Chapter 3 : Adopted Child
Colonel Mustang terlihat amat tegang, duduk sedikit membungkuk sambil menggosok-gosokan tangannya, berharap mobil ini melaju lebih cepat lagi sampai ke tempat kejadian. Sepintas terlihat dahinya mulai berkeringat, turun membasahi kemeja militer birunya sehingga berwarna lebih gelap dari lainnya. Lt. Havoc melirik pada Hawkeye yang duduk tegap seperti biasanya, seolah mengganggap guncangan yang jarang terjadi pada Colonel itu bukanlah apa-apa. Havoc terdiam.
Atmosfir diantara mereka berubah drastis sejak sergeant itu memberitahukan nama dari korban Scar kali ini. Pembunuhan Alchemist yang tidak henti-hentinya ini sudah cukup banyak memakan korban, namun dengan kepala dingin Colonel mengurusi file-filenya. Hanya kali ini saja. Ya, kali ini berbeda.
Setelah satu belokan tajam dari pertigaan jalan utama menuju pusat perbelanjaan, mobil militer itu menurunkan kecepatannya saat melintasi jalan yang sedikit berbatu. Mobil itu berhenti sepenuhnya di depan sebuah rumah kecil sederhana yang dibuat dengan aksen gaya eropa dengan dua pilar kecil di depannya.
Beberapa orang polisi telah berkerumun di sana, memenuhi rumah itu dengan seragam biru mereka yang cukup mencolok dari luar, terutama juga palang kuning yang telah terbentang mengelilingi rumah itu. Roy segera melompat keluar dari mobil patroli tua itu, pelahan meneliti seluruh rumah sambil berjalan menuju tempat di mana kedua orang itu dibunuh.
Roy menutup mulutnya. Sama seperti biasanya. Dihancurkan dari dalam sehingga darah berceceran ke mana-mana dan hancur total mayat membuat pemandangan yang horror.
"Sarung tangan." Pintanya tanpa membuat perubahan ekspresi apa pun. Di lapangan, ia kembali menjadi Roy Mustang si Flame alchemist yang tak kenal ekspresi lain itu. Tetaplah dia yang dulu. "sudah hubungi departemen investigasi ?"
"ya, sir. Ambulans juga sedang dalam perjalanan ke sini untuk mengangkut jasadnya."
"Siapa saja yang sudah berada di sini dan menyentuh area kejadian ?"
"belum ada, sir."
"terima kasih."
Kembali, ia berjongkok sedikit dan mengamati jasad tersebut. Sesuatu dalam hatinya berdebar dengan kencang. Tangannya sedikit tergetar ketika ia membalikkan jasad water alchemist yang posisinya terlentang menghadap tembok sambil meringkuk.
Dinginnya tubuh yang telah meninggal itu setiap kali bersentuhan dengan ujung sarung tangan karetnya menimbulkan getar-getar yang tidak ia mengerti yang terus menjalar hingga ke jantungnya. Dan Ia sendiri pun tersentak ketika tangannya merasakan panas dari tubuh yang sudah mendingin itu.
Debarannya semakin cepat.
Tidak mungkin. Namun memang, ia merasakan tangannya meraba sesuatu yang panas, dan ia yakin itu bukanlah jasad yang telah mendingin ini. Benda lain….
Jantungnya lebih cepat lagi….lebih cepat….
Pe…perasaan apa ini ?? Seolah…ditarik oleh sesuatu yang lain….
Jasad itu sepenuhnya telah dibalikkan olehnya dan ia tidak dapat menahan untuk menarik nafas dalam-dalam melihat benda kecil yang sedari tadi tidak berbunyi yang terus dilindungi oleh ice alchemist.
Bayi kecil yang dibungkus kain putih yang kini bercipratan darah yang didekap erat oleh wanita itu.
