berjalan kembali ke mejanya. "dan jangan berterima kasih pada kemampuan merayu anda. Tidak mempan."

Ugh. Dia memang satu dari ratusan ribu biliar wanita di dunia, dari zaman mana pun ! Hebat. Otaknya dibaca seperti buku yang tembus pandang dengan mudah….dan rayuan buayanya tidak mempan. Selamat, selamat !! Riza Hawkeye, satu. Roy Mustang, zip.

Untungnya bagi Roy, tidak barang lima menit setelah ia mulai menggesekan pulpennya dengan terpaksa diatas kertas-kertas yang serasa mengeluarkan wajah-wajah hantu, seorang sergeant dari kantor sebelah datang dengan nafas yang tidak teratur, berhenti sebentar di depan daun pintu, lalu segera berlari ke dalam kantornya.

"sir, darurat, sir. Pembantaian terhadap Alchemist terjadi kembali dan kali ini korbannya adalah pasangan Alchemist yang baru dipindahkan ke sini…."

Roy mengkerutkan keningnya, melempar pulpennya dengan setengah bahagia. "uh..sayang sekali hal itu harus mengganggu konsentrasiku menyelesaikan pekerjaan ini, namun kasus ini rasanya jauh lebih penting dan darurat." Ia bangkit berdiri, mengambil jas panjangnya sambil menepuk bahu sergeant itu. "ayo, antarkan aku ke tempat kejadian. Havoc, Hawkeye, kalian ikut."

"siap, sir."

"oh, ya. Kalau boleh tahu, sergeant, siapa korbannya kali ini ? si tua Gran itu ?? Atau si gila Crimson ??"

"tidak, sir. Seperti yang saya katakan, pasangan Ice dan Water yang baru pindah dari North…."

"siapa ?" tanyanya sekali lagi dengan penuh kehati-hatian, menguji apakah dia ini sudah tuli atau mungkin perlu pengobatan telinga di dokter THT.

"Ice dan Water Alchemist." Ucapnya sekali lagi dengan mantap. Saat itu juga, hati Flame Alchemist yang besar ini langsung menciut.

TBC