Tangan Roy kembali bergetar ketika tanpa tersadar ia menggambil bayi kecil itu dari ibunya. Perlahan dibukanya kain yang menutupi wajah bayi itu dan merasakan debaran jantung yang amat cepat. Sekarang menusuk-nusuk dan terasa sakit. Mata hitam ebony-nya menyatu dengan mata cokelat merah bayi itu. Ditatapnya erat-erat wajah polosnya yang putih bersih.
…BRAKKK..
Roy jatuh tersungkur dengan bayi itu, dan saat itulah si kecil itu terjatuh, menangis dengan keras-keras, menyentak perhatian para tentara yang baru menyadari keberadaan anggota keluarga Bruder yang lainnya.
Sepintas, seolah bayangan gadis berambut pirang panjang tersenyum ke arahnya. Rambut indahnya itu berkibar memantulkan kilau disaat ia berbalik membelakanginya, berjalan menjauh dan menghilang.
…Emily !!
Satu tangan Roy digunakannya untuk menopang dirinya, tangan lainnya ia taruh di dadanya, memegang jantungnya yang terasa nyeri. Nafasnya cepat tak teratur. Keringat bercucuran dari dahinya turun hingga lantai, mengalir bebas seperti air hujan yang melompat dari awan gelap.
"sir !! anda tidak apa-apa ??" Hawkeye segera berlari ke arahnya, sedikit berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Colonelnya, lalu menepuk-nepuk punggungnya perlahan. "Private ! Ambilkan air atau teh untuk Colonel !!"
Wanita itu menuntun atasannya ke arah sofa kosong, lalu menyuruhnya berbaring di sana, namun si keras kepala itu menolaknya. Ia hanya duduk di sana sambil terus memegang daerah dekat jantungnya.
"anda tidak apa-apa, sir ? Ambulans akan segera ke sini dan kita juga dapat sekalian meminta tim medik untuk memeriksa kesehatan anda…" wajah Hawkeye yang khawatir itu terlihat…manis dalam pemandangannya. Ia jadi teringat akan Emily-nya dan itu membuatnya harus menjambak kain bajunya lebih erat lagi karena nyeri yang semakin berkedut itu.
"A..aku tidak apa-apa…." Satu tangannya menghentikan letnannya. "Kau tolong urus lainnya…juga bayi itu. Bawa dia ke HQ, ke kantorku."
"Baik, sir." Matanya menatap keadaan Kolonelnya itu. Memeriksa keadaannya menyeluruh dari atas hingga bawah. "anda…betul-betul tidak apa-apa, kan ?"
Roy melemparkan padanya senyum hangat, tidak ingin melihat wajah khawatir Hawkeye lagi. Ia tidak pantas untuk dikhawatirkan olehnya, walau jujur ia menikmati ekspresi itu. Suaranya melembut, "aku tidak apa-apa, Hawkeye…percaya…"
Sirene yang semakin mengencang itu menyentak keduanya. Beberapa orang berbaju putih memasuki rumah itu dan mengangkat jasad kedua alchemist dengan tandu. Riza menawarkan Roy untuk memeriksa keadaannya namun ia tolak. Ia merasa sudah lebih baik dan ia bisa meneruskan pekerjaannya.
Ice Alchemist….James Bruder dan istrinya, Kayla Bruder si water Alchemist…Roy mengamati foto mereka keduanya yang tergeletak di kamar atas di samping meja kerja Ice Alchemist. Pikirannya melayang entah ke mana walaupun tangannya dan matanya tetap bekerja memeriksa barang-barang di sekitar situ, termasuk laci yang sedang ia buka sekarang. Laci terakhir yang berada di meja itu. Ia mengambil satu-satunya benda di sana, tak lain ialah jurnal alchemist yang ia buka-buka cepat, meneliti seluruh isinya dan dalam waktu yang singkat, ia telah mendapat seluruh poinnya.
Tentu ia tidak mengerti soal apa yang sedang dalam penelitian kedua Alchemist itu karena mereka menuliskannya dalam kode yang berhubungan dengan automotif yang sedikit jauh dari bidang ketertarikannya. Roy hanya mengerti di bagian ketika Water Alchemist bercerita soal mujizat kecil yang hadir dalam hidup mereka.
Menurut apa yang ia tarik dari jurnal itu, bayi itu bukanlah anak asli kedua pasangan tersebut. Seorang wanita berambut panjang emas yang telah memberikannya pada suaminya waktu mereka masih tinggal di North sebulan yang lalu. Tidak dijelaskan di situ siapa nama bayi itu, namun yang jelas, satu-satunya bayangan yang muncul di benak Roy saat ini hanyalah Emily seorang.
Perlahan, ia mengantongi buku jurnal itu lalu turun ke bawah di mana tentara sudah mulai berkurang. Dari tangga, ia melihat kedua bawahannya sudah siap menantinya. Riza yang sedang menjaga bayi itu sambil duduk di sofa, sedangkan Havoc berdiri di hadapannya, menggoda bayi itu dengan membuat wajah-wajah yang aneh.
"sudah ?"
Keduanya secara otomatis langsung menaikkan tangan mereka ke atas memberi hormat. "ya, sir."
"Sersan !" panggilnya pada pria muda yang tadi menyupirkan mereka ke sini. "tolong beritahu pada departemen investigasi kalau aku yang akan menjaga anak ini hingga nanti ada pihak kerabatnya yang memintanya." Ia menatap pada Havoc sambil mengambil anak kecil itu dari Hawkeye. "Letnan, kau menyetir."
Havoc melongo. Tadi di kantor dia yang paling keder soal menjaga bayi. Bermacam-macam alasan dari yang masuk akal hingga yang diluar kemampuan berpikir manusia biasa yang telah dikemukakannya, malah sekarang dengan sukarelanya mau mengangkat bayi dari orang yang tidak dikenalnya ???! Apa yang ada di benak Kolonelnya ? Mungkinkah sakitnya tadi itu sudah membuat saraf berpikirnya sedikit mengalami gangguan ?
Haih…dia tidak mengerti Kolonelnya yang suka aneh itu.
Setelah sampai di Headquater, Roy kembali menitipkan bayi kecil itu pada Riza, lalu mengurung dirinya untuk beberapa lama di kantor departemen investigasi membicarakan soal kasus kali ini dan bayi yang ingin diangkat anaknya.
"mengapa bingung, letnan ??" Tanya Riza pada lelaki berambut kuning yang duduk di sebelahnya, yang dari mulutnya sesekali mengepulkan asap putih rokok. "dan tolong, matikan rokok anda..tidak baik untuk bayi."
Havoc tersenyum kecut, membuang rokok itu dan menggesekan apinya dengan ujung bootnya. "tidak…bukankah tadi Kolonel bilang dia tidak ingin menikah karena belum bisa bertanggung jawab mengurusi bayi ? Tapi sekarang, justru dia sedang berada di balik ruangan ini, berdebat dengan departemen investigasi untuk mendapat izin menjaga si botak itu…"
"dia tidak botak, letnan." Sanggahnya cepat sambil memperlihatkan rambut bayi itu. "hanya saja mungkin baru dicukur…"
"ya..ya..ya… Tapi aku tetap saja tidak mengerti."
Riza menatap kosong ke arah pintu departemen investigasi di mana Roy sedang berada. "dulu…kedua orang tuanya juga dibunuh pada saat ia masih berumur kurang lebih tiga tahun…dan saat itu, kakak dari ibunyalah yang menjaganya bersama-sama dengan anaknya yang umurnya kira-kira 15 tahun dan sedang mengambil ujian tes alchemist kenegaraan…dan…" sedikit turun nada bicaranya, sebenarnya Riza tidak ingin membicarakan hal ini karena ia tahu, Roy tidak memberitahukannya pada siapa-siapa. "nama sepupu Kolonel, yang merupakan anak dari bibi Kolonel itu adalah James Bruder."
Havoc tersentak. Teriakkannya membangunkan bayi kecil itu yang kemudian menangis keras, membuat Riza harus menimang-nimangnya kembali supaya ia kembali tertidur. "ti…tidak mungkin….nama keluarga mereka berbeda…."
"Letnan…perhatikan apa yang tadi kubicarakan. Anak kakak ibunya, tentu saja nama keluarganya bukan Mustang."
"Jadi…" mata Havoc melembut. Satu tangannya ia gunakan untuk bermain-main dengan rambut bayi itu. "Keadaan Kolonel dulu sama seperti si botak ini, ya…sehingga dia mati-matian melindungi cucu dari bibi yang dulu membesarkannya."
Mungkin memang begitu, walau Roy tidak memberitahukannya pada dirinya. Tatapan kehilangan dan perasaan ingin melindungi dari matanya itu terlihat jelas sekali. Sudah lama dia mengenal dirinya…dan bukan sulit untuk menentukan perasaannya dari tatapan mata itu.
Perlahan, pintu besar itu berdecit. Kedua letnan itu tersentak. Hatinya sedikit berdebar penuh ingin tahu akan hasil dari perjuangan diplomasi Flame Alchemist. Namun, sepertinya jawabannya sudah jelas ketika senyum kemenangan tergambar di wajahnya itu. Dengan lembut ia mengambil bayi itu dan menggendongnya dalam dekapannya.
"sepertinya aku butuh nama baru untuknya. Anak ini bukan anak asli dari keluarga Bruder, yang juga bukan cucu dari bibiku. Berarti aku boleh mengangkatnya dan memberinya nama keluarga baru." Ia mengecup pelan dahi bayi itu. "Bagaimana dengan Flame ? atau Roy II ??"
"jangan sampai bayi itu tertular virus-virus anda, sir. Lebih baik dinamakan nama lain saja." Cepat-cepat hawkeye memotong, sebelum bayi malang itu akan dinamakan nama yang tidak berseni yang hanya membesar-besarkan nama Roy Mustang saja.
"Kalau begitu, bagaimana dengan John Mustang ?"
"tidak…nanti anak ini akan sulit mendapat gadis karena namanya mirip denganmu…Uh… bagaimana kalau Maes Mustang ??"
"Tidakkah anda ingin menyimpan nama itu untuk anak kandung anda lainnya…mungkin dari istri anda nanti, sir ?"
"uh…betul juga, Hawkeye. Kalau begitu, jangan Maes Mustang….ah…tidak.Tidak. Jangan sampai Edward Mustang atau Alphonse Mustang…. Aku juga tidak ingin anak ini menjadi anak badung seperti mereka berdua."
"Rommy Mustang ? Robby Mustang ? Ruddy Mustang ?"
"semua itu hanya nama yang depannya R ditambah huruf hidup, double huruf mati dan y…tidak kreatif, Havoc."
"Ryan Mustang ? Dinamakan setelah kakak saya yang meninggal di medan perang ketika perang dengan Creta ?"
"ah ! Ya. Nama yang cukup baik…dan punya sejarah patriotis…hanya saja aku tidak berharap dia nantinya turut tewas di medan perang…" Ia tertawa lebar. "Terima kasih, Hawkeye. Kalau begitu, nak, mulai hari ini namamu adalah Ryan Mustang. Suka nama itu ??"
Bayi itu seakan-akan tertawa sambil mengulur-ulurkan tangannya ingin menjamah wajah Roy. Lelaki itu tersenyum, tak terasa matanya mulai basah dan tiba-tiba setetes air mengalir jatuh ke atas wajah bayi itu.
"Sepertinya tadi angin yang bertiup amat berdebu, letnan dua ??" tanyanya dengan dingin sambil mengalihkan perhatiannya dari Colonel.
Havoc menghisap rokoknya, lalu mengeluarkan asap putih tebal di asap. "tentu saja, ma'am…ya….anginnya amat membuat mata pedih…"
